Kamis, 17 Oktober 2013

Timor Leste Disebut Langgar Kesepakatan Perbatasan

Timor Leste Disebut Langgar Kesepakatan Perbatasan
Perbatasan RI - Timor Leste di Motamasin
Kupang - Kepala Badan Pengelola Perbatasan Daerah (BPPD) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Eduard Gana menilai pemerintah Timor Leste melanggar kesepakatan terkait batas antara kedua negara sehingga memicu bentrok di Dusun Sunsea, Desa Nelu, Kecamatan Naibenu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) sejak Rabu lalu. "Sudah ada kesepakatan bahwa tidak ada pembangunan apa pun di daerah perbatasan. Tapi kesepakatan tersebut dilanggar oleh Timor Leste," kata Edu Gana kepada Tempo di Kupang, Kamis, 17 Oktober 2013.

Bentrokan antara warga Dusun Sunsea dengan warga Leolbatan, Desa Kosta, Kecamatan Kota, Distrik Oekusi, Republik Demokratic Timor Leste (RDTL), dipicu oleh pembangunan jalan yang dikerjakan pemerintah Timor Leste di zona bebas.

Menurut Edu, warga Dusun Sunsea menutup akses jalan antar kedua negara. Saat itu warga Distrik Oecuse melakukan penyerangan dengan membawa senjata tajam. Aksi saling serang pun tak terhindarkan. Bentrok terjadi selama tiga hari, yakni 12-15 Oktober 2013.

Pemerintah Provinsi NTT, kata Edu, belum mengambil langkah penyelesaian terkait bentrok antar warga di perbatasan negara itu. "Kami hanya minta agar warga Nelu menahan diri sehingga bentrokan tidak berkepanjangan," ujar dia.

Edu menjelaskan, penyelesaian masalah tersebut hanya bisa dilakukan melalui pendekatan budaya. Di antaranya dengan mempertemukan tokoh masyarakat dan pemerintah kedua negara.

Dia juga memaparkan, sebenarnya di Kabupaten Timor Tengah Utara hanya menyisakan dua titik batas yang dipersoalkan, yakni di Desa Citrana, Kecamatan Oben dan Haumeni Ana. Namun, tidak terjadi pertikaian. Justru di Desa Nelu muncul masalah. "Ini masalah baru," ucapnya.

Wakil Komandan Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) Kapten (Inf) Abdul Samad membantah terjadi bentrok antar warga di perbatasan kedua negara. "Tidak terjadi bentrok. Kalau ada bentrok, pasti ada korban," tuturnya.

Sebelumnya, pertikaian warga di perbatasan RI-Timor Leste dipicu sengketa lahan. Warga Nelu, yang masuk wilayah Indonesia, dan warga Leolbatan, Distrik Oekusi, Republik Demokratic Timor Leste, saling mengklaim danah yang digunakan untuk pembangunan jalan tersebut sebagai milik mereka. Kedua kelompok warga tersebut sebenarnya masih berkeluarga. Warga Nelu melakukan penghadangan karena jalan tersebut melewati pekuburan warga Desa Nelu. Selain itu, telah memasuki wilyah Indonesia sejauh 500 meter.

Warga Perbatasan RI dan Timor Leste Saling Serang

Warga Perbatasan RI dan Timor Leste Saling SerangWarga Dusun Sunsea, Desa Nelu, Kecamatan Naibenu, Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur, pada Kamis, 17 Oktober 2013, saling serang dengan warga Leolbatan, Desa Kosta, Kecamatan Kota, Distrik Oekusi, Republik Demokratik Timor Leste. Penyebabnya adalah sengketa lahan di perbatasan kedua negara.

"Pertikaian antar warga di perbatasan negara itu dipicu oleh pembangunan jalan oleh pemerintah Timor Leste di wilayah zona bebas," kata Wakil Komandan Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) Kapten Abdul Samad kepada Tempo.

Menurut Samad, lahan di batas kedua negara yang terletak di Desa Nelu masih diklaim oleh warga di kedua negara yang masih berkeluarga itu sebagai milik mereka. Pembangunan jalan yang menuju ke Desa Nelu dihadang oleh warga karena telah memasuki wilayah Indonesia sejauh 500 meter.

Bahkan, melewati pekuburan warga Desa Nelu, sempat terjadi ketegangan. Untungnya ketegangan itu bisa diredam. ”Memang sempat terjadi ketegangan, tapi tidak sampai bentrok,” ujar Samad.

Ia menuturkan, aparat Satgas Pamtas telah diterjunkan ke lokasi kejadian untuk menjaga agar tidak terjadi bentrokan. "Anggota saya sudah mengamankan lakasi,” ucap dia. Anggota Satgas Pamtas juga melakukan sosialisasi kepada warga agar tidak terpancing emosi yang bisa berbuntut bentrokan. "Serahkan masalah ini kepada negara untuk diselesaikan."

  Tempo 

Pembentukan Kogabwilhan Dimatangkan

Agenda ini dibahas dalam kunungan Assiten Deputi Kekuatan, Kemampuan Pertahanan dan Kermahan pada Deputi IV Pertahanan Negara Kementerian Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Kemenpolhukam) ke Panglima Komando Armada RI Kawasan Timur (Pangarmatim) Laksda TNI Agung Pramono SH. M. Hum. Rabu (16/10) di ruang VVIP Room Markas Panglima Koarmatim, Ujung, Surabaya.

Kedatangan pejabat dari Kemenpolhukam yang dipimpin oleh Laksma TNI H Sipahutar beserta 3 stafnya dari TNI Angkatan Laut dan Angkatan Darat itu diterima oleh Pangarmatim di ruang VVIP Room dengan didampingi oleh beberapa pejabat teras di lingkungan Koarmatim.

“Maksud dari kunjungan itu adalah untuk mematangkan dan membahas tentang kekuatan dan kemampuan serta kerjasama pertahanan, terkait dengan rencana pembentukan Kogabwilhan,” kata Kadispen Koarmatim, Letkol Laut (KH) Yayan Sugiana dalam siaran pers, Kamis (17/10).

  Jurnas  

2 T50i Golden Eagle Datang Lagi di Lanud IWJ

http://lanud-iswahjudi.mil.id/galeri/img_gambar/361855.jpgMagetan (17/10) • Enam (6) sudah pesawat T-50i Golden Eagle berada di Skadron Udara 15 Lanud Iswahjudi, dari enam belas (16) Pesawat T-50i Golden Eagle yang dipesan Pemerintah Indonesia dari Korea Selatan, setelah dua (2) pesawat T-50i Golden Eagle tiba lagi di Lanud Iswahjudi, Kamis (17/10), setelah menempuh perjalanan panjang dari Korea Selatan manuju Indonesia.

Seperti yang sudah direncanakan bahwa setiap dua minggu sekali Korean Aerospace Industries (KAI), akan mengirimkan dua (2) unit pesawat T-50i Golden Eagle untuk menggenapi pesanan pemerintah Indonesia yang totalnya berjumlah 16 unit.

Kedatangan kedua pesawat tersebut disambut oleh Komandan Skadron Udara 15, Wing 3 Lanud Iswahjudi Letnan Kolonel Pnb Wastum, dan segenap pejabat Lanud Iswahjudi, di Main Appron Skadron Udara 15. Pesawat T-50i Golden Eagle diterbangkan secara ferry oleh penerbang Korea Aerospace Industries (KAI), diantaranya MR. Kwon Huiman, MR. Lee Dongkyo, MR. Khang Cheol, MR. Shin Donghak, dengan rute terbang Sacheon, Korea Selatan � Kaohsiung, Taiwan � Cebu, Philipina - Sepinggan, Balikpapan Kaltim � Iswahjudi Air Force Base.

Keterangan Gambar : Komandan Skadron Udara 15 Lanud Iswahjudi, Letnan Kolonel Pnb Wastum, berdialog dengan penerbang KAI, yang baru tiba di Lanud Iswahjudi, Kamis (17/10). (Foto Pentak Lanud Iswahjudi).

  Iswahjudi  

Test Drive Panser Anoa VVIP, Panser Kepresidenan Produksi PT Pindad

 Dibalut Baja Tebal Sekuat Tank, Ber-AC dan Kulkas Senyaman Sedan

Sebagai orang nomor satu, presiden harus mendapat fasilitas nomor satu. Karena itulah, disediakan fasilitas mobil khusus presiden, pesawat kepresidenan, dan yang baru selesai dibuat: panser kepresidenan. Pekan lalu Jawa Pos mendapat kesempatan merasakan ketangguhan dan kenyamanannya.

Sebagai salah satu negara di dunia yang aman, tenteram, dan jarang mengerahkan persenjataan militer untuk konfrontasi, Indonesia patut berbangga memiliki PT Pindad. Perusahaan negara itu tak henti-hentinya melakukan inovasi untuk memenuhi amanat menyiapkan alat utama sistem persenjataan (alutista) terbaik dan termodern buat Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Polri.

Kebanggan itulah yang dirasakan Jawa Pos saat menyusuri kantor pusat sekaligus tempat produksi Pindad di Bandung pekan lalu. Baru memasuki pintu gerbang, pandangan langsung menjumpai gudang yang berisi kendaraan-kendaraan superbesar. Mulai truk pengangkut TNI yang sering dijumpai di jalanan hingga kendaraan militer seperti panser dengan bodi baja yang tebal.

Namun, di antara puluhan kendaraan di gedung-gedung ukuran besar tersebut, Jawa Pos diarahkan salah seorang staf Pindad untuk mengunjungi beberapa panser yang terlihat mendapat perlakuan istimewa. Sebetulnya, saat Jawa Pos pertama melihat, tidak ada satu pun hal yang membuat panser itu layak dinilai istimewa bila dibandingkan dengan panser yang lain.

Namun, ketika kesempatan menengok bagian dalam diberikan, kesan yang muncul justru sebaliknya. Sewaktu dibuka, panser tersebut dilengkapi kursi busa nan nyaman. Seperti di kokpit pesawat kelas eksekutif. Di depannya, layar besar tampak mewah terpajang. Dilihat dari modelnya, layar itu lebih seperti televisi mahal untuk hiburan daripada layar pemantau yang biasanya ada di kendaraan militer. Bahkan, di dalam panser tersebut ada kulkas kecil. Selintas mirip dengan fasilitas di limosin mewah.

PT Pindad memang sengaja memasang fitur yang berbeda untuk panser yang satu ini. Semua perangkat yang disematkan di interior panser spesial itu serba nyaman. Maklum saja, calon pengguna panser tersebut bukan sembarang orang. Dialah Panglima seluruh angkatan bersenjata TNI-Polri: Pesiden Republik Indonesia.

Ya, panser itu bakal menjadi salah satu moda transportasi RI-1 selain mobil dinas. Tentu saja panser tersebut digunakan ketika keadaan darurat, saat nyawa pucuk pimpinan pemerintahan terancam. Panser yang dinamai Anoa VVIP tersebut diciptakan sebagai kendaraan militer pertama yang dirancang khusus untuk pejabat negara.

Manajer Pemasaran PT Pindad Sena Maulana menjelaskan, PT Pindad telah merampungkan empat unit "panser" Anoa yang dipesan Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres). Perinciannya, tiga unit Anoa VVIP dan satu unit mobil "panser" untuk kendaraan pengawal. "Kami mendapat pesanan sekitar empat bulan lalu. Sebelumnya Paspampres punya"panser. Tapi, kali ini pemesanannya khusus untuk presiden," ujarnya kepada Jawa Pos.

Untuk proyek dari istana tersebut, Sena mengakui, pihak perusahaan memberikan prioritas tertinggi. Karena itu, waktu yang dibutuhkan tidak terlalu lama. "Sebenarnya Anoa tersebut diciptakan sesuai dengan kebutuhan pengguna. Jadi, kalau kita beli dari luar negeri, kan seadanya yang dijual itu yang didapatkan. Karena ini adalah industri pertahanan nasional, kita harus memenuhi kebutuhan pemerintah," ujarnya.

Lalu, apa sebenarnya yang membedakan Anoa VVIP dengan Anoa tipe lainnya?

Sena menjelaskan, secara spesifikasi, tidak ada yang berbeda. Dengan lapisan baja setebal 10 mm, bodi kendaraan itu bisa menahan peluru berkaliber 7,62 mm. Bahkan, lapisan bisa di-upgrade untuk menahan peluru berkaliber 12,7 mm. "Ini nanti untuk perlindungan presiden dan keluarga presiden serta anggota kabinet. Pokoknya, siapa pun yang digolongkan VVIP oleh Paspampres," tambahnya.

Yang berbeda adalah interior yang khusus diperuntukkan kenyamanan presiden dan keluarga. Kendaraan tersebut dibagi menjadi dua bagian. Yakni, operasional di bagian depan. Bagian tersebut diperuntukkan pengendara dan komandan kendaraan. Lalu, di belakangnya barulah ruang yang diisi dua kursi untuk presiden dan istri serta dua kursi untuk pengawal.

"Kursi tersebut sangat aman terhadap ranjau sekaligus nyaman untuk presiden. Selain itu, ada fasilitas audio visual. Juga, kulkas untuk kebutuhan seperti minuman dingin. Kami juga memasang tangga hidrolis sehingga presiden bisa masuk dan keluar dengan mudah," ungkapnya. Dengan demikian, presiden tinggal duduk, pengemudi tekan tombol, kursi akan bergerak ke posisi yang paling nyaman di dalam panser.

Bukan hanya kenyamanan, Pindad sangat memperhatikan fitur keamanan. Misalnya, kamera yang diinstal pada depan dan belakang kendaraan. Kamera tersebut bisa melihat 360 derajat pemandangan di sekitar mobil baja. Pemandangan tersebut bisa dilihat melalui layar di dalam ruang VVIP. "Kamera ini juga dilengkapi thermal imaging"(teknologi mengambil objek gambar berdasar suhu). Karena itu, mereka bisa tetap melihat keadaan sekitar saat lampu tak berfungsi dan keadaan gelap total," ungkapnya.

Ketika ditanya kemungkinan produksi Anoa VVIP lagi "untuk kebutuhan ekspor, misalnya Sena menyatakan, pihaknya belum memikirkan hal tersebut. Sebab, Anoa VVIP adalah produk khusus yang dipesan Paspampres. "Misalnya untuk negara lain. Bisa saja. Tapi, setiap negara kan punya prosedur pengamanan VVIP yang berbeda-beda. Kalau untuk swasta, kami belum bisa," ungkapnya.

Bagaimana dengan biaya produksi?

Soal dana, Sena mengatakan bahwa fitur yang ditambahkan tidak secara signifikan menambah harga Anoa. Dia menyebutkan, harga satu unit Anoa bisa mencapai sekitar Rp 8 miliar. Sampai saat ini produk tersebut telah dirancang tujuh varian. Di antaranya, varian ambulans, angkut personel (APC), komando, logistik BBM, logistik munisi, dan mortar carrier. "Ya tidak berubah signifikan, kan yang diubah hanya interiornya. Pakemnya tetap sama. Produk ini kan"dianggarkan dalam anggaran Paspampres yang dipesan melalui Mabes TNI. Jadi, tidak langsung dibayar," ungkapnya.(*/c10/kim)

  JPNN  

Denjaka Gelar Latihan Penanggulangan Terror Aspek Laut

Asisten Operasi Kepala Staf Angkatan Laut (Asops Kasal) Laksda TNI Didit Herdiawan, M.P.A, M.B.A., secara resmi membuka Kursus Penanggulangan Teror Aspek Laut (PTAL) angkatan 12 di lapangan apel Kesatrian Arthur Solang, Detasemen Jalamangkara, Cilandak, Jakarta Selatan, Rabu (16/10).

Acara pembukaan yang dihadiri Dankormar Mayjen TNI (Mar) A. Faridz Washington, Kas Kormar Brigjen TNI (Mar) Tommy Basari Natanegara, Danpasmar-2 Brigjen TNI (Mar) Denny Kurniadi, Waasrena Kasal Laksma TNI Arusukmono Indra Sucahyo, Kadisdikal Laksma TNI Dr. Supartono, SE, MM., dan Kadisminpersal Laksma TNI Tri Wahyudi Sukarno, S.E., perwakilan dari Bais serta para pejabat teras Kormar dan Pasmar-2, diawali dengan laporan kesiapan Kursus PTAL oleh Dandenjaka Kolonel Marinir Nur Alamsyah yang sekaligus sebagai peserta kursus, dilanjutkan dengan penyematan tanda peserta oleh Asops Kasal kepada salah satu perwakilan peserta kursus Lettu Marinir Haryono.


Dalam amanatnya Asops Kasal menyampaikan bahwa program ini memberikan pembekalan bagi calon anggota Detasemen Jalamangkara guna melengkapi keterampilan dan pengetahuan yang telah dimiliki di satuan asal yaitu Pasukan Katak dan Intai Amfibi sehingga diharapkan mencapai standar kualifikasi personel sebagai pasukan anti terror aspek laut yang diperlukan dalam rangka mengemban tugas pokok yang telah digariskan oleh Panglima TNI.

Lebih lanjut, Irup menjelaskan, melalui kursus penanggulangan terror aspek laut angkatan ke-12 Tahun anggaran 2013 ini para siswa akan dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan intelejen, taktik dan tehnik penanggulangan terror, beberapa kemampuan dasar spesialisasi sentra pemantapan keterampilan perorangan lanjutan. Program ini merupakan syarat mutlak untuk menjadi anggota inti Denjaka, untuk itu Asops Kasal mengintruksikan agar para siswa mengikuti dengan sungguh-sungguh sehingga tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan dapat dicapai secara optimal.

Kursus PTAL yang diikuti oleh 6 Perwira, 4 Bintara dan 12 tamtama Korps Marinir tersebut akan mengambil lokasi latihan di Jakarta, Bogor, Tangerang, Kepulauan Seribu dan Banten.

  Marinir 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...