Jumat, 11 Oktober 2013

Kembalinya Kekuatan si 'Anak Lanang Bung Karno'

Su 27 SKM TNI AU (weapon technology)
Jakarta - Angkatan Udara Indonesia sempat menjadi anak emas Presiden Sukarno karena memiliki pesawat tempur tercanggih di zamannya. Sehingga muncul ungkapan 'AURI, anak lanang Bung Karno'.

Kurun waktu 1960-an kekuatan Angkatan Udara Indonesia sempat membuat gentar negara tetangga di kawasan Asia Tenggara dan Australia. Saat itu kesatuan dengan semboyan 'Swa Bhuwana Paksa', atau sayap pelindung angkasa nusantara itu telah memiliki pesawat jet pembom stategis Tu-16 dan Tu-16 KS.

Pesawat Tu-16 memiliki jangkauan terbang hingga 7200 kilo meter, kecepatan mencapai 1050 kilometer per jam, dengan ketinggian terbang hingga 39400 kaki. Pesawat ini mampu membawa muatan bom seberat 9 ton.

Tak hanya pesawat pembom, Indonesia juga memiliki pesawat sergap tempur. Padahal saat itu negara-negara besar seperti Cina, India, dan Australia saja belum memiliki pesawat pembom strategis atau jet tempur.

Seolah ingin mengulangi kejayaan itu, kini pemerintah memprioritaskan belanja alat utama sistem persenjataan (alutsista) untuk Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara.

Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pertahanan, Brigadir Jenderal Sisriadi Iskandar mengatakan, alutsista TNI AU diprioritaskan mengingat posisi Indonesia yang merupakan Negara kepulauan.

“Dalam perang modern penggunaan wahana udara semakin tinggi. Orang bebas bergerak dan bertempur di udara. Sehingga sebagai Negara kepulauan yang luasnya begini, kekuatan udara dan laut kita harus dibangun kuat,” kata Sisriadi kepada detikcom, Selasa (8/10) lalu.

Sebagai Negara kepulauan menurut dia kekuatan maritim Indonesia harus kuat. Penopangnya adalah Angkatan Laut dan Angkatan Udara.

Alutsista TNI AU yang sudah didatangkan antara lain unit pesawat temput Sukhoi 27 MK-2 di Makassar, skuadron F16 di Madiun.

Bentuk modernisasi lainnya antara lain pesawat angku CN 295, dan pesawat angkut Hercules C-130 H. “Pesawat angkut Herculesnya akan nambah lagi, sebagian sudah datang dan sebagian masih ada yang dalam proses produksi,” tambah Sisriadi.

Kini sejak modernisasi alutsista TNI mulai dilaksanakan, gangguan keamanan oleh pihak asing terhadap Indonesia hampir tidak ada.

“Sekarang tak banyak lagi (gangguan), tidak ada mungkin. Dulu pas zaman tidak enak, antara 2002-2003 itu (ada gangguan),” kata Sisriadi.

Tak hanya alutsista, kemampuan prajurit kini juga terus ditingkatkan. Hasilnya dalam ajang Pitch Black di Darwin, Australia tahun lalu misalnya.

Pilot-pilot Sukhoi Indonesia mampu mengimbangi kemampuan armada pesawat tempur negara maju, seperti Amerika, Singapura, dan tuan rumah Australia.

Kekuatan TNI AU kini telah kembali diperhitungkan oleh negara-negara tetangga. Si 'anak lanang Bung Karno' itu kini mulai kembali.

  detik  

Kamis, 10 Oktober 2013

TNI Angkatan Udara Tak Mau Dipermainkan Lagi

Sukhoi Indonesia
Jakarta - Pengalaman menjadi guru yang paling berharga. Luasnya wilayah Nusantara yang tidak diimbangi dengan kekuatan peralatan tempur udara yang memadai menjadi salah satu faktor munculnya kasus Ambalat.

Guna mencegah terjadinya kasus serupa, Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara berencana menambah skuadron di Pekanbaru, Riau, dan Biak, Papua, untuk melengkapi kekuatan pengawasan wilayah teritorial Indonesia.

Hal ini seiring bertambahnya jumlah pesawat tempur F-16 dalam program Minimum Essential Force (MEF). Kepala Pusat Penerangan TNI AU Marsekal Pertama Suyadi Bambang Supriyadi mengatakan rencana penambahan skuadron ini untuk memperkuat pengawasan di wilayah barat dan timur Indonesia dari ancaman luar.

Penambahan skuadron ini dinilai cukup penting mengingat luas wilayah Tanah Air dan banyaknya daerah perbatasan dengan negara lain. Sistem pengawasan wilayah teritorial Indonesia beda dengan negara lain karena merupakan negara kepulauan.


"Kalau negara lain mengawasi daerahnya sendiri. Kalau negara kita ya mengawasi kayak kawasan Asean,” ujar Suyadi kepada detikcom kemarin.

Suyadi menekankan, penambahan alat utama sistem persenjataan (Alutsista) bukan alasan mengikuti negara lain. Namun, lebih untuk tujuan kekuatan pertahanan nasional yang punya wilayah sangat luas.

Ia mengaku optimistis soal sasaran pemerintah terkait target program MEF selesai pada 2019 dari yang sebelumnya 2024. Namun, meski diharapkan bisa selesai 2019, bukan berarti ada pengurangan armada alutsista yang baru.

“Ini kan soal perbandingan dengan luas wilayah. Itu tidak boleh dikurangi. Kalau begitu, nanti negara lain akan main-main dengan kita. Kayak kasus Ambalat karena dia tahu dulu kita masih minim kekuatan alutsista pesawat tempur,” katanya menegaskan.

Pengamat militer dari Universitas Indonesia Andi Wijayanto menilai upaya modernisasi alutsista TNI sudah terbilang baik. Mengacu pada target pencapaian kekuatan pokok minimum MEF 2024, modernisasi yang sudah dilakukan pemerintah sudah di atas target. "Hal ini karena penambahan anggaran pengadaan alutsista Rp 149 triliun untuk 2010-2014," ujar Andi kepada detikcom kemarin.

  detik   

Alutsista TNI Meningkat, tapi Jauh dari Ideal

Jakarta - Dua pesawat KT 1-B melaju kencang dari arah berlawanan menuju titik yang sama. Dua pesawat latih milik Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara itu melakukan manuver di langit Jakarta pada 5 Oktober lalu.

Tak hanya pesawat KT 1-B, ada juga pesawat Cessna , 4 pesawat Cassa TNI Angkatan Laut dan 8 pesawat Helly yang sengaja melakukan atraksi di udara. Atraksi ini dilakukan untuk memperingati hari jadi TNI yang ke 68.

Selain atraksi di udara, TNI juga memajang 2 pesawat F-16, 2 pesawat Hercules C-130, 2 pesawat Boeing 737, dan 2 triple gun di lapangan Halim Perdana Kusuma, Jakarta.

Tak hanya di Halim, TNI juga menggelar pameran alat utama sistem persenjataan (Alutsista) di lapangan Monumen Nasional. Ada sekitar 200 alutsista dipamerkan.

Presiden Susilo Bambang dalam sambutan peringatan hari TNI ke 68 pekan lalu mengatakan, pemerintah terus berusaha melakukan modernisasi Alutsista.


Modernisasi alutsista di jajaran TNI AD antara lain berupa pembelian, Tank Tempur Utama Leopard, Kendaraan Tempur Panser Anoa, Meriam Artileri Medan Kaliber 155 mm, Rudal Pertahanan Udara, Rudal Anti Tank, Roket Multi Laras Taktis dan Strategis, Heli Angkut, Heli Serang dan Heli Serbu.

Untuk TNI Angkatan Laut antara lain akan datang Kapal Perang Korvet Klas Sigma, Kapal Cepat Rudal, Kapal Perusak Kawal Rudal, Kapal Multi Peran Fregat, Pesawat Patroli Maritim, Tank, Panser Amphibi, dan Roket Multi Laras Taktis.

Sementara alutsista baru untuk Tentara Angkatan Udara adalah, pesawat angkut sedang CN-295, pesawat latih, Helikopter Full Combat SAR, pesawat Angkut Hercules C-130 H, pesawat tempur Super Tucano, Sukhoi-27 MK-2, Pesawat Tempur T-50, serta 24 unit pesawat tempur F-16.

Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pertahanan, Brigadir Jenderal Sisriadi Iskandar mengatakan, pemerintah terus meningkatkan kualitas sistem pertahanan dengan modernisasi alutsista.

Saat ini menurut dia, sistem alustista TNI masih belum ideal. Kondisi tersebut sulit dicapai karena persoalan keuangan Negara. Bahkan meski sudah mencapai Minimum Essential Forces (MEF) pun sebenarnya persenjataan TNI belum bisa dibilang ideal.

“Itu masih sekitar 40 persen dari ideal. Cuma untuk sampai ideal kan tidak cukup uangnya, selain itu hakikat ancamannya belum nyata, masih potensial semua,” kata Sisriadi kepada detikcom, Selasa (8/10) lalu.

Meski masih jauh dari posisi ideal, kekuatan alutsista TNI sudah meningkat secara signifikan seiring dengan penambahan jumlah anggaran. Pada tahun 2010, anggaran Kementerian Pertahanan/TNI mencapai Rp 42,3 triliun. Tahun 2011 menjadi Rp 58,1 Triliun. Tahun 2012 72,5 triliun. Tahun 2013 menjadi 81,9 triliun.

Pemerintah mengalokasikan jumlah yang cukup besar untuk belanja alutsista. “Waktu menyusun kontrak itu untuk tahun 2010-2014 total anggarannya mencapai US$ 6 miliar,” kata Sisriadi.

Menurut Sisriadi MEF tidak bisa diukur secara kuantitatif, namun diartikan sebagai upaya untuk memberikan efek deteren atau daya tangkal. MEF juga berarti proyeksi kemampuan TNI untuk bisa mengatasi gangguan keamanan bersifat senjata, yang muncul bersamaan di beberapa tempat sekaligus.

Ada tiga komponen postur, yakni kekuatan, gelar (persebaran penempatan), dan kemampuan. “Untuk dukung kemampuan itu, yang dibangun adalah kekuatan daya tembak, daya gerak atau manuver,” kata dia.

  detik 

TNI Sebut Amerika Pelit Teknologi

Pemerintah dalam pengadaan alat utama sistem senjata atau Alutsista menjalin kerja sama dengan beberapa negara seperti Amerika Serikat, Inggris, Belanda, Perancis, dan Korea Selatan. Masing-masing negara produsen tersebut mempunyai keunggulan teknologi tersendiri.

Dari kerja sama itu, Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pertahanan Brigadir Jenderal Sisriadi Iskandar mengungkapkan ada strategi tersendiri dari pemerintah Indonesia.

Sisriadi menegaskan pemerintah tidak terikat pada negara tertentu karena Indonesia punya pengalaman embargo tahun 1990-an hingga 2000-an oleh Amerika. Indonesia punya pesawat tapi tidak dapat terbang karena suku cadangnya tak bisa dibelikan.

"Karena pengalaman itu makanya kita jadi beli di mana-mana, jadi diembargo di sini kita masih bisa beli di sana,” ujar dia kepada detikcom, kemarin. Selain itu, pemerintah juga tak mau membeli alutsista dari satu sumber karena alasan teknologi. “Amerika itu pelit enggak mau kalau sekalian sama teknologinya,” kata Sisriadi.

Persoalan transfer teknologi memang jadi perhatian tersendiri. Untuk mengoperasikan alat-alat super canggih itu diperlukan keterampilan sumber daya manusia yang tinggi.

Sesuai Undang-Undang Nomor 16 tahun 2012 tentang Industri Pertahanan, dalam setiap pembelian sistem senjata dari luar negeri wajib ada konten lokal. Bentuknya antara lain pelatihan, kerja sama pembuatan, dan kerja sama operasi.

Sisriadi berujar, kerja sama PT Dirgantara Indonesia dengan Kanada adalah salah satu bentuk kerja sama dan transfer teknologi tersebut. Sementara dari produsen lain, pembelian senjata juga umumnya sepaket dengan training.

"Setiap kontrak ada klausul bahwa operator akan dilatih di negara itu. Dan yang kita kirim adalah tenaga-tenaga intinya, jadi nanti dia pulang akan menyebarkan ilmu,” jelasnya. Dia optimistis kemampuan prajurit Tanah Air bisa mengimbangi kecanggihan teknologi alutsista yang baru.

Anggota Komisi Pertahanan dan Luar Negeri DPR, Susaningtyas Nefo Handayani Kertopati atau Nuning mengatakan sudah seharusnya industri pertahanan dalam negeri diberi kesempatan besar untuk pembuatan alutsista TNI.

"Ini untuk menyesuaikan kebutuhan teritorial wilayah negara dan sistem kemandirian dalam kemampuan yang bisa terus berkembang," ujar politikus Partai Hanura ini kepada detikcom, kemarin.

  detik  

Delegasi Filipina di KTT APEC Kunjungi Kogasgabpam

Delegasi Filipina di KTT APEC Kunjungi Kogasgabpam - YSP_5356.JPG

Delegasi Filipina beserta rombongan yang dipimpin oleh Mr. Natalio Ecarma disela-sela acara Konferensi Tingkat Tinggi Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik atau Asia-Pacific Economic Coorperation (KTT APEC) 2013, menyempatkan diri mengunjungi posko Komando Taktis Komando Tugas Gabungan Pengamanan (Kogasgabpam) KTT APEC 2013, Minggu (6/10/2013). Demikian rilis yang diterima redaksi Tribunnews.com.

Delegasi Filipina di KTT APEC Kunjungi Kogasgabpam - YSP_5418.JPG

Kunjungan Mr. Natalio Ecarma beserta rombongan diterima langsung Aslog Kogasgabpam Kolonel Pnb Aldrin P. Mongan didampingi Dansatgaspen KTT APEC 2013 Kolonel Inf Bernadus Robert. Pada kesempatan tersebut, Natalio Ecarma menegaskan tentang pentingnya fungsi keamanan dalam mensukseskan KTT APEC ke-21 di Nusa Dua, Bali.

Delegasi Filipina di KTT APEC Kunjungi Kogasgabpam - YSP_5420.JPG

  Tribunnews  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...