Selasa, 03 September 2019

KRI Kujang-642 Ikuti SEACAT 2019

KRI Kujang 642 TNI AL ★

KRI
Kujang-642 ikuti Latihan Bersama (Latma) Multilateral South East Asia Cooperation and Training (SEACAT) yang diselenggarakan mulai tanggal 19 s.d. 31 Agustus 2019.

Latihan ini merupakan salah satu bentuk latihan multilateral yang dilaksanakan setiap tahun antara US Indopacom dalam hal ini dilaksanakan oleh US COMLOG WESTPAC dan 8 angkatan laut negara-negara kawasan Asia Tenggara selama 2 minggu.

Seacat dilaksanakan setiap tahun dengan tujuan latihan untuk mempererat hubungan kerja sama dan latihan angkatan laut di kawasan dalam mengatasi tantangan keamanan maritim secara efektif seperti tindak kekerasan bersenjata di laut, perompakan, penyelundupan dan penangkapan ikan ilegal.

Laksamana Muda Joey Tynch US COMLOG WESTPAC dalam sambutannya mengatakan bahwa kami tidak bisa memberikan contoh yang lebih baik jika negara-negara melaksanakan kerja sama dalam tujuan tertentu, dan hal itu adalah apa yang kita lihat saat ini.

Dalam Latihan Seacat 2019 ini yang dikedepankan adalah pertukaran dan mengumpulkan informasi dari negara-negara kawasan yang mengarah kepada peningkatan maritime domine awarness negara-negara Kawasan Asia Tenggara.

Seacat melaksanakan latihan di Filipina, Singapura, Perairan Malaysia, Perairan Thailand, dan Perairan Utara Pulau Bintan dalam rangka meningkatkan kerja sama militer.

Latihan Seacat 2019 ini juga diisi dengan kegiatan workshop dan latihan VBSS yang melibatkan US, Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, Vietnam dan Bangladesh.

VBSS workshop dilaksanakan di Manila Filipina, seluruh peserta bertukar pengalaman dalam pelaksanaan operasi VBSS serta melaksanakan diskusi study kasus pada operasi VBSS.

Kegiatan Workshops dan seminar maritime security dan maritime domain awarness diikuti oleh LO IFC negara- negara peserta, dengan tujuan meningkatkan sharing informasi dan pengolahan data informasi dari berbagai sumber dalam menjamin kemanan laut.

Latihan manouver lapangan dilaksanakan 15 kali operasi VBSS yang bertujuan untuk melatih peserta latihan kedalam situasi yang sebenarnya dengan skenario tantangan layaknya menghadapi kondisi sebenarnya. skenario tersebut memanfaatkan sharing informasi dari pengelolaan data informasi LO IFC di Singapura.

Setelah latihan dinyatakan selesai selanjutnya akan dilaksanakan kaji ulang di Changi Singapura.

  TNI AL  

TNI AL Pensiunkan KRI Pulau Rote-721

[TNI AL] ★

K
apushidrosal Laksamana Muda TNI Dr. Ir. Harjo Susmoro, S.Sos., S.H., M.H. mewakili Kasal Laksamana TNI Siwi Sukma Adji, S.E., M.M., memimpin upacara penghapusan KRI Pulau Rote-721 dari kedinasan aktif TNI AL di Dermaga JICT, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Rabu (28/ 08) pekan lalu.

Ini merupakan momentum membanggakan dan sekaligus mengharukan bagi sejarah TNI AL. KRI Pulau Rote ini merupakan jenis kapal survey penyapu ranjau yang bertugas sejak tahun 1993 bersama Pushidrosal.

KRI Pulau Rote-721 telah secara aktif mendukung pelaksanaan tugas pokok TNI AL secara signifikan. Tugas-tugas operasi servei dan pemetaan yang diemban oleh KRI tersebut sesuai dengan fungsi azasinya sebagai kapal bantu Hidro-oseanografi (BHO), telah menunjang tugas-tugas survei dan pemetaan hidro-oseanografi Pushidrosal.

Upacara penghapusan KRI, hakikatnya adalah untuk mengantar alut sista memasuki masa purnabaktinya setelah sekian tahun mengabdi kepada TNI Angkatan Laut. Oleh karena itu mari kita renungi dan mengambil hikmah dari upacara penghapusan ini, bahwa hanya dengan pengabdian terbaik sajalah maka nama dan bakti kita akan abadi dalam sejarah TNI Angkatan Laut”, ujar Kasal.

Upacara penghapusan ini merupakan bagian dari siklus daur ulang alutsista yang merupakan program TNI AL dalam pengembangan kekuatan dan juga peremajaan alutsista, sesuai dengan tuntutan serta kompleksitas dinamika lingkungan strategis saat ini. Hal ini ditujukan untuk mencapai visi Angkatan Laut dalam melaksanakan proyeksi secara regional dengan komitmen global.

  TNI AL  

Senin, 02 September 2019

HAPs Bisa Menjadi Alternatif Teknologi Telekomunikasi

Solusi murah selain Satelit Zephyr T and Zephyr S UAVs [Airbus]

Deputi Bidang Koordinasi Komunikasi, Informasi dan Aparatur Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan Marsda TNI Rus Nurhadi Sutedjo mengatakan pada era high-tech saat ini pemanfaatan udara sebagai wilayah kedaulatan NKRI semakin dikaji dari segi kelayakan dan aspek kemanfaatannya. Salah satu teknologi yang dapat dimanfaatkan di posisi ini adalah teknologi Wahana Dirgantara Super atau High Altitude Platform (HAPs) sebagai sebuah alternatif wahana atau media teknologi telekomunikasi pada era digital.

HAPs merupakan stasiun yang berlokasi pada ketinggian 20 hingga 50 km pada titik spesifik, nominal dan fixed dari permukaan bumi.

Kelebihan utama HAPs yaitu dapat memanfaatkan teknologi Jaringan Aman Mandiri (JAM) yang saat ini merupakan pionir kemandirian teknologi telekomunikasi dan informatika di Indonesia.

High Altitude Platform (HAPs) merupakan sebuah teknologi wahana terbaru yang mampu mengangkut berbagai jenis teknologi telekomunikasi broadband,” kata Rus Nurhadi saat membacakan sambutan Menko Polhukam pada acara Forum Koordinasi dan Konsultasi (FKK) di Bandung, Senin (26/08/2019).

Dalam FKK bertema ‘Wahana Dirgantara Super Sebagai Teknologi Pendukung Jaringan Aman Mandiri Dalam Mewujudkan Kedaulatan Informasi Negara’ tersebut, Rus Nurhadi juga menyampaikan bahwa telah dilakukan beberapa kajian agar HAPs dapat menjadi solusi alternatif untuk mengatasi keterbatasan infrastruktur telekomunikasi terutama telekomunikasi terestrial.

HAPs memiliki potensi yang besar sebagai teknologi penunjang dalam mendukung infrastruktur jaringan aman pemerintah, karena dapat menjadi backhaul atau backbone jaringan aman pemerintah selain satelit. HAPs selain memiliki keunggulan efisiensi biaya, sangat cocok untuk menjangkau wilayah rural dan wilayah perbatasan maritim di Indonesia,” kata Rus.

Dirinya mengatakan bahwa pemerintah selaku penyelenggara pemerintahan tidak hanya bertugas sebagai regulator, administrator, fasilitator dan akselerator, namun juga harus mampu menjadi inisiator gagasan serta ide-ide baru dalam teknologi.

High altitude platform systems (HAPS)High altitude platform systems (HAPS). (Indomiliter)

Rus menambahkan, jika Indonesia mampu secara aktif memproduksi dan memanfaatkan teknologi terbaru maka Indonesia memiliki sebuah kesempatan untuk menyumbangkan beberapa gagasan yang dapat dijadikan standar internasional, serta meningkatkan daya saing Indonesia pada umumnya. Hal ini juga seiring dengan semangat menciptakan kedaulatan informasi melalui azas kemandirian dalam penguasaan teknologi.

Teknologi HAPs ini ke depan akan sangat kita butuhkan. Sebagai negara yang berdaulat dan ingin sejajar dengan negara-negara maju tetunya juga harus melihat aspek kemanjuan teknologi supaya bisa bersama-sama membangun. Kedepannya, (saya harap) komunikasi dan informasi yang berada di jaringan aman dan mandiri ini bisa berjalan dengan baik sehingga kita akan sedikit mereduksi hal-hal yang memungkinkan terjadinya kebocoran informasi yang bisa disalahgunakan pihak-pihak tertentu,” kata Rus.

Selain itu, Kepala Forum Penggiat Indonesia-ITU Edy Setiawan mengatakan teknologi dapat membuka kesempatan bagi kita untuk memecahkan masalah ditengah kesenjangan digital saat ini, salah satu solusi yang bisa diterapkan adalah dengan menggunakan teknologi HAPs tersebut.

HAPs bisa menjadi solusi, ini teknologi baru yang walaupun di seluruh dunia belum ada yang operasional, namun kita perlu bersiap. Pada saat teknologi ini datang, kita siap dengan regulasi, kita siap dengan SDM, kita siap dengan penerima teknologi. Karena penerima teknologi itu juga ada aspek socioculture, sehingga kita perlu persiapkan supaya bisa kita manfaatkan dengan maksimal,” kata Edy.

 Kohanudnas Siap Menjamin Penggunaan HAPs 

Sedangkan dari aspek keamanan, Assops Komando Pertahanan Udara Nasional Indonesia (Kohanudnas) Kolonel pnb Yosta Riza mengatakan siap menjamin penggunaan HAPs secara aman sehingga tidak ada kebocoran. “HAPs ini posisinuya masih di wilayah udara sehingga (kami) meyakinkan benar-benar HAPs ini digunakan untuk kepentingan kita tanpa ada kebocoran, kami menjamin untuk keamanannya dan tentunya ini berada di kontrol kita sehingga ancaman-ancaman yang mungkin datang dari HAPs ini yang harus Kohanudnas selaku pengawas di negara ini melakukan tugasnya,” kata Yosta.

  ★ Polkam  

Latihan Maritim Pertama Antara ASEAN dan AS

8 Kapal Perang Bersama 1000 Pasukan Ilustrasi

Delapan kapal perang, empat pesawat, dan lebih dari 1.000 personel tentara dari Amerika Serikat (AS) dan 10 negara Asia Tenggara akan bergabung dengan latihan maritim yang dimulai Senin (2/9/2019).

Latihan Maritim ASEAN-AS (AUMX) pertama antara ASEAN dan AS ini berlangsung selama lima hari, dimulai dari Pangkalan Angkatan Laut Sattahip di Thailand dan berakhir di Singapura.

Latihan tersebut dilakukan di tengah keterlibatan AS yang kian meningkat di wilayah itu; serta pengakuan antara China dan negara-negara Asia Tenggara atas Laut Cina Selatan, yang diklaim oleh Brunei, Malaysia, Vietnam, dan Filipina.

Dipimpin bersama oleh Angkatan Laut AS dan Kerajaan Thailand, latihan itu akan merentang ke perairan internasional di Asia Tenggara, termasuk Teluk Thailand dan Laut China Selatan sebelum berakhir di Singapura,” demikian pernyataan dari kedutaan AS di Bangkok, seperti dilaporkan AFP, Senin (2/9/2019).

AUMX membangun keamanan maritim yang lebih besar di atas kekuatan ASEAN, kekuatan ikatan navy-to-navy kami, dan kekuatan kepercayaan kita bersama dalam Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka,” kata Laksamana Muda Joey Tynch, yang mengawasi kerja sama keamanan Angkatan Laut AS di Asia Tenggara.

Ke-10 anggota ASEAN akan ambil bagian dalam latihan yang meliputi simulasi operasi pencarian dan penyitaan.

China mengklaim menguasai sebagian besar Laut China Selatan, yang merupakan rute pelayaran internasional.

Dalam perjalanan ke Thailand bulan lalu, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mendesak negara-negara Asia Tenggara untuk menekan China terkait klaim tersebut.

  ★ I News  

Minggu, 01 September 2019

[Dunia] China Bikin Drone Canggih

Untuk Hancurkan Jet Tempur Siluman F-35 AS https://cdn.sindonews.net/dyn/620/content/2019/08/31/41/1435263/ini-drone-canggih-china-untuk-hancurkan-jet-tempur-siluman-f-35-as-YLT.jpgDrone target siluman LJ-I China yang dipamerkan di MAKS-2019 di Rusia. Foto/Asia Times

Di saat Amerika Serikat (AS) dan sekutunya membanggakan pesawat jet tempur siluman F-35, China diam-diam mempersiapkan metode untuk menghancurkannya. Senjata canggih Beijing ini adalah drone target siluman LJ-I.

Drone atau pesawat nirawak LJ-I yang memiliki kemampuan sembunyi-sembunyi dipamerkan di Russian International Aviation and Space Salon (MAKS)-2019 di Zhukovsky.

Gambaran simulasi pertempuran dari senjata canggih Beijing ini adalah ketika di medan perang yang dibayangkan, F-35 lepas landas dari markasnya, menuju sasarannya dan tidak sadar sedang dilacak oleh pasukan drone canggih LJ-I.

Dengan cekatan diluncurkan dari pesawat pengebom, tujuan drone itu adalah untuk menjebak pesawat musuh pengganggu dan menghancurkannya. Kecil, tidak terdeteksi, mematikan. Dengan kata lain, jika terjadi pertempuran antara LJ-I dan F-35 maka salah satunya akan mati.

Menurut para ahli militer, drone LJ-I akan memberikan pengalaman militer China dengan pengalaman menghadapi jet tempur siluman seperti F-35, dan mungkin lebih canggih di masa depan.

Dipamerkan di stan Northwestern Polytechnical University, LJ-I adalah drone target subsonik tinggi yang mampu mensimulasikan manuver pesawat generasi keempat maupun generasi kelima.

LJ-I dapat terbang untuk waktu yang lama, memiliki kemampuan manuver yang tinggi dan dilengkapi dengan sistem penanggulangan elektronik serta kemampuan pengacau. Klaim itu dipaparkan Northwestern Polytechnical University dalam sebuah pernyataan yang dikirim kepada Global Times, yang dikutip Asia Times, Sabtu (31/8/2019).

Menurut pernyataan tersebut, drone sepanjang 4,7 meter, lebar 2,5 meter ini juga hemat biaya. Beberapa LJ-I juga dapat membangun formasi untuk mensimulasikan pertempuran nyata.

Sumber yang mengetahui program drone tersebut mengatakan pesawat nirawak LJ-I dapat bertahan hingga 9G atau 6G selama 30 detik dan memiliki daya tahan penerbangan 60 menit. Kecepatan jelajahnya antara 400 knot (741 km/jam) hingga 533 knot. Pesawat mendarat menggunakan parasut.

AS telah menjual F-35 kepada sekutunya di wilayah Asia-Pasifik, termasuk Jepang, Korea Selatan dan Australia, dengan AS sendiri juga mengerahkan jet tempur tersebut pada kapal induk dan kapal serbu amfibi.

Analis militer mengatakan, AS sedang mencoba untuk membentuk "lingkaran teman-teman F-35" di wilayah Asia-Pasifik, yang dapat menjadi ancaman bagi pertahanan nasional China.

Dengan memiliki drone target siluman, China bisa berlatih teknik dan taktik, dan mengembangkan senjata baru berdasarkan hasil pelatihan Tentara Pembebasan Rakyat (PLA).

Beberapa ahli mengatakan kekuatan terbesar F-35—juga merupakan kelemahan terbesar—ini pada dasarnya adalah sebuah komputer di angkasa. Sedangkan komputer, seperti diketahui secara umum, bisa diretas.

Menurut analisis situs web Fighter Sweep, setiap F-35 di dunia—apakah milik cabang militer Amerika atau sekutu asing—menyampaikan informasi kembali ke AS melalui setidaknya dua jaringan aman. Yang pertama adalah jaringan Autonomic Logistics Information System atau atau ALIS.

ALIS memungkinkan perbaikan atau pemeliharaan F-35 yang cepat tanpa penundaan yang disebabkan oleh kekurangan suku cadang atau menunggu peralatan.

Musuh musuh yang mendapatkan akses ke sistem ALIS dapat mendatangkan malapetaka pada penjadwalan perbaikan dan pemeliharaan, membuat banyak pesawat tidak beroperasi. Ancaman yang lebih besar adalah peretas menggunakan jaringan ALIS untuk menemukan jet-jet tempur F-35 di seluruh dunia dan mendapatkan informasi penting tentang operasi yang mereka lakukan.

Jaringan yang kedua adalah Joint Reprogramming Enterprise atau JRE, yang menyediakan "perpustakaan" yang diperbarui terus-menerus tentang sistem dan kemampuan senjata musuh yang dimaksudkan untuk membantu memberi informasi yang lebih baik kepada pilot F-35 ketika mereka menuju ke pertempuran.

Peretas yang mendapatkan akses ke sistem JRE berpotensi menjatuhkan F-35 atau meninggalkan F-35 tanpa salah satu alat yang paling berharga, atau bahkan mengubah data yang disediakannya untuk menunjukkan celah dalam pertahanan yang tidak benar-benar ada. Akibatnya, JRE dapat digunakan untuk memancing pilot F-35 yang tidak curiga ke dalam perangkap. (mas)

  SINDOnews  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...