Sabtu, 11 April 2015

[World] Pabrik Senjata Rusia Lebarkan Sayap di Pasar Global, Indonesia Paling Potensial

Di tengah keretakan hubungan dengan Barat dan gempuran sanksi yang diluncurkan sepanjang 2014, Rusia tetap mampu mempertahankan posisinya di pasar senjata global. Pasar negara-negara Asia Pasifik dinilai lebih prospektif dan menguntungkan. Kesepakatan yang paling menjanjikan adalah negosiasi yang tengah dilakukan dengan Indonesia untuk memasok pesawat jet tempur Su-35.Kesepakatan yang paling menjanjikan adalah negosiasi yang tengah dilakukan dengan Indonesia untuk memasok pesawat jet tempur Su-35. [Sergey Mamontov/RIA Novosti]

Bertahannya posisi Rusia dalam pasar senjata global terbukti dalam laporan penjualan senjata dunia, baik yang dipublikasikan oleh Rusia maupun lembaga asing—meskipun terdapat perbedaan angka pada nilai keseluruhan teknologi militer yang dijual oleh Rusia. Namun, tren yang terjadi di pasar yang sangat dipolitisasi ini punya tendensi untuk berubah, dan angin yang mendorong kapal layar industri pertahanan Rusia bisa saja bertiup ke arah yang salah.

Berdasarkan laporan IHS Jane's Annual Defence Budgets Review, total penjualan senjata Rusia sepanjang 2014 mencapai sepuluh miliar dolar AS, meningkat sembilan persen dibanding tahun sebelumnya. Namun, pada laporan Rosoboronexport nilai ekspor senjata Rusia pada 2014 lebih tinggi tiga miliar dolar AS dibanding angka yang diterbitkan IHS Jane's. Namun bagaimanapun juga, melihat pencapaian Amerika Serikat pada periode yang sama, angka itu masih jauh dari mengagumkan. Pada 2014, total penjualan senjata AS mencapai 23,7 miliar dolar AS, meningkat 19 persen dibanding tahun sebelumnya. Dengan kata lain—bahkan jika kita membuat penyesuaian dengan menghitung nilai absolut (senjata Amerika dijual lebih mahal)—peningkatan jumlah penjualan senjata AS mencapai lebih dari dua kali lipat dibanding Rusia.

 Di Balik Angka 

Mengapa penjualan senjata AS mengalami peningkatan yang sangat signifikan? Alasannya sederhana: kekacauan situasi di Timur Tengah. AS telah menjadi kekuatan dominan dalam perpolitikan dunia selama bertahun-tahun. Mereka terus memperkuat posisinya dan sekutu mereka pun menikmati keuntungan dari tidak stabilnya harga minyak. Sementara, sekutu Rusia warisan Uni Soviet (seperti Suriah dan Irak) malah tengah didera sanksi dan perang sipil.

Dengan kondisi demikian, industri militer AS dapat mengambil keuntungan maksimal dari kekacauan yang diciptakan oleh pemerintah mereka di Timur Tengah. Hasilnya, penjualan senjata AS di pasar senjata global pada 2014 melampaui Rusia berkali-kali lipat, 8,4 miliar dolar AS berbanding 1,5 miliar dolar AS. Rusia bahkan berada di bawah Inggris dan hanya sedikit berada di atas Prancis. Target pasar Rusia, seperti Suriah misalnya, tengah dirongrong oleh perang sipil, sangat kontras dengan mitra kunci AS di wilayah tersebut, Arab Saudi, yang menurut laporan HIS Jane's merupakan pembeli senjata yang paling boros pada 2014. Arab Saudi menghabiskan 6,4 miliar dolar AS pada 2014 untuk pembelian senjata dan berencana meningkatkan angka tersebut hingga 50 persen pada 2015.

 Pilih India Atau Tiongkok 

Angka pembelian senjata Arab Saudi yang fantastis membuat negara tersebut bahkan mengungguli importir senjata terbesar di dunia, India. Dan hal tersebut menciptakan perdebatan mengenai situasi di pasar utama Rusia tersebut.

Tahun lalu, industri pertahanan Rusia paling banyak menjual senjata ke Tiongkok (2,3 miliar dolar AS), disusul India (1,7 miliar dolar AS), dan Vietnam serta Venezuela (masing-masing satu miliar dolar AS). Prospek masa depan target pasar Rusia dirundung sejumlah pertanyaan. "Kami memprediksi akan terjadi penurunan jumlah ekspor senjata Rusia karena banyak program pembelian senjata yang telah terpenuhi, dan hal ini akan diperparah oleh kehadiran sanksi," tulis Jane's dalam laporannya. India, meski memiliki sejumlah proyek gabungan bersama Rusia seperti pengembangan BrahMos dan pembuatan pesawat tempur generasi kelima FGFA, mulai menunjukan ketertarikan pada senjata Barat. Mereka kini sedang memperluas kerja sama dengan Israel, AS, dan Uni Eropa. Hal tersebut jelas terlihat pada kunjungan terbaru Barack Obama ke India. Strategi ini membuat India, yang telah mendeklarasikan kebijakan "Made in India" untuk mendapatkan teknologi yang lebih canggih dan mendiversifikasi produk impor mereka.

Selain itu, kerja sama dengan India sulit dilakukan bersamaan dengan upaya untuk mendekati Tiongkok. Keputusan untuk memasok sistem pertahanan udara S-400 ke Tiongkok menimbulkan reaksi yang sangat menyakitkan dari mitra Rusia di India. Sedangkan Venezuela, Iran, dan Algeria, daya beli mereka—sama seperti Rusia sendiri—tengah sengsara karena jatuhnya harga minyak dan gas.

 Target Pasar Masa Depan 

Pada Januari, dalam pertempuan dengan Komisi Kerja Sama Militer Teknis, Presiden Rusia Vladimir Putin mengingatkan perlunya mencari pasar baru untuk senjata Rusia di Amerika Latin, Afrika, dan Asia Tenggara. Di Amerika Latin, Rusia tengah mengerjakan sejumlah proyek dengan Brasil. Negara tersebut sedang mempertimbangkan untuk membeli sistem pertahanan udara Rusia dan membangun kerja sama di bidang helikopter. Selain itu, Rusia juga sedang menatap kemungkinan kerja sama dengan Peru, Argentina, dan Nikaragua.

Di Afrika, Uni Soviet tak hanya mewariskan tagihan utang-utang yang belum dibayar oleh negara di wilayah ini untuk Rusia, tapi juga dalam lingkup kerja sama militer-teknis. Namun, komunikasi antara Rusia dan Afrika telah nyaris putus selama hampir 20 tahun. Kini, mereka harus membangun kembali jaringan baru di pasar yang tak terlalu kaya ini, sambil berkompetisi mati-matian dengan suku cadang murah buatan Tiongkok.

Pasar yang lebih prospektif dan menguntungkan adalah pasar di negara-negara Asia Pasifik. Kesepakatan yang paling menjanjikan adalah negosiasi yang tengah dilakukan dengan Indonesia untuk memasok pesawat jet tempur Su-35, yang akan menggantikan pesawat tempur tua Amerika F-5 milik Angkatan Udara Indonesia.


  RBTH  

Jumat, 10 April 2015

[World] Arab Saudi Kirim Bantuan Senjata ke Yaman

Pesawat tempur militer yang akan turut serta dalam serangan udara pimpinan Arab Saudi. [Reuters]

Arab Saudi menjatuhkan peti-peti berisi persenjataan kepada milisi Yaman pro-pemerintah dari udara. Upaya itu ditujukan sebagai bantuan untuk merebut kota Aden dari gerombolan pemberontak yang mendudukinya pada awal pekan.

Artileri, senapan penembak jitu, serta rompi antipeluru adalah sebagian perlengkapan yang dikirimkan.

“Persenjataan tersebut akan digunakan untuk menendang kelompok Houthi keluar dari Aden,” ujar Safwan Sultan, anggota milisi yang loyal kepada Hadi. “Bantuan lewat udara … akan terus berlanjut selama pihak Houthi masih berada di Aden. Kami akan terus melakukan perlawanan hingga mereka tumbang.”

Aden menjadi medan laga penting dalam konflik Yaman. Pertempuran untuk mengenyahkan para pemberontak Houthi bekingan Iran dari Aden menjadi hal krusial bagi pasukan pimpinan Arab Saudi untuk dapat mengembalikan Presiden Abed Rabbo Mansour Hadi ke istana.

Hadi melarikan diri dari Yaman lewat perairan pada 25 Maret setelah para pemberontak menguasai pelabuhan laut.

Dua pekan lalu, para pemberontak Houthi berhasil dipukul mundur dari sebagian besar wilayah pelabuhan setelah pasukan koalisi Arab Saudi melancarkan serangan udara. Tetapi, kondisi tersebut tidak berlangsung lama.

Para pemberontak mengatakan telah merebut istana presiden dari pasukan pro-Hadi pada Kamis silam. Namun, serangan Arab memaksa mereka hengkang. Pada Jumat petang, kelompok Houthi kembali menguasai kompleks istana dan wilayah strategis pelabuhan.

Juga pada Jumat, pesawat tempur Arab Saudi melancarkan serangan udara ke pos-pos pemberontak di pangkalan militer Pulau Mion. Lokasi ini adalah posisi strategis yang menghadap Selat Bab el Mandeb, jalur maritim yang melayani mayoritas perdagangan antara Eropa dan Asia.

  ♔ wsj  

[World] China Gunakan "Otot" untuk Gertak Negara Lain

Presiden Obama tuding China gunakan 'otot' untuk menggertak negara-negara lain. (Reuters)

Presiden Amerika Serikat (AS), Barack Obama, mengatakan, bahwa Washington prihatin dengan China yang menggunakan “otot” untuk menggertak negara-negara lain di sekitar Lauat China Selatan.

Komentar Obama muncul beberapa jam setelah Beijing menyampaikan pernyataan pembelaan terkait penciptaan pulau buatan di Selat Malaka yang diperebutkan sejumlah negara.

Reklamasi China yang secara pesat di kepulauan Spratly, Laut China Selatan telah memicu kecemasan negara-negara lain, terutama Filipina dan Vietnam yang sama-sama mengklaim kepulauan itu.

Pulau buatan yang dibangun China di kawasan sengketa itu, dikhawatirkan sejumlah negara di ASEAN akan digunakan untuk pangkalan militer. Obama mengecam China yang ia anggap mengabaikan hukum internsional.

”Bagaimana kita bisa peduli dengan China, di mana negara itu selalu tidak mematuhi norma-norma dan aturan internasional dan menggunakan ‘ukuran’ dan ‘otot’ yang semata-mata untuk memaksa negara-negara berada di dalam posisi bawah,” sindir Obama saat kunjungan ke Jamaika menjelang KTT Karibia di Panama, seperti dilansir Reuters, Jumat (10/4/2015).

“Kami pikir ini bisa diselesaikan secara diplomatis, tapi hanya karena Filipina atau Vietnam bukan negara besar seperti China, bukan berarti bahwa mereka hanya bisa menyikut dari samping,” lanjut Obama.

Kepulauan di Laut China Selatan yang kaya sumber energi telah diperebutkan China, Filipina, Vietnam, Malaysia, Brunei dan Taiwan. China mengklaim sebagian besar wilayah Laut China Selatan adalah miliknya, namun ditentang sejumlah negara tersebut.(mas)

  ♔ sindonews  

Panglima TNI singgahi KRI Sultan Iskandar

Kunker ke Lebanon Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko saat singgah di KRI Sultan Iskandar di Beirut

Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko menyinggahi KRI Sultan Iskandar Muda-367 di Dermaga 3 Port of Beirut, Kamis (9/4/2015) waktu setempat. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari kunjungan kerja Panglima TNI ke seluruh satgas Indonesia di Lebanon yang tergabung dalam misi perdamaian dunia dibawah UNIFIL.

Turut serta dalam kunjungan beberapa perwira staf, diantaranya, Asops Panglima TNI Mayjen TNI Indra Hidayat, Asintel Panglima TNI Laksda TNI Amri Husaini, Asops Kasad Mayjen TNI Jhoni L. Tobing, Kapuspen TNI Mayjen TNI Fuad Basya , Penmil PTRI New York Laksma TNI Yos Toto S, Atase Pertahanan RI untuk Kairo Kolonel Marinir Ipung Purwadi dan Kapokbungkol Spri Panglima TNI Kolonel Inf Rui Duarte.

Kedatangan Jenderal TNI Dr. Moeldoko beserta rombongan disambut oleh Komandan KRI Sultan Iskandar Muda-367 Letkol Laut (P) IGP Alit Jaya beserta para perwira kapal di geladak heli. Turut hadir dalam penyambutan, Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) Indonesia untuk Lebanon, Achmad Chozin Chumaidy, DMTF-COS Kolonel Laut (P) Arsyad Abdullah dan Komandan FHQSU Kolonel Inf Danni Koswara.

Panglima juga memberikan arahan serta menyampaikan ucapan terima kasih dan memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada seluruh prajurit TNI yang sedang melaksanakan tugas sebagai peace keeper di Lebanon.

Khusus kepada satgas MTF, Jenderal Moeldoko menyampaikan, bahwa satgas Kontingen Garuda MTF TNI XXVIII-G/UNIFIL akan mengemban misi operasi yang lebih lama dari satgas-satgas sebelumnya. Hal ini diputuskan melalui berbagai pertimbangan dan kajian oleh para pemimpin di tingkat Mabes TNI.

Dalam masa tugas yang cukup panjang tersebut, Muldoko meminta agar hal tersebut disikapi dengan arif dan bijaksana serta dipandang sebagai bentuk kepercayaan negara kepada seluruh prajurit Kontingen Garuda MTF TNI XXVIII-G/UNIFIL sekaligus salah satu usaha pimpinan untuk mensejahterakan para prajurit dan keluarganya.

Lebih lanjut, Panglima TNI juga menekankan agar seiring bertambahnya waktu, satgas yang ada saat ini dapat menunjukkan kinerja, semangat dan dedikasi yang semakin meningkat dibandingkan satgas-satgas terdahulu.

Selesai memberikan pengarahan, Panglima TNI beserta rombongan menuju ke Lounge Room Perwira untuk melaksanakan acara ramah tamah sembari menikmati refreshment. Pada kesempatan tersebut, Panglima TNI berkesempatan untuk menulis kesan dan pesan pada buku tamu yang telah disediakan.

Acara kunjungan kerja Panglima TNI beserta rombongan diakhiri dengan jamuan makan malam sebelum akhirnya meninggalkan KRI SIM-367 pada pukul 18.00 LT dengan diikuti iringan Mars Garuda yang dinyanyikan seluruh prajurit dari atas geladak helikopter.@rofik.

  ♔ Lensaindonesia  

Pangkalan Udara Riau diperkuat dengan 16 unit F-16 52ID Tahun ini

5 unit di bulan Mei dan 6 unit akhir tahun F16 52ID

Pangkalan Udara di Pekanbaru, Riau, akan menerima 16 unit pesawat tempur jet Falcon F-16 C/D buatan AS tahun ini untuk memperkuat pertahanan militer di barat negara, khususnya Pulau Sumatera.

Komandan Pangkalan Udara Kolonel Muhammad Khiril Lubis mengatakan di Pekanbaru pada hari Kamis bahwa pangkalan udara tersebut akan diberikan dengan lima unit jet tempur F-16 dari Departemen Pertahanan bulan depan.

"Kami akan menerima lima pesawat jet  di bulan Mei," kutip kantor berita Antara.

Dia menambahkan bahwa pangkalan udara saat ini merupakan rumah bagi lima unit F-16 jet tempur dan 16 unit pesawat Hawk  100/200 buatan Inggris.

Lubis mengatakan pangkalan udara di Riau akan menerima enam unit pesawat F-16 dari kementerian pada akhir tahun ini.

Penguatan pangkalan udara dengan pengoperasian dua skuadron pesawat tempur ini sejalan dengan rencana pemerintah untuk meng-upgrade status pangkalan udara menjadi Tipe A dari Type B.

Dia melanjutkan bahwa penguatan pangkalan udara yang dibutuhkan tidak hanya pesawat tempur baru dan persenjataan canggih, tetapi juga tentara profesional yang terampil dalam mengoperasikan dan memelihara teknologi militer modern. (Rms)(++++)[thejakartapost]

  ♔ Garuda Militer  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...