Rencana pembelian kapal perang jenis fregat Iver Huitfeldt , kita hanya diminta observasi
Ilustrasi KRI TNI AL ☆
TNI Angkatan Laut (AL) terkhusus Korps Marinir akan segera memodernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) yang dimiliki. Saat ini, rencana modernisasi tengah diajukan kepada Kementerian Pertahanan (Kemhan).
Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Yudo Margonomenuturkan, alutsista yang akan dimodernisasi tersebut terutama kendaraan tempur (ranpur) jenis Amfibi.
"Modernisasi sudah kita ajukan kepada Kemhan, khususnya yang diperlukan untuk mendukung tugas pokok Marinir, peralatan kendaraan tempur Amfibi yang sudah dibutuhkan," ucap Yudo saat ditemui di Graha Marinir, Senen, Jakarta Pusat, Senin (16/11/2020).
Lebih lanjut Yudo menuturkan, modernisasi dilakukan lantaran alutsista yang dimiliki oleh Korps Marinir merupakan alat-alat lama. Selain ranpur Amfibi, beberapa Kapal Perang Indonesia (KRI) juga akan dilakukan proses modernisasi.
"Sekarang ini kondisinya sudah lama, sama dengan KRI kita. Kita sudah ajukan kepada Kemhan untuk modernisasi alutsista Marinir," tegasnya.
Ketika dikonfirmasi rencana pembelian kapal perang jenis fregat Iver Huitfeldt buatan Denmark, Yudo tidak mendetailkan hal tersebut. Menurutnya, terkait pengadaan bukanlah kewenangan TNI AL, melainkan Kemhan. "Itu kewenangannya Kemhan, jadi kita hanya diminta observasi," ucapnya.
(zik)
Menurut KSAL, Korps Marinir TNI AL selalu hadir untuk NKRI!
Iver Huitfeldt class [Brian Aitkenhead] ★
Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-75 Marinir juga menjadi momentum untuk meremajakan alat utama sistem senjata (alutsista). Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Yudo Margono, mengatakan, modernisasi alutsista menjadi salah satu perhatiannya ketika menjadi orang nomor satu di TNI AL.
Menurut Yudo, salah satu kendaraan yang mendesak untuk diremajakan adalah tank Marinir dan beberapa jenis kapal perang RI (KRI), yang usianya sudah sangat tua.
"Tank amfibi, alut utama, dan KRI kita ajukan ke Kemhan. Modernisasi alutsista dan peralatan merupakan kewenangan Kemhan," kata Yudo usai menghadiri perayaan HUT ke-75 Marinir di Markas Korps Marinir Kwitang, Jakarta Pusat, Senin (16/11). Hadir pula dalam peringatan HUT tersebut, yaitu Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono X.
Yudo berbicara kepada wartawan didampingi Komandan Korps Marinir (Dankormar) Mayjen (Mar) Suhartono dan Wakil Dankormar Brigjen (Mar) Nur Alamsyah. Menurut Yudo, semua kebutuhan alutsista TNI AL sudah dikaji dan diserahkan kepada Kementerian Pertahanan (Kemenhan).
Disinggung tentang kabar TNI AL mengincar, dan bahkan tertarik untuk membeli kapal Iver Huitfeldt, Yudo membantahnya. Hingga kini, Markas Besar AL (Mabesal) belum pernah mengajukan pembelian KRI jenis itu kepada Kemenhan.
Dia menjelaskan, setiap spesifikasi alutsista yang diinginkan TNI AL semuanya diserahkan ke Kemenhan untuk diproses atau dibeli. "Belum (diajukan)," kata Yudo singkat.
Kapal buatan Denmark sepanjang 138,7 meter dan lebar 19,8 meter tersebut termasuk jenis kelas berat, yang belum dipunyai TNI AL. Kapal korvet yang dimiliki TNI AL sekarang yang paling modern adalah KRI Bung Tomo, John Lie, dan Usman-Harun, yang masing-masing memiliki panjang 89,9 meter.
Dalam pidatonya ketika menjadi inspektur upacara, Yudo mengatakan, keberadaan Marinir sangat dicintai dan disukai masyarakat. Untuk itu, ia berpesan agar prajurit Marinir tetap profesional dan humas dalam menjalankan tugas operasi militer (OMP) dan operasi militer selain perang (OMSP).
Mantan Panglima Kogabwilhan I itu menyinggung, selaras dengan karakter kekuatan TNI AL dalam doktrin Jalesvea Jayamahe, hakikat keberadaan Korps Marinir sebagai pasukan pendarat menuntut kecepatan respon, daya gerak, dan daay gempur yang tinggi dalam melaksanakan tugas-tugas, baik selam masa damai, krisis, dan masa perang.
"Korps Marinir TNI AL selalu hadir untuk NKRI, di saat kedaulatan negara ini terancam, Marinir hadir. Saat situasi tak terkendali, Marinir hadir menengahi. Jadi wajar saja apabila di benak rakyat pimpinan bangsa ini apabila negara ini dalam ancaman, satu jawabannya, kerahkan Marinir!" ucap Yudo.
Dalam acara itu, Korps Marinir juga menerima kado indah berupa Gending “Gati Marinir” dari Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X. Gending tersebut diserahkan langsung Sri Sultan kepada Dankormar Mayjen Marinir Suhartono pada acara Syukuran peringatan HUT ke-75 Korps Marinir yang digelar di Graha Marinir, Jalan Prajurit KKO Usman dan Harun, Kwitang, Senim.
Gati Marinir adalah gending yang mempunyai laras pelog dan pathet barang, dengan jenis kendhangan ladrang sabrangan. Kata Marinir mengacu pada keberadaan tentara yang berhubungan dengan samudra/air. Gending tersebut dalam satu ulihan terdiri empat gongan, yaitu dua gongan pada bagian umpak dan dua gongan pada bagian ngelik.
Sebenarnya kalimat lagu dalam gending tersebut hanya ada dua macam setiap satu ulihan. Namun, setiap satu gongan pada bagian umpak dan ngelik diulang sebanyak dua kali. Setelah permainan sampai pada bagian paling akhir, kemudian diulang mulai dari bagian awal lagi. Demikian dimainkan secara berulang-ulang sesuai kebutuhan.
Sri Sultan berkesempatan hadir dalam acara syukuran peringatan HUT ke-75 Kormar usai pelaksanaan upacara militer, dengan inspektur upacara KSAL dan Komandan Upacara Kolonel (Mar) Danuri, yang sehari-hari menjabat Asisten Operasi Pasmar 1 Jakarta.
Di Selat Lombok
KRI Ahmad Yani 351 [TNI AL, Koarmada 2] ★
Sebagai salah satu unsur Operasi Tombak Sakti-20 dibawah kendali operasi Gugus Tempur Laut (Guspurla) Koarmada II, KRI Ahmad Yani-351 dari jajaran Satkor Koarmada II yang dikomandani oleh Letkol Laut (P) I Gede Putu Iwan melaksanakan pengamanan TSS Selat Lombok pada Sabtu(7/11).
“KRI Ahmad Yani-351 melaksanakan patroli di perairan utara Pulau Bali dan Pulau Lombok, sekaligus pengamanan Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) II dan membantu pengawasan terhadap kapal-kapal yang melintas di Bagan Pemisahan Alur atau Traffic Separation Scheme (TSS) Selat Lombok, yang telah ditetapkan secara resmi sejak tanggal 1 Juli 2020 bagi kapal-kapal yang melintas di perairan tersebut, ” ujar I Gede Putu Iwan di sela kegiatan.
Selanjutnya Letkol Putu Iwan mengungkapkan jika selama melaksanakan operasi , KRI Ahmad Yani juga melaksanakan latihan-latihan internal yang bertujuan untuk mengasah profesionalisme dan keterampilan, serta pembinaan fisik prajurit sehingga selalu siap dalam melaksanakan tugas.
Sementara Laksma TNI Rahmat Eko Rahardjo Komandan Guspurla Koarmada II yang onboard di KRI AMY-351 menambahkan, jika kegiatan selama operasi ini sejalan dengan komitmen Panglima Koarmada II Laksda TNI I N.G Sudihartawan yang siap mendukung dan berperan aktif dalam mengawal kepentingan dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di Perairan ALKI II, dengan menghadirkan beberapa KRI untuk dioperasikan di wilayah perairan tersebut.
”Di sisi lain pelaksanaan Operasi Tombak Sakti-20, juga selaras dengan program prioritas Kasal Laksamana TNI Yudo Margono, yakni mengenai Penyelarasan doktrin,Operasi-Latihan dan sistem pelatihan yang fleksibel dan adaptif terhadap dinamika situasi terkini, ” pungkas Laksma Rahmat Eko.
Sebanyak empat unit
N219 PTDI ☆
Dalam waktu dekat, PT Dirgantara Indonesia (DI) akan memproduksi pesawat N219. Saat ini, pesawat tersebut masih menjalani serangkaian pengujian sertifikasi.
Direktur Utama PT DI Elfien Goentoro mengatakan, pesawat N219 secara khusus dirancang untuk dapat mendukung program Jembatan Udara sesuai dengan Peraturan Presiden No 70/2017. Dengan ukuran relatif kecil, pesawat baling-baling ini dapat menjangkau daerah dengan kondisi georafis berbukit-bukit dengan landasan pendek yang relatif cocok untuk menjangkau daerah tertinggal, terpencil, terluar, dan perbatasan.
Menurutnya, produksi awal pesawat N219 akan dibuat empat unit pesawat dengan menggunakan kapasitas produksi yang saat ini tersedia. Untuk selanjutnya, PT DI akan melakukan upgrading fasilitas produksi dengan sistem automasi pada manufacturing, sehingga secara bertahap kemampuan delivery akan terus meningkat sesuai dengan kebutuhan pasar.
“Produksi pesawat N219 dimulai dari empat pesawat per tahun. Tapi untuk memenuhi market share akan dilakukan upgrading fasilitas produksi dengan sistem automasi,” kata Elfien, Selasa (10/11/2020).
Dia menyebutkan, pesawat N219 juga nantinya akan dikembangkan menjadi varian amfibi yang dapat lepas landas dan mendarat dari darat maupun dari permukaan air. Dengan demikian, diharapkan akan mengurangi biaya infrastruktur untuk pembuatan bandara.
Sementara itu, Kepala Program N219 Palmana Banandhi menjelaskan untuk proses sertifikasi tersebut pihaknya menggunakan dua protoripe. Guna mempercepat proses sertifikasi uji terbang, dua pesawat itu memiliki misinya masing-masing.
Dia menuturkan, prototipe pertama menjalani serangkaian pengujian yakni menyelesaikan pengujian aircraft performance, karakteristik kestabilan dan pengendalian dan uji terbang struktur pesawat. Sedangkan, prototipe kedua digunakan untuk pengujian sub sistem pesawat, seperti avionic system, electrical system, flight control, dan propulsion.
“Dengan penggunaan dua prototype sebagai wahana sertifikasi uji terbang, maka kegiatan flight test bisa dioptimalkan karena tidak hanya bertumpu pada satu pesawat. Ini memungkinkan bisa tercapai Type Certificate di akhir tahun 2020 ini,” jelas Palmana.
Masih menjadi andalan TNI AL
Infografis ●
Di awal kedatangannya, korvet Fatahillah Class tergolong kapal perang modern. Namun, seiring waktu berjalan, sistem elektronik, navigasi dan persenjataannya sudah terbilang usang. Memang telah mengalami program upgrade, itupun hanya pada aspek sistem elektonik dan navigasi. Sedangkan sistem senjata di korvet ini tidak mengalami upgrade sama sekali.
Meski ada sejumlah keterbatasan, korvet Fatahillah Class masih punya kemampuan lawan serangan udara. Dalam kondisi tidak dibekali kanon reaksi cepat dan juga tidak dilengkapi rudal hanud (pertahanan udara), lantas apa yang dapat digunakan awak korvet Fatahillah Class dalam menghadapi serangan udara, khususnya dari jet tempur?
Walau ada titik lemah, pada dasarnya korvet buatan Wilton-Fijenoord, Belanda ini sudah dirancang untuk mengantisipasi serangan dari rudal anti kapal dan rudal udara ke permukaan yang diluncurkan dari pesawat tempur.