Rabu, 06 Maret 2019

DPR RI Minta Asistensi Rusia

✈️ Untuk Optimalisasi Alutsista✈️ Pesawat Sukhoi TNI AU [TNI AU]

Anggota Komisi I DPR RI Bobby Adhityo Rizaldi menegaskan bahwa permasalahan perjanjian asistensi setelah masa kontrak untuk pembelian alutsista harus jadi perhatian serius bagi Indonesia dan Rusia.

Ia meminta perjanjian setelah masa kontrak segera diwujudkan. Sebab, apabila kondisi ini dipertahankan, maka kesiapan alutsista yang dibeli Indonesia dari Rusia menjadi tidak optimal penggunaannya.

Hal ini disampaikannya usai mengikuti pertemuan Komisi I DPR RI dengan Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Lyudmina Vorobieva, di Gedung Nusantara II DPR RI, Senayan, Jakarta, Senin (04/3).

Bobby berharap Dubes Rusia untuk Indonesia dapat segera menyampaikan persoalan ini kepada Pemerintah Negara Federasi Rusia untuk ditindaklanjuti, agar tidak menimbulkan stigma buruk terhadap alutsista Rusia ke depannya.

Maksudnya keadaan siaganya itu, siap operasinya tidak optimal, sehingga kami ingin mendapatkan masukan dari pihak Kedutaan Besar bahwa ke depannya, dan juga kondisi saat ini hal tersebut harus diperhatikan. Jangan sampai ada anggapan bahwa jika membeli alutsista dari Rusia itu pemeliharaannya tidak bagus, sehingga kesiapsiagaannya jadi berkurang,” jelas Bobby.

Bobby mengaku bahwa Komisi I DPR RI tidak dapat melakukan intervensi terhadap masalah tersebut. Hal ini bukan merupakan ranah dari DPR RI, karena merupakan permasalahan teknis yang menjadi tanggung jawab pemerintah.

Untuk itu, ia berharap kepada Dubes Rusia untuk menindaklanjuti permasalahan after sales service ini.

Mereka menyampaikan akan ada lanjutan pembicaraan masalah ini. Tapi, kami nyatakan kalau pembahasan teknis kami tidak ikut membahas, itu ranah eksekutif. Jadi kami ingin mereka mengadakan pertemuan rutin dengan Kementerian Pertahanan atau TNI untuk memastikan hal-hal tersebut dapat diminimalisir,” tukas politisi dapil Sumatera Selatan II ini.

  ✈️ Vivanews  

Selasa, 05 Maret 2019

Fasilitas Tiga Kapal Negara 80 Meter Milik Bakamla

 KN. Pulau Nipah 8001, KN. Pulau Marore 8002, KN. Pulau Dana 8003 [M Arif Rachman]

Kepala Badan Keamanan Laut (Kabakamla) Laksamana Madya A Taufiq R, meninjau kecanggihan tiga Kapal Negara (KN) 80 meter milik Bakamla yang dikerjakan oleh PT Citra Shipyard Batam di Sagulung, Batam, Kepulauan Riau, Sabtu (2/3/2019).

Laksdya Taufiq mengatakan, penambahan kekuatan Bakamla dengan tiga kapal ini diharapkan dapat menjaga keamanan dan keselamatan laut di wilayah yurisdiksi Indonesia.

Ketiga Kapal Negara 80 Meter ini diberi nama pulau terluar Indonesia yakni KN Pulau Nipah 800, KN Pulau Marore 8002, dan KN Pulau Dana 8003.

"Ketiga kapal ini dilengkapi sejumlah fasilitas seperti helipad, ruang tahanan, ruang laboratorium dan ruang kesehatan," kata Taufiq melalui rilis yang diterima Kompas.com, Minggu (3/3/2019).

Dalam rilisnya, Taufiq mengatakan, peningkatan pengawasan dari tindak ilegal di laut, selain dapat meningkatkan kesejahteraan nelayan Indonesia, sekaligus juga menegakkan kedaulatan negara.

Kapal negara 80 meter ini mampu melaju dengan kecepatan maksimum 22 knot dan akan dioperasikan di wilayah barat, tengah dan timur perairan Indonesia.

Tinjauan ini merupakan tinjauan lanjutan sebelum ketiga kapal tersebut diserah terimakan dari PT Citra Shipyard ke Bakamla.

Dalam peninjauan ini, Kepala Bakamla RI juga didampingi Kepala Zona Kamla Barat Laksma Bakamla Eko Murwanto, Kepala Biro Umum Laksma Bakamla Sandy M. Latief, Kasubbag TU Kepala Letkol Bakamla Ridwansyah dan Direktur Utama PT. Citra Shipyard Mr. Jovan.
 

  Kompas  

Senin, 04 Maret 2019

Sembilan Pesawat Baru Akan Lengkapi Kekuatan Lanud Abdulrachman Saleh

Pada Tahun IniIlustrasi NC212 TNI AU

Lanud Abdulrachman Saleh berencana mendatangkan pesawat baru tahun ini. Dua jenis pesawat yang bakal dimiliki menambah kekuatan alutsista Abdulrachman Saleh. Yakni, pesawat Cassa 212 dan pesawat Amphibi.

Komandan Lanud Abdulrachman Saleh Marsekal Pertama (Marsma) Hesly Paat mengatakan penambahan alutsista sebanyak 9 unit ini rencananya bakal diwujudkan pada tahun ini.

Empat unit untuk pesawat Cassa dan lima unit pesawat Amphibi. Jenis pesawat yang didatangkan akan menambah kekuatan di Skuadron Udara 4 Lanud Abdulrachman Saleh, Kabupaten Malang.

Kita tengah menyiapkan sarana dan prasarananya. Fasilitas itu disiapkan di Skuadron Udara 4, dimana akan menerima penambahan pesawat baru, yakni Cassa 212 dan pesawat Amphibi,” ungkap Hesly kepada detikcom, Senin (4/3/2019).

Hesly mengaku, Skuadron Udara 4 telah memiliki 12 pesawat jenis Cassa 212. Tentunya, kedatangan baru pesawat baru menambah koleksi alutsista di skuadron tersebut.

Sudah ada 12 unit, nanti ditambah 4. Ya totalnya 16 pesawat Cassa,” ujar Alumni AAU 1989 ini.

Diungkapkan, selain Cassa penambahan alutsista juga diperuntukkan pada jenis Amphibi. Dulunya, kata Hesly, pesawat jenis yang sama pernah ada, yakni di tahun 70-an.

Jika dulu Albatros di tahun 70-an, sekarang dengan jenis yang sama rencananya akan dimiliki Abdulrachman Saleh, yaitu pesawat Amphibi,” beber Hesly.

Menurut dia, kedua pesawat itu memiliki kemampuan handal dalam membantu operasi TNI AU. “Amphibi akan bisa mendukung kekuatan TNI AU di darat maupun di laut,” ungkap Hesly.

Dalam kesempatan itu, Hesly juga menuturkan rencananya pendirian Skuadron Udara 33 yang dikhususkan untuk pesawat angkut Hercules di Makassar.

Jika sekarang hanya dua skuadron saja, yakni 31 di Jakarta, 32 di sini (Abdulrachman Saleh) dan nantinya 33 di Makassar. Penambahan skadron ini, memungkinkan akan menambah kebutuhan pesawat Hercules,” tandasnya.
 

  detik  

Satu Anggota MIT Tewas di Poso Sulteng

Dalam Baku Tembak Ilustrasi

Seorang anggota Mujahidin Indonesia Timur (MIT) tewas dalam baku tembak dengan tim Satgas Tinombala di Poso, Sulawesi Tengah. Baku tembak itu terjadi setelah Satgas Tinombala menerima laporan masyarakat ada 5 orang DPO MIT yang beristirahat di sebuah pondok.

"Betul telah terjadi kontak senjata antara Satgas Tinombala, yang terdiri dari tim gabungan TNI-Polri, dengan kurang lebih 5 orang DPO kelompok MIT di Perkebunan Padipi, PPS, Poso. Pagi tadi Satgas menerima laporan dari masyarakat bahwa ada 5 orang DPO MIT beristirahat di sebuah pondok. Satgas melakukan pengejaran, kemudian mendapat info lagi para DPO ke arah Desa Padopi," kata Asisten bidang Operasi (Asops) Polri, Irjen Rudi Sufahriadi, kepada detikcom, Minggu (3/2/2019).

Dia menyatakan baku tembak antara tim Satgas Tinombala dengan buronan MIT itu terjadi sore tadi. Jenazah anggota MIT yang tewas kini telah dievakuasi untuk keperluan identifikasi.

"Satgas Tinombala berhasil melumpuhkan satu orang DPO MIT. Saat ini jenazah pelaku dievakuasi dari gunung untuk nantinya diidentifikasi oleh DVI Polda Sulteng," ucapnya.

Rudi menyebut baku tembak yang terjadi sore tadi merupakan tindak lanjut dari ultimatum Satgas Tinombala yang dipimpin oleh Kapolda Sulteng Brigjen Lukman Wahyu Hariyanto. Menurut Rudi, tim Satgas Tinombala telah meminta para anggota MIT untuk menyerahkan diri, namun tidak diindahkan sehingga dilakukan pengejaran.

"Sejak desember hingga Januari, telah kami kedepankan tindakan persuasif dengan meminta para DPO menyerahkan diri. Setelah ultimatum tidak diindahkan, Satgas Tinombala melakukan pengejaran dengan fokus pada 4 titik. Pengejaran dilakukan secara sistematis dan masif. Kini satgas juga melanjutkan kegiatan pengejaran terhadap DPO lainnya," ucapnya. (haf/haf)

   detik  

Minggu, 03 Maret 2019

Indonesia Navy Become First Overseas Customer of Aselsan ZOKA

Aselsan ZOKA torpedos jammers and decoy [Aselsan] ★

The first overseas order for ZOKA-Acoustic Torpedo Countermeasure Jammers and Decoys, which was developed nationally by ASELSAN and used in all submarines in our fleet, was taken from Indonesia. The system to be used in Type 209 class submarines in the Indonesian Naval Forces inventory and will be delivered in 2019.

ZOKA jammers and decoys are effective against all torpedo threats that can operate in active, passive or combined mode with accoustic guidance. ZOKA jammers and decoys are used in HIZIR Torpedo Countermeasure System for Surface Ships and ZARGANA Submarine Torpedo Countermeasure System.

The ZOKA mixers transmit broadband high-level noise to cover the acoustic operating frequency range of torpedoes. In this way, while masking submaine noise against active torpedoes and reduce the detection distance of the signal reflected from the submarine. ZOKA deceptives mimic the acoustic and dynamics characteristic of the platform and mislead the torpedo. The decoys have the fuction of simultaneously producing ship noise and responding to the active broadcast of the torpedo while listening with the hydrophones drawn from behind.

  Defence Turk  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...