Dengan metode mirip taktik Rusia di Ukraina
Teknologi peperangan elektronik Rusia yang mampu melumpuhkan satelit Starlink di Iran (Ist)
Iran diduga memblokir layanan internet satelit Starlink selama pemadaman internet nasional dengan menggunakan metode yang serupa dengan taktik Rusia di Ukraina, menurut seorang pakar.
Iran kini memasuki hari keenam pemadaman internet nasional berskala luas, yang secara efektif memutus jutaan warga dari dunia luar.
Dengan hampir seluruh lalu lintas internet negara itu dialirkan melalui satu titik kendali yang dikuasai pemerintah, otoritas dapat mematikan komunikasi digital hampir seketika menggunakan “kill switch” otomatis, kata Alp Toker, Direktur NetBlocks, lembaga pemantau internet, seperti dikutip Euronews. Rabu, (14/1).
Ketika jaringan konvensional tidak berfungsi, layanan internet satelit Starlink milik Elon Musk menjadi salah satu dari sedikit cara tersisa bagi warga Iran untuk terhubung ke internet, meskipun penyedia internet satelit dilarang secara nasional setelah Perang Dua Belas Hari dengan Israel tahun lalu.
Seorang aktivis kepada Euronews menyebutkan hingga 15.000 orang dikhawatirkan tewas di Iran ketika rezim memburu perangkat Starlink.
Berdasarkan hukum Iran, kepemilikan terminal Starlink dapat berujung hukuman penjara enam bulan hingga dua tahun. Sementara itu, mereka yang terbukti mengimpor lebih dari 10 perangkat satelit terancam hukuman penjara hingga 10 tahun.
Kelompok pembela hak internet Iran, Filter.Watch, melaporkan bahwa negara melakukan pengacauan sinyal satelit di sejumlah lingkungan di Teheran.
Jammer Bergerak?
Laporan-laporan menyebutkan Iran kemungkinan menggunakan jammer sinyal bergerak. Satelit Starlink mengorbit Bumi pada ketinggian sekitar 550 kilometer, menerima sinyal radio dari terminal di darat dan meneruskannya kembali untuk menyediakan akses internet.
Pengacauan sinyal (jamming) bekerja dengan memancarkan interferensi pada frekuensi radio yang sama, sehingga dapat memperlambat atau sepenuhnya memblokir koneksi.
Di beberapa wilayah Teheran, pengguna Starlink mengalami kehilangan paket data hingga 40%, menurut Filter.Watch. Tingkat gangguan tersebut memungkinkan pesan singkat tetap terkirim, tetapi membuat panggilan video atau penelusuran web hampir mustahil.
Analisis Filter.Watch menunjukkan bahwa interferensi tersebut berasal dari unit jammer bergerak, yakni peralatan yang dapat dipindahkan dari satu lingkungan ke lingkungan lain untuk memblokir sinyal Starlink.
Toker mengatakan pola ini sangat mirip dengan taktik pengacauan Rusia di Ukraina, di mana sistem bergerak digunakan untuk menargetkan terminal satelit di darat.
“Bahkan, sangat mungkin teknik-teknik ini dikembangkan dan disempurnakan di sana, jika memang terjadi pertukaran informasi dengan otoritas Iran,” ujarnya.
Taktik Rusia
Militer Iran dilaporkan membahas rencana pengadaan sistem peperangan elektronik buatan Rusia, Krasukha-4, pada September lalu, menyusul perang dengan Israel, menurut Institute for the Study of War, lembaga nirlaba asal Amerika Serikat.
Krasukha-4 merupakan sistem peperangan elektronik bergerak Rusia yang dirancang untuk mengacaukan satelit orbit rendah Bumi hingga jarak 300 kilometer, menurut Angkatan Bersenjata Amerika Serikat. Sistem ini menggunakan beberapa antena yang berputar ke segala arah untuk membanjiri frekuensi radio dengan interferensi.
Rusia dilaporkan mengerahkan Krasukha-4 di wilayah Donbas, Ukraina timur, pada 2024 untuk mengacaukan rudal dan sistem pertahanan udara Patriot, menurut media Ukraina The Kyiv Independent. Media tersebut menyebut Krasukha-4 sebagai sistem peperangan elektronik “paling canggih” Rusia dan “elemen sentral” strateginya.
Iran juga dilaporkan memiliki versi sistem tersebut, bernama Cobra V8, menurut Centre for Non-Proliferation Studies (CNS), lembaga nirlaba Amerika.
Pertama kali diperkenalkan pada 2023, Cobra V8 digambarkan sebagai “sistem peperangan elektronik multi-misi yang serbaguna, mampu mencegat, menganalisis, dan mengacaukan sistem radar musuh,” menurut kantor berita pemerintah Iran, IRNA.
“Meski tidak ada bukti keras, bukan hal yang mustahil Iran menerima dan merekayasa balik Krasukha-4 dalam satu dekade terakhir,” demikian bunyi kajian CNS.
Pada 2024, Rusia juga dilaporkan mentransfer sistem peperangan elektronik canggih ke Iran yang mampu mengganggu layanan militer hingga jarak 5.000 kilometer, menurut publikasi konservatif Israel Channel 14 dan kanal Telegram Ram Reports.
Publikasi pertahanan Army Recognition dan The Kyiv Post kemudian mengidentifikasi sistem tersebut sebagai Murmansk-BN, alat pengacau komunikasi jarak jauh. (YS)
Teknologi peperangan elektronik Rusia yang mampu melumpuhkan satelit Starlink di Iran (Ist) Iran diduga memblokir layanan internet satelit Starlink selama pemadaman internet nasional dengan menggunakan metode yang serupa dengan taktik Rusia di Ukraina, menurut seorang pakar.
Iran kini memasuki hari keenam pemadaman internet nasional berskala luas, yang secara efektif memutus jutaan warga dari dunia luar.
Dengan hampir seluruh lalu lintas internet negara itu dialirkan melalui satu titik kendali yang dikuasai pemerintah, otoritas dapat mematikan komunikasi digital hampir seketika menggunakan “kill switch” otomatis, kata Alp Toker, Direktur NetBlocks, lembaga pemantau internet, seperti dikutip Euronews. Rabu, (14/1).
Ketika jaringan konvensional tidak berfungsi, layanan internet satelit Starlink milik Elon Musk menjadi salah satu dari sedikit cara tersisa bagi warga Iran untuk terhubung ke internet, meskipun penyedia internet satelit dilarang secara nasional setelah Perang Dua Belas Hari dengan Israel tahun lalu.
Seorang aktivis kepada Euronews menyebutkan hingga 15.000 orang dikhawatirkan tewas di Iran ketika rezim memburu perangkat Starlink.
Berdasarkan hukum Iran, kepemilikan terminal Starlink dapat berujung hukuman penjara enam bulan hingga dua tahun. Sementara itu, mereka yang terbukti mengimpor lebih dari 10 perangkat satelit terancam hukuman penjara hingga 10 tahun.
Kelompok pembela hak internet Iran, Filter.Watch, melaporkan bahwa negara melakukan pengacauan sinyal satelit di sejumlah lingkungan di Teheran.
Jammer Bergerak?
Laporan-laporan menyebutkan Iran kemungkinan menggunakan jammer sinyal bergerak. Satelit Starlink mengorbit Bumi pada ketinggian sekitar 550 kilometer, menerima sinyal radio dari terminal di darat dan meneruskannya kembali untuk menyediakan akses internet.
Pengacauan sinyal (jamming) bekerja dengan memancarkan interferensi pada frekuensi radio yang sama, sehingga dapat memperlambat atau sepenuhnya memblokir koneksi.
Di beberapa wilayah Teheran, pengguna Starlink mengalami kehilangan paket data hingga 40%, menurut Filter.Watch. Tingkat gangguan tersebut memungkinkan pesan singkat tetap terkirim, tetapi membuat panggilan video atau penelusuran web hampir mustahil.
Analisis Filter.Watch menunjukkan bahwa interferensi tersebut berasal dari unit jammer bergerak, yakni peralatan yang dapat dipindahkan dari satu lingkungan ke lingkungan lain untuk memblokir sinyal Starlink.
Toker mengatakan pola ini sangat mirip dengan taktik pengacauan Rusia di Ukraina, di mana sistem bergerak digunakan untuk menargetkan terminal satelit di darat.
“Bahkan, sangat mungkin teknik-teknik ini dikembangkan dan disempurnakan di sana, jika memang terjadi pertukaran informasi dengan otoritas Iran,” ujarnya.
Taktik Rusia
Militer Iran dilaporkan membahas rencana pengadaan sistem peperangan elektronik buatan Rusia, Krasukha-4, pada September lalu, menyusul perang dengan Israel, menurut Institute for the Study of War, lembaga nirlaba asal Amerika Serikat.
Krasukha-4 merupakan sistem peperangan elektronik bergerak Rusia yang dirancang untuk mengacaukan satelit orbit rendah Bumi hingga jarak 300 kilometer, menurut Angkatan Bersenjata Amerika Serikat. Sistem ini menggunakan beberapa antena yang berputar ke segala arah untuk membanjiri frekuensi radio dengan interferensi.
Rusia dilaporkan mengerahkan Krasukha-4 di wilayah Donbas, Ukraina timur, pada 2024 untuk mengacaukan rudal dan sistem pertahanan udara Patriot, menurut media Ukraina The Kyiv Independent. Media tersebut menyebut Krasukha-4 sebagai sistem peperangan elektronik “paling canggih” Rusia dan “elemen sentral” strateginya.
Iran juga dilaporkan memiliki versi sistem tersebut, bernama Cobra V8, menurut Centre for Non-Proliferation Studies (CNS), lembaga nirlaba Amerika.
Pertama kali diperkenalkan pada 2023, Cobra V8 digambarkan sebagai “sistem peperangan elektronik multi-misi yang serbaguna, mampu mencegat, menganalisis, dan mengacaukan sistem radar musuh,” menurut kantor berita pemerintah Iran, IRNA.
“Meski tidak ada bukti keras, bukan hal yang mustahil Iran menerima dan merekayasa balik Krasukha-4 dalam satu dekade terakhir,” demikian bunyi kajian CNS.
Pada 2024, Rusia juga dilaporkan mentransfer sistem peperangan elektronik canggih ke Iran yang mampu mengganggu layanan militer hingga jarak 5.000 kilometer, menurut publikasi konservatif Israel Channel 14 dan kanal Telegram Ram Reports.
Publikasi pertahanan Army Recognition dan The Kyiv Post kemudian mengidentifikasi sistem tersebut sebagai Murmansk-BN, alat pengacau komunikasi jarak jauh. (YS)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.