Australia mengusik dua wartawan Prancis yang ditahan di Papua Barat atas tuduhan jadi mata-mata. | (Istimewa)
Pemerintah Australia telah mempertaruhkan diri dalam risiko yang menghina Indonesia, setelah menyinggung persoalan di Papua Barat. Hal itu terkait dua wartawan Prancis yang ditahan di Papua Barat karena dituduh bekerja untuk separatis.
Kelompok senat pada Rabu mendapat dukungan eksplisit dari Kantor Menteri Luar Negeri Australia, Julie Bishop, yang mengusik kebebasan pers di Papua Barat yang mereka sebut telah dibatasi ketat oleh pemerintah Indonesia.
Kelompok senat itu merasa prihatin dengan dua wartawan Prancis yang ditahan atas tuduhan menjadi meta-mata untuk separatis. Kelompok senat tersebut menyerukan pembebasan dua wartawan Prancis tersebut.
Media Australia, Sidney Morning Herald, pada Kamis (2/10/2014), menulis, bahwa dukungan pemerintah Australia pada kelompok senat itu tidak biasa dan sensitive dengan urusan luar negeri. Dukungan itu dianggap tidak tepat, karena subjek yang disinggung adalah Papua Barat, wilayah resmi Indonesia.
Senator Partai Hijau Richard Di Natale, yang mengaku telah kontak dengan pihak kantor Julie Bishop, bahwa pemerintah Australia akan mendukung gerakan yang dilakukan senat itu.
”Ini jelas telah dipertimbangkan secara rinci oleh kantor menteri luar negeri, dan saya benar-benar didorong untuk menerima komunikasi dari mereka,” kata Senator Di Natale kepada Fairfax Media.
”Ini dalam konteks bahwa saya hanya bisa menafsirkan dukungan ini sebagai isyarat bahwa pemerintah secara aktif mengirimkan sinyal yang sangat jelas kepada pemerintah Indonesia,” katanya lagi.
Menurutnya, ada pergeseran sangat disengaja dalam kebijakan pemerintah Perdana Menteri Tony Abbott.”Tampaknya pergeseran yang sangat disengaja,” ujarnya.
Masalah Papua Barat pernah menjadi masalah yang memicu ketegangan antara Indonesia dan Australia. Pada tahun 2006, pemerintah Australia yang dipimpin John Howard menerima 42 pengungsi asal Papua Barat. Akibatnya, Indonesia menarik duta besarnya selama beberapa bulan.(mas)
Eurofighter Typhoon
Angkatan Udara Kerajaan Inggris (RAF) telah mendeteksi cacat produksi pada pesawat tempur Eurofighter Typhoon, yang menyebabkan Jerman menghentikan pembelian pesawat ini hingga masalah diselesaikan. Berita ini menjadi pukulan berat bagi Eurofighter setelah sebelumnya didera masalah harga.
Kecacatan produksi ditemukan pada sejumlah lubang bor baut pada bagian belakang pesawat, yang mana perusahaan terbesar di Eropa BAE Systems yang bertanggung jawab dalam pengerjaan komponen ini. Tepi lubang bor tidak dirapikan atau dihaluskan sesuai dengan proses produksi standar.
Meskipun belum jelas apakah cacat produksi ini akan berdampak pada umur, fungsi atau dapat membahayakan pilot, namun laman Spiegel Online melaporkan bahwa dalam kasus terburuk, kecacatan ini dapat menyebabkan lambung pesawat menjadi tidak stabil. Sebagai dampaknya, Jerman menolak mengakuisisi Typhoon baru, termasuk 6 unit pada tahun ini.
Terkait masalah ini, baik Angkatan Udara Inggris dan Jerman juga telah menurunkan jam terbang yang direkomendasikan untuk Typhoon, yaitu dari 3.000 jam menjadi 1.500 jam per tahun dengan harapan meminimalisir overstres pada Typhoon.
Menurut seorang juru bicara Eurofighter, masalah ini sebenarnya telah teridentifikasi sejak awal tahun lalu. Yang mana ditemukan saat pengecekan dalam program untuk meningkatkan kualitas pada komponen utama produksi Typhoon.
Produksi Typhoon dijalankan oleh Eurofighter Jagdflugzeug GmbH, sebuah perusahaan patungan yang berbasis di Jerman yang juga dimiliki oleh BAE Systems, Airbus, dan perusahaan Italia Alenia Aermacchi. Lebih dari 10.000 karyawan dari 400 perusahaan subkontrak di seluruh Eropa dilibatkan dalam setiap produksi Typhoon.
Alberto Gutierrez, CEO Eurofighter GmbH mengatakan pada 2 Oktober bahwa perusahaannya sadar dan aktif menangani masalah kualitas baru-baru ini yang ditemukan pada bagian belakang badan pesawat Typhoon.
"Kami ingin memperjelas masalah, bahwa tidak akan mempengaruhi keselamatan penerbangan, juga tidak berdampak pada armada Typhoon yang saat ini sedang menjalankan operasi," ujar Gutierrez.
Typhoon digambarkan oleh Angkatan Udara Inggris sebagai pesawat tempur multiperan yang sangat lincah. Sebagai produksi bersama, pesawat ini digunakan oleh beberapa negara Eropa yaitu Inggris, Jerman, Italia, dan Spanyol. Baik Jerman dan Inggris telah menempatkan pesanan awal masing-masing 250 unit, dan hingga kini keduanya telah memiliki lebih dari 100 Typhoon di angkatan udaranya. Kemudian Austria, Arab Saudi, dan Oman juga tertarik dan selanjutnya memesan pesawat ini.
Pihak BAE Systems mengatakan bahwa pihaknya akan terus mengirimkan pesawat sesuai dengan kontrak dan jadwal pengiriman yang ditentukan oleh Angkatan Udara Inggris dan Angkatan Udara Arab Saudi. Kementerian Pertahanan Inggris sendiri telah menyatakan bahwa mereka akan terus menerima pesawat dan mengatakan bahwa masalah cacat produksi tersebut tidak berdampak pada pengoperasian Typhoon.
Menurut seorang juru bicara Eurofighter, pengiriman ke Typhoon ke Spanyol yang tertahan saat ini tidak terkait dengan masalah ini namun terkait masalah komersial. Dalam waktu dekat dialog akan dilakukan lagi untuk memungkinkan pengiriman kembali. Sedangkan pihak Italia, melalui juru bicara pengadaan Kementerian Pertahanan, menyatakan bahwa pesawat-pesawat mereka dalam kondisi yang aman. Pengurangan jam terbang hanya masalah biasa, dan pihak Eurofighter akan menyiapkan solusinya, menurut juru bicara tersebut.
Di lain tempat, di Austria, Peter Pilz, seorang anggota parlemen dari Partai Hijau (Green Party) telah meminta pemerintahnya membatalkan kontrak pembelian Typhoon, dilansir laman The Local. Ia sangat marah karena Austria mengetahui cacat produksi tersebut hanya dari pemberitaan pers, bukan dari perusahaan langsung. Padahal Austria saat ini sudah mengoperasikan 15 Typhoon.
Pesawat Siluman China
Angkatan Udara dan pasukan udara Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA) berkeinginan untuk membeli 700 pesawat tempur siluman baru, menurut Edward Hunt, seorang konsultan pertahanan senior di IHS Aerospace, Defense & Security dalam sebuah artikel yang ditulisnya untuk mingguan pertahanan Jane yang berbasis di Inggris.
Amerika Serikat sendiri akan membeli 2.616 pesawat tempur generasi kelima siluman, termasuk F-22 Raptor dan F-35 JSF yang dirancang dan diproduksi oleh Lockheed Martin, menurut artikel tersebut. Negara-negara anggota NATO lainnya, seperti Inggris, Belanda, Denmark, Italia, Turki dan Kanada berencana untuk membeli total 600 pesawat tempur F-35. Sedangkan untuk wilayah Pasifik, Jepang dan Korea Selatan dan Australia akan membeli total 300 F-35.
Rusia, China dan India diperkirakan akan mendapatkan lebih dari 1.500 pesawat tempur generasi kelima siluman untuk melawan Amerika Serikat. Pesawat-pesawat tempur siluman ini ditujukan untuk menggantikan pesawat tempur tua generasi keempat dari ketiga negara tersebut, seperti Su-27, Su-30 dan MiG-29. Untuk mengatasi ancaman potensial F-35 dari pasukan AS dan sekutunya di Timur Jauh, China kemungkinan akan membeli hingga 300 unit pesawat tempur siluman J-20 dari Chengdu Aerospace Corporation dan 400 unit J-31 dari Shenyang Aircraft Corporation.
Dengan memiliki 700 pesawat tempur siluman, China diperkirakan akan mampu mengatasi pesawat tempur F-35 Jepang dan Korea Selatan dalam konflik terkait sengketa Laut China Timur. Sementara itu China mungkin juga akan berhadapan dengan F-35 Australia di Pasifik Selatan.
Pada tahun 2030 nanti, pesawat tempur siluman akan menjadi pesawat tempur standar pasukan udara dunia. Pada saat itu, Jepang kemungkinan sudah memiliki armada Mitsubishi ATD-X untuk potensi pertempuran udara melawan China dalam sengketa Pulau Diaoyu atau Senkaku.
Operasi Melawan ISIS
Marinir AS yang ikut misi mengganyang ISIS hilang di Laut Teluk saat keluar dari pesawat MV-22 Osprey. | (Shutterstock)
Seorang Marinir Amerika Serikat (AS) yang ikut misi mengganyang kelompok ISIS di Irak dan Suriah dilaporkan hilang di Laut Teluk.
Hilangnya marinir AS itu menandai kemungkinan jatuhnya korban pertama dari pihak AS selama berperang dengan kelompok ISIS atau Negara Islam Irak dan Suriah.
Marinir AS itu semula keluar dari pesawat MV-22 Osprey. Saat pesawat itu mengalami kecelakaan/gangguan setelah lepas landas dari pangkalan Makin Island, kawasan Teluk. Namun, Pilot Osprey berhasil mengendalikan pesawat dan mendarat dengan aman di Makin Island, tetapi salah satu kru pesawat hilang.
”Angkatan Laut AS, dan para personel Korps Marinir telah melakukan pencarian ke semua area dengan menggunakan semua aset yang ada. Pencarian dilakukan sepanjang malam,” bunyi pernyataan Angkatan Laut AS, seperti dikutip AP, Jumat (3/10/2014).
Angkatan Laut AS tidak merinci identitas marinir yang hilang sampai pada waktunya untuk memberitahukan kepada keluarga marinir itu terkait insiden yang terjadi. Angkatan Laut dan Korps Marinir kini sedang menyelidiki insiden tersebut.(mas)
KCR 60 bersama KRI (madokafc)
Peringatan ke 69 Hari TNI tahun 2014 sebentar lagi akan digelar di Koarmatim. Geladi upacara parade dan defile termasuk demo gabungan dari tiga angkatan beberapa kali telah dilakukan. Pada hari ini, Kamis (2/10), juga dilaksanakan geladi serupa, salah satu nya demo matra laut yang nantinya menyemarakkan peringatan HUT TNI yang berlangsung di Dermaga Koarmatim Ujung Surabaya. Kegiatan latihan ini ditinjau Panglima TNI Jenderal TNI DR. Moeldoko, Kasum TNI Laksamana Madya TNI Ade Supandi, S.E ke tiga Kepala Staf Angkatan dan pejabat teras TNI lainnya.
Pada peringatan ke 69 HUT TNI tahun 2014, akan ada sekitar 18 ribu personel yang mengikuti perayaan HUT TNI tersebut. Baik yang upacara maupun yang ikut demonstrasi. Dalam upacara tersebut akan ditampilkan semua Alutsista ketiga matra hasil pembangunan kekuatan TNI selama dua periode masa jabatan Presiden RI, Bapak Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono dari tahun 2004 s.d. 2014.
Demo laut dalam rangka memperingati HUT TNI nanti, TNI AL mengeluarkan seluruh kekuatan Alutsistanya, dengan berbagai jenis kapal perang, seperti Divisi Kapal Selam, Kapal Perusak Kawal Rudal (PKR) jenis Korvet, Fregate, Van Speijk, Ship Integrated Geometrical Modularity Approach (Sigma) dan Parchim. Termasuk Kapal Cepat Rudal (KCR) dan Kapal Cepat Torpedo (KCT), Buru Ranjau (BR) dan Penyapu Ranjau (PR), kapal Patroli Cepat (Fast Patrol Boat) dan kapal bantu melaksanakan manuver Sailing Pass, disusul formasi Pesawat Udara (Pesud) TNI AL.
Dalam demo laut tersebut, kekuatan Alutsista TNI AL akan melakukan beberapa rangkaian kegiatan. Diantaranya, melaksanakan bantuan tembakan kapal (BTK) dan menembak AKS (Anti Kapal Selam). Juga melakukan RDO (Rubber Duck Operation) dan statik laut. Demo laut lainnya yang ditampilkan, yaitu pembebasan sandera di kapal dengan melakukan RDO, infiltrasi dengan free fall. Termasuk melaksanakan Stabo serta Ship Boarding, dengan menggunakan Sea Reader, perahu karet dan Fast Rope.
Berbagai Alutsista yang terlibat antara lain, kurang lebih 239 pesawat udara, 42 KRI termasuk kapal perang terbaru milik TNI AL dari jenis Multi Role Light Frigate (MRLF) dari Inggris yaitu KRI Bung Tomo-357; KRI John Lie-358; dan KRI Usman Harun-359. Kurang lebih 149 Ranpur dalam berbagai jenis dan peralatan tempur yang lain. Upacara tersebut juga akan dihadiri oleh seluruh Menteri Kabinet Indonesia Bersatu, Menteri Pertahanan dan Panglima Angkatan Bersenjata Negara sahabat.