Kantor CIA juga memamerkan karya teknologinya berupa kendaraan mata-mata tak berawak yaitu Micro Unmanned Aerial Vehicle (UAV) yang dibuat pada tahun 1970. dailymail.co.uk♙
Badan intelijen Swedia (Säkerhetspolisen atau SAPO) menilai Rusia meningkatkan operasi intelijennya di negara Skandinavia ini. SAPO menyebut Rusia menggunakan sepertiga dari staf diplomatiknya di Stockholm untuk pengumpulan intelijen secara klandestin.
Kepala analis SAPO Wilhelm Unge menggambarkan mata-mata Rusia "berpendidikan tinggi, kebanyakan lebih muda daripada di era Soviet. Mereka didorong dan berorientasi pada tujuan dan kompeten secara sosial."
SAPO, dalam laporan tahunannya, menyebut Rusia sebagai "ancaman intelijen terbesar melawan Swedia, diikuti oleh Iran dan Cina." Tahun lalu badan ini mengaku berhasil menghentikan beberapa upaya Rusia untuk mendapatkan teknologi Swedia untuk tujuan militer.
Kedutaan Rusia belum memberi komentar atas berita ini.
SAPO memperingatkan tahun lalu bahwa Rusia telah meningkatkan spionase politik, ekonomi dan militer di Swedia di tengah memburuknya hubungan mereka dengan Barat atas krisis Ukraina. Swedia bukan anggota NATO, tetapi bekerja sama erat dengan pakta pertahanan itu.
"Ada ratusan perwira intelijen Rusia di Eropa dan Barat. Mereka melakukan pelanggaran terhadap wilayah kita setiap hari," kata Unge kepada wartawan di markas SAPO di Solna, di luar Stockholm, pada peluncuran laporan tahunan badan itu, Rabu, 18 Maret 2015.
"Yang penting dicatat adalah bahwa sekitar sepertiga dari personel diplomatik Rusia pada kenyataannya bukan diplomat, tetapi petugas intelijen," kata Unge.
Lalu mengapa SAPO tidak meminta mereka, para mata-mata yang menyamar sebagai delegasi Rusia itu, keluar dari Swedia? "Kami tidak berhak memutuskan siapa yang harus atau tidak harus di Swedia. Itu terserah pemerintah," ujar Unge.
Kementerian Luar Negeri Swedia tidak memberikan komentar soal berita ini.
Russian Advanced Research Projects Foundation dan Universitas Negeri Saratov telah membangun Laboratorium Special-Purpose Materials guna mengembangkan material canggih untuk pakaian tempur para tentara. Berdasarkan kemampuan perlindungannya, material ini akan melampaui semua bahan pakaian tempur yang sudah ada saat ini.
Dalam beberapa tahun ke depan militer Rusia akan memiliki ‘jubah tak terlihat’. [RIA Novosti] ★
Pasukan Rusia sudah mendapatkan perlengkapan canggih dari kompleks ‘tentara masa depan’ Ratnik (Prajurit), yang terdiri dari berbagai elemen, termasuk pakaian tempur modern dan pelindung dari bahan komposit ringan. Namun, menurut Advanced Research Projects Foundation, seragam tempur prajurit yang ada saat ini belum memberikan keamanan dan kenyamanan yang dibutuhkan oleh tentara, sehingga perlu diciptakan material pakaian tempur baru demi keamanan dan kenyamanan para prajurit.
Salah satu basis teknologi untuk menciptakan material baru tersebut adalah sistem pembuatan kain yang sangat halus menggunakan electrospinning. Dengan teknologi ini, kita dapat menciptakan kain sintetis yang sangat halus dengan kemampuan perlindungan yang unik.
Bahan tersebut dapat menyamarkan sekaligus melindungi para tentara, tanpa mengurangi kemampuan tempur mereka.
Menteri Industri dan Energi Saratov Oblast Sergey Lisovsky menjelaskan, para ilmuwan Saratov sedang merancang material canggih yang dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan, seperti melindungi tubuh tentara dari ledakan senjata api dan menyamarkan kehadiran tentara dalam spektrum radiasi tertentu. Sistem Ratnik juga memiliki fitur serupa. Pakaian pelindung Ratnik dapat memblokir radiasi dalam spektrum ultraviolet dan inframerah, sehingga tentara tak akan terlihat oleh sensor termal. Kini, ilmuwan tengah menyusun material yang dapat memperkuat fitur tersebut.
Singkatnya, dalam beberapa tahun ke depan militer Rusia akan memiliki ‘jubah tak terlihat’. Berkat struktur kainnya yang unik, material ini akan sangat ringan dan tidak menghambat sistem pernafasan pengguna, sehingga pakaian ini dapat digunakan oleh tentara sepanjang waktu. Saat ini, pakaian tempur kompleks Ratnik hanya dapat digunakan selama 48 jam.
Material tersebut telah didemonstrasikan pada Vladimir Putin saat sang presiden berkunjung ke Central Research Institute of Precision Engineering (TSNIITOCHMASH) pada Januari lalu. “Ketika itu, kami mendemonstrasikan langsung material yang kami kembangkan di laboratorium,” kata Alexey Serdobintsev, peneliti di Laboratorium Special-Purpose Materials. “Presiden tidak mengomentari proyek kami, tapi menurut kolega saya, demonstrasi kami memberi kesan yang sangat positif untuk beliau,” terang Serdobintsev.
Material yang dikembangkan oleh ARP Foundation dan Universitas Saratov juga didesain untuk melindungi kulit dan sistem pernafasan tentara di medan tempur. Berdasarkan kemampuan perlindungannya, material ini akan melampaui semua bahan pakaian tempur yang sudah ada saat ini.
Sebagai contoh, masker gas militer modern tak boleh digunakan lebih dari empat jam secara terus-menerus. Oleh karena itu, para ilmuwan berupaya menciptakan sistem saringan pernapasan untuk meningkatkan durasi penggunaan secara signifikan, yang tidak menghambat pernafasan, tapi tetap melindungi tubuh penggunanya.
Material ini juga akan disesuaikan untuk kondisi iklim ekstrem. Menurut ARP Foundation, material ini dapat menahan kobaran api, panas gurun, hingga dinginnya Arktik yang menyakitkan. Sejauh ini, belum ada material serupa yang didesain untuk kondisi ekstrem seperti itu.
Rusia telah mengembangkan peralatan canggih untuk ‘tentara masa depan’ sejak awal 2000-an. Menurut Direktur Jendral ARP Foundation Andrey Grigoriev, kompleks Ratnik versi modifikasi rencananya akan diperkenalkan pada tahun 2025-2030.
ilustrasi pesawat tanpa awak atau Drone (REUTERS)☆
Tentara Suriah menjatuhkan pesawat nirawak Amerika Serikat di bagian barat negara itu karena memata-matai daerah bebas kelompok teroris di Irak dan Suriah, kata sumber tentara pada Rabu.
"Apakah pesawat nirawak itu datang ke wilayah Suriah hanya untuk pesiar?" kata sebuah sumber yang meminta identitasnya tidak diungkapkan.
"Begitu memasuki wilayah udara Suriah, kami menganggapnya mengumpulkan keterangan keamanan dan ketentaraan tentang wilayah Suriah," katanya kepada AFP.
Sumber itu menyatakan pesawat tersebut tidak segera diketahui sebagai milik Amerika Serikat, tapi ditangani sebagai sasaran bermusuhan.
Pertahanan udara Suriah menembak jatuh pesawat itu di atas propinsi pesisir Latakia, kubu Presiden Bashar Assad, kata media pemerintah pada Selasa.
Tentara Amerika Serikat memastikan kehilangan hubungan dengan pesawat nirawak tak bersenjata Predator pada Selasa di atas Suriah baratlaut dan mempelajari pernyataan bahwa pesawat itu dijatuhkan.
Persekutuan pimpinan Amerika Serikat melakukan serangan udara terhadap teroris di Suriah sejak September, tapi tentara Suriah menyatakan pesawat nirawak itu tidak tampak sebagai bagian dari upaya itu.
"Pesawat itu masuk daerah tempat Daesh tidak hadir," kata sumber tentara, dengan menggunakan singkatan bahasa Arab kelompok tersebut.
Ia menyatakan penyelidikan sedang berlangsung, tapi pesawat itu mungkin memasuki Suriah dari Turki.
Kelompok pemantau Pengamat Hak Asasi Manusia Suriah menyatakan pesawat nirawak itu ditembak jatuh di Al-Maqata, desa di dekat ibukota propinsi, Latakia.
"Tidak ada pasukan lawan atau kelompok jihad di mana pun di daerah itu, tapi ada kehadiran besar pasukan penguasa," kata kepala pengamat tersebut, Rami Abdel Rahman.
Damsyik menyatakan diberi peringatan lebih dulu sebelum sekutu memulai serangan dan Menteri Luar Negeri Walid Muallem pada tahun lalu menyatakan Washington berjanji bahwa penyerangan mereka tidak akan memukul tentara Suriah.
Serangan di Suriah sebagian besar dipusatkan di propinsi Aleppo dan Raqa, kubu pertahanan kelompok teroris di Irak dan Suriah.(Uu.B002)
Kisah Perang Dwikora
Pelda (Purn) Soemadji
Masih jelas dalam ingatan Pelda (Purn) Soemadji (77), pertempuran yang dilakoninya 50 tahun lalu di Plaman Mapu, Sarawak, Malaysia dalam Operasi 'Ganyang Malaysia' Dwikora. Berlatih keras sebelum bertempur melawan pasukan elit Inggris, menerabas hutan lebat Borneo, memanggul senjata hingga menyaksikan rekannya gugur.
Saat itu Soemadji muda yang berpangkat Sersan Mayor yang bergabung dengan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD, kini Komando Pasukan Khusus (Kopassus-red) pada tahun 1962 diplot terjun di perbatasan Kalimantan Barat pada akhir 1964.
"Kami diterjunkan sama-sama. Cuma ada satu masalah, pesawat yang membawa saya satu tim Benhur itu, tidak berani menerjunkan kami. Akhirnya saya dibawa pulang ke Banjarmasin, besok diulang lagi, tidak berani lagi, akhirnya kami dibawa pulang ke Jakarta," tutur Soemadji memulai kisahnya saat ditemui detikcom di RT 4 RW 7, Cijantung, Kelurahan Baru, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Selasa (17/3/2015) lalu.
Batalnya itu, menurut Soemadji karena Inggris sudah memusatkan pasukan berkekuatan besar di Kalimantan Barat, dibantu tentara dari negara persemakmuran Inggris, seperti Selandia Baru, Australia dan pasukan Gurkha dari India. Pasukan Kompi Benhur kemudian dibawa ke Jakarta untuk berlatih perang.
"Persiapan lagi, latihan lagi di sini (Cijantung) sekitar 3 bulan, untuk menghadapi tugas yang musuhnya berat itu ya dari Inggris, Selandia Baru, Australia. Persiapan lagi, persiapan yang matang," jelas Soemadji.
Selain musuh yang berat, menurut catatan dari eks Komandan Kompi Benhur Mayor Purn Oerip Soetjipto dalam dokumen yang didapatkan dari Pusat Sejarah Kopassus, gagalnya pendaratan Kompi Benhur atau Kompi B karena cuaca buruk dan sasaran dari Kompi B tidak ditemukan. Hingga akhirnya pasukan dibawa kembali ke Cijantung untuk berlatih.
Waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba. Soemadji tak mengingat kapan persisnya, hanya menyebut April 1965. Catatan Museum Pustaka Korps Baret Merah, saat itu bulan April 1965 ada 3 kompi diterjunkan yakni Kompi Benhur dari RPKAD dengan Komandan Kompi Lettu Oerip Soetjipto, dibantu 2 Kompi dari Yon 3 Semarang, yakni Kompi Kancil dengan Komandan Kompi Letda Soewardjo dan Kompi Kenyung dengan Komandan Kompi Lettu Muchadi diberangkatkan ke Pontianak dengan kapal di malam hari, untuk menjaga kerahasiaan.
"Ada 3 kompi, intinya adalah Kompi Benhur. Kompi Benhur ini yang akan melakukan serangan. 2 Kompi lainnya sebagai penindas dan penutup," tuturnya.
1 Kompi saat itu, terdiri dari 75 orang yang dibagi 3 peleton. Tiap 1 peleton yang terdiri dari 13 orang dibekali senjata 2 pucuk RPG Bren yang masing-masing bisa memuat hingga 100 peluru, 2 pucuk launcher AR 16, 1 rocket launcher dan 1 torpedo bangalore. Saat merapat ke perbatasan, imbuh Soemadji, 3 kompi ini tak mengenakan seragam RPKAD melainkan menyamar mengenakan seragam Zeni Tempur (Zipur VII) dengan badge kalajengking di lengan kiri.
3 Kompi itu awalnya tak langsung menyerang pos tentara Inggris di Plaman Mapu, melainkan di Pang Amo karena merupakan pos musuh paling besar.
"Taktiknya menyebar tim kecil sebagai intel lapangan. Saat itu perintah Pak Sarwo Edhie (Komandan RPKAD), tangkap Inggris hidup-hidup," tutur Soemadji yang ingatannya masih tajam ini.
Namun, penyerangan di Pang Amo ini gagal karena medan yang berat dan informasi intelijen yang kurang pas. Akhirnya, strategi diubah dan dipilihlah pos Mapu, karena agak menjorok ke dalam dengan perbatasan Indonesia dan dekat dengan pos musuh di Sein dan Bunan Gagak. Maka pada 18 April 1965, 1 peleton dipimpin Dan Ton Peltu Rohendi mengadakan pengintaian di Mapu. Hasil pengintaian itu dikaji, kemudian disusun strategi, diputuskan waktu penyerangan adalah 26 April pukul 19.00 waktu setempat.
"Tidak sampai 1 minggu dari Pang Amo, tim berangkat lagi ke Mapu. Ada kompi yang bertugas mengganggu pos-pos musuh lain agar tidak bisa membantu pos di Mapu. 1 Hari 1 malam lewat sungai terus. Setelah lewat Sarawak, kami kembali lagi dari belakang pos musuh di Mapu yang dipertahankan oleh tentara dari Selandia Baru," tutur Soemadji.
3 Kompi berpencar mengendap-endap. Setelah mendekati pos Mapu, mereka mendapati ada 3 bukit kecil, yang berlapis dikelilingi pagar kawat, bambu tajam nan rapat, parit sedalam 2 meter kemudian kawat gulung.
Bagan Pertahanan Mapu (dok Pusat Sejarah Kopassus)
"Seandainya kawat gulung itu dialiri setrum, mati kami. Perjuangan yang berat. Kami membawa senjata yang berat sekali bebannya, tidak boleh mengeluarkan suara, sekalipun gesekan air minum dengan veldples (tempat air minum tentara-red)," tuturnya.
Soemadji ingat, saat mengendap-endap, jam sudah menunjukkan pukul 03.00 dini hari, pada 27 April 1965. Kompi Benhur masih standby dan mengendap-endap, hingga 7 meter dari pos musuh, tak membuat tentara sekutu Inggris itu sadar.
"Mereka tak sadar kami sudah mengelilingi dia, maut yang akan datang itu, mungkin ngantuk itu jam 3 malam. Kami juga sudah keberatan muatan bawa senjata. Kalau sudah gerak kami kepengennya ketemu musuh, perang. Kita menunggu komando dari kompi, Pak Oerip (Oerip Soetjipto), buka tembakan dari dia, dia sudah bilang 'jangan buka tembakan sebelum ada tembakan dari saya'," jelas Soemadji.
Setelah komandan Kompi Benhur atau Kompi B membuka serangan dengan mortir 5 pucuk, ke atas bukit, mulailah serangan mendadak.
"Elevasinya harus pas, setelah mortir dilemparkan, duung! dung! dung! dung! Tepat sekali kena bunker itu. Kemudian, dem! dem! dem! dem! Kita serang," celoteh Soemadji ekspresif dengan gerakan tangan.
Pertempuran berdarah pun tak terelakkan. Serangan pembuka mortir disambung dengan rocket launcher dan tembakan RPG Bren membuat pihak musuh tewas berdarah-darah.
"Ada karung-karung pasir itu sampai pasirnya berhamburan seperti hujan, burr! Di samping itu kami sudah keberatan membawa senjata jalan berhari-hari, ketemu musuh seperti itu ya sudah, kami lampiaskan. Di samping itu 1 orang membawa granat 1.
Berapa puluh itu, mungkin seratusan (tentara yang tewas). Mereka pengakuannya menurut siaran radio, mati 72 tentara Selandia Baru, padahal lebih daripada itu. Hanya, biasa kan kalau perang ditutup-tutupi kan," tuturnya.
Rute Menuju Pos Mapu (dok Pusat Sejarah Kopassus)
Kebanyakan tentara musuh yang tewas, imbuh Soemadji, karena terkubur masuk ke killing ground yang posisinya kemungkinan kecil untuk lari. Serangan itu berlangsung selama 1 jam. Usai serangan besar itu, Soemadji yang berada di bawah bukit bersama 3 rekannya, FX Soenardi, Yacob Idris dan Sugimin.
Ternyata, ada tentara paratroops Inggris yang melihat dan menembaki Soemadji dan rekan-rekannya. "Berempat ini, dihajar dari pos yang nggak tahu kami. Jegrek! Kami ditembak dari pos itu, dibalas pakai rocket launcher itu, dhier! Baru berhenti. Namun teman saya, Soenardi ternyata kena tembak," kenangnya.
Operasi Dwikora yang berlangsung pada tahun 1965 adalah respons Indonesia untuk berperang di Malaysia, di bawah Presiden Soekarno saat itu, karena tidak setuju atas pembentukan Federasi Malaysia oleh Inggris.
Inggris, yang hendak mengakhiri kolonisasi saat itu hendak menggabungkan koloninya di Semenanjung Malaya dengan Sabah dan Sarawak di Kalimantan. Presiden Soekarno tak setuju lantaran menganggap Federasi Malaysia adalah boneka Inggris yang akan mengancam kemerdekaan Indonesia.
Satu lagi, pembentukan Federasi Malaysia dianggap melanggar Perjanjian Manila yang diteken 3 negara, Indonesia, Malaysia dan Filipina di Manila-Filipina pada 5 Agustus 1963. Dalam perjanjian itu, ketiga negara sepakat bahwa warga Sabah dan Sarawak mesti melakukan referendum dan menentukan nasib sendiri tanpa ada paksaan dari pihak luar di bawah pengawasan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB).
Namun ternyata, sebulan setelah Perjanjian Manila diteken, Inggris membentuk Federasi Malaysia pada 16 September 1963.
Peasawat Tempur Dassault Rafale (Militaryphotos)
Perusahaan pesawat Perancis Dassault Aviation telah menawarkan Malaysia pinjaman bank selama 10 tahun untuk mendukung pembelian jet tempur Rafale, menurut laporan kantor berita Malaysia Bernama pada tanggal 18 Maret.
Mengutip CEO Dassault Eric Tappier, Bernama melaporkan bahwa paket tersebut mirip dengan yang ditawarkan ke Mesir, yang pada bulan Februari telah memesan 24 pesawat tempur Rafale senilai EUR 5 miliar (USD 5.7 miliar).
Tappier juga berbicara di LIMA 2015 pameran di Langkawi, mengatakan paket pembayaran yang ditawarkan ke Malaysia memiliki pinjaman selama 10 tahun yang diberikan oleh bank komersial Perancis dan dijamin oleh pemerintah Perancis.
Dassault Rafale menawarkan untuk memenuhi program modernisasi Royal Malaysia Air Force (RMAF) yang tertunda untuk pengadaan Pesawat Tempur Multirole (MRCu).(Janes)