🚀 Diposkan Kemhan RIOPV Thaon di Revel class ketika berkunjung ke Indonesia, setelah ditawarkan, dalam hitungan bulan, Kemhan menandatangani kontrak 2 unit Kapal OPV ini. (Dispenal) ☆
Sistem rudal permukaan ke udara (Surface to Air Missile /SAM) Aster 15/30 beserta peluncur vertical DCNS Sylver A43, akan menjadi salah satu persenjataan kapal perang Pattugliatore Polivalente d’Altura (PPA) untuk memodernisasi TNI Angkatan Laut.
Rudal ini dirancang untuk menghadapi ancaman pesawat tempur, helikopter, pesawat tanpa awak, rudal jelajah, hingga rudal anti-kapal yang terbang rendah, dan memiliki kemampuan siluman, manuverabilitas, kecepatan, serta daya tembak tinggi.
Rudal aster 15 dan 30 yang merupakan salah satu pertahanan udara terbaik di dunia saat ini, memiliki desain dan teknologi yang sama, tetapi berbeda dalam ukuran, berat serta jangkauan. Aster 15 memiliki jangkauan lebih dari 30 km, sedangkan Aster 30 lebih dari 100 km.
MBT Seharga Rp 162 Miliar Jadi Mangsa Drone Rusia Senilai Rp 8 JutaTank Abrams Amerika Serikat seharga Rp 162 miliar yang dikirim ke Ukraina jadi mangsa drone Rusia senilai Rp 8 juta. (Foto/Bulgarian Military) ★
Tank M1 Abrams Amerika Serikat (AS) yang mahal, yang dikirim ke Ukraina, semakin menjadi mangsa drone Rusia yang harganya sangat murah.
Mengutip New York Times, Minggu (21/4/2024), setidaknya lima dari 31 tank Abrams—masing-masing senilai USD 10,000,000 (lebih dari Rp 162 miliar)—yang dikirim AS ke Ukraina telah dihancurkan oleh drone Rusia yang harganya hanya USD 500 (Rp 8 juta) per unit.
Tiga tank Abrams lainnya, lanjut laporan tersebut, rusak sedang.
“Bahkan salah satu simbol kekuatan militer Amerika yang paling kuat pun tidak kebal terhadap serangan semacam itu,” tulis New York Times.
Dalam kebanyakan kasus, tank-tank mahal tersebut telah dihancurkan oleh drone kamikaze first-person-view (FPV), yang juga dikenal sebagai amunisi berkeliaran. Drone semacam itu mampu bermanuver secara aktif sebelum mencapai sasarannya.
Setidaknya dalam satu kejadian, sebuah tank Abrams dikalahkan dalam duel melawan tank tempur utama T-72B3 Rusia. Militer Rusia telah menerbitkan lebih dari selusin klip, sebagian besar diambil dari drone, yang menunjukkan kehancuran peralatan yang dipasok AS.
Menurut laporan New York Times, tank-tank Abrams ternyata lebih mudah dihancurkan dengan meledakkan drone dibandingkan perkiraan awal beberapa pejabat dan pakar.
Laporan itu mengutip seorang sejarawan dan pakar militer Austria, Kolonel Markus Reisner, yang menggambarkan situasi seperti itu sebagai “luar biasa”. Lebih lanjut, laporan media Amerika itu menggambarkan UAV Rusia sebagai “pembunuh tank yang sangat akurat dan berbiaya rendah”.
“Akurasi drone tersebut melebihi 90%,” tulis New York Times, seraya menambahkan bahwa drone tersebut juga mampu menghantam kendaraan lapis baja berat di titik terlemahnya.
“UAV tersebut hanya berharga USD 500, dan mampu menghancurkan tank Abrams senilai USD 10 juta,” imbuh laporan New York Times.
Surat kabar tersebut juga mengakui bahwa tidak ada cara yang “mudah atau tunggal” untuk mempertahankan tank dari serangan drone.
Tank Abrams buatan AS muncul di garis depan pada akhir Februari di tengah upaya Ukraina untuk menghentikan gerak maju pasukan Rusia setelah merebut kota Avdiivka di Donbas.
Sebanyak 31 tank M1 Abrams dijanjikan ke Kyiv awal tahun lalu, menjelang serangan balasan Ukraina yang membawa bencana. Pengiriman baru dilakukan secara penuh pada pertengahan Oktober, ketika sebagian besar bantuan yang naas telah habis. (mas)
Digelar pada Juli 2024Latihan Operasi Perebutan dan Pengoperasian Pangkalan Udara (antara)
TNI AU dan militer Amerika Serikat yakni United State Pacific Air Force (US PACAF) dipastikan menggelar latihan bersama dalam ajang Cope West MAF 2024 pada Juli 2024.
Hal tersebut dapat dipastikan setelah jajaran TNI AU dan US PACAF melakukan pertemuan terakhir untuk membahas persiapan latihan bersama di Gedung Bina Yudha Pangkalan Udara (Lanud) Abd Saleh, Malang, Jawa Timur, Selasa (16/4).
Berdasarkan siaran pers TNI AU yang disiarkan Jumat, persiapan ajang Cope West MAF 2024 itu membahas beberapa hal seperti persiapan manuver latihan, kesiapan tempat, skenario kegiatan, hingga dukungan administrasi dan logistik.
Dalam kegiatan latihan tersebut, TNI AU akan menurunkan pesawat C-130 TNI AU, personel Komando Pasukan Gerak Cepat (Kopasgat).
Dengan adanya kegiatan ini, pihaknya TNI AU berharap jajarannya dapat mengalami peningkatan kualitas SDM personel dan alutsista.
Tidak hanya itu, TNI AU juga berharap kegiatan latihan gabungan ini dapat membuat hubungan bilateral antara Indonesia dan Amerika Serikat semakin harmonis.
Sebelumnya, TNI AU saat ini tengah gencar merangkul beberapa negara untuk melakoni latihan bersama. Yang paling baru yakni kerja sama latihan gabungan dengan militer udara Perancis yakni French Air and Space Foreca (FASF).
Dalam siaran pers TNI AU, dijelaskan bahwa kerja sama yang dilakukan yakni di bidang latihan, pendidikan, Subject Matter Exchange Expert (SMEE) dan operasi penerbangan.
Dengan latihan, ini kedua negara berkesempatan untuk saling bertukar personel, instruktur dan materi pendidikan.
Tidak hanya itu, latihan ini juga memfasilitasi kedua negara untuk saling bertukar tenaga ahli atau spesial dalam bidang taktik dan alutsista.
Selain itu, latihan ini juga memungkinkan kedua negara saling bertukar pengalaman dan teknik dalam operasi penerbangan dalam menjaga teritorial negara. ♖antara
Tak Ada Rencana Membalas Ilustrasi drone kamikaze hasil kerjasama Pindad (Ist) 💥
Ledakan bergema di sebuah kota di Iran pada Jumat (19/4/2024) yang menurut sejumlah sumber merupakan serangan Israel.
Namun, Iran tampaknya meremehkan insiden tersebut, mengindikasikan pihaknya tidak memiliki rencana untuk melakukan pembalasan.
Ini jadi respons yang tampaknya ditujukan untuk menghindari perang yang lebih luas.
Dilansir dari Reuters, Menteri Luar Negeri Iran mengatakan drone tersebut, yang menurut sumber diluncurkan Israel ke kota Isfahan, adalah drone mini dan tidak menimbulkan kerusakan atau korban jiwa.
Skala serangan yang terbatas dan tanggapan Iran yang tidak terdengar tampaknya menandakan keberhasilan upaya para diplomat.
Mereka telah berupaya mencegah perang habis-habisan sejak serangan pesawat tak berawak dan rudal Iran terhadap Israel pada Sabtu (13/4/2024).
Media dan pejabat Iran menggambarkan sejumlah kecil ledakan, yang menurut mereka diakibatkan oleh pertahanan udara yang menghantam tiga drone di Isfahan di Iran tengah.
Mereka menyebut insiden tersebut sebagai serangan yang dilakukan oleh penyusup, bukan oleh Israel, sehingga tidak perlu adanya pembalasan.
Seorang pejabat senior Iran mengatakan bahwa tidak ada rencana untuk menanggapi Israel atas insiden tersebut.
"Sumber asing dalam insiden ini belum dapat dikonfirmasi. Kami belum menerima serangan dari luar, dan diskusi lebih mengarah pada infiltrasi dibandingkan serangan," kata pejabat tersebut.
Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amirabdollahian juga berhati-hati dalam memberikan komentarnya kepada utusan negara-negara Muslim di New York.
“Media pendukung rezim Zionis (Israel), dalam upaya putus asa, mencoba meraih kemenangan dari kekalahan mereka, sementara mini-drone yang jatuh tidak menimbulkan kerusakan atau korban jiwa,” kata Amirabdollahian seperti dikutip media Iran.
Israel tidak mengatakan apa pun tentang insiden itu dan sekutunya AS menolak untuk ikut campur.
Sistem rudal pertahanan S-200, era Uni Soviet. (Foto/Reuters) 🚀
Ukraina mengklaim telah menembak jatuh pesawat pengebom strategis Rusia Topulev Tu-22M3, Jumat (19/4/2024). Sebelumnya Kementerian Pertahanan (Kemhan) Rusia menyatakan, pesawat tersebut jatuh akibat masalah teknis.
Militer Ukraina menyatakan pesawat ditembak jatuh di wilayah Rusia. Ini sekitar 300 km dari perbatasan.
"Seorang sumber intelijen mengatakan Ukraina menembak jatuh pesawat pengebom tersebut menggunakan rudal pertahanan udara S-200 yang telah dimodifikasi. Namun sumber itu tak menyebutkan dari mana rudal ditembakkan," tulis laporan Reuters.
S-200 merupakan sistem rudal pertahanan permukaan ke udara jarak jauh yang dibuat pada masa Uni Soviet.
Pesawat pembom strategis TU 22M3. (TASS)
Rekaman video yang beredar di media sosial menunjukkan pesawat dengan ekor terbakar menghujam ke daratan.
Kemhan Rusia sebelumnya menyatakan pesawat pengebom strategis Tu-22M3 jatuh di wilayah Stavropol.
Pesawat yang diawaki empat orang itu dalam penerbangan pulang setelah menjalankan misi pertempuran.
Keempat kru berhasil keluar menggunakan kursi lontar, namun baru tiga yang dievakuasi dengan selamat. Sementara seorang lainnya masih dalam pencarian.