Minggu, 02 Januari 2022

Kembangkan Pesawat N219 dengan Konfigurasi MSA

🛩 PTDI Tandatangani MoU dengan Infoglobal ✈ N219  [PTDI]

PT Dirgantara Indonesia (Persero)/PTDI dan PT Infoglobal Teknologi Semesta/Infoglobal tandatangani Memorandum of Understanding (MoU) tentang kerja sama integrasi mission system Maritime Surveillance Aircraft (MSA) pada pesawat terbang N219. Dokumen MoU ditandatangani oleh Direktur Niaga, Teknologi & Pengembangan PTDI, Gita Amperiawan dan Direktur Utama Infoglobal, Adi Sasongko, di Kawasan Produksi II PTDI, Bandung.

Dengan kerja sama tersebut, kedepannya pesawat N219 akan dikembangkan dengan desain khusus sebagai pesawat pengawas maritim atau MSA. Mission system dari Infoglobal yang sebelumnya telah terpasang di pesawat NC212 Patroli Maritim (Patmar) TNI AL kemudian akan dikembangkan lebih lanjut untuk digunakan di pesawat N219 MSA yang diproduksi PTDI. Infoglobal merupakan perusahaan yang bergerak di bidang avionik pesawat tempur/militer, pengolahan data radar, sistem kontrol senjata dan perangkat lunak aplikasi pertahanan.

“Pertama, tujuan besar dari MoU ini tentunya adalah mengkolaborasikan dua industri nasional, untuk kompetensi di bidang pesawat terbang dalam hal ini PTDI dan kompetensi di bidang mission system dalam hal ini Infoglobal untuk menghasilkan suatu produk pesawat dengan kemampuan mission system surveillance yang bisa dimanfaatkan oleh bangsa ini. Yang kedua, ini merupakan bagian daripada bagaimana produk PTDI, pesawat N219 dapat masuk ke market dengan berbagai macam varian, yang sebelumnya kita ketahui bersama bahwa N219 bisa untuk passenger, medevac, cargo, dengan kolaborasi ini N219 kedepannya bisa untuk misi MSA, baik untuk military maupun komersial juga. Nanti tentunya Feasibility Study (FS) akan dibuat berdasarkan kebutuhan. Kami optimis dari FS tersebut kami cukup prospektif,” kata Direktur Niaga, Teknologi & Pengembangan PTDI, Gita Amperiawan.

Mission system dari Infoglobal merupakan produk hasil karya anak bangsa, yang memiliki berbagai fitur untuk memperkuat kemampuan pesawat N219 dalam melakukan pengawasan wilayah maritim, diantaranya adalah fitur deteksi dan identifikasi target kapal, kemampuan dalam menghitung posisi, kecepatan dan heading target yang dinamis yang kemudian dapat menampilkan rute SAR dan mengirim hasil surveillance ke KRI atau ground station terdekat, sehingga misi surveillance pada pesawat N219 dapat dilakukan secara efektif. Pengembangan konfigurasi MSA pada pesawat N219 ini kedepannya diharapkan dapat mendorong PTDI dalam pemenuhan kebutuhan pasar MSA, terutama untuk kebutuhan di dalam negeri.

“Harapannya kedepan bahwa TKDN juga semakin tinggi, didukung oleh industri-industri komponen di dalam negeri. Kami yakin dengan kerja sama ini akan memulai babak baru yang lebih realistis untuk membuat pesawat yang semakin banyak komponen dalam negerinya. Target pasar pertama adalah dalam negeri dulu, nantinya setelah ini sudah banyak bisa kita jual ke luar negeri,” kata Adi Sasongko, Direktur Utama Infoglobal.

  🛩 Emiten News  

ILSV Perkuat Dua Lanud di Papua

Lanud Silas Papare dan Lanud Yohanis Kapiyau Rantis ILSV Perkuat Lanud Silas Papare Jayapura dan Lanud Yohanis Kapiyau Timika [TNI AU] ★

TNI AU
menggelar kekuatan terbarunya di Papua. Alutsista darat yang digelar adalah ranpur ILSV alias Indonesian Light Strike Vehicle. Ranpur ini sempat mencuri perhatian publik saat ditampilkan untuk pertama kali pada pameran pertahanan Indo Defence 2014.

“Penggelaran ini sesuai perintah Panglima TNI, kami menyiapkan ILSV di Jayapura dan Timika,” ungkap KSAU Marsekal TNI Fadjar Prasetyo.

Menurut Marsekal Fadjar, TNI AU menggelar ranpur ILSV di dua pangkalan udara, yaitu Lanud Silas Papare di Jayapura dan Lanud Yohanis Kapiyau di Timika.

Sesuai fungsinya untuk pertahanan pangkalan (Hanlan), ILSV dioperasikan oleh satuan Korpaskhas TNI AU yang berada di kedua Lanud. “Kehadiran ILSV ini untuk memperkuat unsur Pertahanan Pangkalan,” tambah KSAU lagi.

Kedatangan ILSV di Jayapura dan Timika ini adalah bentuk dukungan Mabes TNI terhadap pangkalan udara yang dioperasikan TNI AU. Dengan sistem perlindungan diri dan ground cleareance 284 mm, ILSV sangat tangguh diajak melahap medan kasar.

KSAU sendiri melihat langsung ILSV yang dioperasikan Paskhas saat dihadirkan di pelataran Mabesau pada 28 Desember 2020.

ILSV J-Force dioperasikan Paskhas untuk berbagai misi. Seperti penyerangan, pengintaian, komunikasi, patroli jarak jauh, dan bantuan kemanusiaan.

Rantis lapis baja dengan kapasitas mesin 2.982 cc ini dihadirkan dalam dua varian untuk Paskhas, yaitu varian kubah RCWS (Remote Control Weapon System) dengan senapan mesin berat, dan varian kubah putar manual dengan senapan mesin sedang.

Indonesian Light Strike Vehicle
(ILSV) adalah kendaraan taktis yang diproduksi J-Forces (PT Jala Berikat Nusantara Perkasa) bersama PT Dirgantara Indonesia (PTDI). Ranpur ini pernah ditampilkan dalam parade dan defile peringatan HUT TNI Ke-74 TNI Tahun 2019 di Lanud Halim Perdanakusuma.

Untuk varian angkut personel, ILSV diluncurkan dalam dua varian yaitu APC 2.5 dan 4.5. ILSV pada dasarnya adalah rantis 4×4 multirole yang dibangun dari sasis Toyota Hilux Generasi VII. Bobot ILSV berkisar di angka 3,5 ton.

Pada Indo Defence 2016, ILSV ditampilkan juga dalam varian varian antipeluru dengan baja berstandar NIJ level III. Selanjutnya tahun 2017 dimulai produksi serial varian GAG (Guerilla Anti Guerilla) untuk Korps Brimob.

Versi GAG bisa membawa delapan pasukan dan dibekali mesin 170 hp 2.500 cc Toyota Hilux.

Tahun 2020, IMLA (Indonesian Military Landworthiness Authority) Puslaik Kementrian Pertahanan (Kemhan) melaksanakan sertifikasi kelaikan rantis ILSV J-Forces 2400 cc dan ILSV J-Forces Armored 2400 cc Kopaska dalam rangka uji statis dan uji sinamis.

Dengan diterimanya sertifikat kelaikan dari Puslaik Kemhan, ILSV pun resmi menjadi salah satu ranpur terbaru andalan TNI, melengkapi deretan ranpur yang sudah dioperasikan sebelumnya.

  ♞
Mylesat  

Sabtu, 01 Januari 2022

[Global] Thailand Rupanya Incar Jet Tempur Siluman F-35

Sebut harganya lebih murah dari JAS 39 Gripen
Ilustrasi F35 [ist] ★

Angkatan Udara Thailand rupanya mengincar jet tempur siluman F-35 buatan Amerika Serikat (AS).

Panglima Angkatan Udara Thailand Marsekal Napadej Dhupatemiya mengatakan, pihaknya ingin membeli delapan unit jet tempur generasi kelima tersebut.

Melansir Bangkok Post, Jumat (31/12/2021), Napadej berujar bahwa Angkatan Udara Thailand membutuhkan jet tempur baru.

Pasalnya, armada F-5 dan F-16 mereka sudah tua dan beroperasi selama lebih dari 30 tahun. Seiring bertambahnya usia pesawat, biaya perawatan dan risiko keselamatan meningkat.

Napadej menuturkan, jet tempur F-35 yang dibuat Lockheed Martin tersebut muncul sebagai pilihan terbaik untuk saat ini karena harganya yang murah.

Dia mengatakan, setiap unit F-35 harganya turun menjadi 82 juta dollar AS (Rp 1,1 triliun) dibandingkan saat pertama kali diluncurkan ke pasar dengan harga 142 juta dollar AS (Rp 2 triliun).

Napadej menuturkan, bahkan harga F-35 lebih terjangkau daripada jet tempur JAS 39 Gripen buatan Saab asal Swedia dengan harga 85 juta dollar AS (Rp 1,2 triliun) per unit.

Napadej optimistis bila harga F-35 bisa menyentuh angka 70 jutaan dollar AS (Rp 990-an miliar) tergantung negosiasinya.

Napadej mengatakan, perencanaan anggaran untuk pembelian F-35 akan dimulai pada tahun fiskal 2023, yang dimulai pada Oktober.

Sebuah panel akan dibentuk untuk mempelajari program pengadaan pesawat tersebut guna membenarkan permintaan pendanaan Angkatan Udara Thailand.

Mengingat keunggulan teknologinya, lanjut Napadej, F-35 akan sesuai dengan kebutuhan Thailand untuk meningkatkan kekuatan udaranya yang merupakan unsur penting dalam peperangan modern.

Kendati demikian, Napadej menuturkan bahwa Angkatan Udara Thailand menyadari keterbatasan anggaran karena pandemi Covid-19.

Oleh karena itu, pihaknya berencana untuk melakukan pembelian secara bertahap dan memilih produk-produk berkualitas tinggi.

“Kami tidak memerlukan skuadron penuh F-35. Kami mungkin hanya butuh delapan hingga 12 unti dan menggunakan drone,” kata Napadej.

“Ini akan membantu menghemat biaya. Ini relatif baru tetapi teknologi ini kemungkinan akan berkembang cepat,” lanjut Napadej.

  ★ Kompas  

Dahana Uji Coba Rudal Merapi Penghancur Helikopter Militer

➶ Mampu melesat di atas kecepatan 650 kilometer per jam atau melampaui kecepatan suara. ➶ Rudal Merapi Dahana [Dahana]

PT Dahana (Persero) melakukan uji coba Peluru Kendali (Rudal) Merapi dengan mengusung istilah "Konser Akhir Tahun 2021" di Area Weapon Range (AWR) TNI AU, Lumajang, Jawa Timur pada 27 sampai 28 Desember 2021.

Bekerja sama dengan Pusat Penelitian Center for Integrated Research and Innovation (Cirnov), uji coba tersebut dilakukan untuk mengevaluasi performa tiap-tiap subsistem rudal dalam rangka pematangan penguasaan pembuatan teknologi rudal, peningkatan kemampuan rudal, serta persiapan hasil produksi riset untuk industri.

Direktur Teknologi dan Pengembangan Dahana, Suhendra Yusuf RPN mengatakan, Rudal Merapi mampu melesat di atas kecepatan 650 kilometer per jam atau melampaui kecepatan suara.

“Kecepatan rudal mampu untuk merontokkan pesawat, baik pesawat tempur, helikoper militer, serta sasaran udara lainnya seperti drone,” ujar Suhendra dalam keterangan tertulisnya, Kamis (30/12).

Rudal Merapi memiliki berat yang cukup ringan sekitar 10 kilogram dan dapat dengan mudah dibawa ke mana-mana oleh tentara.

Pada aplikasinya, rudal dimasukkan ke dalam tabung peluncur yang membutuhkan canard dan fin-tail yang dapat dilipat sehingga setelah rudal ditembakkan dari peluncur, semua sirip-sirip tersebut akan membuka untuk melakukan fungsi aerodinamiknya menuju sasaran.

Rudal besutan anak bangsa ini juga dilengkapi dengan sistem fire and forget. Setelah rudal dilepaskan, ia akan mengunci target sasaran secara otomatis.

Menurut team leader Cirnov, Prof. Hariyadi, hasil uji tembak memperlihatkan konsistensi yang tinggi. Jarak jangkau langsung ke sasaran juga dapat mencapai 3.000 m.

Canard dan fin-tail juga dapat membuka dengan baik setelah keluar tabung peluncur untuk menuju area sasaran yang ditandai dengan flare atau sumber cahaya penghasil sinar inframerah yang dibawa terbang oleh drone.

Selanjutnya performansi sub yang lain berkaitan dengan posisi sasaran, sudut angguk (pitching), geleng (yawing), dan putaran rudal (rolling) termasuk posisi sasaran oleh seeker dapat dimonitor melalui alat telemetry yang dipasang di rudal selama ditembakkan.

Dengan demikian, diperoleh data secara langsung dan berterusan untuk evaluasi. Semua komponen rudal mampu menahan hentakan (G-shock) hingga mencapai 20 G yang muncul sewaktu rudal keluar dari peluncur.

Suhendra berarap, pembangunan peluru kendali secara mandiri diarapkan Indonesia bisa menghadapi ancaman embargo.

"Selain memenuhi kebutuhan alutsista nasional, produksi Rudal Merapi secara masif memiliki potensi untuk menambah finansial negara dengan menawarkannya di pasar persenjataan dunia," tandasnya

  ➶
RNOL  

Dahana UjIcoba Roket Smokeless Propellant

➶ Dapat diaplikasikan pada RHAN 122B dan roket ainnyaRoket Smokeless Propellant [Dahanma] ★

PT Dahana (Persero) menunjukkan keseriusannya dalam pengembangan bidang alat utama sistem senjata (Alutsista), terutama di bidang peroketan dengan membangun Roket Smokeless Propellant.

Roket buatan anak bangsa ini bahkan telah dilakukan uji coba perdana di AWR TNI AU, Lumajang, Jawa Timur, Selasa (28/12).

Direktur Teknologi dan Pengembangan Dahana, Suhendra Yusuf RPN menyebutkan, roket tersebut inovasi pertama di Indonesia yang memiliki kemampuan dorong tanpa asap (smokeless).

"Smokeless Propellant Komposit ini diharapkan mampu dikembangkan pada roket kaliber 70 mm atau 80 mm serta dapat diintegerasikan dengan warhead cal 70 mm yang telah memperoleh sertifikasi sebelumnya sehingga dapat mengurangi ketergantungan impor," ujar Suhendra dalam keterangan tertulisnya, Rabu (29/12).

Suhendra menambahkan, smokeless propelan komposit dapat diaplikasikan pada roket-roket lain seperti RHAN 122B dan roket lainnya, sehingga roket-roket produksi Dahana memiliki kemampuan dorong tanpa asap.

Hingga saat ini, Dahana telah memproduksi berbagai macam kebutuhan alutsista, seperti kendaraan peluncur dan propelan untuk RHAN 122B, RHAN 450, Roket Senjata Lawan Tank (SLT), Bomb P Live Series dan produk lainnya.

Hal ini sekaligus upaya meminimalisir produk impor, sehingga alutsista negara dapat mandiri dan tidak terpengaruh terhadap keadaan eksternal.

"Dengan memproduksi alutsista, hal ini akan membawa keuntungan bagi negara secara finansial, baik dividen maupun peningkatan devisa," tandasnya.

  ➶ RMOL  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...