Kamis, 20 Januari 2022

[Global] Uni Emirat Arab Pesan Rudal Cheongung II KM-SAM

➶ Menjadi negara asing pertama yang mengoperasikan Cheongung IIRudal Cheongung II KM-SAM [JUNG Yeon-Je/AFP] ★

Korea Selatan telah menandatangani kontrak dengan Uni Emirat Arab (UEA) untuk mengekspor rudal permukaan ke udara jarak menengah senilai 3,5 miliar dolar AS.

Hal ini menandai kesepakatan ekspor senjata terbesar Korea Selatan dalam sejarah.

Penandatanganan kontrak dilaksanakan dalam pertemuan antara Presiden Korea Selatan Moon Jae-in dan Perdana Menteri Emirat Mohammed bin Rashid Al Maktoum di Dubai pada 16 Januari 2022.

Administrasi Program Akuisisi Pertahanan Korea Selatan mengatakan, UEA menjadi negara asing pertama yang mengoperasikan Cheongung II.

Bersamaan dengan kontrak akuisisi rudal, kedua pemerintah menandatangani nota kesepahaman untuk berkolaborasi dalam teknologi pertahanan, termasuk pengembangan bersama sistem senjata.

KM-SAM dikembangkan oleh Badan Pengembangan Pertahanan Korea Selatan dengan dukungan teknis dari perusahaan Rusia.

Sistem pertahanan udara ini didasarkan pada teknologi rudal 9M96 yang digunakan pada sistem rudal S-350E dan S-400.

Satu baterai Cheongung II terdiri dari empat hingga enam peluncur erector transporter delapan sel, radar 3D array bertahap multifungsi, dan kendaraan komando kebakaran.

Sistem rudal ini dapat mencegat hingga enam rudal musuh yang datang pada ketinggian di bawah 40 kilometer dengan jangkauan deteksi 100 kilometer. -Poetra-

  Airspace Review  

Korsel Bakal Hibah 3 Unit Kapal Perang Korvet

Diungkap KSAL Korea Selatan Pohang claas corvette, merupakan kapal yang dihibahkan ke Filipina [wikipedia] ⚓️

Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Yudo Margono melaksanakan virtual dengan KSAL Korea Selatan (Korsel) Laksamana Kim Jung-Soo, Rabu (19/1/2022). Yudo dan Kim membahas kerja sama berbagai bidang antar angkatan laut kedua negara.

Yudo mengungkapkan, TNI AL akan menyambut kedatangan kapal perang korvet milik Korsel di Indonesia. Dirinya mengaku siap bekerja sama dalam melaksanakan latihan, operasi maupun pengecekan terhadap kapal yang akan dihibahkan itu.

"Saya berterima kasih dan mengapresiasi atas perhatian Korea yang berencana untuk menghibahkan 3 kapal perang korvetnya untuk memperkuat TNI AL yang merupakan satuan kapal khusus dari Korea," tutur Yudo dalam keterangannya, Kamis (20/1/2022).

Dalam pertemuan, dibahas pula berbagai hal penting terkait kerja sama kedua Angkatan Laut yang perlu ditingkatkan lagi ke depan di berbagai bidang. Terutama bidang operasi dan latihan, serta teknologi kapal selam.

Termasuk kerja sama pertukaran perwira yang saat ini tengah melaksanakan pendidikan di kedua negara. "TNI AL akan memfasilitasi dan mendukung kedatangan para ahli kapal selam Korea ke Indonesia dan akan mendukung kegiatan mereka dalam rangka inspeksi, pemeliharaan, dan pelatihan kapal selam," jelasnya.

Yudo mengucapkan selamat kepada Laksamana Kim Jung-Soo, atas jabatan barunya sebagai Kasal Korea Selatan. Dirinya berharap, di bawah kepemimpinan Laksamana Kim Jung-Soo, kerja sama antar angkatan laut tetap terjaga.

Sementara Laksamana Kim mengawali pertemuan tersebut dengan ucapan belasungkawa yang mendalam atas musibah yang dialami KRI Nanggala beserta awaknya. Kim akan memprioritaskan program kedatangan tim ahli kapal selam untuk melatih dan menginspeksi kapal selam buatan Korea.

Berkaitan dengan hibah kapal korvet Korea ke Indonesia, Laksamana Kim menyampaikan berdasarkan arahan dari pemerintah, Korea akan menghibahkan kapal korvet ke Indonesia. Kapal itu akan dikirim ke Indonesia untuk melakukan pelayaran dan kunjungan ke Indonesia.

"Pemberian hibah suatu kapal perang membutuhkan proses yang panjang dan pertimbangan, apalagi sejumlah 3 buah. Zehingga perlu untuk memproses keinginan Laksamana Yudo. Namun usulan permintaan hibah tersebut tetap akan diteruskan kepada Kemenhan," tutur Kim.

Rencananya, Kim akan datang ke Indonesia untuk melaksanakan kunjungan kerja di bulan Februari 2022 mendatang. (maf)

  ⚓️
sindonews  

KSAU Serahkan 182 Kendaraan Dinas ke Satuan TNI AU

Untuk memenuhi kebutuhan satuan di luar Pulau Jawa Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau) Marsekal Fadjar Prasetyo menyerahkan 182 kendaraan dinas kepada satuan jajaran TNI AU yang berlangsung di hanggar Skadron Udara 17 Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Rabu (19/1/2022).

Dalam acara ini, Fadjar menyerahkan kendaraan dinas secara simbolis.

"Kendaraan dinas ini untuk memenuhi kebutuhan sarana operasional satuan-satuan atau lanud-lanud jajaran TNI AU, khususnya satuan jajaran yang ada di luar Pulau Jawa," ujar Fadjar dalam keterangan tertulis Dinas Penerangan Angkatan Udara (Dispenau), Rabu (19/1/2022).

Fadjar berharap, penyerahan kendaraan dinas ini dapat meningkatkan kinerja dan motivasi pelaksanaan tugas satuan yang berada di Luar Jawa.

Fadjar juga berpesan, agar kendaraan tersebut dirawat dengan sebaik-baiknya.

Ia mengingatkan bahwa kendaraan dinas ini berasal dari pajak yang diperoleh dari rakyat.

"Semoga dapat meningkatkan kinerja dan motivasi dalam melaksanakan tugas. Harus kita pahami, kendaraan ini agar dirawat dengan sebaik-baiknya, karena menggunakan anggaran negara yang berasal dari pajak yang diperoleh dari Rakyat," terang dia.

Adapun 182 unit kendaraan dinas ini meliputi 7 unit bus sedang, 14 mobil sedan untuk kendaraan jabatan, dan 45 kendaraan operasional mini bus.

Kemudian 16 kendaraan khusus double cabin dan 100 unit motor caraka untuk operasional Babinpotdirga.

  Kompas  

Eye on China, Indonesia Launches Naval Spending Spree

⚓️ Leaked documents indicate Jakarta is lining up as much as $ 125 billion in military modernization spending Illustration Indonesia Fleet [TNI AL]

Indonesia is embarking on a program to modernize its navy and build up a more effective deterrent to confront future incursions by Chinese ships into the 200-nautical-mile economic exclusion zone (EEZ) along its northern maritime border.

Maritime Coordinating Minister Luhut Panjaitan has often stressed the need for what he calls “ocean-going” surface combatants to protect fishery resources from intruding Chinese and other foreign trawlers in the North Natuna Sea.

But the brazen seven-week incursion by a Chinese survey ship and two armed coast guard cutters near a gas exploration rig 20 kilometers inside Indonesian waters last year has upped the stakes and left the Indonesians scratching their heads over what comes next.

Indonesia’s two home-built Sigma-class and five 1960s-era Van Speijk-class frigates have a limited range of 6,000-9,000 kilometers, only slightly more than most of the navy’s core fleet of 24 corvettes, 14 of which were acquired from the former East German navy in 1993 and are nearing retirement.

Defense Minister Prabowo Subianto has concluded a deal for two British Arrowhead 140 frigates, which will be built at state-run PT PAL‘s Surabaya shipyard, and also signed a contract for six new Italian FREMM multi-role frigates and two upgraded Italian Navy Maestrale-class light frigates.

Prabowo was a surprise inclusion in President Joko Widodo’s Cabinet after losing to the incumbent in the 2019 presidential race. But the former army general has impressed with his grasp of strategic issues and his prioritizing a stronger navy and air force.

The minister is also considering the purchase of two or three squadrons of Boeing F-15EX Eagle II and Dassault Rafale fighter jets to augment a front-line fleet made up of three squadrons of Lockheed Martin F16s and 16 Russian Sukhoi Su-27/30s bought during an extended 15-year American arms embargo.

Rafale [wikipedia]

Air force commander Air Chief Marshal Fadjar Prasetyo recently confirmed Indonesia had made the long-rumored decision to drop the planned acquisition of Su-35 multi-role fighters because of feared US economic sanctions.

Leaked Defense Ministry documents suggest Indonesia will rely heavily on foreign loans to fund an ambitious US$ 125 billion modernization program over the next 25 years. “Many of our defense systems are aging, so replacing them is urgent,” Prabowo said last year, stressing the need to respond to what he called the “ever-changing environment.”

Neither he nor other senior security officials have said much about China’s aggressive activities in the North Natuna Sea, which are at puzzling variance with an economic relationship that has propelled Indonesia into a new era of industrialization.

Maritime watchers have seen little Chinese activity over the past two months, but further north the USS Carl Vinson aircraft carrier and USS Essex amphibious assault ship last week raised Beijing’s ire once again by skirting Chinese installations in the disputed Spratly Islands.

Based on the hull of the Danish-designed Iver Huitfeld-class frigate and manufactured under license from British defense contractor Babcock International, the 5,100-tonne Arrowhead 140 has a range of 17,000 kilometers and a top speed of 30 knots.

It is armed with Sea Ceptor missiles, guided by an advanced air and surface surveillance system, and carries either an AugustaWestland Wildcat or Sikorsky Seahawk helicopter capable of delivering anti-ship missiles and lightweight torpedoes.

The Royal Navy is buying five similar Type 31 frigates, but Babcock says the baseline Arrowhead 140 design can be configured to meet a broad range of operational requirements specifically tailored for Indonesian operations.

The $ 720 million deal is a triumph for Jakarta as it looks to benefit from a transfer of technology, not only to build its own military hardware in the future, but to contribute to the economic benefits of developing the country’s shipbuilding industry.

Founded during president Suharto’s rule in 1980, PAL has already built corvettes, missile-armed fast attack craft and amphibious warfare vessels, in addition to two strategic sealift vessels for the Philippines Navy.

Earlier, Trieste-based Italian shipbuilder Fincantieri announced it will build six FREMM frigates for Indonesia for $ 4.5 billion, apart from meeting more than 50 orders for the same vessel from the US, France, Italy, Egypt and Morocco.

FREMM Bergamini class

The 6,000-tonne Bergamini-class variant, first introduced into service in 2012, has a range of 12,000 kilometers and is equipped with a 127 mm main gun and Otomat MK2 anti-ship missiles capable of engaging targets at a distance of 180 kilometers.

Under the arrangement, Fincantieri will also acquire and modernize the two 3,000-tonne Maestrale-class frigates, which have a range of 11,000 kilometers and are primarily designed for anti-submarine warfare.

The new frigates are destined to be built in Fincantieri shipyards, but there has been little progress on the deal in the past seven months with a lack of finance still appearing to be a major obstacle.

The same applies to a separate deal with Japan, which had a sales team ensconced in Jakarta for much of last year seeking to sell the Indonesians eight stealthy Mogami-class multi-mission frigates at an overall cost of $ 3.6 billion.

Under a provisional plan, Mitsubishi and Mitsui were to deliver four of the 5,000-tonne vessels, beginning in late 2023, and for the other four to be built by PAL in what would have been the biggest-ever arms deal between the two countries.

Indonesia’s last naval acquisitions were three 1,700-tonne F2000 corvettes, originally built by Briain’s BAE Systems for the Royal Brunei Navy and sold to Indonesia in 2014 after the sultanate refused to take delivery because they did not meet specifications.

Last December, Vancouver-based OSI Maritime Systems announced it had been contracted to provide a new integrated navigation and tactical system for the mid-life modernization of the KRI Usman Harun.

The Usman Harun and its sister ship, the KRI John Lie, were among the navy ships that shadowed the Chinese flotilla during the nearly two months it spent inside Indonesia’s EEZ on an intensive seabed mapping exercise.

The incursion was seen as an attempt by China to enforce its so-called nine-dash line of national sovereignty, which despite extending across most of the South China Sea has no legal basis under the United Nations Law of the Sea Convention (UNCLOS).

In a sign Beijing may be starting to realize the counter-productive effect of its aggressive actions against Indonesia, Vietnam and the Philippines, Chinese Foreign Minister Wang Yi told a forum in Manila this week that China will not use its strength to “bully” its neighbors.

Stressing only one side’s claims and imposing one’s will on the other is not a proper way for neighbors to treat each other and it goes against the oriental philosophy of how people should get along with each other,” he said.

 ⚓️  Asia Times  

Nigeria Akan Beli Pesawat, 2 Helikopter, Dan Lainnya dari Indonesia

Diberitakan Daily TrustN219 Produksi PTDI [PTDI]

Badan Nasional Infrastruktur Sains dan Rekayasa (NASENI) mengatakan sedang membuat rencana untuk pengadaan pesawat N219, dua helikopter dan peralatan hanggar dari PT Dirgantara Indonesia.

Executive Vice Chairman/Chief Executive (EVC/CE) NASENI, Prof. Mohammed Sani Haruna mengatakan, pihaknya telah mendapat persetujuan untuk memperoleh know-how dari Indonesia dalam pengembangan pesawat sipil dan militer.

Dia berbicara pada hari Kamis di Abuja, saat menerima Duta Besar Republik Indonesia, Dr Usra Hendra Harahap yang memimpin delegasi ke lembaga tersebut dalam kunjungan.

Haruna mengatakan persetujuan pemerintah federal untuk badan tersebut meluas ke pengembangan pengangkut personel lapis baja, peralatan lain yang dibutuhkan oleh militer dan teknologi untuk produksi pupuk dari sumber daya yang tersedia secara lokal.

Ia juga mengatakan, proses untuk memperoleh teknologi tersebut adalah dengan membelinya terlebih dahulu kemudian mempelajari cara merakitnya dan proses produksinya.

Kami telah menyetujui untuk memperoleh pengetahuan dari Indonesia tentang pengembangan pesawat terbang baik sipil dan militer, pengangkut personel lapis baja dan peralatan lain yang dibutuhkan oleh militer dan beberapa teknologi di bidang pupuk dari sumber daya lokal yang tersedia.

Proses perolehan teknologinya adalah untuk memperolehnya terlebih dahulu untuk belajar bagaimana melakukan perakitan dan prosesnya, pesawat akan dibeli untuk memungkinkan kami mengetahui cara merakitnya dan dalam prosesnya, Anda mempelajari segalanya dan secara bertahap Anda akan dapat menghasilkan komponen yang berbeda,” kata Haruna.

Duta Besar Republik Indonesia, Dr Harahap mengatakan, “Kami memiliki tujuan yang sama, bagaimana membangun negara kami. Indonesia dan Nigeria memiliki transfer teknologi yang timbal balik, oleh karena itu pada aspek teknologi yang kami coba bagikan, kami perlu melakukan transfer teknologi tentang cara membangun dan memelihara pesawat, perawatan dan produksi suku cadang.

Kedutaan juga menerima pembaruan penawaran senjata dan kendaraan untuk Pemerintah Federal Nigeria dengan nilai perkiraan $ 57 juta.

Kedutaan juga menyadari bahwa NASENI berniat untuk membeli beberapa produk dari PT. Dirgantara Indonesia seperti Pesawat N219, perlengkapan hanggar dan dua helikopter. Terkait hal ini, pihak kedutaan sedang meminta klarifikasi kepada PT. Dl untuk estimasi nilai produk,” kata Harahap.
 

  🛩
Garuda Militer  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...