Rabu, 15 November 2017

KSAD minta Pemerintah segera sikapi penyanderaan di Papua

Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Mulyono mengimbau kepada pemerintah dan DPR untuk segera bersikap menyangkut kasus penyanderaan masyarakat sipil yang dilakukan oleh kelompok bersenjata di lokasi yang tidak jauh dari Freeport, Papua. Sebab, mereka merupakan kelompok separatis.

"Itu separatis, berdasarkan UU harus ditumpas dan diberantas. Jadi ternyata, dalam kegiatan ini tentara ada payung hukumnya. (Kami) mengimbau kepada pemerintah dan DPR harus mengambil sikap dibagaimanakan (kelompok bersenjata)," ujarnya kepada wartawan di Pusdikif Pussenif Kodiklat AD, Cipatat, Selasa (14/11).

Menurutnya, pihaknya terus mengikuti perkembangan kasus penyanderaan tersebut dan menilai kelompok bersenjata banyak membuat pernyataan yang mengundang provokasi. Kelompok bersenjata yang menyatakan perang dengan Indonesia, menurut Mulyono, sangat merugikan masyarakat.

"Ini kan merupakan ancaman yang tidak main main. Ancaman serius," ungkapnya. Menurutnya, tanpa payung hukum yang jelas TNI tidak bisa berbuat apa-apa disana. Apalagi kondisinya bukan dengan status darurat militer. Saat ini berdasarkan Undang-Undang pihaknya mem-back-up kepolisian.

"Dia nantang kepada kita. Kita serahkan kepada pemerintah dan DPR. Sebab TNI tidak bisa berbuat tanpa ada payung hukum. Selama ini masih membackup kepolisian karena UUnya masih begitu," katanya.

Jenderal TNI Mulyono mengatakan pihaknya akan bertindak dalam koridor hukum yang benar. Apabila Undang-Undang mengamanatkan TNI turun langsung (dalam kasus penyanderaan), ia mengaku siap dan sudah mempersiapkan pasukan dalam rangka membuat Papua lebih kondusif. "Yang kita lakukan dalam upaya Papua agar kondusif. Kita ingin mengangkat derajat mereka," ungkapnya.

   Republika  

Selasa, 14 November 2017

Peluru Kendali UGM Bisa Angkut Dua Kilogram Bom

Rudal karya UGM

Dosen dan mahasiswa UGM sukses melakukan uji coba terbang peluru kendali (rudal) hasil karya mereka. Penelitian pertahanan ini digadang bisa memberikan sumbangsih alat utama sistem senjata (alutsista) di tanah air.

Sebuah rudal diberi nama Pasopati sukses melepaskan diri dari pelontarnya berupa susunan pipa paralon kecil diikuti dengan suara desingan. Pipa itu hanya berfungsi sebagai alas agar rudal dengan nyaman melesat. Sirip rudal sempat nyaris menyentuh tanah, tetapi kemudian moncongnya sukses menjulang menyapa langit.

Perlahan rudal itu menjelajah di udara seolah mencari mangsa yang ingin dihancurkan. Sekitar tiga menit rudal berputar-putar di atas lapangan terbang Gading, kemudian sang operator memilih mendaratkannya di rerumputan kawasan itu agar tidak terjadi kerusakan. Suara sorak kegembiraan terlihat dalam uji terbang yang dilakukan Tim Riset Aeronautika UGM di Lapangan Terbang, Gading, Playen, Gunungkidul, Sabtu (11/11/2017) lalu.

Empat mahasiswa Teknik Mesin UGM merasa bangga dan lega setelah melihat rudal itu mengudara. Mereka antara lain Ivan Valiant Susanto, Yosua Ari Kurniawan, M Abdul Ghani, dan Andika Ramadhan yang turut dalam proses penelitian, pembuatan manufaktur hingga uji terbang. “Begitu bisa terbang, kami lega dengan riset kami,” ungkap Ivan kepada Harian Jogja, Senin (13/11/2017).

Pasopati menjadi rudal pertama buatan UGM. Pembuatan rudal memang bukan perkara mudah karena bagian dari riset pertahanan sehingga referensi sulit didapat. Ivan merasakan hal tersebut, dengan referensi yang serba minim, ia harus melakukan trial and eror untuk menghasilkan riset terbaik. Selain keempat mahasiswa tersebut tiga dosen lainnya yang paling berjasa atas karya itu adalah Gesang, M Agung Bramantya, Iswandi dan Isnan Nur Rifai dari Fakultas Teknik UGM.

Rudal ini memiliki panjang 170 sentimeter dengen diameter 17 sentimeter dan berat kosong 0,9 kilogram. Moncong rudal dipoles dengan warna kuning yang juga di bagian tengah badan rudal. Kemudian sisi atas dan kedua sayap rudal diwarnai putih. Sementara, keempat sirip di belakang serta bagian bawah didominasi biru.

Di tubuh dekat dengan sirip rudal bertuliskan EDF power, artinya rudal masih menggunakan kekuatan penggerak electric ducted fan (EDF). Selain lebih mudah dikendalikan namun kekuatannya menyerupai turbojet. Dengan EDF sekaligus untuk mendapatkan data kendali sebagai referensi pengembangan rudal ke depannya.

Rudal ini didesain untuk operasi rahasia agar tidak terdeteksi radar musuh. Menjadi unggul, karena mampu terbang rendah mengikuti kondisi permukaan bumi untuk menuju sasaran dengan maksimal ketinggian 100 meter. Kemampuan terbang itu akan menyulitkan radar ketika akan melakukan deteksi. Rudal yang baru dikembangkan pada generasi pertama di 2017 ini mampu mengangkat beban atau bom dengan berat dua kilogram.

Penelitian selanjutnya pada 2018 rudal itu akan dikembangkan menggunakan penggerak turbojet sehingga jangkauan sasaran bisa mencapai 100 kilometer dan mampu mengangkat beban lebih besar. “Sekarang payload-nya dua kilogram. Ya nanti [mampu membawa bom] sekitar tiga kilo [gram] lah,” ujar Ketua Tim Peneliti Rudal Pasopati UGM Gesang.

Sebelum diluncurkan, tim melakukan penelitian dengan waktu sekitar delapan bulan. Target uji terbang perdana di Lapter Gading sudah lebih dari cukup. Karena awalnya ditarget hanya secara manual, tetapi hasilnya kemarin sudah dapat dilakukan secara autonomus dengan mengikuti sejumlah titik yang sudah diprogram melalui software.

Saat itu proses peluncuran diatur tidak menuju ke suatu titik sasaran tertentu. Sehingga hanya melakukan terbang lalu kembali lagi ke lapangan udara Gading dengan jarak pengaturan sekitar lima kilometer. Pada penelitian awal ini rudal tersebut mampu terbang sejauh 50 kilometer. “Belum [menembak sasaran], karena kami masih eman-eman [sayang] kalau ditembakkan, dalam proses penelitian,” terang Dosen Teknik Mesin UGM ini.

Kendala yang dihadapi dalam proses pembuatan rudal antara lain, bahan seperti motor penggerak dan mesin yang harus diimpor. Proses pembuatan menggunakan mesin computer numerical control (CNC) yang harus benar-benar presisi. Bahan utama bodi rudal terbuat dari komposit fiber glass menggunakan teknologi vakum dalam proses pembuatan yang seluruhnya diproduksi di UGM.

Butuh dana sekitar Rp 40 juta untuk membuat satu rudal seperti dalam prototipe awal alias mampu mengangkat dua kilogram beban. Tim Peneliti Aeronatika UGM berharap rudal tersebut dapat dijadikan sebagai salah satu alutsista oleh TNI. Kerja sama telah dilakukan tim bersama Lanud Adisutjipto untuk bersama-sama menggunakan hasil penelitian tersebut.

   solopos  

Ngapain Beli Pesawat Tidak Bisa Nembak

Tinggal tanda tangan sayaPesawat Sukhoi SU-35

Pemerintah terus berupaya menuntaskan proses pembelian 11 unit pesawat tempur generasi 4++, Sukhoi SU-35.

Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu, menyebut bulan depan, penandatangan kontrak akan dilakukan antara pemerintah dengan pihak produsen.

Tinggal tanda tangan saya bulan depan, sudah setuju, presiden sudah saya laporkan,” ujarnya kepada wartawan di kantornya, Jakarta Pusat, Selasa (14/11/2017).

Total pembelian 11 unit pesawat tempur buatan Russia itu, adalah sekitar Rp 16 triliun, yang dibayar melalui skema imbal dagang.

Ryamizard Ryacudu menyebut pihak produsen pesawat Sukhoi sudah setuju, setengah dari Rp 16 triliun itu, dibayar oleh pemerintah Indonesia dengan komoditas.

Kita beli (pakai) duit tidak semuanya, perdagangan kita maju, karet segala macam, jadi kementerian pertahanan membawa dampak ekonomi juga,” ujarnya.

Setelah tandatangan kontrak pembelian dilakukan, dibutuhkan waktu sekitar dua tahun untuk membangun 11 unit pesawat tersebut, lalu diterbangkan ke Indonesia.

11 Unit pesawat Sukhoi SU-35 itu rencananya akan dioperasikan oleh Skadron Udara 14, di Lanud Iswahyudi, menggantikan pesawat F-5 yang sudah 19 bulan pensiun.

Ryamizard Ryacudu menegaskan yang dibeli oleh pemerintah tidak hanya 11 unit pesawat Sukhoi SU – 35, akan tetap juga dengan sejumlah persenjataannya yang cangguh.

Ia tidak merinci persenjataan macam apa dibeli, namun ia memastikan pesawat tersebut siap tempur.

Sebelas (unit) dengan lengkap senjata, siapa bilang tidak lengkap, ngapain kita beli pesawat tidak bisa menembak,” katanya.

   Tribunnews  

Senin, 13 November 2017

UGM Sukses Uji Rudal Pasopati

rudal pasopati [gatra]✈️

Tim riset aeronautika Universitas Gadjah Mada (UGM) DI Yogyakarta bersama TNI AU Lapangan Udara Adisutjipto berhasil menerbangkan peluru kendali (rudal) generasi pertama. Rudal bernama Pasopati itu sukses diluncurkan pada Sabtu (11/12) di Lapangan Terbang Gading, Wonosari, Gunungkidul.

Perencanaan pembuatan rudal Pasopati dimulai awal tahun ini dan akan berjalan tiga tahun ke depan. Riset ini didanai sepenuhnya oleh Kemenristekdikti melalui Skema Unggulan Perguruan Tinggi,” kata Ketua Tim Gesang Nugroho, di lokasi peluncuran, Minggu (12/11).

Pada tahap pertama riset, tim fokus pengembangan rudal pada aspek desain dan manufaktur rudal dengan jarak tempuh 30-50 kilometer. Baru pada tahun ketiga, yakni 2019, tim fokus pengembangan rudal dengan daya jelajah 100 kilometer.

Dalam ujicoba itu, Pasopati berhasil take off dan terbang stabil pada ketinggian 100 meter dengan kecepatan maksimum 130 kilometer per jam. Pasopati berhasil menempuh jarak 5 kilometer dengan waktu terbang 3 menit.

Gesang menjelaskan, rudal elektrik yang berhasil dikembangkan ini didesain untuk misi penyerangan dengan target sasaran diam dan mampu terbang rendah agar tidak terdekteksi radar.

Dengan panjang 170 cm, berdiameter 17 cm dan berat kosong 0,9 kilogram, rudal Pasopati memiliki spesifikasi penggerak Electric Ducted Fan (EDF). Dengan daya jangkau 30-50 km, rudal ini mampu menembus kecepatan 100-200 km per jam.

Sebelum ujicoba ini, tahap akhir berupa Design Requirement and Objective (DRO), Conseptual Design, Preliminary Design dan Detail Design sudah dilakukan Pasopati dan semua dinyatakan lulus,” lanjut Gesang.

Pemilihan EDF sebagai pendorong elektrik menurut Gesang karena memiliki karakteristik yang hampir sama dengan turbojet. Bahkan EDF memiliki keunggulan yaitu mudah dikendalikan.

Tim yang beranggotakan Agung Bramantya, Iswandi, dan Isnan Nur Rifai ini diharapkan mengembangkan data kendali untuk riset selanjutnya.

Ke depan, tim akan fokus pada penggunaan pendorong turbojet untuk menambah jarak tempuh dengan kecepatan maksimal. Kami juga akan mengembangkan penambahan akurasi dan sistem produksi yang efisien,” kata Agung.
 

  Gatra  

Dubes Arab Saudi Kunjungi Kemhan

Minggu Lalu, Delegasi dari Arab Saudi Kunjungi PT PindadAlusista produk PT Pindad di ujicoba delegasi KSA [def.pk]

Menteri Pertahanan Republik Indonesia Ryamizard Ryacudu menerima kunjungan kehormatan Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia Osama bin Mohammed Abdullah Al-Shuaibi, Senin (13/11) di kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta.

Dalam kunjungan ini dibicarakan mengenai peningkatan kerja sama kedua negara di bidang pertahanan yang sudah terjalin sangat erat. Kedua negara ingin memperkuat kerja sama dalam memerangi terorisme dan radikalisme.

Selain itu, Dubes Arab Saudi juga menyampaikan bahwa belum lama ini Delegasi dari Kementerian Pertahanan Arab Saudi melakukan kunjungan ke Devisi Amunisi PT Pindad di Malang dan berkesempatan melakukan uji coba amunisi buatan Indonesia.

Minggu lalu ada delegasi dari Kementerian Pertahanan Arab Saudi kunjungan ke PT Pindad di Malang, mereka melakukan uji coba amunisi dan sangat puas dengan kualitas amunisi produksi Indonesia”, ungkapnya.

Turut mendampingi Menhan RI dalam kesempatan tersebut Dirjen Strahan Kemhan Mayjen TNI Yoedhi Swastanto dan Kapuskom Publik Kemhan Brigjen Totok Sugiharto.
 

  Kemhan  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...