Sabtu, 13 April 2019

Kemenhan Beli Helikopter PT Dirgantara Indonesia

Seharga 237 M Ilustrasi Helikopter TNI AU

Kementerian Pertahanan hari ini menandatangani serangkaian kontrak pengadaan alat utama sistem pertahanan atau alutsista untuk kebutuhan TNI di kompleks PT Pindad. Salah satunya pembelian helikopter Super Puma NAS-332C1+ buatan PT Dirgantara Indonesia dengan nilai Rp 236,987 miliar.

Penandatanganan kontrak ini merupakan komitmen PT Dirgantara Indonesia untuk dapat selalu memenuhi kebutuhan operasi serta tugas pokok dan fungsi TNI AU yang merupakan wujud dari peningkatan kemandirian industri pertahanan dalam negeri,” kata Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia Elfien Goentoro, dikutip dari keterangan tertulisnya, Jumat, 12 April 2019.

Penandatanganan kontrak pembelian helikopter Super Puma tersebut dilakukan oleh Pejabat Pembuat Komitmen, Badan Sarana Pertahanan (Baranahan) Kementerian Pertahanan Republik Indonesia, Brigjen TNI Bambang Kusharto dan Direktur Niaga PT Dirgantara Indonesia (Persero) (PTDI), Irzal Rinaldi Zailani disaksikan oleh Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu.

Dalam kontrak tersebut meliputi pembelian satu unit helikopter Super Puma NAS-332C1+ berikut pelatihan penerbang dan teknisi, publikasi teknis, serta suku cadang. Helikopter tersebut nantinya mengusung Avionic Glass Cockpit, sensor optik AHRS (Attitude Heading and Reference System) dan teknologi FMS (Flight Management System).

Selain itu ada juga instrumen pengaturan rencana terbang (Flight Plan), SAR Direction Finder untuk menangkap sinyal ELT (Emergency Locator Transmitter), NVG (Night Vision Goggle), Weather Radar, serta Emergency Floatation untuk pendaratan darurat di atas air.

Helikopter Super Puma NAS-332C1+ memiliki kemampuan untuk terbang selama 4 jam dengan kecepatan maksimal 306 kilometer per jam. Tak hanya itu, helikopter tersebut mampu mengangkut 18 pasukan serta 3 kru.

Helikopter ini merupakan heli jenis angkut berat multi guna yang bisa digunakan untuk military transport, cargo, paratroop transport, medical evacuation, serta VIP. Heli tersebut juga akan dilengkapi Hoist untuk evakuasi korban dari salah satu sisi pintunya. Helikopter buatan PT Dirgantara Indonesia tersebut juga dilengkapi sling yang mampu membawa barang hingga kendaraan dengan beban maksimal 4,5 ton.

  ⚓️
Tempo  

Jumat, 12 April 2019

Kemenhan Pesan Tank dan Panser Cobra ke PT Pindad

Totalnya 18-20 unit Panser Cobra 8x8 nama baru panser Pandur untuk TNI

Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu baru saja meneken kontrak pembelian alutsista produksi PT Pindad, senilai US$ 215 juta. "Ini termasuk Medium Tank produk kerja sama PT Pindad dan FNSS Turki yang dinamai Tank Harimau. Kemudian kita buat sendiri. Kebetulan yang beri nama Harimau ini kita,” kata Ryamizard di kompleks PT Pindad, Bandung, Jumat, 12 April 2019.

Kementerian Pertahanan menyatakan memesan panser Cobra 8x8 untuk kavaleri, dan Tank Harimau 105 untuk infanteri kepada PT Pindad. “Itu bukti inovasi teknologi anak-anak bangsa dalam mendukung kebutuhan alutsista TNI Angkatan Darat,” kata Ryamizard.

Direktur Bisnis Dan Pertahanan Keamanan PT Pindad, Widjajanto mengatakan, nilai kontrak pengadaan panser Cobra yang dipersenjatai senjata berat kaliber 30 milimeter itu sebesar US$ 80 juta. Sementara nilai kontrak pengadaan Tank Harimau sebesar US$ 135 juta. “Cobra 8x8 dan Tank Harimau ini proses pengadaannya 3 tahun harus selesai semua,” kata dia.

Widjajanto mengatakan, dua kendaraan tempur itu ditargetkan rampung sekaligus. Namun, ia belum bisa memastikan jumlah masing-masing kendaraan tempur tersebut. “Estimasinya sekitar 18-20 unit totalnya. Tapi tergantung, semakin banyak yang diminta fitur senjatanya, akan semakin mahal,” kata dia.

Menurut Widjajanto, Tank Harimau tersebut nantinya diproduksi semua di Pindad. Tank tersebut tidak berbeda dengan tank yang diproduksi di Turki. “Ini join development. Sama-sama punya hak cipta untuk menjual. Cuma Pindad tidak bisa menjual ke Eropa, dan dia enggak bisa jual ke Asia. Ada pembagian wilayah, marketing boundary,” kata dia.

Widjajanto mengatakan, kontrak pengadaan selebihnya dengan Kementerian Pertahanan untuk memenuhi pesanan amunisi senjata ringan dengan nilai kontrak tahun jamak seluruhnya Rp 448 miliar. “Amunisi itu kontrak reguler. Nilainya hampir setengah triliun rupiah, itu akhir tahun penyelesaiannya. Bagian dari multiyears kontrak yang berlangsung antara Kemenhan dan Pindad,” kata dia.

  ⚓️ Tempo  

PT Pindad Jajaki Ekspor 120 Unit Tank Harimau

Ke Asia Selatan Medium Tank Pindad

PT Pindad tengah menjajaki ekspor Tank Harimau di beberapa negara di dua kawasan Asia yaitu negara-negara di ASEAN dan di Asia Selatan.

"Kita sedang ikut tender, di salah satu negara ASEAN dan di negara Asia Selatan. Di ASEAN 44 unit, kalau yang di Asia Selatan 120 unit," kata Direktur Bisnis Produk Pertahanan Keamanan PT Pindad, Widjajanto di Komplek Pindad, Bandung, Jumat, usai acara penandatanganan kontrak alutsista, Jumat, 12 April 2019.

Namun Widjajanto enggan menyebutkan lebih spesifik nama negara tujuan ekspor tank tersebut. "Jangan nyebut nama negara, ya. Nanti saya disemprit," ucapnya.

Tank Harimau merupakan hasil kerja sama PT Pindad dengan Turki. Tank tersebut dikembangkan masing-masing oleh dua negara tersebut. Untuk pemasarannya, telah disepakati bahwa Indonesia akan menjual tank ke negara-negara di Asia, sementara Turki memasarkan tank ke negara-negara di Eropa.

Widjajanto mengatakan, saat ini pembuatan tank tersebut telah memiliki kadar kandungan lokal untuk bahan material sekitar 60-70 persen. Untuk baja, masih dilakukan impor, mengingat belum ada yang mengembangkan di Indonesia.

Tank Harimau merupakan kendaraan tempur tank medium modern. Dikembangkan bersama antara PT Pindad dengan FNSS Turki. Tank tersebut bila di Indonesia dinamai Harimau, di Turki dinamai Kaplan MT.

  ⚓️
Tempo  

Kemhan Gandeng BUMN dan BUMS

Sediakan Alutsista Rp 2,1 Triliun Medium Tank Pindad

Sejumlah BUMN dan BUMD bidang industri pertahanan menjalin kerja sama dengan Kementerian Pertahanan (Kemhan) dalam pengadaan Alutsista TNI senilai Rp 2,1 triliun. Kerja sama disahkan dalam penandatanganan kontrak di PT Pindad, Kota Bandung, Jumat (12/4/2019).

Menhan Ryamizard Ryacudu mengatakan proses kerja sama kali ini sangat berbeda karena dilakukan secara cepat, akuntabel dan transparan dari sebelumnya. Hal tersebut merupakan komitmen pemerintah dalam mewujudkan industri pertahanan Indonesia yang berstandar internasional.

"Saya memerintahkan Sekjen (Kemhan) untuk melakukan akselerasi dalam mendukung alutsista TNI secara cepat dan tepat sasaran," ujar Ryamizard dalam sambutannya.

Saat ini, kata dia, industri pertahanan sudah masuk dalam era globalisasi yang baru. Tentu saja itu berimbas pada persaingan dan ketergantungan antara satu negara dengan negara lainnya.

Ryamizard mengatakan dengan seperti itu maka sudah saatnya industri pertahanan Indonesia mengubah maindset dari negara konsumen menjadi produsen.

"Berdasarkan riset, Indonesia diprediksi menjadi raksasa ekonomi baru dunia. Hasil itu akan didorong dengan meningkatnya industri pertahanan dalam negeri. Indonesia punya SDM dan SDA besar sebagai modal yang harus dimanfaatkan untuk kemajuan industri pertahanan dalam negeri," tutur Ryamizard.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjP8erhXDjmX-TbIfm12YVRVRZvvEIIrNBPsWG4HwXq78uqjs3yXWwvkfEVx9wii2Brw5wHjVtqGLL3HSGa8AuCdpNM99B74msrl0ahtENUTk2T2prxkHvd0Px0Zu_uWSuDtLBTyHFOVmKY/s1600/LEN+Radar+200km.jpgRadar LEN

Ia pun meminta agar BUMN dan BUMS bisa mendukung pemerintah dalam mewujudkan industri pertahanan nasional bersaing di dunia. "Ini bukan ambisius tapi realitas yang harus diwujudkan. Oleh karenanya kita tunjukkan pada dunia alutsista Indonesia dalam negeri memiliki performa yang prima dan handal. Sehingga dunia akan melirik Indonesia sebagai negara produsen alutsista potensial," ujar Ryamizard.

Sementara itu Dirut PT Pindad Abraham Mose menilai jika acara tersebut adalah yang pertama dan terbesar, juga tercepat yang dilakukan antara Kemhan dan sejumlah industri pertahanan nasional.

"Hari ini dilakukan penandatanganan secara keseluruhan dengan 1,4 miliar US$ atau Rp 2,1 triliun. Ini satu hal dukungan pemerintah dalam industri pertahanan. Kita harap semua bisa diselesaikan tepat waktu dan tepat jumlah," kata Abraham.

Dari data yang dihimpun terdapat 9 BUMN dan BUMS yang menyepakati kerja sama tersebut. Mereka adalah PT Pindad, PT PAL, PT DI, PT LEN, PT Dahana, PT Merpati Wahana Raya, PT Megah Perkasa, PT Bandar Abadi dan PT Prasandha Dumayasa. (tro/dna)

  ⚓️
detik  

Kemhan Tandatangani Kontrak Alutsista Rp 2,1 T dan 1,4 miliar dolar AS

Termasuk pembelian kapal selam batch kedua Peresmian kapal selam ke 3, KRI 405 Alugoro di Surabaya, Kemaren [antara] ⚓️

Kementerian Pertahanan menandatangani 22 kontrak untuk pengadaan alat utama sistem persenjataan strategis (alutsista) dan konstruksi senilai Rp 2,1 triliun dan 1,4 miliar dolar AS di kompleks PT Pindad, Bandung, Jakarta, Jumat.

Penandatanganan kontrak yang terdiri dari 18 kontrak Alutsista dan tujuh kontrak terkait pembangunan konstruksi tersebut disaksikan langsung oleh Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu.

Termasuk diantaranya penandatanganan pembangunan Kapal Selam kerja sama PT PAL dan Daewo Shipbuiliding and Marine Engineering Co Ltd, yang kedua.

Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengatakan, penandatanganan ini merupakan dukungan pemerintah guna mewujudkan industri pertahanan di tanah air yang mandiri, profesional dan berdaya saing.

"Penandatanganan ini juga mencerminkan komitmen pemerintah dalam pengadaan alutsista yang lebih cepat transparan dan akuntanbel," katanya dalam sambutan sebelum penandatanganan.

Menhan berharap industri pertahanan nasional dapat terus berinovasi, menjadi industri yang mandiri dan berdaya saing, sehingga diakui oleh dunia.

"Ke depan diharapkan industri pertahanan dapat menjembatani kebutuhan alutsista," katanya.

Direktur Utama PT Pindad dalam sambutannya mengatakan, mengapresiasi penandatanganan kontrak tersebut sebagai dukungan pemerintah kepada industri pertahanan nasional.

Menurut dia, penandatangan kontrak kali ini yang tercepat dan yang terbesar dengan melibatkan pihak BUMN maupun badan usaha swasta nasional.

Sementara itu, ke-18 kontrak alutsista tersebut untuk pengadaan alutsita diantaranya kendaraan tempur infanteri (PT Pindad), MKK (PT Pindad), Jatri Infanteri (PT Pindad), kendaraan alat khusus nubika (PT Merpati Wahana Raya), Kendaraan Jihandak (PT Merpati Wahana Raya).

Kapal Selam Elektrik Diesel (PT PAL yang bekerja sama dengan Daewoo), Kapal Motor Commando (PT Megah Perkasa), Kapal AT 8 dan 9 (PT Bandar Abadi), Infrastruktur Simulator Sukhoi (PT LEN), Heli NAS 332C1 (PT LEN dan PT DI), Bom P 250 Live (PT Dahana), Kendaraan Decon Truck (PT Merpati Wahana Raya), Ran Shop Contract Maintenance (PT Prasanda Dumayasa).

Sementara tujuh kontrak untuk pengadaan konstruksi senilai Rp 106 miliar adalah pembangunan lanjutan Rumah Sakit TNI AL dr Komang Makes Lantamal I Belawan, pembangunan lanjutan gedung sarana dan prasarana Pasmar I, pembangunan lanjutan Mess TNI AU di Jl Budi Kemuliaan, Jakarta.

Pembangunan lanjutan Lapangan Udara R Sajad Ranai, pembangunan lanjutan sarana dan prasarana Yon Armed 10/2/1 Kostrad Bogor, pembangunan lanjutan garasi dan gudang Alberzi serta prasarana PRCPB dan perbatasan Kodam XII/Tpr Mempawah, pembangunan lanjutan garasi dan gudang Alberzi serta prasarana PRCPB dan perbatasan Kodam VI/Mlw Samarinda.

  ⚓️
antara  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...