Kebangkitan Teknologi Nasional 2014
PKR 10514 (Kaskus)
Jakarta ★ Tonggak sejarah peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional, bermula dari kesusksesan dan keberhasilan diproduksinya Kapal Patroli Cepat (Fast Patrol Boat) 57 Meter pada Tahun 1995, yang dirintis Menteri Negara Riset dan Teknologi kala itu, BJ Habibie. Setelah 19 tahun sejak diperingatinya Hakteknas, terus bermunculan karya-karya teknologi buatan bangsa Indonesia.
PT PAL Indonesia (Persero), sebagai salah satu Industri Negara turut andil dalam 19 tahun Kebangkitan Teknologi Nasional, di Auditorium Gedung II BPPT Jakarta, Senin (11/08). Acara yang berlangsung mulai 09 Agustus ini secara resmi dibuka oleh Wakil Presiden Republik Indonesia Boediono. Mengangkat Tema “Inovasi Pangan, Energi dan Air untuk Daya Saing Bangsa” juga turut dihadiri Presiden Ketiga RI BJ Habibie, Menteri Riset dan Teknologi, Gusti Muhammad Hatta, Para menteri kabinet Indonesia bersatu II, Anggota Dewan, Kepala Daerah dan Tokoh IPTEK lainnya.
RITECH Expo 2014 diselenggarakan pada tanggal 9-12 Agustus 2014 dengan membuka 78 stand terdiri dari komunitas iptek, lembaga penelitian pemerintah, BUMN, Swasta, umum, juga perguruan tinggi yang menampilkan berbagai hasil riset dalam negeri yang membanggakan. Dengan tujuan bukan hanya sekedar memberikan informasi perkembangan inovasi Iptek karya anak bangsa, tapi juga diharapkan dapat mendorong pemanfaatan hasil inovasi sebagai solusi pemecahan, yang selanjutnya dapat meningkatkan daya saing bangsa Indonesia di antara bangsa bangsa maju lainnya.
Sebagai bagian dari inovasi bangsa yang terus berkembang dan sebagai sumber Inspirasi Nasional PT PAL Indonesia (Persero) memberikan sumbangsih sebuah karya nyata atas teknologi pembangunan kapal perang, yang masuk dalam 19 karya unggulan Teknologi Anak Bangsa, sebagai persembahan untuk memperingati 19 tahun kebangkitan Teknologi Indonesia.
PT PAL Indonesia (Persero) juga menampilkan beberapa produk unggulan sejalan dengan hasil yang dicapai, berupa prototype berbagai jenis produk kapal perang yang telah dibangun dan innovasi teknologi yang akan dikembangkan dan menggambarkan kemampuan perusahaan dalam alih teknologi yaitu mulai dari tipe : Fast Patrol Boat 57 Meter, Kapal Cepat Rudal 60 mater (KCR-60), Landing Platform Dock 125 meter (LPD-125), SSV 120 Meter, sebagai pengembangannya, dan Submarine DSME 209, serta kemampuan Harkan berbagai jenis kapal sampai 50.000 DWT. Beberapa produk kapal seperti Kapal Tanker yang dihasilkan didukung oleh penggunaan mesin las otomatis (Weldcare) ini serta innovasi pembangunan Kapal Perusak Kawal Rudal (PKR-105) dengan system modul.
Hakteknas 2014
Jakarta ★ PT Pindad (Persero) berpartisipasi dalam pameran Riset, Inovasi, dan Teknologi RITECH Expo 2014. Pameran yang menjadi bagian dari rangkaian kegiatan perayaan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) yang ke-19, diselenggarakan pada tanggal 9-12 Agustus 2014 di Gedung II Badan Pengkajian dan Pengaplikasian Teknologi (BPPT), Jakarta Pusat. Pameran ini dibuka untuk umum oleh Menteri Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta pada tanggal 9 Agustus 2014 dan pada Acara Puncak Perayaan Hakteknas, Wakil Presiden Republik Indonesia Boediono turut menghadiri acara ini.
Pada puncak peringatan Hakteknas, Wakil Presiden Budiono berpesan bahwa komponen penggerak IPTEK adalah sinergi yang baik dari semua lini baik pemerintah maupun masyarakat dengan memanfaatkan sumberdaya manusia dan alam yang luar biasa di Indonesia. Pada acara puncak ini, diserahkan pula Buku “19 Karya Unggulan Teknologi Anak Bangsa” serta dokumen hasil Musyawarah Perencanaan Nasional (Musrenas) Iptek kepada Wakil Presiden RI. Selain itu, ditandatangani pula beberapa Nota Kesepahaman terkait bidang penelitian Pangan, Energi, dan Air yang dilakukan antara pihak pemerintah, perguruan tinggi, dan industri. Penandatanganan ini merupakan upaya mensinergikan kemampuan riset dalam negeri untuk dapat memenuhi kebutuhan nasional.
Selain itu, pada acara tersebut diberikan penghargaan kepada pemerintah daerah, lembaga, dan masyarakat yang berkontribusi terhadap perkembangan riset, iptek, dan inovasi di tanah air, lewat penghargaan Budhipura, Prayogasala, Labdhakretya dan penghargaan duta Iptek dan Tokoh Iptek lewat penghargaan Widyasilpawijana dan Widyamaheswara, serta “19 Karya Unggulan Teknologi Anak Bangsa”. Salah satu tim dari PT Pindad (Persero) yang diketuai oleh Andri Setiyoso dari Departemen Mesin Listrik, Divisi Mesin Industri dan Jasa berhasil masuk ke dalam “19 Karya Unggulan Teknologi Anak Bangsa” lewat inovasi teknologi yang menghasilkan produk Motor Traksi 170 kW. Penghargaan ini diberikan langsung oleh Menteri Ristek dan Teknologi, Gusti Muhammad Hatta.
Sebagai bagian dari perayaan Hakteknas ke-19, PT Pindad (Persero) berpartisipasi dalam pameran RITECH Expo 2014 dengan menampilkan beberapa produk andalannya seperti Senapan SS2-V1, SS2-V4 HB, SS2-V5 customized dan silencer, SS1 Marinized; Pistol G2 Combat dan Elite, PM2-V2 beserta silencer; Sniper SPR-2; Silent Mortir SM-50 + munisi; Maket Panser tipe Canon dan Recovery; Munisi Disruptor dan Maket Munisi berbagai kaliber; Maket Motor Traksi 180 KW; Alat Semai Awan CoSAT 1000; Alat hitung mortar Brahmastra; dan Roket Pertahanan R-Han 122.
Rangkaian kegiatan peringatan Hakteknas ke-19 dimulai sejak bulan Februari 2014 dan akan berlangsung hingga Desember 2014 melalui beberapa rangkaian kegiatan Asian Technology Week, Sail Raja Ampat, beberapa Seminar Nasional dan Internasional, Kompetisi Roket Air dan Kompetisi Robot Nasiolnal, General Lectures, serta Forum Riset Vaksin Nasional.(Anggia)
Elang Malindo XXV
Pada hari ini Kamis (14/08) telah dilaksanakan upacara pembukaan Latma Elang Malindo XXV Tahun 2014 di Pangkalan Udara Kuantan Malaysia, pada upacara ini sebagai Irup Pangops TUDM Udara Lt jen Dato’ Sri Ackbal Bin Hj Abdul Samad didampingi oleh Asops Kasau Marsda Sudipo Handoyo. Adapun rangkaian upacara diikuti oleh perwakilan TNI AU dan TUDM serta dihadiri oleh Kadispamsanau, Kadispotdirga, Wadankorpaskhas, dan Danlanud Ats.
Pada upacara pembukaan tersebut Pangops TUDM dan Asops Kasau melaksanakan pemeriksaan pasukan dilanjutkan dengan membacakan sambutan dimana Pangops TUDM terlebih dahulu membacakan sambutan, setelah itu Asops Kasau membacakan sambutan Kasau. Selesai membacakan sambutan masing-masing pejabat menyematkan badge Dirlat dan Wadirlat, dilanjutkan penekanan remote control peledakan TNT sebagai tanda di bukanya latma secara resmi.
Pada upacara pembukaan kedua pejabat menyampaikan tentang Kegiatan Latma Elang Malindo XXV Tahun 2014 mempunyai nilai yang sangat strategis bagi TNI AU dan TUDM sebagai sarana dalam menjalin kerja sama dan meningkatkan kualitas personel serta memantapkan koordinasi dalam pelaksanaan operasi udara antara kedua Angkatan Udara.
Kita telah melaksanakan latihan bersama sebanyak 24 kali, oleh karena itu berbekal pengalaman tersebut, pada latihan Elang Malindo ke XXV ini saya berharap didapatkan hasil yang lebih baik. Peningkatan kemampuan personel dan mantapnya hubungan persahabatan, serta kerjasama yang selama ini telah terjalin, akan menjadi lebih memperkokoh saling pengertian dan rasa saling percaya antara TNI AU dan TUDM.
Sebagai Negara tetangga, kita tidak akan terlepas dengan kepentingan untuk selalu berhubungan satu dengan lainnya dalam menciptakan rasa aman dan tentram untuk kepentingan bersama. Marilah kita ciptakan untuk hidup bersama dan saling mengisi demi terciptanya keamanan di kawasan Asia Tenggara pada umumnya dan di kawasan kedua negara pada khususnya.
Selesai upacara pembukaan Irup bersama tamu undangan melaksanakan refreshment di Ruang VIP PU Kuantan dilanjutkan penyerahan cindera mata. Sebelum kembali ke Jakarta rombongan memeriksa kesiapan Posko Latma baik Posko Kodal maupun kesiapan pelaku.
Ada yang menarik ketika kita menyaksikan detik-detik proklamasi tanggal 17 Agustus 2014 pagi nanti, sebuah ulang tahun yang mencapai bilangan 69. Ulang tahun terakhir yang dipimpin Presiden SBY di Istana Merdeka Jakarta akan dimeriahkan oleh gemuruh 32 jet tempur berbagai jenis yang dimiliki TNI AU. Jadi tidak hanya mendengar teks proklamasi dibacakan, atau melihat Paskibraka mengibarkan bendera, tapi lebih menggema dengan gemuruh jet tempur yang menderu dari belakang podium.
Kewibawaan dan nilai acara proklamasi dua tahun terakhir ini menjadi semakin berharkat dengan bertambahnya materi acara yaitu terbang lintas jet-jet tempur tentara langit sebagai bagian dari ungkapan dan show of force gengsi bernegara dan eksistensi berbangsa. Dan tahun ini tampilan 32 jet tempur yang sudah berseliweran di langit Jakarta selama beberapa hari ini memberikan kebanggaan bagi warga Ibukota, jantungnya Republik Indonesia. Mereka memberikan apresiasi dan kebanggaan sambil mendongak keatas meski setelah itu mereka kembali menemukan menu keseharian ibukota, sibuk dan macet.
Peringatan ini tidaklah sekedar membacakan teks proklamasi, tetapi ingin menyampaikan sebuah pesan kepada segenap warga bangsa khususnya generasi muda bahwa inilah republikmu yang telah diperjuangkan dengan dentuman dan percikan. Nilai-nilai kejuangan ini, setelah pengumuman kemerdekaan itu, selama 5 tahun kemudian menjadi palagan medan tempur yang membara, mengharu biru, bahu membahu. Inilah salah satu kekuatan cikal bakal nasionalisme patriotik yang dimiliki warga bangsa sampai di batas perjalanan ini.
Yang membedakan bangsa kita dengan bangsa lain di sekitar kita adalah model kemerdekaan yang kita perjuangkan. Sengaja kita pakai kata perjuangkan karena semua negara di sekitar kita kemerdekaannya tidak diperjuangkan melainkan diperoleh. Tanggal 17 Agustus 1945 jam 10.00 wib ketika proklamasi dikumandangkan, dari situlah awal heroiknya perjuangan mempertahankan kemerdekaan dalam perang lima tahun yang meletihkan itu. Dan memang pihak lawan yang letih sendiri yang akhirnya mengakui kedaulatan RI akhir tahun 1949.
Enam puluh sembilan tahun setelah itu, inilah wajah republik dengan segala prestasi dan persoalannya. Prestasinya adalah tumbuh sebagai kekuatan ekonomi nomor 10 dunia, ekonomi nomor satu di ASEAN, pendapatan per kapita mencapai US$ 3.900, masuk golongan negara berpenghasilan menengah. Investasi industri tumbuh subur, adanya asuransi model BPJS, munculnya kekuatan kelas menengah yang cerdas dan kritis, proses demokratisasinya diacungi dunia meski sebagian elit politiknya masih berjiwa kerdil.
Disamping prestasi itu tentu masih banyak persoalan yang melingkarinya. Virus korupsi yang masih melenggang meski sudah ada anti virusnya KPK, kepastian hukum yang belum berpihak ke rakyat papa, model pelayanan publik yang belum memuaskan, infrastruktur yang masih amburadul, semangat primordial yang berlebihan dan masih terjerat model subsidi energi yang melewati batas-batas kepatutan.
Harus diakui banyak hal yang sudah dicapai dalam sepuluh tahun jalannya demokrasi langsung one man one vote untuk memilih Presiden. Kekuatan daya beli yang bernama APBN menjadi pemicu utama geliat perekonomian disamping investasi, menjadi berlipat ganda sampai akhirnya mampu menembus 10 besar ekonomi dunia. Sayangnya kemampuan sehebat itu belum diimbangi dengan kemampuan membangun infrastruktur jalan raya, pelabuhan, bandara, angkutan laut. Lebih banyak terserap untuk belanja pegawai dan barang konsumtif lainnya.
Bagi kalangan militer keberhasilan pemerintah selama 5 tahun terakhir ini dengan menggelontorkan dana alutsista sebesar US$ 15 milyar tentu memberikan angin segar untuk perkuatan alutsista negeri. Ketika sang Presiden sedang menuju titik finish pemerintahannya, berbagai jenis alutsista itu mulai berdatangan. Hari ini datang jet tempur, besok datang kapal perang, besoknya lagi MBT, besoknya lagi peluru kendali berbagai jenis, besoknya lagi pesawat angkut, besoknya lagi radar militer, besoknya lagi helikopter. Luar biasa, makanya kita berani menyebut bahwa pemerintahan SBY mampu melakukan belanja alutsista terbesar sejak jaman dwikora.
Itulah sebabnya sebagai bentuk terimakasih, hulubalang republik yang diwakili tentara langit TNI AU sengaja mengerahkan 32 jet tempur dari 5 skuadron tempur untuk memberikan apresiasi kepada panglima tertinggi atas prestasinya menggagahkan pengawal republik yang pada akhirnya mampu membanggakan dan mewibawakan kedaulatan NKRI. Bahkan pada upacara puncak hari ulang tahun TNI tanggal 5 Oktober mendatang akan digelar kekuatan alutsista terbesar sepanjang sejarah Republik Indonesia. Sengaja acara itu dilaksanakan di pangkalan utama TNI AL Surabaya agar seluruh matra TNI dapat menampilkan dan memamerkan alutsista yang dimiliki kepada sang Presiden.
Sembari mengucapkan dirgahayu Republik Indonesia, sangat pantas pula kita menyampaikan terimakasih kepada Presiden RI selaku panglima tertinggi yang telah memberikan air mata kebanggaan kepada hulubalang republik. Makna sesungguhnya mengisi kemerdekaan adalah meningkatkan kesejahteraan warga bangsa, kesadaran terhadap nilai-nilai kebangsaan dan membangun kekuatan militer sebagai pelindung dan kehormatan berbangsa dan bernegara. Mestinya politisi-politisi kerdil itu mampu memahami nilai-nilai kejuangan itu.
****
Jagvane / 15 Agustus 2014
★ analisis alutsista
Indonesian aircraft company PTDI is talking to Asian customers about maritime CN235 versions, after signing a strategic collaboration agreement with Airbus D & S in 2011. (Photo: Alan Warnes)
PT Dirgantara Indonesia (PTDI) has stepped up its marketing of maritime versions of the CN235 and is completing assembly of its first C295. The moves result from the strategic collaboration agreement that PTDI signed with Airbus Defense & Space in 2011. That deal also transferred production of the smaller C212 transport to PTDI’s facility in Bandung.
Arie Wibotwo, PTDI’s vice president of marketing, told AIN that PTDI is bidding for several maritime patrol requirements in the region. “We have been selected by the Philippines government to supply two CN235 ASWs. A contract is expected to be signed this summer with delivery taking place 26 months afterwards” he said. Working with PTDI as a mission systems supplier will be Raytheon Systems, the first time a U.S. company has gone into partnership with the Indonesians.
Several other CN 235 MPA/ASW proposals are on the table “but the mission systems will be flexible, completely the choice of the customer,” Arie added. “Malaysia prefers Thales, Vietnam wants the Airbus D&S Fully Integrated Tactical Systems (FITS) or a Swedish SSC system, while Thailand and Brunei seem fairly relaxed over the systems they want.” This means that PTDI could find itself working with several different systems integrators from Europe and the U.S. if these countries opt for the CN235. In the past PTDI has even worked with Israel’s Elta, on the Korean Coast Guard deal for four CN 235-220MPAs in 2011-12.
Having recently delivered a CN235 to Thailand’s parapublic KASET organization, with options on another two, PTDI feels it is well positioned to provide the Royal Thai Navy with a solution for its ASW/MPA requirement for up to four aircraft.
Domestically, PTDI will shortly deliver a second CN235 MPA to the Indonesian Navy as part of MARPAT (MARitime PATrol) 1 program. These aircraft are equipped with the Thales AMASCOS system on board and include the FLIR Systems Star Safire sensor turret. “Another two CN235MPAs are contracted by the Navy as part of MARPAT 2 but the radar system will come from Telephonics,” Wibotwo revealed.
Meanwhile, PTDI is assembling the first of two C295s for the Indonesian air force.
Airbus D&S previously delivered seven from its production line at Seville, Spain. The two being assembled at Bandung complete the order.