Kamis, 29 April 2021

Kecelakaan Ketiga Libatkan Kapal Tua TNI

Apa dampaknya bagi keamanan laut Indonesia? Anggota TNI AL melakukan penghormatan ketika kapal selam KRI Nanggala-402 tiba di Dermaga Koarmatim, Ujung, Surabaya, Jatim, Senin (6/2/2012) (antara) ⚓️

Hilangnya satu dari lima kapal selam Indonesia, KRI Nanggala 402 (21/04), disebut akan berdampak pada sistem pengamanan laut Indonesia yang telah memiliki "celah rawan", kata peneliti.

Pengamat militer dari Institute for Security and Strategic Studies ( ISESS), Khairul Fahmi, menyebut idealnya Indonesia memiliki 12 kapal selam, mengingat luasnya laut Indonesia.

Di sisi lain, Menteri Pertahanan Prabowo Subianto mengatakan akan melalukan investasi lebih besar dalam bidang alutsista yang disebutnya "mahal", "tanpa memengaruhi usaha pembangunan kesejahteraan."

Sementara itu, peneliti menyoroti anggaran Kementrian Pertahanan yang jauh lebih banyak digelontorkan untuk program-program di luar pengadaan alutsista.

Saat ini Indonesia hanya memiliki lima kapal selam, dengan dua di antaranya sudah tua.

 Kapal berusia 44 tahun, mengapa masih bisa dipakai? 

Dalam tiga tahun terakhir, ini adalah kecelakaan ketiga yang melibatkan kapal TNI yang sudah tua.

Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Yudo Margono mengatakan KRI Nanggala, yang selesai dibangun 44 tahun silam di Jerman, masih dalam keadaan baik dan telah menerima surat kelaikan sebelum digunakan berlatih.

Yudo Margono mengatakan kapal itu sudah beberapa kali digunakan untuk menembakkan torpedo.

"Jadi KRI Nanggala dalam keadaan siap tempur sehingga kita kirim, libatkan, untuk latihan..." kata Yudo dalam konferensi pers Kamis (22/04), sebagaimana dilaporkan wartawan di Bali Muhammad Khadafi untuk BBC News Indonesia.

Di tahun 2020, kapal juga sudah dirawat (di docking) di PT PAL, sehingga "masih sangat layak."

Tumpahan minyak dari helikopter di seputar tempat hilangnya KRI Nanggala 402. (TNI AL)

Namun, Riefqi Muna, Co-founder dan peneliti dari Research and Operations on Technology & Society (ROOTS), menyebut peristiwa ini seharusnya membuat Indonesia lebih ketat dalam menggunakan alutsista yang tua.

"Dalam 10 tahun terakhir ini, ada kasus-kasus yang berkaitan dengan alutsista yang sudah tua dan berisiko kecelakaan, hilangnya prajurit TNI. Perlu ada safety rule yang strict demi kehati-hatian," kata Rieqfy.

Meski kecelakaan yang melibatkan kapal selam baru pertama kali terjadi, sebelumnya sempat terjadi kecelakaan kapal AL yang sudah tua.

Tahun 2020 lalu, kapal perang Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL), KRI Teluk Jakarta-541 tenggelam di perairan arah timur laut Pulau Kangean, Jawa Timur.

Kapal buatan Jerman Timur itu tenggelam di usia 41 tahun. Semua penumpang selamat dalam kecelakaan ini.

Pada tahun 2018, KRI Pulau Rencong terbakar dan tenggelam di perairan Sorong, Papua Barat. Semua penumpang selamat dalam insiden yang menimpa kapal buatan 1979 itu.

 Apa pentingnya kapal selam untuk Indonesia? 


Melihat kecelakaan-kecelakaan itu, pengamat militer dari Institute for Security and Strategic Studies (ISSES) Khairul Fahmi mengatakan hilangnya KRI Nanggala 402 adalah "momentum kesekian" yang harusnya membuat Indonesia berbenah terkait armada lautnya.

Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto (kiri) memberikan hormat kepada Menteri Pertahanan Prabowo Subianto (kanan) usai memberikan keterangan terkait KRI Nanggala 402. (antara)

Kurang memadainya armada untuk melakukan penjagaan di laut disebutnya berakibat pada "celah keamanan" di laut Indonesia.

Ia mengatakan Indonesia harusnya memiliki 12 kapal selam.

"Perairan kita luas. Ada tiga alur laut yang harus dijaga dan sebagian di antaranya merupakan perairan yang dalam. Artinya, kita tidak bisa hanya mengandalkan patroli permukaan. Padahal kawasan kita ini juga ramai kegiatan di bawah permukaan," ujar Khairul.

"Secara kekuatan kalau dibandingkan dengan negara-negara tetangga memang bisa dibilang tangguh. Tapi dari segi kemampuan, menangkal ancaman, dan penegakan keamanan, armada kita masih jauh dari cukup."

Pada awal tahun ini, misalnya, diberitakan bahwa ditemukan kendaraan nirawak bawah laut (unmanned underwater vehicle-UUV) atau seaglider di teritorial Indonesia yang menurut pengamat militer merupakan bentuk gangguan terhadap kedaulatan wilayah Indonesia.

"Dan kapal selam dalam jumlah yang cukup, akan lebih mampu menghadirkan efek deterrent yang signifikan bagi keamanan dan kedaulatan di laut."

"Persoalannya, anggaran kita belum bisa menjawab kebutuhan itu," tambahnya.

Awak kapal KRI Nanggala 402. Foto diambil di di Dermaga Kapal Selam Komando Armada II, Surabaya, Jawa Timur, Rabu (20/2/2019). (antara)

 Mengapa pemerintah tak membeli lebih banyak kapal selam? 

Dalam konferensi pers Rabu (22/04), Menhan Prabowo Subianto mengatakan pengadaan alutsista "cukup mahal".

"Alutsista di bidang pertahanan memang cukup mahal, bahkan bisa saya katakan sangat mahal."

"Karena itu pimpinan negara selalu dihadapkan dengan dilema harus mengutamakan pembangunan kesejahteraan, tapi menjaga kemampuan pertahanan supaya kedaulatan kita tidak diganggu," kata Prabowo.

Personel penerbang TNI AL menyiapkan Helikopter Bell (HU-4206) yang akan mengangkut Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto menuju KRI Dr Soeharso di Lanud I Gusti Ngurah Rai, Badung, Bali, Kamis (22/4/2021). (antara)

Ia mengatakan banyak alutsista, yang karena "keterpaksaan dan karena mengutamakan pembangunan kesejahteraan", belum dimodernisasi dengan cepat.

Kementeriannya, kata Prabowo, sudah menyusun rencana induk 25 tahun untuk membenahi urusan pertahanan.

"Tapi intinya memang, kita akan investasi lebih besar tanpa memengaruhi usaha pembangunan kesejahteraan. Kita sedang merumuskan pengelolaan pengadaan alutsista untuk lebih tertib, lebih efisien," kata Prabowo.

 Bagaimana pembagian anggaran di AD, AL, dan AU? 

Berdasarkan data APBN 2021, Kementerian Pertahanan adalah kementerian kedua dengan anggaran terbesar setelah Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, yakni dengan anggaran mencapai hampir Rp 137 triliun.

Di tahun 2021, anggaran pengadaan alutsista adalah sekitar Rp 9,3 triliun, sebagaimana dikutip dari Himpunan Rencana Kerja dan Anggaran tahun anggaran 2021.

Untuk perawatan dan modernisasi alutsista, Angkatan Darat mendapat sekitar Rp 3,8 triliun, Angkatan Laut sekitar Rp 8 triliun, dan yang terbesar Angkatan Udara sebesar R 8,1 triliun.

Kendaraan Rantis Maung 4x4 (Pindad)

Sementara itu, di tahun 2020, Kementerian Pertahanan sempat dikritik akibat membeli 500 kendaraan militer Pindad di tengah pandemi virus corona.

Selain tidak mendesak dan jumlahnya terlalu banyak, peneliti mengatakan kebutuhan keperluan alat utama sistem pertahanan atau alutsista yang diperlukan Indonesia adalah di laut dan udara.

Peneliti Khairul Fahmi juga menyorot besarnya anggaran belanja non-alutsista, seperti untuk gaji pegawai, yang besarnya lebih dari 50% dari total anggaran.

"Kalau porsi non-alutsista ini bisa lebih kecil, maka porsi untuk kebutuhan alutsista kan bisa diperbesar. Begitu juga untuk riset," ujarnya.

Meski demikian, Sugiono, anggota Komisi I DPR dari Partai Gerindra, mengatakan tak sepakat jika anggaran di pos-pos lain selain alutsista perlu diirit.

"Selain alutsista, profesionalitas dan kesejahteraan prajurit juga harus diperhatikan. Masa sih gaji dan kesejahteraan prajurit yang sudah kecil harus diperkecil lagi?" ujarnya.

Menurutnya, yang harus dilakukan adalah peningkatan anggaran pertahanan.

"Menurut saya anggaran pertahanan harus diperbesar jika kita memang concern terhadap pertahanan kita," kata Sugiono.

  ⚓️ BBC  

Rabu, 28 April 2021

9 Anak Buah Lekagak Telenggen Tewas

Upaya penindakan hukum digencarkanhttps://akcdn.detik.net.id/visual/2021/04/21/kelompok-kriminal-bersenjata-papua-merdeka_169.jpeg?w=650Ilustrasi. (Dok. Puspen TNI)

Sebanyak sembilan anggota kelompok kriminal bersenjata (KKB) atau yang lebih dikenal dengan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) Organisasi Papua Merdeka (OPM) tertembak dalam kontak senjata dengan personil gabungan TNI-Polri di Kampung Maki Distrik Gome, Kabupaten Puncak, Papua. Operasi penindakan ini dilakukan setelah OPM melakukan penembakan terhadap Kabinda Papua Mayjen TNI Anumerta IGP Danny Putra Nugraha.

"Ya pada Selasa 27 April 2021 personil gabungan TNI - Polri melakukan Penindakan dan Penegakkan Hukum terhadap Kelompok Kriminal Bersenjata pimpinan Lekagak Telenggen di wilayah Ilaga Kabupaten Puncak," kata Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol AM Kamal.dalam pernyataan tertulis yang diterima SINDOnews, Rabu (28/4/2021).

Menurut Kabid Humas Polda Papua, setelah personil gabungan memasuki lokasi Kelompok Kriminal Bersenjata di Kampung Maki, Distrik Gome, Kabupaten Puncak terjadi kontak tembak yang mengakibatkan Kelompok Kriminal Bersenjata dipukul mundur dan meninggalkan Kampung Maki, Distrik Gome, Kabupaten Puncak.

"Dari hasil penindakan diketahui sembilan orang Kelompok Kriminal Bersenjata pimpinan Lekagak Telenggen terkena tembakan dan tiga personil Brimob mengalami luka tembak," kata Kombes AM Kamal.

Menurut Kombes Pol AM Kamal, untuk sembilan anggota Kelompok Kriminal Bersenjata yang terkena tembakan tersebut belum diketahui identitasnya.

"Personil gabungan TNI- Polri saat ini masih melakukan pengejaran terhadap Kelompok Kriminal Bersenjata pimpinan Lekagak Telenggen," tandasnya. (sas)

 ♖ sindonews  

Kisah Komandan Seskoal Saat Alami Situasi Blackout

⚓️ Di KRI Nanggala-402 Ilustrasi KRI Nanggala 402 [TNI AL] ⚓️

Komandan Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut (Seskoal) Laksamana Muda Iwan Isnurwanto mengungkapkan, dirinya pernah mengalami situasi blackout saat menjadi awak kapal selam KRI Nanggala-402.

"Saya waktu mengawaki Nanggala pernah mengalami hal yang serupa, namanya blackout," kata Iwan dalam konferensi pers, Selasa (27/4).

Iwan bercerita, situasi blackout itu terjadi pada tengah malam ketika ia sedang beristirahat di tempat tidur bertingkat.

Iwan yang berada di tempat tidur tingkat tiga pun langsung melompat karena kapal mulai miring dan "merosot" dalam waktu cepat.

"Posisinya adalah (bagian kapal selam) yang belakang langsung turun sampai (kemiringan) 45 derajat, bisa lebih, langsung (turun) begini, tidak sampai dengan 10 detik (turun) sampai dengan 90 meter," ungkapnya.

Kondisi dalam kapal pun gelap dan menyisakan lampu darurat yang masih menyala.

Iwan menuturkan, saat itu komandan kapal memerintahkan awak untuk bergerak menuju haluan atau bagian depan kapal selam dengan merangkak karena kapal telah miring 45 derajat.

"Jadi, di lorong kami merangkak, mohon maaf ini, saya merinding semua karena saya pernah mengalaminya, merangkak megang pintu-pintu sampai ke depan," ujar dia.

Masalah tersebut akhirnya diatasi setelah kepala kamar mesin (KKM) yang saat itu bertugas mengembuskan tangki pemberat pokok dan tangki tahan tekan sehingga kapal selam bergerak naik.

 Penyebab blackout 
Eternal Patrol - KRI Nanggala 402 [@submarine.id]

Menurut Iwan, kapal selam saat itu mengalami blackout karena ada salah satu sekring (fuse) yang terputus.

"Apa masalahnya? Ada satu fuse yang putus, padahal kami enggak tahu fuse itu di mana. Tapi, karena kecanggihan KKM pada saat itu, langsung bisa ketahuan langsung bisa diperbaiki. Alhamdulillah saat itu," kata Iwan.

Seperti diketahui, KRI Nanggala-402 hilang kontak di perairan Utara Bali pada Rabu (21/4/2021). Tim SAR gabungan kemudian melakukan pencarian besar-besaran, termasuk dengan mendatangkan bantuan dari luar negeri.

Pada Minggu (25/4), KRI Nanggala-402 dinyatakan berstatus subsunk (tenggelam). Hingga kini, tim SAR masih terus berusaha untuk mengangkat bangkai kapal selam ke permukaan.

Rencananya, 53 jenazah personel KRI Nanggala-402 akan dievakuasi ke Surabaya, Jawa Timur.

  ⚓️
Kontan  

Selasa, 27 April 2021

5 Anggota KKB Tewas Tertembak di Ilaga Papua

Upaya penindakan hukum memang digencarkanhttps://akcdn.detik.net.id/visual/2021/04/21/kelompok-kriminal-bersenjata-papua-merdeka_169.jpeg?w=650Ilustrasi. 5 anggota KKB tertembak di Ilaga Papua. (Foto: Dok. Puspen TNI)

Polisi mengatakan lima orang anggota Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) turut terkena tembakan dalam kontak senjata di wilayah Ilaga, Kabupaten Puncak, Papua pada Selasa (27/4).

Kabid Humas Polda Papua, Kombes Ahmad Musthofa Kamal menerangkan, upaya penindakan hukum memang digencarkan oleh aparat kepolisian pascapenembakan Kepala Badan Intelijen Daerah (Kabinda) Papua. Termasuk pengepungan lokasi KKB di Kampung Maki, Distrik Gome, Kabupaten Puncak.

"Dari hasil penindakan diketahui lima orang kelompok kriminal bersenjata pimpinan Lekagak Telenggen terkena tembakan," kata Kamal kepada wartawan melalui keterangan tertulis, Selasa (27/4).

Namun demikian, Kamal belum dapat menuturkan lebih lanjut mengenai keadaan dari lima anggota KKB yang terkena tembakan tersebut.

"Lima anggota KKB yang terkena tembakan tersebut belum diketahui identitasnya," tambahnya lagi.

Kamal hanya memastikan bahwa dalam kontak tembak itu terdapat tiga anggota Polri yang menjadi korban. Salah satu anggota, kata Kamal, gugur dalam baku tembak tersebut.

Adapun, dia merinci bahwa para korban itu ialah Ipda Anton Tonapa yang terkena tembakan pada bagian punggung atas. Kemudian, Bripka M Syaifudin yang terkena peluru di bagian perut. Terakhir, korban bernama Bharada Komang yang meninggal dunia.

Pasca kontak senjata, korban langsung dievakuasi ke Timika untuk mendapat perawatan intensif.

"Pukul 14.21 WIT, Heli Polri take Off dari Bandara Aminggaru Ilaga menuju Bandara Mozes Kilangin Timika," tambah Kamal.

Ilaga sendiri dalam beberapa waktu terakhir tengah memanas lantaran sering terjadi kontak senjata antara aparat dengan KKB. Tak hanya itu, kelompok pejuang kemerdekaan tersebut pun seringkali menembak masyarakat sipil di Ilaga.

Tercatat, setidaknya ada empat peristiwa penembakan yang dilakukan oleh KKB sejak awal April kemarin. Mereka pun turut melakukan pembakaran gedung sekolah.

KKB juga menembak mati Kabinda Papua, Brigadir Jenderal TNI I Gusti Putu Danny Karya Nugraha. (mjo/pris)

 ♖ CNN  

Pemerintah Sudah Rencanakan Beli 1 Submarine Rescue Ship

Sudah dibahas oleh Bappenas dan Kementerian Pertahanan Ilustrasi kapal MV Swift Rescue [RSN]

Diskursus terkait alutsista mengemuka setelah peristiwa tenggelamnya KRI Nanggala-402 di perairan Bali. Salah satu yang disorot adalah submarine rescue ship atau kapal penyelamatan untuk kapal selam.

Asrena KSAL Laksamana Muda TNI Muhammad Ali angkat bicara mengenai hal tersebut. Menurut Ali, masalah kapal rescue ini sudah dibahas oleh Bappenas dan Kementerian Pertahanan (Kemhan).

"Masalah kapal rescue, ini berhubungan dengan jabatan saya sebagai Asrena. Kapal rescue kita akan sudah diprogramkan dengan Bappenas dengan Kemhan," ujar Ali di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Selasa (27/4/2021).

Ali menyebut kapal rescue sudah masuk rencana strategis TNI AL. Bakal ada satu kapal rescue yang dibeli.

"Sudah diprogramkan dalam renstra ini satu kapal rescue," kata Ali.

Seperti diketahui, TNI AL saat ini masih melakukan proses evakuasi terhadap kapal selam KRI Nanggala-402 yang dinyatakan tenggelam beserta 53 awaknya di perairan Bali. KRI Nanggala-402 ditemukan oleh kapal Singapura MV Swift Rescue.

MV Swift Rescue sendiri merupakan kapal jenis Submarine Support and Rescue Vessel (SSRV) yang dioperasikan oleh Angkatan Laut Singapura. Pembuatnya ST Marine, perusahaan subsidiary dari Singapore Technologies Engineering (ST Engineering) dengan biaya sekitar USD 400 juta.

Peluncuran perdana MV Swift Rescue adalah pada 2008 dan merupakan kapal pertama milik AL di Asia Tenggara yang punya kapabilitas menyelamatkan awak kapal selam. Kapal ini memiliki panjang 85 meter, lebar 18,3 meter, dan kedalaman dek utama 7,5 meter. Ia dapat menampung sampai 27 awak.

Untuk misi penyelamatan, MW Swift Rescue dilengkapi Submarine Rescue Vehicle DSAR 6, Integrated Navigation & Tracking System, perangkat kendaraan bawah laut Remotely Operated Vehicle (ROV), dan lain sebagainya.

DSAR 6 SRV (Submarine Rescue Vehicle) merupakan kapal selam yang dapat mengevakuasi kru dari kapal selam yang tenggelam, dioperasikan dua nakhoda dan dapat menampung 17 tim penyelamat. Dia akan diluncurkan dan diambil kembali ke kapal MV Swift Rescue oleh sistem bernama Launch and Recovery System (LARS). (knv/knv)

  ★ detik  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...