Jumat, 28 Februari 2014

Pesawat Baru TNI AU mendarat Darurat

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhwZirtx7CMJPTGXvVzTQon2nAeQiNxtDEj537zgRXZAgImmPltzoDi2xEZPfNxUvMNbG5KKH6yVStUfu6M68Nm5gxKbwJZejt4sZ48iK5iy1bt5uRleJ_nvJd9keQhhncGR4RtwbC2wrUy/s1600/tt5003_20130910010352.jpgJakarta Pesawat jet tempur T-50i milik TNI AU yang hendak ke bandara Iswahjudi, Madiun, Jatim, mendarat darurat di Semarang, Jawa Tengah. Ada persoalan teknis di bagian indikator generator yang membuat pilot harus memisahkan diri dari rombongan.

Kadispen TNI AU Marsekal Pertama TNI Hadi Tjahjanto mengatakan, kejadian ini berlangsung pada pukul 09.30 WIB tadi. Ada empat pesawat T-50i yang terbang dari Halim Perdanakusumah, Jaktim, menuju Madiun. Namun di menjelang langit Semarang, indikator generator pesawat menyala.

"Sebenarnya pesawat masih bisa ke Iswahjudi kalau dalam kondisi perang. Tapi dalam kondisi damai seperti ini kita cari safe saja. Yang tiga melanjutkan, hanya satu yang mendarat," kata Marsekal Pertama Hadi saat dikonfirmasi detikcom, Jumat (28/2/2014).

Menurut Hadi, ada kemungkinan persoalan teknis yang muncul bila indikator menyala. Bisa jadi generatornya terganggu, atau memang indikatornya ada masalah. Yang jelas, pilot masih bisa mendarat dengan mulus, tanpa ada gangguan apa pun.

"Tidak dianggap terlalu darurat, hanya kita jaga-jaga saja. Pesawatnya juga landing normal," terang Hadi.

Pesawat T50i ini baru tiba di Indonesia pada Kamis (13/2/2014). Presiden SBY datang ke atraksi pertunjukan pesawat yang digelar di Bandara Halim Perdanakusumah tersebut. Pesawat tersebut memang akan ditempatkan di pangkalan udara Iswahjudi.

Pesawat ini akan digunakan sebagai pesawat Fighter Lead in Trainer atau untuk melatih calon penerbang tempur. Pesawat T-50i memiliki panjang 43 kaki, lebar sayap 31 kaki dan tinggi 16 kaki. Dengan total kapasitas angkut persenjataan 5 ton, pesawat ini dilengkapi dengan kanon gatling internal 3 laras General Dynamics 20mm. Dengan spesifikasi ini, pesawat tempur T-50i mampu menyemburkan 2.000 peluru per menit.


  ♞ detik  

Wamen Pertahanan Bantah Tudingan Militer RI Terkorup

http://static.inilah.com/data/berita/foto/309231.jpgJakarta Wakil Menteri Pertahanan Syafrie Syamsuddin membantah hasil survei Transparency International yang menyebut militer Indonesia termasuk terkorup di dunia.

Lembaga swadaya masyarakat yang berbasis di Inggris itu memberikan nilai buruk untuk Indonesia terkait indeks korupsi di sektor pertahanan.

"Tidak benar," kata Syafrie, kepada wartawan, sebelum menjadi narasumber pada sebuah diskusi bertajuk Urgensi Penguatan Sistem Pertahanan Indonesia, di Jakarta, Senin, 11 Februari 2013.

Syafrie menjelaskan, seluruh anggaran pertahanan Indonesia telah diaudit secara proporsional dan profesional oleh lembaga lembaga independen, yakni Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

Hasilnya, BPK menyatakan anggaran Kementerian Pertahanan adalah "wajar dengan pengecualian". Penilaian tersebut akan terus ditingkatkan hingga berstatus "wajar tanpa pengecualian".

Selain itu, imbuh Syafrie, seluruh laporan keuangan Kementerian Pertahanan dilaporkan kepada Pemerintah dan ditembuskan ke DPR. Ia mengakui memang ada yang perlu diperbaiki dari laporan itu karena ditemukan permasalahan-permasalahan administratif. Tetapi hal itu bukan masalah besar karena pihaknya segera memperbaiki.

Laporan Unit Kerja Presiden untuk Pengawasan Pelaksanaan Pembangunan pun menyebutkan bahwa Kementerian Pertahanan masuk dalam 10 besar pengguna anggaran paling maksimal. "Jadi, dengan data yang ada dan penjelasan dari lembaga yang independen, observasi (survei) itu tidak benar, karena tak didukung data yang akurat."

"Prinsip akuntabilitas dan transparansi ini kita tegakkan, bersama komunitas akuntan yang disediakan negara, yakni BPKP, kemudian mengadakan interaksi dengan KPK dalam rangka prevensi," imbuh Syafrie, dalam diskusi yang digelar Yellow Forum for Young Leader itu.

Transparency International (TI) memberikan nilai E untuk Indonesia dalam indeks korupsi di sektor pertahanan. Nilai tersebut adalah nilai dari skala A hingga F. A adalah nilai terbaik dan F adalah terburuk. Negara lain yang mendapat nilai E adalah Afghanistan, Irak, Uganda, Zimbabwe, dan Filipina. Negara yang mendapat F antara lain Libya, Mesir, Kamerun.

Hanya dua negara dari 82 negara yang disurvei yang mendapat nilai A, yaitu Jerman dan Australia. Negara adidaya Amerika Serikat mendapat nilai B.

Dalam laporannya, TI menyebutkan bahwa sektor pertahanan Indonesia dikuasai oleh kartel partai politik melalui anggota dewan yang duduk di Komisi I DPR, yang mengawasi masalah pertahanan, komunikasi dan hubungan luar negeri.

Militer Indonesia juga disebut-sebut menjadi bekingan industri pertambangan dan kehutanan bahkan sampai terlibat dalam bisnis narkotika dan perjudian. Transparansi dalam tubuh militer juga dikritik oleh TI. Menurut TI, tidak ada mekanisme pengawasan yang bisa mengawasi anggaran-anggaran “siluman”.

Di dalam tubuh militer disinyalir budaya penyuapan, upeti, dan “asal bapak senang” masih kuat. Tidak ada mekanisme perlindungan terhadap whistle blower dan tidak ada pendidikan anti korupsi. Di samping itu, kedekatan personal atau faksional masih sangat berpengaruh dalam kenaikan jabatan di tingkat senior.

Meski pengadaan barang dan jasa dilakukan secara terbuka tetapi korupsi tetap terjadi. Hal ini karena tender dilakukan sendiri oleh angakatan bersenjata dan kementerian pertahanan. Pengawasan tender tersebut dilakukan oleh pemerintah seperti Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan Bank Indonesia, yang tidak sampai ke publik. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dinilai belum berani menjamah korupsi di sektor pertahanan.(umi)

  ♞ VIVAnews  

Indonesia Ungkap Kekecewaan kepada Australia di Bali Process

http://static.republika.co.id/uploads/images/detailnews/indonesian-minister-of-foreign-affairs-marty-natalegawa-file-photo-_121201233449-477.jpgJakarta Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa benar-benar geram atas tindakan Australia yang seenaknya memulangkan para pencari suaka tanpa rasa kemanusiaan. Kekecewaan ini akan ditunjukkan dalam pertemuan Bali Process yang akan digelar bulan depan.

"Dalam pertemuan Bali Process dalam waktu dekat, kita bakal ungkapkan kekecewaan kita kepada para peserta bahwa tindakan Australia melanggar hak asasi," kata Marty di kantor Presiden, Jakarta, Kamis 27 Februari 2014.

Bali Process adalah konferensi internasional yang dihadiri para pejabat setingkat menteri dan terdiri dari 49 anggota dan 19 negara peninjau.

Marty mengatakan, Australia benar-benar melanggar perjanjian internasional, konvensi pengungsi. Mereka juga melanggar rasa keadilan dan kemanusiaan.

"Mereka ini pencari suaka. Paling tidak mereka statusnya harus ditetapkan apakah pencari suaka seperti yang didefinisikan konvensi pengungsi. Kita tidak bisa benarkan tindakan Australia memulangkan refugee itu ke Indonesia," kata dia. Marty yakin kecamannya kepada Australia akan didukung masyarakat Internasional.

Seperti diketahui, pihak berwenang Australia menghalau dan memulangkan para pencari suaka dengan cara meledakkan kapal yang hendak menuju Pulau Christmas. Orang-orang yang mayoritas datang dari Timur Tengah ini kemudian dipulangkan dengan sekoci-sekoci darurat.


  ♞ Vivanews  

Grand Launching Pontianak Airshow

Pontianak Gubernur Kalbar Drs.Cornelis,M.H baru-baru ini membuka Grand Launching Pontianak Airshow (PAS) di Balroom Meranti Hotel Mercure Pontianak dihadiri oleh Wakil Gubernur Kalbar Drs. Christiandy Sanjaya, SE MM, Pangdam XII/Tpr Mayjen TNI A. Ibrahim Saleh, Danlanud Supadio Kolonel Pnb Ir. Novyan Samyoga selaku Ketua Pelaksana Pontianak Airshow serta seluruh Pimpinan Daerah SKPD se-Kalbar.

Danlanud Supadio selaku Ketua Pelaksana PAS memberikan laporan kepada seluruh undangan. Kesiapan dan mensukseskan kegiatan Pontianak Air Show, dalam rangka memeriahkan HUT Kalbar Ke- 57 “Pontianak yang terletak di wilayah berbatasan langsung dengan negara sahabat. Kata Danlanud.

Pontianak merupakan wilayah yang strategis untuk dikembangkan khususnya dalam bidang kedirgantaraan, guna mendukung acara tersebut tentunya kedepan perlu mempunyai bandara yang lebih besar.

Dengan diadakan Pontianak Airshow diharapkan Kalbar bisa lebih dikenal baik dimata Nasional maupun Internasional sehingga pemerintah pusat akan lebih memperhatikan perkembangan Bandara Supadio “ lanjut Danlanud.

Hal senada juga disampaikan Gubernur Kalbar, bahwa transportasi yang tercepat adalah melalui udara, untuk itu perkembangan bandara perlu mendapat perhatian pemerintah pusat, dan perlu berbuat dan bertindak yang positif untuk Kalbar.

“Sekarang sudah waktunya bahwa rakyat Kalbar harus lebih mengerti dan melihat tentang tekhnologi kedirgantaraan, demi kemajuan Kalbar. Untuk itu, diharapkan kepada para pimpinan daerah dan kota agar menganjurkan kepada seluruh rakyatnya untuk hadir menyaksikan acara tersebut sekaligus memberi pendidikan bagi anak-anak,” ungkap Gubernur.

Ditempat yang sama Ibu Susi perwakilan dari Greenlight selaku EO PAS, memberikan gambaran tentang acara Pontianak Airshow yang dilaksanakan mulai tanggal 27 Februari sampai dengan 2 Meret di Pangkalan TNI AU Supadio, yang akan dilaksanakan juga pameran kerajinan dari berbagai daerah di Indonesia, khususnya Kalbar dan berbagai perlombaan bagi anak-anak sekolah mulai dari SD hingga SMA.


  ♞ TNI AU  

Kisah Heroik Insiden Hotel Yamato

Surabaya Hotel ini didirikan pertama kali oleh Sarkies Bersaudara, kelompok konglomerat hotel asal Armenia, 1910. Konon, pada masa kejayaannya tempat penginapan termewah di Surabaya, kala itu pernah diinapi Charlie Chaplin dan Paulette Goddard. Nama Oranje, merujuk pada keluarga bangsawan Belanda yang berkuasa di Surabaya kala itu. Nama ini kemudian diubah menjadi Hotel Yamato pada 1942, setelah Jepang mulai berkuasa di Indonesia.

Hotel Yamato

Di tempat ini terjadi peristiwa besar yang disebut dengan "Insiden Hotel Yamato", 19 September 1945. Saat itu terjadi peristiwa perobekkan bendera Belanda (merah-putih-biru) menjadi Merah-Putih (bendera Indonesia). Jadi, setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dibacakan Soekarno-Hatta, ada maklumat Presiden Soekarno untuk mengibarkan bendera negara di seluruh wilayah Indonesia, 31 Agustus 1945.

Maklumat ini memicu kemarahan Belanda di bawah Ploegman dan mau menegaskan kalau Indonesia masih di bawah kendali mereka. Caranya, dengan mengibarkan bendera Belanda (Merah-Putih-Biru) di tiang utara, tingkat teratas Hotel Yamato.

Prasasti ditanam di dinding Hotel Majapahit, menandai sejarah yang terjadi di tempat ini.{Agung Kurniawan}

Keesokan hari para pemuda Surabaya melihat dan menjadi marah, karena mereka menganggap Belanda telah menghina kedaulatan Indonesia, dan dianggap mau mengembalikan kekuasan kembali di Indonesia, serta melecehkan gerakan pengibaran bendera Merah Putih yang sedang berlangsung di Surabaya.

Kronologi

Akhirnya, Residen Sudirman, pejuang dan diplomat yang menjawab sebagai Wakil Pemerintahan Indonesia masuk ke dalam Hotel dikawal Sidik dan Hariyono. Mereka mencoba berunding meminta agar Ploegman menurunkan bendera Belanda. Tapi, Ploegman menolak dan tidak mengakui kedaulatan Indonesia.

Perundingan semakin memanas, sampai akhirnya Ploegman mengeluarkan pistol dan memicu perkelahian dalam ruang perundingan. Ploegman tewas dicekik Sidik, yang kemudian juga terbunuh oleh tentara Belanda yang bersiaga. Sementara, Sudirman dan Hariyono melarikan diri ke luar Hotel Yamato.

Di luar hotel, para pemuda mengetahui perundingan tidak berjalan lancar, langsung mendobrak masuk dan terjadi perkelahian di lobi hotel. Sebagian pemuda berebut naik ke atas hotel untuk menurunkan bendera Belanda.

Hariyono yang semula bersama Sudirman kembali ke dalam hotel dan ikut memanjat tiang bendera bersama Kusno Wibowo. Mereka kemudian berhasil menurunkan bendera Belanda, merobek bagian birunya, dan mengereknya kembali ke puncak tiang.

Hotel Majapahit dulunya bernama Hotel Oranje dan diubah jadi Yamato. 10 November [Agung Kurniawan]

Tentara Inggris yang tergabung dalam Allied Forces Netherlands East Indies (AFNEI), atas keputusan Blok Sekutu, ditugasi melucuti tentara Jepang, membebaskan tawanan perang yang ditahan, dan memulangkan kembali mereka kembali ke negaranya. Tapi, ternyata AFNEI juga punya misi mengembalikan Indonesia ke tangan Belanda sebagai negeri jajahan Hindia Belanda, melalui organisasi Netherlands Indies Civil Administration (NICA).

Mengetahui rencana licik ini, semakin memicu gejolak rakyat Indonesia dan memunculkan pergerakan perlawanan rakyat Indonesia di mana-mana melawan tentara AFNEI dan pemerintahan NICA. Insiden Hoten Yamato juga memicu terjadinya pertempuran pertama antara Indonesia dengan tentara sekutu Inggris (ANFEI), pada 27 Oktober 1945.

Beberapa serangan kecil antara kedua belah pihak (Inggris maupun pejuang Indonesia) kerap terjadi dan terus memburuk. Memperbesar banyaknya jumlah korban jiwa yang berjatuhan, baik dari penjuang Indonesia maupun dari tentara sekutu Inggris. Melihat ini, pimpinan Inggris kala itu Jenderal DC Hawthorn meminta bantuan Soekarno untuk meredakan kondisi dengan gencatan senjata.

Jembatan Merah

Penandatangan kesepakatan gencatan senjata ditandatangani kedua belah pihak, 29 Oktober 1945. Kondisi berangsur-angsur mulai mereda, tetapi masih terjadi beberapa bentrokkan bersenjata di lapangan, antara rakyat dan tentara Inggris di Surabaya.

Klimaks Inggris memuncak ketika terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby, pimpinan tentara Inggris untuk Jawa Timur, 30 Oktober 1945. Sekitar pukul 20.30, Mallaby yang tengah bekendara di jalan berpapasan dengan sekelompok milisi Indonesia. Salah paham kemudian memicu bentrok kedua pihak, sampai terjadi baku tembak. Mallaby terbunuh oleh tembakkan pistol salah seorang pemuda Indonesia. Mobil yang digunakkannya terbakar kena ledakkan granat sampai jenazah Mallaby sulit dikenali.

Pihak Inggris geram, di bawah Mayor Jenderal Eric Carden Robert Mansergh (pengganti Mallaby) mengeluarkan ultimatum yang isinya, menuntut Indonesia menyerahkan persenjataan dan menghentikan perlawanan pada tentara AFNEI dan administrasi NICA. Batas ultimatum ditetapkan 10 November 1945, pukul 06.00 atau mengancam akan membumi hanguskan Surabaya.

Keinginan Inggris dianggap sebagai penghinaan pada keadulatan Indonesia yang baru memproklamasikan kemerdekaan. Melalui institusi resmi, Tentara Keamanan Rakyat (TKR), atau organisasi perjuangan bersenjata yang dibentuk masyarakat, termasuk santri para ulama ternama bergabung bersama ikut menentang ultimatum itu.

Serangan Skala Besar

10 November, tentara Inggris mulai melancarkan serangan skala besar, mulai dari pengeboman melalui udara ke gedung-gedung pemerintahan dan menggerakkan 30.000 infrantri, pesawat terbang, tank, dan kapal perang. Inggris terus membombardir Surabaya dengan bomnya.

Perlawanan pejuang dan masyarakat Indonesia bukannya surut tapi justru semakin membara. Inggris yang semula menargetkan bisa menaklukkan Surabaya dalam tiga hari, tapi baru berakhir berminggu-minggu lamanya, sampai akhirnya Surabaya jatuh ke tangan Inggris. Pertempuran itu kabarnya mengakibatkan belasan ribu pejuang Indonesia tewas dan mendesak 200.000 rakyat sipil mengungsi dari Surabaya. Ribuan pasukan Inggris juga mengalami hal sama.

Sejarah itu selalu dikenang Indonesia karena mencerminkan semangat pejuang untuk mengusir penjajah dan mempertahankan kemerdekaan. Banyaknya korban jiwa yang melayang karena pertempuran ini yang dimulai 10 November (1945), kemudian dikenang sebagai Hari Pahlawan dan sampai kini melekat di Surabaya, sampai sekarang.

Dari sejarah ini banyak yang bisa dipelajari, tentang bagaimana para pahlawan menjaga kemerdekaan dengan mengorbankan segalanya termasuk nyawa dirinya. Sudah tugas kita sebagai penerus untuk menghargai dan menjaga apa yang telah mereka perjuangkan. Banyak hal yang bisa dilakukan untuk mengharumkan nama bangsa dengan segudang prestasi. Termasuk menggunakan produk-produk yang berasal dan dibuat oleh Anak Negeri.

  ♞ Kompas  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...