Rabu, 03 Februari 2021

Bakamla Curiga Motif Buruk Kapal Survei China di Selat Sunda

Mematikan AIS dan mengoperasikan sensor bawah airIlustrasi. Bakamla mencurigai kapal survei China yang dicegat di perairan Selat Sunda sempat menyalakan sensor bawah air. (Foto: Dok.Bakamla) ★

Kepala Badan Keamanan Laut (Bakamla) Laksdya TNI Aan Kurnia mencurigai kapal survei milik China Xiang Yang Hong 03 yang dicegat perairan Selat Sunda pada Rabu (13/1) lalu sempat mengoperasikan peralatan sensor bawah air.

Aan mengungkapkan kecurigaan berawal dari penurunan kecepatan ideal kapal dari 10-11 knot menjadi 6-8 knot.

Hal ini diungkap Aan saat melakukan Rapat Kerja dengan Komisi I DPR RI di gedung DPR, Selasa (2/2).

"Jadi kalau kecepatan 6 sampai 8 (knot) itu adalah optimum sonar speed, kecepatan yang ideal untuk mengoperasikan peralatan sensor bawah air. Ini bisa saja ketika dia mematikan AIS, mengoperasikan ini (sensor bawah air)," kata Aan.

AIS adalah Automatic Identication System (AIS) atau sistem pelacakan otomatis di kapal.

Menurut Aan, kapal tersebut sempat mematikan sistem AIS kurang lebih sebanyak tiga kali. Ia menduga kapal survei tersebut memiliki niat negatif ketika memasuki perairan Indonesia.

"Karena mematikan AIS, yang jelas dia ada niat dalam tanda kutip negatif," kata dia.

Dalam kesempatan itu, Aan juga menyinggung perihal sanksi dan penegakan hukum di laut, terutama bagi kapal-kapal asing yang mematikan AIS di perairan Indonesia.

Aturannya, kapal yang mematikan AIS hanya diberi sanksi administrasi. Padahal mematikan AIS di wilayah perairan negara lain tentu berpotensi melakukan pelanggaran atau berniat melakukan hal-hal negatif.

Oleh karena itu, kata Aan, pemberian sanksi administrasi pada kapal yang mematikan AIS dinilai sangat ringan dan berimbas pada banyaknya pelanggaran serupa tanpa ada efek jera.

"Biar tahu, karena memang di aturan kita tidak menyalakan AIS hukumannya administratif, sangat-sangat ringan. Ini yang mungkin perlu ditinjau kembali di sini," kata Aan.

Aan juga menjelaskan, Bakamla memang tak memiliki kewenangan apapun berkaitan dengan sanksi berat untuk kapal-kapal asing yang kedapatan mematikan AIS di perairan Indonesia.

Padahal jika Bakamla atau pihak berwenang lain bisa memberi saksi berat yang menyebabkan efek jera dinilai tak akan banyak persoalan kedaulatan laut di Indonesia.

"Sebagai masukan kepada bapak pimpinan (DPR) dan para anggota di sini bisa menjadi pertimbangan kalau memang masalah AIS ini sama-sama komit untuk lebih mem-push atau memberi efek jera harusnya ditingkatkan di sini," kata dia. (tst/psp)
 

 
CNN  

Selasa, 02 Februari 2021

[Dunia] China Luncurkan Kapal Induk Helikopter Ketiga

Meluncurkan satu LHD setiap 6 bulan China luncurkan kapal induk helikopter ketiga Type 075 di Shanghai oleh galangan kapal Hudong Zhonghua [Naval News] 

C
hina luncurkan kapal induk helikopter ketiga. Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat (PLAN) Cina kini terus meningkatkan kemampuannya terutama untuk mendukung operasi amfibi di luar daratan Cina. Pada hari Jum’at (29/1), Angkatan Laut Cina kembali meluncurkan kapal serbu amfibi ketiga jenis Landing Helicopter Dock (LHD) yang dikenal sebagai Type 075 di Shanghai oleh galangan kapal Hudong Zhonghua. Pada hari yang sama, galangan kapal juga meluncurkan fregat Tipe 054 A/P kedua untuk Angkatan Laut Pakistan.

Kapal Serang Amfibi yang dijuluki NATO Yushen ini adalah kapal serang generasi baru yang jauh lebih besar dari generasi pertama yang telah menjadi andalan Angkatan Laut Cina baru-baru ini. Kapal yang dapat membawa berbagai jenis helikopter ini juga dapat menjalankan berbagai misi pertempuran, baik menyerang kapal permukaan, kapal selam maupun operasi pendaratan.

Selain itu, juga dapat memberikan dukungan kritis non perang seperti untuk bantuan kemanusiaan dan upaya bantuan bencana.

Galangan Kapal Hudong Zhonghua telah membangun dua kapal pertama Type 075 untuk Angkatan laut Cina yang diluncurkan pada September 2019 dan memulai uji coba laut pada Agustus 2020. Sedangkan kapal kedua diluncurkan pada April 2020 dan memulai uji coba laut pada Desember 2020. Ini adalah hal yang mengesankan dari kemampuan produksi galangan kapal tersebut yang dapat meluncurkan satu LHD setiap 6 bulan.


Type 075 LHD pertama China [Naval News] 

Rencananya, sebanyak delapan LHD akan dibuat untuk untuk memenuhi kebutuhan Angkatan Laut Cina.

Pengembangan Type 075 dimulai pada tahun 2011. Pembuatan kapal induk helikopter berbobot lebih dari 30.000 ton tersebut secara khusus dirancang untuk meningkatkan kemampuan serangan amfibi militer Cina – misal untuk kemungkinan perang merebut kembali Taiwan, selain untuk pertahanan lepas pantai di laut Cina Timur dan Selatan tentunya.

Kapal berukuran panjang sekitar 237 meter tersebut memang sedikit lebih kecil dari LHA “Tawon” Angkatan Laut Amerika Serikat (AS), namun lebih besar dibandingkan dengan LHD Prancis atau Spanyol atau Australia yang setara. Dan tampaknya LHD yang dapat mengangkut 28 hingga 30 helikopter ini lebih mendekati LHD Trieste Italia.

Terlepas dari itu, Type 075 tetap menjadi salah satu kapal serbu amfibi terbesar di dunia. Dengan memiliki dek penerbangan yang panjang, pada waktunya akan dapat berfungsi sebagai platform lepas landas dan pendaratan vertical (VTOL), jika Cina mengembangkannya.

Selain itu dapat membawa 900 tentara, di buritan kapal juga dilengkapi dengan hovercraft dan kendaraan pendarat lain.


Ilustrasi perbandingan dengan kapal sejenisnya [Naval News] 

Kapal dipersenjatai dengan empat sistem senjata jarak dekat termasuk dua sistem pertahanan rudal permukaan-ke-udara HHQ-10 dan dua senapan Gatling 30 mm Type 730 berlaras tujuh.

HHQ-10 adalah sistem pertahanan yang dikembangkan untuk melindungi kapal dari serangan rudal anti-kapal dengan menggunakan peluncur kapasitas 8 hingga 24 rudal. Setiap rudal menggunakan panduan inframerah yang dapat melaju dengan kecepatan Mach 2 dengan jangkauan 6 km.

Pembangunan LHD Type 075 pertama sungguh fantastis. Berlangsung sangat cepat. Boleh dibilang mungkin tercepat di dunia saat ini. LHD Type 075 juga telah ditingkatkan kemampuannya dibanding LPD Type 071 generasi pertama.

Kabar terakhir, Angkatan Laut Cina akan membangun LHD yang lebih besar yang akan menjadi Type 076.

Angkatan Laut China berkembang dengan kecepatan yang luar biasa, dengan cepat melampaui hampir semua angkatan laut lainnya. Dua tahun yang lalu belum terlihat ada kapal induk amfibi beroperasi di armada Angkatan Laut Cina.

Tampaknya, dalam dekade mendatang, armada Angkatan Laut Cina kemungkinan akan menjadi kekuatan kedua setelah Angkatan Laut AS. Dan Cina membangunnya lebih cepat. (Agus Setiawan)

  ★
Nusantara News  

Senin, 01 Februari 2021

[Foto] Spesifikasi KRI Rigel-933

Pencari Black Box Sriwijaya Air


Kapal TNI AL, KRI Rigel-933 terlihat selama operasi pencarian pesawat Sriwijaya Air SJ 182, di Kepulauan Seribu, Jakarta, Indonesia, Senin, 11 Januari 2021. KRI Rigel diklaim sebagai kapal survei bawah laut tercanggih se-Asia. [REUTERS/Willy Kurniawan]


Kapal TNI AL, KRI Rigel-933 terlihat selama operasi pencarian pesawat Sriwijaya Air SJ 182, di Kepulauan Seribu, Jakarta, Indonesia, Senin, 11 Januari 2021. KRI Rigel merupakan kapal Bantu Hidro-Oseanografi (BHO) terbaru TNI Angkatan Laut Indonesia yang dibuat di galangan OCEA, Les Sables-d'Olonne, Prancis. [REUTERS/Willy Kurniawan]


Dua buah helikopter TNI AU melintas di atas KRI Rigel-933 saat melakukan pencarian korban dan puing dari pesawat Sriwijaya Air SJ 182 yang hilang kontak di perairan Kepulauan Seribu, Jakarta, Ahad, 10 Januari 2021. Kapal ini juga dilengkapi dengan peralatan AUV (Autonomous Underwater Vehicle) yang berfungsi melaksanakan pencitraan bawah laut sampai dengan kedalaman 1000 meter dan mengirimkan kembali data secara periodik ke kapal utama. [ANTARA/M Risyal Hidayat]


Robot bawah laut 'Remotely Operated Vehicle (ROV)' diturunkan dari KRI Rigel-933 untuk melakukan pencarian korban dan puing pesawat Sriwijaya Air SJ 182 di perairan Kepulauan Seribu, Jakarta, Senin, 11 Januari 2021. Selain ROV, kapal ini juga dilengkapi dengan SSS (Side Scan Sonar), Laser Scanner untuk mendapatkan gambaran daratan, AWS (Automatic Weather Station), Echosounder Multibeam laut dalam dan Singlebeam, Peralatan CTD (Conductivity Temperatureand Depth), Gravity Corer, kelengkapan Laboratorium serta kemampuan survei perikanan. [ANTARA/M Risyal Hidayat]


Prajurit Kopaska TNI AL berdiri di dekat kantong berisi jenazah dan serpihan dari pesawat Sriwijaya Air SJ 182 yang dievakuasi ke atas KRI Rigel-933 di perairan Kepulauan Seribu, Jakarta, Ahad, 10 Januari 2021. Selain sebagai kapal survei, Rigel 933 bisa digunakan dalam operasi militer dan kegiatan SAR, karena dilengkapi persenjataan mitraliur kaliber 20 mm dan kaliber 12,7 mm. [ANTARA/Sigid Kurniawan]


KRI Rigel-933 saat pencarian korban dan puing pesawat Sriwijaya Air SJ 182 di perairan Kepulauan Seribu, Jakarta, Senin, 11 Januari 2021. Kapal yang terbuat dari alumunium dengan bobot 560 ton dengan panjang 60,1 meter dan lebar 11,5 meter. [ANTARA/Aditya Pradana Putra]

  ★ Tempo  

Melihat Spesifikasi Helikopter Super Puma NAS-332 C1+ dari PT DI

Pesanan Kemhan untuk TNI AU Helikopter Super Puma NAS-332 C1+ buatan PTDI [PT DI]

PT Dirgantara Indonesia (PTDI) telah mengirimkan pesanan satu unit helikopter Super Puma NAS-332 C1+ pesanan Kementerian Pertahanan Republik Indonesia dengan pengguna akhir TNI Angkatan Udara, Jumat (29/1/2021).

Direktur Niaga PT DI Ade Yuyu Wahyuna mengatakan, helikopter Super Puma NAS-332 C1+ akan dioperasikan oleh Skadron Udara 6 Lanud Atang Sendjaja, Bogor.

"Dengan dilakukannya ferry flight helikopter Super Puma NAS-332 C1+, harapan kami semoga akan semakin memperlancar dan memudahkan pelaksanaan dan penyelesaian tugas TNI AU menjaga kekuatan matra udara Republik Indonesia," ujar Ade, seperti diberitakan Kompas.com, Jumat (29/1/2021).

Komandan Skadron Udara 6 Lanud Atang Sendjaja Letkol Pnb Akhmad Mauludin Mulyono berharap helikopter ini dapat mendukung tugas negara dan bangsa Indonesia. Seperti apa spesifikasi helikopter Super Puma NAS-332 C1+ ini?

 Dibekali sejumlah kecanggihan 
Seorang anggota Paskhas TNI AU turun dari helikopter Super Puma dengan menggunakan teknik fast-rope. [KOMPAS.com/Kristian Erdianto]

Dikutip dari laman resmi PT DI, helikopter Super Puma NAS-332 C1+ adalah produk PT DI yang dibekali dengan sejumlah kecanggihan.

Kecanggihan itu di antaranya Avionic Glass Cockpit, disertai sensor optik AHRS (Attitude Heading and Reference System), dan teknologi FMS (Flight Management System).

Selain itu, dilengkapi instrumen yang digunakan pilot untuk mengatur rencana terbang (Flight Plan) meliputi jalur yang akan dilewati helikopter, serta SAR Direction Finder untuk menangkap sinyal ELT (Emergency Locator Transmitter).

Helikopter ini memiliki NVG (Night Vision Goggle), Weather Radar dan Emergency Floatation untuk melakukan pendaratan darurat di atas air.

Helikopter Super Puma NAS-332 C1+ dapat terbang selama empat jam dengan kecepatan maksimum 306 kilometer per jam.

Mengenai daya tampung, helikopter ini mampu mengangkut 18 pasukan dan 3 crew (Pilot, Co-Pilot dan Juru Mudi Udara).

Helikopter tipe ini merupakan heli angkut berat multipurpose yang dapat digunakan untuk military transport, cargo, paratroop transport, medical evacuation, serta VIP. Helikopter ini dilengkapi dengan Hoist untuk menarik atau mengevakuasi korban pada sisi pintu kanan.

Selain itu, Super Puma NAS-332 C1+ juga memiliki sling yang berfungsi untuk membawa barang atau kendaraan taktis dengan beban maksimal 4,5 ton.

 Pelatihan untuk penerbang 
Ilustrasi heli Super Puma melakukan pendaratan darurat di atas air. [dailymail]

Masih dikutip dari laman PT DI, kontrak jual beli Helikopter Super Puma NAS-332 C1+ antara Kemenhan dan PTDI untuk TNI AU ini juga termasuk pelatihan untuk penerbang dan teknisi, publikasi teknis, dan suku cadang.

Kontrak tersebut ditandatangani oleh Pejabat Pembuat Komitmen, Badan Sarana Pertahanan (Baranahan) Kementerian Pertahanan Republik Indonesia, Brigjen TNI Bambang Kusharto dan Direktur Niaga PT Dirgantara Indonesia (Persero) (PTDI), Irzal Rinaldi Zailani.

Pada 2019, penandatanganan kontrak jual beli disaksikan oleh Menteri Pertahanan Republik Indonesia, Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu dan Direktur Utama PTDI, Elfien Goentoro.

PT DI merupakan badan usaha milik negara yang didirikan pada 1976, berlokasi di Bandung, Indonesia.

Produk utama yang dihasilkan adalah pesawat terbang, komponen struktur pesawat terbang, jasa perawatan pesawat terbang dan jasa rekayasa.

PT DI mampu memproduksi jenis pesawat terbang CN235 yang dilengkapi dengan mission sesuai konfigurasi antara lain: angkut, cargo, paratroop, medevac, patroli maritim bahkan VIP.

PTDI juga mampu memproduksi pesawat terbang NC212i yang dapat dilengkapi dengan berbagai misi sesuai pesanan, antara lain angkut militer, hujan buatan, patroli maritim, navtrain, termasuk medevac.

PT DI juga mampu menghasilkan pesawat yang merupakan hasil kerja sama industri di antaranya CN 295 dengan pihak Airbus Defence & Space (ADS), serta helikopter dengan pihak Airbus Helicopters baik yang berbasis di Perancis maupun di Jerman dalam berbagai varian, demikian pula dengan pihak Bell Helicopter Textron dalam beberapa varian.

  ★ Kompas  

[Dunia] AL Malaysia Gelar Latihan Perang di Utara Pulau Kalimantan

Libatkan Helikopter EC-725 Royal Malaysian Air Force Manuver kapal perang TLDM  dalam latihan perang Borneo 1/21 [TLDM] ⚓️

Tentara Laut Diraja Malaysia (TLDM) atau Angkatan Laut telah melakukan Latihan Perang di perairan Laut China Selatan pada awal 2021 ini.

Markas Komando Armada Timur melalui pos resminya di media sosial mengatakan, pelatihan tahun ini melibatkan KD Kedah, KD Keris, KD Pari dan KD Ganas.

Latihan ini melibatkan helikopter EC-725 Royal Malaysian Air Force (RMAF) dari Pangkalan Udara Labuan.

Latihan bertujuan untuk menguji kelincahan dan kesiapan aset TLDM di bawah kekuasaan Armada Timur, selain juga menguji efisiensi warga dalam menerapkan konsep perang, navigasi dan ilmu kelautan.

Helikopter EC-725 RMAF turut serta dalam latihan perang Borneo 1/21 [TLDM] ⚓️

"Evolusi yang diterapkan meliputi berbagai aspek seperti Pemadaman Kebakaran dan Pengendalian Banjir di atas kapal, pelatihan menembak dan pelatihan evakuasi saat di laut," ujarnya sebagaimana diberitakan airtimes.my.

Turut serta dalam latihan ini adalah Komandan Armada Timur, Laksamana Datuk Sabri Zali dan Wakil Komandan Armada Timur, Laksamana Pertama Sazalee Shoib.

Menurut pernyataan itu, latihan tersebut tetap dilaksanakan dalam skala kecil, karena berbarengan dengan pandemi COVID-19.

Pelatihan dilaksanakan sesuai dengan prosedur operasi standar (SOP) yang ketat."

Selain itu, pelatihan ini menjadi katalisator untuk menyediakan armada yang kompeten dan selalu siap dalam situasi damai atau perang,” ujarnya.

  ⚓️ Intisari  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...