Sabtu, 08 Februari 2014

Pesawat Tempur Singapura Terbang Rendah di Langit Batam

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjlHix_VOdiylhs1vnZ-g5SzK5VCEJ_O4L3Ze0R22iu26Bd1YDDzoH-Q3SVgte6Obt2RGkqZfdCk5HmB0F6eZhurR7gdDWaHphbrwr6ZUMePE5YOFXfQUPkU9re45Camu-t3o-QxiALTgfo/s1600/AIR_F-16D_Singapore_RAAFB_Darwin_lg.jpg
Ilustrasi F 16
BATAM Suara berat lintasan pesawat tiba-tiba saja terdengar di langit Batam, Jumat (7/2/2014) sekitar pukul 14.30 WIB. Beberapa pewarta yang saat itu berada tak jauh dari Mapolsek Sekupang, Batam, seketika keluar mencari tahu asal suara. Hal serupa juga dilakukan seorang polisi di Mapolsek Sekupang.

Dari langit Batam, sebuah pesawat tempur Singapura yang diperkirakan jenis F-16 melintas dengan kecepatan sedang. Pesawat berwarna abu-abu kehitaman itu terbang rendah di langit Sekupang menuju Singapura. Saking rendahnya, sisi kanan dan kiri sayap pesawat itupun dapat jelas terlihat.

Selang beberapa detik berikutnya, pesawat serupa menyusul di bagian belakang. Suara beratnya masih sama. Nyaris memekakkan telinga. Sama seperti pesawat sebelumnya, sisi kanan dan kiri pesawat tampak kosong alias tak membawa peralatan tempur semisal bom.

"Sakit kali telinga dengar suaranya tadi. Waktu aku lihat ke atas sudah nggak ada lagi pesawatnya, tapi suaranya masih ada," ucap Aya, seorang warga Sekupang.

"Seperti itu aja suaranya udah buat takut orang. Bagaimana kalau benar-benar perang tadi," ucap warga lainnya menimpali.

Belum diketahui pasti apa tujuan pesawat perang asing itu melintas di langit Batam. Namun kehadiran pesawat perang ini sempat menjadi perbincangan di tengah hangatnya kemunculan kapal perang Indonesia yang diberi nama Usman Harun.

Usman merupakan nama seorang marinir asal Indonesia yang beberapa waktu lalu melakukan pengeboman di Singapura. Iapun mendapat hukuman mati atas tindakannya itu. Sementara di Indonesia, nama Usman diabadikan menjadi nama sebuah kapal perang Indonesia.

"Apa karena kapal perang Indonesia terbaru namanya Usman Harun, makanya Singapura mau menunjukkan kekuatannya ke kita, nggak tahu jugalah," ucap Adi, warga lainnya.

Otoritas Penerbangan Hang Nadim Akan Selidiki Pesawat Misterius

Pesawat tempur yang terbang rendah di wilayah Sekupang, Batam, Provinsi Kepri, Jumat (7/2/2014), sekitar pukul 14.30 WIB masih misterius. Pesawat yang belum teridentifikasi jenisnya ini akan diselidiki oleh otoritas penerbangan Bandara Internasional Hang Nadim Batam.

Demikian dikatakan Kepala Keselamatan Penerbangan Bandara Internasional Batam, Indah Irwansyah SSIT. Kepada Tribun, Indah mengaku sudah mendapat laporan ini. Namun, dia belum bisa memastikan apakah ini pesawat milik armada tempur Indonesia atau asing.

“Saya sudah dengar laporannya tadi. Belum tahu itu pesawat siapa karena radar kami tidak bisa mendeteksi. Besok saya tanyakan sama otoritas penerbangan Singapura,” ujar Indah Irwansyah SSIT ketika dihubungi Tribun, Jumat, malam.

Kendati demikian, ia mengaku dan tidak mengada-ada bahwa pesawat yang terbang rendah ini milik armada tempur Indonesia yang sedang patroli. Khususnya untuk mengawasi lalu lintas di sekitar Pulau Nipah, Kepri. Menurutnya, jika ada pesawat asing masuk wilayah NKRI pasti akan dikejar sampai dapat.

Di Indonesia, dua lokasi armada tempur disiagakan, yakni di Pekanbaru, Provinsi Riau dan Pontianak, Kalimantan Barat. Dua tempat ini memiliki radar khusus yang dapat memantau seluruh jenis pergerakan pesawat di dunia. Jika ada pesawat asing masuk wilayah udara Kepri, pesawat tempur dari Pekanbaru langsung mengejar.

“Radar armada tempur khusus, kalau ada pesawat asing yang menyelinap pasti langsung dikejar sama pesawat tempur kita dari Pekanbaru atau Pontianak. Dua tempat ini selalu siaga 24 jam. Kalau dikejar pesawat tempur dari Pekanbaru ke Batam sebentar saja, sekitar 10 menit,” jelas Indah.

Selain bertanya kepada otoritas penerbangan Singapura, pihaknya juga akan bertanya dengan skuadron tempur di Pekanbaru. Sebab mereka memiliki radar khusus yang bisa mengecek spesifikasi pesawat tempur dan sejenisnya yang masuk wilayah udara NKRI.

“Besok saya kabari jika sudah ada kepastian pesawatnya apa,” jelas Indah menegaskan. (Tribun Batam/Candra P. Pusponegoro)

  ♞ Tribunnews  

Kisah Aksi Usman-Harun Sebagai Pahlawan Dwikora

 Aksi Usman-Harun, prajurit marinir TNI AL mengebom Singapura  

Penyambutan Jenasah Pahlawan Dwikora
TNI AL berniat menamai kapal perangnya dengan nama KRI Usman Harun. Dua prajurit Korps Komando Angkatan Laut (kini Marinir TNI AL), yang mengebom Singapura saat operasi Dwikora tahun 1965.

Namun pemerintah Singapura mengajukan keprihatinan mereka. Mereka tak setuju orang yang melakukan serangan di wilayah Singapura malah dijadikan nama kapal perang.

Menanggapi ini TNI AL menyatakan penamaan kapal perang Usman Harun sudah melalui prosedur tetap. Nama KRI diberikan sebagai penghormatan bagi para pahlawan nasional atau prajurit TNI AL yang berjasa luar biasa untuk bangsa dan negara.

"Proses penamaan sudah melalui prosedur dan dilakukan oleh anggota tim yang ditunjuk. Kami memilih nama KRI Usman Harun karena mereka adalah pahlawan nasional yang berjasa kepada bangsa ini," kata Kadispen TNI AL Laksamana Untung Surapati, Selasa (6/2).

Pengabdian Sersan Usman dan Kopral Harun tak akan dilupakan TNI AL dan seluruh bangsa Indonesia. Dua prajurit KKO ini digantung pemerintah Singapura saat konfrontasi Dwikora tahun 1968.

Periode 1960an, pemerintahan Soekarno memang gerah dengan pembentukan Negara Malaysia. Singapura yang anggota persemakmuran Inggris ini juga dianggap pangkalan Blok Barat yang dapat mengancam Republik Indonesia.

Soekarno mengirim ribuan sukarelawan untuk bertempur di perbatasan Kalimantan dan Serawak. Berbagai operasi intelijen juga digelar di Selat Malaka dan Singapura. Tujuannya untuk mengganggu stabilitas keamanan di Singapura.

Adalah Usman dan Harun, dua anggota satuan elite KKO yang ditugaskan untuk mengebom pusat keramaian di Jl Orchard, Singapura. Mereka berhasil menyusup ke Mac Donald House dan meledakkan bom waktu di pusat perkantoran yang digunakan Hongkong and Shanghai Bank itu.

Ledakan dahsyat itu menghancurkan gedung tersebut dan gedung-gedung sekitarnya. Tiga orang tewas sementara 33 orang terluka parah. Beberapa mobil di Jl Orchard hancur berantakan. Peristiwa itu terjadi 10 Maret 1965.

Setelah menyelesaikan misinya, Usman dan Harun berusaha keluar Singapura. Mereka berusaha menumpang kapal-kapal dagang yang hendak meninggalkan Singapura namun tidak berhasil. Pemerintah Singapura telah mengerahkan seluruh armadanya untuk memblokir Selat Malaka. Hampir tidak ada kesempatan untuk kabur.

Usman dan Harun kemudian mengambil alih sebuah kapal motor. Malang, di tengah laut kapal ini mogok. Mereka pun tidak bisa lari dan ditangkap patroli Singapura.

Keduanya dijebloskan ke penjara. Hakim mengganjar mereka dengan hukuman gantung atas kasus pembunuhan, penggunaan bahan peledak dan melakukan tindakan terorisme. Pemerintah Indonesia mencoba banding dan mengupayakan semua bantuan hukum dan diplomasi. Gagal, semuanya ditolak Singapura.

Suatu pagi, selepas subuh tanggal 17 Oktober 1968, keduanya dikeluarkan dari sel mereka. Dengan tangan terborgol dua prajurit ini dibawa ke tiang gantungan. Tepat pukul 06.00 waktu setempat, keduanya tewas di tiang gantungan.

Presiden Soeharto langsung memberikan gelar pahlawan nasional untuk keduanya. Sebuah Hercules diterbangkan untuk menjemput jenazah keduanya. Pangkat mereka dinaikkan satu tingkat secara anumerta. Mereka juga mendapat bintang sakti, penghargaan paling tinggi di republik ini.

Setelah tiba di Jakarta, hampir satu juta orang mengiringi jenazah mereka dari Kemayoran, Markas Hankam hingga Taman Makam Pahlawan Kalibata. Semuanya menangisi nasib dua prajurit ini dan mengutuk Malaysia. Apalagi Korps KKO yang merasa paling kehilangan.

"Jika diperintahkan KKO siap merebut Singapura," ujar Komandan KKO, Mayjen Mukiyat geram di depan jenazah anak buahnya.

Pemerintah menghormati jasa kedua prajurit tersebut. Berdasarkan SK Presiden RI No.050/TK/Tahun 1968, tanggal 17 Oktober 1968. Keduanya dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta.

 Ketika Indonesia bela mati-matian vonis mati Usman dan Harun  

Lee Kuan Yew di Pemakaman Usman - Harun
Di balik tragedi Usman dan Harun, dua anggota marinir Indonesia yang divonis hukuman mati oleh pengadilan Singapura pada pemerintahan Orde Lama. Mereka dituduh melakukan infiltrasi oleh Singapura terkait operasi konfrontasi dengan Malaysia.

Atas kejadian itu, Presiden RI Soeharto menunjuk Letnan Kolonel Angkatan Darat Abdul Rachman Ramly untuk menyelesaikan masalah tersebut. Melalui hubungan diplomatik, Ramly menyatakan kepada Singapura bahwa Usman dan Harun agar tidak dihukum mati. Namun, Singapura berkukuh menghukum mati Usman dan Harun.

Singapura termasuk negara persemakmuran sehingga keputusan hukum tertinggi ada di London, Inggris. Dibantu pengacara Singapura, pemerintah RI mengajukan banding ke London. Hasil banding pun tidak diterima.

"Tentu saja saya kecewa dan mengajukan permohonan untuk menunda hukuman itu. Saya mengatakan bahwa saya akan melapor dulu ke pemerintah pusat Jakarta, juga mengabarkan perihal pelaksanaan hukum gantung itu kepada keluarga Usman dan Harun," ujar Ramly dalam buku Pak Harto 'The Untold Stories'.

Kendati demikian, Ramly ingin melapor kepada Pak Harto di Jakarta. Namun, beberapa orang dari Departemen Luar Negeri RI yang menyarankan agar tidak melaporkan perkembangan kasus tersebut kepada Soeharto karena tidak ada gunanya.

"Bagi kami, masalah anak buah harus kami tuntaskan. Bagi saya pribadi, saya juga tidak bisa membiarkan warga Indonesia mendapat masalah di luar negeri. Saya tetap melapor kepada Pak Harto," ujarnya.

Ketika melapor ke Soeharto, Ramly berterus terang mengenai kondisi yang dihadapi. Berikut perbincangan Ramly dengan Soeharto.

Soeharto bertanya kepada Ramly, "Mengapa Singapura ingin sekali menggantung mereka?"

"Kesimpulan umum kami, Pak, Singapura itu kan negara kecil. Sebagai negara kecil, mereka ingin eksis. Maka mereka menggunakan alasan rule of law yang harus ditegakkan. Hukum yang diterapkan di Singapura adalah hukuman mati," jawab Ramly.

Soeharto kembali menimpali, "Bagaimanapun kita tetap harus berusaha keras agar Usman dan Harun tidak digantung."

Mendengar itu, Ramly, kemudian meminta Soeharto menulis surat kepada pemerintah Singapura, isinya minta agar Usman dan Harun tidak dihukum mati. Lalu penguasa Orde Baru itu memenuhi saran Ramly. Dengan berbekal surat tersebut, Ramly menemui Presiden Singapura Yusuf Ishak, yang didampingi Wakil Perdana Menteri.

Waktu itu, Presiden Singapura menyatakan, urusan pemerintahan berada di tangan Perdana Menteri Lee Kuan Yew. Sedangkan dirinya hanya lambang negara tanpa kewenangan pemerintahan.

Pada peristiwa itu sempat membuat ketegangan hubungan Indonesia dengan Singapura. Sehingga menjelang hukuman gantung, seluruh staf kedutaan Indonesia di Singapura dipulangkan serta kapal-kapal milik Indonesia pun pulang membawa warga negara Indonesia.

"Di lapangan terbang Halim Perdanakusuma, masyarakat menyemut menyambut jenazah Harun dan Usman," ujar Ramly.

Setelah kematian Usman dan Harun, dua tahun kemudian Lee Kuan Yew ingin berkunjung ke Indonesia. Soeharto, menyilakan tapi dengan syarat, Lee harus meletakkan karangan bunga langsung di makam Usman dan Harun di Taman Makam Pahlawan, Kalibata, Jakarta.

"Syarat itu sungguh tidak lazim, namun entah dengan pertimbangan apa PM Lee setuju meletakkan karangan bunga di makam Usman dan Harun. Baru setelah itu hubungan Jakarta-Singapura membaik," ujar Ramly.(mdk/mtf)

  ♞ Merdeka  

Baku tembak di Poso memakan korban lagi

http://makassar.tribunnews.com/foto/bank/images/polisi-korban-Poso.jpg
Korban Poso (Tribunnews)
Palu Satu regu Brimob Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah melakukan patroli rutin di Desa Taunca, Kecamatan Poso Pesisir Utara, Kabupaten Poso, Kamis, sekitar pukul 10.00 WITA.

Mereka melakukan patroli di wilayah perkebunan yang berada di perbukitan dengan lokasi terjal dan harus dilalui dengan jalan kaki.

Pada sekitar pukul 10.30 WITA, regu brimob berseragam cokelat itu dikejutkan oleh serangan tembakan yang dilakukan oleh sejumlah orang sipil bersenjata dari balik semak-semak dan rumah gubuk. Putu Satria jatuh tersungkur.

Prajurit brimob berpangkat Bhayangkara Dua (Bharada) itu tertembus peluru di bagian tubuh yang mematikan. Beberapa rekannya menolong, sementara lainnya membalas tembakan ke arah suara letusan lawan.

Putu Satria diangkat rekannya untuk segera mendapat pertolongan pertama. Saat itu kondisi Putu Satria kritis. Tuhan berkendak lain, nyawa Putu Satria tak tertolong saat dievakuasi untuk dibawa ke rumah sakit. Baju seragam Putu memerah kehitaman karena menyerap banyak darah dari tubuhnya.

Beberapa anggota brimob lainnya menyerang dan mengejar kawanan bersenjata, dan terlibat aksi saling tembak di perkebunan.

Seorang anggota kawanan sipil bersenjata tewas ditembak aparat, dan seorang pria berinisial F tertembak di bagian kaki dan segera diamankan. Pengejaran terus dilakukan.

Kepala Polres Poso AKBP Susnadi juga berada di sekitar lokasi penembakan untuk memberikan arahan kepada prajuritnya.

Dalam pengejaran pelaku penembakan yang berlangsung di kaki bukit Padanglembara itu, polisi menemukan senjata api dan beberapa bom rakitan terbungkus pipa yang biasa dikenal dengan istilah bom lontong.

Barang-barang berbahaya itu adalah milik kawanan diduga teroris yang digunakan untuk menyerang patroli polisi.

Kepala Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Tengah Brigjen Pol Ari Dono Sukmanto menduga kuat komplotan sipil bersenjata itu adalah anak buah Santoso yang merupakan buronan paling dicari saat ini.

Saat ini ada 21 buronan kasus kekerasan Poso yang besembunyi di hutan.

Pada akhir Desember 2013, Densus 88 Antiteror menangkap terduga teroris berinisial AM di Kabupaten Poso. AM diduga adalah panglima teroris yang mengendalikan pergerakan di wilayah Kota Poso. AM adalah lelaki yang berada di sebelah kanan Santoso seperti pada tayangan yang terlihat di "Youtube" beberapa waktu lalu. Bisa jadi, Santoso dendam karena anggota andalannya diringkus polisi.

Meski telah terjadi aksi baku tembak, Ari Dono menyatakan saat ini belum ada rencana penambahan aparat di Kabupaten Poso menyusul insiden kontak senjata mematikan itu. "Jumlah pasukan di sana masih cukup," kata Ari Dono saat ditemui wartawan di Mapolda Sulawesi Tengah di Kota Palu.

Saat ini aparat Brimob Polda Sulawesi Tengah dan aparat Polres Poso masih mengejar para kelompok sipil bersenjata itu yang lari di wilayah hutan pegunungan di perbatasan Kabupaten Poso dan Kabupaten Parigi Moutong.

Medan Sulit

Sebelumnya, Kepala Polres Poso AKBP Susnadi mengatakan aparat keamanan kesulitan menangkap gerombolan sipil bersenjata yang bersembunyi di pegunungan yang membentang hingga ke daerah Sulawesi Selatan.

Banyak warga sipil menyangka aparat bisa dengan mudah menyergap kawanan diduga teroris yang bersembunyi di hutan karena lokasi pelatihannya sudah diketahui.

"Tidak semudah itu, pegunungannya berkelak-kelok dengan medan yang belum dikenali," katanya.

Jika dilihat dari udara, kawasan pegunungan itu terdapat banyak jalan setapak yang mungkin telah dihafal oleh kelompok sipil bersenjata.

Beberapa waktu lalu, aparat gabungan mencari teroris di Gunung Biru. Petugas tidak menemukan teroris namun menemukan ribuan peluru dan sejumlah bahan pembuat bom.

Di kawasan hutan tersebut juga ditemukan jebakan berupa lubang sedalam dua meter yang di bawahnya ditanam belasan kayu runcing menghadap ke atas.

"Sementara kita mencari dengan penuh hati-hati, para teroris sudah lari jauh," kata Susnadi.

Polisi tewas di Kabupaten Poso tidak hanya terjadi pada awal Februari 2014.

Pada 20 Desember 2012, empat dari sembilan prajurit tewas diberondong kelompok sipil bersenjata saat berpatroli di antara Desa Tambarana dan Desa Kalora, Kabupaten Poso.

Keempat korban tewas itu adalah Briptu Ruslan, Briptu Winarto, Briptu Eko Wijaya Sumarno serta Briptu I Wayan Putu Aryawan.

Sebagian besar korban terkena tembakan di daerah vital, yakni kepala, dada dan perut.

Sementara itu lima dari sembilan anggota Brimob yang selamat saat terjadi baku tembak juga mengalami luka serius di tubuhnya.

Sebelumnya pada 16 Oktober 2012 ditemukan jasad dua anggota Polres Poso bernama Brigadir Sudirman dan Briptu Andi Sapa di Dusun Tamanjeka. Mereka dibunuh oleh kelompok teroris karena ketahuan akan menyelidiki lokasi latihan bertempur Santoso dan kawan-kawan.

Kedua polisi itu dikubur dalam satu lobang sedalam kurang dari satu meter. Keduanya tewas mengenaskan dengan mengalami luka sayatan benda tajam di leher dan di beberapa bagian tubuhnya.

Pada awal Juni 2013, Markas Polres Poso juga diguncang bom bunuh diri yang menewaskan pelakunya sendiri dan tidak melukai polisi.

Sampai kapan teror kepada polisi akan terjadi? Kapan kelompok radikal di Kabupaten Poso dapat ditumpas? Pertanyaan tersebut hingga saat ini belum bisa terjawab.

Menurut Kapolres Susnadi, persoalan kesejahteraan ekonomi jika bisa dibenahi bisa menekan ancaman gerakan radikalisme secara perlahan.

Polisi juga gencar merangkul masyarakat dan kalangan pelajar untuk mencegah paham-paham sesat dan menyesatkan.(R026/Z002)

  ♞ Antara 

Ditinggalkan Indonesia, Australia Dekati Malaysia

 Atasi imigran gelap, Australia hibahkan dua kapal patroli ke Malaysia. 

Kapal Bay Class yang akan di hibahkan
Walaupun kerja sama dengan Indonesia dihentikan, Australia tidak kehilangan akal untuk mengatasi masalah imigran gelap ke negaranya. Australia dilaporkan mendekati Malaysia, bahkan memberikan dua kapal patroli sebagai hibah kepada Jiran.

Diberitakan Channel News Asia, Kamis 6 Februari 2014, Australia akan memberikan kapal Bay Class yang tidak lagi mereka gunakan ke Malaysia pada pertengahan 2015 mendatang. Menteri Imigrasi Australia mengatakan bahwa ini adalah "strategi operasi praktis untuk mengatasi kejahatan ini."

Kebanyakan imigran gelap pencari suaka ke Australia memang melalui Indonesia. Tapi Malaysia terkadang jadi negara transit untuk mengirimkan para imigran melalui perbatasan Thailand-Malaysia ke Sumatra melalui Selat Malaka.

"Malaysia adalah mitra kunci di regional dan dalam upaya bilateral melawan penyelundupan manusia, hal ini penting terutama karena Malaysia sering digunakan sebagai negara transit menuju Australia dengan kapal," kata Morrison.

Kapal hibah dari Australia telah digunakan sejak tahun 1990an dan kini mulai ditinggalkan. Kapal patroli ini punya jangkauan 1000 mil laut dan diawaki 12 petugas.

"Kapal hibah ini akan meningkatkan kemampuan intersepsi, pencarian dan penyelamatan Badan Penegakan Maritim Malaysia dalam operasi perlindungan perbatasan," kata Morrison.

Pemerintah Indonesia menghentikan kerja sama penanganan imigran gelap menyusul terbongkarnya penyadapan oleh pemerintah Australia. Akibatnya, Australia harus bekerja keras mencegah masuknya para imigran ini ke wilayah mereka.

Salah satu cara ekstrem oleh Australia adalah mendorong kembali kapal pencari suaka ke Indonesia. Cara lainnya, mengirim mereka ke kamp di sebuah pulau di Pasifik. Morrison mengatakan, sejak 19 Desember lalu, tidak ada kapal imigran yang sampai di daratan Australia.(umi)

  ♞ Vivanews  

Jumat, 07 Februari 2014

Kesiapan Indonesia Pengadaan Kapal Selam Kelas 877EKM

Indonesia nampaknya akan membeli dua kapal selam kelas 877EKM dari Rusia. Keputusan akhir mengenai pembelian itu belum ada, namun dipastikan keputusan itu akan diambil pada masa kepresidenan sekarang dan tak akan diwariskan kepada pemerintahan baru pasca 20 Oktober 2014. Apabila Indonesia memutuskan membeli kapal selam konvensional itu, Jakarta harus mempersiapkan diri dari aspek logistik.

Saat Jakarta membatalkan rencana pengadaan kapal selam kelas Kilo pada 2008, alasan yang dikemukakan antara lain karena kapal selam Rusia itu memerlukan dukungan infrastruktur. Sementara Indonesia saat itu konon tak mempunyai dana guna membangun infrastruktur tersebut. Sejak beberapa tahun lalu, kekuatan laut Indonesia membangun infrastruktur kapal selam di Teluk Palu. Sehingga apabila ada pihak yang mengajukan alasan infrastruktur untuk membatalkan rencana akuisisi dua kapal selam kelas Kilo saat ini, alasan itu jelas hanya dibuat-buat saja.

Persiapan lainnya adalah menyiapkan dukungan logistik terpadu bagi sistem senjata asal negeri kelahiran Mikhail Gorbachev itu. Dalam pengadaan kapal perang selama ini, salah satu kelemahan Indonesia adalah tidak didukung dengan dukungan logistik terpadu. Sehingga tak aneh kalau kapal perang yang tergolong baru tak bisa beroperasi sementara karena suku cadang tak tersedia di Dopusbektim. Isu ini menjadi tantangan bagi pengadaan kapal selam kelas Kilo nantinya.

Berikutnya adalah percepatan penyiapan awak kapal selam. Rencana penyiapan awak kapal selam memang sudah ada saat ini karena terkait pengadaan kapal selam fotokopi dari Negeri Ginseng. Apabila akuisisi kapal selam asal Rusia disetujui, tentu saja harus disiapkan rencana rekrutmen baru dalam jumlah yang tak sedikit. Apalagi pengoperasian kapal selam Rusia memiliki karakteristik sendiri dibandingkan dengan kapal selam asal Jerman.

  Damn The Torpedo  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...