Tampilkan postingan dengan label BUMN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BUMN. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 Juli 2026

[Video] Perbedaan Fregat Arrowhead 140 Milik Indonesia, Polandia, Inggris

 🎥  By Baltic Defence ReviewPeluncuran FMP KRI BPD 322 (PAL)

Fregat Arrowhead 140 Rancangan Babcock International Diadopsi Inggris, Polandia dan Indonesia.

FMP (Fregat Merah Putih) pertama produksi PT PAL dengan panjang hampir 140 meter ini didesain sebagai fregat multimisi yang fleksibel dan berkemampuan tinggi untuk angkatan laut Indonesia, dan juga digunakan Inggris dan Polandia dengan spek yang berbeda.

Kapal fregat modern ini merupakan desain dasar dari fregat Type 31 milik Angkatan Laut Kerajaan Inggris (Royal Navy), serta telah dipilih untuk memperkuat Angkatan Laut Polandia dan Indonesia. Pemerintah Indonesia kembali memesan tambahan 2 unit pada tahun 2026, yang direncanakan akan diproduksi tahun 2027.

 Berikut Video dari YouTube :
 


  🎥 Youtube  

Minggu, 26 Juli 2026

Pindad Kembangkan Amunisi dari Limbah Kelapa Sawit

  Berpotensi menjadi negara pertama yang memproduksi propelan berbahan baku limbah kelapa sawit (Pindad)

Pindad mengembangkan teknologi pemanfaatan tandan kosong kelapa sawit menjadi nitroselulosa, bahan baku utama propelan atau isian pendorong amunisi. Inovasi ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap bahan baku impor sekaligus memperkuat kemandirian industri pertahanan nasional.

Direktur Teknologi dan Pengembangan PT Pindad, Prima Kharisma, mengatakan riset yang dimulai pada 2022 kini telah memasuki tahap proyek percontohan.

Saat ini, PT Pindad mampu mengolah sekitar 50 ton tandan kosong kelapa sawit per tahun menjadi nitroselulosa untuk propelan.

"Tahun depan harapan kami dapat meningkatkan kapasitas menjadi 1.000 ton per tahun," ujar Prima dalam Pekan Riset Sawit Indonesia 2026, Senin (20/7/2026).

Menurut Prima, peningkatan kapasitas tersebut dilakukan secara bertahap agar proses produksi dapat dioptimalkan sebelum memasuki skala industri. Ia menjelaskan, kebutuhan propelan nasional diperkirakan mencapai 2.500 hingga 3.000 ton per tahun untuk memenuhi kebutuhan sekitar 2,5 miliar butir amunisi.

Sementara itu, kapasitas produksi propelan PT Pindad saat ini baru berkisar 800 hingga 1.000 ton per tahun sehingga masih terdapat kesenjangan pasokan yang cukup besar. Untuk menghasilkan 1.000 ton propelan, perusahaan membutuhkan sekitar 2.500 hingga 3.000 ton tandan kosong kelapa sawit sebagai bahan baku.

Prima menilai kebutuhan tersebut masih relatif kecil dibandingkan jumlah limbah tandan kosong yang dihasilkan industri kelapa sawit di Indonesia.

"Jumlah itu jauh lebih sedikit dibandingkan tandan kosong kelapa sawit yang dihasilkan pabrik kelapa sawit sehingga sangat memungkinkan untuk dipenuhi," ujarnya.

Selama ini, industri propelan dunia umumnya menggunakan selulosa yang berasal dari *cotton linter* atau serat kapas serta pulp kayu.

Menurut Prima, Indonesia menghadapi keterbatasan pasokan cotton linter sehingga pemanfaatan tandan kosong kelapa sawit menjadi alternatif yang lebih sesuai dengan ketersediaan sumber daya dalam negeri.

Dalam proses produksinya, tandan kosong kelapa sawit dicacah, dibersihkan, dan dipisahkan untuk memperoleh serat selulosa. Selanjutnya, selulosa diproses melalui reaksi nitrasi untuk menghasilkan nitroselulosa sebagai bahan baku propelan.

 Ramah lingkungan

Selain memanfaatkan limbah yang melimpah, penggunaan tandan kosong kelapa sawit juga dinilai lebih ramah lingkungan sekaligus mendukung pemanfaatan sumber daya domestik.

Prima mengatakan pengembangan bahan baku lokal menjadi semakin penting di tengah tingginya ketergantungan Indonesia terhadap propelan impor.

Menurut dia, hanya terdapat sekitar lima hingga enam pabrik besar di dunia yang memproduksi propelan sehingga pasokan global sangat terbatas. Kondisi tersebut semakin diperparah oleh konflik geopolitik yang memicu lonjakan harga propelan.

Prima menyebut harga propelan yang sebelum perang Rusia-Ukraina berkisar 19 hingga 20 dollar AS per kilogram meningkat menjadi sekitar 40 hingga 50 dollar AS per kilogram.

Setelah konflik di Timur Tengah memanas, harganya kembali melonjak hingga sekitar 100 sampai 140 dollar AS per kilogram. Selain harga yang meningkat tajam, waktu tunggu pengadaan propelan dari luar negeri juga dapat mencapai empat hingga lima tahun.

"Kalaupun kami memperoleh harga sekitar 80 hingga 90 dollar AS per kilogram, kami tetap harus menunggu empat sampai lima tahun hingga material tersebut dikirim ke Indonesia," kata Prima.

Ia menambahkan, ketergantungan terhadap impor juga meningkatkan risiko terganggunya pasokan akibat embargo maupun dinamika geopolitik.

Meski demikian, pengembangan propelan berbasis tandan kosong kelapa sawit masih menghadapi tantangan, terutama dalam menjaga konsistensi kualitas bahan baku karena setiap pabrik kelapa sawit memiliki karakteristik limbah yang berbeda.

Melalui proyek percontohan tersebut, PT Pindad menargetkan seluruh standar mutu dan sertifikasi dapat dipenuhi sebelum fasilitas produksi skala industri mulai beroperasi.

Prima berharap pabrik propelan pertama di Indonesia dapat mulai beroperasi pada semester kedua 2027.

Menurut dia, jika target tersebut tercapai, Indonesia berpotensi menjadi negara pertama yang memproduksi propelan berbahan baku limbah tandan kosong kelapa sawit secara komersial.)

  💡 
Kompas  

Sabtu, 18 Juli 2026

Len Perkuat Kapabilitas Ground Control Interception Radar

🛰 Untuk Mendukung Kesiapsiagaan Pertahanan Udara Nasional📡 Radar Hanud TNI AU (LEN)

PT Len Industri (Persero) terus memperkuat kapabilitas teknologi pertahanan udara nasional melalui implementasi Ground Control Interception (GCI) Radar, sebuah sistem radar generasi terkini yang dirancang untuk mendukung kemampuan pengawasan ruang udara dan Ground Control Intercept secara terintegrasi.

PT Len Industri (Persero) menerima kunjungan PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) sebagai bagian dari kegiatan company visit. Dalam kesempatan tersebut, Len memperkenalkan berbagai kapabilitas teknologi strategis yang dimiliki perusahaan, termasuk Radar Ground Control Intercept (GCI) yang saat ini tengah diimplementasikan di Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Kegiatan tersebut turut dihadiri jajaran Direksi PT Len Industri (Persero) dan PT Pefindo sebagai bentuk pengenalan kompetensi Len dalam mengembangkan teknologi pertahanan nasional.

Radar GCI ini merupakan implementasi pertama di Indonesia yang mengadopsi teknologi terkini untuk mendukung kemampuan air surveillance dan Ground Control Intercept. Sistem ini dirancang untuk menghadirkan pengawasan ruang udara yang lebih efektif, meningkatkan situational awareness secara komprehensif, serta memperkuat pengendalian operasi pertahanan udara melalui penyajian informasi yang cepat, akurat, dan terintegrasi.

Dari sisi kapabilitas, Radar GCI memiliki kemampuan deteksi hingga 515 kilometer, update rate setiap 6 detik, serta fast time to target, sehingga mampu menyajikan informasi situasional secara real-time untuk mendukung pengambilan keputusan operasional yang cepat dan presisi. Keunggulan tersebut diperkuat melalui teknologi stacked beam yang meningkatkan efektivitas deteksi terhadap berbagai objek udara dalam beragam kondisi operasi.

Selain unggul dari sisi performa, Radar GCI juga dirancang dengan konsep mobilitas tinggi melalui konfigurasi ISO Container 20 feet dan kemampuan fast deployment, sehingga sistem dapat dipindahkan serta dioperasikan secara cepat sesuai kebutuhan operasi di berbagai wilayah.

Di balik keandalan sistem Radar GCI, terdapat kolaborasi puluhan engineer PT Len Industri (Persero) dari berbagai disiplin ilmu, mulai dari sipil, elektro, radio frequency (RF), jaringan, perangkat lunak, hingga mekanik. Bersama-sama, mereka mengawal setiap tahapan, mulai dari pembangunan site, instalasi, integrasi, pengujian, hingga memastikan radar siap beroperasi secara optimal.

Dalam operasionalnya, Radar GCI juga terintegrasi dengan sistem pertahanan udara TNI Angkatan Udara sehingga informasi pengawasan dapat diterima secara cepat untuk mendukung pengendalian operasi pertahanan udara.

Melalui penguasaan teknologi radar, kemampuan integrasi sistem, implementasi, pengawalan operasional, hingga dukungan pemeliharaan, PT Len Industri (Persero) terus memperkuat kemandirian industri pertahanan nasional. Implementasi Radar GCI menjadi salah satu wujud nyata komitmen perusahaan dalam menghadirkan solusi pertahanan udara yang modern, terintegrasi, dan andal, sekaligus memperkuat posisi Len sebagai perusahaan teknologi pertahanan nasional yang mendukung terwujudnya Indonesia yang berdaulat.
 

  📡
LEN  

Kamis, 16 Juli 2026

PT Len Industri (Persero) Perkuat Hilirisasi Mineral dan Pasok Alutsista

  Melalui Pengembangan Advanced Materials CMS AXYS LEN telah banyak digunakan KRI TNI AL (LEN)

PT Len Industri (Persero) menegaskan komitmennya dalam memperkuat hilirisasi industri nasional melalui pengembangan advanced materials sebagai fondasi lahirnya produk-produk teknologi strategis bernilai tambah tinggi.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui partisipasi aktif dalam Danantara’s Advanced Materials Industry Dialogue: From Minerals to Manufacturing yang berlangsung di Auditorium Wisma Danantara, Jakarta, pada 9–10 Juli 2026, sekaligus penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) bersama PT Mineral Industri Indonesia (Persero) (MIND ID), PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, dan PT Perusahaan Mineral Nasional (Persero) (PERMINAS).

Forum yang diselenggarakan Danantara tersebut mempertemukan kementerian, BUMN, pelaku industri, akademisi, serta berbagai pemangku kepentingan untuk memperkuat ekosistem advanced materials nasional. Melalui kolaborasi lintas sektor, forum ini mendorong percepatan hilirisasi mineral agar tidak berhenti pada pengolahan bahan baku, tetapi berkembang menjadi material maju dan produk teknologi bernilai tambah tinggi yang mampu memperkuat daya saing industri nasional.

Sebagai induk Holding Industri Pertahanan DEFEND ID, PT Len Industri (Persero) memanfaatkan forum ini untuk menunjukkan implementasi nyata advanced materials melalui berbagai teknologi strategis yang telah dikembangkan perusahaan. Produk yang dipamerkan meliputi Combat Management System (CMS), Radar Multimission, Ground Control Station (GCS) & AUTACS, Night Vision Goggle (NVG), Laser Point, serta kendaraan taktis listrik SPRINT. Beragam inovasi tersebut menunjukkan bagaimana hasil hilirisasi material dapat diwujudkan menjadi sistem teknologi yang mendukung sektor pertahanan, keamanan, maupun industri nasional.

Direktur Utama PT Len Industri (Persero), Prof. Joga Dharma Setiawan, Ph.D., yang menjadi pembicara dalam sesi dialog, menegaskan bahwa keberhasilan hilirisasi harus diukur dari kemampuan menghasilkan produk teknologi yang berdampak bagi perekonomian nasional.

Indonesia memiliki sumber daya mineral yang sangat besar. Tantangan berikutnya adalah memastikan mineral tersebut tidak berhenti sebagai komoditas, tetapi mampu diolah menjadi material maju yang melahirkan produk-produk teknologi bernilai tinggi. Di sinilah kolaborasi pemerintah, industri, perguruan tinggi, dan lembaga riset menjadi kunci untuk membangun ekosistem advanced materials yang kuat dan berkelanjutan,” ujar Joga.

Ia menjelaskan bahwa sebagai induk Holding Industri Pertahanan DEFEND ID, Len bersama PT Dirgantara Indonesia, PT Pindad, PT PAL Indonesia, dan PT Dahana terus mengembangkan berbagai solusi teknologi berbasis elektronika, komunikasi, radar, energi, transportasi, kemaritiman, dan transformasi digital. Berbagai pengembangan tersebut tidak hanya mendukung kebutuhan pertahanan negara, tetapi juga memberikan manfaat bagi sektor sipil melalui penerapan dual-use technology.

  👷 
LEN  

Kolaborasi PTDI dan BIJB Kembangkan Kertajati hub Kedirgantaraan

   Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko IPK) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menyaksikan penandatanganan nota kesepahaman antara PT Dirgantara Indonesia (Persero) dan PT Bandarudara Internasional Jawa Barat (Perseroda) di Jakarta, Rabu (15/7/2026). ANTARA/Aji Cakti/pri

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko IPK) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengungkapkan kolaborasi PT Dirgantara Indonesia (Persero) dan PT Bandarudara Internasional Jawa Barat (Perseroda) untuk mengembangkan area Kertajati, Jawa Barat sebagai hub industri kedirgantaraan.

"Penandatanganan nota kesepahaman antara PT Dirgantara Indonesia (Persero) atau PTDI dan PT Bandarudara Internasional Jawa Barat (Perseroda) atau PT BIJB sebagai bagian dari komitmen bersama untuk bisa mengembangkan area Kertajati menjadi kawasan yang menjadi salah satu hub industri kedirgantaraan," ujar AHY dalam acara penandatanganan nota kesepahaman antara PTDI dan PT BIJB di Jakarta, Rabu.

Menurut dia, salah satu tantangan yang juga sedang terus dikawal adalah agar Bandara Kertajati ini bisa semakin aktif, semakin banyak penerbangan yang bisa menggunakan Kertajati, termasuk untuk haji dan umrah.

Tetapi di samping itu, berupaya untuk mengembangkan sebuah aerospace industrial zones atau kawasan industri (industrial park), sebuah kawasan industri kedirgantaraan.

"Oleh karena itu, tentu yang di depan salah satunya adalah PTDI. Kita tahu PTDI sudah sekian lama menjadi kebanggaan Indonesia sebagai pilar industri manufaktur (manufacturing) di bidang kedirgantaraan, pesawat, termasuk juga sekarang mengembangkan drone yang bisa digunakan untuk kepentingan sipil dan juga militer," kata AHY.

Menurut AHY, sebagaimana diketahui Bandung juga semakin padat penduduknya, semakin banyak kepentingan tata ruang juga terus berkompetisi satu sama lain, sehingga diperlukan areal pengembangan yang lebih luas sehingga Kertajati merupakan salah satu pilihan yang ideal.

Dia menjelaskan, lokasi Kertajati di Kabupaten Majalengka di kawasan Cirebon–Patimban–Kertajati (Rebana) ini juga strategis karena jika ditarik sesuai dengan konektivitas wilayah ke arah barat itu bisa langsung terhubung ke Jakarta, kemudian kawasan industri Bekasi, Karawang, dan Purwakarta.

Kemudian terdapat Pelabuhan Patimban, lalu ke arah timur itu menuju Cirebon, kemudian hingga masuk ke wilayah Jawa Tengah sampai dengan Semarang. Sedangkan ke bagian selatan, Kertajati diharapkan dapat menjadi feeder untuk penerbangan ke sejumlah kabupaten kota yang ada di wilayah selatan Jawa Barat maupun Jawa Tengah.

"Intinya adalah kalau kita bisa merelokasi, tentunya bertahap dimulai dari fasilitas MRO (Maintenance, Repair, Overhaul). Sekali lagi, ini bisa kita targetkan untuk dalam negeri maupun luar negeri," kata AHY.

  👷 
Antara  

Sabtu, 11 Juli 2026

Kemhan Kunker ke Galangan Kapal Nasional

Meninjau perkembangan bridge kapal KRI BPD 322 frigate pertama PAL (Ditjen Pothan)

Direkktur Jenderal Potensi Pertahanan Kementerian Pertahanan, Laksamana Muda TNI Sri Yanto, S.T., melaksanakan kunjungan kerja ke PT Teknik Tadakara Sumber Karya (TTS) dan galangan kapal PT PAL Indonesia di Surabaya, dalam rangka meninjau progres daripada pembangunan Kapal Frigate Merah Putih TNI-AL yang merupakan salah satu program strategis dalam memperkuat kemandirian industri pertahanan nasional.

Dalam kunjungan tersebut, Laksda TNI Sri Yanto, S.T., menegaskan pentingnya implementasi kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dan mekanisme self assessment sebagai bagian dari upaya meningkatkan kapasitas industri pertahanan nasional.

Setiap alutsista yang berhasil diselesaikan dan diserahkan kepada pengguna akan menjadi bagian dari realisasi pembangunan kekuatan pertahanan Republik Indonesia.

Melalui sinergi pemerintah dan industri pertahanan, pembangunan Frigate Merah Putih diharapkan mampu memperkuat kemandirian teknologi, meningkatkan daya saing industri nasional, serta mendukung terwujudnya postur pertahanan Indonesia yang tangguh.

  📝  Ditjen Pothan  

Jumat, 10 Juli 2026

Prabowo Ungkap PT PAL, Pindad, PTDI Nyaris Dijual ke Asing

KRI BPD 322 frigate pertama PAL (PAL)

Presiden RI Prabowo Subianto mengungkapkan bahwa sejumlah perusahaan strategis yang bergerak di industri pertahanan sempat ingin dijual ke pihak asing.

Ia secara khusus menyebut tiga perusahaan industri pertahanan, yakni PT PAL Indonesia, PT Pindad, dan PT Dirgantara Indonesia (PTDI).

"Banyak sekali perusahaan yang seolah-olah tadinya mau dijual, tadinya mau dijual ke asing. Saya larang! Tadinya industri pertahanan yang mau dijual, PT PAL, mau dijual, PT Pindad mau dijual, PTDI mau dibunuh, mau dijual, kita bangkitkan! Sekarang kita akan bangkitkan semua perusahaan-perusahaan itu," kata Prabowo saat meresmikan lima bendungan di Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, Jumat (10/7/2026).

Prabowo kemudian memaparkan perkembangan industri pertahanan nasional yang disebutnya mulai menunjukkan hasil. Menurut dia, PT PAL kini telah memiliki kemampuan membangun berbagai kapal perang modern, termasuk kapal selam.

"PT PAL sekarang sudah bisa bikin kapal-kapal perang yang hebat-hebat. PT PAL sekarang sudah bisa bikin kapal selam. PT PAL akan bikin kapal-kapal canggih," ujarnya.

Sementara itu, PT Pindad disebutnya baru memperoleh kontrak ekspor dari Arab Saudi untuk penyediaan senjata.

"Pindad sekarang baru saja saya dapat laporan dapat kontrak dari Arab Saudi. Semua senapan dan senapan mesin tentara Arab Saudi akan dibangun oleh PT Pindad. Senjata kita teruji," kata Prabowo.

Meski demikian, Prabowo tidak menjelaskan lebih lanjut kapan rencana penjualan BUMN strategis tersebut sempat muncul maupun pihak yang dimaksud akan menjadi calon pembelinya.

Dalam kesempatan itu, Prabowo juga mengatakan pemerintahannya telah menutup 240 BUMN bermasalah. Jumlah itu akan bertambah hingga 250 perusahaan pada akhir Juli 2026, hingga 800 BUMN yang tidak efisien.

"31 Desember 2026 akan tutup jumlahnya 800 BUMN yang tidak efisien, yang tidak pernah untung, yang merugi terus, kita tutup," kata Prabowo.

Menurutnya, langkah tersebut telah menghasilkan efisiensi anggaran yang signifikan. Pemerintah mengklaim berhasil menghemat hampir Rp 70 triliun hanya dari pengurangan biaya operasional dan gaji direksi perusahaan-perusahaan yang ditutup.

"Dari gaji direksi saja sampai sekarang, overhead dan gaji kita sudah bisa menghemat mendekati Rp 70 triliun. Rp 70 triliun sudah kita hemat, saudara-saudara," ujarnya. (mkh/mkh)

  📝  CNBC 

Senin, 06 Juli 2026

Pindad Jalin Kenitraan Mengembangkan Night Vision Googles

  Meliputi produksi lokal dan alih teknologi (Pindad)

PT Pindad (Persero), manufaktur pertahanan terkemuka di Indonesia menjalin kemitraan dengan Nightvisions Lasers Spain (NVLS), produsen sistem penglihatan malam terkemuka dari Eropa untuk produksi lokal dan pengembangan Night Vision Googles (NVG) monokular dan binokular.

Kerja sama ini diresmikan melalui penandatanganan Technical Assistance and Commercial Collaboration Contract oleh Direktur Teknologi, Pengembangan dan Manajemen Risiko (Dirtekbang & MR), Prima Kharisma yang mewakili Direktur Utama Pindad dan CEO NVLS, Jorge de la Torre pada Eurosatory, 15 Juni 2026 di Paris, Perancis.

Kerja sama antara Pindad dan NVLS meliputi produksi lokal dan alih teknologi dalam manufaktur NVG, serta dukungan teknis NVLS.

Kemitraan ini akan memperkuat kapabilitas nasional Indonesia di bidang penglihatan malam serta meningkatkan kapasitas Pindad dalam memenuhi kebutuhan operasional TNI yang terus berkembang.

Dirtekbang & MR, Prima Kharisma menegaskan komitmen Pindad untuk terus berinovasi dan memperkuat kerja sama strategis untuk mendukung kemandirian industri pertahanan nasional.

"Sebagai industri pertahanan dalam negeri, Pindad berkomitmen untuk dapat mendukung kebutuhan alpalhankam TNI di berbagai operasi, melalui inovasi dan kerja sama strategis. Kerja sama ini juga akan meningkatkan kompetensi kita sebagian bagian dari upaya mewujudkan kemandirian industri pertahanan nasional," ujar Prima.

Produk NVG ini dapat meningkatkan fleksibilitas operasi dengan menyediakan kemampuan penglihatan malam hari dan deteksi cahaya rendah yang canggih bagi operasi yang dilaksanakan di lingkungan dengan kondisi visual yang terbatas atau terdegradasi.

Sebagai produsen alpalhankam nasional, Pindad akan dapat menawarkan kepada TNI platform persenjataannya yang telah dilengkapi dengan kemampuan penglihatan malam modern sesuai kebutuhan operasi pada malam hari maupun dalam kondisi minim cahaya.

NVLS merupakan produsen NVG dan malam terkemuka di dunia dengan sistem penglihatan malam canggih yang diakui secara global, dengan produk yang sudah digunakan oleh berbagai institusi pertahanan dan keamanan di Eropa serta pasar internasional lainnya.

Produk NVLS menawarkan bidang pandang (field of view) yang lebih luas, yaitu 52°, dibandingkan dengan 40° yang umumnya terdapat pada NVG konvensional, sehingga memberikan kesadaran situasional yang lebih baik bagi personel yang beroperasi di lapangan.

Melalui kerja sama ini Pindad diharapkan dapat mendukung operasional TNI dalam berbagai kondisi serta meningkatkan kapabilitas produksi alpalhankam nasional dalam bidang sistem penglihatan malam dan deteksi cahaya rendah yang canggih.

  🤝 
Pindad  

Minggu, 05 Juli 2026

Menhan Groundbreaking Pabrik Munisi PT Pindad di Tanah Bumbu

  Perkuat Kemandirian Industri Pertahanan Nasional (Pindad)
Menteri Pertahanan RI, Sjafrie Sjamsoeddin, melaksanakan groundbreaking pembangunan Pabrik Munisi PT Pindad di Batulicin, Kabupaten Tanah Bumbu, Sabtu (4/7/2026).

Pembangunan fasilitas produksi munisi tersebut merupakan langkah strategis pemerintah dalam memperkuat kemandirian industri pertahanan nasional.

Kehadiran pabrik baru ini diharapkan mampu meningkatkan kapasitas produksi munisi dalam negeri, memenuhi kebutuhan alat pertahanan secara berkelanjutan, sekaligus memperkuat sistem logistik pertahanan Indonesia.

Dalam kesempatan tersebut, Menhan Sjafrie Sjamsoeddin menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Daerah, TNI, PT Pindad, serta seluruh mitra strategis yang telah bersinergi mewujudkan pembangunan pabrik munisi tersebut.

Pembangunan industri pertahanan nasional merupakan investasi strategis untuk menjaga kedaulatan negara, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia di daerah,” ujar Menhan Sjafrie.

Selain memperkuat kemampuan pertahanan negara dan meningkatkan daya saing industri strategis nasional, pembangunan Pabrik Munisi PT Pindad di Batulicin diharapkan menjadi motor penggerak ekonomi Kalimantan Selatan melalui pembukaan lapangan pekerjaan, peningkatan investasi, serta pengembangan SDM lokal.

Groundbreaking ini menjadi tonggak penting dalam mewujudkan industri pertahanan Indonesia yang modern, mandiri, berdaya saing, dan berkelanjutan, sejalan dengan komitmen pemerintah dalam membangun kekuatan pertahanan nasional yang tangguh.

  👷 
Media Suara Mabes  

Sabtu, 04 Juli 2026

[Video] Membangun Kedaulatan Bawah Laut

  👷  ToT Scorpène dan Masa Depan Industri Kapal Selam Indonesia 
https://www.navalnews.com/wp-content/uploads/2026/07/Examples-of-Indonesian-companies-other-than-PT-PAL-that-will-participate-in-the-project.-PT-PAL-picture-scaled.jpg.webpPT PAL menggandeng perusahaan Lokal dalam membangun kapal selam Scorpene ( PAL)

K
apal selam merupakan salah satu instrumen strategis paling penting dalam pertahanan maritim modern.

Namun, bagi Indonesia sebagai negara kepulauan, pembangunan kapal selam tidak hanya berbicara mengenai penambahan alutsista, melainkan juga tentang penguasaan teknologi, pengembangan sumber daya manusia, dan kemandirian industri pertahanan nasional.

Dalam episode Defense Talk kali ini, Direktur Utama PT PAL Indonesia, Kaharuddin Djenod, mengulas perkembangan program pembangunan kapal selam Scorpène Evolved yang saat ini memasuki tahap pra-produksi melalui kerja sama dengan Naval Group, Prancis.

Diskusi membahas berbagai aspek penting, mulai dari tahapan pembangunan, proses transfer teknologi, keterlibatan insinyur Indonesia di Prancis, hingga penguasaan teknologi konstruksi lambung kapal selam.

Lebih jauh, perbincangan ini mengajak publik memahami bahwa nilai strategis program Scorpène tidak hanya terletak pada kapal yang akan dihasilkan, tetapi juga pada kemampuan industri nasional untuk menguasai teknologi yang selama ini hanya dimiliki segelintir negara.

Di balik proyek ini, Indonesia tengah membangun fondasi menuju ekosistem industri pertahanan yang lebih mandiri, berkelanjutan, dan mampu mendukung kebutuhan pertahanan nasional dalam jangka panjang.

 Berikut video dari IDefenseMagz : 


   🎥  Youtube    

Jumat, 03 Juli 2026

Konstruksi Lokal Pertama Scorpène Evolved Akan Dimulai Bulan Ini di Indonesia

  👷 🤝 Dengan menggandeng perusahaan lokal PT PAL kerjasama dengan perusahaan lokal dalam membangun kapal selam di Surabaya ( Naval News)

P ada tanggal 2 Juli, PT PAL Indonesia dan Naval Group menyelenggarakan tur pers ke fasilitas konstruksi dan pemeliharaan kapal selam PT PAL di Surabaya, Jawa Timur, untuk memamerkan persiapan dimulainya pembangunan dua kapal selam Scorpène Evolved untuk Angkatan Laut Indonesia (TNI AL) di bawah program Scorpène Republik Indonesia (SRI).

Kunjungan tersebut menyoroti kemajuan yang telah dicapai kedua perusahaan dalam hal infrastruktur, pelatihan tenaga kerja, dan kesiapan produksi seiring Indonesia semakin mendekati pembangunan kapal selam rancangan Prancis tersebut di dalam negeri.

Direktur Program Naval Group SRI, Vincent Vimont, mengungkapkan bahwa pemotongan baja pertama untuk kapal selam Scorpène utama akan dilakukan bulan ini, dengan pengujian dan uji coba laut dijadwalkan antara tahun 2030 dan 2032 sebelum pengiriman pada tahun 2032.

Pembangunan kapal selam kedua dijadwalkan dimulai pada tahun 2027, diikuti oleh pengujian dan uji coba laut antara tahun 2031 dan 2033, dengan pengiriman direncanakan pada tahun 2033.

Seperti yang dilaporkan Naval News sebelumnya pada tahun 2024, PT PAL akan membangun kedua kapal selam tersebut secara paralel, dengan jeda satu tahun di antaranya. PT PAL juga menyatakan bahwa jadwal tersebut dapat dipercepat jika pembangunan berjalan lancar.

Kedua perusahaan tersebut mengatakan proyek ini akan menciptakan sekitar 2.250 lapangan kerja, termasuk peran dalam layanan pendukung dan pemeliharaan pasca-pengiriman. Mereka menambahkan bahwa pesanan lebih lanjut untuk kapal selam Scorpène akan menciptakan lebih banyak lapangan kerja lagi.

Selain itu, Naval Group mengatakan timnya dalam program di Indonesia mencakup personel yang sebelumnya mendukung produksi lokal Scorpène di India dan Brasil, sehingga Indonesia dapat mengambil manfaat dari pelajaran yang diperoleh dari kedua negara tersebut.

Menurut Kepala Divisi Kapal Selam PT PAL, Agus Rifai, ruang produksi yang dimiliki perusahaan saat ini dapat mendukung pembangunan atau pemeliharaan (MRO) hingga empat kapal selam Scorpène secara bersamaan.

Ia menambahkan bahwa PT PAL juga akan menggunakan peralatan, fasilitas, dan pengalaman dari program kapal selam Tipe-209 sebelumnya untuk proyek Scorpène.

 Teknologi, Sensor dan Senjata

Naval Group mengatakan kapal selam tersebut akan dilengkapi teknologi peredaman akustik yang serupa dengan yang digunakan pada kapal selam rudal balistik nuklir (SSBN) Prancis.

Desainnya juga akan mencakup sistem tempur SUBTICS, sensor akustik dan non-akustik yang terintegrasi penuh, rangkaian sonar yang disempurnakan dengan susunan planar, dan pemrosesan sinyal tingkat lanjut.

Dengan konfigurasi baterai lithium-ion penuh, kapal selam ini akan memiliki daya tahan misi hingga 80 hari.

Kapal selam tersebut akan mampu membawa muatan campuran hingga 18 torpedo kelas berat dan rudal SM39 Exocet. Menanggapi pertanyaan dari Naval News, Naval Group mengkonfirmasi bahwa Scorpène Evolved akan mampu menembakkan rudal Exocet generasi berikutnya yang diluncurkan dari kapal selam, yaitu SM40, yang saat ini sedang dikembangkan oleh MBDA.

Selain itu, selama tur pers, terungkap bahwa Angkatan Laut Indonesia bergabung dengan Scorpène Club pada tahun 2025, menjadi anggota terbaru bersama Brasil, Chili, India, dan Malaysia.

 Potensi Ekspor dan Kerjasama

Direktur Program PT PAL RDI, Laksamana Madya (Purn.) Wiranto, yang pernah bertugas di kapal selam kelas Whiskey dan Tipe-209 Angkatan Laut Indonesia, mengatakan bahwa proyek Scorpène Evolved merupakan bagian dari Fase II Program Penguasaan Teknologi Kapal Selam Nasional Indonesia, yang bertujuan untuk memungkinkan negara ini merancang, membangun, dan akhirnya mengekspor kapal selam buatan dalam negerinya sendiri antara tahun 2042 dan 2050.

PT PAL dan Naval Group mengungkapkan bahwa mereka telah membahas kemungkinan menggunakan Indonesia sebagai lokasi produksi bersama untuk kapal selam Scorpène yang dipesan oleh negara lain, serta sebagai pusat pekerjaan MRO (
Maintenance, Repair, and Overhaul) pada armada Scorpène angkatan laut negara lain.

Namun, menanggapi pertanyaan Naval News , Naval Group mengatakan bahwa kerja sama tersebut memerlukan perjanjian formal baru, karena kontrak saat ini tidak memberikan hak kepada Indonesia untuk memasarkan atau menjual Scorpène ke negara ketiga.

Perwakilan PT PAL dan Naval Group mengatakan bahwa mereka sedang menjajaki kerja sama yang lebih luas di luar program Scorpène, karena Naval Group juga telah menawarkan produk lain, termasuk transfer teknologi terkait sistem senjata seperti rudal dan torpedo.

Mengenai kemungkinan Indonesia memesan kapal selam Scorpène Evolved tambahan, kedua perusahaan tersebut mengkonfirmasi bahwa negosiasi masih berlangsung. (*)


   👷  Naval News   

Kamis, 02 Juli 2026

PT PAL Segera Bangun Kapal Selam Kelas Scorpene

  👷 🤝 Pemotongan Baja Pertama di Akhir Juli  Ilustrasi kapal selam Scorpene (Naval Group)

PT PAL Indonesia bersiap membangun dua kapal selam serbu kelas Scorpene untuk memperkuat pertahanan maritim Indonesia.

Proyek Kapal Selam Scorpene merupakan kerja sama antara PT PAL dengan perusahaan pertahanan asal Prancis, Naval Group. Proses konstruksi kapal selam serang itu akan dimulai akhir bulan ini, yang ditandai dengan proses pemotongan baja pertama (first steel cutting) yang dilakukan di bengkel PHPL PT PAL Indonesia di Surabaya.

Berbeda dengan kapal selam yang dimiliki Indonesia sebelumnya, kapal selam Scorpene memiliki keunggulan di bidang operasi. Kapal tersebut dilengkapi teknologi baterai Lithium-Ion (LiB) penuh.

Baterai jenis baru ini memungkinkan Scorpene memiliki jarak dan ketahanan menyelam yang lebih lama, yakni hingga 80 hari. Scorpene juga mampu menyelam hingga kedalaman 400 meter.

Dalam misinya, kapal selam Scorpene membawa total 18 persenjataan, meliputi kombinasi torpedo kelas berat dan rudal anti-kapal SM39.

Project Director kapal selam kelas Scorpene Laksda TNI (Purn) Wiranto mengatakan, proyek ini akan menjadi penanda kemajuan kemandirian industri pertahanan dalam negeri, khususnya dalam kemampuan SDM dan infrastruktur pendukung dalam membangun kapal selam sendiri.

PT PAL juga telah membangun kapal selam KRI Alugoro-405 pada 2019 lalu, yang bekerja sama dengan Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering (DSME), Korea Selatan.

Pembangunan kapal selam sebelumnya kami masih tahap joint section. Tapi untuk kapal Scorpene ini, PT PAL sudah masuk tahap joint production,” kata Wiranto. Artinya proses pembuatan kapal selam dilakukan mulai dari awal hingga akhir di dalam negeri.

Direktur Produksi PT PAL Indonesia Diana Rosa menjabarkan proyek dua kapal selam ini menjadi pembuktian kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia.

Sebelum memulai proyek di Surabaya, PT PAL telah mengirimkan sebanyak 42 teknisi terbaiknya ke Naval Group di Prancis untuk pelatihan. Dari sana tim teknisi Indonesia mendapat pujian karena berhasil meraih predikat zero weld defect atau hasil pengelasan sempurna tanpa cacat.

Prestasi ini sangat krusial mengingat kerumitan sistem pipa dan keterbatasan ruang pada kapal selam modern. Selain itu, puluhan teknisi asal Prancis akan didatangkan ke Surabaya untuk mendampingi proses manufaktur guna memastikan transfer teknologi berjalan.

Proyek ini bukan sekadar hubungan kerja sama bisnis antara PT PAL dan Naval Group. Tapi juga langkah untuk meningkatkan hubungan kedua negara antara Indonesia dan Prancis,” papar Diana.

Diana menambahkan, proyek pembangunan dua kapal selam Scorpene ini akan dilakukan secara paralel. Unit pertama akan rampung pada 2032, sementara unit kedua akan selesai pada 2033.(*)


   👷  Harian Disway   

Rabu, 01 Juli 2026

PT PAL Buka Peluang Kerjasama Maritim Dengan AS

PT PAL Indonesia menerima kunjungan resmi Konsul Jenderal Amerika Serikat di Surabaya, Christopher Green beserta delegasi di Surabaya, Senin (29/6/2026). (ANTARA/HO-PT PAL.)

PT PAL Indonesia membuka peluang kerja sama antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS) di sektor maritim dan industri pertahanan dengan menerima kunjungan resmi Konsul Jenderal Amerika Serikat di Surabaya Christopher Green.

"Kunjungan perdana ini membuka ruang dialog strategis untuk memperkuat hubungan bilateral Indonesia dan Amerika Serikat khususnya di sektor maritim dan industri pertahanan," kata Direktur Teknologi dan Manajemen Risiko PT PAL Indonesia Briljan Gazalba di Surabaya, Senin.

Briljan mengatakan PT PAL sebagai National Consolidator industri pertahanan nasional membuka ruang kolaborasi dengan berbagai mitra strategis global yang memiliki visi serupa dalam membangun rantai pasok pertahanan yang tangguh, inovatif, dan berkelanjutan.

Terlebih, transformasi yang dijalankan PT PAL menjadi fondasi untuk membangun ekosistem industri maritim dan pertahanan nasional.

Selain itu, kata dia, PT PAL telah mendapatkan tugas dari pemerintah untuk mengonsolidasikan seluruh industri maritim dalam negeri.

Briljan menuturkan pertemuan ini juga membahas tentang penguatan kolaborasi industri pertahanan Indonesia dan AS termasuk peran trusted industrial partnership dalam membangun rantai pasok pertahanan yang lebih tangguh dan berkelanjutan.

Bagi PT PAL, kunjungan Konsul Jenderal Amerika Serikat membuka peluang kolaborasi yang lebih luas di bidang teknologi maritim, penguatan rantai pasok industri pertahanan, pengembangan kapabilitas MRO, serta berbagai inisiatif strategis lainnya yang mendukung keamanan dan stabilitas kawasan Indo-Pasifik.

"Kami percaya kemitraan yang dilandasi kepercayaan dan transfer kapabilitas akan memberikan nilai tambah, tidak hanya bagi kedua negara, tetapi juga bagi stabilitas kawasan Indo-Pasifik," ujarnya.

Konsul Jenderal Amerika Serikat di Surabaya Christopher Green menilai transformasi PT PAL melalui implementasi Industry Maritime 4.0 (IM4) telah berhasil meningkatkan efisiensi proses produksi.

Kami memandang PT PAL sebagai mitra industri penting yang dapat berkontribusi pada tujuan bersama kami dalam mempromosikan keamanan regional, ketahanan ekonomi, dan kolaborasi industri yang terpercaya." kata Green.

Menurutnya, digitalisasi yang diterapkan perusahaan mampu memangkas waktu pembangunan kapal maupun proses docking secara signifikan, sehingga menjadikan PT PAL memiliki daya saing industri di tingkat global.

Prestasi ini tidak hanya meningkatkan keunggulan operasional PT PAL tetapi juga memperkuat daya saing Indonesia di industri pembuatan kapal global bersama negara produsen kapal yang sudah mapan. Kami berharap dapat menjajaki peluang untuk kerja sama yang lebih dalam di tahun-tahun mendatang" ujarnya.

  📝  Antara   
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...