Jumat, 30 September 2016

[Angkasa Yudha] TNI AU Kerahkan 70 Pesawat Tempur dan 2.200 Personel ke Natuna

Posisi Siap Tempur https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEga_jRonZJW8XqLsw4so-kOzQ8NX91KqKNxxiDY-XQW59BEDoWbQ8Pf2ggoIqJCCLcJU1Mrd4gc7DEfYoHD8miBC6aJzjorL5lhskni_dpmFpFkGnk00dOCQ5G-rZvBgVKdlxgarTZ1_1RV/s1600/Alutista_jenis_Orlikon_ikut_mendukung_latihan_tempur_Angkasa_Yudha_2016_di_Natuna.jpgSalah satu jenis persenjataan yang sudah disiagakan di Natuna. [MAZ/PM]

Upaya TNI menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tak main-main. Laut Natuna yang berpotensi dicaplok negara lain kini benar-benar dijaga.

Buktinya, TNI membuat Pangkalan Militer di Natuna. Bahkan, 3-6 Oktober mendatang, TNI mengerahkan 2.200 personel dengan 70 pesawat tempur, serta beragam alat persenjataan berat lainnya ke Natuna.

Bahkan, Kamis (29/9/2013) pagi tadi, tiga jet tempur TNI AU berpatroli di udara Kepri, hingga udara Batam.

Ya, pengerahan pasukan dan peralatan tempur itu tujuannya untuk latihan menjaga NKRI.

Insya Allah sesuai skedul, lokasinya di sekitar Pangkalan TNI AU,” ungkap Komandan Lanud (Danlanud) Natuna, Kolonel (Pnb), Nurtanio Affan, ketika dijumpai dalam meninjauan persiapan latihan, di Pangkalan TNI AU, Kamis (29/9/2016) seperti dilansir posmetro.co (grup batampos.co.id).

Danlanud Nurtanio mengatakan jika persiapan tempur sudah hampir rampung. Mulai dari kedatangan sejumlah personel TNI AU, Alat Utama Sistem Pertahanan (Alutista), hingga persiapan lokasi sasaran tembak.

  Batampos  

PT Angkasa Pura II Perpanjang Landasan Pacu Bandara Pekanbaru

Targetkan di Tahun 2017 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgQDTXeXWSphW1N9mU5YwB7dC9coOa6U3VZh30cPToo_tOYaXkLn2VM61abJCv0au84PlCWh6jU8iNpACeg8ot7uspE9bYu6MIxF2pDqXwjvc4Ff3vwx52jQ5jJzdH88U_IeeWy_rCSPBZ-/s1600/14192720_hawk+def.pk.jpgHawk TNI AU [def.pk

PT Angkasa Pura II (Persero) Cabang Bandar Udara Internasional Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru, Riau, menargetkan dapat memanfaatkan perpanjangan landas pacu menjadi 2.600 meter awal 2017 mendatang.

General Manager Bandara Sultan Syarif Kasim (SSK) II, Jaya Sirait, di Pekanbaru, Kamis, menyatakan, bandar udara terletak di jantung ibu kota Provinsi Riau itu, hingga kini masih mengoperasikan landas pacu sepanjang 2.240 meter dan lebar 45 meter.

Padahal akhir 2015, terdapat penambahan panjang landasan pacu 360 meter atau menjadi 2.600 meter, tetapi belum bisa difungsikan karena sejumlah kendala.

Kendala pertama yang kini diupayakan untuk diselesaikan adalah pembebasan lahan seluas 2,5 hektare untuk berbagai perlengkapan seperti navigasi, lampu, serta alat lain, seiring dengan penambahan landas pacu sepanjang 360 meter itu.

"Kami juga terus berkoordinasi dengan BPN agar pembebasan lahan dapat segera diselesaikan," ujarnya.

Mereka juga berupaya memindahkan instrumen landing system (ILS) yang saat ini terus digesa.

Selain untuk kepentingan sipil, penambahan panjang landas pacu itu juga akan dirasakan militer. TNI AU memiliki Pangkalan Udara Utama TNI AU Roesmin Noerjadin, yang sangat strategis dari sisi pertahanan fisik negara karena langsung berhadapan dengan Singapura.

Di sana telah ditempatkan Skuadron Udara 12 TNI AU (Hawk 100/200) dan Skuadron Udara 16 TNI AU (F-16 Fighting Falcon Block 52ID).

  Antara  

Atase Pertahanan Inggris Ajak Ikuti Pelatihan ZEE

Kunjungi Bakamla RI https://poskotanews.com/cms/wp-content/uploads/2016/09/kamla-29-a.jpgKepala Bakamla Laksamana Madya TNI Ari Soedewo SE saat menerima atase pertahanan Inggris.

Kepala Bakamla RI Laksamana Madya TNI Ari Soedewo, S.E., M.H. menerima kunjungan Atase Pertahanan Inggris Col. Adrian Campbell-Black yang didampingi Sekretaris Pertama untuk Pertahanan dan Keamanan, Kedutaan Besar Inggris Tom O’Flaherty beserta staf di Kantor Pusat Bakamla RI, Jalan Dr. Sutomo No. 11, Jakarta Pusat, Kamis (29/9/2016).

Kepala Bakamla RI yang didampingi Deputi Informasi, Hukum dan Kerja Sama Eko Susilo Hadi, S.H., M.H. yang juga merangkap jabatan sebagai Plt. Sestama Bakamla, Deputi Kebijakan dan Strategi Irjen Pol. Drs. Satria F. Maseo, S.H., M.M., Deputi Operasi dan Latihan Laksamana Muda TNI Andi Achdar, Direktur Kerja Sama Sandi, S.H., M.H., memberikan sambutan hangat dan menerima kedatangan delegasi dari Kedutaan Besar Inggris dengan antusias.

Kunjungan ini dilatarbelakangi oleh hubungan baik antara Bakamla RI dengan Kedutaaan Besar Inggris yang sudah terjalin sejak Bakorkamla RI berdiri. Pada kesempatan kali ini, Atase Pertahanan Inggris bermaksud mengajak serta dalam kegiatan pelatihan yang akan digelar oleh Kedutaan Besar Inggris dalam bidang zona ekonomi eksklusif. Setiap tahunnya kegiatan ini diadakan sebanyak dua kali, yaitu di Inggris dan di negara-negara tetangga.

Pelatihan ini dimaksudkan untuk memberikan pemahaman yang mendalam mengenai zona ekonomi eksklusif, khususnya kepada negara-negara yang memiliki garis pantai. Selain itu juga sebagai wadah untuk berbagi pengalaman mengenai kasus-kasus yang pernah ditangani di negaranya yang terkait dengan zona ekonomi eksklusif,” ujar Athan Inggris.

Kepala Bakamla RI menyambut baik mengenai undangan tersebut. “Bakamla RI tidak pernah lelah untuk melakukan peningkatan kapasitas, baik itu dalam hal peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) atau sarana dan prasarana (sarpras) yang dimiliki. Aspek SDM yang berkualitas sangat penting untuk dimiliki oleh Bakamla RI. Karena sebaik apapun sarpras yang dimiliki, jika tidak diawaki oleh SDM yang mumpuni dalam bidangnya akan menjadi sia-sia,” imbuh Pati TNI AL berbintang tiga tersebut.

Mengakhiri kunjungannya, Athan Inggris dan jajarannya mengucapkan terima kasih dan kedua belah pihak berharap kerja sama yang baik ini dapat terus terjalin.

Kasubbag Humas Bakamla RI
Kapten Mar Mardiono

  Poskota  

[Dunia] Serangan Saudi di Yaman Sering Salah Sasaran

AS merasa tidak nyaman https://cdn.sindonews.net/dyn/620/content/2016/09/29/42/1143242/serangan-saudi-di-yaman-sering-salah-sasaran-as-gusar-OTY.jpgAS mengaku gusar sekaligus prihatin dengan serangan yang dilancarkan oleh koalisi pimpinan Arab Saudi di Yama (Istimewa)

Amerika Serikat (AS) mengaku merasa tidak nyaman seklaligus prihatin dengan serangan yang dilancarkan oleh koalisi pimpinan Arab Saudi di Yaman. Menurut AS, serangan Saudi di Yaman kurang presisi, dan kerap menghantam wilayah sipil.

"Kami telah berkata jujur pada Saudi tentang keprihatinan kami atas kurangnya presisi dalam beberapa serangan," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri AS, John Kirby dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir Sputnik pada Kamis (29/9).

Pernyataan ini datang setelah Doctors Without Borders menerbitkan dua laporan yang merinci serangan koalisi Arab terhadap fasilitas medis di Yaman yang mengakibatkan 20 orang tewas dan 32 luka-luka.

Sementara itu, Kirby dalam kesempatan yang sama juga menyebut apa yang dilakukan Saudi berbeda dengan apa yang dilakukan Suriah. Koalisi pimpinan Saudi, menurut Kirby, melakukan serangan itu secara tidak sengaja, sedangkan Damaskus melakukannya secara sengaja.

"Serangan yang disengaja oleh pemerintah Suriah dan Rusia di Aleppo tidak sama dengan serangan yang dilakukan Arab Saudi, dimana mereka (Saudi) tidak sengaja membunuh warga sipil di Yaman," ungkapnya. (esn)

 Pasukan Koalisi Saudi Bunuh Jenderal Houthi 
Bentrok, Pasukan Koalisi Saudi Bunuh Jenderal HouthiPasukan Arab Saudi meluncurkan serangan ke wilayah Yaman dari perbatasan. | (REUTERS)

Seorang jenderal pasukan khusus pemberontak Houthi Yaman tewas dalam bentrokan dengan pasukan Koalisi Teluk yang dipimpin Arab Saudi di perbatasan Saudi dan Yaman. Hal itu diungkap sumber di Koalisi Saudi pada hari Sabtu.

Sumber yang dikutip Reuters, Minggu (25/9/2016) mengatakan, Mayor Jenderal Hassan Almalsi, Kepala Pasukan Khusus Houthi, tewas pada hari Kamis ketika mencoba untuk menyusupkan skuad milisi Houthi ke wilayah selatan Najran, Arab Saudi.

Pasukan Koalisi Saudi telah memerangi pemberontak Houthi Yaman sejak Maret 2015 setelah kubu oposisi Yaman itu merebut Ibu Kota Sanaa. Aksi pemberontak Houthi itu membuat presiden sah Yaman, Abd Rabbo Mansour Hadi melarikan diri ke Saudi untuk meminta perlindungan.

Perang di Yaman telah menewaskan lebih dari 10 ribu orang. Pembicaraan damai yang disponsori PBB pada bulan lalu masih gagal mendamaikan pihak yang berseteru di Yaman.

Konflik di Yaman bukan hanya melibatkan pemberontak Houthi dan pasukan Presiden Hadi. Namun, telah meluas menjadi perseteruan regional antara Saudi dan Iran.

Riyadh menilai Teheran sebagai ancaman penting bagi stabilitas di Timur Tengah dan sekitarnya karena memberi dukungan kepada milisi Houthi. Namun, Iran yang menilai Houthi sebagai otoritas sah Yaman, membantah tuduhan Saudi.

Houthi dalam beberapa pekan ini juga kerap menembakkan rudal ke wilayah perbatasan Saudi, namun berhasil dicegat. (mas)

  sindonews  

[Dunia] Kapal Selam Varshavyanka, ‘Lubang Hitam’ Marinir Rusia

Kabarnya, Varshanvyanka merupakan kapal paling senyap di kelasnya. https://cdn.rbth.com/936x624/1x1/999x666/all/2016/06/28/navy_base_rian_02467967_b.jpgKapal selam disel-elektrik Varshavyanka (Proyek 636.6). (Vitaliy Ankov/RIA Novosti)

Angkatan Laut Rusia memperkuat potensi tempur Armada Laut Hitamnya dengan menghadirkan kapal selam disel-elektrik terbaru Varshavyanka (Proyek 636.6). Empat kapal selam tipe ini telah beroperasi di Laut Hitam dan dua lainnya akan bergabung pada November mendatang. Saat ini, mereka masih menjalani uji coba di Teluk Finlandia dan Laut Baltik. Kapal selam ini kabarnya merupakan kapal paling senyap di kelasnya. Secara tak resmi, militer NATO menyebut kapal selam ini sebagai ‘lubang hitam’ di samudra.

Proyek 636 merupakan kapal selam disel-elektrik generasi ketiga. Mereka dikembangkan di Biro Desain Rubin, menggunakan kapal selam Paltus sebagai basisnya. Namun, sistem elektronik dan efektivitas tempur mereka dipertajam. Selain itu, kapal selam ini juga mendapat tambahan sistem radio-elektronik dan hidroakustik terbaru.

Dengan panjang 74 meter dan lebar 10 meter, serta bobot tak lebih dari empat ribu ton, kapal selam ini tergolong kecil. Kedalaman desain tekanan lambung ialah 240 meter dan kedalaman operasi maksimalnya 300 meter.

Varshavyanka dilengkapi dengan dua generator disel bertenaga 1.500 tenaga kuda, satu motor elektrik pendorong, serta satu motor elektrik ekonomi. Selain itu, kapal selam juga memiliki dua mesin disel yang stand-by dan dua set baterai elektronik. Kecepatan maksimal kapal selam mencapai 17 knot (lebih dari 30 kilometer per jam) di daratan dan hingga 20 knot dalam posisi menyelam.

Senjata utama kapal selam ini ialah rudal jelajah Kalibr. Sementara, di bagian hidungnya Varshavyanka memiliki enam tabung torpedo berukuran 533 mm. Perangkat standar amunisi terdiri dari 18 torpedo atau 24 ranjau dan rudal jelajah Kalibr-PL, yang mampu menghantam target sejauh 2.000 km.

Varshavyanka mampu mengidentifikasi kapal musuh dan target lain pada jarak maksimal, mendekati dan memantau mereka tanpa terekspos, dan jika perlu mengerahkan senjata canggih yang mereka miliki. Tugas utama kapal selam ini ialah melindungi markas marinir dan rute laut serta menyerang kapal selam musuh dan kapal permukaan. Ia juga dapat melakukan misi pengintaian dan patroli di laut dan menghantam infrastruktur pesisir menggunakan rudal jelajah.

Galangan Kapal Sankt Petersburg telah membangun sebuah keluarga yang terdiri dari enam kapal selam untuk Armada Laut Hitam. Tiap kapal diberi nama berdasarkan nama-nama kota yang dinobatkan sebagai Kota Kejayaan Militer, antara lain Novorossiysk, Rostov-na-Donu, Stary Oskol, dan Krasnodar. Kapal kelima (Veliky Novgorod) dan keenam (Kolpino) diberi nama sesuai kota kuno Rusia di sebelah barat laut negara dan pinggiran Sankt Peterburg.

Pada Forum Army 2016 yang digelar di luar kota Moskow awal September lalu, produsen kapal mendapat pesanan enam gelombang kapal selam untuk Armada Pasifik yang dibangun pada periode 2019 – 2021.

Di Pasifik, Varshavyanka akan memperkuat potensi tempur AL Rusia di Timur Jauh. Mereka mampu mengarungi perairan internasional Laut Cina Selatan dan Laut Jepang, ‘dengan sunyi’ memantau perkembangan terbaru wilayah tersebut.

Sebelumnya, kapal ini telah memamerkan kemampuan tempur mereka dalam aksi nyata pada Desember 2015 lalu saat operasi militer Rusia di Suriah. Kapal selam Rostov-on-Don submarine (B-237) menembakan satu putaran misil jelajah Kalibr-PL terhadap infrastruktur yang dikuasai ISIS di Provinsi Raqqa, Suriah. Itu merupakan searngan misil kapal selam Rusia pertama terhadap musuh sungguhan.

  ♚ RBTH  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...