Tangguhkan F-35 dan
menilai sebagai simbol ketergantungan terhadap Amerika
Infografis pesawat generasi kelima KAAN Turkiye (Katadata)
Negosiasi awal antara Spanyol dan Turki mengenai jet tempur generasi kelima KAAN di ajang SAHA Expo 2026 berkembang menjadi salah satu manuver geopolitik pertahanan paling strategis di NATO. Pembicaraan itu tidak sekadar menyangkut transaksi militer, melainkan membuka babak baru dalam persaingan pengaruh teknologi tempur udara di jantung aliansi Atlantik.
CEO Turkish Aerospace Industries (TUSAS), Mehmet Demiroglu, mengonfirmasi bahwa Angkatan Udara Spanyol telah meminta informasi resmi mengenai KAAN. Menurut dia, komunikasi antarpemerintah kini memasuki tahap penjajakan awal yang melibatkan evaluasi teknis dan politik.
Langkah Madrid dinilai sangat signifikan karena muncul setelah Spanyol menangguhkan jalur akuisisi F-35 buatan Amerika Serikat pada Agustus 2025. Penundaan program Future Combat Air System (FCAS) Eropa hingga dekade 2040-an membuat Spanyol menghadapi kekosongan kemampuan udara siluman di tengah penuaan armada F/A-18 Hornet dan AV-8B Harrier.
Dalam beberapa tahun terakhir, Spanyol juga semakin kritis terhadap ketergantungan teknologi militer pada Washington. Pemerintah Madrid disebut keberatan terhadap kontrol ITAR Amerika Serikat yang membatasi akses perangkat lunak, integrasi persenjataan, hingga fleksibilitas operasional nasional pada platform F-35. Di kalangan pertahanan Spanyol, F-35 bahkan mulai dipandang sebagai “kotak hitam” yang terlalu bergantung pada kendali teknologi Amerika.
Media Spanyol, El Espanol mencatat bahwa F-35, satu-satunya pesawat tempur generasi kelima Barat yang saat ini tersedia, tidak menawarkan transfer teknologi kepada mitra, kecuali kepada Israel.
Semua operator F-35 lainnya tidak dapat mengintegrasikan sistem mereka sendiri ke dalam pesawat, dan platform tersebut membutuhkan layanan yang hanya dapat disediakan oleh Amerika Serikat untuk kemampuan operasional penuh. Dalam skenario gesekan diplomatik atau masa perang, ketergantungan ini dapat membuat pesawat tidak dapat beroperasi.
Kondisi tersebut membuka peluang besar bagi Turki untuk masuk ke pasar strategis Eropa melalui KAAN. Ankara menawarkan kombinasi pesawat tempur siluman generasi kelima, fleksibilitas integrasi subsistem, partisipasi industri lokal, serta skema transfer teknologi yang lebih terbuka dibanding platform Barat, sebagaimana diberitakan Turkiye Today dan sejumlah media asing pada Kamis (7/5/2026).
Program KAAN sendiri kini berkembang menjadi simbol kebangkitan industri dirgantara strategis Turki. Pesawat itu dirancang memiliki karakteristik utama jet generasi kelima seperti desain siluman, internal weapons bay, sensor fusion, peperangan berbasis jaringan, hingga kemampuan supercruise. Program tersebut dipercepat Ankara setelah Turki dikeluarkan dari konsorsium F-35 akibat pembelian sistem pertahanan udara Rusia S-400 yang memicu sanksi Amerika Serikat.
Keberhasilan penerbangan perdana KAAN mengubah persepsi banyak analis Barat yang sebelumnya meragukan kemampuan Turki mengembangkan jet tempur generasi kelima secara mandiri. Ankara kini mempercepat pengembangan ekosistem tempur udara nasional mulai dari drone KIZILELMA, ANKA, Hürjet, hingga KAAN sebagai tulang punggung kekuatan udara masa depan Turki.
Minat terhadap KAAN juga mulai muncul dari sejumlah negara di luar Eropa, termasuk Indonesia. Republika.co.id sebelumnya melaporkan Indonesia resmi menandatangani rencana pembelian 48 unit KAAN dalam ajang IDEF 2025 di Istanbul. Kesepakatan itu menjadi kontrak ekspor pertahanan terbesar dalam sejarah industri militer Turki sekaligus memperlihatkan meningkatnya kepercayaan internasional terhadap program KAAN.
Indonesia memilih KAAN bukan hanya karena faktor teknologi siluman generasi kelima, tetapi juga karena peluang transfer teknologi dan penguatan industri pertahanan nasional. Republika.co.id melaporkan kerja sama Ankara-Jakarta mencakup partisipasi industri, pengembangan kemampuan dirgantara domestik, serta peluang integrasi dengan ekosistem pertahanan udara Indonesia di masa depan. Skema tersebut dinilai jauh lebih menarik dibanding model pembelian jet tempur Barat yang cenderung tertutup dalam aspek teknologi strategis.
Bagi Indonesia, KAAN juga dipandang relevan untuk menghadapi dinamika keamanan Indo-Pasifik yang semakin kompleks. Kemampuan stealth, peperangan berbasis jaringan, sensor canggih, dan operasi tempur modern membuat KAAN diproyeksikan menjadi bagian penting modernisasi kekuatan udara TNI AU dalam jangka panjang.
Jika Spanyol benar-benar melangkah menuju akuisisi KAAN, maka dampaknya akan melampaui sekadar transaksi militer biasa. Keberhasilan Turki menembus pasar NATO dan Uni Eropa dengan jet tempur generasi kelima buatan sendiri berpotensi mengubah peta industri pertahanan global sekaligus memperkuat posisi Ankara sebagai kekuatan dirgantara baru dunia.
Tak Selamanya Lockheed Martin
Munculnya jet tempur generasi kelima Turki, TAI KAAN, mulai mengubah peta industri pertahanan global yang selama ini didominasi oleh Lockheed Martin F-35 Lightning II. Jika sebelumnya pasar jet tempur stealth praktis hanya dikuasai Amerika Serikat, kini sejumlah negara mulai melirik alternatif baru yang dinilai lebih fleksibel secara politik maupun teknologi.
Secara desain, KAAN dan F-35 sama-sama mengusung teknologi stealth, sensor fusion, kemampuan peperangan elektronik, dan operasi berbasis jaringan. Namun keduanya lahir dari filosofi strategis yang berbeda.
F-35 dirancang sebagai bagian dari ekosistem militer global Amerika Serikat. Jet ini terintegrasi erat dengan sistem komando, perangkat lunak, logistik, dan pembaruan data yang dikendalikan Washington. Karena itu, negara pengguna F-35 tetap bergantung pada persetujuan AS untuk pemeliharaan tertentu, integrasi senjata, hingga pembaruan software strategis.
Sebaliknya, KAAN diposisikan Turki sebagai simbol “kedaulatan teknologi pertahanan”. Ankara menawarkan jet ini dengan pendekatan yang lebih terbuka terhadap transfer teknologi, kerja sama industri, dan fleksibilitas integrasi sistem persenjataan lokal negara pembeli. Di sinilah letak daya tarik utama KAAN.
Sejumlah negara mulai melihat bahwa pembelian jet tempur kini bukan hanya soal kemampuan tempur, tetapi juga soal independensi geopolitik. Banyak negara tidak ingin seluruh sistem pertahanannya terkunci dalam kontrol satu kekuatan besar.
Spanyol, misalnya, mulai membuka pembicaraan awal terkait KAAN di tengah kegelisahan Eropa terhadap ketergantungan jangka panjang pada industri pertahanan AS. Media pertahanan Eropa menyebut Madrid tertarik pada peluang transfer teknologi serta ruang partisipasi industri domestik yang lebih luas dibanding skema F-35.
Indonesia juga menjadi salah satu negara yang disebut memiliki ketertarikan terhadap KAAN. Selain faktor hubungan strategis dengan Turki yang terus menguat, Jakarta dinilai melihat peluang memperoleh akses teknologi dan kerja sama industri yang lebih besar. Dalam sejumlah laporan media nasional, kerja sama pertahanan Indonesia–Turki berkembang cepat, mulai dari drone, kendaraan tempur, hingga pengembangan industri strategis.
Berbeda dengan F-35 yang memiliki harga operasional sangat tinggi, KAAN juga diproyeksikan menawarkan biaya yang lebih kompetitif untuk negara berkembang maupun middle power yang ingin memiliki jet tempur generasi kelima tanpa harus sepenuhnya bergantung pada Washington.
Faktor lain yang membuat KAAN menarik adalah perubahan lanskap geopolitik global. Banyak negara kini berusaha menerapkan strategi “multi-alignment”, yakni menjaga hubungan dengan Barat tanpa sepenuhnya bergantung pada satu blok kekuatan. Dalam konteks itu, Turki dipandang berada di posisi unik: anggota NATO, tetapi tetap memiliki kebijakan luar negeri yang relatif independen.
KAAN akhirnya bukan sekadar proyek pesawat tempur. Ia mulai dipandang sebagai simbol munculnya pusat kekuatan teknologi militer baru di luar dominasi tradisional Amerika Serikat, Rusia, dan China.
Drone tempur Kizilelma (Baykar)
Hubungan Indonesia dan Turki di bidang pertahanan semakin erat. Dalam beberapa tahun terakhir, kerja sama kedua negara terus melebar, mulai dari kendaraan tempur, sistem nirawak, hingga pengembangan industri pertahanan di dalam negeri.
Salah satu kerja sama terbaru terlihat dari pengembangan Bayraktar KIZILELMA, pesawat tempur tanpa awak atau unmanned combat aircraft (UCAV) buatan Baykar, perusahaan pertahanan dan dirgantara asal Turki.
Dalam kerja sama ini, perusahaan Indonesia yang menjadi bagian penting adalah Republikorp Group. Perusahaan yang bergerak di bidang pertahanan ini namanya semakin sering muncul dalam sejumlah kerja sama alutsista strategis, terutama sejak era Presiden Prabowo Subianto menjabat sebagai Menteri Pertahanan pada 2019-2024.
Adapun kerja sama KIZILELMA dilakukan antara Baykar dan PT Republik Aero Dirgantara, anak usaha Republikorp Group. Melansir situs resmi Republikorp, kerja sama ini merupakan kelanjutan dari Joint Venture Agreement (JVA) yang telah dimulai sejak 2025 untuk produksi lokal Bayraktar TB3 dan AKINCI di Indonesia.
Dengan kerja sama terbaru ini, kemitraan Baykar dan Republikorp diperluas ke pengembangan UCAV generasi baru melalui Bayraktar KIZILELMA. Pengembangan operasional KIZILELMA ditargetkan dapat memperkuat kemampuan pesawat tempur nirawak Indonesia mulai 2028.
Kerja sama tersebut juga tidak hanya mencakup pengadaan pesawat. Kolaborasi dengan Baykar turut meliputi transfer teknologi, pengembangan sumber daya manusia, fasilitas MRO (maintenance, repair, and overhaul), pusat produksi dan integrasi lokal, sertifikasi tenaga ahli, hingga riset teknologi strategis masa depan.
Kilas Balik Kerja Sama Militer Indonesia-Turki
MT Harimau (Pindad)
Kerja sama pertahanan Indonesia dan Turki sudah berjalan lebih dari satu dekade. Salah satu kerja sama yang cukup awal terlihat pada pengembangan tank ukuran medium. Kerjasama ini mulai dirintis sekitar 2010, ketika Indonesia dan Turki menjajaki kerja sama industri pertahanan.
Proyek tersebut melibatkan PT Pindad yang mewakili Indonesia dan FNSS Defence Systems dari Turki.Realisasi pengembangan kendaraan tempur ini mulai berjalan lebih konkret pada 2014. Dari kerja sama tersebut, lahir medium tank Harimau, yang juga dikenal dengan nama Kaplan MT.
Harimau merupakan tank kelas medium yang dikembangkan untuk TNI Angkatan Darat. Tank ini memiliki bobot lebih ringan dibanding main battle tank, tetapi tetap dilengkapi kemampuan tempur untuk mendukung operasi darat. Sebagai gambaran, main battle tank yang digunakan Indonesia saat ini adalah Leopard 2 buatan Jerman.
Leopard 2 masuk dalam kategori tank tempur utama dengan bobot lebih berat dibanding tank medium seperti Harimau. Sementara itu, Harimau dirancang sebagai kendaraan tempur dengan mobilitas yang lebih fleksibel. Tank ini dapat digunakan di berbagai medan, termasuk wilayah dengan kondisi infrastruktur yang lebih terbatas.
Sejak dimulainya kerja sama pembuatan tank Harimau, hubungan Indonesia dan Turki di bidang pertahanan semakin intens. Intensitas kerja sama tersebut semakin terlihat pada masa Kementerian Pertahanan dipimpin Prabowo.
Turki tampak menjadi salah satu mitra yang cukup menonjol dalam agenda modernisasi alutsista Indonesia. Salah satu alasannya, kerja sama dengan Turki banyak dikaitkan dengan skema transfer teknologi dan produksi lokal.
Republikorp Masuk ke Banyak Proyek Strategis
Drone Akinci (ist)
Di tengah semakin intensnya kerja sama pertahanan Indonesia dan Turki, nama Republikorp mulai semakin sering muncul.
Perusahaan swasta nasional ini terlibat dalam sejumlah kerja sama strategis, terutama yang berkaitan dengan pengembangan alutsista, produksi lokal, transfer teknologi, hingga pembangunan fasilitas pendukung di dalam negeri.
Melansir dari situs resmi Republikorp, sedikitnya ada beberapa kerja sama besar yang melibatkan perusahaan tersebut sejak 2025 hingga 2026. Cakupannya luas, mulai dari jet tempur, rudal, sistem intelijen, kendaraan tempur, kapal patroli, amunisi, hingga modernisasi sistem pertahanan TNI.
Turki menjadi salah satu negara yang paling menonjol dalam kerja sama tersebut. Namun, jejak Republikorp tidak berhenti di sana.
Perusahaan ini juga menggandeng perusahaan pertahanan besar dari Qatar dan Uni Emirat Arab dalam proyek bernilai miliaran dolar AS. Menariknya, Republikorp bukan perusahaan swasta yang selama ini dikenal luas sebagai produsen persenjataan utama di Indonesia.
Dalam industri pertahanan nasional, sejumlah perusahaan swasta seperti PT Sentra Surya Ekajaya, PT Sari Bahari, PT Infoglobal Teknologi Semesta, PT Palindo Marine, PT Lundin Industry Invest, hingga PT Famatex sudah lebih dulu dikenal sebagai bagian dari ekosistem produsen alat peralatan pertahanan dan keamanan (alpalhankam) di dalam negeri.
Mereka memiliki kapabilitas pada bidang masing-masing, mulai dari kendaraan taktis, munisi, bom latih, sistem elektronik pertahanan, kapal militer, kapal patroli, hingga perlengkapan pendukung pertahanan lainnya.
Namun, dalam waktu relatif singkat, Republikorp justru terlibat dalam sejumlah kerja sama pertahanan strategis bernilai besar. Muncul pertanyaan besar, kapasitas apa yang membuat Republikorp memperoleh kepercayaan sebesar ini dari pemerintah, khususnya Kementerian Pertahanan.
Pertanyaan ini penting karena proyek pertahanan bukan proyek biasa. Di dalamnya ada aspek keamanan nasional, transfer teknologi, penggunaan sumber daya negara, dan janji besar soal kemandirian industri pertahanan.
Berikut sejumlah proyek besar yang melibatkan Republikorp dalam kerja sama industri pertahanan dengan beberapa negara.
Dari Jet Tempur KAAN, Rudal, hingga Sistem Intelijen
Pesawat Gen V KAAN (TAI)
Dalam kerja sama dengan Turki, Republikorp terlibat dalam beberapa proyek strategis sejak awal 2025. Pada Februari, Baykar Makina dan PT Republikorp menandatangani JVA yang disaksikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan.
Kerja sama ini diarahkan untuk produksi lokal sistem pesawat tanpa awak di Indonesia, termasuk hingga 60 set Bayraktar TB3 dan hingga 9 set Bayraktar AKINCI, dengan cakupan manufaktur, perakitan, perawatan, transfer teknologi, pelatihan, hingga pembangunan fasilitas produksi di dalam negeri.
Setelah itu, Republikorp melalui anak usahanya, PT Republik Technetronic Nusantara (RTN), menandatangani Framework Agreement dengan PAVO Group asal Turki pada Juli 2025. Kerja sama ini berkaitan dengan penyediaan sistem intelijen untuk TNI di berbagai matra.
Sistem yang masuk dalam kerja sama tersebut mencakup data fusion, pengawasan, pengamanan komunikasi, serta infrastruktur pendukung pengambilan keputusan. Dengan kerja sama ini, Republikorp masuk ke sektor teknologi komando, intelijen, dan komunikasi militer.
Sehari setelahnya, Republikorp menjalin joint venture dengan Roketsan. Kerja sama ini melahirkan PT Republik Roketsan Indonesia yang diarahkan untuk mengembangkan industri rudal nasional. Melalui joint venture tersebut, kedua pihak menyepakati pengembangan dan produksi empat sistem rudal secara bertahap di dalam negeri, yakni ÇAKIR, ATMACA, HİSAR, dan SUNGUR.
Produksi tahap awal akan dimulai dari ÇAKIR. Kemudian pada 25 Juli 2025, Kementerian Pertahanan meresmikan perjanjian strategis dengan Turkish Aerospace Industries (TUSAS) terkait pengadaan 48 unit jet tempur generasi kelima KAAN.
Dalam proyek KAAN, PT Republik Aero Dirgantara (RAD) ditunjuk sebagai mitra utama bersama PT Dirgantara Indonesia (PTDI). Peran PT RAD mencakup pembangunan fasilitas maintenance, repair, and overhaul atau MRO KAAN, serta operasionalisasi pusat pelatihan dan simulator.
Deretan kerja sama tersebut memperlihatkan luasnya cakupan Republikorp dalam proyek dengan Turki. Tidak hanya pada platform udara seperti KAAN dan KIZILELMA, tetapi juga rudal, sistem intelijen, komunikasi aman, hingga fasilitas pendukung operasional alutsista.
Gandeng Barzan Holdings untuk Modernisasi TNI
(Ist)
Selain Turki, Republikorp juga menjalin kerja sama dengan Barzan Holdings, perusahaan industri pertahanan milik negara Qatar.
Kerja sama tersebut diteken pada 20 Januari 2026 dalam ajang Doha International Maritime Defence Exhibition & Conference atau DIMDEX 2026. Dalam kerja sama ini, Republikorp berperan sebagai mitra strategis pertahanan Indonesia.
Kedua pihak sepakat membentuk perusahaan khusus atau joint venture dengan total nilai kerja sama mencapai US$ 2,3 miliar atau setara Rp 39,9 triliun (asumsi kurs Rp 17.360/US$1).
Cakupan kerja sama Republikorp dan Barzan Holdings meliputi overhaul serta peningkatan sistem-sistem kritikal di sektor maritim dan darat.
Joint venture tersebut diarahkan untuk mendorong modernisasi skala besar guna meningkatkan kesiapan operasional TNI.
Kerja Sama Jumbo dengan EDGE
Rabdan 8x8, diberitakan diminati marinir (ist)
Republikorp juga menjalin kerja sama besar dengan EDGE, perusahaan pertahanan asal Uni Emirat Arab. Kemitraan tersebut diteken pada 18 November 2025 dengan total nilai yang bombastis mencapai US$ 7 miliar atau setara Rp 121,52 triliun.
Kerja sama dengan EDGE mencakup transfer teknologi, produksi lokal di dalam negeri, pengembangan sistem bersama, serta program modernisasi terpadu TNI. Dari sisi nilai dan cakupan, proyek ini menjadi salah satu kerja sama terbesar yang melibatkan Republikorp.
Ruang lingkup kerja sama tersebut mencakup beberapa alutsista strategis. Di antaranya rudal pertahanan udara SKYKNIGHT, kendaraan tempur infanteri RABDAN 8x8, kapal patroli cepat atau fast patrol vessel, serta pembangunan fasilitas produksi amunisi kaliber kecil
Buka Peluang Bangun Pabrik Pesawat
CN235 MPA TNI AL hasil produksi PTDI, merupakan pesawat terbesar yang telah diproduksi. (Prime Kurniawan)
Produsen pesawat terbesar di Eropa, Airbus, menyatakan minatnya untuk ikut meningkatkan ekosistem industri dirgantara dan dalam jangka panjang memiliki pabrik di Indonesia. Hal ini sejalan dengan meningkatnya kebutuhan pesawat domestik selama 20 tahun ke depan.
Deputi Bidang Ekonomi dan Transformasi Digital Kementerian PPN/Bappenas, Vivi Yulaswati, menjelaskan selama ini Airbus hanya memiliki empat pabrik pesawat di Eropa, yakni di Inggris, Prancis, Jerman, dan Spanyol. Di luar itu, produsen pesawat tersebut juga berencana membangun pabrik di kawasan Asia, yakni di China dan India.
"Airbus kan selama ini ekspor, jadi dia punya perusahaan itu sekarang ada di 4 yang besar tadi ada Spanyol, Prancis, Jerman, dan juga Inggris. Dia sudah mulai 2 tahun lalu, dia mulai mengembangkan juga, dibikin pabriknya nih, India sama China," kata Vivi usai acara penandatanganan JDI dengan Airbus di Kantor Bappenas, Jakarta Pusat, Rabu (6/5/2026).
Di sisi lain, pemerintah memperkirakan tingkat perjalanan udara masyarakat Indonesia saat ini berada di kisaran 0,4 perjalanan per kapita per tahun. Namun angka ini diproyeksikan meningkat signifikan menjadi 1,4 perjalanan per kapita per tahun dalam dua dekade.
Sejalan dengan hal itu, trafik penumpang udara diperkirakan tumbuh rata-rata 7,4% per tahun dan akan mencapai sekitar 477 juta penumpang. Angka ini melampaui rata-rata pertumbuhan global yang berada di kisaran 3,6%.
Berdasarkan proyeksi tersebut, kebutuhan pesawat Indonesia diperkirakan naik tiga kali lipat, dari sekitar 550 unit armada aktif saat ini menjadi sekitar 1.900 unit pada 2045.
"Nah karena kita juga secara domestik tadi ada hitung-hitungannya growing ya kebutuhan pesawat kita, dia juga ingin buat pabrik di Indonesia," ujarnya.
Meski begitu, menurutnya cita-cita Airbus untuk membangun pabrik di Indonesia masih memerlukan waktu panjang. Sebab, untuk memiliki pusat produksi pesawat sendiri, tidak hanya dibutuhkan investasi dan pembangunan fisik, tetapi juga kesiapan sumber daya manusia serta teknologi produksi.
Atas dasar itulah Airbus sepakat untuk terlebih dahulu ikut mengembangkan industri dirgantara di Indonesia, mencakup pengembangan sumber daya manusia, sistem perawatan dan pemeliharaan (maintenance, repair, and overhaul/MRO), serta peningkatan kapasitas industri.
"Tentunya buat pabrik itu kan tidak cuma sekadar investasi bangun pabriknya, tapi kita perlu SDM-nya, perlu memperkuat komponennya, kemudian juga standarisasi gitu ya. Nah itu yang akan dikerjakan atau mendukung Indonesia untuk membangun ekosistem industri kedirgantaraan," jelas Vivi.
Melalui penguatan industri kedirgantaraan ini, Vivi berharap dalam 20 tahun ke depan Indonesia sudah siap untuk memiliki pabrik pesawat sendiri, atau setidaknya menjadi bagian penting dari rantai pasok komponen pesawat dunia, termasuk untuk Airbus.
"Ya mudah-mudahan 20 tahun ke depan kita sudah jadi bagian dari global value chain," ucapnya.
Sementara itu, Presiden Airbus Asia-Pacific Anand Stanley mengatakan kerja sama produksi komponen pesawat dengan Indonesia telah berlangsung selama lebih dari 50 tahun sejak 1976. Saat ini, Indonesia sudah menjadi bagian dari rantai pasok komponen pesawat A320, A330, A350, dan H225.
"Komponen A320, A330, A350, H225 diekspor dari Indonesia. Anda juga telah membantu kami dalam mendukung pembangunan kapital manusia selama 50 tahun. Lebih dari itu, kami juga mendukung pembangunan kapital manusia, mulai dari pilot, engineer, hingga teknisi. Salah satu bagian besar dari perkembangan yang Airbus percaya adalah di daerah MRO," ujarnya.
Bersamaan dengan itu, Stanley kembali membagikan perhitungan terkait kebutuhan pesawat di Indonesia selama 20 tahun ke depan hingga 2045. Menurutnya, proyeksi ini menjadi peluang bagi Airbus dan pemerintah untuk mengembangkan industri pesawat di Tanah Air.
Untuk itu, perusahaan setuju membangun kerja sama strategis dengan pemerintah melalui Kementerian PPN/Bappenas untuk ikut mengembangkan ekosistem dirgantara di Indonesia.
Airbus ingin Indonesia memperkuat industri dirgantara, termasuk pengembangan SDM dan teknisi pemeliharaan pesawat. Dengan begitu, perusahaan dapat meningkatkan lini produksinya di Indonesia.
"Kami, sebagai Airbus, di masa lalu telah menerapkan peta jalan seperti ini dalam 20-30 tahun terakhir di negara-negara seperti China dan India. Namun sekaranglah saatnya bagi kami untuk sepenuhnya memulai perjalanan ini dengan Indonesia," ucapnya.
"Visi kami adalah untuk menjadi warga negara Indonesia dalam 20 tahun ke depan, di mana kami dapat memiliki satu proposisi penerbangan Airbus di seluruh ekosistem, dan mampu mencakup tidak hanya pesawat komersial, tidak hanya pesawat militer, tidak hanya helikopter sipil, tidak hanya helikopter militer, dan tidak hanya satelit, tetapi juga sumber daya manusia dan ekosistem rantai pasok," jelas Stanley.
Simbol Kepercayaan Diri RI
Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto bersama delegasi terbatas tiba di Cebu, Filipina, Kamis (7/5/2026), untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-48 ASEAN. (Instagram/sekretariat.kabinet)
Presiden Prabowo Subianto tiba di The Mactan Cebu International Airport Authority (MCIAA) General Aviation (Gen-AV) Terminal, Cebu, Filipina, pada Kamis, (7/5/2026) pukul 13.45 waktu setempat (WS). Kehadiran Presiden Prabowo guna menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-48 ASEAN yang berlangsung pada 7-8 Mei 2026.
Presiden memboyong mobil dinas kenegaraan dalam kunjungan luar negeri ini.
"Selama berada di Filipina, Bapak Presiden akan menggunakan kendaraan yang dikenal sebagai kendaraan taktis ringan yang tangguh ini," tulis Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya, dalam keterangan resmi.
Untuk pertama kalinya dalam kunjungan luar negeri, Kepala Negara dijemput menggunakan 'Maung', kendaraan taktis ringan hasil pengembangan industri pertahanan nasional Indonesia.
Menurut Teddy, kendaraan taktis tersebut dikenal tangguh dan telah digunakan dalam berbagai operasi serta kebutuhan nasional. Penggunaan Maung dalam agenda internasional Presiden ini sekaligus menunjukkan kemajuan industri pertahanan dalam negeri yang terus berkembang.
"Maung telah dikembangkan sejak Bapak Prabowo menjadi Menteri Pertahanan dan saat ini produksinya di Pindad telah mencapai 3.200 unit, dan telah digunakan dalam berbagai operasi dan kebutuhan dalam negeri. Presiden Prabowo pun telah menggunakan Maung, sejak dilantik sebagai Presiden Republik Indonesia pada 20 Oktober 2024 lalu," katanya.
Teddy menyampaikan bahwa penggunaan Maung pada KTT ASEAN ke-48 tidak sekadar sebagai alat transportasi, tetapi juga menjadi simbol kemandirian bangsa, kepercayaan diri nasional, dan kemajuan teknologi industri Indonesia.
"Penggunaan Maung di forum internasional ini bukan sekadar alat transportasi, tetapi sebagai simbol kemandirian, kepercayaan diri bangsa, dan kemajuan industri nasional Indonesia. Maung menjadi sebuah simbol diplomasi," tuturnya.
Diketahui, setibanya di Cebu, presiden disambut oleh Penasihat Keamanan Nasional Republik Filipina Eduardo Oban. Di bawah tangga pesawat, Presiden Prabowo juga menerima penyambutan kehormatan berupa jajar pasukan kehormatan dan penampilan tari-tarian tradisional Filipina. Selain itu, Presiden juga turut menerima buket bunga dari pihak tuan rumah. (hoi/hoi)
🛩 🤝 Dengan opsi tambahan menjadi 48 unit
Penandatangan kesepakatan pengadaan UCAV Kizilelma (Baykar)
Dari Expo Saha 2026: Indonesia Dikabarkan Membeli Drone Tempur Bayraktar Kizilelma Turki.
Diberitakan penandatangan kontrak pembelian Drone Tempur Bayraktar Kizilelma telah diteken di SAHA Expo 2026, Istanbul, Rabu (6/5/2026) hari ini waktu setempat.
Indonesia telah mengambil langkah besar dalam modernisasi alutsista udara melalui kerja sama dengan Turki.
Berikut adalah poin-poin penting terkait kerja sama Defenceturk (terkait industri pertahanan Turki) dan Indonesia, terutama mengenai pesawat tanpa awak (drone) Kizilelma:.
Baykar (produsen Turki) dan PT Republikorp (Indonesia) telah menandatangani kesepakatan untuk pengadaan 12 drone tempur Bayraktar Kizilelma.
Indonesia menyepakati pembelian 12 unit Bayraktar Kizilelma, dengan pengiriman direncanakan mulai tahun 2028.
Kontrak tersebut juga mencakup opsi tambahan sebanyak 48 unit Kizilelma.
Kizilelma adalah pesawat tempur nirawak (UCAV) jet pertama dari Turki yang dirancang dengan kemampuan stealth (jejak radar rendah), kecepatan tinggi, dan kemampuan manuver agresif.
🛩 Garuda Militer
KRI terbaru hasil produksi lokal
KRI Canopus 936 tiba di Indonesia disambut KRI Bung Tomo 357 (Dispenal)
Kapal perang terbaru milik TNI AL, KRI Canopus-936, resmi memasuki wilayah perairan Indonesia pada Selasa (6/5).
Kedatangan kapal Bantu hidro-oseanografi jenis ocean going atau penjelajah samudera tercanggih ini mendapat sambutan khusus melalui sinergi unsur laut dan udara di Selat Sunda.
Pesawat udara Casa 212-200 MPA P-8202 dari Wing Udara 1 melakukan flypast atau terbang rendah sebagai bentuk penghormatan saat kapal buatan Jerman tersebut melintasi batas laut kedaulatan nasional. Mayor Laut (P) Musmuliadi yang mengawaki pesawat tersebut juga melaksanakan komunikasi radio dan pengambilan foto udara (photo exercise) di atas dek kapal sepanjang 105 meter itu.
Sebelum menyentuh perairan nusantara, kapal hasil kolaborasi galangan Abeking & Rasmussen Jerman dengan PT Palindo Marine Batam ini telah menempuh misi panjang lintas benua sejak Maret 2026.
KRI Canopus-936 tercatat sukses menaklukkan ganasnya Samudra Atlantik Selatan sebelum menuntaskan etape terakhir di Mauritius pada akhir April lalu. Dalam pelayaran sejauh ribuan mil laut tersebut, seluruh sistem robotik dan perangkat riset bawah laut tetap berfungsi presisi.
Pesawat Casa 212-200 MPA P-8202 melakukan terbang rendah (flypast) sebagai penghormatan atas kedatangan KRI Canopus-936 di wilayah yurisdiksi Indonesia. (Dok. Wing Udara 1 Puspenerbal)
Komandan Wing Udara 1 Kolonel Laut (P) Dani Widjanarka, menyampaikan apresiasi dan rasa bangga atas keterlibatan awak pesawat dalam penyambutan alutsista maritim tersebut. Beliau menekankan pentingnya profesionalisme prajurit dalam mendukung kehadiran armada riset masa depan Indonesia.
“Terima kasih atas pelaksanaan giat tersebut. Tetap perhatikan keselamatan terbang selama di daerah operasi,” tegas Dani mengapresiasi kinerja kru pesawat P-8202, dikutip dari keterangan Puspenerbal.
Kapal yang diawaki oleh 93 prajurit pilihan ini membawa teknologi mutakhir berupa kendaraan bawah air otomatis (Autonomous Underwater Vehicle) dan kendaraan bawah air kendali jarak jauh (Remotely Operated Vehicle) yang mampu memetakan dasar samudra hingga kedalaman 11.000 meter.
Kehadiran KRI Canopus-936 kini memperkuat tugas Pusat Hidro-Oseanografi Angkatan Laut (Pushidrosal) dalam memetakan kekayaan bawah laut serta menjaga kedaulatan maritim nasional dengan akurasi data yang lebih tajam. (at)
✈
Jet tempur Chengdu J-10CE (Pakistan AF))
Kementerian Pertahanan Republik Indonesia memberikan klarifikasi resmi terkait kabar yang beredar mengenai rencana pembelian 42 unit jet tempur J-10 buatan China.
Pihak Kemhan memastikan bahwa informasi tersebut tidak benar dan hingga saat ini belum ada kontrak maupun kesepakatan resmi terkait pengadaan alutsista tersebut.
Kepala Biro Informasi Pertahanan Setjen Kemhan, Rico Ricardo Sirait, menegaskan hal itu saat dikonfirmasi.
"Isu tersebut tidak benar. Hingga saat ini tidak ada kesepakatan sebagaimana yang beredar," ujarnya, Minggu (3/5/2026).
Muncul dari Unggahan Media Sosial
Isu ini mencuat setelah sebuah akun media sosial X bernama China Pulse mengunggah klaim bahwa Indonesia telah menandatangani kontrak pembelian jet tempur tersebut.
Dalam unggahan itu disebutkan nilai kontrak mencapai 65 miliar Yuan atau sekitar USD 9 miliar untuk pengadaan 42 unit pesawat tempur J-10.
Namun, kabar serupa sebenarnya pernah muncul sebelumnya.
Pada pertengahan 2025, beredar rumor bahwa TNI Angkatan Udara telah memberikan persetujuan awal untuk mendatangkan jet J-10 guna memperkuat armada udara, termasuk mendampingi pesawat tempur Rafale asal Prancis.
Saat itu, Wakil Menteri Pertahanan RI, Donny Ermawan Taufanto, menegaskan bahwa pemerintah belum mengambil langkah ke arah pembelian tersebut.
Pertimbangan Ketat dalam Pengadaan Alutsista
Donny menjelaskan bahwa Indonesia memiliki sejumlah kriteria ketat dalam menentukan pembelian pesawat tempur.
Selain mempertimbangkan kemampuan jarak tempuh dan daya angkut persenjataan, aspek integrasi dengan sistem pertahanan yang sudah ada menjadi faktor utama.
Hal serupa juga disampaikan Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU), M Tonny Harjono.
Ia menegaskan bahwa proses pengadaan alutsista tidak dilakukan secara instan, melainkan melalui tahapan panjang yang melibatkan berbagai pihak, termasuk Dewan Penentu Alutsista (Wantuwada).
"Penentuan pembelian alutsista perlu memerlukan proses matang dan waktu panjang yang juga melibatkan Dewan Penentu Alutsista atau Wantuwada," jelasnya.
Ia menambahkan bahwa keputusan pengadaan juga sangat bergantung pada dinamika lingkungan strategis kawasan serta kebijakan pertahanan nasional yang ditetapkan pemerintah.
🚀 Yildirimhan menggunakan nitrogen cair tetroksida
Rudal Yildirimhan (Republika)
Pusat Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertahanan Nasional Turki meluncurkan rudal balistik antarbenua (ICBM) Yildirimhan di Pameran Pertahanan dan Dirgantara Internasional SAHA 2026, Istanbul, Selasa (5/5/2026). Hal itu menandai pengenalan publik salah satu sistem rudal jarak jauh tercanggih di Turki.
Rudal antarbenua tersebut mampu mencapai kecepatan Mach 25 dan memiliki jangkauan yang dilaporkan sejauh 6.000 kilometer (km). Yildirimhan menggunakan nitrogen cair tetroksida sebagai bahan bakar dan ditenagai oleh empat mesin propulsi roket.
Perusahaan pertahanan Turki dan lembaga publik memamerkan platform dan teknologi yang baru dikembangkan di pameran yang berlangsung pada 5-9 Mei 2026 itu. Dilaporkan Anadolu, peluncuran rudal terjadi ketika Turki terus memperluas kemampuan industri pertahanannya, termasuk drone, teknologi rudal, pertahanan udara, penerbangan, dan platform terkait ruang angkasa.
Produk baru
Beberapa teknologi Turki dipamerkan untuk pertama kalinya di SAHA 2026. Munisi keliling cerdas Mizrak produksi Baykar yang dikembangkan secara nasional dan orisinal, dengan jangkauan lebih dari 1.000 km dan kemampuan otonom berbasis AI, diluncurkan di pameran itu. UAV Kamikaze K2 dan munisi keliling Sivrisinek milik Baykar juga akan dipamerkan untuk pertama kalinya.
Aselsan juga memperkenalkan lima produk baru dan versi terbaru dari enam produk kepada ekosistem pertahanan global, termasuk kemampuan serangan baru untuk Blue Homeland Turkiye. Teknologi itu akan menambah kemampuan baru pada sistem pertahanan udara Steel Dome, serta sistem-sistem baru yang akan menjadi pengubah permainan dalam serangan udara.
Platform Sistem Senjata Energi Terarah Alka-Kaplan Hybrid, yang dikembangkan atas kerja sama Roketsan dan FNSS dan dikenal sebagai senjata laser, turut dipresentasikan di SAHA 2026 dengan kemampuan tambahan. STM memamerkan sistem udara dan angkatan lautnya yang dikembangkan untuk kebutuhan medan perang modern.
STM membawa UAV kamikaze jarak jauh, versi baru UAV kamikaze sayap tetap Alpagu dengan kemampuan yang ditingkatkan, sistem drone pencegat yang menghadirkan pendekatan inovatif untuk pertahanan udara. Juga, ada sistem pengintaian pengawasan mini yang dirancang untuk memberikan intelijen dan aliran data secara real-time. Pameran itu dihadiri lebih 140 delegasi negara..
Menindaklanjuti rencana modernisasi alutsista
Ilustrasi LVT7 Marinir (Wikipedia)
Korps Marinir menindaklanjuti rencana modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) dalam kunjungan kerja ke Amerika Serikat (AS). Fokus utama dalam pertemuan ini adalah memastikan kelanjutan pengadaan kendaraan tempur Amphibious Assault Vehicle (AAV) serta penjajakan teknologi militer terbaru.
Asisten Logistik Panglima Korps Marinir (Aslog Pangkormar) Brigjen (Mar) Efhardian hadir mewakili Pangkormar Letjen (Mar) Endi Supardi dalam ajang Modern Day Marine 2026. Pameran ini merupakan kiblat inovasi teknologi operasi pesisir yang digelar di Washington D.C., pada 28-30 April 2026.
Progres Pengadaan AAV
Dalam agenda tersebut, Efhardian mengadakan pertemuan khusus dengan Direktur Pengadaan Alutsista Korps Marinir AS (USMC), Brigjen Tamara Campbell. Diskusi ini membahas kepastian lini masa pengiriman dan teknis pengadaan kendaraan pengangkut personel amfibi tersebut.
“Kami hadir untuk memastikan kerja sama alutsista antara Korps Marinir Indonesia dan USMC berjalan lancar, termasuk keberlanjutan program AAV untuk memperkuat kesiapan operasional satuan,” kata Efhardian, dikutip dari keterangan Dispen Kormar, Selasa (5/5).
Efhardian menambahkan, Indonesia menitikberatkan pada aspek peningkatan kapabilitas pengawak melalui pelatihan dan transfer teknologi. “Kerja sama ini bukan sekadar pengadaan unit, tapi mencakup transfer ilmu agar personel kami memiliki kesetaraan kemampuan teknis dengan mitra internasional,” tegasnya.
Pihak USMC melalui Campbell menyatakan komitmennya untuk mengawal proses ini agar berjalan sesuai jadwal yang telah disepakati kedua belah pihak.
Diplomasi Militer dan Hubungan Bilateral
Selain membedah teknologi dari 350 industri pertahanan, delegasi Marinir juga menyambangi Kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Washington D.C. untuk bertemu Duta Besar RI Indroyono Soesilo. Pertemuan ini bertujuan melaporkan progres diplomasi militer yang sedang dilakukan di AS.
Indroyono menilai langkah Korps Marinir ini sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam kerangka kerja sama pertahanan Major Defense Cooperation Partnership.
“Pemerintah mendukung penuh komunikasi strategis ini. Selain urusan alutsista, ini adalah bagian dari penguatan interoperabilitas atau kemampuan untuk bekerja sama dalam operasi gabungan antara TNI AL dan USMC,” ujar Indroyono.
Pantau Teknologi Lintas Domain
Selama pameran, delegasi juga berdiskusi dengan Direktur Program Kerja Sama Material Internasional Angkatan Laut AS William Carty, serta Aslog USMC Letjen Stephen Sklenka. Pihak AS membuka peluang kerja sama seluas-luasnya, termasuk pada teknologi multi-domain operations yang menggabungkan kekuatan darat, laut, dan udara dalam satu sistem terintegrasi.
Langkah maraton di Washington ini diharapkan menjadi fondasi kuat bagi Korps Marinir untuk terus memperbarui sistem persenjataan sesuai dengan dinamika keamanan kawasan saat ini. (at)
♞ IDM