Jumat, 18 April 2014

Indonesian Navy Upgrades Three Corvettes with ASW Capabilities

Underwent upgrade works over a period of 234 days  https://fbcdn-sphotos-d-a.akamaihd.net/hphotos-ak-prn1/t31.0-8/10257824_10202895841748773_4584295138331306590_o.jpgJakarta ★ The Indonesian Navy (Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut - TNI-AL) has completed an upgrade of three Kapitan Pattimura (Parchim I)-class corvettes, including the mounting of anti-submarine warfare (ASW) equipment.

The completion was marked in a handover ceremony held at the headquarters of TNI-AL's Western Fleet in central Jakarta on 4 April.

The 75 m vessels, KRI Kapitan Pattimura , KRI Sultan Thaha Syaifuddin and KRI Sutedi Senoputra, underwent upgrade works over a period of 234 days at a naval repair facility in Jakarta. The ex-German Democratic Republic boats, originally inducted into the East German Navy in the 1980s, were re-commissioned into the TNI-AL between 1993 and 1995.


  ★ Janes  

[World News] Lebanon takes delivery of US RHIBs

Total donated up to 1,287 Humvees
Kuala Lumpur ★ The United States has donated eight "gunboats" to Lebanon, the Lebanese Armed Forces (LAF) announced on its website on 14 April.

The photographs posted on the LAF website suggested that at least some of the craft are Sea Force 11 m Enforcer Cab RIBs made by the US company Willard Marine. Built to US Navy standards, this rigid-hull inflatable boat (RHIB) is powered by twin inboard diesel engines and water jets and has a weather-tight cabin.

The donation of inshore patrol craft came after the US Embassy in Beirut announced that it had delivered 176 M1123 Humvees to the LAF, bringing the total donated up to 1,287.


  ★ Janes  

Indonesian Navy set to have domestically built frigate in 2016

The PKR frigate will have the modern surface warfare capabilities, anti-submarine warfare, anti-aircraft warfare and electronic warfare http://jakartagreater.com/wp-content/uploads/2013/01/sigma10514.jpgSurabaya ★ The Indonesian Navy will soon have its own domestically made frigate when the construction of the PKR 10514 guided-missile destroyer escort is completed in 2016.

Navy chief of staff Adm. Marsetio led a keel laying ceremony for the PKR, which the navy classifies as a frigate, at the state-owned shipbuilder PT PAL Indonesia in Surabaya on Wednesday. The warship is being built under the supervision of Dutch shipbuilder Damen Schelde Naval Shipbuilding (DSNS).

“The PKR frigate will have the modern surface warfare capabilities being equipped with [anti-ship] Exocet missile, anti-submarine warfare with torpedoes, anti-aircraft warfare and electronic warfare,” Marsetio said after the ceremony.

The new warship is the largest to be built domestically with a length of 105 meters and a width of 14 meters.

Marsetio was accompanied by the Defense Ministry’s Defense Facilities Agency chief Rear Adm. Rachmat Lubis, Dutch Ambassador to Jakarta Tjeerd F de Zwan, and DSNS CEO Hen van Ameijden.

The Defense Ministry ordered two PKR 10514s with a contract of US$220 million. The first steel cutting was conducted in January to mark the start of the frigate construction.

Rachmat said the contract already covered training for PT PAL’s engineers both at home and in the Netherlands and weaponry for the frigates, which must include domestically made weapon systems.

“Initially the warship was to be fully built abroad but after some 175 discussions, it was agreed that the production would be conducted jointly with PT PAL,” he said.

The construction is divided into six modules, of which four would be built at PT PAL’s facility while the remaining two, engine and bridge, would be built in Vlissingen.

“Once finished, the two modules from the Netherlands would be brought and assembled here at PT PAL,” Marsetio said.

The navy chief guarnateed that although most of the modules were to be built in Indonesia, the quality would still be the same with those made in the Netherlands construction would be conducted under the direct supervision of a special DSNS team.

The first ship is expected to be completed in December 2016 while the second frigate in October 2017.

Meanwhile, van Ameijden was upbeat that the cooperation would go smoothly.

“Early January there was nothing here [the shipyard] but today we can see [....] there is good progress. [the project] is still ongoing,” he said.(nvn)


  ★ Jakarta Post  

Kekuatan Udara VS Gerilyawan dalam Taktik Pertempuran Modern

Penulis : Kol Pnb. Agung “ Sharky” Sasongkojati Kekuatan Udara VS Gerilyawan dalam Taktik Pertempuran ModernQuestion:
Bagaimana kekuatan udara menghadapi lawan dengan taktik gerilya namun berkemampuan pertahanan udara seperti di Suriah dan Libanon?

Answer:
Berbagai macam konflik terbaru khususnya di Timur tengah sangat mengubah strategi kekuatan udara. Baik yang dihadapi oleh AU Suriah, Irak atau Mesir dimana lawan merupakan gerilyawan dengan peralatan dan komunikasi yang semakin canggih dan berdaya hancur tinggi. Jatuhnya beberapa pemerintahan lewat revolusi seperti di Libya bahkan memaksa militer Israel mengubah strategi. Pasalnya berbagai persenjataan canggih, sebagian hasil jarahan dari konflik Libya, bermigrasi lewat Mesir dan masuk ke Gaza melalui jalur penyelundupan.

Bahkan dikabarkan dari Afrika beberapa rudal SA-18 antipesawat (dari arsenal militer Eritrea) dan rudal-rudal SA-24 (eks militer Libya). Beberapa SA-18 terbukti telah jatuh ke pemberontak Somalia. Sementara rudal SA-24 telah lenyap dan mungkin di antaranya pindah ke luar negeri oleh penjual ilegal. Sementara rudal pertahanan udara portabel SA-7 telah berada ditangan kelompok pejuang Hamas di Gaza.

Sistem rudal antipesawat yang lebih berat dan canggih lainnya sudah dimiliki Suriah dan Iran, meskipun dikabarkan penjualan SA-20 kepada Teheran telah ditunda, namun dalam kenyataan mungkin sudah dikirimkan. Meski demikian, fakta bahwa senjata antipesawat canggih ini sudah berada di pasar dunia berpotensi mengancam kekuatan udara siapapun termasuk pesawat yang memiliki kemampuan siluman (stealth).

Brigjen (Pur) Shmuel Yachin, pejabat Israel Aerospace Industries menyebutkan bahwa semua senjata antipesawat ini, dari yang portabel hingga jarak jauh, membuat pasukan darat dan laut tidak bisa lagi mengandalkan bantuan angkatan udara seperti sebelumnya. Pesawat-pesawat militer seperti pesawat tempur, transpor dan helikopter tidak bisa lagi mengklaim memiliki keunggulan udara dengan mudah. Kekuatan udara akan lebih sibuk memikirkan keamanan misinya menghapi senjata antipesawat sebelum bisa membantu memecahkan masalah pasukan taktis darat yang sedang bertempur menghadapi kelompok gerilyawan dalam perang kota, perang gunung dan perang hutan. Saat ini adalah era pertama dimana pertahanan udara kaum gerilyawan jauh lebih kuat dibandingkan satuan tentara kecil pasukan regular pemerintah pada posisi yang paling rentan.

Yachin menyebutkan berdasarkan pengalaman bertempur melawan gerilyawan Hisbullah di Lebanon selatan, saat ini pasukan militer reguler harus meningkatkan kemampuan satuan taktis sehingga mereka dapat melakukan lebih banyak misi dengan lebih sedikit bantuan dari luar. Karena pertempuran mulai berubah ke perang intensitas rendah melawan pasukan tidak terkoordinasi, sehingga hasil pertempuran ditentukan pada level kompi dan batalion, tidak akan lebih dari level brigade. Militer masa kini harus menggunakan semua teknologi canggih yang dikembangkan untuk angkatan udara, laut dan diadopsi ke dalam sistem senjata yang lebih baik untuk satuan tingkat taktis.

Terkait hal ini adalah peran perang elektronika dan perang cyber di arena operasional dan taktis. Panglima Strategic Command AS, Jenderal Robert Kehler yang bertanggung jawab untuk pembinaan operasi intelijen, pengawasan dan pengintaian (ISR), serangan global dan cyber operations menyebutkan pentingnya pemahaman akan perang asimetris modern. Perang masa depan banyak belajar dari metode yang dikembangkan negara seperti Israel. Seperti pengembangan di bidang kemanan jaringan komunikasi, khususnya penggunaan wahana robotik udara dan darat.

Wahana robotik masa depan akan mulai terlibat dalam pertempuran darat pada kurun waktu lima tahun mendatang dan mampu bertempur bersama sebagai kelompok. Hal ini merupakan tantangan teknologi dan sebuah revolusi besar untuk mengoperasikan sejumlah wahana tanpa awak robotik dalam sebuah sistem operasi perang secara bersama-sama.

Jenderal Kehler menambahkan bahwa pertahanan masa depan akan berlapis-lapis, termasuk perlindungan oleh robot dan pesawat tanpa awak sepanjang tahun. Dalam network centric warfare memerlukan kemampuan mengirimkan dan menerima informasi menggunakan peralatan komunikasi berspektrum lebar. Dalam situasi saat ini kita harus mampu memberikan kemampuan itu pada eselon pasukan terbawah dimana dua wahana perang bisa berkomunikasi satu sama lain dengan aman tanpa gangguan.

Sebagai hasil dari beberapa ancaman baru ini, maka dua kekuatan utama militer Israel yaitu pesawat close air support dan helikopter (pengangkut pasukan dan helikopter serang) terpaksa harus mengurangi perannya di medan perang untuk bisa survive dari ancaman rudal hanud lawan. Pergeseran kekuatan akan lebih pada jenis kendaraan darat lapis baja yang lebih berat, wahana robotik darat otonom serta lebih mengintensifkan penggunaan peralatan pengawasan taktis medan dengan area pergerakan pasukan setingkat brigade (sekitar lima kilometer persegi).

Paket surveillance taktis ini bisa meliputi peralatan radar pemindaian elektronik taktis, pengindra sinyal intelijen dan sensor electro-optical/infrared. Sensor ini dapat mengirimkan data, memetakan medan dan menyajikan informasi terkini bagi satuan-satuan yang sedang bertempur di garis depan.

Dukungan udara akan terus bergeser pada senjata udara jarak jauh (stand off weapon), baik bersenjata dan tidak bersenjata, pesawat tak berawak, roket artileri panduan presisi dengan model serangan vertikal untuk digunakan di daerah berbukit dan kota dan sebuah peralatan teknologi baru yang memungkinkan pasukan setingkat kompi, peleton atau regu untuk mampu mencari dan menghancurkan target tanpa bantuan sepenuhnya dari udara.

Pertempuran modern akan lebih menantang dan peran udara masih terus dibutuhkan namun dalam format yang lain dan strategi serta taktik berbeda.

  ★ Angkasa  

Sekilas Mengenai Tank di Asean

Kekuatan tank dipandang sebagai simbol kemampuan tempur bagi berbagai Angkatan Darat modern Tank Inggris -Mark I-, 26 September 1916 (tank bergerak dari kiri ke kanan). Photo by Ernest Brooks. – Wikipedia

Sejarah tank dimulai pada Perang Dunia I, ketika kendaraan tempur lapis baja segala medan pertama kali digunakan sebagai respon terhadap taktik perang parit, mengantarkan era baru perang mekanik.

Meskipun pada awalnya tidak dapat diandalkan, tank kemudian menjelma menjadi andalan pasukan angkatan darat. Pada Perang Dunia II, desain tank telah maju secara signifikan, dan tank yang digunakan dalam jumlah besar dalam berbagai theatre perang. Selama periode Perang Dingin terlihat munculnya doktrin tank modern dan munculnya tujuan umum Main Battle Tank (MBT). Tank masih menjadi tulang punggung untuk berbagai operasi pertempuran darat di abad ke-21.

Kekuatan tank masih dipandang sebagai simbol utama kemampuan tempur bagi berbagai Angkatan Darat modern. Pada tahun 2013, menurut globalfirepower.com, Russia masih merupakan negara dengan kekuatan tank terbesar dengan 15.500 unit, disusul oleh China dengan 9.150 unit dan Amerika Serikat dengan 8.325 unit.
MBT di Asia Tenggara Di wilayah Asia Tenggara, negara yang secara tradisional menjadi operator tank yang lebih berat dari 35 ton adalah negara-negara Asia Tenggara daratan seperti Vietnam, Thailand, Myanmar, Laos dan Kamboja. Sedangkan negara yang merupakan kepulauan seperti Philipina, Singapura, Malaysia dan Indonesia relatif baru (atau akan) memasukan MBT sebagai bagian dari kekuatan Angkatan Darat-nya.■ Vietnam Vietnam memiliki armada tank terbesar diantara negara Asia Tenggara dan merupakan pengguna lama dari seri T-54/55 era Soviet dan tank medium Type 59 China, dan beberapa unit diantaranya benar-benar merupakan tank veteran Perang Vietnam.

Dari sekitar 600-850 tank T-54/55 Vietnam, sekitar 310 diantaranya dimodernisasi dengan menggunakan teknologi Israel menjadi standar T-54/55M3 yang mencakup penggantiancanon 100mm Soviet dengan M68/L7 105mm, instalasi explosive reactive armor, peluncur granat asap, mesin baru 1.000 hp buatan Jerman, mortar 60mm dan teknologi meteo-sensor.

Ada laporan laporan rencana Vietnam membeli 150 unit T-72 MBT buatan Polandia, tetapi tidak terealisasi dan anggaran digunakan untuk membeli aset angkatan laut.
■ Laos Laos merupakan pengguna lama dari medium tank seri T-54/55 era Soviet. Negara ini memiliki sekitar 30 tank seri T-54/55 yang sebagian besar dimiliki  di  jaman perang Vietnam.■ Kamnboja Negara ini juga merupakan pengguna lama dari medium tank seri T-54/55 era Soviet, mengoperasikan sekitar 300 unit tank yang juga diperoleh selama era perang Vietnam.

Sejauh ini tidak diketahui ada programupgrade tank atau pembelian tank baru, kecuali berita transfer 50 unit bekas medium tank T-55 ke Kamboja dari Ukraina sewaktu terjadi ketegangan dengan Thailand dalam sengketa wilayah dan perebutan kuil.
■ Myanmar Myanmar adalah negara lainnya di wilayah Asia Tenggara mainland yang mempunyai kekuatan tank besar. Sebagian besar terdiri dari tank buatan Cina seperti T-59D yang dilaporkan berjumlah sekitar 150 unit yang telah digunakan selama beberapa dekade hingga sekarang.

MBT Type-69 dan Type-69-II dilaporkan berjumlah 130 unit yang telah beroperasi sejak tahun 1990, dan beberapa unit MBT-2000 Norinco buatan China yang didatangkan pada tahun 2011. Angkatan Darat Myanmar juga dilaporkan memiliki 139 unit tank T-72, beberapa diantaranya dibeli dari Ukraina pada tahun 2002-2003 meskipun jumlah pastinya tidak jelas akibat tidak adanya laporan akurat pengiriman.
■ Thailand Pemerintah Kerajaan Thailand mengoperasikan sekitar 100 unit medium tank M48 Patton buatan Amerika. Batch pertama diterima sejak tahun 1979, dan kemudian diperkuat oleh MBT M60A1 pada tahun 1991 dan M60A3 pada tahun 1996, jumlah total sekitar 170 unit tank. Semua tank tersebut merupakan tank eks US Army yang dijual ke Thailand melalui program FMS (Foreign Military Sales).

Kekuatan tank Angkatan Darat Thailand akan diperkuat oleh pembelian 49 unit MBT baru T-84 Oplot-M dari Ukraina senilai 7.155 miliar bath yang diumumkan tahun 2011. Thailand mempunyai opsi hingga 200 unit tank untuk menggantikan tank ringan M-41 Bulldog.

Ada kritik terhadap keputusan pemerintah memilih MBT Ukraina mengenai isu fitur auto-loader-nya, awak tank Angkatan Darat Thailand sendiri konon lebih menyukai tank buatan Korea Selatan.
■ Philipina Terakhir kali Philipina memiliki tank adalah sekitar akhir tahun 1940-an dengan dengan M4 Sherman eks US Army dan beberapa unit tank ringan M-41 Bulldogs yang diterima pada tahun 1965.

Max Montero dari maxdefense.blogspot.com menyampaikan informasi dari sumbernya yang mengatakan bahwa Philipina memang telah berencana memasukan kembali MBT menjadi bagian dari kekuatan Angkatan Darat mereka, hanya saja bukan merupakan prioritas utama jangka dekat dan baru akan dikejar dalam renstra ke dua atau ke tiga dari program modernisasi militer mereka.

Namun Angkatan Darat Philipina sedang berencana mendapatkan 114 unit M113A2 APC (armoured personnel carrier) eks US Army dan tracked APC dan IFV baru untuk menambah ACV-300 yang sebelumnya telah dibeli dari Turki.
Brunei Karena ukuran luas wilayah negara dan kebijaksanaan politiknya Brunei belum pernah mengoperasikan tank dan tidak terdengar adanya rencana mereka untuk membeli MBT ataupun medium tank.

Kondisi ini diproyeksikan akan tetap demikian hingga beberapa waktu ke depan.
■ Malaysia Federasi Malaysia mengoperasikan MBT pertama mereka dengan 48 unit PT-91M Twardy dari Polandia plus kendaraan pendukungnya (6 WZT-91M armored recovery vehicles, 5 MID-91M engineering tanks, 5 PMC-91M Leguan armored bridge layers, dan 1 SJ-09 driver training tank).

Unit pertama diterima pada tahun 2005 sebagai bagian dari kontrak senilai US$370 juta.

Tank tersebut di Malaysia secara lokal dijuluki sebagai ‘Pendekar’ dan dioperasikan oleh Resimen ke-11, Kor Armor DiRaja (Royal Armoured Corps).

Pembelian MBT antara Malaysia dan Polandia dilakukan melalui barter dengan CPO (minyak kelapa sawit) yang merupakan salah satu produk utama Malaysia.
■ SingapuraNegara pulau ini diyakini telah memiliki MBT Centurion buatan Inggris, khususnya 63 unit Mk.3 dan Mk.7 yang kabarnya diperoleh dari India pada tahun 1975 dan unit tambahan diperoleh dari Israel di awal tahun 1990-an. Konon semua ditingkatkan kemampuannya dengan teknologi Israel dan secara lokal kemudian dijuluki Tempest.

Tidak ada bukti kredibel mengenai keberadaan MBT tersebut dalam Angkatan Darat Singapura, tidak ada tersedia foto atau sumber terbuka yang kredibel untuk membuktikan keberadaanya kecuali melalui beberapa beberapa publikasi. Dan pemerintah Singapura juga mengambil sikap tidak menyangkal ataupun mengkonfirmasi keberadaan mereka.

Tapi saat ini desas desus tersebut sudah tidak relevan lagi mengingat bahwa kemudian secara terbuka Singapura membeli 66 unit MBT Leopard 2A4 eks Angkatan Darat Jerman ditambah beberapa tank cadangan, bersama dengan 10 unit ARV Bergepanzer 3 Buffel armored recovery vehicles pada sekitar tahun 2007-2008.

Sebagian besar tank di-upgrade ke standar Leopard 2SG dengan proteksi lapis baja modular canggih dari IBD Deisenroth Engineering dan ST Kinetics pada tahun 2010. Singapura dianggap negara yang paling punya kemampuan dalam hal kekuatan tank tempur di kawasan ASEAN, untuk saat ini.
■ Indonesia Indonesia belum pernah mengoperasikan MBT sebelumnya dan merupakan negara ASEAN paling akhir yang memutuskan memasukan MBT ke dalam kemampuan tempurnya. Walau pendatang baru, Indonesia bergabung dengan negara pengguna MBT lainnya di Asia Tenggara dengan pilihan gahar.

Kontrak dengan Jerman senilai US$280 juta mencakup 40 tank Leopard 2A4, 63 Leopard 2RI (upgrade/Revolution), 4 Buffel armored recovery vehicles, 3 Leguan armored bridge layers dan 3 Kodiak armored engineering vehicles, plus 50 Marder 1A2 infantry fighting vehicles.

Indonesia juga masih mengoperasikan sekitar 400 lebih tank ringan yang sebagian sudah mulai mendapat upgrade. Selain itu juga Indonesia berencana membangun tank medium dalam negeri lewat kerjasama internasional dengan berbagai negara.

 ★ JKGR  

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...