@ Eurosatory 2026
Fincantier picture from the signing ceremony at Eurosatory 2026 in Paris
At the Eurosatory defense and security exhibition in Paris, Fincantieri, one of the world’s largest shipbuilding groups, and REPUBLIKORP, Indonesia’s largest privately owned defense industrial holding company, through its subsidiary PT Republik Palindo Internasional (RPAL), announced the signing of a Memorandum of Understanding (MoU) establishing a strategic partnership between the two groups.
The MoU, signed by Eugenio Santagata, General Manager Fincantieri Naval Vessels Division, and Norman Joesoef, group Chairman and Founder REPUBLIKORP on behalf of RPAL, provides for the creation of a joint venture, aimed at supporting Indonesia’s domestic shipbuilding capabilities and fostering a long-term industrial cooperation. The initiative represents a decisive step in enhancing Indonesia’s national mandate for defense self-reliance by leveraging Fincantieri’s industrial expertise.
The partnership focuses on the local construction of advanced naval vessels tailored specifically to Indonesia’s unique geographic and operational demands. The envisaged joint venture will support the development of solid domestic production capabilities, enabling the delivery of a range of platforms, including high-value LPDs/LHDs, multi-role frigates and corvettes for high-end naval deterrence, offshore patrol vessels for Exclusive Economic Zone enforcement, fast attack crafts, and submarines.
A key element of the agreement is a structured approach to the transfer of technology and know-how. Leveraging Fincantieri’s expertise, the initiative will support the development of local capabilities through engineering cooperation, training programs and the progressive strengthening of design, system integration and production competencies. By fostering a skilled workforce and supporting the development of local suppliers, the partnership aims to progressively integrate Indonesia into the global shipbuilding value chain. The MoU also provides for closer industrial and operational cooperation, contributing to the development of Indonesia’s naval capabilities.
Pierroberto Folgiero, CEO and Managing Director of Fincantieri commented: “Building on our established cooperation with the Indonesian Navy, this MoU marks a further step in strengthening a long-term strategic partnership between Fincantieri and Indonesia. By leveraging our expertise in high-complex naval shipbuilding and system integration, we are committed to supporting the development of local industrial capabilities and contributing to a more resilient maritime ecosystem. At the same time, this initiative reflects our commitment to developing sustainable industrial capabilities in Indonesia.”
“Exploring this partnership reflects our commitment to advancing Indonesia’s defense industry independence while building a strong and balanced international collaboration. Together with Fincantieri, we see an opportunity to strengthen Indonesia’s maritime capabilities, develop national talent, and contribute to a more resilient regional defense ecosystem,” said Norman Joesoef, Chairman of REPUBLIKORP Group.
Akan datang tahun ini
Kapal induk ITS Giuseppe Garibaldi diberitakan akan hadir tahun ini. (Marina militare)
Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) mengusulkan dua nama pahlawan, yakni Gajah Mada dan Panglima Soedirman untuk menjadi nama kapal induk pertama Indonesia.
"Salah satu usulannya ada Gajah Mada, ada Panglima Soedirman," kata Ali saat ditemui awak media di di Gedung Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut (Seskoal), Cipulir, Jakarta Selatan, Kamis.
Ali sendiri tidak menjelaskan secara rinci alasan TNI AL mengajukan nama dua pahlawan nasional itu.
Untuk diketahui Gajah Mada merupakan sosok Mahapatih sekaligus pahlawan perang era Kerajaan Majapahit. Salah satu yang membuat Gajah Mada dikenal banyak orang yakni mempelopori Sumpah Palapa yang dianggap menjadi konsep dasar dari persatuan Nusantara.
Sedangkan Soedirman merupakan tokoh besar yang berpengaruh dalam pergerakan kekuatan militer Indonesia selama masa penjajahan. Dia menjadi salah satu dari tiga jenderal di Indonesia yang mendapatkan penghargaan pangkat bintang lima.
Ali menyampaikan nama-nama itu nantinya akan diajukan ke Presiden Prabowo Subianto dan Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin untuk disetujui.
Setelah nama ditentukan, nama tersebut akan disematkan secara simbolis ke kapal saat kapal tersebut datang pada 2026 ini.
Untuk diketahui, kapal induk yang memiliki nama Giuseppe Garibaldi itu memiliki kesamaan dengan dua KRI baru milik TNI AL, yakni KRI Brawijaya-320 dan KRI Prabu Siliwangi-321, sama sama dibuat oleh perusahaan asal Italia Fincantieri.
Kapal induk dengan panjang 180,2 meter itu dilengkapi dengan mesin penggerak super yang dapat menggerakkan kapal dengan kecepatan 30 knot atau 56 kilometer per jam.
Kapal pengangkut pesawat tempur tersebut juga dilengkapi beberapa radar jamming hingga senjata seperti peluncur Oktupel Mk.29 untuk rudal antipesawat sea sparrow/selenia aspide, Oto Melara Kembar 40L70 DARDO, 324 mm tabung torpedo rangkap tiga, dan Otomat Mk 2 SSM.
👷 Dijadwalkan akhir Juni
Kapal LPD ketiga pesanan Filipina dalam penyelesaian (Jane's)
Setelah sukses meluncurkan Frigate Merah Putih 140 meter pada penghujung Desember 2025, PT PAL Indonesia terus bergerak menyelesaikan amanah pembangunan alutsista strategis nasional dan ekspor.
Kini, perusahaan tengah mempersiapkan peluncuran Landing Dock (LD) Philippines #1 sepanjang 124 meter yang dijadwalkan berlangsung pada akhir Juni 2026.
Kapal tersebut merupakan unit pertama dari kontrak pengadaan dua unit kapal Landing Dock generasi lanjutan untuk Philippine Navy yang diproduksi sepenuhnya di galangan PT PAL Indonesia, Surabaya.
Direktur Utama PT PAL Indonesia, Kaharuddin Djenod, menyampaikan bahwa percepatan pembangunan LD Philippines #1 mencerminkan kesiapan fasilitas produksi, optimalisasi manajemen rantai pasok, serta kompetensi sumber daya manusia PT PAL dalam memenuhi target proyek tanpa mengabaikan standar kualitas internasional.
Pencapaian tersebut tidak terlepas dari transformasi menyeluruh yang dijalankan perusahaan dalam beberapa tahun terakhir.
Penguatan fundamental keuangan, modernisasi fasilitas produksi, percepatan docktime, serta integrasi sistem digital telah mendorong perubahan budaya kerja yang lebih adaptif, kolaboratif, dan berorientasi pada produktivitas.
Dampak transformasi tersebut tercermin pada proses pembangunan LD Philippines #1 yang menunjukkan capaian impresif, yang berhasil memangkas dock time hanya dalam waktu enam bulan.
Pencapaian ini lebih efisien dibandingkan pembangunan dua kapal pendahulunya, yakni Strategic Sealift Vessel (SSV) BRP Tarlac (LD-601) dan BRP Davao del Sur (LD-602).
Kaharuddin menambahkan, “pembangunan LD Philippines #1 memiliki makna strategis bagi penguatan kerja sama pertahanan Indonesia dan Filipina.
Terlebih, proyek ini merupakan kontrak lanjutan (repeat order), yang menjadi indikator nyata kepuasan pengguna terhadap kualitas produk, ketepatan pengiriman, dan dukungan layanan yang diberikan PT PAL” ujarnya.
Kepercayaan tersebut tidak terlepas dari rekam jejak keberhasilan PT PAL dalam membangun dan menyerahkan dua unit kapal Landing Platform Dock sebelumnya, BRP Tarlac (LD-601) dan BRP Davao del Sur (LD-602), yang hingga kini menjadi tulang punggung armada angkut strategis Philippine Navy. Hal ini mempertegas posisi PT PAL dalam persaingan industri pertahanan global.
Memasuki tahap peluncuran, pembangunan LD Philippines #1 telah mencapai salah satu tonggak penting dalam siklus produksi kapal. Peluncuran ini menandai selesainya fase konstruksi utama platform kapal sekaligus mengonfirmasi kesiapan kapal untuk memasuki tahapan berikutnya.
Setelah diluncurkan, kapal akan menjalani serangkaian pekerjaan lanjutan, termasuk penyelesaian sistem dan integrasi peralatan, sebelum memasuki fase pengujian performa di laut (sea trial).
👷 PAL Indonesia
👷 🤝 🚀
Ilustrasi kapal selam Scorpene (Naval Group)
Kapal selam Scorpene ketiga dan keempat Indonesia berpotensi dikirimkan dengan kemampuan peluncuran rudal dari tabung torpedo yang terintegrasi penuh sejak awal, didukung oleh kemampuan integrasi sistem kapal selam PT PAL yang terus berkembang.
Berbicara kepada Janes dalam sebuah wawancara baru-baru ini di Surabaya, CEO PT PAL Kaharuddin Djenod mengatakan ini akan memberi Jakarta pilihan untuk memasukkan integrasi rudal ke dalam konstruksi dan konfigurasi dasar kapal selam generasi berikutnya, daripada memperlakukannya sebagai kemampuan laten atau tertunda.
Kemampuan seperti itu bukanlah hal baru bagi keluarga Scorpene, yang telah lama dirancang untuk mengerahkan rudal anti-kapal yang diluncurkan dari tabung seperti SM39 Exocet MBDA selain torpedo 533 mm.
Namun, program ekspor saat ini dan sebelumnya – termasuk kontrak Indonesia untuk dua kapal selam Scorpene Evolved – tidak selalu mencakup integrasi dan sertifikasi rudal penuh dalam kontrak dasar.
Dengan latar belakang ini, komentar Djenod menunjukkan bahwa Angkatan Laut Indonesia mungkin berupaya memastikan bahwa kapal selam ketiga dan keempat dikirimkan dengan kemampuan rudal yang terintegrasi penuh ke dalam arsitektur sistem tempur sejak awal, termasuk pengendalian tembakan, perangkat lunak, dan pekerjaan sertifikasi yang diperlukan.
Djenod mengatakan kemampuan integrasi sistem PT PAL yang semakin berkembang akan mendukung pendekatan ini.
Perusahaan ini telah secara progresif memperluas perannya dalam integrasi sistem tempur, termasuk pekerjaan untuk menggabungkan sistem torpedo buatan dalam negeri ke platform kapal selam otonom.
Dengan memanfaatkan kompetensi ini, PT PAL berharap untuk lebih memperkuat kemampuan integrasinya di bawah program kapal selam masa depan, yang berpotensi memungkinkan persyaratan integrasi senjata yang lebih canggih untuk dipenuhi secara domestik.
Hal ini akan memungkinkan kapal selam masa depan untuk memiliki kemampuan tersebut pada saat mulai beroperasi, daripada bergantung pada peningkatan lanjutan atau keputusan pengadaan senjata terpisah, tambah Djenod.
@ Eurosatory 2026
Republikorp melalui PT Republik Motor Internasional (RMI) resmi menandatangani Perjanjian Kerja Sama dengan Arquus, perusahaan manufaktur kendaraan militer asal Prancis dan bagian dari John Cockerill Group, dalam ajang Eurosatory 2026 di Paris.
Kemitraan ini menjadi langkah strategis untuk mengembangkan kemampuan produksi kendaraan taktis di Indonesia guna mendukung kebutuhan operasional pertahanan nasional sekaligus memperkuat kapasitas industri dalam negeri.
Melalui kolaborasi ini, kedua perusahaan akan mendorong pengembangan kemampuan manufaktur lokal, peningkatan kompetensi industri nasional, transfer pengetahuan dan teknologi, serta penguatan dukungan pemeliharaan dan siklus hidup kendaraan di Indonesia.
Kerja sama ini mencerminkan komitmen Republikorp dalam membangun ekosistem industri pertahanan yang mandiri, berkelanjutan, dan siap menjawab kebutuhan pertahanan Indonesia di masa depan.
♞ Republikorp
KRI BPD 322 frigate pertama PAL dalam penyelesaian di Surabaya (PAL)
PT PAL memperkirakan kontrak pengadaan fregat Red White ketiga dan keempat Indonesia akan ditandatangani pada tahun 2026, demikian disampaikan CEO perusahaan, Kaharuddin Djenod, kepada Janes dalam sebuah wawancara baru-baru ini.
Kapal-kapal lanjutan ini akan mempertahankan bentuk fregat Red White pertama, tetapi dirancang untuk mengakomodasi kemampuan tempur yang lebih baik, kata Djenod.
“Kapal ini tidak akan memiliki lebih dari 64 sel VLS [sistem peluncuran vertikal] karena itu adalah jumlah maksimum untuk desain ini,” katanya. “Tetapi setiap sel dan sistem ventilasi di VLS berpotensi mengakomodasi jenis rudal yang lebih besar.”
Pendekatan ini akan memungkinkan Angkatan Laut Indonesia untuk meningkatkan efek tempur keseluruhan kelas ini tanpa meningkatkan jumlah sel peluncuran.
Program FMP Indonesia didasarkan pada desain Arrowhead 140 milik Babcock, meskipun PT PAL telah memodifikasi konfigurasi dasar untuk memenuhi persyaratan Angkatan Laut Indonesia.
Di antara perubahan tersebut adalah integrasi susunan rudal yang lebih padat daripada yang dibawa oleh fregat Tipe 31 Angkatan Laut Kerajaan Inggris, yang juga berbasis pada desain Arrowhead 140.
Modifikasi ini dilakukan oleh PT PAL, dengan kapal-kapal tersebut dibangun sesuai standar klasifikasi Lloyd's Register.
Selain bentuk lambung secara keseluruhan, kapal ketiga dan keempat diharapkan mempertahankan dimensi, susunan propulsi, dan arsitektur sistem tempur umum dari dua fregat pertama, kata Djenod.
Indonesia meluncurkan FMP pertama, KRI Balaputradewa di galangan kapal PT PAL di Surabaya pada 18 Desember 2025. Kelas ini memiliki bobot sekitar 5.996 ton pada muatan penuh dan panjang 140 m..
📝 Jane,s
Ilustrasi kapal perusak Asagiri class (wikipedia)
Pemerintah Indonesia dan Jepang mulai membahas transfer kapal perusak (destroyer) Asagiri milik Japan Maritime Self-Defense Force (JMSDF) untuk TNI.
Pembahasan dimulai dalam pertemuan Presiden RI Prabowo Subianto, Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin, dan Menteri Pertahanan Jepang H.E Shinjiro Koizumi di kediaman Presiden Prabowo, Kertanegara, Jakarta Selatan, Kamis (12/6).
Dalam courtesy call tersebut, Menhan Koizumi menyatakan dimulainya pembahasan transfer peralatan pertahanan di bawah kerangka kerja baru oleh otoritas pertahanan kedua negara.
“Termasuk (transfer) kapal perusak kelas Asagiri akan berkontribusi untuk memperkuat kerja sama di bidang keamanan maritim,” tulis siaran pers Kementerian Pertahanan Jepang, dikutip Senin (15/6).
Kemhan Jepang menyatakan, Presiden Prabowo berharap mendapat kemajuan yang nyata terkait peralatan dan teknologi pertahan lewat kerja sama tersebut.
Kemudian, Menhan Sjafrie dan Menhan Koizumi sepakat membentuk kelompok kerja untuk membahas transfer kapal Asagiri, termasuk soal pendidikan dan pelatihan, pemeliharaan dan keberlanjutan, serta aspek operasional.
“Untuk melaporkan kembali kepada Presiden Prabowo tentang kemajuannya,” tulis siaran pers tersebut.
Sementara itu, Kepala Biro Informasi Pertahanan Kemhan RI Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait mengatakan, pembahasan Indonesia-Jepang berfokus di bidang maritim dan peralatan pertahanan.
“Yang dibahas adalah berbagai peluang kerja sama pertahanan Indonesia–Jepang, termasuk di bidang maritim dan peralatan pertahanan, yang masih memerlukan kajian dan pembahasan lebih lanjut oleh kedua pihak,” kata Rico kepada Indonesia Defense Magazine (IDM))
📝 IDM
✈ Akan dikirimkan tahun 2028
M-346F block 20 (Leonardo)
Sebagaimana di laporkan EDR Magazine 14 Juni lalu, bahwa Indonesia memilih M-346F untuk pertempuran ringan dan pelatihan pilot pada akhir tahun lalu dan menandatangani surat niat (Lettter of Intent) di Singapore Air Show pada Februari 2026 dengan Leonardo, dengan niatan untuk mengakuisisi 18 unit (kemudian ditingkatkan menjadi 36 unit) pesawat M346F.
Jet bermesin ganda Italia ini mengalahkan persaingan dari TAI Hurjet dan Korean Aerospace Industries FA-50.
Modernisasi sedang berlangsung di Angkatan Udara Indonesia (TNI-AU) saat ini, sebagian besar melalui perusahaan kedirgantaraan pertahanan PT E-Systems, yang telah ditugaskan untuk mengakuisisi pesawat latih generasi baru dalam perannya sebagai kontraktor pertahanan resmi Indonesia.
PT-E Systems Solutions akan mendukung pemeliharaan, logistik, dan penerbangan taktis, sebagai bagian dari Pusat Perang Udara TNI-AU yang baru yang sedang dibentuk.
Menurut sumber manajemen senior PT E-Systems, 'perusahaan juga akan mengintegrasikan perangkat pengacau sinyal perlindungan diri (Self Protection Jammer) rancangan Indonesia sendiri, mengintegrasikan dan memenuhi syarat rudal udara-ke-udara jarak pendek Diehl IRIS-T, mengintegrasikan tautan data buatan dalam negeri untuk penargetan dan distribusi isyarat, serta rudal jelajah ringan MK-V Delta buatan dalam negeri.'
Sumber tersebut melanjutkan, 'PT E-Systems Solutions juga akan berpartisipasi dalam uji terbang dan kualifikasi Airborne Electronically Scanned Array (AESA) Grifo E600 bebas ITAR milik Leonardo, menggunakan landasan uji terbang milik perusahaan sendiri.'
Hal ini akan membuat M-346F lebih mumpuni daripada 23 unit F-16C/D Block 52 TNI-AU yang masih beroperasi dan dilengkapi dengan radar APG-68 (V) yang lebih tua, yang diperoleh antara tahun 2012-18.
Rencana pengadaan M-346 tentu merupakan program yang ambisius, yang akan membuat Block 20 digunakan dalam peran operasional yang lebih mumpuni daripada di Kanada dan Austria.
Kontrak akan ditandatangani oleh Leonardo dan PT E-Systems Solutions atas nama Kementerian Pertahanan Indonesia di Jakarta pada awal Juli, untuk pengadaan 12 unit M-346F yang akan dikirimkan pada awal tahun 2028 untuk menggantikan BAE Systems Hawk Mk 109/209 yang masih beroperasi yang dikirimkan pada tahun 1990-an. Tahap kedua sebanyak 24 unit akan dikontrak pada Februari 2027.
🤝 ✈ 🚁
Acara Indonesia Aerospace Ecosystem Forum 2026 di BRI Tower Bandung, Selasa (9/6/2026) (Foto: Nur Khansa Ranawati/detikJabar)
Kerja sama antara Indonesia dan Turkish Aerospace diarahkan untuk memperkuat ekosistem industri dirgantara nasional melalui rencana pembangunan fasilitas perakitan pesawat serta manufaktur komponen penerbangan. Rencana strategis ini mengemuka dalam acara Indonesia Aerospace Ecosystem Forum 2026 yang diselenggarakan di Bandung pada Selasa (9/6/2026), sebagaimana dilansir dari Detikcom.
Langkah ini diambil guna mendorong investasi baru di sektor penerbangan, penyediaan bahan baku, hingga manufaktur komponen. Pihak Turkish Aerospace menilai Indonesia memiliki landasan sejarah dan potensi besar untuk menjadi pusat pengembangan industri penerbangan di kawasan Asia Tenggara.
Managing Director Turkish Aerospace Indonesia, Adi Aviantoro menyatakan bahwa sektor dirgantara nasional sempat mengalami kelesuan setelah sebelumnya memiliki dasar industri yang kuat. Kehadiran investasi baru ini diharapkan mampu memberikan suntikan modal bagi kebangkitan aviasi domestik.
"Indonesia ini secara sejarah memang background industrinya sudah diarahkan ke arah industri aerospace. Kemudian ada jeda masa waktu ketika industri aerospace itu lesu. Mulai tahun 2022, setelah Turkish Aerospace Indonesia berinvestasi di Indonesia, kami harapkan industri aerospace dan pendukungnya mulai berkembang, terutama di industri manufaktur," kata Adi saat ditemui di sela acara.
Menurut Adi, basis industri yang kuat di Indonesia, khususnya di Kota Bandung, menjadi daya tarik utama bagi pihak Turki untuk menanamkan modalnya.
"Turki melihat Indonesia sudah mempunyai potensi ke arah industri aerospace. Oleh karenanya memang Turki berinvestasi di Indonesia untuk industri pesawat terbang yang sudah ada basisnya di Indonesia, terutama di Bandung," ujarnya.
Saat ini, pengembangan fundamental berfokus pada penguatan manufaktur komponen sebelum kapasitas produksi pesawat terbang ditingkatkan secara massal guna mendukung industri di Turki.
"Sekarang ini yang harus kita perkuat secara fundamental adalah mengembangkan industri part manufacturing yang kemudian akan berkembang ke arah pesawat terbang yang akan mendukung industri pesawat terbang di Turki. Tapi kita di Indonesia sekarang ini lebih fokus kepada industri part manufacturing," katanya.
Meskipun pendirian fasilitas perakitan pesawat sudah masuk dalam rencana jangka panjang, besaran nilai investasi keseluruhan saat ini masih berada dalam tahap pengkajian mendalam.
"Selain membuat perusahaan Turkish Aerospace Indonesia, Turki juga berinvestasi untuk ke depannya membuat fasilitas assembly pesawat terbang. Sampai saat ini kita masih dalam studi untuk menyimpulkan besaran nilai investasi," ujar Adi.
Kawasan Bandara Internasional Kertajati di Kabupaten Majalengka menjadi salah satu kandidat kuat lokasi fasilitas perakitan tersebut, menyusul pemberian fasilitas serupa kepada GMF.
"Saat ini kita ada beberapa pilihan yang belum diputuskan. Kemarin sudah didengar mengenai GMF yang diberikan fasilitas di Kertajati. Mungkin arahan ke depannya juga arahnya akan ke Kertajati," katanya.
Adi menambahkan bahwa Bandung memiliki kesiapan sumber daya manusia yang mumpuni berkat keberadaan universitas dengan jurusan penerbangan.
"Bandung harusnya paling siap karena didukung dari universitas yang jurusannya penerbangan yang ada di Bandung. Kemudian ada industrinya, industri penerbangan memang pusatnya dari dulu ada di Bandung," ujarnya.
Pada tahap awal operasional, perusahaan akan memprioritaskan pengembangan helikopter komersial, meskipun Turkish Aerospace juga memproduksi pesawat sayap tetap serta helikopter militer.
"Sementara ini kita masih fokus untuk helikopter yang komersial. Produk Turkish Aerospace ada yang fixed wing and rotary wing. Yang rotary wing itu ada yang militer dan ada yang komersial, sekarang ini kita fokus untuk yang komersial," kata Adi.
Kendala utama yang saat ini dihadapi oleh industri penerbangan domestik adalah ketergantungan pada impor bahan baku, yang diharapkan dapat diatasi melalui dukungan finansial yang kuat.
"Saat ini memang kesulitan yang paling utama adalah raw material. Tapi dengan adanya dukungan finansial, maka mudah-mudahan kendala ini bisa diatasi. Kemudian raw material bisa kita sediakan untuk para supplier di Indonesia. Akhirnya secara financing sudah tidak ada masalah untuk pengadaan material," ujarnya.
Di sisi lain, Chairman Indonesian Aircraft Components Manufacturers Organization (INACOM), J. Adi Sasongko menilai kehadiran perusahaan asal Turki ini mampu menggerakkan ekosistem industri komponen lokal yang tersebar di wilayah Indonesia.
"Kita beruntung sekarang ini kita ketemu Turkish Aerospace Indonesia yang mencoba membangun ekosistem. Harapannya kita bisa didukung oleh industri yang banyak tersebar di seluruh Indonesia untuk mensupport Turkish Aerospace Indonesia," katanya.
Ia mencontohkan Amerika Serikat yang berhasil mengembangkan industri penerbangannya melalui peningkatan kapabilitas dari industri komponen otomotif.
"Saya rasa industri aviasi ini sangat besar peluangnya. Seperti di Amerika, industri aviasi dibuat pertama kali dengan mengonversi industri komponen otomotif untuk di-upgrade menjadi industri komponen pesawat. Harapannya kita bisa mengikuti seperti Amerika," ujarnya.
Meskipun mengidentifikasi adanya hambatan pada sistem regulasi dan birokrasi domestik, Adi Sasongko menegaskan bahwa hal tersebut tidak boleh menghentikan langkah pengembangan.
"Birokrasi dan regulasi itu tetanggaan, sama-sama ruwet. Kita tidak akan menunggu birokrasi maupun regulasi sampai benar-benar ideal. Karena kalau kita menunggu ideal mungkin tidak akan pernah datang," katanya.
Sektor transportasi udara dinilai memiliki potensi pasar domestik yang sangat besar mengingat kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan.
"Sebenarnya kita merupakan pasar yang sangat besar. Mulai Sabang sampai Merauke membutuhkan transportasi udara yang begitu banyak. Dengan 17.000 pulau, harusnya kita menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Sekarang yang beterbangan di atas kita ini kebanyakan pesawat impor semua," tutupnya.
Shinjirō Koizumi memberikan miniatur kapal perang Mikasa ke Presiden Prabowo Subianto (dok. Instagram)
Kementerian Pertahanan RI membeberkan obrolan Presiden Prabowo Subianto dengan Menteri Pertahanan Shinjirō Koizumi saat bertemu beberapa hari kemarin.
Karo Infohan Setjen Kemhan, Brigjen TNI Rico Ricardo, mengatakan kunjungan Shinjirō merupakan balasan dari pertemuan Menhan RI Sjafrie Sjamsoeddin sebelumnya ke Jepang.
"Pertemuan tersebut pada dasarnya merupakan kunjungan balasan dari Menteri Pertahanan Jepang atas kunjungan Menteri Pertahanan RI ke Jepang beberapa waktu lalu," kata Rico kepada wartawan, Minggu (14/6/2026).
Rico mengatakan, pertemuan di Kertanegara membahas tindak lanjut kerja sama pertahanan usai penandatanganan Defence Cooperation Arrangement (DCA). Kedua tokoh juga menyinggung sejumlah peluang kerja sama di bidang pendidikan hingga industri pertahanan.
"Pertemuan dimanfaatkan untuk membahas tindak lanjut kerja sama pertahanan kedua negara pasca-penandatanganan Defence Cooperation Arrangement (DCA), termasuk berbagai peluang kerja sama di bidang pendidikan, pertukaran personel, keamanan maritim, teknologi, dan industri pertahanan. Kertanegara (pertemuan berlangsung)," katanya.
Kemhan menyebut belum ada keputusan dalam konteks pengadaan alutsista tertentu. Ia mengatakan semua opsi masih perlu pembahasan lebih lanjut.
Indonesia diberitakan media jepang, melirik kapal destroyer Murasame class (seaforces)
"Terkait kerja sama alutsista, yang dibahas dalam konteks peluang kerja sama dan penjajakan lebih lanjut. Belum ada keputusan terkait pengadaan tertentu karena seluruh opsi masih memerlukan pembahasan lanjutan oleh kedua pihak," ungkapnya.
Sebelumnya, Menteri Pertahanan Jepang Shinjirō Koizumi mengungkapkan hasil kunjungan singkatnya selama satu hari ke Indonesia. Dia mengatakan bertemu Presiden Prabowo Subianto di kediaman pribadinya.
Dalam unggahan di akun Instagramya, Shinjirō Koizumi mengatakan dirinya menyerahkan sebuah model kapal perang legendaris Jepang, 'Mikasa', sebagai hadiah kepada Presiden Prabowo. Dia menyebut Prabowo senang atas pemberiannya itu.
"Saya baru saja kembali dari perjalanan satu hari ke Indonesia. Semalam, dalam pertemuan di kediaman pribadi Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, saya memberikan beliau sebuah model kapal perang 'Mikasa', yang berbasis di kota kelahiran saya, Yokosuka, sebagai hadiah. Presiden Prabowo, mantan perwira militer dan Menteri Pertahanan, sangat senang," tulis Shinjirō Koizumi seperti dilihat Minggu (14/6/2026).
Dia juga mengapresiasi perhatian Prabowo terhadap kerja sama pendidikan pertahanan kedua negara. Menurutnya, Prabowo memiliki peran besar dalam mendorong pengiriman mahasiswa Indonesia ke Akademi Pertahanan Nasional Jepang di Yokosuka.
Shinjirō Koizumi juga melakukan pembahasan lanjutan bersama Menteri Pertahanan RI, Sjafrie Sjamsoeddin terkait sejumlah isu strategis yang sebelumnya dibahas dengan Prabowo. Dia yakin kunjungannya ke Indonesia dapat memperkuat hubungan kedua negara. (dwr/gbr)
KRI BPD 322 frigate pertama PAL dan kapal LPD pesanan Filipina dalam penyelesaian di Surabaya (PAL)
Danantara Indonesia berkomitmen mempercepat realisasi dukungan bagi PT PAL Indonesia. Dukungan tersebut ditujukan untuk memperkuat peran PT PAL sebagai lead industri maritim nasional.
Komitmen itu disampaikan Managing Director Business 2 Danantara Indonesia, Setyanto Hantoro. Ia melakukan kunjungan kerja ke PT PAL Indonesia.
Setyanto mengatakan dukungan Danantara diwujudkan melalui penguatan sumber daya dan investasi jangka panjang. Langkah itu mendukung transformasi serta pengembangan bisnis perusahaan.
“Danantara berkomitmen penuh mengawal dukungan finansial dan investasi strategis yang tepat sasaran,” kata Setyanto, Sabtu, 13 Juni 2026. Ia menegaskan percepatan dukungan menjadi prioritas nasional.
Menurutnya, langkah tersebut sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto. “Akeselerasi ini harus segera diwujudkan sebagaimana perintah Presiden dalam rapat terbatas Februari 2026,” ujarnya.
Setyanto menilai transformasi industri maritim 4.0 yang dijalankan PT PAL sejalan dengan visi pemerintah. Upaya itu diarahkan untuk membangun kemandirian industri nasional yang berdaya saing global.
Menurutnya, PT PAL memiliki posisi strategis di kawasan Asia Tenggara. Perusahaan tersebut merupakan satu-satunya galangan kapal yang mampu membangun kapal selam.
“Keunggulan kompetitif PT PAL harus terus diperkuat dan diakselerasi,” ucap Setyanto. Ia menambahkan, PT PAL telah membuktikan kemampuan menghasilkan produk unggulan secara mandiri.
Keterlibatan industri komponen dalam negeri juga memperkuat ekosistem maritim nasional. Direktur Utama PT PAL Indonesia, Kaharuddin Djenod, menyatakan perusahaan telah menyiapkan fondasi yang kuat.
Fondasi tersebut mendukung peran PT PAL sebagai Konsolidator Nasional dan Lead Integrator industri maritim. “Kesiapan PT PAL dimulai dari penguatan keuangan dan modernisasi fasilitas produksi,” kata Kaharuddin.
Ia menjelaskan perusahaan juga mempercepat penyelesaian proyek strategis. Selain itu, PT PAL terus mendorong integrasi sistem digital secara menyeluruh.
“Penguatan kapabilitas produksi dan teknologi menjadi kunci pertumbuhan berkelanjutan,” ujarnya. Saat ini PT PAL berfokus pada kemandirian produksi dan penguasaan teknologi.
Langkah tersebut bertujuan meningkatkan daya saing perusahaan di pasar global. Dalam kunjungan itu, rombongan meninjau sejumlah fasilitas strategis perusahaan.
Fasilitas tersebut meliputi Graving Dock ORCA 50.000, pembangunan shiplift, dan pengembangan Kapal Selam Otonom (KSOT). Peninjauan tersebut memperlihatkan kesiapan infrastruktur PT PAL, untuk mendukung penguatan industri maritim dan pertahanan nasional.
Infoglobal berhasil mendapatkan pesanan 6 unit EFD-5.5 ke Bangladesh ( Infoglobal))
Pada 11 Juni 2026 di Dhaka, Bangladesh, Infoglobal resmi menandatangani kontrak ekspor avionik untuk pesawat C-130 milik Angkatan Udara Bangladesh.
Melalui kontrak ini, Infoglobal akan mengekspor 6 unit Electronic Flight Display 5.5 (EFD-5.5), sebuah instrumen avionik yang menyediakan informasi penerbangan utama bagi pilot untuk meningkatkan keselamatan, kesadaran situasional, dan efektivitas operasi pesawat.
Pencapaian ini menjadi bukti bahwa teknologi avionik yang dikembangkan dan diproduksi di Indonesia mampu memenuhi kebutuhan pengguna internasional serta bersaing di pasar global.
Kontrak ini juga memperkuat rekam jejak ekspor Infoglobal sekaligus menjadi langkah penting dalam memperluas kehadiran teknologi pertahanan Indonesia di dunia.
Terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada Infoglobal. Kami akan terus berinovasi untuk menghadirkan solusi avionik dan teknologi pertahanan yang andal bagi pengguna di dalam maupun luar negeri.
✈ 🤝
Produksi pesawat tempur KF-21 Boramae (Asiae)
Korea Aerospace Industries (KAI) menyampaikan harapan agar PT Dirgantara Indonesia (PTDI) nantinya dapat menjadi bagian dari rantai pasok jet tempur KF-21 Boramae yang menjadi proyek pengembangan bersama antara Korea Selatan dengan Indonesia.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Team Leader International Business Development, Asia Team 2, KAI, Park Seonghee kepada waratawan Indonesia pada acara ‘Indonesian Next-Generation Journalist Network’ yang diselenggarakan Korea Foundation dan Foreign Policy Community of Indonesia di Sacheon, Korea Selatan, Kamis (11/6).
Park menyampaikan bahwa KAI dan PT DI telah menandatangani perjanjian kerja sama strategis di bidang pertahanan. Perjanjian tersebut mencakup tidak hanya program KF-21, tetapi juga pesawat latih dasar KT-1B, serta berbagai program rotary aircraft.
Park menjelaskan bahwa KF-21 yang satu dari enam purwarupanya akan dikirim ke Indonesia, telah mendapatkan sejumlah minat yang besar dari sejumlah calon pelanggan. Beberapa negara bahkan sudah mulai melakukan pembahasan mengenai program ini.
“Terkait program KT-1, kami juga berencana memindahkan lini produksi ke Indonesia sehingga fasilitas produksi di Indonesia dapat digunakan untuk mendukung program ekspor tambahan di masa depan,” kata Park.
Pada kesempatan yang sama, Director International Business Development Asia KAI, Jo Junhyun menyampaikan bahwa KAI sedang menjalankan program penguatan struktur pesawat KT-1B dan sebagian besar pekerjaan tersebut telah dikerjakan oleh PT DI.
Terkait KF-21 yang satu dari enam prototipenya telah disepakati akan dikirim ke Indonesia, KAI berharap nantinya pemerintah Indonesia akan melalukan pengadaan sebanyak 48 pesawat.
“Saat ini pembicaraan masih berfokus pada tahap pertama. Namun, kami juga telah memperluas diskusi mengenai pengadaan tambahan KF-21 di masa mendatang. Kami memiliki komitmen yang kuat untuk terus memperluas kerja sama dengan Indonesia,” tambah Jo.
Bersamaan dengan penyerahan prototipe, Seoul dilaporkan kantor berita Yonhap telah bernegosiasi dengan Jakarta untuk menandatangani kesepakatan ekspor 16 unit jet tempur KF-21, yang akan menjadi penjualan luar negeri pertama jet tempur buatan dalam negeri tersebut.
👷 Kembali berjalan sesuai rencana
Kapal LPD ketiga pesanan Filipina dalam penyelesaian (Jane's)
PT PAL Indonesia akan meluncurkan kapal pengangkut strategis atau strategic sealift vessel (SSV) jenis landing platform dock (LPD) ketiga Angkatan Laut Filipina pada 30 Juni, dengan program yang kini kembali berjalan sesuai rencana setelah penundaan sebelumnya dan revisi tahapan kontrak.
Berbicara kepada Janes selama kunjungan baru-baru ini ke fasilitas perusahaan di Surabaya, CEO Kaharuddin Djenod mengatakan gangguan jadwal sebelumnya telah diselesaikan melalui penyesuaian yang disepakati bersama dengan pemerintah Filipina.
Penyesuaian ini memungkinkan pembangunan untuk dilanjutkan dengan jadwal yang dipercepat, dengan kapal tersebut berkembang dari pemasangan blok lambung hingga peluncuran yang direncanakan dalam waktu enam bulan, kata Djenod.
Kapal tersebut, yang pertama dari dua kapal yang dipesan berdasarkan kontrak lanjutan tahun 2022, diperkirakan akan menjalani peluncuran dan pemasangan perlengkapan sebelum pengiriman pada tahun 2027.
Kontrak tersebut sebelumnya mengalami penundaan yang pertama kali dilaporkan oleh Janes pada Agustus 2025. Pada saat itu, dokumen menunjukkan bahwa PT PAL telah melewatkan empat tonggak penting, termasuk tanggal peluncuran dan pengiriman untuk kedua kapal.
Berdasarkan jadwal awal, kapal ketiga akan diluncurkan pada 22 Agustus 2024 dan dikirim pada 22 Januari 2025, sedangkan kapal keempat dijadwalkan untuk diluncurkan pada 22 Februari 2025 dan dikirim pada 22 Juli 2025.
Dalam pernyataan yang dikeluarkan pada September 2025, PT PAL mengakui adanya keterlambatan jadwal. Perusahaan tersebut menghubungkan penundaan tersebut dengan kondisi geopolitik global yang memengaruhi rantai pasokan dan produksi, termasuk gangguan terhadap ketersediaan bahan baku, yang diperparah oleh distorsi terkait tarif dan kemacetan pelabuhan.
Kontrak lanjutan untuk SSV ketiga dan keempat ini mengulangi pesanan sebelumnya senilai USD92 juta yang diberikan pada tahun 2014. Dua SSV dari kontrak tersebut dioperasikan sebagai BRP Tarlac pada Juni 2016 dan BRP Davao del Sur pada Mei 2017.