Senin, 11 September 2023

Prajurit Brigif 2 Marinir Serbu Pantai Banongan, Situbondo

 Super Garuda Shield 2023 
https://scontent.fcgk30-1.fna.fbcdn.net/v/t39.30808-6/377563275_675042191326003_8057752228987059663_n.jpg?_nc_cat=108&ccb=1-7&_nc_sid=49d041&_nc_ohc=VQRgXXfzvpYAX_SevaU&_nc_oc=AQmQyM_YCyFeKlebeEQBeeIbvlUSRhOR3O74jLRceDXacc_p8MbgWF6kcxENCAviABY&_nc_ht=scontent.fcgk30-1.fna&oh=00_AfAUBoR1hImKXA-4QCNuIKDInex4ev6FSveY9GQMjs7ENg&oe=6502917A(TNI AL) ★

P
rajurit Brigade Infanteri (Brigif) 2 Marinir melaksanakan Pendaratan Amfibi dari KRI Surabaya-591 pada Latihan Gabungan Bersama (Latgabma) Super Garuda Shield (SGS) tahun 2023 di pantai Banongan, Situbondo, Jawa Timur. Minggu (10/09/2023).

Pendaratan Amfibi yang dilakukan prajurit Brigif 2 Marinir tersebut untuk merebut pantai pendaratan yang dikuasai oleh musuh dengan membentuk perimeter pantai pada skenario Latgabma Super Garuda Shield (SGS) tahun 2023, yang diawali dengan Taklimat Pangkogasgabfib untuk melaksanakan Serbuan Amfibi di pantai Banongan yang telah dikuasai oleh musuh.

https://peloporwiratama.co.id/wp-content/uploads/2023/09/151A5062.jpgPada latihan kali ini melibatkan unsur kekuatan personel gabungan dari berbagai negara yaitu Indonesia, Amerika, Jepang, dan Singapura, dengan menggunakan kendaraan tempur serta kendaraan taktis dari Marinir Indonesia dan negara yang terlibat yang diturunkan dari Kapal Republik Indonesia (KRI) Surabaya-591, Tank BMP-3F, Tank LVT-7 A1, Kapa, dan Roket RM-70 Grade dan meriam Howitzer 105 mm.

Pada kesempatan tersebut, Komandan Brigif 2 Marinir Kolonel Marinir Argo Setiyono menyampaikan ucapan terima kasih atas semangat para prajuritnya dalam melaksanakan Latgabma Super Garuda Shield (SGS) tahun 2023, dengan harapan latihan ke depan yang akan dihadapi dapat meningkatkan kemampuan, keterampilan dan profesionalisme prajurit Brigif 2 Marinir sebagai pasukan pendarat amfibi akan terbina dengan baik dalam rangka mendukung tugas pokok Korps Marinir TNI AL.

  ★ Pelopor Wiratama  

[Global] Korea Utara Ubah Truk Sampah Jadi Peluncur Roket

Korea Utara (Korut) memperlihatkan truk sampah yang diubah menjadi peluncur roket dalam parade militer di Pyongyang. (Foto/Insider) ➶

Korea Utara (Korut) menggelar parade militer untuk merayakan berdirinya negara itu pada Sabtu pagi di Ibu Kota Pyongyang. Menurut The Associated Press delegasi dari China dan Rusia tampat hadir dalam parade tersebut.

Acara tersebut menandai 75 tahun negara tersebut didirikan di bawah pemerintahan Perdana Menteri Kim Il-sung, kakek dari pemimpin Korea Utara saat ini Kim Jong-un.

Parade tersebut menekankan komponen "milisi" dalam militer Korea Utara dalam upaya untuk menunjukkan kemampuan negara tersebut dalam memukul mundur invasi asing.

Parade tersebut diadakan sehari setelah Korea Utara memamerkan apa yang diklaimnya sebagai kapal selam nuklir taktis pertamanya, yang – jika benar – akan meningkatkan kemampuan negara tersebut untuk mengancam perang nuklir melawan musuh jauh. Setidaknya, kata para ahli, hal ini menunjukkan komitmen Kim Jong-un untuk memperluas jangkauan program nuklir Korea Utara.

Senjata yang diarak pada hari Sabtu lebih sederhana. Foto-foto yang dirilis oleh media pemerintah Korea Utara menunjukkan barisan traktor yang menarik sesuatu yang tampak seperti peluncur roket.

Parade tersebut juga menampilkan truk sampah berwarna merah yang dimodifikasi untuk menyembunyikan peluncur rudal. Menurut Reuters itu sebuah upaya untuk menandakan peran milisi sebagai pejuang gerilya dalam perang, seperti dikutip dari Insider, Minggu (10/9/2023).

Tidak ada senjata berkemampuan nuklir atau rudal balistik antar benua yang dipamerkan, berbeda dengan parade pada bulan Juli yang menandai “kemenangan” Korea Utara dalam perang tahun 1950-1953 yang memperkuat pembagian semenanjung tersebut menjadi dua negara.

Korea Utara juga memamerkan kekuatan paramiliternya pada hari jadinya di tahun 2021. Pengawal Merah Buruh-Petani di negara tersebut diyakini memiliki lebih dari 5 juta anggota, The Korea Herald melaporkan, mengutip perkiraan pemerintah Korea Selatan. Bandingkan dengan sekitar 1,3 juta orang di tentara Korea Utara. (ian)

  🚀 sindonews  

Minggu, 10 September 2023

Kemhan Pesan Sistem Penyelamatan Kapal Selam SRVS dari Inggris

⚓️ Perkuat TNI AL Kapal Penyelamatan Kapal Selam SRVS dari Inggris (Ist)

Menteri Pertahanan Prabowo Subianto kembali membuat gebrakan dalam rangka memperkuat alutsista TNI. Kali ini giliran TNI AL yang akan mendapatkan alutsista baru berupa Submarine Rescue Vehicle System (SRVS) yakni kapal selam yang berfungsi untuk mengevakuasi awak kapal selam yang tenggelam.

Pada tanggal 1 September 2023 Kementerian Pertahanan RI dan PT BTI Indo Tekno telah menandatangani kontrak pengadaan SRVS tersebut. Kesepakatan penting ini mencakup penyediaan kapal selam penyelamat berteknologi canggih SRV-F Mk.3 serta kapal induk khusus (Mothership) yang dirancang untuk mendukung misi penyelamatan kapal selam darurat.

Kapal selam merupakan alutsista strategis yang punya peran penting bagi Angkatan Laut di seluruh dunia, termasuk Indonesia. TNI Angkatan Laut, dengan Komando Operasi Kapal Selam (Koopkasel) sebagai operator armada kapal selam di Indonesia akan segera dilengkapi dengan alutsista pendukung operasional kapal selam berupa SRVS.

SRV-F Mk.3 merupakan kapal selam penyelamat modern buatan SMP Inggris, yang mengusung konsep “One Out, All Out.” Dengan konsep ini, SRV-F Mk.3 dirancang untuk mampu menyelamatkan seluruh kru kapal selam dalam satu kali perjalanan saja, hal ini dimungkinkan karena kapasitas SRV-F Mk.3 mencangkup 50 orang penumpang dan 3 kru untuk mengoperasikannya, yang terbaik di kelasnya.

SRV-F Mk.3 juga mempunyai desain “hybrid,” memungkinkannya untuk dibawa dengan menggunakan mothership, maupun dengan pesawat terbang, dan transportasi darat, memberikan keunggulan besar dari sistem lainnya.

SRV-F Mk.3 akan dibawa dengan sebuah mothership, yang juga dilengkapi dengan berbagai perlengkapan canggih, seperti “dedicated decompression chamber.”

Mothership yang akan dioperasikan oleh Koopkasel ini mampu mendukung operasi penyelamatan kapal selam, serta kemampuan untuk memberikan pertolongan pertama dengan dukungan medis terhadap kru kapal selam yang berhasil diselamatkan.

Penandatanganan kontrak pengadaan SRVS merupakan salah satu bukti keseriusan Menteri Prabowo Subianto dan Kementerian Pertahanan Republik Indonesia, untuk mendukung modernisasi alutsista di lingkungan TNI Angkatan Laut.

Dengan penandatanganan kontrak SRVS tersebut, Indonesia akan menjadi operator SRVS tercanggih di kawasan, mendongkrak kemampuan dan kesiapan tempur armada kapal selam Indonesia, dan menjamin keselamatan kru yang mengoperasikannya. (Biro Humas Setjen Kemhan)

 Berikut video dari Youtube : 


 ⚓️  Kemhan  

Skadron Udara 27 Lanud Manuhua Biak Berlatih Terbang Malam

☆(TNI AU) ☆

Skadron Udara 27 Lanud Manuhua Biak, melaksanakan terbang malam. Terbang malam yang dilaksanakan di seputar Lanud Biak, Papua, untuk meningkatkan profesionalisme dan kualifikasi para penerbang CN-235, Skadron Udara 27, Lanud Biak, Papua, Rabu (6/9/2023).

Latihan terbang malam, melibatkan satu pesawat CN-235, tail number A-2307, diikuti dua siswa, yaitu Kapten Pnb Raudah (Captain Right Seat) dan Lettu Pnb Bobby (Full Captain), bertindak sebagai Pilot Instructor, Mayor Pnb Dentabella.

Komandan Skadron Udara 27 Mayor Pnb Okvan Yudoriztanto, S.T., M.M.D.S, mengatakan, latihan merupakan program peningkatan kualifikasi untuk meningkatkan kesiapan awak pesawat dalam mendukung tugas operasi, khususnya terbang malam.

"Dengan mengutamakan Lambangja dan didukung cuaca baik, serta kesiapan seluruh tim pendukung operasi penerbangan, latihan dapat berjalan aman dan lancar", kata Danskadron Udara 27.

TNI AU selalu berupaya meningkatkan profesionalisme para penerbangnya, melalui berbagai program latihan di Skadron Udara, termasuk terbang malam. Melalui latihan yang tejadwal, dsn berjenjang, diharapkan para penerbang selalu siap melaksanakan tugas-tugas operasi menjaga kedaulatan wilayah udara nasional.
 

  ☆ TNI AU  

Saat Pengiriman 2 Kapal Selam RI dari Uni Soviet Diintai Pesawat AS

RI Pasopati, kapal selam generasi awal dari Satuan Hiau Kencana TNI AL mengikuti Hari Armada, Jumat 5 Desember 1975 di Surabaya (Kompas)

Pembelian 12 kapal selam kelas Whiskey (W) dari Uni Soviet pada periode 1959 hingga 1960-an menjadi titik awal pembangunan Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) atau kini yang bernama TNI Angkatan Laut.

Pembelian kapal selam ini mempunyai tujuan strategis, salah satunya untuk mendukung operasi pembebasan Irian Barat yang kala itu masih dalam kekuasaan Belanda.

Akan tetapi, pengadaan kapal selam tersebut ternyata tidak berjalan mulus.

Ketika dalam pengiriman menuju Tanah Air, pergerakan kapal selam pesanan Indonesia ini dipantau oleh pesawat pengintai Angkatan Laut Amerika Serikat. Dan, peristiwa pengintaian ini tidak terjadi sekali saja.

 Pengintaian pertama 
Kapal selam kelas Whiskey ALRI pada Operasi Trikora (Hiu Kencana)

Pengintaian pertama terjadi setelah 112 personel ALRI selesai menjalani pelatihan pengoperasian dua kapal selam yang dipesan Indonesia dari Uni Soviet pada 1959.

Sebanyak 112 personel tersebut sebelumnya menjalani seleksi di Malang, Jawa Timur. Salah satu pesertanya ialah Mayor Laut RP Poernomo yang kala itu menjabat Komandan Kapal RI Pati Unus.

Poernomo diperintahkan langsung oleh Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Madya R Soebijakto untuk menjalani pendidikan awak kapal selam.

Dikutip dari buku berjudul "Mission Accomplished" karya Atmadji Sumarkidjo, setelah merampungkan tahap seleksi, mereka berangkat menggunakan kapal sipil berbendera Denmark, MV Heinrich Jessen menuju sebuah pelabuhan di Laut Adriatik, Eropa.

Dari sana mereka melanjutkan perjalanan menggunakan kereta api melewati negara-negara Blok Timur hingga sampai ke Pelabuhan Gdanz, Polandia. Poernomo baru sadar. Ia dan personel lainnya tidak menjalani pelatihan di Uni Soviet, melainkan di kapal selam Uni Soviet yang berpangkalan di Polandia.

Pendeknya, latihan demi latihan mereka lakoni. Mereka juga menyerap pendidikan teori dan praktik pengoperasian kapal selam.

Puncak pendidikan ini adalah tahap ujian akhir yang diselenggarakan di Laut Baltik. KSAL Laksamana Madya R Soebijakto rela datang dari Jakarta untuk menyaksikan langsung ujian akhir calon pengawak kapal selam ALRI masa depan.

Tahap ujian akhir dipimpin seorang Laksamana dan sejumlah perwira kapal selam Uni Soviet. Materi ujian akhir di antaranya, trimming bergerak menggunakan snorkel hingga crash dive secara cepat dan tepat.

Para peserta didik pun sukses menjalani ujian akhir, sampai-sampai seorang Laksamana Uni Soviet yang memimpin jalannya ujian akhir menyampaikan pujian atas kemampuan peserta didik Indonesia.

Setelah pendidikan rampung, seluruh personel akhirnya pulang ke Tanah Air menggunakan kapal, minus Poernomo dan seorang Kepala Kamar Mesin (KKM). Keduanya pulang menggunakan dua kapal selam yang sebelumnya sudah dipesan Indonesia.

Ketika dalam pengiriman menuju Indonesia, dua kapal selam tersebut masih menggunakan nomor lambung Angkatan Laut Uni Soviet, masing-masing S-79 dan S-91. Kelak dua kapal selam ini dinamai RI Tjakra dan RI Nanggala.

Pada saat pengiriman inilah, dua kapal selam kelas W ini diintai oleh pesawat Angkatan Laut Amerika Serikat.

 Pengintaian kedua 
KRI Tjandrasa-408, Kapal selam kelas Whiskey ALRI (Militer.id)

Dua tahun berselang, tepatnya pada 1961, Indonesia kembali mendapatkan empat kapal selam kelas W dari Uni Soviet.

Sama seperti pengiriman pertama, ketika dalam perjalanan menuju Tanah Air, empat kapal selam tersebut juga dipantau langsung oleh pesawat Armada VII AS.

Komandan kapal selam KRI Nagananda Tjipto Wignjoprajitno menuturkan, empat kapal selam ini sebetulnya sengaja meninggalkan Pelabuhan Vladivostok, Uni Soviet, tepat ketika perayaaan Natal pada 25 Desember 1961.

Mereka memprediksi patroli Armada VII AS di Laut Jepang sedang dalam tingkat minimal ketika libur hari Natal datang. Apalagi, ketika berangkat, cuaca sedang cukup buruk. Ombak lautan cukup tinggi dan hujan sangat lebat.

Kondisi ini memungkinkan konvoi kapal ALRI dan kapal sipil yang mengangkut kru ALRI tidak terdeteksi Armada VII AS.

Permasalahan pun datang. Salah satu kapal selam tidak bisa melakukan snorkeling atau menyelam penuh ketika melintasi Selat Taiwan.

Saat itulah, sebuah pesawat jenis P-3C melintas dan mengambil gambar-gambar pergerakan mereka. Sejak itu, pergerakan mereka mulai diintai ketat hingga memasuki Laut Sulawesi.

Setelah masuk ke Indonesia, kapal-kapal tersebut kemudian diserahkan dan memperkuat armada ALRI.

Selanjutnya, Indonesia kembali mendatangkan enam kapal selam kelas W setelah sebelumnya sudah memiliki enam unit.

Total ada 12 kapal selam yang pernah dimiliki Indonesia ketika kampanye Tri Komando Rakyat atau Trikora bergema untuk membebaskan Irian Barat dari selimut kekuasaan Belanda.

 ⚓️  Kompas  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...