Sabtu, 31 Mei 2014

[Latgab 2014] Uji Coba Doktrin Baru TNI?

Berharap Latgab menjadi ajang deklarasi dan uji coba perubahan doktrin militer Latgab 2014, Uji Coba Doktrin Baru TNI?DI sela-sela kegaduhan dan pro-kontra calon presiden, bangsa ini tengah mengalihkan sedikit perhatian ke Situbondo. Di ujung timur Jawa Timur inilah TNI sedang mengonsentrasikan kekuatannya menjalani Latihan Gabungan (Latgab) 2014.

Latgab yang digelar di akhir fase Minimum Essential Force (MEF) I sekaligus pemerintahan SBY patut menjadi perhatian. Bukan sekadar untuk mengukur sejauh mana belanja militer mampu memenuhi kebutuhan mengamankan NKRI, tapi juga mengukur apakah perkembangan kekuatan alat utama sistem senjata (alutsista) sudah cukup membuat TNI percaya diri untuk mengubah doktrin dari defensif aktif dengan titik fokus pada skenario perang berlarut menjadi defensif-ofensif dengan konsentrasi pada containment dan penghancuran kekuatan lawan sebelum memasuki teritorial darat NKRI.

Sejauh ini susah dipahami bahwa TNI sudah mempunyai kemampuan melakukan tindakan ofensif. Hal ini karena persepsi tentang kekuatan tulang punggung pertahanan Indonesia tersebut belum beranjak dari era Orde Baru hingga era reformasi di mana TNI begitu nelangsa akibat embargo militer, terutama dari Amerika Serikat yang merupakan pemasok utama alutsista sejak dimulainya era pemerintahan Soeharto.

Sebaliknya, tidak banyak yang sadar melonjaknya perekonomian, hubungan baik dengan Rusia; bargaining position yang kuat di mata Amerika Serikat, China, dan Inggris; kerja sama erat antara Indonesia dan Jerman, Prancis, Korea Selatan; serta simbiosis mutualisme dengan negara sahabat seperti Brunei Darussalam telah menjadi daya dongkrak kekuatan alutsista TNI.

Pun konflik di Laut China Selatan serta gesekan dengan Australia dan Malaysia telah menjadi trigger perubahan yang bisa disebut revolusi alutsista. Dengan posisi di atas angin tersebut, tentu tidaklah sulit bagi TNI memiliki bukan hanya kapal selam U-209 yang selama ini dikenal sebagai Cakra-Nanggala, tapi juga kapal selam U-206, U-212, U-214, Kilo tipe 636 dan 877 K4b, Amur, bahkan Typhoon.

Juga bukan perkara sulit bagi TNI untuk mendatangkan Slava Class (heavy cruiser), Sovremenny Class (destroyer), Talwar Class (frigate), Stereguschyy Class (corvette), dan lainnya. Untuk matra udara, bukan mustahil TNI memiliki pesawat tempur sekelas Su-34 Fullback, Su-35SI Super Flanker, Dassault Rafale, dan Eurofighter Tornado, bahkan Tu-160 Blackjak. Pun tidak mengada-ada jika TNI memiliki S-300PMU2 / SA-20 Gargoyle atau HQ-16 SAM Systems sebagai payung udara.

Siapa pun sulit membayangkan kekuatan Indonesia tinggal selangkah melampaui kekuatan di era 1960-an. Apalagi bagi mereka yang mendewakan ”penampakan”. Padahal, domain militer lebih banyak misterinya. Tapi kalau jeli, pesannya sudah disampaikan Moeldoko tentang Sukhoi terbang di atas air dan alutsista yang semakin padat pada 2016.

Atau lebih jauh seperti disampaikan Menhan Poernomo Yusgiantoro bahwa militer Indonesia pada 2014 akan menjadi terkuat di kawasan dan pernyataan SBY –yang sebenarnya didapuk TNI sebagai panglima besar atas jasanya untuk TNI– tentang kesiapan Indonesia berperang. Tapi pihak skeptis sekaligus pesimis, tentu harus bertanya apakah Indonesia selamanya aman-aman saja, apakah tidak punya potential adversaries, apakah tidak pernah menjadi sasaran assymetric warfare dan proxy warfare.

Dengan posisi geopolitik yang demikian strategis, apakah Indonesia tidak layak menjadi primary target. Jika begitu adanya, apakah Indonesia tidak layak membangun deterrent effect. Dengan potensi yang datang dari delapan penjuru angin, tentu Indonesia harus membentuk komando gabungan wilayah pertahanan (kogabwilhan) dan itu harus dilengkapi beragam alutsista, termasuk produk dalam negeri.

Berdasarkan pemaham atas ancaman inilah kita berharap latgab menjadi ajang deklarasi dan uji coba perubahan doktrin militer. Tentu Indonesia mempertimbangkan keseimbangan kawasan hingga tidak perlu vulgar. Tapi paling tidak bisa memberi pesan: Jalmo moro, jalmo mati; dhemit moro, dhemit mati; dewa moro, dewa keplayu; dhemit ora ndulit, setan ora doyan.”(nfl)

  Sindo  

[World News] Hacker Iran Gunakan Facebook untuk Mata-matai AS

Mencoba berteman untuk mendapatkan informasi Hacker Iran Gunakan Facebook untuk Mata-matai ASTeheran ★ Sebuah perusahaan keamanan internet menyatakan pada Kamis (29/5/2014), para hacker Iran dengan sengaja membuat akun Facebook palsu dan mencoba untuk berteman dengan para pejabat AS dan Barat dalam upaya untuk memata-matai mereka.

Seperti dilansir Reuters, para hacker menciptakan beberapa akun palsu dan mengisi profil mereka dengan konten personal fiktif, kemudian mereka mencoba untuk berteman dengan para target.

“Beberapa pejabat yang menjadi target diyakini termasuk seorang laksamana Angkatan Laut AS, beberapa politisi, duta besar, dan pejabat dari beberapa negara lain termasuk Inggris dan Arab Saudi,” papar perusahaan internet, iSight Partners.

Namun, ISight menolak untuk mengidentifikasi korban dan mengatakan tidak bisa mempublikasikan data apa saja yang telah dicuri. "Jika itu (aksi mata-mata) sudah berlangsung begitu lama, jelas mereka telah sukses," ungkap Tiffany Jones, seorang eksekutif perusahaan.

Perusahaan itu mengatakan hacker Iran menciptakan enam persona online, yang tampaknya bekerja untuk sebuah website, newsonair.org, dan terdapat beberapa akun palsu lainnya yang diakui digunakan oleh sebuah kontraktor pertahanan.

“Operasi ini telah aktif setidaknya sejak 2011 dan merupakan kampanye spionase cyber yang paling rumit dengan menggunakan rekayasa sosial yang pernah ditemukan sampai saat ini,” papar ISight.(esn)

  Sindo  

Jumat, 30 Mei 2014

Mercusuar Malaysia Sudah Berwarna Merah Putih

Tiga tiang pancang mercusuar yang berdiri di kawasan perairan Tanjung Datuk, Kalimantan Barat, dicat merah putih.

Tiang pancang mercusuar dengan ketinggian 13 meter di atas permukaan air laut itu dibangun oleh Malaysia.

Sebanyak dua kapal perang milik TNI AL disiagakan di kawasan tersebut.

Tiang pancang mercusuar dicat merah putih di perairan Tanjung Datuk, Kalimantan Barat, Jumat (30/5/2014).
Kapal KRI 632 Lemadang di perairan Tanjung Datuk, Kalimantan Barat, Jumat (30/5/2014).
Kapal KRI 352 Slamet Riyadi di perairan Tanjung Datuk, Kalimantan Barat, Jumat (30/5/2014)
Batu yang dicat gambar bendera merah putih di kawasan perairan Tanjung Datuk, Kalimantan Barat, Jumat (30/5/2014).

  ★ Vivanews  

KRI Frans Kaisepo – 368 Melaksanakan MISCEX 805 Dengan HS Nikiforos

Untuk yang ke – 3 kalinya, KRI Frans Kaisiepo (FKO) – 368 yang tergabung dalam Maritime Task Force (MTF) UNIFIL 2014, melaksanakan Miscellaneous Exercise (Miscex) 805, Mail Bag Transfer.

Kali ini latihan dilaksanakan bersama kapal perang Yunani, HS Nikiforos di Area of Maritime Operations (AMO) Zona 1 Selatan Laut Mediterania. Lebanon, Rabu, (28/5/2014).

Miscex 805 secara teori merupakan latihan Replenishment at Sea (general) dengan tujuan untuk melatih kapal perang dalam melaksanakan bekal ulang di laut dari suatu kapal bantu, melatih personil dalam menyiapkan dan mengoperasikan peralatan pembekalan di laut, melatih para Perwira Pelaut dalam pengendalian kapal peralatan (ship handling), dan untuk menjadi bahan evaluasi dalam menilai kesiapan operasi pembekalan di laut bagi personil kapal penerima maupun kapal pemberi dalam hal transfer material.

Seperti latihan – latihan sebelumnya, pada Miscex 805 ini, secara bersamaan KRI FKO – 368 melaksanakan operasi penerbangan helly untuk melaksanakan Intelligence Surveillance Reconnaissance (ISR) dari udara sekaligus pengambilan dokumentasi latihan.

Dengan diawaki oleh Pilot Kapten Laut (P) Dani Widjanarka dan didampingi Co-Pilot Lettu Laut (P) Haryanto, GARUDA (Call Sign untuk BO-105 NV-409), melaksanakan pengamatan udara di jalur pembekalan untuk meyakinkan keadaan laut aman dari bahaya navigasi dan kapal umum lainnya.

Latihan berlangsung selama 1,5 jam. KRI FKO – 368 berperan sebagai kapal pemberi material dan HS Nikiforos sebagai kapal penerima material.

KRI FKO – 368 mempertahankan cepat dan haluan, sedangkan HS Nikiforos melakukan pendekatan dari buritan lambung kiri KRI FKO – 368 dengan kecepatan tinggi sampai dengan haluannya sejajar dengan kapal pemberi dengan jarak melintang kurang lebih 40 yards.

Dengan sigap para personil peran pembekalan di laut melaksanakan kegiatan sesuai tugas dan fungsinya. Pemberi isyarat baik marshailler maupun operator komunikasi mengirimkan signal gerakan tangan dan bendera sesuai prosedur yang berlaku dalam pelaksanaan pembekalan di laut.

Setelah masing – masing kapal selesai bergantian mengirimkan mail bag, HS Nikiforos segera melepas tali – tali yang digunakan untuk transfer, dan selanjutnya menambah kecepatan meninggalkan stasiun pembekalan menuju sektor patrolinya didahului penghormatan antar kapal.

Melalui jaring koordinasi anjungan masing – masing kapal mengucapkan terima kasih atas latihan yang dilaksanakan sehingga dapat terlaksana dengan baik, lancar, dan aman.

  ★ TNI AL  

[World News] Iran's first Caspian sub will be active in 2015

The Fateh-class submarine launched at Bostanu was seen briefly in an Iranian television montage about the country's military achievements in February. Source: IRIB

A submarine Iran is building at Bandar Anzali on the Caspian Sea will be operational in 2015, according to military sources cited by the Azerbaijan Press Agency (APA).

In November 2013, IHS Jane's published satellite imagery that revealed the submarine was being constructed at Bandar Anzali and that a second, similarly sized boat had already been launched at the Bostanu shipyard on the Strait of Hormuz.

Iranian officials have said a new class of 500-tonne submarines called the Fateh is under construction. Although the launch of the first-of-class has not been officially announced, in February Iranian television broadcast footage of it being launched at Bostanu.

The one at Bandar Anzali will represent a significant new threat as it will be the first naval submarine to ever operate in the Caspian.

The APA reported that it is 50 m long, was being built by a Chinese company, and would be operated by the Islamic Revolution Guards Corps (IRGC) rather than the Islamic Republic of Iran Navy (IRIN).

The boat cannot be seen in more recent satellite imagery taken on 9 May by Airbus Defence and Space, presumably because it has been moved into a construction shed.

  ★ Jane's  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...