Kamis, 07 Januari 2021

[Teror] Kogabwilhan III Sebut Kelompok Bersenjata Bakar Pesawat

✈ Di Nabire ✈ Ilustrasi razia barang bawaan pesawat di Bandara Nabire Papua. (Humas Polda Papua)

Kepala Penerangan Komando Gabungan Wilayah Pertahanan III TNI, Kolonel CZI Gusti Nyoman Suriastawa, menyebutkan massa yang diduga merupakan anggota kelompok bersenjata membakar pesawat terbang nomor registrasi PK MAK di Bandar Udara Nabire.

Suriastawa ketika dihubungi melalui telepon selularnya di Jayapura, Kamis, membenarkan ada kejadian pembakaran terhadap pesawat seri PK MAK sesuai yang diberitakan otoritas MAF di Nabire. "Massa yang ditunggangi KKB melakukan tindakan brutal, kondisi ini diciptakan KKB untuk memberi rasa takut terhadap masyarakat," katanya.

Menurut dia, hal ini sebagai tindak lanjut, di mana sebelumnya KKB pernah mengeluarkan pernyataan yang berisi ancaman. "Pernyataan mengancam ini ditujukan terhadap setiap penerbangan sipil yang ada di wilayah Papua maupun Papua Barat," ujarnya.

Ia menjelaskan, aksinya dimulai dengan dilakukan penembakan terhadap beberapa pesawat sipil termasuk penembakan terhadap pesawat helikopter PT Freeport Indonesia (PT FI) beberapa hari sebelumnya.

"Dan kini dilakukan pembakaran pesawat MAF, sehingga diimbau agar masyarakat jangan mudah terprovokasi kebringasan KKB," katanya.

Ia menambahkan masyarakat diminta tetap tenang dan membantu pemerintah untuk membangun Papua dan Papua Barat agar bisa maju serta sejahtera.

Sebelumnya, pesawat udara nomor registrasi PK MAK milik MAF dijadwalkan terbang menuju Intan Jaya pada pukul 06.00 WIT, setelah sempat terbang beberapa menit, karena kondisi cuaca buruk maka pesawat tersebut harus kembali ke Nabire.

Setelah cuaca membaik, pesawat kembali diagendakan terbang ke Intan Jaya pada pukul 09.40 WIT.

Namun terjadi penumpukan penumpang yang akhirnya masyarakat saling berebutan kursi, akhirnya kelompok bersenjata memprovokasi sampai akhirnya membakar pesawat.

  antara  

Rabu, 06 Januari 2021

PT PAL Besok Launching Kapal BRS Pertama

Pesanan pertama dari dua yang dipesan Kapal BRS produk PAL Indonesia [IG] 

A
da yang tahu besok tepatnya 7 Januari 2021, PT PAL Indonesia (Persero) akan laksanakan Launching Kapal Bantu Rumah Sakit (BRS) #1

Yaps betul, Satu dari dua kapal Bantu Rumah Sakit (BRS) pesanan TNI AL akan segera launching pada besok hari 7 Januari 2021.

Kapal BRS TNI AL ini memiliki panjang 124 meter, lebar 21,8 meter dan mampu mengakomodasi Kru, Relawan dan pasien sebanyak 651 orang. Kapal tersebut juga mampu melaju dengan kecepatan maksimal 18 knot serta endurance 30 hari.

Kapal BRS ini juga mampu untuk menampung 2 unit helikopter di dek dan 2 unit ambulance boat.

  ★
PAL indonesia  

Densus 88 Tembak Mati 2 Terduga Anggota JAD

Di Makassar https://statik.tempo.co/data/2021/01/06/id_992210/992210_720.jpgDensus 88 menembak mati 2 anggota JAD di sebuah perumahan di Makassar pada Rabu, 6 Januari 2021. (Istimewa)

Dua terduga teroris jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Sulawesi Selatan ditembak mati pada Rabu, 6 Januari 2021. Polisi menembak keduanya saat akan ditangkap di salah satu perumahan mewah di Makassar.

Kepala Kepolisian Resor Kota Besar Makassar, Komisaris Besar Witnu Urip Laksana mengatakan penangkapan dilakukan oleh Datasemen Khusus (Densus) 88 dan tim gabungan dari Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan dan Polrestabes Makassar. “Belum diketahui identitasnya,” kata Witnu kepada wartawan, Rabu 6 Januari 2021.

Menurut dia,polisi terpaksa menembak karena keduanya melawan. Keduanya, kata Witnu, memiliki keterkaitan pada pengeboman gereja di Filipina.

Ia mengatakan, kepolisian masih melakukan pengembangan dan olah tempat kejadian perkara (TKP).

Informasi yang diperoleh dua terduga teroris inisial MR dan SA ditangkap tim Densus 88 Mabes Polri di perumahan mewah di Kelurahan Bulurokeng Kecamatan Biringkanaya Kota Makassar. Saat ini Densus 88 dibantu TIM Gegana Polda masih melakukan penyisiran.

 Terlibat Pengeboman Gereja Filipina 

Polisi menyebut dua teroris yang ditembak mati di Makassar terlibat insiden pengeboman gereja di Filipina. “Berkaitan di Jolo, Filipina,” kata Kepala Kepolisian Resor Kota Besar Makassar, Komisaris Besar Witnu Urip Laksana, Rabu, 6 Januari 2021.

Dua terduga teroris disinyalir merupakan jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Sulawesi Selatan. Densus 88 Antiteror menembak mati keduanya saat akan ditangkap di di salah satu perumahan mewah di Makassar, Rabu 6 Januari 2021 sekitar pukul 06.00 WITA.

Menurut dia, keduanya ditembak karena melawan. Polisi masih melakukan pengembangan dan olah tempat kejadian perkara (TKP).

Informasi yang diperoleh dua terduga teroris inisial MR dan SA ditangkap tim Densus 88 Mabes Polri di perumahan mewah di Kelurahan Bulurokeng Kecamatan Biringkanaya Kota Makassar. Saat ini Densus 88 dibantu TIM Gegana Polda masih melakukan penyisiran.

  Tempo  

[Dunia] Korsel Kirim Delegasi Khusus ke Iran

Untuk Pembebasan Kapal Tanker Kapal tanker berbendera Korsel, Hankuk Chemi, dikawal kapal Garda Revolusi Iran, dalam foto yang dirilis Tasnim News Agency pada 4 Januari (Tasnim News Agency via AP)

Otoritas Korea Selatan (Korsel) mengirim delegasi khusus ke Iran untuk mengupayakan pembebasan kapal tanker yang disita di perairan Teluk oleh militer Iran.

Sementara seorang diplomat senior Korsel akan melanjutkan rencana kunjungan ke Teheran pada Minggu (10/1) mendatang di tengah ketegangan terkait lebih dari US$ 7 miliar dana Iran yang dibekukan di bank Korsel karena sanksi-sanksi Amerika Serikat (AS).

"Dalam waktu sedini mungkin, delegasi tingkat kerja yang dipimpin oleh direktur regional akan dikirim ke Iran untuk berupaya menyelesaikan masalah di lapangan melalui negosiasi bilateral," cetus juru bicara Kementerian Luar Negeri Korsel, Choi Young-Nam, seperti dilansir Reuters, Selasa (5/1/2021).

Pengerahan itu diumumkan saat Kementerian Luar Negeri Korsel memanggil Duta Besar (Dubes) Iran untuk Korsel guna mendesak pembebasan kapal tanker berbendera Korsel dan 20 anak buah kapal (ABK) di dalamnya.

Kapal tanker bernama Hankuk Chemi itu membawa muatan kargo ethanol lebih dari 7 ribu ton, saat disita militer Iran pada Senin (4/1) waktu setempat, karena tuduhan pelanggaran polusi seperti dilaporkan media-media Iran. Kapal tanker itu, menurut Associated Press, sedang berlayar dari Jubail, Arab Saudi menuju Fujairah, Uni Emirat Arab saat dicegat miiter Iran.

 Ada ABK WNI 


Saat ditanya soal status ABK kapal sebelum dia memenuhi panggilan di Kementerian Luar Negeri Korsel, Dubes Iran, Saeed Badamchi Shabestari, menuturkan kepada wartawan bahwa 'semuanya selamat'. ABK di dalam kapal tanker itu, menurut Garda Revolusi Iran, berasal dari Indonesia, Myanmar, Korsel dan Vietnam. Tidak dijelaskan secara detail berapa jumlah ABK asal Indonesia.

Kementerian Pertahanan Korsel dalam pernyataan seperti dilansir Associated Press, menyatakan telah mengirimkan unit anti-pembajakan ke dekat Selat Hormuz -- berupa kapal destroyer kelas 4.000 ton dengan 300 pasukan di dalamnya. Choi menambahkan bahwa seorang diplomat Korsel yang berkantor di Iran telah dikirimkan ke lokasi kapal tanker itu ditahan.

Operator kapal tanker itu, Taikun Shipping Co. Ltd. yang berbasis di Busan, menuturkan kepada Reuters bahwa tidak ada indikasi yang menunjukkan bahwa sebelum penyitaan dilakukan, pihak berwenang Iran sedang menyelidiki kemungkinan pelanggaran aturan lingkungan.

"Jika itu benar-benar pencemaran laut, seperti mereka (media Iran-red) katakan, penjaga pantai seharusnya mendekati kapal terlebih dahulu. Tapi sebaliknya, tentara bersenjata yang mendekati awak kapal dan mengatakan mereka perlu diselidiki," ucap Direktur Manajemen Taikun, Lee Chun-hee.

Insiden ini terjadi sebelum Wakil Menteri Luar Negeri Korsel, Choi Jong-kun, melakukan kunjungan terjadwal ke Teheran untuk membahas tuntutan Iran agar dana yang dibekukan di Korsel, bisa dicairkan. Kementerian Luar Negeri Korsel menyatakan Wakil Menteri Choi akan tetap melakukan kunjungan dan membahas 'berbagai isu' antara kedua negara.

 Korsel Kerahkan Kapal Perang ke Selat Hormuz 

Kapal tanker MT Hankuk Chemi yang membawa 7.200 ton "bahan kimia berbasis minyak" ditahan otoritas Iran atas dugaan pelanggaran batas wilayah dan pencemaran lingkungan, demikian klaim Garda Revolusi. Saat ini kapal tersebut berlabuh di pelabuhan Bandar Abbas.

MT Hankuk Chemi yang membawa 20 orang awak, beberapa diantaranya berasal dari Indonesia, sedang berlayar dari Jubail di Arab Saudi ke Fujairah di Uni Emirat Arab saat disergap militer Iran, Senin (4/1). Semua awak kapal diberitakan berada dalam tahanan aparat keamanan.

Menanggapi insiden tersebut, pemerintah di Seoul bereaksi cepat dengan mengirimkan unit anti bajak laut, Cheonghae, ke Selat Hormuz. Pasukan khusus ini tiba dengan menumpang kapal perusak Coi Young selasa (5/2). Belum jelas misi apa yang diemban pasukan elit anti perompak Korea Selatan tersebut.

Sejauh ini pemerintah di Seoul mengindikasikan akan menggunakan jalur diplomatik guna meluruskan situasi. Kemenlu Korea Selatan sudah menyatakan bakal mengirimkan delegasi ke Iran "sedini mungkin" untuk menegosiasikan pembebasan.

Perusahaan yang mengoperasikan MT Hankuk Chemi, DM Shipping, menolak tuduhan pemerintah Iran bahwa kapalnya melanggar protokol lingkungan. Kepada Reuters, manajemen perusahaan mengatakan awalnya Garda Revolusi mengklaim ingin melakukan pemeriksaan tak terjadwal, namun kemudian memerintahkan kapten kapal mengubah haluan dan melabuh ke pelabuhan Iran.

Setelah kehilangan kontak dengan kapten kapal, perusahaan mengaku menerima alarm anti bajak laut dari MT Hakuk Chemi. Adapun kamera pengawas yang dipasang di atas kapal dimatikan tidak lama setelah kejadian.

Unit Cheonghae sudah bermukim di Teluk Aden sejak tahun 2009 untuk menangkal ancaman bajak laut di kawasan itu. Pasukan berkekuatan 302 orang itu mengoperasikan kapal perusak berbobot 4.500 ton yang memiliki helikopter anti-kapal selam dan tiga kapal cepat, menurut buku putih pertahanan Korsel tahun 2018. Eskalasi menyusul pembekuan aset?

Insiden di Selat Hormuz terjadi ketika kedua negara sedang bersitegang ihwal aset Iran senilai USD 7 miliar atau setara dengan hampir Rp 140 triliun. Dana hasil penjualan minyak itu diparkir di bank-bank Korsel dan dibekukan menyusul sanksi AS.

Televisi Iran sebelumnya sempat mengabarkan, Wakil Menteri Luar Negeri Korsel Choi Jong-kun dijadwalkan akan menyambangi Teheran pada awal pekan depan buat membahas tuntutan Iran perihal asetnya tersebut. Namun Selasa (5/1) Kemenlu di Seoul mengumumkan "saat ini belum ada kejelasan" terkait lawatan Choi.

Korea Selatan merupakan salah satu pelanggan terbesar pembeli minyak dari Iran. Mei 2020 silam, pemerintah di Seoul menunda pembelian minyak Iran setelah ditekan Amerika Serikat.

Abdolnaser Hemmati, Gubernur Bank Sentral Iran, mengklaim dana tersebut dibutuhkan untuk pemulihan pasca pandemi. Hingga pertengahan tahun lalu, Teheran dan Seoul masih menegosiasikan pembelian obat-obatan dan perlengkapan medis bernilai jutaan Dollar.

Pada Desember silam Teheran mengeluhkan gagal mencairkan dana sebesar USD 180 juta di Korea Selatan untuk membeli vaksin Covid-19, lapor Financial Times.

Meski demikian pemerintah di Teheran bersikeras menuntut Seoul, untuk mencairkan uangnya yang dibekukan tersebut. Kantor berita Iran, ILNA, menulis Minggu (3/1), kantor Kepresidenan dan Kamar Dagang Iran-Korsel sepakat akan membarter dana tersebut. Produk yang dibutuhkan Iran mencakup bantuan kemanusiaan, produk petrokimia, suku cadang kendaraan dan perlengkapan rumah tangga. (ita/ita)

  ★ detik  

Selasa, 05 Januari 2021

Alutsista Kami Tak Mampu Kover Seluruh Laut Indonesia

  Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Yudo Margono (tengah) menjelaskan penemuan alat berupa 'Sea Glider' saat konferensi pers di Pushidrosal, Ancol, Jakarta, Senin (4/1/2021). (ANTARA FOTO/M RISYAL HIDAYAT)

Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Laut (Kadispenal) Laksamana Pertama TNI Julius Widjojono mengakui alat utama sistem persenjataan (alutsista) milik TNI AL belum mampu mendeteksi seaglider di wilayah laut Indonesia secara keseluruhan.

Oleh karena itu, menurutnya, sangat memungkinkan bagi peralatan seperti unmanned underwater vehicle (UUV) yang kemudian diketahui sebagai seaglider lalu-lalang di bawah permukaan laut Indonesia tanpa terdeteksi.

"Alutsista kami juga tidak mampu mengover seluruh area, jadi sangat memungkinkan mereka lalu-lalang," kata Julius saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (5/1).

Pernyataan ini disampaikan Julius saat ditanya perihal langkah-langkah yang sudah dilakukan TNI khususnya Angkatan Laut berkaitan dengan temuan benda-benda mirip rudal, yang salah satunya ditemukan di Perairan Selayar, Sulawesi Selatan pada 26 Desember 2020.

Benda yang ditemukan seorang nelayan itu dipastikan sebagai seaglider. Pusat Hidrografi dan Oseanografi Angkatan Laut (Pushidrosal) akan menyelidikinya untuk mengetahui asal negara dan kegunaan benda tersebut.

Meski begitu sesuai dengan penjelasan Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Yudo Margono peralatan itu mungkin bisa terdeteksi oleh kapal milik Indonesia jika kebetulan tengah melintas di wilayah yang memang banyak terdapat seaglider milik asing.

Dengan catatan, kapal-kapal Indonesia itu menyalakan sonar untuk mendeteksi benda-benda asing di kedalaman laut.

"Sesuai penjelasan Bapak Kasal di Pushidrosal lalu, kalau pas lewat kapal-kapal kita yang punya sonar, bisa saja kedapatan (ada seaglider)," kata dia.

Namun, menurutnya, Indonesia memiliki wilayah laut yang sangat luas. Sehingga tak bisa semua titik diawasi dalam waktu bersamaan. Lagi pula sebetulnya kata Julius, seaglider ini bekerja untuk keperluan riset.

Alat ini juga kebanyakan diluncurkan oleh kapal-kapal asing yang tengah melakukan survei dan riset di suatu wilayah, termasuk di Indonesia.

"Seaglider ini dilepaskan dari kapal-kapal survei, untuk itu instansi yang bekerja sama dengannyaharus laporan ke TNI AL," kata dia.

Berdasarkan data yang diberikan Julius kepada CNNIndonesia.com, diketahui persebaran seagrider dan juga agro float -benda yang mirip dengan seaglider, telah banyak tersebar di perairan Indonesia.

Dari data itu diketahui, agro float dan seaglider paling banyak menyebar di perairan Sumatera, Sulawesi dan Jawa. Sementara itu, terkait alutsista milik TNI AL per 2020 dari informasi yang dihimpun, sebanyak 282 jenis alutsista dimiliki matra yang kini dipimpin Yudo itu.

Masing-masing yakni tujuh kapal fregat, 24 kapal korvet, lima kapal selam, 156 kapal patroli dan 10 kapal penyapu ranjau. (tst/pmg)

  ★ CNN  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...