Pesawat Sukhoi saat flying pass pada perayaan HUT ke-69 TNI di Dermaga Ujung Armada RI Kawasan Timur, Surabaya, 7 Oktober 2014. (CNN Indonesia/Safir Makki)
TNI Angkatan Udara menyatakan siap menghadang jet-jet tempur Malaysia yang berani menerobos lagi wilayah udara RI. Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Udara Marsekal Madya Dwi Badarmanto menegaskan, sebelum ini pun pesawat-pesawat TNI AU pernah mencegat pesawat asing yang memasuki Indonesia tanpa izin.
“Itu misalnya terjadi kepada Pakistan International Airlines yang dijemput pesawat kami dan dipaksa mendarat,” kata Marsma Dwi kepada CNN Indonesia, Kamis (18/6).
Kejadian tersebut terjadi pada Maret 2011. Saat itu pesawat komersial milik maskapai Pakistan International Airlines yang melintas di langit Indonesia tanpa izin diberi peringatan TNI AU. Namun peringatan diabaikan sehingga TNI AU mengirim dua pesawat tempur Sukhoi untuk mencegat (intercept).
Dua Sukhoi RI itu lantas memerintahkan pesawat Pakistan mendarat paksa di bandara terdekat, yakni Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan. Setelah mendarat, diketahui pesawat jenis Boeing 737-300 itu membawa 49 personel militer Pakistan dan hendak terbang ke Dili, Timor Leste, kemudian Kuala Lumpur, Malaysia.
Pesawat carteran tersebut kemudian ditahan di Lanud Hasanuddin dan baru dilepaskan ketika Kementerian Luar Negeri Pakistan selesai mengurus izin terbangnya.
Tiga bulan sebelumnya, Desember 2010, TNI AU juga menahan pesawat Malaysia di Bandara Juanda, Surabaya, Jawa Timur, karena tidak mengantongi izin melintas. Pesawat yang membawa 81 penumpang dan sebagian besar di antaranya merupakan keluarga Kerajaan Negeri Melaka itu ditahan selama lima jam. Termasuk di antara penumpang ialah putra PM Malaysia Najib Razak.
November 2011, pesawat jenis Dassault Falcon 900 bercat putih dengan logo merah yang melintas tanpa izin di sekitar Balikpapan, Kalimantan Timur, juga dicegat dua Sukhoi TNI AU. Pesawat asing yang tertangkap radar Komando Pertahanan Udara Nasional itu segera diapit kedua Sukhoi.
Di dalam pesawat itu ternyata Wakil Perdana Menteri Papua Nugini Belden Namah. Setelah dipepet Sukhoi selama 37 menit, pesawat akhirnya dilepas dan batal ditembak jatuh atas instruksi Komando Pertahanan Udara Nasional.Delapan pesawat AS
Pesawat Sukhoi saat flying pass pada perayaan Hari Ulang Tahun ke-69 TNI di Dermaga Ujung Armada RI Kawasan Timur, Surabaya, 7 Oktober 2014. Jet tempur Sukhoi diandalkan TNI Angkatan Udara dalam mencegat (intercept) pesawat asing yang masuk wilayah udara RI tanpa izin. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Pesawat-pesawat Amerika Serikat juga melanggar wilayah udara RI. Juli 2011 misalnya, pesawat angkut Boeing C-17 Globemaster III berbendera AS terlihat di radar masuk ke RI secara ilegal lewat Pekanbaru, Riau.
Pesawat itu akhirnya dituntun oleh TNI AU keluar dari wilayah udara RI sampai ke Morotai, Maluku Utara, berkat diplomasi yang dilakukan RI dan AS. Meski demikian, pemerintah RI tetap melayangkan nota protes ke AS.
September 2012, pesawat Cessna 208 Caravan milik AS menerobos batas wilayah RI sehingga dipaksa mendarat di Makassar, Sulawesi Selatan, oleh TNI AU. Namun pilot Cessna tak mau mengikuti perintah TNI sehingga dikerahkanlah Sukhoi Su-27 dan Su-30 untuk mencegatnya. Setelah diapit Sukhoi, akhirnya pilot Cessna menurunkan pesawat di Pangkalan Udara Balikpapan, Kalimantan Timur.
Selanjutnya Mei 2013, pesawat militer AS jenis Dornier 328 tertangkap radar TNI AU di Lhokseumawe, Aceh. Pesawat itu terbang dari Maldives menuju Singapura. Dornier AS tersebut pun diperintahkan mendarat di Bandara Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh, dan dilarang terbang sebelum mengantongi izin melintas di wilayah udara RI.
Dua bulan kemudian, Juli 2013, tiga pesawat F-16 Fighting Falcon TNI AU memergoki F/A-18 Hornet milik Angkatan Laut AS melintas dan bermanuver di perairan Bawean, Jawa Timur. Tak tanggung-tanggung, ada lima sekaligus F/A-18 AS yang menerobos wilayah udara RI.
Kelima jet tempur AS itu terbang lebih dari sejam dan berlatih di langit Indonesia. Angkatan Laut AS mengklaim jet-jet itu berada di perairan internasional. Lima F/A-18 Hornet itu bahkan didukung pesawat tempur AS lain yang berada di kapal induk mereka.
Setelah pesawat TNI AU dan AS itu saling berhadapan dalam situasi tegang, para pilotnya akhirnya saling memperkenalkan diri sehingga ketegangan mencair. Tiga F-16 TNI AU dan lima F/A-18 AS pun kembali ke posisi masing-masing, batal beradu.
Kadispen AU Marsma Dwi menyatakan TNI sudah punya prosedur tetap jika pesawat asing tak berizin tertangkap di radar:
✈ Pertama, identifikasi negara asal pesawat.
✈ Kedua, membuka komunikasi dengan pilot pesawat.
✈ Ketiga, memaksa pesawat asing mendarat (forced down). Jika tak mau mendarat.
✈ Keempat, menerbangkan jet tempur RI untuk mencegat pesawat asing itu (intercept). Bila pilot pesawat tak bisa diajak kompromi dan jalur diplomasi tertutup.
✈ Kelima, menembak pesawat. (agk)
Modul ULTRA basic, Sebuah sistem strategis untuk deteksi dan pelacakan rudal balistik dan benda-benda angkasa pada jarak yang jauh.
Modul ULTRA basic. [IAI]
Israel Aerospace Industries (IAI) memperkenalkan radar UHF canggih, Active Electronically Scanned Array (AESA) di Paris Air Show. Radar ini mampu mencari, mendeteksi dan melacak 'target udara', termasuk pesawat siluman, rudal, UAV dan target rudal balistik dari jarak yang jauh, sebagai sistem operasi peringatan dini.
Radar baru ini sudah beroperasi oleh pelanggan yang tidak disebutkan, dikembangkan oleh IAI ELTA Systems Group.
"Rudal balistik menghadirkan ancaman global yang signifikan," jelas Mr Nissim Hadas, IAI Executive VP & ELTA Presiden. "Kami memperhatikan kebutuhan radar peringatan dini di seluruh dunia, yang memungkinkan komandan dan para pengambil keputusan, waktu tambahan yang berharga untuk membuat informasi dan keputusan tentang langkah-langkah defensif yang diperlukan."
ULTRA (ELM2090) merupakan radar peringatan dini, melengkapi radar lainnya, seperti Super Green Pine (ELM2080S) dan Multi-Mission Radar (ELM2084), memberikan peningkatan peringatan dini dari semua jenis ancaman, termasuk pesawat siluman dan pesawat tak berawak (UAS) baik di luar jangkauan sensor yang ada. Setelah target tersebut terdeteksi, jejak target dapat ditransfer ke aset lain yang menyediakan akuisisi target dan pengendalian penembakan.
Modul dasar, ULTRA-C1, terdiri cluster AESA tunggal berukuran 3 × 3 meter. Radar ini dapat berputar 360 derajat, untuk dapat mendeteksi ancaman hingga jarak 500 km untuk pesawat tempur.
Varian lain adalah ULTRA-C6, yang terdiri dari enam cluster dirancang untuk memberikan peringatan dini terhadap satelit, rudal balistik dan target udara lainnya, sedangkan C-22 ULTRA merupakan sistem strategis untuk mendeteksi dan melacak rudal balistik dan benda-benda angkasa pada jarak yang lebih jauh.
Kedua C-6 dan C-22 merupakan radar yang bekerja untuk peringatan dini terhadap serangan rudal, atau untuk ruang pemantauan dan pengawasan.
Radar ULTRA, sudah terbukti secara operasional, menggunakan sistem modular, dapat digunakan sebagai radar pencari target, mendukung semua lapisan pertahanan: Air Defence Surveillance untuk jarak sedang, peringatan dini strategis untuk jarak yang jauh. [defense update]
♞ Garuda Militer
BMP-3 Khrizantema-S Rusia
Rusia dan Uni Emirat Arab (UEA) menandatangani kontrak untuk pengiriman sistem self-propelled antitank unik Rusia, demikian laporan yang dikutip armyrecognition.
"Mengapa Khrizantema-S menarik perhatian rekan-rekan Emirat kita? Karena sistem anti-tank ini mampu menemukan target tanpa visibilitas optik dan menghancurkan semua jenis tank, termasuk model canggih dengan baju besi yang dinamis," jelas Valery Kashin, kepala desainer Kolomna Instrument Manufacturing Design Bureau's.
Rudal antitank Khrizantema BMP-3 (dikenal dengan nama 9P157-2) merupakan perusak tank, yang telah dikembangkan di bawah kepemimpinan Biro Desain KBM Teknik di Moskow dan diumumkan untuk pertama kalinya pada tahun 1996. KBM Khrizantema BMP-3 perusak tank, prototipenya pertama kali diperlihatkan di depan umum pada pertunjukan udara di Moskow akhir tahun 1999.
Khrizantema 9M123 adalah rudal anti-tank Rusia. 9M123 (kode NATO AT-15 Springer) merupakan rudal dengan kecepatan supersonik, terbang pada kecepatan rata-rata 400 m / s atau Mach 1,2 dengan jarak akurat antara 400 sampai 6000 meter.
Produsen mengklaim bahwa tiga rudal perusak tank 9P157-2 mampu menyerang 14 unit tank dengan akurasi sekitar 60%. Sistem penuntun ganda memastikan perlindungan terhadap ancaman gangguan elektronik dan mampu dioperasikan di segala cuaca, siang atau malam hari. [armyrecognition]
♘ Garuda Militer
Kapal tanker Malaysia Orkim Harmony sempat tak terdeteksi radar saat melintas di Tanjung Sedii, Johor, Selat Malaka. Lokasi tersebut disebut-sebut sebagai 'hotspot' para perompak yang kerap melakukan perampasan.
Orkim Harmony dilaporkan hilang pada Kamis (11/6) malam. Seminggu berlalu, Rabu (17/6) kemarin kapal tersebut terdeteksi berada di antara perairan Thailand dan Kamboja.
Meskipun belum ada kejelasan tentang apa yang terjadi selama Malaysia itu hilang, namun cerita perompakan di Selat Malaka seakan menjadi sebuah sejarah panjang. Kejahatan laut di Malaka telah terjadi sejak jaman kerajaan ratusan tahun lalu. Berikut beberapa kasus perompakan yang pernah terjadi di selat yang menghubungkan Indonesia, India, dan Tiongkok ini.
1. Maret 2015: TNI AL Gagalkan Perompakan di Tanjunguncang Batam
Tim Sea Rider Western Fleet Quick Response (WFQR) TNI AL berhasil menggagalkan upaya perompakan terhadap kapal-kapal yang melego jangkar di perairan Tanjunguncang, Batam. Sebanyak enam pelaku diamankan.
Para pelaku diketahui menggunakan pancung kayu bermesin 40 PK. Dari tangan pelaku petugas mengamankan dua bilah katana, sepuluh pisau cutter, kunci pas, obeng, busi dan lainnya.
"Sebelumnya sudah ada laporan masuk dari pengguna jasa laut, IFC Singapura, POCC Singapura dan instansi keamanan negara tetangga, tentang keberadaan para perompak ini," Komandan Guskamla Armabar kala itu, Laksamana Pertama Abdul Rasyid Kacong, Kamis (5/3).
2. April 2014: Kapal Jepang Diserang, 3 WNI Diculik
Sebuah kapal tanker milik Jepang, Naninwa Maru 1, dibajak perompak di Selat Malaka pada akhir April 2014 lalu. Kapal tersebut tengah melakukan pelayaran dari Singapura ke Myanmar.
Dilansir dari Reuters (24/4/2014), pembajakan terjadi 22 April 2012 dini hari waktu setempat. Pelaku diperkirakan sekitar 5 orang.
Komoditi yang diangkut Naninwa Maru 1 saat itu adalah 5 juta liter solar. Sejumlah media lokal menyebut ada 7 WNI yang menjadi ABK di kapal tersebut. Selain itu ada pula warga Thailand, Myanmar, dan India. Tiga dari tujuh WNI dinyatakan diculik.
"Memang ada informasi perompakan itu, jadi saat perompak meninggalkan kapal mereka membawa 3 ABK yang berasal dari Indonesia dari 7 orang WNI yang ada di kapal," ucap Jubir Kemlu saat itu, Michael Tene, Kamis (24/4/2014).
Naniwa Maru I akhirnya berhasil merapat ke pelabuhan utara Port Klang selepas ditunda oleh APMM Malaysia (Agency Penguat Kuasa Maritim Malaysia). Selanjutnya seluruh ABK yang tersisa diperiksa secara intensif.
3. Desember 2014: TNI AL Tangkap 4 Perompak
Satuan gabungan Koarmabar TNI AL berhasil membekuk 4 perompak yang beraksi di kawasan Selat Malaka. Dari tangan mereka juga ditemukan narkoba siap edar.
Berdasarkan pernyataan Panglima Koarmabar kala itu, Laksamana Muda Widodo, Jumat (26/12/2014), target operasi para pelaku yaitu kapal bertonase besar seperti Bulk Carrier dan Tug Boat UMT 6.
Aparat TNI AL mengejar pelaku yang diketahui berada di Pulau Terung, Batam, menggunakan combat boat. Pengejaran berlangsung kira-kira 5 jam pada 25 Desember 2014.
Saat ditangkap, diamankan pula bersama pelaku 1/2 kilogram ganja kering, 104 paket ganja siap edar serta 1 paket sabu-sabu yang siap edar. Pelaku selanjutnya diamankan di Lanal Batam.
4. Desember 2012: Perompak Kapal bermuatan 160 ton BBM Ditangkap
Kapal tug boat yang bermuatan 150 ton solar dan 10 ton premium dibajak di perairan Batam. Beberapa hari kemudian aparat gabungan berhasil menangkap 2 perompak terkait kejadian tersebut.
Komandan Pangkalan TNI AL (Lanal) Batam kala itu, Kolonel Nurhidayat, menyatakan, peristiwa pembajakan terjadi pada 31 Desember 2012. Tanggal 2 Januari 2013, 2 pelaku berhasil ditangkap di daerah Tanjung Riau, Sekupang, Batam.
Berdasarkan keterangan saksi mata, kapal tug boat tersebut berangkat dari Pelabuhan Tanjung Uban, Bintan, menuju Pulau Guntung, Riau. Kedua pelaku langsung menaiki kapal dan mengancam menggunakan parang.
Beberapa ABK dan petugas keamanan kapal diikat dan dibuang di wilayah Kepulauan Riau. Empat ABK dan 3 sekuriti akhirnya berhasil dievakuasi. Mereka tidak mengalami luka sedikit pun.
"Kami selamat lantaran ditolong nelayan yang kebetulan melintas di pulau terpencil itu," kata salah satu ABK, Arifin.
Sementara, tug boat dan tongkang ditemukan mengapung di Perairan Pulau Abang. Kapal yang muatannya sudah berkurang drastis itu kemudian dijaga ketat oleh TNI-AL dan personel Polairud Polda Kepri. (rna/mad)
Jokowi Perintahkan Tindak Tegas Malaysia
Sekretaris Kabinet Andi Widjajanto menyatakan Presiden Jokowi telah mengetahui ketegangan antara Indonesia dan Malaysia di Blok Ambalat, menyusul laporan Panglima TNI bahwa sembilan pesawat tempur Malaysia sepanjang tahun ini menerobos wilayah udara RI di kawasan itu.
“Sudah ada yang disampaikan Presiden ke Menteri Luar Negeri. Kedaulatan dijaga, jangan dikompromikan,” kata Andi di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (18/6).
Panglima TNI Jenderal Moeldoko sebelumnya telah mengirim surat resmi ke Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Koordinator Politik Hukum dan Keamanan, meminta pemerintah RI untuk segera mengirim nota protes kepada Malaysia.
“Jadi (instruksi Jokowi agar) bertindak tegas kepada pemerintah Malaysia terkait Ambalat,” ujar Andi.
TNI khawatir perilaku jet-jet tempur Malaysia yang kerap nyelonong masuk Ambalat berujung pada lepasnya blok laut kaya minyak itu dari tangan Indonesia. “Jika pemerintah tak melayangkan nota protes ke Malaysia, maka bisa terjadi seperti Sipadan dan Ligitan. Alasan Malaysia (dalam kasus Sipadan dan Ligitan) adalah karena mereka melintasi wilayah tersebut dan kita biarkan, tidak kita protes,” kata Kepala Pusat Penerangan Mabes TNI Mayor Jenderal Fuad Basya.
Menurut Fuad, Malaysia hanya berani masuk Indonesia jika wilayah udara Kalimantan dan Sulawesi tak dijaga. “Jika pesawat kita ada di sana, mereka tak mau melakukan itu. Namun jika mereka tahu tak ada pesawat di Tarakan, mereka masuk. Kalau kita kejar dari Jawa, mereka keburu hilang," kata dia.
Ambalat yang terletak dekat perbatasan Kalimantan Timur dengan Sabah, Malaysia, merupakan blok laut kaya minyak seluas 15.235 kilometer persegi yang terletak di Selat Makassar atau Laut Sulawesi.
Wilayah itu kerap menjadi biang keributan Indonesia dan Malaysia mulai dekade 1960-an. Apalagi sejak 1979 Malaysia membuat peta tapal batas kontinental dan maritim baru dengan memasukkan Blok Ambalat ke dalam wilayahnya sehingga memicu protes RI.
Perseteruan kedua negara memuncak pada 2002 ketika Mahkamah Internasional memenangkan Malaysia atas sengketa kepemilikan Pulau Sipadan dan Ligitan yang berada di perairan Ambalat.TNI AU Siap Hadapi Jet Penerobos: Identifikasi, Cegat, Tembak
Falcon Indonesia di Tarakan [suromenggolo]
Tentara Nasional Indonesia memperketat penjagaan di Ambalat menyusul insiden beruntun sepanjang Januari-Mei di mana pesawat tempur asing berkali-kali menerobos masuk wilayah udara RI.
“Ada sembilan kali pelanggaran pesawat asing di Ambalat. Di wilayah itu, logikanya siapa lagi yang menerobos selain Malaysia?” kata Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Udara Marsekal Madya Dwi Badarmanto kepada CNN Indonesia, Kamis (17/6).
TNI AU mengetahui pelanggaran pesawat tempur Malaysia itu dari radar. “Ditangkap radar kami, kemudian langsung kami laporkan ke satuan atas,” ujar Dwi.
Laporan radar inilah yang menjadi dasar permintaan Panglima TNI Jenderal Moeldoko kepada Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Koordinator Politik Hukum dan Keamanan agar pemerintah RI segera melayangkan nota protes kepada Malaysia.
Dwi menyatakan, ada sejumlah prosedur yang dilakukan TNI AU saat mengetahui ada pesawat asing menerobos masuk ke wilayah RI tanpa izin. “Pertama, kami identifikasi pesawat dari mana itu. Kedua, kami kontak pilot pesawat itu untuk memintanya mendarat dan menunjukkan izin terbangnya,” kata dia.
Jika pilot tak mau merespons kontak dan tau mau mendarat, maka TNI AU akan segera menerbangkan pesawat untuk melakukan intercept atau mencegat pesawat asing itu. Keempat merupakan langkah akhir bila pesawat tersebut terkejar namun pilotnya tetap tak mau merespons, ialah dengan melepas tembakan.
TNI AU pernah beberapa kali melakukan prosedur itu, namun tidak pernah sampai menembak karena biasanya pesawat asing mau menuruti permintaan untuk mendarat. Meski demikian, hal berbeda terjadi pada pesawat tempur Malaysia karena jet-jet itu menerobos wilayah udara RI ketika mereka tahu persis zona itu tak sedang dijaga oleh pesawat TNI AU.
“Jika pesawat TNI ada di Kalimantan dan Sulawesi, mereka tak mau melakukan itu. Namun jika mereka tahu tak ada pesawat di Tarakan, Kalimantan, mereka masuk. Kalau kami kejar (dengan menerbangkan pesawat) dari Jawa, mereka keburu hilang," ujar Kepala Pusat Penerangan Mabes TNI Mayor Jenderal Fuad Basya.
Terkait Operasi Sakti yang digelar TNI AU dan Angkatan Laut di Blok Ambalat, Dwi mengatakan itu lumrah dan merupakan operasi rutin di wilayah perbatasan. Operasi Sakti di Ambalat saat ini menurunkan tiga kapal perang (KRI), dua pesawat tempur Sukhoi Su-27 dan Su-30, dan tiga F-16 Fighting Falcon.