(Kemhan)
Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin melakukan kunjungan kerja ke PT Dirgantara Indonesia, Bandung, Kamis (27/03/25).
Kunjungan Menhan tersebut dalam rangka meninjau langsung progres kontrak pengadaan alutsista yang dikelola PT DI, termasuk program strategis seperti helikopter serbaguna TNI AD, upgrade F-16, pengembangan pesawat N219 dan varian amfibinya.
“Saya juga menyoroti pentingnya percepatan pengadaan, termasuk rencana pengadaan 80 unit CN235/CN295 hingga 2029, serta mendorong PT DI mengkaji peluang kerja sama sebagai langkah konkret menuju kemandirian industri pertahanan nasional,” kata Menhan. (Biro Infohan Setjen Kemhan)
Di Timika, Papua
(Sathar 23)
Sebuah capaian membanggakan kembali ditorehkan oleh personel Sathar 23 dalam mendukung kesiapan operasional TNI Angkatan Udara. Kali ini, tim Sathar 23 berhasil melaksanakan Bantuan Pemeliharaan Lapangan terhadap Pesawat B-737 yang mengalami kerusakan pada sistem radar udara saat berada di Timika, Papua.
Meskipun secara kemampuan pemeliharaan Sathar 23 tidak memiliki testbench atau kemampuan langsung terhadap sistem radar udara tipe tersebut, namun dengan semangat pantang menyerah, inovasi yang tinggi, serta sinergi antarpersonel yang solid, tim berhasil mengatasi kendala teknis yang ada dan memulihkan fungsi radar pesawat secara optimal.
Keberhasilan ini menunjukkan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang ketika dihadapkan dengan dedikasi dan tekad yang kuat. Tim Sathar 23 membuktikan bahwa dengan kerja keras, kepedulian terhadap misi, dan keberanian untuk mencari solusi di luar batas kemampuan formal, maka tantangan operasional sebesar apa pun dapat ditaklukkan.
Semoga keberhasilan ini menjadi inspirasi bagi seluruh satuan pemeliharaan untuk terus berinovasi, bekerja profesional, dan siap bertindak cepat dalam menjaga kesiapan alutsista TNI AU di mana pun berada.
Dari Basis Ilyushin Il-76 ‘Buatan’ Korea Utara
Pesawat AEW&C intai Korut sukses terbang disaksikan Kim Jong Un (Ist)
Update analisis citra satelit terkait pengembangan pesawat peringatan dini dan kendali udara atau Airborne Early Warning and Control (AEW&C) dari basis Ilyushin Il-76 oleh Korea Utara, rupanya tidak meleset. Pada artikel yang diposting pada awal Maret 2025, disebut pembuatan hampir tuntas, maka kabar terbaru mengonfirmasi bila pesawat AEW&C yang dimaksud kini telah mengudara.
Penerbangan AEW&C berbasis pesawat kargo Il-76 secara langsung ditinjau oleh pemimpin Korea Utara Kim Jong Un. Menurut Kantor Berita Korea Utara (KCNA), Kim memeriksa pesawat tersebut di Bandara Internasional Pyongyang awal minggu ini. Pesawat tersebut akan “memainkan peran penting dalam memantau potensi ancaman dan mengumpulkan informasi penting,” kata Kim Jong Un.
Pandangan eksternal mengonfirmasi bahwa AEW&C Korea Utara, yang memiliki skema cat dua warna putih dan abu-abu dan tidak ada tanda yang terlihat jelas, secara umum mirip dengan A-50 Mainstay buatan Rusia dan KJ-2000 Mainring buatan Cina.
Tidak seperti A-50 dan KJ-2000, desain Korea Utara, setidaknya saat ini, terlihat memiliki kekurangan antena dan tonjolan lain yang terkait dengan pesawat jenis ini.
Desain segitiga khas radome di atas badan pesawat belakang terlihat pada AEW&C Korea Utara, tidak seperti yang ada di A-50. Radome tetap seperti ini ditemukan di KJ-2000 dan pesawat AEW&C Tiongkok lainnya, dan menampung tiga radar array bertahap non-rotasi untuk menyediakan cakupan 360 derajat.
Tampilan interior AEW&C menunjukkan setidaknya tujuh stasiun kerja individual, serta monitor layar datar di dinding interior badan pesawat dan sekat depan. Pesawat AEW&C biasanya memiliki kru yang relatif besar yang bertugas memantau medan pertempuran di sekitar pesawat dan mengendalikan pesawat kawan. Interiornya terlihat sangat modern, rapi, dan mengesankan, hampir seperti set film Hollywood yang menggambarkan teknologi militer canggih.
Korea Utara diperkirakan membutuhkan setidaknya empat pesawat AEW&C untuk memastikan pengawasan terus-menerus selama 24 jam terhadap Korea Selatan.
Hal ini akan memungkinkan mereka untuk bergantian antara pengawasan aktif, perawatan rutin, dan latihan. Sebagai perbandingan, Korea Selatan telah mengoperasikan empat unit Boeing 737 AEW&C “Peace Eye” buatan AS dan berencana untuk memperluas armadanya dengan empat unit tambahan. (Gilang Perdana)
Buatan dalam negeri
F-16 Turkiye sukses tembakkan rudal jelajah antikapal SOM-J (Turkish MoD)
Turkiye sukses menguji rudal jelajah buatan dalam negeri SOM-J pada 21 Maret 2025. Rudal tersebut diluncurkan dari jet tempur F-16 dari Skadron Uji Coba ke-401 Angkatan Udara Turkiye.
Dilaporkan, rudal secara akurat mengenai target yang dipasang di laut.
Uji coba ini menandai penggunaan pertama SOM-J terhadap target di permukaan laut. Rudal SOM-J awalnya dirancang untuk menyerang target berbasis daratan.
SOM-J dikembangkan melalui kerja sama antara perusahaan pertahanan lokal TÜBİTAK SAGE dan Roketsan.
Rudal ini memiliki beberapa fitur teknis utama, termasuk jangkauan 275 km, kecepatan subsonik tinggi, dan hulu ledak seberat 140 kg.
Sistem pemandunya mengintegrasikan beberapa teknologi navigasi, termasuk Sistem Navigasi Inersia (INS), Sistem Pemosisian Global (GPS), Navigasi Relatif Medan (TRN), dan Akuisisi Target Otomatis (ATA).
Rudal SOM-J juga dilengkapi dengan pencari inframerah pencitraan (IIR) untuk meningkatkan presisi penargetan pada fase terminal.
Dengan penampang radar yang rendah dan ketahanan terhadap tindakan penanggulangan elektronik meningkatkan kemampuan bertahannya di lingkungan pertempuran yang sengit.
Selain ditembakkan dari F-16. rudal SOM-J dirancang dapat diluncurkan dari drone seperti Kizilelma dan Anka-3. (RBS)
Menteri Luar Negeri Prancis temui Prabowo
Indonesia telah memesan 42 unit Rafale (Dassault Aviation)
Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmen Indonesia untuk memperkuat kemitraan strategis dengan Prancis, khususnya di sektor pertahanan.
Hal ini disampaikan Presiden dalam pertemuannya dengan Menteri Eropa dan Urusan Luar Negeri Prancis, Jean-Noël Barrot, di Istana Merdeka, Jakarta, pada Rabu.
"Pemerintah Indonesia menekankan untuk memperluas kerja sama dengan Pemerintah Prancis di bidang pertahanan, terutama perihal modernisasi alutsista," demikian petikan keterangan pers yang diterbitkan Sekretariat Presiden di Jakarta.
Pemerintah Indonesia menekankan pentingnya kerja sama ini untuk memperkuat sistem pertahanan nasional guna menjaga hubungan bilateral kedua negara yang telah memasuki babak baru, seiring peringatan 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Prancis.
“Kami ingin memperkuat kedaulatan bersama dan menyatukan kekuatan untuk menghadapi berbagai tantangan global, termasuk krisis regional,” ujar Jean-Noël Barrot kepada awak media usai pertemuan tersebut.
Sejak tahun 2011, Indonesia dan Prancis telah menjalin kemitraan strategis yang diperkuat dengan Plan of Action (PoA) yang ditandatangani pada 2021.
Selain itu, Indonesia juga berharap perluasan kerja sama dalam hal transfer teknologi. Hal tersebut menjadi salah satu prioritas utama Pemerintah Indonesia karena sistem pertahanan yang kuat merupakan hal dasar dalam menjaga stabilitas nasional.
Dalam kesempatan ini, Menlu Barrot menyampaikan ucapan terima kasih kepada Presiden Prabowo atas penerimaannya. Kunjungan Menlu Prancis ke Indonesia diharapkan mendapat hasil yang konkret dalam penguatan kemitraan antara kedua negara.
“Ini juga merupakan kesempatan bagi saya untuk mengucapkan terima kasih kepada Presiden Prabowo atas persiapan aktif kunjungan ini dari pihak Indonesia,” ujar Menlu Barrot menutup keterangannya kepada awak media.
Turut mendampingi Presiden Prabowo dalam pertemuan tersebut adalah Menteri Luar Negeri Sugiono dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.