Sabtu, 14 November 2015

[World] Pesawat Pembom Nuklir B-52 AS Manuver di Laut China Selatan

Ada dua pesawat pembom yang melakukan misi rutin itu.Pesawat pembom nuklir B-52 Amerika Serikat manuver di Laut China Selatan. (Reuters)

Situasi di Laut China Selatan kembali tegang setelah dua pesawat pembom nuklir B-52 milik Amerika Serikat (AS) bermanuver di dekat pulau buatan China di kawasan sengketa itu. Pesawat pembom nuklir itu mengabaikan teguran keras China yang minta pesawat itu untuk hengkang.

Pentagon mengatakan, penerbangan pesawat pembom nuklir AS adalah misi rutin sesuai hukum internasional. AS tetap menganggap wilayah Laut China Selatan sebagai wilayah internasional, di mana pesawat dan kapal negara mana pun bebas bernavigasi setiap saat.

Kami melakukan penerbangan B-52 di wilayah udara internasional di bagian dunia sepanjang waktu," kata juru bicara Pentagon Peter Cook dalam konferensi pers, kemarin.

Ada satu pesawat B-52, ada upaya yang dilakukan oleh pengendali daratan China untuk menjangkau pesawat itu dan pesawat yang terus melanjutkan misinya. Tidak ada yang berubah,” lanjut Cook, seperti dikutip Russia Today, semalam. Juru bicara pentagon lainnya, menyebut tidak hanya satu pesawat pembom yang bermanuver tapi dua.

Manuver pesawat pembom nuklir AS itu berlangsung 8-9 November 2015. Juru bicara Pentagon lainnya, Bill Urban mengatakan, ada dua pesawat pembom yang melakukan misi rutin itu.

Manuver itu hanya berselang sekitar dua minggu setelah kapal perang AS, USS Lassen bermanuver di wilayah yang berjarak 12 mil dari pulau buatan China di Kepualauan Spratly, Laut China Selatan. Aksi kapal perang AS itu telah diprotes keras Kementerian Luar Negeri China.

Tindakan ini dari kapal perang AS merupakan ancaman bagi kedaulatan dan keamanan China, dan keselamatan orang yang hidup di pulau-pulau itu. Mereka merusak perdamaian dan stabilitas di kawasan itu. Dalam hal ini, pihak China mengungkapkan ketidakpuasan yang ekstrem dan sangat memprotes,” bunyi pernyataan yang ditulis di situs Kementerian Luar Negeri China.

 Enyah dari Pulau Kami! 

Militer China kesal ketika Amerika Serikat (AS) nekat mengirim dua pesawat pembom nuklir B-52 dan bermanuver di dekat pulau buatan China di Laut China Selatan. Militer China mengirim pesan teguran agar pesawat pembom nuklir AS itu hengkang dari kawasan Laut China Selatan.

Pesan teguran itu disampaikan militer China melalui saluran komunikasi radio yang terhubung ke pilot pesawat pembom nuklir B-52 AS. ”Enyah dari pulau-pulau kami!,” bunyi teguran militer China yang ditirukan pejabat AS ketika berbicara kepada The Hill, Jumat (13/12/2015).

Sementara itu, Pentagon mengatakan, penerbangan pesawat pembom nuklir AS adalah misi rutin sesuai hukum internasional. AS tetap menganggap wilayah Laut China Selatan sebagai wilayah internasional, di mana pesawat dan kapal negara mana pun bebas bernavigasi setiap saat.

Ketua Komite Angkatan Bersenjata Senat AS, John McCain, meminta kepala Pentagon, Ashton Carter untuk memperjelas kepada publik terkait payung hukum dari manuver pesawat dan kapal militer AS di Laut China Selatan.

Mengingat dinamika politik yang sensitif dan implikasi hukum dari tindakan kita, sangat penting bahwa tidak ada kesalahpahaman tentang tujuan kami baik dalam kawasan Asia-Pasifik atau di dalam lingkungan masyarakat internasional,” kata McCain dalam suratnya yang ditujukan pada Carter. (mas)
 

  sindonews  

[Foto] A-10 Thunderbolt II

✈ Pesawat Penghancur Tank http://statik.tempo.co/?id=453608&width=620Pesawat pendukung serangan darat, A-10 Thunderbolt II lahir setelah angkatan udara Amerika Serikat dikritik tidak memberi dukungan penuh terhadap pasukan darat pada saat Perang Vietnam. Menjawab kritikan, angkatan udara AS memulai program A-X (Attack Experimental) dimulai pada tahun 1966 yang menghasilkan pesawat A-10. Pesawat serang A-10 mulai diproduksi pada 1975. [military.wikia.com]

Mengenal Pesawat Penghancur Tank, A-10 Thunderbolt II

Spesifikasi A-10 lahir dari diskusi dengan para pilot pesawat tempur A-1 Skyraider yang terlibat pada Perang Vietnam. Pilot-pilot menyebutkan bahwa yang dibutuhkan mereka adalah pesawat tempur yang dapat bermanuver dalam waktu lama, berkecepatan subsonik atau rendah, dipersenjatai meriam otomatis dengan daya penghancur yang besar, dan mampu bertahan dari serangan musuh di darat. [military-today.com]
Mengenal Pesawat Penghancur Tank, A-10 Thunderbolt II

Sebagai pesawat penghancur tank, A-10 Thunderbolt II dipersenjatai dengan meriam otomatis GAU-8/Avenger 30 mm, meriam pesawat yang paling dahsyat yang pernah dibuat. Awalnya, meriam ini memuntahkan peluru dalam dua tingkatan, 2.100 putaran pertingkatan atau 4.200 putaran per menit. Kemudian diubah menjadi satu tingkatan saja, 3.900 putaran per menit. [youtube.com]
Mengenal Pesawat Penghancur Tank, A-10 Thunderbolt II

Pesawat A-10 Thunderbolt II diproduksi oleh Fairchild Republic. Untuk melindungi dari serangan darat, beberapa bagian lambung pesawat dilapisi baja agar pesawat tetap dapat terbang meskipun mengalami kerusakan akibat mendapat tembakan dari darat. Kokpit pesawat dilapisi dengan titanium anti peluru hingga kaliber 23 mm sehingga dapat melindungi pilot dan sistem kontrol pesawat. [tankolet.ru]
Mengenal Pesawat Penghancur Tank, A-10 Thunderbolt II

A-10 Thunderbolt II memiliki delapan cantelan rudal atau bom di sayap dan tiga cantelan di badan pesawat. Sebagai pesawat serang darat A-10 mampu membawa persenjataan seberat tujuh ton. Pesawat ini dipersenjatai dengan rudal udara ke darat Maverick AGM-65B/C, rudal udara ke udara AIM-9L/M Sidewinder, peluncur roket 70 mm LAU-68. Untuk mengalihkan rudal musuh, A-10 dilengkapi dengan decoy. [theaviationist.com]
Mengenal Pesawat Penghancur Tank, A-10 Thunderbolt II

Pesawat A-10 telah teruji dalam beberapa peperangan, seperti Perang Teluk, Balkan, Afghanistan, Irak, Libya, Suriah. Pada Oktober 2015, Amerika Serikat menempatkan 12 pesawat A-10 di Pangkalan Udara Incerlik, Turki untuk mendukung serangan terhadap ISIS di Suriah dan Irak. Amerika telah beberapa kali berusaha mempensiunkan pesawat yang telah beroperasi hampir 40 tahun ini, namun gagal karena tidak disetujui kongres. [janes.com]
  Tempo  

Pemimpin Chechnya Sindir Indonesia dan Negara Islam

Negara-negara Muslim tidak banyak bertindak untuk mengalahkan ISIS.Ramzan Kadyrov

Pemimpin Chechnya, Ramzan Kadyrov menyindir negara-negara dengan penduduk mayoritas Muslim, termasuk di dalamnya Indonesia soal usaha perlawanan terhadap ISIS. Dirinya menilai, negara-negara Muslim tersebut tidak terlalu banyak bertindak untuk mengalahkan ISIS.

"Saya menganggap ini adalah tugas saya untuk menyerukan langsung kepada para pemimpin Arab Saudi, Qatar, Kuwait, Bahrain, Oman, Uni Emirat Arab, Yordania, Maroko, Aljazair, Turki, Iran, Malaysia, Indonesia dan Pakistan," ucap Kadyrov. seperti dilansir Sputnik pada Rabu (11/11).

"Berapa lama Anda akan duduk dan menonton umat Nabi Muhammad Hancur? Mengapa Anda tidak bersatu dan mendiskusikan masalah ini? Mengapa Anda tidak membuat langkah-langkah untuk melawan ISIS? Mengapa Anda tidak mengatakan kepada Amerika Serikat (AS) dan sekutunya: "Sudah cukup!?" tanya Kadyrov.

Dirinya menuturkan, persatuan negara-negara Muslim adalah kunci untuk memecahkan semua masalah yang ada di dunia, termasuk di dalamnya ISIS. Sedangkan, menurutnya keterlibatan AS dan sekutunya dalam semua konflik, hanya semakin memperburuk situasi.

"Ada 1,5 miliar dari kita (Muslim) yang tinggal di luar sana! Kami muda, sehat dan berani dan jika kita bertindak bersama-sama kita tak terkalahkan! Dalam nama Allah SWT, saya meminta Anda untuk berpikir tentang apa yang terjadi, menemukan cara untuk rekonsiliasi dan bekerja di luar mekanisme untuk melawan musuh bersama," tambahnya.
 

  sindonews  

Jumat, 13 November 2015

[World] Mereka Diculik Intel Korea Utara

Operasi Penculikan Korea Utara[NewYork Post]

Sudah lebih dari 30 tahun lewat, Keiko Arimoto hilang, tapi Kayoko Arimoto, sang ibu, terus memelihara harapan, suatu kali nanti Keiko akan pulang. Hanya foto yang sudah buram, yang diambil pada 1970-an, yang jadi pengingat Kayoko pada putrinya itu.

Dalam tidurnya, berulang kali Kayoko mimpi, pesawat Keiko mendarat dan dia menyaksikan putrinya turun dari pintu pesawat. "Aku yakin Keiko masih hidup," kata Kayoko, 76 tahun, beberapa bulan lalu seperti dikutip Guardian. Keiko, kala itu baru 23 tahun dan tengah belajar bahasa Inggris di London, hilang tanpa kabar pada 1983.

Pada 2002, di muka pengadilan di Tokyo, Jepang, Megumi Yao mengaku mendapat perintah dari Takamaro Tamiya, mantan suaminya, untuk menjebak gadis-gadis Jepang yang bersekolah di Eropa dan menerbangkannya ke Korea Utara. Megumi dan Takamaro merupakan anggota kelompok kiri radikal Tentara Merah Jepang. Kedua orang ini terlibat dalam pembajakan pesawat Japan Airlines pada 1970.

Salah satu gadis yang dipancing Megumi adalah Keiko. Megumi mengaku menawarkan pekerjaan di satu perusahaan kepada Keiko. "Aku mendapat tawaran pekerjaan, jadi terpaksa menunda pulang ke Jepang," Keiko memberi kabar kepada kedua orang tuanya. Itulah kabar terakhir dari Keiko. Beberapa pekan kemudian, datang secarik kartu pos yang dikirim Keiko dari Kopenhagen, Denmark. Setelah itu, tak ada lagi surat dari Keiko.

Entah ada berapa banyak warga Jepang yang dijebak atau diculik paksa dan dilarikan ke Korea Utara. Pemerintah Jepang hanya mengakui 17 warganya yang diculik oleh penguasa Pyongyang. Tapi Komisi Investigasi Warga Jepang yang Hilang Terkait Korea Utara (COMJAN) mengklaim menerima hampir seribu laporan dari keluarga korban penculikan.

Hingga 17 September 2002, penguasa Pyongyang, Kim Jong-il, dan anak buahnya selalu bungkam soal kasus hilangnya warga Jepang. Baru pada hari itu, kepada Perdana Menteri Jepang Junichiro Koizumi yang melawat ke Pyongyang, Kim Jong-il terang-terangan mengakui bahwa intel-intelnya-lah yang menculik mereka.

Tapi Jong-il mengaku hanya menculik 13 warga Jepang, lima di antaranya diperkenankan pulang ke Jepang. Delapan korban lainnya, menurut penjelasan Jong-il, telah meninggal. Tapi uji DNA terhadap abu kremasi jenazah para korban yang dikirim dari Pyongyang kepada keluarga membuktikan abu itu milik orang lain.

Tak jelas benar, untuk apa Korea Utara menculik warga Jepang (mereka juga menculik ratusan, bahkan mungkin ribuan, warga tetangganya, Korea Selatan). Sin Gwang-su, intel Pyongyang yang tertangkap di Korea Selatan, mengaku mendapat perintah langsung dari Pemimpin Tertinggi Kim Jong-il untuk setiap operasi penculikan. Apa maksud Kim Jong-il tak bisa diraba. Seperti biasa, protes, kritik, caci maki, tekanan, permintaan keterangan, juga sanksi kepada penguasa Pyongyang lebih sering dianggap sebagai angin lalu. Beberapa hari lalu, harian Tokyo Shimbun mempublikasikan 356 halaman dokumen yang konon dibuat oleh Universitas Politik Militer Kim Jong-il di Korea Utara. Dokumen itu memuat petunjuk latihan bagi intel-intel Pyongyang bagaimana menculik warga negara asing.

"Untuk menculik target, kita harus tahu alamatnya, dari mana dia masuk dan keluar rumah, jalan yang biasa dia tempuh, alat transportasi apa yang dia pakai, dan jadwal dia sehari-hari.... Jika target menolak, kita boleh membunuhnya. Kita tak boleh meninggalkan jejak sama sekali," Tokyo Shimbun mengutip satu halaman dokumen. Harian itu yakin dokumen tersebut sahih dan bisa menjadi bukti bahwa hilangnya warga Jepang merupakan operasi sistematis intel-intel dari Pyongyang.

Bukti itu menambah tekanan kepada Kim Jong-un, yang sudah hampir empat tahun menggantikan ayahnya, Jong-il. Setelah delegasi Jepang dan Korea Utara bertemu di Stockholm, Swedia, setahun lalu, investigasi kasus hilangnya warga Jepang dihidupkan kembali. "Misiku tak akan berakhir hingga korban penculikan bisa bertemu kembali dengan keluarganya," Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe, seperti dikutip Japan Times, berjanji.

 Pingin Bikin Film, Sutradara pun Diculik 

Pada akhir 1970-an, Kim Jong-il adalah putra mahkota alias calon pemimpin tertinggi di negara komunis Korea Utara. Di Pyongyang, setiap kalimat Jong-il adalah titah yang tak boleh dibantah. Setiap perkataannya selalu dipatuhi dan diikuti dengan takzim.

Kepingin pizza, dia memerintahkan anak buahnya menelepon Pizza Institute di Italia untuk mengirimkan juru masak terbaiknya ke Pyongyang. Beberapa hari kemudian, Ermanno Furlanis, sang juru masak, telah mendarat di Pyongyang. Dia diminta mengajarkan cara membuat pizza paling sedap kepada tiga juru masak Kim Jong-il. "Saat aku memasak, mereka mencatat semua detail," Ermanno, kepada BBC, menuturkan pengalamannya.

Ketika Kim Jong-il sedang ngiler membayangkan sushi, anak buahnya dikirim ke Jepang untuk mencari jago bikin sushi. Kenji Fujimoto—bukan nama sebenarnya—datang ke Pyongyang pada 1982 untuk mengajarkan cara membuat sushi kepada juru masak Kim Jong-il. Enam tahun kemudian, dia dipanggil kembali untuk menjadi juru masak pribadi Pemimpin Tertinggi.

Ada satu orang yang bisa membuat Jong-il selalu manut. Dia bukan Kim Il-sung, ayah Jong-il, yang sangat berkuasa, melainkan Shin Sang-ok, sutradara film dari Korea Selatan. Apa pun yang dikehendaki Sang-ok, Jong-il selalu menganggukkan kepala. Bahkan suatu kali, saat tengah menggarap film "Tale of an Escape", Sang-ok berniat meledakkan satu rangkaian kereta untuk menciptakan efek dramatis.

Tanpa beban, Sang-ok mengirim surat permintaan kepada Jong-il. "Aku merasa tak bakal kehilangan apa pun, maka aku sampaikan bahwa aku ingin meledakkan satu rangkaian kereta.... Permintaan itu langsung disetujui," Sang-ok, seperti dikutip Salon, mengenang dengan takjub. "Hanya di Korea Utara hal seperti itu bisa terjadi. Baru pertama kali ini aku membuat film yang spektakuler seperti itu."

Lahir di Chongjin (kini bagian dari Korea Utara), Korea, pada 1926, Sang-ok belajar membuat film di Sekolah Seni Tokyo, Jepang. Pada akhir 1950-an hingga 1960-an, Sang-ok merupakan sutradara paling kondang di Korea Selatan. Perusahaan film miliknya, Shin Films, menjadi "pabrik" film terbesar di Korea Selatan, kala itu, sebelum angin politik pada akhir 1970-an merobohkan bisnis filmnya.

Bagaimana sutradara kondang di Negeri Ginseng bisa menjadi pembuat film di seberang utara perbatasan, di negara yang jadi musuh Korea Selatan? Sejak masih belia, Jong-il memang sudah tergila-gila pada film. Tak puas dengan mutu film dalam negeri, dia memerintahkan staf-staf kedutaan Korea Utara di seluruh dunia untuk mengumpulkan film. Walaupun menjadi orang kedua di negara komunis, Jong-il sangat suka serial James Bond dan Rambo. Bintang film Hollywood favoritnya adalah Sean Connery dan Elizabeth Taylor.

Sang-ok pernah mengunjungi gedung tiga lantai tempat Jong-il menyimpan dan menikmati lebih dari 15 ribu koleksi filmnya. Berada di puncak bukit di Pyongyang, gedung itu dijaga sangat ketat, tak ada bedanya dengan fasilitas militer. Suhu udara di dalamnya selalu dijaga pada titik paling ideal. Ada sekitar 250 orang bekerja di tempat itu. Ada tukang proyektor, ada penerjemah, ada tukang sulih suara, tukang rawat film, dan sebagainya.

Punya koleksi film sangat lengkap tak membuat Jong-il puas. Dia ingin mutu film Made in North Korea tak kalah dari film buatan sutradara-sutradara Korea Selatan. "Kami sudah mengirimkan orang ke Jerman Timur untuk belajar menyunting film, belajar ke Cekoslovakia untuk belajar teknologi kamera dan ke Uni Soviet belajar penyutradaraan," kata Jong-il saat pertama kali bertemu dengan Sang-ok dan Eun-hee. "Tapi usaha kami tak membuahkan kemajuan sama sekali."

Ratusan film telah dibuat, tapi bisa dihitung jari mana film dari Pyongyang yang tak membuat mata sepet. "Saat Anda bertanya kepadaku beberapa waktu lalu mengapa Pyongyang tak menyelenggarakan festival film internasional, aku malu untuk mengakui. Tapi kini harus kuakui bahwa kami tak punya film yang layak dipertontonkan. Kami tak punya film yang akan membuat dunia tertawa dan menangis," kata Jong-il kepada Sang-ok.

Seperti biasa, Pyongyang pilih jalan pintas. Tak punya sutradara bagus, mengapa tak "meminjam" sutradara terbaik di Korea Selatan. Lewat satu operasi khusus, intel-intel Pyongyang memancing Eun-hee datang ke Hong Kong. Dengan berpura-pura menawarinya main film, intel-intel Korea Utara menyergap Eun-hee dan mengirimnya ke Pyongyang dengan kapal. Sang-ok, yang kehilangan istri—mereka sempat bercerai, tapi menikah kembali—dengan gampang dipancing intel-intel kiriman Jong-il dan dikirim ke Pyongyang.

Sebelum akhirnya bertemu dengan Jong-il pada 19 Oktober 1983, Sang-ok sempat dijebloskan ke penjara selama lima tahun lantaran beberapa kali mencoba kabur. Sedangkan Eun-hee disekap di vila-vila milik Jong-il. Seperti ayahnya, Jong-il meyakini bahwa film merupakan alat propaganda yang sangat mangkus untuk menguasai pikiran rakyatnya. Rupanya Jong-il sangat percaya pada Sang-ok.

Demi proyek film Sang-ok, Jong-il mendirikan perusahaan film Shin Film. "Aku tak pernah takut kekurangan duit saat membuat film," kata Sang-ok. Yang tak disangka, Sang-ok relatif bebas bereksplorasi dengan ide-idenya. Tak seperti rata-rata penyandang dana, Jong-il tak pernah turut campur dalam proses pengambilan gambar. "Bahkan dia tak pernah datang melihat lokasi syuting."

Apa pun yang diminta Sang-ok, Jong-il hampir pasti mengabulkannya. "Jika dia minta mesin angin, Jong-il akan mengirimkan helikopter. Jika Sang-ok butuh salju, Sang-ok dan seluruh awaknya akan diterbangkan ke gunung. Jong-il tak pernah berkata tidak," kata Paul Fischer, penulis buku A Kim Jong-il Production kepada New York Times.

Selama hampir delapan tahun menjadi "tamu" Kim Jong-il, Sang-ok membuat tujuh film, di antaranya Salt, The Tale of Shimchong, Hong Kil-dong, dan Love, Love, My Love. Di antara film karya Sang-ok selama di Pyongyang, yang paling kondang adalah Pulgasari. Film itu berkisah soal monster pemakan besi yang membela para petani melawan penguasa. Satu jalan cerita yang tak lazim di Korea Utara.

Sang-ok dan Eun-hee makin dimanja. Pada 1986, pasangan Sang-ok dan Eun-hee mendapat izin untuk melawat ke Wina, Austria, guna mempromosikan film mereka. Sang-ok dan Eun-hee merasa sudah tiba waktunya untuk kabur. Dengan taksi, mereka mengecoh pengawalnya dan lari ke kantor Kedutaan Amerika Serikat di Wina. Mereka minta suaka. "Kami berlari sekencang mungkin," kata Sang-ok. Marah atas kaburnya sang sutradara, Jong-il memerintahkan supaya nama Sang-ok dan Eun-hee disetip dari setiap film mereka. (sap/hbb)
 

  detik  

KRI Cut Nyak Dien-375 Tangkap Kapal Asing Pencuri Ikan

Di Perairan SabangKRI CND-375 berhasil tangkap kapal ikan asing di Perairan Sabang

Setelah kapal kapal lain di di jajaran TNI AL berhasil menangkap kapal illegal fishing, kini giliran KRI Cut Nyak Dien-375 berhasil mengamankan sebuah Kapal Ikan Asing (KIA) asal Malaysia yang telah melintas perairan Indonesia tanpa dokumen yang sah. KRI CND-375 mendeteksi radar kapal sedang berada pada posisi 04 21 100 U-099 16 000 T di sekitar Perairan Sabang, NAD. Kapal yang diketahui bernomor KHF1868 GT itu sedang melakukan penangkapan ikan di ZEE Indonesia.

Pada posisi 04 22 100 U-099 17 010T, kapal berhasil dihentikan yang selanjutnya dilaksanakan pemeriksaan dan penggeledahan oleh para personel KRI CND-375. Usai pemeriksaan, kapal yang dinahkodai Mg Khin Win (Seorang berkebangsaan Myanmar) dengan ABK 3 orang WN Myanmar, atas nama MG Kyaw, Mir Mir Soe, Noi Oo itu telah memiliki beberapa pelanggaran.

Pelanggaran yang dilakukan oleh kapal itu antara lain melakukan pelanggaran batas negara dan menangkap ikan secara illegal/tanpa dokumen yang sah, melakukan penangkapan ikan di ZEEI dengan menggunakan alat tangkap yang tidak sesuai dengan ketentuan, kemudian Nahkoda dan ABK tidak mampu menunjukkan ID/passport/ijin kerja, dan tidak mengibarkan bendera kebangsaan.

Kapal tersebut telah menangkap ikan sebanyak 1,5 ton ikan dari berbagai jenis. Kemudian, kapal dikawal menuju Lantamal 1 Belawan untuk dilaksanakan proses hukum lebih lanjut.

Penangkapan ini menambah rentetan daftar keberhasilan TNI AL dalam melakukan penegakan hukum di laut, yakni dalam memberantas illegal fishing. KRI CND-375 yang dikomandani oleh Letkol Laut (P) Fajar TR itu merupakan sebuah kapal perang jenis korvet kelas Parchim yang dibuat untuk Volksmarine/AL Jerman Timur pada akhir 1970-an.

Menurut Pakta Warsawa penamaan kapal ini adalah Project 133 yang didesain untuk perang anti kapal selam diperairan dangkal atau pantai. Sebanyak enam belas kapal dibuat untuk Volksmarine (1997-1981) dan 12 kapal (versi modifikasi) dibuat untuk AL Soviet pada 1985-1990 oleh Peenewerft, Wolgast.

Pemerintah Soviet memesan kapal ini dengan tujuan untuk menolong industri kapal Jerman Timur, karena saat itu sebenarnya Soviet sudah mempunyai korvet Kelas Grisha yang lebih baik dibanding Parchim dalam semua aspek. Begitu keluar dari perairan dangkal keampuhan dari kapal ini menurun drastis.
 

  JMOL  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...