Sabtu, 15 Agustus 2020

Perusahaan Yunani Kuasai Pembangunan Sistem C4ISR TNI

  https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhCCMUebrvUHLHkVEKyLgbOOFXSr-gOWR0HGRV1ZWgthkt-dmXcuJjKpf76dBEg_R06f2BveBE0YFtcOcxebPO4fKloSRv-7A-rPoVeLgHx5TIa3MFBwibIQpKUgKRm2GwkP4qv8fCEki4/s400/photo_2_olokliromenes_lyseis_dialeitoyrgikotitas_gia_enaeria_thalassia_kai_epigeia_mesa.webpC4ISR system [Scytalys​]

Ternyata Kementerian Pertahanan Indonesia di bawah pimpinan Letnan Jenderal (purn) Prabowo Subianto telah menyepakati kontrak pembangunan sistem pertahanan terintegritas pertahanan darat, laut dan udara Tentara Nasional Indonesia (TNI) kepada perusahaan Yunani, Scytalys.

Dikutip VIVA Militer dari situs resmi Scytalys, Sabtu 15 Agustus 2020, hak kuasa perusahaan raksasa Yunani atas pembangunan sistem ini didapatkan melalui tender kompetitif terbuka yang akan diimplementasikan dalam jangka waktu 3 tahun.

"Kami sangat menghargai pemberian kontrak ini, yang kami anggap penting secara strategis, karena akan memungkinkan TNI untuk memperoleh Tautan Data Nasional, sistem, teknologi, dan fasilitas C4ISR yang diperlukan untuk membangun Kerangka Interoperabilitas mereka dan melakukan interoperabilitas mereka. Pusat operasi jaringan layanan ke masa depan. Scytalys berkomitmen dalam memberikan solusi siap pakai yang akan sepenuhnya memenuhi persyaratan Kementerian Pertahanan Indonesia," kata CEO Scytalys, Dimitris Karantzavelos.

Menurut Scytalys, perjanjian kontrak itu mencakup pembangunan beberapa elemen, yang utamanya adalah pembangunan Command, Control, Communication, Computer, Intellegence, Surveilance, and Reconnaisance (C4ISR).

Scytalys mengungkapkan Indonesia bukan negara pertama di Asia yang membangun sistem C4ISR. Jauh sebelumnya sudah ada Jepang dan Korea Selatan. Mereka juga pernah membangun sistem penglihatan malam dan pencitraan termal bernama Theon Sensors.

"Keberhasilan ini didahului dengan pemberian kontrak lain untuk Scytalys di wilayah timur, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di Korea Selatan dan Jepang. Perusahaan siap untuk memanfaatkan tren global dalam melipat gandakan nilai tambah dari berbagai aset pertahanan dengan menghubungkannya bersama-sama," kata Nick Papatsas, Anggota Dewan Scytalys, mewakili EFA Group, pemilik utama Scytalys.

Perusahaan negeri para dewa itu mengatakan, C4ISR sangat dibutuhkan bagi negara manapun di dunia termasuk Indonesia untuk menghadapi peperangan modern. Sebab semua komando operasi dalam perang akan berada dalam satu pusat komando yang berjaringan.

 Rp 730 Miliar untuk C4ISR TNI 
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgzGgwO2h70ktSL83vwCAliz3302iEt66B47xPPOOfRUlABs98UqYR-nsPEaFUTOIP0-uuc9AoMNZH25y8Fje0FDFRn4IuPOjXRjJnzN_Ap0k36piLrDRuIQafPcV1qsj1qV146ObcKiT4/s1600/EaZ9jqhUwAEObIJ.jpgPerusahaan raksasa negeri dewa Yunani, Scytalys dipastikan telah menjadi penguasa atas pembangunan sistem pertahanan terintegritas pertahanan darat, laut dan udara Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Kepastian Scytalys akan menancapkan kukunya di Indonesia diketahui dari siaran resmi yang diterbitkan situs mereka.

Dikutip VIVA Militer, Sabtu 15 Agustus 2020, disebutkan dalam kesepakatan kontrak dengan Kementerian Pertahanan Republik Indonesia, Scytalys mendapatkan nilai kontrak sebesar 49 juta Dollar Amerika atau setara Rp 730 miliar.

Dan Scytalys mengaku kontrak sebesar itu didapatkan dari kementerian yang dipimpin Letnan Jenderal (purn) Prabowo Subianto melalui tender terbuka dan transparan.

Scytalys menerangkan, dana sebesar itu akan digunakan untuk membangun beberapa elemen yang akan menguatkan sistem pertahanan TNI yang terpusat atau disebut dengan Command, Control, Communication, Computer, Intellegence, Surveilance, and Reconnaisance (C4ISR).

"Pusat operasi jaringan layanan ke masa depan. Scytalys berkomitmen dalam memberikan solusi siap pakai yang akan sepenuhnya memenuhi persyaratan Kementerian Pertahanan Indonesia," kata CEO Scytalys, Dimitris Karantzavelos. Indonesia bukan negara pertama di Asia yang membangun sistem C4ISR. Jauh sebelumnya sudah ada Jepang dan Korea Selatan. Selain membangun sistem C4ISR, Scytalys juga pernah membangun sistem penglihatan malam dan pencitraan termal bernama Theon Sensors.

Scytalys mengatakan, C4ISR sangat dibutuhkan bagi negara manapun di dunia termasuk Indonesia untuk menghadapi peperangan modern. Sebab semua komando operasi dalam perang akan berada dalam satu pusat komando yang berjaringan.

 ♖ VIVAnews  

Pesawat NC212i, Produksi PTDI Terbaik di Segmen Pesawat Ringan

✈ Telah memproduksi pesawat NC212 sebanyak 116 unit untuk dalam negeri maupun luar negeri. ✈ PTDI telah mengirimkan 2 unit NC212i pada tanggal 22 Oktober 2019 dan 10 November 2019 kepada Ministry of Agriculture and Cooperatives (MOAC) Thailand. [PTDI]

PT Dirgantara Indonesia (Persero), yang sebelumnya bernama Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) ini merupakan salah satu perusahaan aerospace di Asia.

Perusahaan tersebut memiliki kompetensi inti dalam desain dan pengembangan pesawat, pembuatan struktur pesawat, produksi pesawat, dan layanan pesawat untuk sipil dan militer dari pesawat ringan hingga menengah.

Sejak didirikan pada tahun 1976, sebagai perusahaan milik negara di Bandung, Indonesia, PTDI telah berhasil mengembangkan kemampuannya sebagai industri kedirgantaraan.

Dikutip KabarLumajang.com dari laman resmi PT Dirgantara Indonesia, NC212i merupakan salah satu pesawat versi pengembangan dari seri C212-400.

Pengembangan dan produksi NC212i (versi perbaikan NC212-400)) dilakukan dibawah perjanjian kerjasama strategis dengan Airbus Defense & Space, Spanyol.

Pesawat ini dilengkapi performa tinggi dengan berbagai macam konfigurasi yang telah terbukti tangguh digunakan dalam berbagai jenis lingkungan dan misi yang berbeda.

Dengan design yang simple untuk proses perawatan, menjadikan pesawat ini efisien dalam biaya operasional maupun perawatan sehingga mampu menjadikannya pesawat terbaik di segmen pesawat ringan.

PTDI telah mengirimkan 2 unit NC212i pada tanggal 22 Oktober 2019 dan 10 November 2019 kepada Ministry of Agriculture and Cooperatives (MOAC) Thailand.

✈ N219, pesawat produksi PT DI merupakan sejenis dengan NC212i.  [PTDI]

Pesawat terbang NC212i yang dibeli oleh Ministry of Agriculture and Cooperatives (MOAC) Thailand, dapat digunakan sebagai passenger transport, VIP, cargo, rain making, troop/paratroop transport dan medical evacuation yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan operasional.

PTDI telah berhasil memproduksi pesawat NC212 sebanyak 116 unit untuk dalam negeri maupun luar negeri, dari total sebanyak 587 unit populasi pesawat NC212 series di dunia.

Beberapa operator dalam negeri yang menggunakan pesawat NC212 series adalah TNI AU, TNI AD, TNI AL, Kepolisian, BPPT.

Pesawat NC212 series tersebut digunakan untuk pesawat angkut sipil, militer dan Maritime Surveillance Aircraft (MSA).

Sementara operator luar negerinya adalah negara Thailand untuk pesawat angkut militer dan modifikasi cuaca (rain making), Filipina, dan Vietnam untuk pesawat angkut militer.

PTDI sampai saat ini telah berhasil melakukan pengiriman pesawat dan helikopter, baik dalam dan luar negeri, sebanyak 450 unit.

Dalam menjaga kompetensi produk yang dimilikinya, PTDI akan terus mengembangkan teknologi dari pesawat-pesawat yang diproduksi.***

  Pikiran Rakyat  

Anggaran Kementerian Pertahanan 2021 Rp 137 Triliun

Terbesar Keduahttps://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi6EW2CCeJxcIDednPrZhIIzSRzebezOD0Pg4knyz4rORVhusTlwE7wT9JUjuHd_i9MaIHvRWs2l4OxWUGavUmwY2vBvd3AoV5G5cD0gkDbDY8IjjiOCEcqedkQL4lGkEXlISlB1K8PuC9k/s750/Sukhoi+dan+PKR.pngIndonesia perlu mordernisasi alutsista udara dan laut.

Anggaran sejumlah Kementerian/Lembaga pada 2021 tercatat mengalami peningkatan. Misalnya Kementerian Pertahanan (Kemenhan), yang dipimpim Menteri Pertahanan Prabowo Subianto.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan anggaran Kementerian Pertahanan tercatat Rp 137 triliun lebih tinggi dibandingkan outlook 2020 sebesar Rp 117,9 triliun.

"Kalau kita lihat kebutuhan Kemenhan untuk alutsista dan perawatan. Itu catching up kebutuhan yang menjadi prioritas Kemenhan," kata Sri Mulyani dalam konferensi pers virtual, Jumat (14/8/2020).

Anggaran Kemenhan adalah kedua terbesar tahun depan setelah Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Anggaran Kementerian PUPR pada RAPBN 2021 sebesar Rp 149,8 triliun, outlook 2020 Rp 75,6 triliun.

Sri Mulyani mengatakan tidak ada deviasi dari anggaran ini. "Namun memang Kemenhan ini adalah penekanannya adalah kemampuan mereka mengeksekusi belanja, ini saya minta mereka benar-benar menggunakan anggaran itu. Belanja Kemenhan juga diharapkan bisa meningkatkan industri strategis Indonesia," jelas dia.

Berdasarkan data pokok APBN 2016-2021 belanja pemerintah menurut fungsi untuk pertahanan pada 2016 sebesar Rp 98,2 triliun.

Kemudian naik menjadi Rp 117,5 triliun pada 2017. Lalu turun menjadi Rp 106,83 triliun pada 2018, menjadi Rp 115,4 triliun pada 2019.

Lalu pada 2020 Rp 117,9 triliun dan dianggarkan pada 2021 sebesar Rp 137 triliun.

 ♖ detik  

BNPB Datangkan Heli Raksasa Chinook dan Blackhawk

Untuk Antisipasi Karhutla https://www.indomiliter.com/wp-content/uploads/2020/08/chinook.jpgHelikopter angkut berat CH-47D Chinook dengan logo BNPB memasuki pesawat cargo [Instagram @military_buzz]

Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) mendatangkan helikopter angkut berat Chinook CH-47 dan Blackhawk UH-64 untuk antisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhuta).

Helikopter itu kabarnya disewa dari perusahaan di luar negeri, dan kabarnya ditempatkan di Pangkalan Udara Sultan Mahmud Badaruddin, Palembang.

Benar,” kata Egy Massadiah, staf ahli Kepala BNPB Letjen TNI Doni Monardo kepada Tribunjogja.com, saat ditanya kebenaran informasi kedatangan dua heli itu, Jumat (14/8/2020).

Egy Massadiah mengatakan, penjelasan resmi dan selengkapnya sedang disiapkan, dan akan disampaikan pimpinan BNPB.

Terutama terkait kedatangan armada udara kelas berat itu di Indonesia, serta siapa perusahaan yang menyewakan, dan untuk berapa lama akan dioperasikan di Indonesia.

Kabar keberangkatan dan kedatangan kedua helikopter besar itu beredar di media sosial, dan ramai jadi pembicaraan warganet.

Postingan akun Instagram @military_buzz memperlihatkan empat foto saat heli Chinook masuk ke badan pesawat angkut raksasa Antonov An-124.

Foto lain memperlihatkan sosok heli Blackhawk UH-60.

Kedua tubuh helikopter ini sudah ditempeli logo BNPB.

https://www.indomiliter.com/wp-content/uploads/2020/08/blackhawk.jpgHeli Blackhawk UH-60​ dengan logo BNPB [Instagram @military_buzz]

Foto-foto yang sama diunggah di akun Facebook World Defense Zone.

Achmad Taufik, seorang warganet di kolom komentar akun ini menginformasikan, seminggu lalu ia melihat pesawat kargo Antonov mendarat.

Sedang bongkar muat enta apa isinya, bentuk dan warnanya plek sama di foto itu,” tulisnya.

Ia juga melihat beberapa heli Rusia terparkir di landasan AURI di seberang Bandara SMB Palembang.

Dikutip dari Wikipedia.com, Chinook CH-47 adalah helikopter AS bermesin ganda, tandem rotor dan heavy-lift.

Dengan kecepatan tertinggi 170 knot (196 mph, 315 km/h) helikopter itu lebih cepat daripada heli serang era 1960-an.

CH-47 adalah salah satu dari beberapa pesawat masa itu yang masih dioperasikan di berbagai medan.

Lebih kurang ada 1.179 unit yang dimiliki berbagai negara di dunia.

Peran utamanya untuk tugas militer, mobilisasi pasukan, artileri dan memasok perlengkapan medan perang.

Helikopter ini memiliki pintu pemuatan yang lebar di bagian belakang pesawat dan tiga eksternal-kargo kait.

Chinook ini dirancang dan awalnya diproduksi oleh Boeing Vertol di awal 1960-an.

Helikopter ini sekarang diproduksi oleh Boeing Rotorcraft Systems.

Chinooks telah dijual ke 16 negara. Angkatan Darat AS dan Royal Air Force Inggris menjadi pengguna terbesar.

Helikopter CH-47 adalah salah satu helikopter angkat terberat di barat. Sedangkan Blackhawk UH-60 juga jadi tulang punggung militer AS untuk tugas tempur. Untuk keperluan sipil, seperti pemadaman kebakaran dan penyelamatan, sejumlah instrumen standar militer di heli ini dicopot.

Helikopter ini bisa dilengkapi tanki air untuk pemadaman berkapasitas 3.500 liter. Ada pompa pengisian cepat yang hanya butuh waktu 30 detik untuk mengisi kembali tangki.(Tribunjogja.com/xna)


  ★ Tribunnews  

Jumat, 14 Agustus 2020

KRI Bungtomo TNI AL Tangkap 2 Kapal Ikan Vietnam

Di NatunaIlustrasi KRI Bung Tomo [kompas]

Kapal perang TNI Angkatan Laut, KRI Bungtomo-357 telah berhasil menangkap dua Kapal Ikan Asing (KIA) berbendera Vietnam di perairan Natuna.

Komandan KRI Bungtomo, Kolonel Laut (P) Hendro Sugiharto menyatakan, penangkapan dua kapal asing berbendera Vietnam itu dilakukan pada hari Rabu kemarin, 12 Agustus 2020 sekitar pukul 03.00 dini hari.

Kapal asing itu diduga telah melakukan aktifitas penangkapan cumi-cumi di wilayah perairan Indonesia. Karena kesigapan petugas TNI AL, lanjutnya, kapal perang unsur BKO Guspurla Koarmada I itu berhasil menangkap dua kapal asing berbendera Vietnam itu meski sebelumnya sempat terjadi kejar-kejaran.

"Akhirnya kedua KIA itu berhasil diamankan KRI Bungtomo tanpa ada perlawanan. Namun mereka sempat melarikan diri dengan cara berpencar dan dengan sengaja mematikan lampu kapal," kata Kolonel Laut (P) Hendro Sugiharto melalui keterangan tertulis kepada VIVA Militer, Jum'at, 14 Agustus 2020.

Lebih jauh ia katakan, saat ini KRI Bungtomo-357 dan dua kapal penangkap ikan berbendera Vietnam dengan nomer lambung kapal BD 93212 TS dan BD 30329 TS dengan jumlah Anak Buah Kapal (ABK) termasuk nahkoda 12 orang sudah berada di Pelabuhan Faslabuh TNI AL Selat Lampa untuk dilakukan serah terima kepada Lanal Ranai.

Komandan Lanal Ranai Kolonel Laut (P) Dofir menjelaskan, untuk proses serah terima ini akan terus ditindaklanjuti hingga di pengadilan nanti.

"Seluruh ABK dan Nahkoda akan kita bawa ke Lanal Ranai untuk proses lebih lanjut guna penanganan dan proses hukum penyidikan dan pemberkasan guna kita limpahkan ke Pengadilan Perikanan," kata Danlanal Ranai Kolonel Laut (P) Dofir.

 Diintimidasi Kapal Patroli Vietnam
TNI AL tangkap kapal penangkap ikan berbendera Vietnam di Natuna [dispen Koarmada I]

Kapal perang KRI Bungtomo-357 pada hari Rabu, 12 Agustus lalu berhasil mengamankan dua Kapal Ikan Asing (KIA) berbedera Vietnam di Laut Natuna.

Komandan KRI Bungtomo, Kolonel Laut (P) Hendro Sugiharto mengisahkan, KRI Bungtomo sempat terkecoh oleh ulah kapal penangkap ikan berbendera Vietnam itu.

Menurutnya, sebenarnya kapal perang KRI Bungtomo telah mendeteksi enam unit kapal penangkap ikan asing yang masuk ke wilayah perairan Natuna.

Namun, enam kapal asing itu telah melarikan diri dengan cara berpencar dan mematikan lampu penerang kapal mereka. Sehingga KRI Bungtomo hanya berhasil mengamankan dua kapal berbendera Vietnam dengan lambung kapal BD 93212 TS dan BD 30329 TS dengan total ABK 12 orang, termasuk nahkoda.

"Sebetulnya ada 6 KIA yang terdeteksi KRI Bungtomo-357, namun ketika akan dilakukan penangkapan mereka langsung berpencar dengan cara mematikan lampu kapal," Kata Komandan KRI Bungtomo Kolonel Laut (P) Hendro Sugiharto kepada VIVA Militer, Jum'at, 14 Agustus 2020.

Dia juga menjelaskan, bahwa KRI Bungtomo sempat mendapatkan intimidasi dari Coast Guard atau kapal patroli Vietnam. Mereka meminta untuk segera melepaskan kedua KIA yang telah berhasil diamankan.

Namun, lanjutnya, intimidasi itu tidak berlangsung lama. Dan KRI Bungtomo tetap menyeret dua kapal asing itu ke Pelabuhan Faslabuh TNI AL Selat Lampa untuk dilakukan serah terima ke Lanal Ranai.

"Ketika kita dapat mengejar dan berhasil mengamankan dua KIA itu, tidak lama berselang datang Coast Guard Vietnam yang meminta agar kedua KIA dilepaskan. Namun KRI Bungtomo tetap membawa kedua KIA berbendera Vietnam untuk diproses hukum," ujarnya.

Saat ini dua kapal Vietnam dan 12 ABK kapal telah diamankan di Lanal Ranai untuk dilakukan proses pemeriksaan.
 

  VIVAnews  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...