Kamis, 26 Desember 2013

Pembukaan Pelatihan Calon Awak Ranpur Tank Amfibi BMP-3F

Surabaya Komandan Pasmar-1 Brigadir Jenderal TNI (Mar) Siswoyo Hari Santoso, membuka Kepelatihan Dalam Negeri Calon Awak Ranpur Tank Amfibi BMP-3F, di Bhumi Marinir Karangpilang, Surabaya, Rabu (18/12).

Kepelatihan Dalam Negeri Calon Awak Ranpur Tank Amfibi BMP-3F dimulai 13 Desember 2013 sampai dengan 04 Februari 2014 tersebut diikuti 116 prajurit Korps Marinir yang terdiri dari 60 personil dari Resimen Kavaleri-1 Marinir, 51 personil dari Resimen Kavaleri-2 Marinir, 3 (tiga) personil dari Resimen Bantuan Tempur-1 Marinir dan 2 (dua) personil dari Lanmar Surabaya.

Dalam amanatnya, Komandan Pasmar-1 mengatakan, dalam rangka pemenuhan kekuatan pokok minimum (MEF) TNI AL, Korps Marinir telah menetapkan kendaraan tempur Tank Amfibi BMP-3F sebagai salah satu material tempur yang akan memperkuat jajaran satuan Kavaleri Marinir.

Dalam kesempatan Komandan Pasmar-1 mewakili Komandan Korps Marinir menyampaikan ucapan selamat datang di Bhumi Marinir Karangpilang, Surabaya kepada Bpk. Indra Jati dan Mr. Safronov Sergei beserta Tim Penjamin dari Rusia.

Sementara itu, Komandan Resimen Kavaleri-1 Marinir Kolonel Marinir Sarjito mengatakan, kegiatan Kepelatihan Cawak Ranpur BMP-3F tersebut bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan tentang teknis pengoperasian Ranpur Tank Amfibi BMP-3F pada tingkatan Komandan Kendaraan, Pengemudi Ranpur, dan Penembak Ranpur.

  TNI  

Kodam Pattimura Dapat Bantuan 3 Kapal Angkut

Ambon Guna memudahkan operasional prajurit TNI dalam menjalankan tugas khususnya untuk menjangkau dan memantau pulau-pulau terluar di Maluku, Markas Besar TNI AD akan mendatangkan tiga kapal angkut untuk jajaran Kodam XVI Pattimura. Hal ini diungkapkan Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) TNI, Jenderal Budiman kepada wartawan di Markas Kodam XVI Pattimura Ambon, Kamis (26/12/2013).

“Untuk Maluku utara dan Maluku terutama untuk alat transporrtasi laut, kami saat ini sedang membangun kapal untuk Kodam dan Makorem,” kata Budiman.

Dia menjelaskan, kapal yang saat ini sedang dibuat tersebut, rata-rata mampu mengangkut 40 penumpang dengan kecepatan tempuh 40 knot. Jumlah kapal yang saat ini sedang dibuat berjumlah tujuh unit. Selain Maluku, sejumlah jajaran Kodam lainnya juga akan mendapatkan bantuan serupa.

“Mudah-mudahan kapal itu sudah selesai sebelum April nanti. Kami sudah buat 7 buah. Untuk Maluku dapat 3 buah, Natuna 1 buah, Sulawesi 1 buah dan NTT 1 buah. Satunya kita akan serahkan lagi ke Kodam yang lain,” ujarnya.

Selain itu, Budiman juga mengungkapkan, Markas Besar TNI AD juga akan memberi bantuan sejumlah kapal bagi jajaran Korem dan Kodim yang ada di Indonesia. “Kalau untuk Kodim-kodim kami siapkan kapal dengan kapasitas penumpang 20 orang, kecepatannya juga 40 knot. Kapal ini bisa menembus gelombang setinggi 4 meter. Sementara kita masih buat,” ungkapnya.

Menurut Budiman, tiga kapal yang dalam waktu dekat akan diserahkan ke Makodam Pattimura tersebut nantinya akan membantu prajurit TNI dalam menjalankan tugasnya di Maluku, termasuk memantau pulau-pulau terluar di Maluku.

“Transportasi laut untuk TNI di Maluku itu sangat penting, saya lihat kapal yang digunakan Pangdam sangat sederhana. Makanya kapal yang sementara dibuat ini nanti akan lebih baik lagi,” ujarnya.

  Kompas  

T-50i Golden Eagle Kembali Transit di Balikpapan

Balikpapan Komandan Lanud Balikpapan Kolonel Pnb Ir Tri Bowo Budi Santoso,MM menyambut kedatangan dua jet latih tempur T-50i Golden Eagle yang dipesan Republik Indonesia dari Korean Aerospace Industries (KAI). Tepat pukul 15.40 dua pesawat T-50i landing di baseops Lanud balikpapan untuk melaksanakan transit dan pengisian bahan bakar sebelum meneruskan perjalanannya esok hari menuju Pangkalan Udara (Lanud) Iswahjudi di Kecamatan Maospati, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, rabu (25/12).

Dua pesawat tersebut merupakan pesawat ke-9 dan ke-10 dari total 16 pesawat yang Negara Indonesia pesan dengan no seri TT 5009 dan TT 5010. Selanjutnya pesawat tersebut akan berada di bawah koordinasi TNI Angkatan Udara untuk meningkatkan kekuatan alat utama sistem persenjataan atau alutsista Negara Indonesia.

Pesawat T-50i Golden Eagle tersebut akan menempati rumah barunya (home base) di Skuadron 15 Lanud Iswahjudi. Selanjutnya pesawat T-50i Golden Eagle akan menggantikan pesawat Hawk Mk-53, dikarenakan Pesawat Hawk MK-53 tidak akan digunakan lagi karena sudah tua dan mulai kesulitan mencari suku cadangnya.

[Foto Sherwin Divz]


  Lanud Balikpapan  

TNI fast track to more firepower

The Indonesian Military (TNI) is set for an aggressive upgrade to its worn-out firepower next year as the United States has made a fresh offer to donate jet fighters and lawmakers are willing to swell the defense budget.

Defense Minister Purnomo Yusgiantoro said on Wednesday that the US had offered another batch of Lockheed Martin F-16 Fighting Falcon jets, on top of the first batch of 24 fighter planes it had already agreed.

“There will be additional F-16s donated by the US after they have been upgraded, which is still underway,” he said. “Once it is complete, our [F-16] strength will increase three fold.”

Currently, Indonesia has 10 F-16A/B Block 15 fighters with operational capability upgrades (OCU) at the 3rd Squadron base, Iswahjudi Air Force Base in Madiun, East Java. Block 15 represents the oldest model while Block 60 is the most advanced.

In the first batch, Indonesia will get 25 F-16 C/D 24 Block jet fighters upgraded to Block 32 standard. Another six F-16s will be used for spare parts and components.

Purnomo declined to reveal the number of F-16s in the second batch, saying it would go against the military code of ethics to give an exact number. However, secretary-general Vice Marshal Eris Herryanto said the next batch “would be sufficient to form another squadron”.

“I returned on Sunday from a visit to the US. We still have to discuss the offer internally before we decide whether to take it up or not.”

A squadron consists of somewhere between 12 and 24 aircraft.

Other users of F-16s in the region are Singapore and Thailand. Singapore has 74 F-16 C/D Block 52/52+ in three squadrons and an overseas training detachment, while Thailand has 36 F-16 Block 15 OCU in two squadrons and another squadron with 18 F-16 Air Defense Fighter (ADF). South Korea and Taiwan also operate F-16s.

The decision to accept the donated F-16s has been widely criticized.

Ravi Kumar Madavaram, aerospace and defense consultant with Frost & Sullivan, said the difference between Block 32++ and 52+ or E/F 60 was in terms of avionics, additional fuel tanks, missile types, accessibility and performance enhancements. “There is no significant variance in the utility provided by F-16 Falcons of the 32++ or 52+ variety,” he said in an email.

“Excess defense aircraft donated by the US is quite cost effective. But the effectiveness can only be understood in the finer details of the deal.”

In a separate interview, Eris said that the Air Force’s defense and deterrence capabilities, taking account of the additional F-16 and Sukhoi Su-27/30, would be sufficient for the next 15 to 20 years.

“Then we’ll receive another boost from the in-development KFX/IFX figher jets, which will be jointly produced with South Korea,” he said.

Purnomo reiterated the plan to buy six C-130H Hercules heavy transporters being decommissioned by the Royal Australian Air Force (RAAF) at a cost of US$15 million each, on top of four aircraft being donated by RAAF.

Meanwhile, Navy chief of staff Vice Adm. Marsetio said the service was still selecting candidates for 11 anti-submarine warfare helicopters.

“One of the candidates is the [US-made] Super Seasprite,” he said.

Indonesia is also due to produce locally around eight more corvettes for the Navy to add to the existing four, in cooperation with Dutch shipbuilder Damen Schelde.

Separately, chairman of the House of Representatives’ defense commission Mahfudz Siddiq said the commission had given a green light for a rise of up to Rp 10 trillion ($1.06 billion) on top of the Rp 76.5 trillion already allocated in the 2013 state budget.

“We need a flexible defense budget as we are concerned by the poor condition of weapons systems,” he said.

  Jakarta Post  

PT DI Siap Produksi Pesawat

PT DI Siap Rambah Pasar Internasional 

Prototipe N219 PT DI (Angkasa)
Meski sempat mengalami masa-masa sulit, akhirnya, PT Dirgantara Indonesia dapat mempertahankan hidupnya, bahkan bangkit. Buktinya, Badan Usaha Milik Negara yang bergerak dalam industri kedirgantaraan itu mendapat kepercayaan, tidak hanya domestik, tetapi juga mancanegara.

Melihat kondisi itu, PT DI terus berupaya meningkatkan kinerjanya pada 2014. Satu diantaranya, menembus pasar internasional guna menyemarakkan persaingan pesawat kecil. “Tahun ini, kami membangun prototipe N-219, pesawat berkapasitas 19 penumpang. Targetnya, pada 2016, kami sudah produksi dan izinnya terbit. Tahun berikutnya (2017), kami siap menembus pasar internasional, yaitu Asia, termasuk ASEAN, dan Afrika, ujar Asisten Direktur Bidang Jaminan Mutu dan Humas PT DI, Sonny Saleh Ibrahim, di Bandung, Selasa (24/12).

Menurutnya, N-219 adalah pesawat bermesin propeler (baling-baling) berukuran kecil. Kendati demikian, sambungnya, daya angkut N-219 lebih banyak daripada pesawat sekelasnya. Daya saing lain yang terdapat pada N-219, ungkap Sonny, dalam hal harga jual. Harganya, berada di level 4-4,5 juta dollar Amerika Serikat.

Selain itu, tukasnya, N-219 pun dapat take off dan landing pada landasan pacu pendek dan kawasan pegunungan. Karenanya, Sonny berpendapat, N-219 cukup tepat bagi penerbangan perintis. “Indonesia punya sejumlah maskapai perintis. Saya kira, N-219 dapat menjadi primadona penerbangan perintis. Jadi penerbangan perintis merupakan pasar bagi kami,” tuturnya.

Sonny menjelaskan, di dunia, terdapat beberapa negara yang juga memproduksi pesawat sejenis. Antara lain, Twin Otter, Cessna Caravan (Kanada), dan Sukhoi (Rusia). Di dunia, menurutnya, kebutuhan pesawat perintis cukup banyak. Tahun lalu, kebutuhannya 800 unit. “Kami harap dapat meraih 200 unitnya,” ucapnya.

Tidak hanya N-219, lanjut Sonny, pihaknya pun meningkatkan produksi dan pemasaran CN-295, CN-235 MPA, Bell 412 EP, dan N-212 sipil dan militer. Diutarakan, sejauh ini, beberapa negara berminat pada produk-produk andalan PT DI tersebut. Bahkan, seru Sonny, beberapa di antaranya segera mencapai kesepakatan kontrak. “Salah satunya, dengan Filipina, yaitu pemesanan N-212 dan CN-295,” katanya.

Mengenai rencana 2014, Sonny mengemukakan, pihaknya menargetkan rencana kerja dan kontrak bernilai Rp 4,91 triliun. Target lainnya, dalam hal penjualan sebesar Rp 4,43 triliun. “Kami pun menargetkan penerimaan Rp 4,90 triliun,” jawab Sonny.

Khusus kontrak 2014, beber dia, sekitar 80 persen merupakan kontrak lama. Sisanya, imbuh dia, merupakan kontrak baru. “Khusus kontrak baru, kami perkirakan, masih didominasi pemesanan dalam negeri, yaitu 60 persen. Semuanya berkenaan dengan alutsita (alat angkut sistem pertahanan). Sementara 40 persen kontrak baru yaitu dengan beberapa negara. Semisal, sebut dia, Thailand, Filipina, Malaysia, Brunei, Vietnam, dan Myanmar,” tandas dia.

PT DI Siap Penuhi Permintaan Kemenhan


CN235 MPA TNI AL (Kopassus)
Memperkuat sistem pertahanan dan keamanan menjadi salah satu kebijakan yang diputuskan pemerintah. Karenanya, Kementerian Pertahanan terus melakukan berbagai upaya untuk memperbarui dan memperkuat alat angkut sistem pertahanan (alutsista). Salah satu caranya dengan melakukan pemesanan pembuatan pesawat kepada PT Dirgantara Indonesia.

Direktur Utama PT DI, Budi Santoso, mengemukakan, secara keseluruhan, untuk beberapa tahun mendatang, jumlah pemesanan CN 235 oleh pemerintah untuk memperkuat barisan TNI sebanyak 21 unit. Sedangkan NC 212, sejumlah 54 unit. “Namun, sejauh ini untuk CN 235, kontraknya baru 3 unit. Sebanyak 1 diantaranya, kami serahkan hari ini,” ujar Budi pada penyerahan pesawat CN 235 di PT DI, Rabu (2/10).

Budi mengungkap, selain Kemenhan, beberapa negara pun memesan pesawat-pesawat tersebut. Antara lain, Malaysia, yaitu berupa modifikasi 2 unit CN 235 MPA. Kemudian, Brunei Darussalam, sebanyak 1 unit CN 235 MPA. “Berikutnya, Filipina. Pemesanannya yaitu NC 212 sebanyak 2 unit. Begitu pula dengan kepolisian Thailand, yang memesan 1unit NC 212 dan 2 unit CN 235,” ungkap Budi.

Mengenai nilai kontrak, Budi menyebutkan, pemesanan Kemenhan bernilai cukup tinggi. Ia menyebut, secara total, angkanya mencapai 80 juta dollar AS.

Menteri Pertahanan RI, Purnomo Yusgiantoro, berpendapat, pihaknya memang memerlukan armada-armada pertahanan yang lebih mumpuni. Tujuannya, jelas dia, tidak lain untuk mempertahankan dan memperkuat kedaulatan. Rencananya, pesawat-pesawat itu peruntukannya bagi pemerkuatan patroli maritim. Menurutnya, CN 235 adalah pesawat yang cocok untuk menjaga dan memantaui wilayah perairan di Indonesia.

  Jabar Today  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...