Rabu, 02 September 2026

[Global] AS Pertimbangkan Desain Fregat Mogami, Chungnam, dan Istanbul untuk Diakuisisi

 ⚓️ 👷 Tiga kandidat utama (wikimedia)

Gedung Putih dan Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy) dilaporkan tengah mempertimbangkan desain kapal fregat dari Jepang, Korea Selatan, dan Turkiye untuk memperkuat armada tempur masa depan mereka.

Langkah strategis ini diambil sebagai bagian dari dorongan pemerintahan Presiden Donald Trump untuk mempercepat ekspansi armada militer secara masif.

Berdasarkan sumber industri yang dihimpun USNI News, rencana kompetisi internasional ini berpotensi memicu perubahan besar dalam kebijakan pertahanan AS.

Dalam rencana ini, dua kapal pertama akan dibangun di galangan kapal asing sebelum akhirnya dialihkan ke galangan kapal domestik AS.

Keputusan tersebut akan memecahkan tradisi dan aturan hukum konstruksi angkatan laut domestik AS yang telah bertahan lebih dari satu abad.

 Dispensasi demi Keamanan Nasional AS

Pertimbangan untuk membeli kapal perang dari luar negeri ini mengemuka setelah Gedung Putih menerbitkan memo yang memberikan dispensasi (waiver) atas dasar kepentingan keamanan nasional.

Langkah ini membebaskan Pentagon dari batasan hukum AS yang sebelumnya melarang kapal perang buatan luar negeri masuk ke dalam jajaran Angkatan Laut AS.

Menindaklanjuti arahan tersebut, Pelaksana Tugas Sekretaris Angkatan Laut AS, Hung Cao, telah memerintahkan jajarannya untuk memimpin pengkajian terhadap kapal kombatan internasional, kapal kargo roll-on/roll-off, hingga kapal tanker pengisi bahan bakar di laut (CONSOL) untuk Military Sealift Command. Hasil pengkajian ini ditargetkan selesai pada 12 November 2026.

 Tiga Kandidat Utama

Tiga kandidat kapal perang utama yang masuk dalam radar kompetisi internasional ini mencakup versi ekspor dari fregat berpeluru kendali kelas Mogami buatan Mitsubishi Heavy Industries (Jepang), fregat kelas Chungnam dari Korea Selatan, dan fregat kelas Istanbul buatan galangan kawpal Turkiye.

Juru Bicara US Navy, Kolonel Ron Flanders, menyatakan AS tengah aktif mengembangkan berbagai opsi untuk memenuhi mandat presiden dalam mempercepat pengadaan kapal perang seraya memanfaatkan keahlian industri galangan kapal negara sekutu.

Skema pengadaan ini berencana mengadopsi apa yang dikenal sebagai “Model Finlandia”. Melalui pendekatan ini, pembangunan dua lambung kapal pertama akan dilakukan di galangan kapal asing, yang kemudian diikutsertakan dengan komitmen investasi asing ke dalam fasilitas dan infrastruktur galangan kapal domestik AS.

Konsep ini serupa dengan program Arctic Security Cutter milik US Coast Guard, di mana galangan kapal Finlandia membangun lambung awal berdasarkan desain Kanada sebelum mengalihkan seluruh proses manufaktur ke dalam negeri AS.

Direktur Office of Management and Budget (OMB), Russ Vought, menyuarakan dukungan penuh terhadap model ini guna mendorong kompetisi yang lebih terbuka di seluruh sektor galangan kapal Angkatan Laut AS.

 Peran untuk Misi Sederhana

Urgennya pengadaan ini didasari oleh adanya celah kemampuan (capability gap) pada armada permukaan US Navy saat ini.

Kapal perusak kelas Arleigh Burke yang sejatinya dirancang untuk peperangan tingkat tinggi sering kali harus dikerahkan untuk misi-misi dasar yang sebenarnya bisa diselesaikan oleh armada yang lebih sederhana seperti fregat.

Kehadiran fregat baru diharapkan dapat mengisi peran pengawalan bernilai tinggi serta pengoperasian di wilayah perairan yang kurang rawan, sehingga kapal perusak dapat difokuskan sepenuhnya pada misi-misi tempur utama.

 Perlawanan Ketat dari Kongres

Program fregat baru ini juga muncul setelah pembatalan program fregat kelas Constellation (FFG-62) oleh Sekretaris Angkatan Laut sebelumnya, John Phelan, yang mengalihkan fokus ke program FFX berbasis National Security Cutter.

Meskipun demikian, langkah Gedung Putih untuk menggunakan desain dan galangan luar negeri mendapat perlawanan ketat dari Kongres AS.

Dalam rancangan Undang-Undang Kebijakan Pertahanan Tahun Anggaran 2027, Komite Angkatan Bersenjata Senat maupun House of Representatives berusaha membatasi wewenang eksekutif dengan menghentikan alokasi anggaran bagi kapal perang Amerika yang dibangun di galangan kapal asing.

Kendati masa depan anggaran tersebut masih diperdebatkan di Capitol Hill, dorongan untuk memanfaatkan teknologi manufaktur sekutu seperti Korea Selatan dan Jepang terus berjalan lewat rangkaian kunjungan pejabat tinggi US Navy ke berbagai galangan kapal di Asia. (RNS)

 ⚓️ 
airspace Review  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...