Jumat, 12 Juni 2015

TNI AU Pantau Pesawat Asing yang Melintas di Perairan Ambalat

Garda terdepan untuk mengamankan ambalat Radar type Plessey AR 325 Commander.

Pertahanan udara di wilayah Tarakan, Kalimantan Utara menjadi garis terdepan untuk mengamankan wilayah perairan Ambalat.

Untuk itu, TNI AU membentuk Satuan Radar (Satrad) 225 guna memantau pertahanan udara (Hanud) di bawah Komando Sektor Pertahanan Udara Nasional (Kosekhanudnas) II Makassar.

Untuk mamantau pergerakan pesawat asing yang melintas di perairan Ambalat, Satrad 225 mengoperasikan Alutsista Radar type Plessey AR 325 Commander. Dengan adanya radar tersebut, dapat teridentifikasi pesawat ataupun kapal asing yang melintas di perairan Indonesia sejauh 250 mil dari Tarakan.

"Radar type Plessey AR 325 ini buatan Inggris tahun 1990. Radar diinstalasi pada tahun 1992 dan mulai dioperasionalkan sejak 2 Februari 1993 sampai dengan saat ini," ujar Komandan Satrad 225, Mayor Lek M. Suarna Hasal di kantornya, Tarakan, Kalimantan Utara, Rabu (10/6/2015).

Suarna menilai alat komunikasi yang digunakan untuk menunjang operasi di Satrad 225 sudah lengkap. Alat komunikasi yang digunakan yakni Radio HF SSB sebagai radio kodal, Radio GTA VHF sebagai radio monitoring penerbangan, Radio GTA UHF sebagai radio kontrol pengendalian intersepsi pesawat tempur sergap, Radio HT sebagai radio pengamanan markas, dan SBM K3I sebagai alat komunikasi pengiriman hasil operasi baik voice maupun data.

"Alat komunikasi kami lengkap, semua sudah ada progresinya. Kami akan tukar informasi dengan TNI AL apabila KRI menangkap sinyal kapal atau pesawat asing. Personel standby selama 24 jam," terangnya.

"Setiap pemantauan radar Satrad 225 secara otomatis akan tertampil secara real time di pusat operasi Kosekhanudnas II melalui sarana SBM K3I," tambahnya.

Untuk mengenali sasaran, Satrad 225 menggunakan 3 cara. Pertama secara elektonis yakni dengan cara menggunakan data IFF dan memonitor komunikasi antar pesawat, kemudian dengan pengawas lalu lintas penerbangan melalui radio pada frekuensi HF/VHF/UHF.

"Kedua secara korelasi, dengan cara mencocokkan atau mengkorelasikan data sasaran yang tertangkap dengan data penerbangan yang terjadwal. Ketiga secara visual, cara ini dilakukan apabila dengan elektonis dan korelasi tidak bisa, pengenalan dilaksanakan oleh pesawat penyergap dengan kendali intersepsi dan perwira GCI yang berada di radar," paparnya.

Suarna mengeluhkan, dalam 5 bulan ini pesawat Malaysia selalu melakukan pelanggaran dengan melintas di wilayah Indonesia. Saat pesawat Malaysia seharusnya mendarat di Tawau, pesawat malah melintas terlebih dahulu di wilayah perairan Ambalat beberapa menit, baru setelah itu mendarat di Tawau.

"Pesawat Malaysia yang melakukan pelanggaran ada pesawat militer, pesawat sipil, pesawat patroli, dan ada juga pesawat komersil. Harusnya pesawat Malaysia langsung landing di Tawau, tapi sebelum mendarat di Tawau masuk dulu ke sektor Ambalat," keluhnya.

Di radar pesawat yang tidak dikenali akan langsung terlihat dengan tanda warna merah melintas di wilayah Indonesia, namun apabila pesawat dikenali memiliki tanda warna kuning. "Malaysia masuk wilayah Indonesia sampai 30 menit, selama ini kami peringatkan, alasan mereka patroli," jelas Suarna.

  ♔ detik  

Amankan Ambalat, TNI AU dan AL Gelar Operasi Perisai Sakti

Operasi gabungan perisai sakti merupakan operasi gabungan TNI AU dan TNI AL yang dilakukan selama 365 hari sepanjang tahun https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhTOhYNcUvuG3jkraJRG3DupB3bhl3JsWJwOtK-7AlYcyWZwa4PwAZKUmDLUmqKINdThYD0ROKaOvq9RAILhyphenhyphenDlZNhTCC62Lk4kZ7GDXvJbMPNyVcFVqlHCtcPC8OlSUxl7OYlNF0ooCkY/s1600/2058574_20150608125913Credit+to+Eko+Jasindo.jpgAk 630 KRI Kujang (Eko Jasindo)

Klaim Malaysia terhadap wilayah perairan Ambalat membuat pemerintah berang. Akibatnya, Panglima TNI Jenderal Moeldoko membentuk operasi gabungan Perisai Sakti 2015 untuk mengamankan perairan Ambalat.

Operasi gabungan Perisai Sakti 2015 merupakan operasi yang dijalankan oleh TNI AU dan TNI AL. Demi menjaga wilayah Ambalat, kedua angkatan saling bekerja sama mengamankan dari udara dan dari laut dengan alutsista masing-masing.

"Operasi gabungan perisai sakti merupakan operasi gabungan TNI AU dan TNI AL yang dilakukan selama 365 hari sepanjang tahun, dengan melibatkan matra laut dan udara agar lebih efektif," ujar Komandan Lanud Tarakan, Letkol Tiopan Hutapea di Lanud Tarakan, Rabu (10/6/2015).

Untuk alutsista, TNI AU menyiapkan pesawat Boeing 737 Surveilance dan pesawat tempur Sukhoi 27/30, F16 Fighting Falcon, T501 Golden Eagle, T-314 EMB Super Tucano, C-212 Casa, Heli SA-330/Nas 332 serta beberapa unsur satuan radar dan ratusan pasukan khas (Paskhas) TNI AU.

Sementara itu, Komandan Pangkalan Angkatan Laut Tarakan, Kolonel Aries mengatakan operasi gabungan dengan TNI AU merupakan sebuah sinergi yang luar biasa. Sebelum adanya Operasi Perisai Sakti 2015, TNI AL dan TNI AU bekerja sendiri-sendiri dalam mengamankan perairan Ambalat.

"Sekarang komando makin tegas dan jelas," ucapnya.

Demi mengamankan perairan Ambalat, Pangkalan Angkatan Laut Tarakan menyiapkan 3 KRI untuk pengamanan perairan Ambalat. "Ada KRI kelas patroli, KRI kelas cepat KCR, ada juga KRI Sigma Class," terang Aries.

"Kehadiran jajaran TNI AU jawaban paling tepat untuk pengamanan Ambalat," sambungnya.

Menurutnya, permasalahan di laut saat ini agak sedikit menurun. Tantangan pengamanan perairan Ambalat lebih cenderung melalui jalur di udara. "Tapi laut sendiri tetap menjadi perhatian, negara-negara tetangga tetap memanfaatkan zona-zona kosong untuk mereka memasuki wilayah Indonesia," pungkasnya. (tfn/ega)

 ♖ detik  

[World] Jerman Memilih Sistem Pertahanan Lockheed Martin

Dengan biaya sekitar US$ 4,5 miliar http://www.armyrecognition.com/images/stories/news/2015/june/Germany_selects_Lockheed_Martin_s_MEADS_air_defense_system_in_a_4_5bn_deal_640_001.jpgSistem pertahanan udara MEADS

Pemerintah Jerman diberitakan akan membeli sistem pertahanan udara baru dalam beberapa tahun ke depan dengan nilai US$ 4,5 miliar .

Panglima Militer Jenderal Volker Wieker hari Selasa 9 Juni 2015 mengatakan Jerman berencana untuk mengakuisisi Medium Extended Air Defense System (MEADS). Sistem yang dikembangkan oleh perusahaan pertahanan Eropa MDBA dan Lockheed Martin dari Amerika Serikat, untuk menggantikan sistem perisai rudal Patriot pada tahun 2025.

Jerman telah menggunakan sistem perisai Patriot sejak tahun 1989. Meski sistem terbaru perisai Patriot buatan Raytheon telah ditawarkan tetapi tidak dipilih oleh Jerman.

Media Jerman melaporkan bahwa militer ingin membeli delapan atau 10 unit, namun pemerintah belum mengumumkan rencananya secara detail. Akuisisi sistem perisai udara MEADS diperkirakan akan menghabiskan dana sekitar 4 miliar Euro.

Menurut pengembangnya, sistem MEADS memiliki tembak busur 360 derajat, yang berarti dapat menangkal atau mempertahankan terhadap beberapa serangan roket dari arah yang berbeda pada waktu bersamaan. [armyrecognition]

  Garuda Militer  

TNI AD Akan Gelar Latihan Demontrasi Pertempuran

Memadukan kerjasama antar kecabangan dengan berbagai macam Alutsista (Alat Utama Sistem Senjata) yang ada. Sejumlah IFV Marder TNI AD manuver di lapangan

D
alam rangka memelihara dan meningkatkan kemampuan satuan tempur yang diorganisir dengan memadukan kerjasama antar kecabangan dan berbagai macam Alutsista (Alat Utama Sistem Senjata) yang ada, TNI AD akan menggelar Latihan Demonstrasi Pertempuran di Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) Kodiklat TNI AD Martapura – Baturaja, Sumsel.

Latihan yang melibatkan Prajurit dan Satuan jajaran Angkatan Darat dari berbagai macam Kecabangan ini puncaknya dilaksanakan pada tanggal 15 Juni 2015, dan rencananya Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) akan hadir untuk meninjau langsung kegiatan latihan tersebut. Tujuan digelarnya latihan ini, adalah untuk memberikan gambaran kerjasama seluruh kecabangan TNI AD dalam penerapan taktik kecabangan dengan menggunakan Alutsista terbaru TNI AD.

Selain itu, latihan terbesar dan pertama kali yang digelar oleh TNI AD ini, diharapkan untuk meningkatkan profesionalisme prajurit dalam menjaga keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dalam latihan tahun 2015 ini, beberapa Alutsista yang dikerahkan dalam mendukung latihan tersebut seperti Kendaraan Tempur (Ranpur) berupa Tank Scorpion, Tank AMX 13, Tank Marder, Stormer, M113A1, Tank Jembatan Scorpion, AVLB dan Tank Leopard ditambah dengan Panser Anoa dan Panser Tarantula.

Alutsista tersebut akan dicoba dalam medan yang sesungguhnnya. Latihan yang dipusatkan di Daerah Baturaja Sumatera Selatan ini melibatkan beberapa satuan dengan didukung oleh sejumlah perkuatan pendukung lainnya, termasuk satuan tugas penerangan dengan mengikutsertakan beberapa wartawan dari media elektronik dan media cetak. (Pendam II/Swj)

  sriwijayaonline  

Kamis, 11 Juni 2015

[Foto] Patroli Udara Ambalat

Patroli ini merupakan bagian dari Operasi Perisai Sakti 201
Mayor Pnb Agus Dwi A "Wolverine" (kiri) bersama rekannya mengenakan perlengkapan Anti G sebelum menerbangkan pesawat F-16 Fighting Falcon TNI AU di Lanud Tarakan, Kalimantan Utara, Kamis (11/6/2015). WARTA KOTA/ALEX SUBAN
Mayor Pnb Agus Dwi A "Wolverine" mempersiapkan pesawat F-16 Fighting Falcon TNI AU di Lanud Tarakan, Kalimantan Utara, Kamis (11/6/2015). WARTA KOTA/ALEX SUBAN
Mayor Pnb Agus Dwi A "Wolverine" menaiki pesawat F-16 Fighting Falcon TNI AU di Lanud Tarakan, Kalimantan Utara, Kamis (11/6/2015). WARTA KOTA/ALEX SUBAN
Mayor Pnb Agus Dwi A "Wolverine" mempersiapkan pesawat F-16 Fighting Falcon TNI AU di Lanud Tarakan, Kalimantan Utara, Kamis (11/6/2015). WARTA KOTA/ALEX SUBAN
Pesawat F-16 Fighting Falcon TNI AU dipersiapkan di Lanud Tarakan, Kalimantan Utara, Kamis (11/6/2015). Patroli ini merupakan bagian dari Operasi Perisai Sakti 2015. WARTA KOTA/ALEX SUBAN
Pesawat F-16 Fighting Falcon TNI AU melesat dari Lanud Tarakan, Kalimantan Utara, Kamis (11/6/2015). WARTA KOTA/ALEX SUBAN
Pesawat F-16 Fighting Falcon TNI AU melesat dari Lanud Tarakan, Kalimantan Utara, Kamis (11/6/2015). WARTA KOTA/ALEX SUBAN
Pesawat Sukhoi TNI AU melintasi Lanud Tarakan, Kalimantan Utara, Kamis (11/6/2015). Dua pesawat itu dan dua pesawat F-16 melakukan patroli udara di kawasan Blok Ambalat, yang masih menjadi sengketa antara RI dan Malaysia. WARTA KOTA/ALEX SUBAN
Pesawat F-16 Fighting Falcon TNI AU bersiap mendarat di Lanud Tarakan, Kalimantan Utara, Kamis (11/6/2015). WARTA KOTA/ALEX SUBAN
Dua pesawat F-16 Fighting Falcon TNI AU bersiap mendarat di Lanud Tarakan, Kalimantan Utara, Kamis (11/6/2015). Patroli ini merupakan bagian dari Operasi Perisai Sakti 2015. WARTA KOTA/ALEX SUBAN
Dua pesawat F-16 Fighting Falcon TNI AU mendarat di Lanud Tarakan, Kalimantan Utara, Kamis (11/6/2015). Dua pesawat itu dan dua pesawat Sukhoi melakukan patroli udara di kawasan Blok Ambalat, yang masih menjadi sengketa antara RI dan Malaysia. Patroli ini merupakan bagian dari Operasi Perisai Sakti 2015. WARTA KOTA/ALEX SUBAN

  Tribunnews  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...