Rabu, 24 Januari 2018

Pesawat “Hari Kiamat” AS Mendarat di Bandara Soetta

✈️ Pesawat Boeing E-4B terlihat berada di bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (23/1/2018). [Handout]

Pesawat langka Boeing E-4B “Doomsday” terlihat berada di bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten siang ini, Selasa (23/1/2018). Keberadaan pesawat tersebut dikaitkan dengan kunjungan Menteri Pertahanan AS, Jim Mattis ke Indonesia.

Foto pesawat berbadan putih dengan antena satelit MILSTAR di punggungnya itu beredar di media sosial sejak Selasa pagi ini.

Pesawat E-4B adalah pesawat komando strategis yang dioperasikan oleh Angkatan Udara AS (USAF). Pesawat ini berbasis desain pesawat Jumbojet B747-200. Oleh NATO, pesawat ini dijuluki sebagai “Pesawat Hari Kiamat” atau “Doomsday Plane”.

Julukan itu diberikan sebab E-4B bakal difungsikan sebagai kantor kepresidenan, manakala perang nuklir pecah. Pesawat ini juga biasanya mengikuti pesawat kepresidenan Air Force One saat kunjungan ke berbagai negara.

Angkatan Udara AS memiliki empat unit E-4B yang dioperasikan oleh skadron 1st Airborne Command and Control Squadron yang bermarkas di Offutt Air Force Base, dekat Omaha, Nebraska.

E-4B menyandang nama resmi National Airborne Operation Centres (NAOC). Pos komando udara ini mengangkut pemimpin-pemimpin tinggi AS dan pucuk-pucuk pimpinan militer.

Dari pesawat ini, mereka bisa memberikan komando ke seluruh angkatan bersenjata AS, manakala terjadi perang nuklir, dan unit-unit di darat lumpuh akibat radiasi nuklir.

Boeing E-4B beroperasi sejak 1970 Pesawat ini masih menggunakan teknologi analog. Alasannya, untuk menghindari serangan cyber. Kursi engineer di dalam kokpit juga masih dipertahankan (konsep kokpit lama dengan tiga kru).

Dari pesawat ini, Presiden AS juga masih bisa menghubungi kapal selam-kapal selam pembawa misil nuklir jika sistem komunikasi di darat sudah lumpuh.

  ✈️ Kompas  

Selasa, 23 Januari 2018

Menhan Sebut Ada Peluang Indonesia Tambah Alutsista dari AS

✈️ Ilustrasi Pesawat F16 block 40 & 50 USAF [f16.net]

Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengatakan ada kemungkinan Indonesia akan menambah sejumlah alat utama sistem persenjataan (alutsista) dari Amerika Serikat.

Ryamizard menuturkan Indonesia juga telah membeli sejumlah pesawat tempur F-16 dari Amerika Serikat.

"Kemudian ke depan pasti ada [penambahan] karena makin tahun kan ada yang harus diganti, kan pesawat terbang sudah tua," kata Ryamizard usai bertemu dengan Menhan AS James Mattis di Kantor Kemhan, Selasa (23/1).

"Kalau mobil, 100 tahun masih jalan. Kalau pesawat 50 tahun kan ngeri juga," imbuhnya.

Namun, Ryamizard menyebut Indonesia tidak akan membeli alutsista dalam jumlah besar dari AS dalam tiga sampai empat tahun ke depan.

Sebab, Ryamizard menuturkan Indonesia tidak memiliki kebutuhan mendesak terhadap alutsista sebagai kebutuhan untuk berperang.

Indonesia kan enggak perang, perang kita kan sama teroris, teroris kan enggak pakai gituan [senjata militer],” ucapnya.

Saat ini, kata Ryamizard, AS juga tengah mengurangi jumlah alutsista yang dimilikinya, sehingga Indonesia akan lebih mudah jika ingin membeli dari AS.

Namun Ryamizard mengungkapkan tak akan begitu saja membeli alutsista dari AS karena harus melihat anggaran yang dimiliki oleh Kemhan.

"Ya [beli] kalau ada duitnya," kata Ryamizard. (end)

  ✈️ CNN  

TNI AL Sebar Kapal Patroli ke 14 Lantamal

✈️ KRI 860 Torani, salah satu kapal patroli TNI AL [TNI AL]

TNI Angkatan Laut (TNI AL) resmi melakukan pemisahan komando kapal-kapal Satuan Kapal Patroli (Satrol) kepada 14 Satuan Keamanan Laut (Satkamla) Pangkalan Utama TNI AL (Lantamal) dari Komando Kawasan Armada (Koarmada) Barat dan melantik Komandan Satrol Lantamal lewat sebuah upacara pagi ini. Kapal-kapal itu kini disebar ke 14 Lantamal yang berada di seluruh Indonesia.

KSAL Laksamana TNI Ade Supandi mengatakan, tujuan dari pemisahan komando kapal Satrol untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi jika dibutuhkan reaksi cepat dalam mengamankan wilayah perairan.

Sekaligus, merespons berbagai kerawanan, melakukan operasi keamanan laut, tanggap dalam bencana jika membutuhkan kedatangan kapal patroli tersebut segera.

"Misal ke Natuna, laut Jawa, laut Aru, didukung dari satuan patroli di sana, baru untuk nanti yang terpusat nanti kapal kombatan saja," ucap Ade Supandi sebagai inspektur upacara di Dermaga Sunda Komplek Satuan Koarmabar I, Pondok Dayung, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Senin (22/1/2018).

Sebelum dilakukannya pemisahan, jika dibutuhkan respons cepat dari datangnya kapal Satrol, maka harus melewati proses administrasi dan berangkat dari daerah tertentu terlebih dahulu. Waktu yang dibutuhkan untuk tiba di lokasi yang dibutuhkan pun menjadi lebih lama.

"Karena (sebelumnya) terpusat di Surabaya dan Jakarta, kemudian dikerahkan ke laut menunggu lama. Jadi harus ada markas komando Lantamal," ujar Ade.

Kini, Satkamla Lantamal sudah memiliki kapal dan otoritas sendiri untuk menggerakan komando di daerahnya.

Tersebarnya kapal Satrol di 14 Lantamal pun otomatis menjadikan pergerakan kapal menjadi lebih cepat untuk tiba di lokasi yang dibutuhkan.

Harapannya, persoalan-persoalan di laut seperti illegal fishing, illegal mining, illegal logging, drugs trafficking dan people smuggling dapat terselesaikan dengan cepat.

"Kalau kita punya seperti di Jayapura, nanti akan lebih mudah untuk oprasi dari laut," kata Ade.

Upacara pemisahan komando kepada 14 Lantamal dan pelantikan Komandan Satrol Lantamal pun berlangsung khidmat. Upacara dihadiri para Pejabat Utama Mabesal dan para Pangkotama TNI AL dengan Komandan Upacara Kolonel Laut (P) Johannes Djanarko Wibowo.

  ✈️ Liputan 6  

Indonesia looks to U.S. to relax limits on its special forces

✈️ Indonesia asked for pricing for an additional 48 F-16 aircraft✈️ Pesawat TNI AU [TNI AU]

Indonesia said on Tuesday it was pinning its hopes on U.S. Defense Secretary Jim Mattis to help ease American limitations on ties with an elite Indonesian special forces unit, imposed over human rights abuses in the 1990s. The United States announced in 2010 that it had lifted its outright ban on U.S. military contacts with the Indonesian special forces unit, known as Kopassus, which was accused of rights abuses in East Timor as it prepared for independence.

But legal restrictions meant to ensure the U.S. military does not become entangled with rights abusers prevented contacts with Kopassus from advancing beyond preliminary levels, U.S. officials say.

"For a while there have been sanctions against Kopassus ... (Mattis) will try to remove this," Indonesian Defense Minister Ryamizard Ryacudu told reporters in Jakarta, following talks with the U.S. defense chief.

"One of the sanctions is clearly that they are not allowed to go to America. They can't do training together, and he will reopen this."

Mattis expressed hope for deepening defense ties with Indonesia but he did not directly address Kopassus in his remarks to the press after talks with Ryacudu in Jakarta.

U.S. officials told reporters traveling with Mattis that they were exploring possible ways to expand contact with Kopassus, while complying with U.S. law.

 North Natuna Sea 
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhwxPaLwZTP0qsX92yDl-QVYg_YH-_k1F8_cNlHxRi9gAwzrzWP3yWW1ebI2Tj7UogoUhtCT_pzv5pi6it-s-90doZL75Ael7pXjtmo_oTE9bB0z7wh_2n3p537ex198-Y7DE2xXAlriTM/s1600/TS-4.jpgMattis' trip came as Indonesia, a vast archipelago of 17,000 islands, appears increasingly ready to assert its sovereignty in the contested South China Sea.

Indonesia has clashed with China over fishing rights around the Natuna Islands, detaining Chinese fishermen and expanding its military presence in the area in recent years.

In July, Indonesia renamed the northern reaches of its exclusive economic zone in the South China Sea as the North Natuna Sea, a move seen as a significant act of resistance to China's territorial ambitions in the South China Sea.

Mattis seized upon Indonesia's name for the waterway as he praised the country's strategic maritime reach, calling the country "a maritime fulcrum of the Indo-Pacific area."

"It's critical," Mattis said of Indonesia.

"We can help maintain maritime domain awareness in the South China Sea, the North Natuna Sea. This is something that we look forward to doing."

The United States is one of Indonesia's top arms suppliers, recently delivering Boeing's Apache helicopters and 24 of Lockheed Martin's F-16 fighter jets. But Indonesia also buys arms from U.S. rivals, including Russia.

U.S. officials said Indonesia asked for pricing for an additional 48 F-16 aircraft, a deal which could be worth $4.5 billion. But Indonesia played down any imminent purchase and suggested it was still evaluating how many more aircraft it needed.

Ryacudu said Indonesia would buy weaponry when it "has the money."

"We only just bought F16s and everything. In (the) future there will definitely be (more purchases) because, as the years go by, there are things that must be replaced," he said.

  ✈️ Yahoo  

AS Keberatan RI Beli Sukhoi

✈️ Ungkap Menhan✈️ Menhan Ryamizard Ryacudu menerima kunjungan Menhan AS James Mattis (Foto: Rengga Sancaya/detikcom)

Menteri Pertahanan (Menhan) RI Ryamizard Ryacudu menyebut adanya keberatan dari Amerika Serikat (AS) apabila RI membeli pesawat Sukhoi dari Rusia. Namun, menurut Ryamizard, pemikiran seperti itu harus dikesampingkan.

"Alutsista ini kan orang dulu kan dia agak keberatan kita membeli Sukhoi, tapi dia sampaikan, memang orang bijak. Saya akan sampaikan pada Kongres itu pemikiran itu harus dibuang," ujar Ryamizard saat konferensi pers bersama Menhan AS James Norman Mattis di Gedung Jenderal Soedirman, Kementerian Pertahanan (Kemenhan), Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Selasa (23/1/2018).

Ryamizard mengatakan RI bisa saja mengambil kesempatan membeli alutsista dari AS apabila ada anggarannya. Namun, menurutnya, saat ini alutsista RI sudah cukup.

"Ya kalau ada duitnya (beli alutsista AS)," ujar Ryamizard sembari tertawa.

Menurut Ryamizard, pembelian alutsista akan disesuaikan dengan usia masing-masing alutsista. Pembelian tergantung dari kebutuhan.

"Makin tahun kan ada yang harus diganti, kan tua-tua sudah pesawat terbang," ujar Ryamizard.

"Saya rasa sementara cukup, kenapa? Kita kan nggak perang. Perang kita kan sama teroris, teroris kan nggak pakai gituan," imbuh Ryamizard.

Sebelumnya Ryamizard bertemu dengan Mattis dalam pertemuan tertutup. Berbagai hal menjadi pembahasan keduanya termasuk tentang alutsista, Korea Utara, dan ISIS. (dhn/dhn)

  ✈️ detik  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...