Jumat, 22 Mei 2015

KRI Kupang Akan Jadi Sasaran Penembakan Rudal dari KRI Bung Tomo 357

Danguspurlatim Pimpin Simulasi Penembakan Rudal Exocet MM-40 Simulasi penembakan rudal dilakukan di Pusat Latihan Elektronika dan Pengendalian Senjata Surabaya (TNI AL)

Komandan Gugus Tempur Laut Komando Armada RI Kawasan Timur (Danguspurlatim) Laksamana Pertama TNI ING. Ariawan, S.E memimpin Latihan Pos dan Komando (Latposko) simulasi penembakan senjata strategis TNI AL Rudal Exocet MM-40 Blok II di Tactical Team Trainer Pusat Latihan Elektronika dan Pengendalian Senjata (Puslatlekdalsen) Kobangdikal Bumimoro, Surabaya, Kamis (21/5).

Latihan simulasi ini melibatkan seluruh pelaku yang terlibat, baik prajuirt yang bertugas di kapal maupun staf pendukung lainnya. Latihan uji coba penembakan senjata strategis TNI AL ini, akan melibatkan 10 kapal perang jajaran Koarmatim. Sedangkan yang menembakkan rudal tersebut adalah KRI Bung Tomo-357, yaitu kapal perang terbaru yang dimiliki TNI AL yang saat ini masuk jajaran Satuan Kapal Eskorta Koarmatim, dengan Komandan Kapal Kolonel Laut (P) Yayan Sofian, ST
KRI Bung Tomo 357 fregat ringan TNI AL (TNI AL)

Penembakan Rudal Exocet MM-40 Blok II tersebut, akan dilakukan disekitar laut jawa dalam waktu dekat ini dengan sasaran eks KRI Kupang. Penembakan senjata stragis tersebut, akan disaksikan langsung oleh pejabat TNI diatas KRI Surabaya-591, yang dalam latihan ini sebagai kapal markas.

Dilaksanakannya penembakan senjata strategis Rudal Exocet MM-40 Blok II ini, yaitu untuk mewujudkan hasil pembinaan serta meningkatkan kesiapan dan kesiapsiagaan operasional serta mengukur kemampuan Sistem Senjata Armada Terpadu (SSAT) TNI AL terbaru yang dimiliki TNI AL, yaitu Kapal Multi Role Light Frigate (MRLF) KRI Bung Tomo-357.

Penembakan senjata tersebut juga dalam rangka penyiapan KRI Bung Tomo-357 yang akan tergabung pada Satgas MTF XXVIII-H UNIFIL di Lebanon dalam waktu dekat ini. Penembakan Rudal Exocet MM-40 Blok II, selain untuk meningkatkan kemampuan tempur unsur-unsur TNI AL juga diharapkan mampu menimbulkan dampak penangkalan (Deterrence Effect) baik bagi Negara maupun non negara (State Actor and Non State Actor) yang akan mengganggu kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

  TNI AL  

Penerbang Skadron Udara 12 Latihan Terbang Malam

Hawk 100/200 di Skadron Udara 12 Roesmin Nurjadin Pekanbaru, Riau (Lanud Roesmin Nurjadin)

Ada yang terasa berbeda di langit Pekanbaru dari hari-hari sebelumnya, ini karena terdengar suara mesin jet yang menderu memecah kesunyian malam saat para penerbang dari pesawat tempur Hawk 100/200 Skadron Udara 12 Lanud Roesmin Nurjadin melaksanakan latihan terbang malam, Senin (18/5).
“Keahlian (skill) dan kemampuan terbang (profisiensi) dari para penerbang harus terus diasah dan ditingkatkan melalui berbagai latihan agar dapat mengatasi berbagai tantangan tugas yang mungkin dihadapi ke depannya, untuk itulah latihan ini dilaksanakan”, ujar Danskadron Udara 12 Lanud Rsn Letkol Pnb Jajang Setiawan. Ditambahkan oleh Danskadron 12 bahwa tak hanya keahlian dan kemampuan para penerbang saja yang ditingkatkan, namun dengan latihan ini kesiapan seluruh alutsista serta ground crew pesawat pun akan dapat ditingkatkan, hal ini guna mengantisipasi kemungkinan akan terjadinya ancaman, gangguan serta pelanggaran wilayah udara Indonesia oleh pihak lain yang mungkin saja terjadi pada waktu siang maupun malam hari.

Sementara itu Danlanud Roesmin Nurjadin Kolonel Pnb M. Khairil Lubis yang turut mengawasi latihan ini menyampaikan bahwa Lanud Roesmin Nurjadin sebagai pangkalan operasi harus selalu siap untuk melakukan misi yang diberikan kepadanya, dan itu melakukan operasi udara yang dapat terjadi kapan saja.
“Saya tekankan kepada seluruh personel untuk selalu mengedepankan faktor keamanan serta keselamatan terbang, agar latihan ini dapat terlaksana dengan aman, lancar dan tak kurang suatu apapun hingga usainya latihan nanti”, lanjut Danlanud.

Latihan terbang malam yang dilaksanakan secara periodik ini rencananya akan berlangsung hingga Kamis (21/5) dengan area latihan di sekitar wilayah Lanud Roesmin Nurjadin.

  roesminnurjadin  

Panglima TNI ke Kelompok Bersenjata Aceh: Jangan Ganggu TNI atau Kami Marah!

Terjadi kontak tembak antara pasukan gabungan TNI-Polri dan kelompok bersenjata di Pidie, Nangroe Aceh‎ Darussalam, pada Rabu (20/5) malam. Panglima TNI Jenderal Moeldoko memperingatkan kelompok bersenjata itu agar tak mengganggu TNI dan mengancam rasa aman.

"‎Jangan coba-coba ganggu TNI, atau kami akan bereaksi kalau kami diganggu," kata Moeldoko usai peresmian Patung Teuku Umar di Pulau Rondo, Kota Sabang, Aceh, Kamis (21/5/2015).

Moeldoko berpesan kepada yang ia sebut sebagai 'kelompok kecil di Aceh' itu, agar tak merusuh. Soalnya, TNI sekarang sudah menjalin persahabatan dengan semua pihak di Aceh.

"Kami tidak pernah melakukan hal-hal yang membuat kelompok-kelompok ini menderita. Tetapi jangan buat anggota TNI menderita atau prajurit-prajurit kita akan marah di lapangan," kata Moeldoko‎.

‎Masyarakat sudah merasa damai. Maka kedamaian ini tak semestinya diusik. Bila rasa damai ini rusak, maka pembangunan di Aceh akan terhambat dan investor tak akan tertarik ke Aceh.

‎"Dan yang kita cari adalah rasa damai, enak hidup, TNI berada untuk mengawal," kata Moeldoko.

Kontak tembak yang dimaksud itu berawal dari laporan warga kepada anggota Kodim 0102 Pidie yang menyatakan, munculnya dua orang pria bersenjata api. Pria yang mencurigakan tersebut mengenakan baju loreng dan baju berwarna hitam. Menindaklanjuti informasi itu, anggota TNI dan polisi kemudian melakukan pengejaran. Berikutnya terjadi kontak tembak dengan pelaku.

Tiga pria tewas, dan senjata-senjata dari mereka diamankan. ‎Barang bukti berupa 1 pucuk AK47 popor lipat, magazine M16 dan AK47, 106 butir amunisi AK dan 2 tas hitam.

  detik  

Perlombaan senjata baru di Laut Cina Selatan

Indonesia sendiri berencana akuisisi 20 frigat dari Belanda untuk meng-upgrade kemampuan angkatan laut. Peninjauan kapal PKR 10514 di Surabaya

Filipina, Vietnam, Indonesia, Malaysia, Thailand dan Taiwan meningkatkan kemampuan militernya dalam menghadapi kehadiran kekuatan China di Laut China Selatan (LCS). Tapi sebagian besar pembelian alutsista tidak dari Amerika Serikat.

Cina selama beberapa tahun terakhir menyatakan peningkatan kedaulatan atas Laut Cina Selatan, bahkan bagian itu jauh dari daratan Cina. Akibatnya, negara-negara lain di wilayah ini mengalokasikan biaya yang besar untuk senjata: IHS Janes melihat hampir setiap bangsa di wilayah meningkatkan pengeluaran untuk belanja alutsista-Indonesia direncanakan meningkat sebesar 61 persen pada 2021, dan Filipina terlihat meningkat dua kali lipat pengeluaran dalam kerangka waktu.

Namun sejauh ini, kebanyakan dari pengadaan alutsista tersebut tidak akan ke Amerika Serikat. Antara 2012 dan 2013, nilai perjanjian penjualan militer AS dengan semua menurun, menurut laporan Departemen Pertahanan AS. Gregory Polling, untuk Pusat Studi Strategis dan Internasional, mengatakan bahwa penurunan belanja alutsista tidak mencerminkan total pengeluaran, dikarenakan mereka memilih ke negara lain berdasarkan kebutuhannya.

"Amerika Serikat adalah penyedia terbesar dari sistem keamanan, tetapi semua negara-negara ini dimengerti mencari ke lain negara selain AS," kata Polling.

Vietnam contohnya. Negara ini memiliki sistem pertahanan yang modern di antara semua negara di ASEAN, tapi pengadaan alutsista lebih dari 72 persen dari Rusia untuk kontrak yang ditandatangani sejak 2010.

Pemasok senjata utama lainnya termasuk Perancis, Inggris, Spanyol, Korea Selatan, Jepang dan Brasil, menurut data Ben Moores, analis pertahanan senior di IHS Janes.

Moores menunjuk beberapa contoh terbaru dari kontrak pengadaan alutsista ke negara-negara selain Amerika Serikat: Filipina membeli pesawat tempur F-50 dari Korea Selatan; Vietnam membeli enam kapal selam kelas kilo dan 12 korvet dengan Rusia; dan Indonesia membeli lisensi 20 frigat dari Belanda untuk meng-upgrade kemampuan angkatan lautnya.

Filipina-negara yang terasa ancaman paling langsung dari upaya Cina untuk membangun kepemilikan pulau Spratly- terlihat menghabiskan lebih dari senjata maritim, dengan pengadaan pertahanan tahunan naik dari $ 273 juta menjadi $ 500 juta pada 2021, menurut IHS Janes.

"Militer Filipina telah menjadi pemain yang lemah untuk waktu yang lama," kata Duncan Innes-Ker, Editor Regional untuk Asia di Economist Intelligence Unit. "Ini benar-benar tidak memiliki kapasitas untuk angkatan laut. Bahkan jika berinvestasi lebih, itu tidak akan pernah mampu menciptakan kekuatan yang membuat China berpikir dua kali."

Yang pasti, Amerika Serikat terus memasok peralatan militer ke negara-negara yang terlibat dalam sengketa Laut Cina Selatan. Menandatangani kontrak untuk pengiriman antara tahun 2010 dan 2024 merupakan sekitar 30 persen dari total kontrak Filipina, 40 persen dari Singapura dan 90 persen dari total kontrak Taiwan, menurut data dari IHS Jane. Untuk Indonesia dan Malaysia, kontrak US sekitar 9,7 persen dan 3,3 persen.

Polling mengatakan Amerika Serikat memberikan kontribusi dengan cara lain yang tidak termasuk dalam data Departemen Pertahanan, seperti membantu Filipina meningkatkan infrastruktur militer. "AS sudah berkomitmen dalam membantu meningkatkan kapasitas untuk mitra-mitranya," katanya. "Hal ini berkomitmen untuk memperluas infrastruktur militer, membangun lapangan udara, meningkatkan kemampuan angkatan laut dan angkatan udara dan kapasitas pengisian bahan bakar, dan infrastruktur lainnya."

Moores mengatakan bahwa Vietnam memiliki keunggulan dibanding negara-negara lain di kawasan karena keterlibatan awal dalam sengketa dengan China. Bagi yang lain, itu merupakan terlambat dalam permainan untuk mengejar China.

"Semua negara-negara ini hanya mencoba untuk membangun militer mereka, tapi militer mereka tidak dapat secara individual melawan angkatan laut Cina." kata Moores [CNBC]

  Garuda Militer  

Panglima TNI Tanya Persediaan Air di Pulau Rondo, Prajurit: Siap! Tidak Ada

Panglima TNI Jenderal Moeldoko mengunjungi Pulau Rondo, Kota Sabang, Nangroe Aceh Darussalam. Di pulau paling utara ini, Moeldoko menanyai soal kondisi penunjang hidup prajurit‎, yakni ketersediaan air.

"Air bagaimana di sini?" tanya Moeldoko di ‎Pulau Rondo, ‎Kecamatan Sukakarya, Kota Sabang, Aceh, Kamis (21/5/2015).

"Siap!" jawab pria komandan peleton.

Mendengar jawaban komandan peleton yang hanya 'siap-siap' saja, Moeldoko mengulangi pertanyaannya. Lantas komandan peleton mengatakan yang sebenarnya.

"Siap! Tidak ada air‎," jawabnya.

Dia menjelaskan bahwa ketersediaan air tawar untuk ‎34 personel Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan Terluar‎ (Satgas Pamtas) berasal dari tampungan air hujan. Air hujan ini dipakai untuk sebulan.

Bila air habis, pasokan air dan kebutuhan lain juga bisa dibawa dari Pulau Sabang di sebelah selatan Pulau Rondo ini. Namun yang utama, air tawar berasal dari hujan, digunakan untuk memasak.

Dahulu ada pompa penyulingan air laut menjadi air tawar. Namun alat itu sekarang sedang rusak.‎ Selain soal air, kebutuhan listrik dihasilkan dari tenaga surya lewat 'solar cell', generator tenaga angin, dan menggunakan genset.

‎Yakni Serka Suprapto kepada wartawan menyatakan para tentara di sini terbiasa mandi memakai air laut‎, kemudian dibilas menggunakan air tawar sedikit saja. Makanan biasanya dipasok dua bulan sekali dari Sabang. Lalu bagaimana bila stok makanan habis?

"Ya mancing, bisa dapat ikan atau kepiting," kata Suprapto sambil duduk di atas balok kayu.

  detik  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...