Selasa, 30 September 2025

Avionik Infoglobal Modernisasi Hercules TNI AU

Avionik Infoglobal modernisasi pesawat Hercules TNI AU (Yudi Supriyono fb)

Untuk pertama kalinya, avionik buatan Indonesia terlihat di kokpit pesawat C-130H registrasi A-1330.

Dalam foto terlihat avionik bernama EFD-5.5 buatan Infoglobal terinstal di kokpit pesawat.

Pesawat ini pada tanggal 27 September lalu telah selesai menjalani Bantuan Pemeliharaan Lapangan (BANHARLAP) yang dilaksanakan oleh para teknisi terampil di Satuan Pemeliharaan 15.

C-130H registrasi A-1330 merupakan pesawat eks Australia yang dihibahkan ke TNI AU. Dengan selesainya pemeliharaan, A-1330 akan kembali ke pangkalannya di Skadron Udara 33, Lanud Sultan Hasanuddin, Makassar.

Foto yang diupload akun instagram Sathar 23 menunjukan proses perbaikan Auto Pilot & CHD Control Panel pada pesawat C-130H dengan registrasi A-1327 di Sathar 15 Depohar 10.

Jika dilihat seksama terlihat display EFD 6.0 berukuran 6 inci buatan industri avionik lokal, Infoglobal.

Dahulu pada awal kedatangan, C-130H eks Australia ini mengalami problem di bagian display kokpit yang mengadopsi display Actiview 550 berukuran 5,5 inci buatan L3. Problem utamamya adalah ketidaktahanan terhadap suhu panas akibat iklim tropis di Indonesia.

 
Yudi Supriyono Fb  

[Global] Angkatan Udara Kerajaan Thailand Tambah Dua Helikopter Multiperan Airbus H225

 Meningkatkan kemampuan SAR & EMS Angkatan Udara Kerajaan Thailand menambah dua helikopter multiperan Airbus H225. (Royal Thai Air Force) 

Airbus Helicopters telah menandatangani kontrak dengan Angkatan Udara Kerajaan Thailand (Royal Thai Air Force/RTAF) untuk pengadaan dua helikopter multiperan H225. Kehadiran armada baru ini akan secara signifikan meningkatkan kemampuan RTAF dalam misi penting seperti pencarian dan penyelamatan (SAR) serta layanan medis darurat (emergency medical services/EMS), menegaskan komitmen mereka terhadap keamanan nasional dan dukungan kemanusiaan.

Pengadaan terbaru ini menambah armada H225M yang dimiliki RTAF, yang telah beroperasi sejak pengiriman pertama pada 2015. Helikopter andal tersebut selama ini dikerahkan untuk berbagai misi penting, mulai dari combat search and rescue (CSAR), penerbangan SAR, hingga operasi transportasi pasukan.

RTAF juga mengoperasikan armada helikopter latih militer H135, menunjukkan kemitraan jangka panjangnya dengan Airbus. Tahap penyelesaian (completion work) untuk dua unit H225 baru ini akan dilakukan oleh Thai Aviation Industries (TAI) melalui kerja sama yang telah terjalin dengan Airbus Helicopters, sehingga memastikan integrasi yang mulus dan dukungan keahlian lokal.

Helikopter H225M telah terbukti menjadi aset yang diperlukan untuk operasi kami selama satu dekade terakhir, dengan kinerja dan keandalan yang baik di berbagai misi yang menantang,” ucap Air Chief Marshal RTAF, Punpakdee Pattanakul.

Penambahan dua helikopter baru ini, yang secara khusus ditetapkan untuk misi pencarian dan penyelamatan (SAR) dan layanan medis darurat (emergency medical services/EMS), akan semakin memperkuat kemampuan kami dalam melindungi dan melayani masyarakat Thailand. Hal ini memastikan kami dapat merespons keadaan darurat, di mana pun itu terjadi.”

Sebuah kehormatan bagi kami atas kepercayaan berkelanjutan yang diberikan oleh Angkatan Udara Kerajaan Thailand terhadap helikopter H225 kami,” ucap Olivier Michalon, Executive Vice President of Global Business at Airbus Helicopters, dalam keterangan yang diterima, Minggu, 28 September.

Pesanan lanjutan ini merupakan bukti dari kemampuan multiperan, kapabilitas canggih, serta peran pentingnya dalam mendukung misi pertahanan nasional dan layanan publik. Kami bangga dapat terus melanjutkan kemitraan dengan RTAF, memastikan mereka didukung oleh perangkat terbaik untuk menjalankan tugas penting mereka.

Terdapat lebih dari 360 helikopter H225 dan H225M yang beroperasi di seluruh dunia, yang mencatatkan lebih dari 980.000 jam terbang. Operator militer ini meliputi Prancis, Belanda, Hungaria, Brasil, Meksiko, Singapura, Thailand, Malaysia, Indonesia, Irak, dan Kuwait. ***

  ⍟
Jakarta Daily  

Dua T50i Pesanan TNI AU TIba November 2025

  Ditinjau WakasauT50i dengan no T-5018, salah satu pesanan TNI AU akan tiba November 2025 (Dispenau)

Wakil Kepala Staf Angkatan Udara (Wakasau) Marsekal Madya TNI Ir. Tedi Rizalihadi S., M.M., memimpin Commander Inspection pengadaan enam unit pesawat T-50i di Korean Aerospace Industries (KAI), Sacheon, Korea Selatan, Senin (29/9/2025).

Kegiatan ini dilaksanakan untuk meninjau langsung perkembangan pengadaan enam unit pesawat T-50i yang nantinya akan memperkuat TNI Angkatan Udara.

Dalam kunjungan tersebut, Wakasau dan delegasi disambut oleh Senior Executive Vice President KAI, Mr. Jae-Byoung Cha, yang memberikan penjelasan terkait program produksi enam unit pesawat T-50i. Selanjutnya, delegasi meninjau dan melihat secara langsung pesawat T-50i beserta fasilitas yang dimiliki KAI.

Pengiriman enam unit pesawat tempur T-50i akan dilakukan secara bertahap. Dua pesawat pertama direncanakan tiba pada November 2025, disusul pengiriman berikutnya.

Penambahan kekuatan ini merupakan bagian dari program modernisasi Alat Peralatan Pertahanan dan Keamanan (Alpalhankam) untuk meningkatkan kesiapan tempur TNI Angkatan Udara.

Langkah tersebut sejalan dengan tekad Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau) Marsekal TNI M. Tonny Harjono, S.E., M.M., dalam mewujudkan TNI Angkatan Udara yang Adaptif, Modern, Profesional, Unggul, dan Humanis (AMPUH).

Turut mendampingi Wakasau Dankoharmatau Marsda TNI Ir. Suryanto, Kapus BMN Baranahan Kemhan RI Marsma TNI Tisna Kurniawan, Dangrup 3 Tempur Koopsau Marsma TNI David Tamboto, Pengelola Pengadaan Barang/Jasa Madya Pus Alpalhan Baranahan Kemhan Kolonel Lek Dwi Anggoro serta Athan di Seoul Kolonel Pnb Muhammad Arif.

 
Militer Udara  

Senin, 29 September 2025

Penampakan KSOT PAL

  Tampil di Monas KSOT produksi PAL ditampilkan di Monas (Yudi Supriyono fb)

Parade dan defile HUT TNI ke-80 di Lapangan Silang Monas, Jakarta, nantinya akan diramaikan alutsista baru, salah satunya wahana tempur bawah air yang disebut Kapal Selam Autonomous (KSOT).

Kapal selam mini tertulis KSOT-008 dengan tak lupa lambang PAL

Dari infomedia indomiliter, KSOT ini merupakan hasil kerjasama dengan perusahaan Jerman, yang ditandatangani antara PT PAL Indonesia dan Diehl Defence saat Indo Defence 2022.

Kapal tanpa awak (Unmanned Underwater Vehicle/UUV) ini mempunyai panjang 15 meter dan bisa dipacu hingga 8 knots dan dilengkapi dengan Artificial Intelligence (AI), yang dapat dimonitor dari jarak jauh untuk mengirimkan informasi ke pusat komando.

KSOT ini nantinya ada beberapa varian untuk intai maupun serang.

  Berikut spesifikasinya KSOT : 



   👷
  Garuda MIliter  

AS Blokir Ekspor Mesin Jet Tempur KAAN

Bagaimana nasib pesanan RI ? https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhvY2VQJdvTEFOvacbp_xftc_jl4HEnVfng-RC4gpdHPsUPB7q2DyOCmiojUT0NvPwl1vXdkuPDqWG2tGtYRND7lY5PKkHm6yuHB9mY0_HtBal1hrg8cVasdGkBDuzwgJttEgYLErKjMJdf_ipAVv5wqYUcnHiLTefcMJ7Bt3IRCKQ8OcPV670YODptF7Bw/s3000/316167.jpgPesawat generasi kelima KAAN Turkiye (AA)

Ketegangan pertahanan antara Washington dan Ankara kembali memanas setelah Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan mengonfirmasi bahwa Kongres AS memblokir lisensi ekspor mesin F110 untuk program jet tempur generasi kelima KAAN.

Fidan menyebut langkah itu sebagai “sebuah hambatan yang disengaja terhadap rencana Turki dalam meraih kemandirian pertahanan nasional.

Dilansir dari defencesecurityasia.com, blokade mesin ini mengancam jadwal produksi awal KAAN yang semula ditargetkan mulai 2028.

Pesawat buatan Turkish Aerospace Industries (TAI) tersebut masih bergantung pada mesin turbofan General Electric F110-GE-129, sama seperti yang digunakan F-16.

Mesin ini dinilai cukup vital untuk tahap awal sebelum Turki beralih ke mesin buatan lokal, yang diperkirakan siap diproduksi paling cepat 2032.

Fidan menegaskan, AS telah menjadikan teknologi militer sebagai senjata politik dalam sengketa ini.

Keputusan Kongres AS berakar pada pembelian sistem pertahanan udara S-400 Rusia oleh Turki pada 2019, yang memicu sanksi CAATSA dan pengusiran dari program F-35. Washington menilai S-400 dapat mengungkap data radar pesawat NATO dan menolak tawaran Ankara untuk menyimpan atau mengoperasikannya secara terpisah.

Ketegangan melebar ke isu lain, termasuk dukungan AS pada pasukan Kurdi YPG di Suriah dan sikap Ankara yang enggan menegakkan sanksi penuh terhadap Rusia.

Keterlambatan KAAN memberi peluang keunggulan bagi Yunani dan Israel yang terus memperkuat armada F-35.

Jika mesin F110 tak tersedia, Turki mungkin terpaksa memperpanjang usia F-16 atau mencari pemasok alternatif seperti Rusia atau China, langkah yang berpotensi memicu sanksi baru dan memperdalam keretakan dengan NATO.

Industri pertahanan Turki mempercepat program mesin domestik TRMotor dengan pendanaan darurat, namun para analis menilai butuh sedikitnya tujuh tahun untuk mencapai kematangan. Ankara juga disebut melobi negara NATO seperti Hungaria dan Italia untuk menengahi embargo ini, sekaligus membuka kontak dengan Ukraina dan Korea Selatan sebagai opsi interim.

KAAN digadang-gadang sebagai jet siluman generasi kelima buatan lokal pertama Turki dan simbol kemandirian pertahanan, dengan 80% komponennya diklaim sudah diproduksi di dalam negeri.

Proyek ini juga diharapkan menjadi produk ekspor strategis, yang telah berhasil menggaet Indonesia sebagai mitra pertama dan Pakistan dalam tahap penjajakan. (DH/KR)

  IDN Financials 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...