Jumat, 14 September 2018

PTDI Sudah Ekspor 48 Unit Pesawat

Sejak 1976 HX-5607 PT DI di Hanggar Rotary Wing 

PT Dirgantara Indonesia (PTDI) merayakan hari jadi mereka yang ke-42 pada 23 Agustus lalu. Tepat pada Rabu (12/9), Badan Usaha Milik Negara (BUMN) produsen pesawat ini menyelenggarakan Awarding Day di Hanggar Rotary Wing, Kawasan Produksi II PTDI di Bandung.

Dalam kesempatan ini, Direktur Utama PTDI Elfien Goentoro mengatakan pihaknya telah mengekspor sebanyak 48 pesawat ke berbagai negara, seperti Malaysia, Thailand, Filipina, Uni Emirat Arab, Senegal, Brunei Darussalam, Pakistan dan Korea Selatan.

Sejak berdiri pada tahun 1976 lalu, PTDI sudah melakukan ekspor sebanyak 48 pesawat. Kita juga melakukan ekspor komponen pesawat dan melayani perawatan pesawat dari berbagai negara, salah satunya adalah Malaysia,” katanya saat ditemui di Hanggar Rotary Wing, Kawasan Produksi II PTDI di Bandung.

Elfien juga menambahkan kalau di tahun ini, PTDI sudah melakukan ekspor sebanyak 5 unit pesawat. Salah satu yang baru saja dilakukan adalah sebanyak 3 unit pesawat ke Vietnam dan 2 unit pesawat ke Filipina.

Ragam jenis pesawat milik PT Dirgantara Indonesia di Hanggar Rotary Wing, Kawasan Produksi II PTDI, BandungRagam jenis pesawat milik PT Dirgantara Indonesia di Hanggar Rotary Wing, Kawasan Produksi II PTDI, Bandung. (Foto: Elsa Toruan/kumparan)

Deputi Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis, dan Media Kementerian BUMN, Fajar Harry Sampurno mengatakan bahwa tiga unit pesawat jenis NC 212 yang diekspor ke Vietnam tadi bernilai USD 18 juta. Nilai ini setara dengan impor sebanyak 1.000 unit mobil yang dilakukan oleh Indonesia.

Kami juga kemarin ada ekspor batu bara sebesar 200 ribu ton. Nilai ekspor batu bara ini, sama dengan ekspor tiga unit pesawat ke Vietnam tadi. Ini membuktikan kalau produk manufaktur kita punya nilai tingkat tambah yang tinggi,” tambahnya lagi.

Dalam kegiatan ini, juga diselenggarakan Awarding Day sebagai bentuk apresiasi dan penghargaan kepada insan-insan terbaik yang telah berkontribusi dalam mengembangkan industri kedirgantaraan di Indonesia. Budi Santoso, sebagai mantan Dirut PTDI disebut sebagai salah satu dari lima orang yang menerima penghargaan.

Kami sangat berterima kasih atas dukungan, ide dan inovasi dalam mengembangkan dan memelihara keberlangsungan industri kedirgantaraan Indonesia. Harapannya kami dapat membangun dan mengembangkan industri kedirgantaraan ke arah yang lebih baik lagi,” tutup Harry.

  Kumparan  

Turki Tertarik Bangun Pabrik Perakitan Pesawat Tanpa Awak

Di Indonesia Pesawat tanpa awak Anka 

Perusahaan Drigantara Turki, Turkish Aerospace Industries (TAI), menyatakan niatnya untuk membangun pabrik perakitan pesawat serta pusat teknologi dan logistik pesawat terbang di Indonesia.

Vice President Corporate Marketing and Communication TAI Tamer Ozmen, kepada Anadolu Agency di Jakarta, Kamis, mengatakan keinginan tersebut dimulai melalui tender penawaran yang dilayangkan pihaknya kepada pemerintah Indonesia untuk pengembangan pesawat terbang tanpa awak bernama Anka.

Ada peluang untuk pengembangan pesawat terbang dan helikopter dan pengembangan pasar di Asia melalui kerja sama dengan Indonesia,” jelas Ozmen.

Ozmen juga menyampaikan opsi untuk membentuk joint venture bersama PT Dirgantara Indonesia (PTDI) selaku perusahaan dirgantara Indonesia.

Dia mengaku telah mengunjungi fasilitas yang dimiliki PTDI di Bandung dan sudah mengetahui kapasitas dan kapabilitas yang dimiliki perusahaan tersebut.

PTDI bisa memimpin untuk pengembangan program pesawat terbang di Indonesia bekerja sama dengan kami,” lanjut Ozmen.

Kerja sama tersebut, menurut dia, akan membuka ribuan lapangan kerja baru untuk warga Indonesia di sektor industri dirgantara dan pertahanan karena perusahaan tersebut tidak akan membawa tenaga kerja asal Turki.

Justru, perusahaannya ingin membantu pengembangan kapasitas dan kemampuan sumber daya manusia Indonesia di sektor industri dirgantara dan pertahanan.

Dia juga melihat potensi kerja sama dengan PTDI bukan hanya untuk kebutuhan militer, tetapi juga pengembangan pesawat sipil melalui PTDI, sebut dia, bisa menjadi original equipment manufacturer (OEM) besar yang memasok kebutuhan di Airbus ataupun Boeing dalam lingkup kerja sama ini.

Perusahaan kami sudah bekerja sama dengan Boeing dan Airbus,” imbuh Ozmen.

Indonesia dan Turki, menurut Ozmen, sama-sama merupakan negara dengan kekuatan dan pengaruh yang terus berkembang di kawasannya masing-masing dan juga secara global sehingga kedua negara bisa mencari peluang bersama untuk bersinergi sebagai dua negara yang bersahabat.

Kedua negara juga, menurut dia, merupakan negara dengan penduduk Muslim yang besar dan memiliki kedekatan kultural.

Pendekatan ini penting untuk bisa bekerja sama dan menghasilkan pehamanan yang lebih baik,” tutup Ozmen.

  aa  

Kamis, 13 September 2018

PT PAL Dikembangkan Jadi Pabrik Kapal Selam

Perakitan kapal selam di PT PAL [saiddidu] ★

Kemampuan PT PAL akan terus dikembangkan agar bisa menjadi pabrik serta pusat pemeliharaan kapal selam di kawasan regional. Untuk itu, dibutuhkan tambahan anggaran guna meningkatkan kemampuan PT PAL.

Hal tersebut disampaikan Kepala Badan Sarana Pertahanan Kementerian Pertahanan Agus Setiadji, Rabu (12/9/2018). Menurut Agus, saat ini tengah dibahas kontrak pembangunan tiga kapal selam baru dengan PT PAL.

Agus mengakui, kemampuan PT PAL perlu ditingkatkan setelah bekerja sama dengan Daewoo Shipbuilding and Marine Engineering (DSME). Koea Selatan, membangun tiga kapal selam. Kapal selam ketiga menurut rencana, diluncurkan Presiden Joko Widodo pada Oktober 2018.

"Kita harapkan ke depan PT PAL punya kemampuan membangun sendiri dan pemeliharaan, kalau bisa juga untuk memenuhi kebutuhan di kawasan." kata Agus.

Agus mengatakan terkait anggaran, penyertaan modal negara telah dipenuhi Rp 1,5 triliun. Sebenarnya total kebutuhan menyiapkan pembangunan kapal selam di PT PAL mencapai Rp 2,5 triliun. "Kami sedang ajukan Rp 1 triliun lagi." ujarnya.

Saat dikonfirmasi, Dirut PT PAL Budiman Saleh mengatakan PT PAL sanggup memenuhi permintaan Kementerian Pertahanan. Ia mengakui masih banyak fasilitas pembangunan kapal selam dan kemampuan PT PAL yang harus ditingkatkan. "Örder kapal selam jenis 209 sangat dinanti-nantikan karena selama ini investasi pembangunan galangan kapal selam diperuntukkan untuk spesifikasi 209 baik untuk baru maupun pemeliharaan," kata Budiman.

Budiman mengatakan, pembangunan tiga kapal selam baru akan ada variasi peningkatan tingkat komponen dalam negeri (TKDN). yang jelas, komponen lokal dari kapal-kapal selam ini akan meningkat dibandingkan dengan kapal selam ketiga yang diproduksi bersama DSME.

Sebelumnya, Kepala Staf TNI AL Laksamana Siwi Sukma Adji mengatakan, terkait kebutuhan TNI AL akan 12 kapal selam, untuk sementara tahun ini baru akan ada lima kapal selam. Menurut Siwi, untuk seterusnya diadakan di PT PAL.

  Kompas  

Rabu, 12 September 2018

[Foto] Helikopter Super Puma HX-3315

Buatan Dirgantara Indonesia Helikopter Super Puma HX-3315

PT Dirgantara Indonesia masih dalam euforia perayaaan hari jadinya ke 42 pada 23 Agustus 2018.

Sebagai salah satu bentuk perayaan, PTDI menyelenggarakan Awarding Day di Hanggar Rotary Wing, Kawasan Produksi II PTDI di Bandung, pada Rabu (12/9/2018), Pada momen ini, pesawat-pesawat canggih produksi anak negeri dipamerkan dalam gedung yang merupakan Aircraft Service.

Salah satu yang cukup menarik perhatian adalah Helikopter Super Puma HX-3315 yang baru diujicobakan awal Agustus.

Bila penasaran dengan kendaraan tempur tersebut, berikut penampakannya, seperti Liputan6.com rangkum:

Penampakan Helikopter Super Puma HX-3315. Foto: Liputan6.com/ Tommy Kurnia
Penampakan Helikopter Super Puma HX-3315. Foto: Liputan6.com/ Tommy Kurnia
Penampakan Helikopter Super Puma HX-3315. Foto: Liputan6.com/ Tommy Kurnia
Penampakan Helikopter Super Puma HX-3315. Foto: Liputan6.com/ Tommy Kurnia
Penampakan Helikopter Super Puma HX-3315. Foto: Liputan6.com/ Tommy Kurnia

  Liputan 6  

Kronologi Terbakarnya KRI Rencong-622 di Sorong

[Tanggerangonline]

TNI AL menjelaskan urutan dan upaya penanggulangan KRI Rencong-622 yang terbakar dan tenggelam di perairan Sorong, Papua Barat, Selasa, 11 September 2018. Kapal perang kelas kapal cepat berpeluru kendali itu tak bisa diselamatkan, namun seluruh awak kapal berhasil dievakuasi.

Pada saat kejadian, cuaca cerah dan gelombang laut dalam kondisi landai. Kebakaran berujung pada kapal perang tenggelam ini terjadi hanya sehari setelah TNI AL menggelar upacara peringatan HUT Ke-73 TNI AL di Dermaga Pondok Dayung, Jakarta Utara pada Minggu, 9 September 2018.

Dinas Penerangan TNI AL, dalam keterangan persnya di Jakarta, Selasa, 11 September 2018, menyatakan, kapal tersebut dalam status bawah kendali operasi Gugus Keamanan Laut Armada III. Kapal ini memiliki kelengkapan senjata utama sistem peluru kendali permukaan ke permukaan dan permukaan ke udara MM-39 Exocet buatan Aerospatiale, Prancis.

Kebakaran terjadi pada saat KRI Rencong-622 bergerak dari laut menuju dermaga umum Sorong untuk melaksanakan bekal ulang air tawar di Pelabuhan Sorong. Sekitar pukul 07.00 WIT, kapal melaksanakan pemanasan turbin gas, dimulai dengan start sistem unit pendukung daya tambahan (APU) turbin gas sebagai bagian dari sistem propulsi utamanya.

Turbin gas mesin kapal perang buatan Korea Selatan itu sempat hidup dan kemudian mati. Pada saat diperiska bagian panel kendali turbin gas, indikator tidak menunjukkan ada kelainan fungsi. Namun ketika dicek ke ruang turbin gas, tiba-tiba muncul api.

Menanggapi kondisi itu, personel langsung melaksanakan "peran kebakaran" (perintah aksi penanggulangan kebakaran) karena api terus membesar. Komandan kapal lantas mengarahkan kemudi mendekat ke daratan terdekat dan melego jangkar dekat Pulau Yefdoif, di Perairan Sorong.

Kobaran api semakin membesar dan semua aliran listrik kapal putus. Api pun merambat mendekati gudang amunisi kapal. Guna menghindari korban jiwa --karena rawan terjadi ledakan amunisi-- komandan KRI Rencong-622 memutuskan untuk melaksanakan "peran peninggalan" (perintah aksi meninggalkan kapal) kepada semua personel yang ada di KRI Rencong-622.

Menurut keterangan Dinas Penerangan TNI AL itu, komandan KRI Rencong-622 sudah berupaya melaksanakan penyelamatan kapal sesuai prosedur. Komandan kapal juga melaporkan dan berkordinasi terus tentang kondisi yang dihadapi di lapangan. Kapal tenggelam pada posisi lego jangkar dekat Pulau Yefdoif di Perairan Sorong.

Seluruh awak KRI Rencong-622 selamat telah dievakuasi ke Pangkalan Armada III TNI AL di Sorong. Beberapa peralatan penting ikut diselamatkan. TNI AL akan membentuk tim investigasi untuk mencari penyebab terjadinya kebakaran tersebut. Diharapkan dari hasil investigasi ini dapat dijadikan bahan evaluasi guna mengantisipasi kejadian serupa.

 Berikut video dari Youtube : 


  Tempo  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...