Selasa, 03 April 2012

Kejarlah Daku Kau Ku "Sekolahkan" (3)

Markas Burung

Ilustrasi pos jaga TNI
RASA bosan adalah salah satu beban dalam peperangan. Saya juga merasakannya. Rekor saya tinggal di pos hanya tiga hari. Memasuki hari keempat, saya mulai mencari informasi kapan ada lanjutan ke kota atau ke pos lain.

Orang-orang pos punya berbagai macam cara untuk mengatasi kebosanan. Mereka punya dunia sendiri. Bangun pagi, seisi pos sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Yang memelihara burung akan memandikan piaraannya. Makhluk-makhluk itu disuapi makanan, diajari bicara, diajak berjemur menikmati matahari pagi, diperbaiki sangkarnya. Kadang mereka menyetelkan lagu buat piarannya itu. “Biar suaranya bagus,” kata seorang serdadu.

Banyak tentara dari Jawa suka memelihara burung. Saya pernah mendapati pos dengan 40 buah sangkar burung, dua kali lipat dari jumlah penghuni pos. Kicauan burung-burung terdengar hampir setiap saat. Suaranya bahkan lebih nyaring ketimbang kicauan teman-temannya di hutan belakang pos.

Burung memang mudah didapatkan di Aceh Barat. Biasanya, warga yang datang berobat (gratis) ke pos menyerahkan burung atau makanan burung. Ada banyak jenis burung. Murai batu yang paling sering saya lihat di samping perkutut, beo, dan tekukur.

Membuat sangkar burung jadi kesibukan tersendiri. Rangkanya dari kayu, jerujinya dari bambu. Orang pos membuatnya bermodalkan sangkur dan besi panas untuk melubangi rangka. Ukurannya bervariasi. Yang paling besar yang pernah saya lihat seukuran tempat tidur anak lima tahun. Dipernis dan dicuci tiap hari. Mereka kadang menamai burung piaraannya dengan nama orang-orang GAM yang jadi target operasi di Aceh Barat, seperti “Juragan” dan “Cut Man.”

Biasanya, setelah merawat binatang piaraan, orang pos merawat diri. Di setiap pos, selalu ada peralatan fitness seperti barbel, erekan, dan samsak. Mereka tak ingin pulang tugas dengan perut buncit.

Sudah itu mandi. Tentara umumnya mandi telanjang bareng-bareng. Yang tidak suka, biasanya mandi pakai celana kolor atau pas sumur sepi. Mandi dan sekalian mencuci pakaian. Baju dan celana loreng biasanya dicuci dua kali seminggu. Kalau lebih dari itu, di baju ada garis-garis putih yang kalau banyak seperti peta saja. Awalnya saya kira peta itu terbentuk karena mereka tak bersih saat membilas. Kemudian seorang serdadu bercerita kalau peta itu karena air keringat (bergaram) yang menempel di baju. Pakaian yang kering habis dijemur biasanya langsung dilipat.

Kegiatan bersama orang pos sudah direncanakan sejak malam sebelumnya. Komandan peleton atau bintara sudah menunjuk siapa giliran patroli dan jaga pos. Porsinya setengah-setengah. Sepuluh orang patroli, sisanya jaga pos plus memasak.

Mereka bergiliran masak. Sejak lepas subuh, mereka mandi asap kayu bakar di dapur. Pagi sarapan dengan telur dadar dan nasi panas. Baru siangnya ada sayur dan ikan. Kalau ada kelapa, mereka bikin sayur santan. Ikannya rata-rata digoreng. Nanti kalau banyak bawang merah dan cabai besar, ikan goreng itu diberi bumbu. Soal rasa bergantung pada siapa yang memasak. Terkadang terlalu asin dan seringkali anyep karena kurang bumbu.

Ada satu menu yang tak pernah hilang di pos: sambel. Kalau ada terasi, pakai terasi. Kalau tidak, ya cabai, tomat, bawang, garam dan sedikit vietsin diulek. Tentara Jawa biasanya bawa ulekan akar pring dari Jawa sana. Mereka tak nyaman memakai ulekan Aceh yang besarnya seperti lesung penumbuk padi.

Masih soal menu, saya pernah terperanjat menyaksikan mewahnya daftar menu pos Rajawali di Kabong. Menu ditulis jelas-jelas di papan dapur. Pagi: Nasi Putih, Telur, Teh Manis, Krupuk. Siang: Ayam Goreng, Sop, Empal, Lodeh, Sayur (asam/bening), Ikan Asin, Sambal, Lalap. Sore: Sarden, Cornet, Ikan Bakar, Opor Ayam, Gudeg, Soto, Telur. Makanan tambahan: Susu, Jeruk, Mi (rebus/goreng), Telor setengah matang, Kelapa muda. Ternyata ini hanya fantasi orang dapur saja. Realitasnya ya sama dengan pos lain.

Jadwal makan orang pos teratur, pagi biasanya antara pukul tujuh dan pukul delapan, siang sebelum masuk duhur, dan makan malamnya menjelang magrib. Mereka biasanya makan dengan serba plastik: piring plastik, sendok plastik, dan gelas plastik. Semua peralatan makan itu, termasuk peralatan masak, dibeli dengan uang sendiri.

Setiap bulannya, mereka dapat pembagian beras dan beberapa kaleng konserven (makanan kaleng). Praktis orang pos tinggal mencari lauknya. Rata-rata per orang menyetor Rp 1.000 setiap makan. Mereka kadang minta ikan kepada nelayan atau penjual yang lewat depan pos.

Semua mengambil makanan di dapur kecuali komandan pos. Bos satu ini memang spesial. Dia yang paling duluan dapat jatah makanan, porsinya lebih banyak, dan diantar ke kamarnya. Kalau saya datang, orang dapur punya dua bos. Seringkali apa-apa wartawan duluan. Saya pernah mendengar seorang serdadu menegur temannya karena mengambil makan terlalu banyak. “Nanti wartawan tidak dapat.”

Suatu saat, saya iseng bertanya kepada orang dapur, “Kok kita nggak pernah makan daging?”

“Bagaimana kalau saya tembakkan Bandung Ambon Bandung Irian?”

Saya menolak karena tak makan babi.

“Kalau (saya tembakkan) burung rangkong mau?”

“Kelelawar?”

Saya tetap menggeleng dan iseng-iseng bertanya, “Orang pos bagaimana bisa marah kalau tidak makan daging?”

“Bang, tentara itu biar tidak makan daging sudah sangar.”

Patroli adalah saat orang pos bergaul dekat dengan warga desa. Satu hingga enam bulan pertama mereka masih menikmatinya. Tapi kalau sudah lewat enam bulan, istilah tentara sudah masuk yang namanya “masa bodoh”. Di kepala prajurit yang terpikir cuma kapan pulang. Mereka biasanya kembali hapal hari dan tanggal berapa sekarang. Satu sampai enam bulan pertama boro-boro.

Saat patroli mereka akan bertegur sapa dengan setiap orang desa. Kadang mereka singgah sekadar untuk tahu berapa jumlah penghuni rumah dan siapa-siapa saja orangnya.

Setiap pekan, orang pos sudah punya jadwal desa mana yang harus mendapatkan apel. Mereka memilih hari Jumat karena orang kampung di Aceh tak pergi ke ladang hingga usai jumatan.

Saya pernah mengikuti apel di desa Mugah Rayeuk. Jangan bayangkan apel yang kaku. Ini tanpa baris-berbaris, terkesan santai saja. Warga desa, tua muda laki perempuan, berkumpul di tempat yang teduh dan komandan pos berdiri di depan.

Acara pertama absensi. Orang-orang desa diabsen. Kalau seisi rumah tak bisa datang, mesti ada yang mewakili. Mereka utamanya yang pernah terlibat GAM. Orang pos punya catatannya. Mereka mendapatkan catatan itu dari pasukan yang bertugas sebelumnya. Mereka yang ada namanya di daftar itu harus melakukan registrasi ulang setiap pasukan di pos berganti. Pemutihan, istilahnya.

Selepasnya, ada pengarahan dari komandan pos. Isinya macam-macam. Tapi intinya ini: “Jaaaaaaaaaaaaangan sekali-sekali ikut GAM. Tidur di hutan itu tidak enak. Saya di pos sana nyamuknya saja sudah minta ampun. Anak ditinggalin, istri ditinggalin. Kalau ikut ke sana akibatnya rugi semuanya. Nggak usah gaya-gayaan bawa senjata, bapak-bapak. Tidak ada gunanya! Mendingan kita ambil cangkul, pergi ke ladang, ada hasil bisa dimakan sama-sama dengan keluarga.”

Kalau ada apel, mungkin keuchik (kepala desa) yang paling terbebani pikirannya. Dia harus punya jawaban kalau orang pos bertanya kenapa si A atau si B tak ikut apel. Dia juga kadang jadi sasaran awal kekesalan tentara terhadap apa yang terjadi di desa.

Pernah suatu hari saya bertanya kepada orang pos apa yang akan dilakukannya kalau pos diserang. “Gampang,” katanya, “Cukup panggil keuchik dan suruh orang desa apel dan guling di jalan sampai aspal di depan pos ini rata.”

Keuchik juga kadang jadi sasaran kekesalan orang GAM. Sudah banyak keuchik yang mati karena berselisih dengan orang GAM. Biasanya soal pajak. Pajak Nanggroe, istilahnya. Saya tak pernah melihat langsung orang GAM memungut pajak, tapi saya punya contoh kwitansinya. Isinya memuat keterangan nama barang yang diserahkan dan berapa jumlahnya dalam bahasa Aceh. Di pojok bawah kwitansi tertera keterangan “aseuli meuwarna, fotocopy hana sah” (asli berwarna, fotokopi tidak sah).

Sepulang patroli, orang pos beristirahat. Selepas asar, mereka berolahraga. Ada yang turun main voli (enam yang main, empat mengamankan) dengan warga desa. Ada juga yang kembali menekuni alat-alat fitness.

Kalau capek gerak badan seharian, begitu habis Isya orang pos langsung tidur. Jangan bayangkan ada kasur dan ranjang di pos. Mereka tidur beralaskan matras dan berjejer di sebuah ruang panjang seperti bangsal rumah sakit. Biasanya, dari rumah mereka sudah membawa bantal, yang kadang ada sulaman nama istri dan anak-anaknya.

Yang belum ngantuk biasanya nonton VCD. Orang pos punya banyak koleksi VCD dari film Mickey Mouse, Tom and Jerry, hingga film India Kuch-Kuch Hota Hai. Tapi yang sering diputar VCD Dangdut Koplo (itu lho, dangdut yang penyanyinya berpakaian superketat dan melenggok-lenggok menirukan adegan di film porno). Kadang, kalau punya persediaan, mereka nonton VCD porno yang mudah dicari di rental VCD di kota terdekat.

Tidurnya serdadu di pos selalu disela jadwal jaga serambi. Biasanya mereka berjaga selang sejam. Ini berlaku buat semua penghuni pos. Saat jaga, semua lampu dipadamkan. Di pos jaga selalu ada senapan otomatis.

Kalau pas malam Jumat, di pos biasanya ada yasinan. Tahlilan kalau orang pos mendengar ada tentara Indonesia mati di Aceh. Dan kalau malam Minggu, orang pos biasanya gitar-gitaran. Banyak yang pintar menyanyi. Dangdut biasanya. Instrumen musik yang digunakan lumayan lengkap. Ada gitar melodi, drum, bass, suling, dan lain-lain. Tapi …. semuanya dengan mulut.

Minggu siang waktunya pelesiran. Pelesiran tentara di Aceh tetap saja dengan senjata sudah dikokang. Tujuan mereka biasanya ke kota kecamatan atau ibukota kabupaten. Tempat yang pertama kali mereka datangi biasanya warung telekomunikasi. Di situ mereka melepas rindu dengan orang di rumah.

Saban minggunya, ada ratusan tentara yang turun gunung untuk menelepon. Mereka yang seringkali bayar mahal adalah serdadu yang sudah berkeluarga. Makin banyak anak makin besar yang mereka bayar. Kadang sampai Rp 90 ribu sekali telepon.

Selain telepon, banyak serdadu yang memilih berkomunikasi lewat surat. Saya pernah melihat seorang serdadu yang sekali duduk menulis sampai 10 surat. Dia masih bujangan.

“Banyak fans,” katanya.


[Dimuat di Majalah Pantau edisi 3 Februari 2003]
bersambung ...

☆ Baik buruk suatu peristiwa, tercatat dalam dokumen menjadi sejarah ☆

Kejarlah Daku Kau Ku "Sekolahkan" (2)

Punya Pengawal

Ilustrasi
SAYA menemui pasukan yang bermarkas di Kediri itu awal September silam -sekitar tiga bulan sesudah mereka mendarat di Malahayati- setelah mendapatkan izin dari Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan Aceh Mayor Jenderal Djali Yusuf. Saya ingin tahu bagaimana serdadu-serdadu Indonesia bekerja di provinsi yang bergolak sejak 1970-an ini. Djali Yusuf setuju dan menunjuk Batalyon Infanteri 521/Dadaha Yodha. Batalyon teritorial ini tugas utamanya mengamankan wilayah Aceh Barat, dari Lambaro hingga Beutong, yang dari ujung ke ujung jaraknya ada 150 kilometer.

Ada sejumlah hal yang harus saya patuhi bila ingin tinggal dengan pasukan. Saya, misalnya, dilarang meninggalkan pos sekali pun untuk membeli rokok tanpa dikawal seorang prajurit. Kalau jaraknya lebih 200 meter dari pos, yang kawal sedikitnya mesti tiga orang.
 
Hari pertama, saya banyak mendengar peringatan seperti ini:

“Mas ini orang sipil. Tapi akan sering dilihat orang jalan sama tentara. Bahaya. Di luar sana, mungkin ada cuak (mata-mata) GAM.”

“Peluru di sini tak ada matanya, lho.”

“Kamu harus hati-hati karena kalau ada apa-apa, semoga tidak yah, siapa yang akan tanggung jawab ke Pangkoops (Djali Yusuf).”

Para serdadu itu, ternyata seperti saya, dilarang meninggalkan pos tanpa membawa teman. Mereka hanya bebas bergerak radius 100 meter dari pos. Begitu keluar pos, serdadu membawa senapan sudah terkokang. Serdadu yang kekhawatirannya lebih tinggi kadang sudah membuka kunci senapannya.

Jika hendak berbelanja kebutuhan dapur ke pasar, orang pos selalu berangkat dengan jumlah besar, minimal lima orang. Bila sudah di pasar, dua orang berbelanja dan sisanya melakukan pengamanan. Kondisi itu berbeda dengan keadaan sewaktu mereka tugas di Timor Timur, Maluku, atau Papua. Sewaktu di Timor Timur, kata seorang kopral kepala, mereka berani lenggang kangkung sendiri ke pasar.

Aceh memang bukan sembarang daerah. Di sini, kelengahan taruhannya nyawa. Sebuah satuan Lintas Udara dari Makassar, misalnya, kehilangan 11 orang anggotanya hanya dalam tempo 10 bulan. Enam di antaranya tewas setelah kontak senjata dengan gerilyawan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Mereka terlambat dievakuasi saat pendarahan hebat. Sisanya karena faktor non-pertempuran: seorang tewas dalam kecelakaan bermotor, dua orang tenggelam di laut, seorang salah tembak oleh pasukan Indonesia lainnya, dan seorang lagi ditembak komandan sendiri di sebuah hotel karena dianggap melakukan insubordinasi.

“Di sini perangnya perang gerilya. Siapa yang lengah dia yang kalah,” kata Komandan Batalyon 521/Dadaha Yodha Letnan Kolonel (Infanteri) Ucu Subagja.

Dan saya belum pernah menjumpai tentara yang kewaspadaannya seperti Prajurit Kepala Muhamad Khusnur Rokhim. Pada jarak 10 meter, dari potongan rambutnya saja, orang sudah bisa menebak kalau dia tentara. Ada banyak bekas luka di wajahnya yang hitam. Perawakannya sedang, bahkan kurus untuk ukuran tentara. Tingginya sekitar 170 centimeter. Wajahnya tirus dengan rahang menonjol. “Ini,” katanya menunjuk rahang kanannya, “Sering bengkak kena popor pas latihan membidik sasaran.”

Ke mana saja Rokhim pergi, matanya selalu awas. Apa saja yang nampak jadi bahan perhatian. Kalau ada orang yang gerak-geriknya aneh, dia tak segan-segan memelototinya sampai yakin kalau orang itu tak akan membahayakan keselamatannya.

Di Meulaboh, sekitar 250 kilometer selatan Banda Aceh, saya sering mengajaknya minum kopi di kedai, yang jaraknya kurang dari semenit jalan kaki dari pos. Begitu masuk, perhatian Rokhim langsung tertuju ke seisi kedai. Dia selalu memilih tempat di pojok agar punggungnya aman dan leluasa memperhatikan semua orang yang keluar masuk. Kemudian dia memeriksa bagian belakang kedai, mengecek jalan pelolosan kalau ada gangguan dari depan dan sekaligus mencari tahu kemungkinan ada yang masuk ke kedai, lewat belakang, tanpa sepengetahuannya.

Dia juga selalu memperhatikan wajah pemilik kedai. Kadang dia mendekat, memperhatikan si empunya kedai meracik kopi, seperti ingin memastikan kalau kopi itu tak beracun.

Awalnya, tingkah Rokhim itu membuat saya geli. Tapi dia selalu punya jawaban setiap kali saya menertawakan kekhawatirannya. Pertama, dia tak ingin setor nyawa di Aceh. Dia punya seorang istri dan anak di Kediri. Kedua, dia membawa senjata yang harus dijaga. “Kalau ini jatuh ke tangan musuh, bisa lebih banyak tentara yang mati.”

Rokhim membawa SS. senapan serbu buatan Indonesia. Senjata itu istri keduanya. Ke mana pergi selalu dibawa. Bahkan saat tidur pun, dia ada dalam pelukan Rokhim. Saya jarang melihat dia melipat popor senapannya. Teorinya, popor yang terlipat membuat prajurit sukar menembak tepat. Menembak dengan popor terlipat hanya akan menghasilkan berondongan. Risikonya, yang bukan sasaran bisa berdarah dan amunisi dijamin mubazir.

Rokhim selalu memanjangkan tali sandang senjatanya. Dia yakin, itu akan memudahkan dirinya merapatkan popor ke bahu dan segera membidik. Itu belum semua. Tangannya selalu lengket di pistol grip (pegangan pelatuk) sementara telunjuk tegang di picu. Dia masih terbawa-bawa hukuman pelatihnya dulu yang mengikat tangan serdadu yang tak menempel di picu.

Di kalangan sejawatnya, Rokhim dikenal sebagai “raja” Taman Wisata Pagora, Kediri. Dia kadang melancarkan jalan serdadu yang kepengen berfoto dengan artis yang manggung di taman hiburan itu. Dia mengenal hampir semua orang yang kerja di situ. Istrinya, Yuni Wijayanti, bekerja sebagai penjaga loket di sana.

Rokhim suka musik dangdut. “Setiap tanggal muda artis datang. Cici Faramida sering. Yang paling mahal bayarannya itu yah, Vetty Vera …. sama kita itu biasa, lho. Mau foto-fotoan …. Ine Sinthya yang ketus orangnya. Nggak mau diajak ngobrol-ngobrol. Susah.”

Rokhim termasuk serdadu yang mudah diajak berteman. Jika sudah percaya, apa saja akan dilakukan untuk kenalannya. Sekali waktu, saya panik karena bloknot saya hilang sementara truk yang saya tumpangi akan berangkat. Tanpa diminta Rokhim turun mencari catatan itu. Komandan Batalyon dan dua truk serdadu terheran-heran melihat Rokhim mengubek-ubek semak-semak di sana. Sekiranya saya tak segera menemukan bloknot yang terselip di tas, saya kira dia tak akan naik ke truk.

Dia juga pernah merogoh kocek sendiri karena prihatin melihat saya kehabisan uang. Dia, seperti orang-orang pos lainnya, selalu memperhatikan keperluan saya. Pernah sekali dia menyindir saya karena urusan makan. “Situ kok nggak makan? Makanlah, tidak enak kalau teman-teman tersinggung. Mereka sudah masak, lho. Apa situ harus seperti raja. Makanannya diantarkan tiap saat?”

Urusan makan, Rokhim terbilang unik. Ada banyak makanan yang tak bisa lewat di tenggorokannya. Dia, misalnya, tak suka daging sapi, daging ayam (kecuali ayam kampung), ikan laut, telur, sayur-sayuran, dan masih banyak lagi. Menu favoritnya: nasi panas, tahu, tempe plus jus alpukat pakai susu kental manis coklat.

Di asrama dulu, istrinya rutin menyajikan sarapan termasuk membuatkan susu saban pagi. Yuni Wijayanti risih melihat berat badan suaminya tak naik-naik sementara prajurit lain berbadan subur. Tapi Rokhim tetap dengan seleranya. Jarang-jarang dia menyentuh sarapan yang dibuat istrinya.

Suatu malam, saat merebus mie di pos, Rokhim berikrar melahap apa saja yang disajikan istrinya jika bisa pulang selamat dari Aceh. Dia merasa gaya makannya selama ini tak menunjukkan kecintaannya pada istri.

Dia juga mencanangkan program “menggencar” Yuni dengan surat. Setiap tiga hari sekali, katanya, dia mau menulis surat. Khusus untuk anaknya, dia selalu mengingat dengan menuliskan namanya di kasur lipat: Muhamad Ikhsan Bagaskara.

Ada yang bilang, 90 persen penyakit tentara kita adalah suka mabuk. Rokhim masuk golongan 10 persen. Dia bahkan tak merokok sejak seorang komandannya di Timor Timur pada 1997 menghukumnya jungkir sampai muntah. Sembahyang dan mengajinya tak putus. Saat salat berjamaah, dia yang selalu melantunkan azan. Saban Jumat, dia rutin merapal Yasin dan Tahlil.

Kadang, tanpa diduga, dia bertanya tentang hal-hal yang membuat saya tak habis pikir. “Menurut situ apa kebebasan pers itu harus dibatasi?” Pertanyaan itu merujuk aneka jenis tabloid esek-esek yang banyak beredar di Aceh, gambar-gambar syurnya jadi hiasan dinding hampir semua pos.

Atau kali lain dia bertanya begini, “Jujur yah, Indonesia ini bagusnya kesatuan atau federal?”

“Mas, Munir itu ibunya PKI, yah?”

“Cut Keke itu apanya Abdullah Syafi’ie?”

Munir seorang aktivis hak asasi manusia terkemuka di Jakarta. Cut Keke artis cantik asal Banda Aceh, yang menempuh karier di Jakarta dan pernah menemui Panglima GAM Teungku Abdullah Syafi’ie sebelum Syafi’ie meninggal ditembak pasukan Indonesia pada 22 Januari 2002.

Rokhim termasuk serdadu yang dari kecil memang bercita-cita jadi tentara. Dia lahir di Mojokerto, Jawa Timur, 29 tahun silam. Berbekal ijazah SMA dia masuk dinas militer berpangkat Prajurit Dua, sembilan tahun lalu.

Di batalyon, kekuatan fisiknya masyhur. Dia dikenal jago lari dan renang. “Kalau ada junior saya yang malas-malas lari pasti saya tendang.” Dia senewen karena dulu pernah diperintahkan lari berkilo-kilo meski butiran-butiran batu menempel di tumitnya yang lecet.

Tapi sekarang Rokhim tak lagi bersemangat ikut lomba olahraga tempur. Kekecewaannya muncul setelah dia dua kali gagal mengikuti tes Sekolah Calon Bintara. Padahal, katanya, pernah ada perwira yang menjanjikan serdadu yang berprestasi akan direkomendasikan untuk ikut tes dan dibantu kelulusannya. Banyak serdadu yang mumpuni secara fisik dan mental, gondok setelah tahu kalau beberapa tentara yang kerjanya “hanya makan dan minum di batalyon” bisa lulus tes.

Nasib juga yang mempertemukan saya dengan Rokhim. Dia tahu saya hanya bermodal dengkul ikut dengan pasukan. Dia meminjami saya beberapa baju lengan panjang dan kaos tangan untuk jalan malam di hutan. Dia rela digigit nyamuk dan menyerahkan shebo-nya (penutup kepala) untuk saya pakai. Dia juga memberikan isi kotak obatnya; obat sakit perut, cairan anti nyamuk, pembalut luka, Betadine, dan lain-lain. Dia bahkan menyerahkan karet pengikat ujung celananya dan membiarkan betisnya jadi sasaran empuk lintah.

Dari Rokhim juga saya mendapat kursus singkat tentang gerakan militer. Pelajaran pertama teknik melompat dari truk. Ini penting karena banyak tentara berdarah-darah karena menyepelekan teori. Lompatan salah bisa bikin patah gigi, memar siku, atau luka lutut. “Saat menjejak tanah jangan tumit duluan. Syaraf bisa rusak. Kaki harus dalam posisi menjinjit dengan badan condong ke depan. Setelahnya, langsung lari cari perlindungan.”

“Kalau ada tembakan, jangan panik. Tanam kepala. Cari perlindungan secepatnya di batu, pohon atau apa saja yang kira-kira kuat. Jangan berlindung di pohon karet atau kelapa. Itu tembus peluru AK.”

“Kalau ada nyamuk atau lintah tahan saja. Nanti pas berhenti baru lepas lintahnya. Tapi jangan terburu-buru. Cari tembakau, perciki air sedikit dan teteskan ke tempat melengketnya. Nanti lintahnya jatuh sendiri. Kalau dipaksa dikeluarkan, sementara giginya masih menancap, akan gatal sekali.”

“Jangan banyak mengeluh. Tidak baik karena menghambat gerak pasukan.”

“Kalau jalan malam, jangan berisik. Harus senyap. Kaki jangan diseret-seret. Setiap melangkah, tumit duluan yang menjejak tanah. Baru kemudian bagian telapak kaki lainnya.”

“Jangan jalan paling belakang. Usahakan di dekat yang bawa senapan otomatis atau radio. Kalau ada tembakan, yang bawa SO (senapan otomatis) tugasnya mengikat tembakan. Dia akan diam di tempat dan tidak ikut lari bersama pasukan yang melambung. Mas nggak tahu medan, jadi mending tidak usah ikut. Kalau ketinggalan bagaimana?”

“Sebaiknya pakai lars. Nanti saya pinjami. Sepatu yang Mas pakai itu bisa hilang kalau kita masuk rawa.”

“Boleh merokok kalau sudah siang.”

“Kalau jalan jauh, jangan banyak minum. Kaki pasti berat melangkah. Di betis ini seperti digandoli air. Minum banyak nanti kalau pasukan berhenti lama. Kalau haus dan tidak ada air minum tahan saja. Kalau ditawari air, jangan ditenggak semua. Minumnya sedikit saja. Asal kerongkongan basah. Gelasnya pakai penutup veples. Praktis. Tidak usah takut sakit minum air tidak dimasak. Minum saja, nanti dimasak di perut.”

“Mas ini orang sipil. Kalau ada gerak pasukan di lapangan yang Mas tidak suka jangan diperlihatkan. Simpan dalam hati saja.”

SAYA tak bisa mengikuti nasihatnya agar selalu diam. Saya pernah merepet seharian setelah melihat seorang Aceh bernama Ruslan tewas ditenggo (ditembak) akhir September silam. Hari itu kami datang terlambat. Mayat Ruslan sudah tertelungkup di atas kolam ikan nila di belakang sebuah rumah di desa Tanjung, sekitar seperempat jam dari Meulaboh.

Beberapa serdadu di situ bilang kejadiannya baru saja. Tapi mayat pria yang seluruh rambutnya memutih itu sudah kaku. Rahangnya sulit dirapatkan. Saya kira kejadiannya sudah lebih dari sejam.

Satu regu serdadu yang ada di sana saat kejadian, sudah bergerombol di simpang jalan desa. Mereka sepertinya enggan berkotor-kotor mengurusi jenazah itu. Mereka cerita kalau Ruslan sudah dua kali mencoba melarikan diri. Saat mencoba peruntungannya yang ketiga, di hari yang sama, dia berubah jadi “laron merah” (istilah tentara untuk orang GAM yang mati tertembak).

Seorang serdadu mencoba membalik mayat yang telah membengkak itu. Jelaslah kalau ada sebutir peluru bersarang di perutnya. Saya juga melihat ada sebutir lagi di paha dan dada.

Tapi apa salah Ruslan sampai ditembak? Menurut seorang prajurit, Ruslan memang “target operasi.” Ruslan dianggap bagian logistik GAM. Saat ditangkap di rumahnya dan hendak digiring ke pos tentara terdekat, Ruslan melarikan diri meski telah diberi tembakan peringatan.

Saya sulit mengecek klaim itu. Dua-tiga letusan senapan di siang bolong sudah cukup membuat warga desa meringkuk ketakutan di rumah masing-masing.

Yang saya heran tak ada bekas ikatan di pergelangan tangan Ruslan. Kenapa tak ada yang berinisiatif mengikatnya setelah percobaan melarikan diri pertama kali? Saya juga heran kenapa mereka tak berpikir taktis sehingga memilih menembak seseorang yang informasinya mungkin sangat berharga? Berapa jauh sih larinya kakek berumur 51 tahun di area persawahan sehingga serdadu-serdadu muda itu tak dapat mengejarnya? Saya menaksir dari tempat Ruslan melarikan diri hingga tertembak, dia hanya sanggup berlari sekitar 30 meter.

Okelah kalau memang harus ditembak, tapi kenapa bukan dilumpuhkan saja? Tembak di paha saja? Tidak adakah satu di antara belasan serdadu itu yang bisa menembak tepat sasaran dalam jarak 30 meter?

Saya tak sempat menggali lebih dalam. Hanya 10 menit saya di dekat jenazah Ruslan. Setelah itu, truk yang saya tumpangi pergi ke tempat lain.

Sebelum cabut, dengan menahan mual mencium amis darah, Rokhim berinisiatif menutup mata Ruslan yang membelalak itu dan mengangkat mayat Ruslan ke tanah kering. Seorang serdadu lainnya menutupi jenazah dengan atap rumbia.

Keesokan harinya, saya bertemu lagi dengan beberapa serdadu yang ada saat penembakan Ruslan. Saya ingin mengorek informasi lebih dalam. Tapi saya mengurungkan niat itu setelah seorang di antaranya ngeles, beralasan tak berada di tempat kejadian. Padahal jelas-jelas dia yang mengulurkan kepada saya kartu tanda penduduk Ruslan, penduduk desa Palimbungan, kecamatan Kaway XVI.
 
Saya protes kepada Rokhim. Dia lebih banyak diam mendengarkan repetan saya.

“Semoga saja benar-benar GAM,” katanya.

Ucapan singkatnya itu mengingatkan saya pada salah satu butir “Prinsip-Prinsip Dasar Menghancurkan Insurjensi” yang diterbitkan Komando Resort Militer Teuku Umar yang salinannya ditempel di setiap pos tentara. Bunyinya kira-kira begini: menghilangkan satu nyawa tak berdosa sama dengan menciptakan 1.000 musuh.

Rokhim mungkin tahu saya tak akan diam. Tapi hubungan kami tetap baik. Dari teman-temannya saya tahu kalau dia termasuk serdadu yang disegani kendati sehari-hari dia hanya bertugas sebagai sopir cadangan. Jarang-jarang ada serdadu yang berani sesumbar jika ada Rokhim di situ.

Di atas truk, Rokhim jaya. Disuruh mengemudikan mobil apa saja dia bisa. Dari yang pakai per keong sampai yang bannya 10 biji. Dia juga pemegang rekor 10 kali selamat dari penghadangan GAM di atas truk.

Rokhim dua kali ikut pendidikan pasukan penyergap Rajawali, 1997 dan 1999. Kurun itu, dia ikut sebagai pasukan pemburu di Timor Timur dan Aceh. Baru pada 2002 dia ikut sebagai pasukan kerangka atau teritorial.

Pada 1999, Jakarta mengirim sekitar 1.500 orang Pasukan Rajawali ke Aceh Utara dan Pidie. Rokhim dapat Pidie. Dia masih ingat sebagian pengarahan komandan Kopassus Mayor Jenderal Prabowo Subianto, menantu Presiden Soeharto, sebelum Rajawali diterbangkan ke Aceh.

“Gini pesannya,” kata Rokhim menirukan Prabowo, “Prajurit saya harus seperti Hanoman. Tidak boleh sombong. Berani …. kalau dapat satu pucuk M16, saya bayar Rp 5 juta …. kalau SP (senjata kayu) Rp 1 juta. Kalau dapat gembongnya GPK …. Rp 100 juta. Saya akan datang ke tempat TKP. Saya tidak bisa datang, kirim kepalanya!”

“Bilang gitu. Aaaaapa nggak gila! Saya senang bener itu …. saya masih ingat. Wah, mantap bener,” kata Rokhim.

Di Pidie, Rokhim melihat bangunan-bangunan sekolah dan kantor-kantor pemerintahan yang luluh lantak. Dia juga menyaksikan kecemasan warga Aceh saat melihat tentara kembali masuk ke pedalaman Aceh pasca pencabutan status Daerah Operasi Militer oleh Presiden B.J. Habibie pada akhir 1998.

Sekitar sembilan bulan Rokhim di Pidie. Dan dia paling senang bercerita tentang pengalamannya mengubek-ubek hutan dan mengendap-endap di pelosok.

“Apa khasnya pengendapan (Rajawali)?” tanya saya suatu waktu.

“Pake sandi. Hari ini pake ikat kepala hijau, umpamanya. Besok pagi, lengan baju kanan dinaikkan. Kadang baju dibalik. Celana pun kadang dibalik.”

“Apa kalau ada (GAM) langsung sikat?”

“Yang bersenjata aja.”

“Apa diberhentiin dulu?”

“Ngapain? Bersenjata sikat langsung. Nggak ada berhenti. Itu pun nembaknya kalau sudah bener-bener bersenjata. Kalau nggak bersenjata ya nggak ditembak. Masyarakat berarti. Dulu itu buka tembakan di sini susah. Nggak boleh nembak-nembak. Kalau tidak bersenjata nggak boleh ditembak. Kalau ada yang bersenjata, kita tembak yang bersenjata. Yang nggak, ya nggak. Harus titik bidik titik kena. Tapi kalau orang sini ‘kan kernetnya yang banyak. Satu pucuk kernetnya lima. Jadi satu ditembak satu ngambil lagi. Ya ditembak lagi …. hahahaha …. sampai lima orang …. kan repot. Maunya pimpinan ditembak satu. Saya sebenarnya kasihan ‘kan. Tapi kalau dia ngambil tembak lagi. Ngambil tembak lagi.”

“Bagaimana pertama kali nembak?”

“Biasa. Saya yakin kalau pertama takut. Nggak kena. Ngawur. Kalau perasaan kena, ya kena itu. Nggak yakin berarti nggak kena. Tapi kalau udah dua kali tiga kali ya pasti kena. Harus tenang.”

Di Aceh Rokhim baru bisa menembak musuh dan pertama kali kena pada 5 November 1999. “Jam tujuh pagi (kami) istirahat. Mau lanjutkan perjalanan dengar suara motor Honda GL Pro …. truuunggg. Kita sembunyi. Dia tujuh orang, empat motor. Kita ada satu kompi. Waktu lewat wah …. ternyata GAM. Kita hajar. Pang-pang-pang. Kena semua.”

“Habis kontak ada dua orang masuk. Bawa semprotan padi. Kita periksa di BOD (basis operasi depan). Kita tanya baik-baik.”

“Apa dibilang Bapak saya, Bang,” kata seorang pemuda yang diinterogasi pagi itu, “‘Nak, kamu jangan ikut-ikutan GAM. GAM itu nggak bakalan merdeka. Jadilah orang baik-baik saja.’ Pesan ayah saya gitu, Bang. Bener Bang. Sumpah Bang. Saya bukan GAM.”

Si pemuda kembali meyakinkan dengan mengulang kalimat yang sama. Beberapa serdadu sudah berpikir untuk melepas pemuda itu.

Tapi seorang serdadu yang sedari tadi mengamati interogasi itu bertanya-tanya. Dia terus berpikir dan teringat secarik foto -guntingan koran- di ranselnya. Foto itu memuat pose Panglima GAM Teungku Abdullah Syafi’ie, yang dikelilingi sejumlah pengawalnya. Buru-buru dia mengambil foto itu dan mengamatinya. Anak muda itu …. anak muda itu ternyata berdiri memegang handy talky di samping Syafi’ie!

“Ini foto siapa?”

“Bukan saya, Bang.”

“Apa kau bilang …!”

“Ini foto siapa?”

“Betul Bang, ini bukan saya Bang. Ayah saya bilang, ‘Nak kamu jangan ikut-ikutan GAM. GAM itu nggak bakalan merdeka. Jadilah orang baik-baik saja." Pesan ayah saya gitu, Bang. Bener Bang. Sumpah Bang. Saya bukan GAM.”

“Akhirnya dia …. pura-pura goblok ‘kan dia. Ngomong sama orang goblok ya ‘disekolahkan’ biar pandai.”

“Disekolahkan” adalah bahasa slang tentara Indonesia untuk eksekusi mati bagi anggota GAM yang tertangkap. Pasukan Brigade Mobil (Brimob) menggunakan istilah “kosong-satu” untuk hal yang sama.

Cerita soal kontak di Cot Mamplam, Keumala, itu juga saya dapatkan dari seorang bintara yang juga ada di lokasi. Dia membenarkan cerita Rokhim. Dia sendiri malah ingat identitas salah seorang yang “disekolahkan” itu.

Menjelang akhir September, saat batas waktu saya ikut dengan pasukan teritorial habis. Rokhim menyemangati saya untuk ikut dengan pasukan gerak.

“Cerita sebenarnya ada di front,” katanya, “Ini sudah masuk musim hujan. Wah pasti mantap masuk hutan. Saya doakan situ diguyur hujan malam-malam. Tidak usah takut. Nanti lihat bagaimana caranya tentara tidur saat hujan. Nanti badannya pasti kekar. Sehat. Nanti kita cari sepatu boot. Itu enak dipake masuk rawa.”

Rokhim berharap-harap saya bisa ketemu GAM di hutan. Dia pernah mengatai saya penakut karena tak mau ikut penyerbuan ke daerah Kuala Tripa. “Itu kesempatan emas. Kenapa tidak diambil? Kapan lagi bisa dapat kesempatan seperti itu? Kalau ikut, situ akan tahu tentara kita berani apa tidak kalau dengar AK.”

Saya cerita kalau saya sungkan ikut karena yang punya hajat pasukan gabungan dari Kostrad dan Kopassus. Saya belum “diserahterimakan” kepada komandan dua pasukan itu. Saya juga tak mau dikira tergila-gila bertemu GAM. Selain itu saya sudah diberi tahu kalau medannya berat. Mesti pakai berenang di sungai dan masuk rawa segala.

Tapi Rokhim tak percaya. Hampir seharian dia menyindir saya. “Kalau takut sama sungai lebar, berenang pakai ponco saja. Lepas baju lepas celana. Sepatu digantung di leher. Ponco diikat ujungnya trus …. kluk-kluk-kluk …. pasti mengapung sampai di sebelah. Ah, situ memang penakut!”

Memang, pasukan gabungan yang berangkat ke Kuala malam itu bertemu GAM. Dua orang serdadu GAM tewas dan satu pucuk senapan pelontar granat rakitan berhasil disita. “Semalam kita sudah masuk killing ground. Kontak selama berjam-jam. Untung nggak ikut,” cerita seorang Sersan Satu.

Sekitar sebulan lamanya saya pergi dengan Rokhim. Ke mana dia pergi saya ikut. Sampai suatu saat Rokhim jengah setelah seorang perwira pertama bertanya, “Rokhim, mana body system kamu?”

Body system adalah istilah yang sering digunakan pasukan gerak. Dalam setiap gerakan, setiap prajurit punya seorang pendamping. Bukan sekadar pendamping. Pendamping itu harus tahu segala hal menyangkut rekannya, dari ujung kaki sampai ujung rambut, dari warna celana dalam hingga berapa jumlah uang di dompet.

Ditanyai begitu, Rokhim sepertinya menyadari sesuatu. Selama ini dia praktis menghabiskan waktunya dengan saya. Ke mana dia pergi selalu ada saya. Dia nyaris tak punya banyak kesempatan bergaul dengan rekan-rekannya. Suatu malam, Rokhim membuka pembicaraan, “Mas ini saudara saya. Tapi mulai sekarang kita jaga jarak yah. Saya nggak enak sama anak-anak yang lain. Mas hanya dua bulan di sini.”

Saya berpisah dengan Rokhim awal Oktober silam. Saat itu, dia masih menanggung sakit yang sudah sebulan tak mau hilang: sariawan. “Mas kalau ketemu istri saya tidak usah cerita yang sengsara-sengsara di sini, yah.”


[Dimuat di Majalah Pantau edisi 3 Februari 2003]
bersambung ... 

☆ Baik buruk suatu peristiwa, tercatat dalam dokumen menjadi sejarah ☆

Kejarlah Daku Kau Ku "Sekolahkan" (1)

Ini merupakan salah satu karya yang dimuat Alfian Hamzah, di antara ke tujuh wartawan dalam buku “Jurnalisme Sastrawi” yang memuat beritanya di Majalah Pantau, edisi 3 Februari 2003.

Ilustrasi Pasukan TNI naik kapal
MEREKA memulai perjalanannya dari pelabuhan Armada Laut Timur Ujung di Surabaya. Sekitar 700-an serdadu dari Batalyon Infanteri (Yonif) 521/Dadaha Yodha menyemut di bibir dermaga, menunggu giliran naik ke kapal Teluk Bayur. Mereka akan berlayar ke Aceh, medan perang yang jaraknya 3.000 kilometer, dari asrama mereka di Kediri. Di dermaga, seorang gadis berambut kepang mencari-cari sesosok wajah. Saat kapal beringsut meninggalkan Surabaya, pipinya basah dengan air mata.

Suasana di atas kapal mirip pasar tumpah. Orang lalu lalang tapi ruang terbatas. Prajurit hanya diizinkan menggunakan anjungan geladak. Ada terpal besar yang menutup seantero geladak. Para serdadu ini sukar tidur nyenyak. Matras tak dapat diandalkan melawan permukaan dek yang keras. Ruangan sempit. Tidur berdesak-desakan. Punggung yang semestinya rebah di matras terganjal ransel. Hanya kaki yang bisa diluruskan.

Mereka mengisi waktu luang dengan bercengkerama atau bermain kartu. Sesekali mereka menyumpahi nenek moyangnya saat melihat kapal perang mereka disalip kapal barang di laut lepas. Kedongkolan itu bertahan sehari, dua hari, lima hari, sepekan …. hingga kapal Teluk Bayur merapat di pelabuhan Malahayati, Banda Aceh, 18 Juni 2002. Untuk pelayaran yang biasa ditempuh tiga hari dengan kapal komersial, para serdadu Kediri ini menghabiskan delapan hari.

Sehari sebelum merapat di Banda Aceh, Teluk Bayur membongkar sebagian muatannya di Lhokseumawe. Pertimbangannya, perairan Malahayati relatif dangkal. Sukar merapat jika muatan kapal penuh. Di Lhokseumawe, empat truk Mercedes-Benz, satu ambulans dan satu jip komandan batalyon diturunkan dan segera bergerak ke Banda Aceh, menyusul rekan mereka yang akan tiba di sana keesokan harinya.

Prajurit Kepala Muhamad Khusnur Rokhim ditunjuk sebagai pemandu jalan.

“Kami berangkat,” kata Rokhim, “(Dikawal) tim khusus satu peleton. Tiga puluh orang. Senjata lengkap. Saya bilang ke anak-anak, di sini sudah masuk Aceh, jangan kaya "tugas di Ambon, Timor Timur. Tidak ada apa-apanya. Di Aceh, sejengkal tanah tidak ada yang aman.”

“Keluar dari Lhokseumawe, kita menuju ke Bireun. Bireun ‘kan rawan? Perjalanan Lhokseumawe ke Bireun aman. Lepas Bireun ke Peudada. Saya kasih tahu ini titik rawan. Medan terbuka. Waspada!”

“Masuk ke Bandar Dua. Saya kasih tahu juga.”

“Uleglee, hati-hati!”

“Habis Trienggading masuk Luengputu. Nah di situ kelapa-kelapa ‘kan banyak! Saya kasih tahu, ‘Awasi ketinggian!’ Mobil jalan terus. Sampai Luengputu dua mobil yang mengawal sejak dari Lhokseumawe pulang. Alasannya sudah dekat kota. Sigli 100 persen aman. Saya tetap nggak yakin. Tidak ada di sini aman. Saya juga (pernah) di sini. Lama. Saya bilang ke kawan-kawan, ‘Hati-hati di depan, samping kanan-kiri.’”

Sebelum bertolak ke Sigli, konvoi berhenti di kantor Komando Rayon Militer (Koramil) Geulumpang Minyeuk, kecamatan Geulumpang Tiga, kabupaten Pidie. Letnan Dua Ruben Rihi turun menanyakan kondisi perjalanan ke Sigli. “Saya jamin sini ke Kodim Pidie,” kata orang Koramil. Ruben Rihi lega. Konvoi kembali bergerak. Ruben ikut truk Rokhim, jalan paling depan. Selepas kitar 200-an meter, laju kendaraan yang berlapis baja tiga milimeter itu terganggu. Ada segerombolan sapi melintas.

Perasaan Rokhim mendadak tak enak. Tapi dia tak ingin menurutinya. Medan di seputarnya berbicara lain: bukan medan kritis. Tak ada ketinggian. Di kiri jalan, ada pertigaan yang menghubungkan jalan besar dengan sekolah di sana. Dia melihat serombongan murid bergerak ke arah simpang itu. Tak jauh dari sekolah ada rimbunan pohon kelapa, sagu, dan nipah.

Sapi telah lewat. Jalan telah bersih. Konvoi kembali bergerak. Truk paling belakang telah melewati simpang tiga itu. Lewat jendela, Rokhim melihat ada mobil penumpang dan sepeda motor bergerak dari arah berlawanan. Ada pompa bensin tak jauh di depan sana. Ramai orang di situ.

Konvoi telah bergerak sekitar 500 meter meninggalkan Koramil.

Tiba-tiba …. rrrreetttttttttttt-ret-rettttttttt …. tang-tang-tang.

Ada AK-47 yang menyalak dari rimbunan kelapa tadi. Sekitar dua menit lamanya, menyasar bak truk paling depan. Baja pelindung tangki angin mobil Rokhim jebol. “Tang-tang-tang …. tang-tang-tang.”

Di bak belakang, Ruben Rihi dan beberapa serdadu pengawal terperanjat. Belum sehari mereka di Aceh sudah disiram tembakan. Seisi bak sontak menyembunyikan kepala. “Peluru sejengkal di atas kepala,” kata Ruben.

Sersan Satu Handoko ada di jip komandan. Dia berjuang mengatasi kekagetannya. Untung, peluru sudah di kamarnya. Buru-buru dia membuka kunci. Senjata otomatis Minimi buatan Belgia di tangannya menyalak. Sayang, sentakan gas mobil membuat tembakannya tak terarah. Dia terpelanting. Jatuh.

“Kami,” kata Rokhim, “Mau turun (tapi) ngeri juga karena medan terbuka. Melarikan diri itu jalan satu-satunya.”

Konvoi meninggalkan tempat penghadangan selekas mungkin. Tak ada yang celaka siang itu. Tapi ketegangan di wajah mereka baru cair sejam kemudian. “Goreng jagung” di siang bolong itu, demikian beberapa prajurit menyebut dentingan proyektil menghantam pelat baja mobil, membekas di benak banyak serdadu Indonesia yang ditugaskan di Aceh. “Sejak itu saya ndak percaya lagi sama orang Aceh. Ini menyangkut nyawa. Kalau ada (orang) Koramil waktu itu, sudah saya hantam. Orang Aceh itu (memang) tidak bisa dipercaya,” kata Letnan Dua Ruben Rihi.


[Dimuat di Majalah Pantau edisi 3 Februari 2003]
bersambung ... 

☆ Baik buruk suatu peristiwa, tercatat dalam dokumen menjadi sejarah ☆

★ Tiram

Ⓤntuk memenuhi kebutuhan pedukung Alutsista TNI, Pertamina dan Departemen Kelautan dan Perikanan dalam perairan, dibutuhkan Kendaraan Selam Tanpa Awak. BPPT menciptakan prototipe Robot Bawah Air ini berbeda dengan Sotong, dan di beri nama 'Tiram', seperti nama hewan laut.

Fungsi prototipe robot bawah air ini adalah pengamatan dan pengambilan sample di dasar laut. Robot ini dikendalikan secara Remotly Operated Under Water Vehicle (ROV) melalui kabel penghubung.

Robot ini dilengkapi lampu kamera, lampu penerangan dan lengan manipulator Robotik untuk mengambil sample di dasar laut.

Prototipe Tiram yang telah diujicoba ini hasil kerjasama bersama dengan ITB, Bandung. Kedepan pengguna robot bawah air ini selain TNI AL, adalah Pertamina, Departemen Kelautan dan Perikanan, dan Industri swasta.(♆)

Spesifikasi :
    ⚓ Dimensi : 1,200 m x 0,800 m x 0,800 m
    ⚓ Diameter : 737 mm
    ⚓ Berat : 130 kg
    ⚓ Kedalaman Operasi : 300 m
    ⚓ Kecepatan Jelajah : 4 knots
    ⚓ Sumber Daya : 110 Volt AC
    ⚓ Kamera : Colour High Resolution

Berikut Foto Tiram :


Demi Timor Timur

Batalyon 405 Persembahkan 52 Prajurit

PENGORBANAN bangsa Indonesia untuk Timtim sudah cukup besar. Tetapi sekarang kita harus rela kehilangan bumi Loro Sae. Kenyataan telah menunjukkan kelompok prokemerdekaan yang memenangi jajak pendapat yang diselenggarakan PBB itu.

Salah satu pengorbanan besar bagi Timtim telah disumbangkan oleh Batalyon 405 Suryakusuma, Cilacap. Yon 405 yang kini markasnya telah pindah ke Wangon, Kabupaten Banyumas itu pantas dicatat dalam sejarah sebagai batalyon yang mempunyai andil besar dalam proses integrasi Timtim ke Republik Indonesia.

Lalu, apa andil besar batalyon itu untuk Timtim? Menurut penuturan
mantan anggota Yon 405, Serma (Purn) Rasiman (58), pada 15 April 1976 satu truk pasukan dari batalyonnya yang dikirim ke Timtim, gugur setelah diberondong peluru Fretilin.

Peristiwa itu terjadi pada saat truk pasukan tersebut dalam perjalanan
menuju pegunungan Aitutu. Pasukan dari Yon 405 sengaja dikirim ke Pegunungan Aitutu untuk membebaskan rakyat Timtim dari ancaman kelompok Fretilin.

''Pada waktu itu, di pegunungan Aitutu ada penduduk yang hidup di
bawah ancaman Fretilin. Hidup mereka hanya sebagai sapi perahan. Sebab, mereka setiap hari dipaksa untuk menyediakan makanan dan minuman bagi pasukan Fretilin yang bersembunyi di pegunungan itu. Sehingga, jiwa mereka terancam,'' katanya.

Rasiman yang saat itu masih berpangkat kopral satu ikut dikirim ke
Pegunungan Aitutu. Pada saat itu dia termasuk salah satu prajurit yang berada di atas truk nahas tersebut.

Menurut ceritanya, pada saat truk yang ditumpangi akan memasuki daerah
Pegunungan Aitutu, tiba-tiba di depan terlihat ada kayu panjang yang mencurigakan. Kayu itu tertancap di pinggir jalan. Truk yang ditumpangi itu pun melanjutkan perjalanan.

Namun, begitu melewati kayu yang tertancap di pinggir jalan itu,
tiba-tiba dihujani tembakan dari atas tebing. ''Rupanya kayu itu merupakan tanda bagi Fretilin untuk memulai serangan. Begitu ada kendaraan yang melewati tanda tersebut, mereka langsung menembaki,'' tuturnya.

Mendapat berondongan tembakan, dia bersama prajurit yang lain langsung
membalas. Namun tembakan balasan itu tak mampu menekan serangan Fretilin. Banyak prajurit Yon 405 yang meninggal terkena peluru Fretilin pada berondongan pertama.

Dia berusaha membalas tembakan itu. Namun dia terpaksa menghentikan
tembakan setelah melihat rekannya yang ada di sebelah terkena tembakan di bagian leher.

Rasiman kemudian memapah prajurit yang tertembak keluar dari lokasi
baku tembak. Di leher rekannya itu ternyata telah bersarang sejumlah peluru.

''Saya sangat bersyukur karena tubuh saya tidak terkena tembakan.
Bahkan saya dapat menyelamatkan teman saya yang tertembak di bagian lehernya. Setahu saya, teman saya itu sampai sekarang masih hidup. Sedangkan teman saya dari Yon 405 yang meninggal pada saat terjadi baku tembak itu, 52 orang,'' katanya.

Menurut Rasiman, situasi di Timtim pada 1976-an betul-betul sangat
gawat. Karena setiap ada pasukan ABRI masuk Timtim, langsung ditembaki oleh Fretilin. Pada waktu itu pasukan Fretilin sudah bersembunyi di sekitar pelabuhan.

Hal itu juga dialami prajurit Yon 405. Ketika kapal yang membawa
pasukan Yon 405 akan merapat, tiba-tiba diserang oleh Fretilin. Semula kapal itu akan kembali ke tengah lautan, tetapi dibatalkan. Akhirnya, kapal tetap merapat di dermaga.

''Begitu kapal merapat, seluruh prajurit langsung lari berpencar
sambil membalas serangan Fretilin. Terjadilah kontak senjata antara pasukan RI dan Fretilin. Kami diperintah membalas serangan karena pihak Fretilin sudah menyerang kami sejak kapal RI masih berada di laut,'' ungkapnya.

Purnawirawan yang kini tinggal di Kelurahan Donan, Kecamatan Cilacap
Tengah, itu mengaku tak habis pikir dengan sikap PBB yang berkesan memaksa Pemerintah Indonesia untuk mengadakan jajak pendapat di Timtim. Apalagi hasil jajak pendapat tersebut memaksa Pemerintah RI untuk melepaskan Timtim.

Meskipun integrasi Timtim ke Indonesia sudah sah dan ditetapkan MPR.


''Begitu hasil jajak pendapat diumumkan dan prokemerdekaan menang,
perasaan saya terasa hancur. Saya merasa seakan-akan kerja keras dan perjuangan saya selama bertugas di Timtim hilang seketika,'' ujarnya.

Pemerintahan BJ Habibie, menurut dia, seharusnya tak menerima
permintaan PBB untuk mengadakan jajak pendapat.

Alasannya, karena PBB pasti mempunyai target sendiri setelah Timtim
lepas dari Indonesia. Sehingga, PBB (UNAMET) tak mungkin bersikap netral dan akan memperjuangkan Timtim secara tulus.

Komentar yang sama juga diungkapkan Ny Sulastri (58), janda Koptu
Sutarso, anggota Yon 405 yang pernah bertugas di Timtim. Janda dengan tujuh anak yang kini tinggal di Jl Cempaka, Kecamatan Cilacap Selatan, itu juga mengaku kecewa karena Timtim harus berpisah dengan Indonesia. Meskipun bumi Loro Sae itu belum dinyatakan lepas dari RI secara resmi.

Ny Sulastri berkisah, suaminya, Koptu Sutarso, ditugaskan ke Timtim
tahun 1975. Keberangkatannya bersama prajurit Yon 405 yang lain, bagi dia sudah merupakan perpisahan yang sangat memberatkan hidupnya.

Kenyataan, sejak saat itu dia tak hanya harus berpisah dengan
suaminya, tetapi juga harus membiayai sendiri kehidupan keluarganya.

Gaji seorang prajurit pada saat itu masih sangat minim. Dia harus
bekerja keras, membanting tulang untuk memenuhi kebutuhan dirinya dan anak-anaknya.

"Prajurit yang diberangkatkan bersama-sama suami saya, banyak yang
gugur. Saya tetap kecewa kalau Timtim lepas dari RI. Bagaimana tidak kecewa, sudah lama bersatu kok tiba-tiba harus dipisahkan. Lalu di mana penghargaan untuk pahlawan yang telah gugur di Timtim?'' kata Ny Sulastri. (Agus Sukaryanto-33k)


[sumber koran WAWASAN, 13 September 1999 Berita Utama diposkan pemakan mayat]

*Penghadangan truk Yonif 405 pada 15 April 1976 di Pegunungan Aitutu. 33 orang gugur, dari buku sejarah kesatuan Brigif-4 Dewa Ratna terbitan tahun 1979.
*Versi lain dari koran lokal WAWASAN Semarang pernah memuat kejadian ini sekitar tahun 1999 tapi jumlah yang gugur berbeda yaitu 52 anggota.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...