Pembahasan mengenai Rancangan Undang - Undang (RUU) Industri Pertahanan sudah dimulai sebagai langkah lanjut prioritas Program Legislasi Nasional 2012. Hal ini juga sejalan dengan proses transformasi militer Indonesia yang bertujuan untuk membangun militer yang profesional.
Artikel ini melihat aspek-aspek apa saja yang harus diperhatikan dalam upaya membentuk industri pertahanan Indonesia yang ideal. Secara historik dan empirik, beberapa negara telah mengembangkan industri pertahanannya dan berbagai pengalaman tersebut tentu dapat diambil sebagai rujukan bagi Indonesia untuk mengembangkan model pembangunan industri pertahanannya sendiri. Setidaknya terdapat tiga aspek utama yang harus diperhatikan apabila Indonesia secara sungguh-sungguh berniat untuk membangun industri pertahanannya.
Aspek pertama adalah aspek institusional. Hampir semua negara berkembang memutuskan untuk membangun industri pertahanannya atas dasar motivasi politik dan strategik. Brasil misalnya pada awalnya mengembangkan industri pertahanan sebagai legitimasi kepemimpinan militer yang kemudian tetap diteruskan oleh pemimpin sipilnya untuk mempertahankan warisan dukungan rakyat.
Turki sebagai contoh lain mengembangkan industri pertahanannya setelah mengalami embargo setelah Perang Siprus sehingga untuk memenuhi kebutuhan alutsistanya harus mengembangkan industri pertahanan domestik. Dengan asumsi dasar bahwa industri pertahanan dikembangkan untuk tujuan politik dan strategik, sebagai konsekuensi logisnya, pemerintah berkewajiban melindungi industri ini sepenuhnya.
Karena itu, aspek institusional mensyaratkan komitmen pemerintah terutama dalam melakukan proteksi terhadap industri strategis ini. Komitmen dan proteksi ini seharusnya diimplementasikan dalam pembuatan cetak biru pengembangan industri pertahanan sehingga perubahan pada level pembuat kebijakan tidak dapat secara otomatis meniadakan proses pembangunan yang tengah berlangsung.
Aspek kedua adalah aspek kerangka industrial. Secara teoretik, Joseph Schumpeter memberikan dua mekanisme sebagai agen perubahan dalam konteks inovasi. Pertama, industri kecil dengan inovasi entrepreneur dan industri besar dengan inovasi manajerial. Secara empirik, berbagai negara melakukan audit dan konsolidasi industri pertahanan untuk memastikan kinerja yang efektif dan efisien.
Amerika Serikat misalnya mengonsolidasikan lebih dari ratusan perusahaan dalam industri pertahanannya dan melakukan konsolidasi terutama untuk mempertahankan performa efektivitas dan efisiensi industri pertahanan. Selain itu, aspek kerangka industrial juga mengharuskan Indonesia untuk memilih dari kemungkinan tiga pilihan model yang sering muncul dalam perkembangan industri pertahanan.
Model pertama adalah model autarki. Model ini misalnya diadaptasi oleh Turki dan Korea Selatan,yang walaupun kontradiksi dan masih menjadi dengan nilai impor senjata terbesar di dunia, keduanya berusaha membangun industri pertahanannya untuk kemandirian domestik. Model ini mensyaratkan kuatnya negara ataupun konglomerasi nasional untuk bisa mendukung proses kemandirian industri pertahanannya.
Industri pertahanan Turki didukung dengan peran negara yang sangat besar, sementara Korea Selatan didukung konglomerasi besar seperti Samsung dan Daewoo untuk menyokong kemandirian industri pertahanannya. Pilihan model kedua adalah industri ceruk (niche) yang dikembangkan misalnya oleh Israel. Industri ini mengkhususkan pada pengembangan teknologi maupun instrumen pertahanan yang belum ditawarkan dalam industri yang sudah berkembang.
Industri ceruk dalam konteks pertahanan sangat menggantungkan diri kepada keuntungan komparatif yang dimiliki sebuah negara misalnya keunggulan komparatif dalam teknologi misalnya kemampuan reverse technology seperti yang dimiliki Israel dan China. Pilihan model ketiga adalah menjadi bagian penyokong dalam rantai industri pertahanan global.
Selama bertahun tahun Singapura telah menjadi bagian dalam industri pertahanan global walaupun Singapura tidak dikenal sebagai salah satu produsen senjata ataupun platform tertentu. Ketiga model ini tetap membutuhkan kejelasan kerangka industri yang harus dibangun untuk menyokong industri yang strategis ini. Israel misalnya membentuk institut khusus yang membawahi ekspor dan kerja sama internasional untuk memfasilitasi kesempatan dagang dan kerja sama untuk mendukung industri pertahanannya.
KCR 60 PAL (design by incoherrent)
Aspek ketiga yang harus diperhatikan adalah aspek legal. Aspek legal ini mengharuskan Indonesia untuk mempertimbangkan aturan-aturan yang ada di tingkat regional dan internasional karena Indonesia adalah bagian dari komunitas global dan regional. Di tingkat internasional selama ini hanya ada rezim pendaftaran senjata konvensional yang mendasarkan keikutsertaan mendaftarkan senjata dengan basis sukarela, namun tidak ada aturan jual beli senjata yang secara signifikan membatasi Indonesia untuk menjual senjata di tingkat internasional.
Di tingkat regional Indonesia terlibat dalam pembentukan komunitas ASEAN yang secara normatif berniat menghilangkan penggunaan kekerasan dalam penyelesaian konflik. Tapi lagi-lagi, tidak ada aturan khusus yang secara spesifik membatasi Indonesia untuk mengembangkan industri pertahanannya. Selain aspek legal di tingkat internasional, Indonesia juga harus memperhatikan regulasi-regulasi di tingkat nasional.
Secara khusus, Indonesia harus melakukan harmonisasi baik untuk regulasi industri, ekspor-impor, maupun perlindungan terhadap kekayaan intelektual yang dibutuhkan untuk menyokong tumbuhnya industri pertahanan nasional.
Berdasarkan penjelasan di atas, revitalisasi industri pertahanan nasional yang sudah diinisiasi pemerintah tampaknya tidak boleh hanya dianggap sebagai proyek nasional semata. Tumbuh kembangnya industri pertahanan sebuah negara membutuhkan komitmen yang kuat serta kepemimpinan yang konsisten dan berkesinambungan.(ALEXANDRA RETNO WULAN Peneliti Departemen Politik dan Hubungan Internasional di Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Jakarta)
Senjata penangkis serangan udara jarak sedang buatan China tahun 2000 ini terdiri atas meriam 23 mm / Giant Bow dan kendaraan BCV (Battery Command Vehicle). Meriam 23 mm / Giant Bow merupakan kategori Twin Gun
karena memiliki laras ganda kaliber kecil. Senjata ini merupakan
senjata efektif untuk melawan sasaran udara yang terbang rendah serta
memberikan aplikasi pengoprasian pertahanan udara dengan mobilitas
tinggi.Senjata ini digunakan Arhanud TNI AD sebagai pertahanan titik. Konon katanya Indonesia memiliki 18 unit yang tersebar di satuan Arhanud TNI AD.
Meriam ini dapat di operasikan dalam tiga mode yakni Mode otomatis penuh (dikendalikan secara penuh dan otomatis melalui BCV).
Yang
kedua adalah mode semi otomatis (Di kendalikan dengan dukungan tenaga
listrik dari baterai yang di miliki meriam itu sendiri).
Dan ketiga adalah mode manual yaitu di kendalikan oleh awak meriam.
Kendaraan BCV bukan hanya sebagai sistem komando namun merupakan FCS (Firing Control System) dari senjata meriam 23 mm / Giant Bow.
Di pabrik senjata terbesar di Cina, tim yang dipimpin langsung
oleh Asisten Operasi KSAD, Mayjen Iwan Ridwan Sulandjana, itu melakukan
pengujian sistem radar Giant Bow dan Battery Command Vehicle (BCV).
Barang-barang buatan Norinco ini direncanakan untuk meng-up grade sista
Giant Bow I yang telah dimiliki TNI-AD.
Dalam
laporannya kepada KSAD --ketika itu masih dijabat Jenderal Djoko
Santoso-- tim Mabes TNI-AD menyaksikan uji
fungsi radar dan BCV di daerah penembakan di Ashlan, Mongolia. Norinco
juga mempertontonkan uji coba sistem rudal Giant Bow II, dan menawarkan sebagai pengganti Rapier. Tim Mabes TNI-AD juga menyarankan agar sistem Giant Bow II
dijadikan alternatif pengganti Rapier.
Laporan
itu lalu diperkuat dengan keluarnya surat keterangan Nomor
Sket/11/II/2007, yang menyatakan bahwa uji fungsi radar dan BVC sista
meriam 23 mm Giant Bow buatan Norinco telah dilakukan. Dalam surat
tertanggal 19 Februari 2007, yang ditandatangani Kepala Dinas Penelitian
dan Pengembangan TNI AD, Brigjen Nardi Sumardi, dinyatakan bahwa sistem
radar, BCV sista meriam 23 mm, dan rudal TY 90 Giant Bow II memenuhi
syarat untuk dijadikan alternatif aset TNI-AD.
Spesifikasi :
Kaliber : 23 mm Jumlah laras : 2 Buah Kecepatan awal : 970 m/detik Jarak Maksimal Vertical : 1500 m Jarak Masksimal Horizontal : 2000 m Rata- rata tembakan ( 2 Laras ) : 600 - 2000 butir / menit Berat Total : 1250 Kg ( termasuk Kotak Amunisi, isinya dan terpal meriam )
Baru di ketahui setelah dua hari diduduki, total selama 23 hari lapangan terbang perintis di Kapeso, Distrik Mamberamo Hilir, Propinsi Papua, diduduki kelompok Decky Embiri. Seperti di ungkap Kepala kepolisian Daerah Papua Irjen Polisi FX Bagus Ekodanto, pendudukan ini baru diketahui Polda pada 15 Mei 2009. Kelompok yang beranggotakan sekitar 70 orang dan dilengkapi senjata api, parang dan panah ini sengaja menduduki lapangan terbang agar mendapat perhatian luas. Selain menduduki lapangan terbang, Decky dan kelompoknya juga merekrut sekitar 150 pemuda kampung untuk bergabung menguasai bandara.
Bandara Perintis Papua Dikuasai OPM
Anggota Polda Papua sedang berusaha masuk ke lokasi.
Juru bicara Kepolisian Daerah Papua, AKBP Nur Habri mengatakan anggota Organisasi Papua Merdeka menguasai Bandara Perintis di Desa Kasepo, Distrik Mambrano Hilir, Kabupaten Mambrano Raya, Papua.
“Sejak Minggu (19 Mei 2009) hingga sekarang ini Bandara Perintis bendera masih berkibar di sana,” kata Nur Habri, Senin 18 Mei 2009.
Nur Habri mengatakan anggota Polda Papua sedang berusaha masuk ke lokasi, tetapi karena kendala geografis Papua yang sulit, pergerakan pasukan tidak bisa cepat. Untuk masuk ke daerah itu, harus menggunakan pesawat atau perahu cepat lewat sungai.
Nur Habri juga mengatakan pemberitaan yang menyebutkan organisasi separatis menguasai Bandara Kaisepo di Biak tidak benar.
Polisi Kirim Tiga Regu Pasukan Densus 88
Lokasi hanya bisa ditempuh dengan dua cara, dengan pesawat Cessna atau menyusuri sungai.
Brimob di Jayawijaya (Foto Commando)
Organisasi Papua Merdeka (OPM) menguasai Bandara Perintis di Desa
Kasepo, Distrik Mambrano Hilir, Kabupaten Mambrano Raya, Papua. Untuk
mengatasi hal tersebut, Kepolisian Daerah Papua memutuskan untuk
mengirim tiga regu Detasemen Khusus 88 Antiteror ke lokasi.
Namun,
menurut Juru Bicara Kepolisian Daerah Papua, Ajun Komisaris Besar Nur Habri tak mudah untuk mengirimkan pasukan ke lokasi yang dikelilingi
hutan belantara. "Menuju ke sana hanya dapat ditempuh dengan pesawat
kecil jenis Cessna berpenumpang empat orang atau menyisir sungai yang
alirannya deras," kata dia Selasa 19 Mei 2009.
Pasukan Densus
88, tambah dia, akan memilih jalan sungai. Tak hanya akses jalan yang
sulit, ditambahkan dia, hubungan komunikasi dengan lokasi juga sulit.
"Harus dengan radio SSB, itupun sering terputus," tambah dia.
Bandara
perintis di Desa Kasepo dikuasai gerombolan OPM sejak Minggu 19 Mei
2009. Sampai saat ini bendera bintang kejora masih berkibar di sana.
Polda
Papua sedang berusaha masuk ke lokasi, tetapi karena kendala geografis
Papua yang sulit, pergerakan pasukan tidak bisa cepat.
Menurut
informasi, kelompok OPM menguasai bandara perintis tersebut sebagai
protes penahanan rekan mereka yang ditahan aparat keamanan. Mereka
meminta para tahanan tersebut dibebaskan.
Bandara Perintis Dikuasai Kelompok Bersenjata
Kasus ini baru diketahui Polda pada 15 Mei 2009 lalu atau dua hari setelah pendudukan.
Kepala Kepolisian Daerah Papua Irjen Polisi FX Bagus Ekodanto mengatakan Bandara Perintis di desa Kapeso Distrik Mamberamo Hilir, Kabupaten Mamberamo Raya sudah diduduki kelompok bersenjata pimpinan Decky Embiri, Cosmos Makamuri dan Alex Makamuri sejak Rabu 13 Mei 2009. Namun, baru diketahui Jumat 15 Mei 2009.
“Sedangkan pada Minggu-nya, Bupati Mambramo Raya Demianus Kyu-kyu bersama sejumlah tokoh masyarakat datang ke Polda meminta untuk bantuan menghentikan aksi kelompok bersenjata tersebut,’’ ujar Ekodanto.
Menurut Ekodanto kelompok itu beranggotakan kurang lebih 70 orang dengan menggunakan senjata antara lain jenis AK, FN, Minimi, senjata rakitan serta sejumlah panah dan parang. Sejak menduduki bandara, mereka juga merekut 150 pemuda kampung untuk bergabung dengan mereka menguasai Bandara. “Ratusan pemuda berhasil mereka rekrut menjadi anggota mereka,’’ kata dia.
Kelompok itu juga mengintimidasi warga kampung, agar tidak meninggalkan kampung hingga batas waktu yang tidak ditentukan.
Setelah mengirim pasukan Detasemen Khusus 88, kata Kapolda, pihaknya juga akan mendrop pasukan Brimob, dan rencananya akan diberangkatakan Rabu (20/5) dengan menggunakan kapal perintis Papua 2, untuk bernegoisasi dengan kelompok tersebut. “Kami tetap kedepankan cara persuasif, namun jika menemui kebuntuan jelas akan menggunakan cara lain,” katanya.
Dikatakan, jarak tempuh kapal Papua 2 dari Jayapura menuju lokasi pendudukan kurang lebih 2 hari. Dan di kampung Kapeso sama sekali tidak ada pos Polisi, yang ada hanya di Kampung Simisi yang jaraknya 4 jam jika menggunakan kapal. Daerah tersebut, benar-benar masih terisolir.
Brimob-Kelompok di Papua Kontak Senjata
Saat negosiasi menemui jalan buntu, anggota Brimob diserang ketika berada di Kampung Subu.
Negosiasi aparat keamanan, tokoh masyarakat, dan agama di Mamberamo Raya, Papua, dengan kelompok bersenjata pimpinan Decky Embiri, Cosmas Makamuri, dan Alex Makamuri mengalami jalan buntu.
Bahkan, perundingan yang dilakukan di atas perahu di Sungai Mamberamo, Papua, itu sempat diwarnai kontak senjata.
Iring-iringan pasukan Sat Brimob Polda Papua yang menggunakan speedboat, dicegat dan diserang kelompok bersenjata sekitar pukul 06.00 WIT. Peristiwa itu terjadi hanya beberapa ratus meter dari Kampung Kapeso.
Kontak senjata tidak terhindarkan dan pasukan Brimob kemudian membalas serangan tersebut.
“Saat negosiasi menemui jalan buntu, anggota kami diserang ketika berada di Kampung Subu," kata Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Papua Irjen Pol FX Bagus Ekodanto kepada wartawan di ruang kerjanya, Sabtu 23 Mei 2009.
Kapolda menambahkan, aksi saling serang berlangsung tidak seimbang, karena kelompok bersenjata hanya menggunakan panah dan parang. Mereka akhirnya mundur dan kembali masuk ke hutan.
Namun, pasukan Brimob berhasil mengamankan sejumlah barang bukti di lokasi kejadian, antara lain, tiga buah busur, anak panah, dan parang, serta foto.
Selain itu, ditemukan lima tas berisi panah serta amunisi senjata rakitan dan satu kartu anggota TPN/OPM atas nama AM dengan status penembak 04, yang dikeluarkan 2005 oleh Richard Yuweni.
Kendati terjadi serangan dari kelompok bersenjata, Kapolda tetap akan mengedepankan cara-cara persuasif, yakni dengan melibatkan tokoh agama, adat, serta masyarakat dalam proses negosiasi.
“Kami masih ingin berunding hingga Minggu (24 Mei) besok. Tapi, jika tetap buntu, kami akan tempuh langkah lain,’’ ujarnya.
Menurut Kapolda, kelompok bersenjata meminta tokoh masyarakat adat dan agama tidak ikut campur dalam proses perundingan.
Sementara itu, ketika dikonfirmasi mengenai tuntutan kelompok tersebut, Dandim 1712 Sarmi kepada VIVAnews mengatakan, aksi itu hanya karena kesalahpahaman.
Namun, Kapolda menilai, aksi itu bukan karena kesalahpahaman. “Bagaimana mungkin ini hanya salah paham, lapangan terbang sudah dikuasai hampir dua minggu,’’ ujarnya.
Saat ini, Kapolda melanjutkan, kelompok bersenjata itu masih menguasai lapangan terbang Kapeso distrik Mamberamo Hilir, Kabupaten Mamberamo Raya.
Selain menguasai lapangan terbang, mereka juga mengibarkan bendera Bintang Kejora, sebagai simbol Papua Merdeka dan mengintimidasi masyarakat setempat.
Mengapa Polisi Tak Bekuk Penyandera Bandara
Kelompok separatis menggunakan sekitar 150 warga dan pemuda sebagai tameng.
Tiga orang diduga anggota Organisasi Papua Merdeka (OPM) menyandera Bandara Perintis Kapeso di Mamberamo Raya, Papua. Mereka menggunakan sekitar 150 warga dan pemuda sebagai tameng.
Juru Bicara Kepolisian RI, Inspektur Jenderal Abubakar Nataprawira mengatakan bandara sampai saat ini masih dikuasai kelompok separatis. "Kita melakukan tindakan persuasif dulu," kata Abubakar, Senin 25 Mei 2009. Polisi, tambah dia, belum melakukan tindakan kepolisian, yakni menangkap atau membubarkan kelompok penyandera.
Mengapa? "Kita berpikir disitu ada masyarakat, kalau melakukan tindakan kepolisian, akan ada kontak senjata yang akan menimbulkan korban," kata Abubakar. Polisi, lanjut dia, saat ini sedang berkoordinasi dengan pemuda, tokoh adat, tokoh gereja untuk bernegosiasi, meski negosiasi pertama, Sabtu (23/5) tak berhasil.
Ditambahkan dia, jangan sampai ada korban dari kedua belah pihak, termasuk masyarakat. "Dari mereka hanya ada tiga orang. Jangan sampai mereka bersembunyi di antara 150 pemuda, lalu ada pemuda yang jadi korban," tambah dia.
Menurut Abubakar pasukan brigadir mobil (Brimob) baik dari Mako Brimob Kelapa Dua dan Kepolisian Daerah Papua sudah dikirimkan ke lokasi. "Baru beberapa hari lalu sampai, melewati sungai yang penuh kayu gelondongan. Pasukan jalan dua hari dua malam," kata Abubakar.
Ditambahkan dia, pada Sabtu 23 Mei 2009, ada kontak senjata antara pasukan dan kelompok separatis. "Sebagian mereka lari ke hutan, ada yang meninggalkan busur panah, anak panah, parang, pakaian seragam dan tiga pegas untuk senjata api," tambah Abubakar.
Bandara perintis di Desa Kasepo dikuasai gerombolan OPM sejak Minggu 19 Mei 2009. Sampai saat ini bendera bintang kejora masih berkibar di sana. Brimob Terkena Panah OPM
Hingga berita ini diturunkan, panah yang menyangkut di kepalanya belum bisa dilepas.
Seorang anggota Polisi dari kesatuan Brigade Mobil terkena panah dalam kerusuhan di Desa Kapeso Distrik Mamberamo Hilir, Kabupaten Mamberamo Raya, Provinsi Papua. Ini merupakan buntut pendudukan Organisasi Papua Merdeka (OPM) di Banda Udara Perintis di desa itu.
Menurut sumber VIVAnews di tempat kejadian perkara, sekitar pukul 20.00 WIT, sejumlah Brimob melakukan patroli di Kapeso. "Tiba-tiba muncul anak panah dan mengenai kepala salah satu anggota Brimob," kata dia kepada VIVAnews, di Mamberamo, Selasa dini hari, 26 Mei 2009.
Brimob nahas itu hingga kini masih di desa itu. Hingga berita ini diturunkan, anak panah yang menyangkut di kepalanya belum bisa dilepas.
Kepala Humas Kepolisian Daerah Papua AKBP Nur Habri belum bisa dikonfirmasi. Ponsel yang dihubungi tidak diangkat.
Anggota Polisi Papua Dipanah di Pelipis Anak panah menancap sedalam sekitar 15 sentimeter.
Brigadir
Satu Sukarno, anggota Polres Sarmi, Papua, terkena anak panah di bagian
pelipis ketika berpatroli di dekat lapangan terbang Perintis, Kampung
Kapeso, Distrik Mamberamo Hilir, Kabupaten Mamberamo Raya, Papua, yang
sekarang dikuasai sekelompok orang bersenjata.
PLH
Hubungan Masyarkat Kepolisisan Daerah Papua, AKBP Nur Habri mengatakan
Sukarno diserang ketika sedang bergerak bersama tim di kanal Sawandi
Kampung Bagusa Sungai Mamberamo yang berdekatan dengan Kampung Kapeso,
Senin 25 Mei 2009 pukul 20.00 WIT.
Nur Habri mengatakan anak panah itu menancap sedalam sekitar 15 sentimeter ke dalam kepala Sukarno. Dan menduga pelakunya adalah anggota kelompok bersenjata yang sekarang ini
masih bercokol di lapangan terbang Perintis, Kapeso.
Sukarno
sekarang ini sedang dievakuasi dari lokasi menuju Jayapura. Proses
evakuasi agak lambat karena medan yang dilalui tim penyelamat sangat
sulit.
Nur Habri
mengatakan patroli polisi di sekitar Desa Kapeso dilakukan atas
permintaan masyarakat yang selama ini merasa terganggu oleh aksi
kelompok bersenjata itu.
Mengapa OPM Sandera Bandara Kapeso Kepolisian Papua telah menyewa kapal untuk mengangkut personel Brimob ke lokasi.
Tiga orang diduga anggota Organisasi Papua Merdeka (OPM) masih menduduki bandara Perintis Kapeso di Mamberamo Raya, Papua. Kepala Kepolisian Papua, Inspektur Jenderal Bagus Ekodanto mengatakan polisi masih memilih jalan damai yakni negosiasi.
Meski demikian polisi tetap siaga. Kepolisian Papua telah menyewa kapal untuk mengangkut personel brigadir mobil (Brimob) ke lokasi. "Untuk mem-back up pasukan yang sudah ada di lokasi," kata Bagus Ekodanto kepada VIVAnews, Senin 25 Mei 2009.
Kapal dan pasukan akan diberangkatkan hari ini ke Memberamo Raya. Tuntutan sementara yang diterima polisi, para penyandera mengaku kecewa dengan pemerintah daerah Memberamo Raya. "Disinyalir kemungkinan pembangunan yang tidak merata," tambah dia.
Secara terpisah, Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), Rivai Darus mengatakan pemerintah Papua harus segera mengambil langkah dialog dengan tokoh-tokoh setempat termasuk Polda dan Pangda untuk mencegah agar kerusuhan tak terus-menerus terjadi. "Saat ini pemda terkesan melakukan pembiaran dan melempar tanggung jawab keamanan pada Polri dan TNI," kata dia.
Sebelumnya, Juru Bicara Kepolisian RI, Inspektur Jenderal Abubakar Nataprawira mengatakan tindakan kepolisian belum akan dilakukan. Polisi, kata dia, menghindari ada nyawa yang jadi korban sebab tiga penyandera menjadikan sekitar 150 pemuda menjadi tameng.
Bandara perintis di Desa Kasepo dikuasai gerombolan OPM sejak Minggu 19 Mei 2009. Sampai saat ini bendera bintang kejora masih berkibar di sana.
Dua Peleton Pasukan Dikirim ke Desa Kapeso Mereka belum menyampaikan tuntutan apapun terkait aksi pendudukan bandara Perintis.
Situasi di Desa Kapeso, Distrik Mambramo Hilir, Kabupaten Mamberamo Raya, Papua, memanas sejak sekelompok orang bersenjata menguasai lapangan terbang Perintis. Hari ini, Markas Besar Polri memberangkatkan dua peleton pasukan dan satu regu Detasemen Khusus ke sana.
Pemberangkatan pasukan keamanan dilepas oleh Deputi Ops Markas Besar Polri, Inspektur Jenderal SY Wenas dan Kepala Polisi Daerah Papua, Inspektur Jenderal Bagus Ekodanto dari dari Dermaga Galangan Kapal Dok IV Jayapura.
Wenas mengatakan personel yang dikirim ini untuk mem-back up personel yang sudah ada di Mamberamo, tepatnya di Kampung Bagusa, yang terletak tidak jauh dari Kampung Kapeso yang masih diduduki kelompok bersenjata.
Wenas mengatakan akan tetap mengedepankan langkah persuasif dan negosiasi untuk dengan kelompok itu agar bersedia menghentikan aksi.
Polisi bekerjasama dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Mamberamo serta tokoh masyarakat, agama, dan adat untuk ikut negosiasi.
Namun, kata Wenas, pihaknya tetap memiliki batas waktu. Jika pada batas waktu yang ditentukan kawanan bersenjata tetap tidak bersedia menghentikan aksi, maka polisi akan mengambil alih lapangan terbang itu, meski dengan tindakan fisik.
Lapangan terbang Perintis dikuasai oleh kelompok bersenjata sejak pekan lalu. Sampai sekarang, mereka belum menyampaikan tuntutan apapun terkait aksi itu.
Aksi mereka dinilai telah mengusik kenyamanan penduduk sekitar. Itu sebabnya, belakangan ini patroli di sekitar Desa Kapeso ditingkatkan.
Kapolda Papua : Hari Ini Batas Akhir Negosiasi
Kelompok bersenjata menduduki lapangan terbang sejak beberapa pekan terakhir.
Hari ini, Kamis 28 Mei 2009, merupakan batas waktu negosiasi antara aparat keamanan dan kelompok bersenjata yang mengambil alih lapangan terbang Kapeso Distrik Mamberamo Hilir, Kabupaten Mamberamo Raya, Papua.
“Jika dalam negosiasi tidak menemui jalan penyelesaian, akan dilakukan tindakan hukum berupa merebut lapangan terbang itu,” kata Kepala Polisi Daerah Papua, Inspektur Jenderal Polisi FX Bagus Ekodanto ketika menghadiri HUT Kodam 17 Cenderawasih, Jayapura.
Kelompok bersenjata pimpinan Decky Embiri, Cosmos Makamuri, dan Alex Makamuri, menduduki lapangan terbang sejak beberapa pekan terakhir.
Kelompok itu tidak mengungkapkan tuntutan apapun. Tapi, aparat keamanan menduga alasan pendudukan lapangan terbang itu untuk menyampaikan kekecewaan kepada pemerintah daerah Mamberamo yang mereka anggap tidak memperhatikan kehidupannya.
Jika Negoisasi Batal, Polri Rebut Bandara Hari ini merupakan batas waktu negosiasi. "Kita ajak mereka menyerahkan diri."
Tiga orang diduga anggota Organisasi Papua Merdeka (OPM) masih menduduki bandara Perintis Kapeso di Mamberamo Raya, Papua. Kepala Kepolisian RI, Jenderal Bambang Hendarso Danuri mengatakan polisi akan segera mengambil langkah tegas.
"Dalam waktu dekat Papua akan saya putuskan, setelah tim saya pulang," kata Kapolri di sela-sela acara Musrembang Polri di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK), Jakarta, Kamis 28 Mei 2009.
Sampai saat ini, tambah Bambang Hendarso, polisi masih melakukan negoisasi dengan pendekatan kemanusiaan. "Kita ajak mereka menyerahkan diri. Tapi kalau diajak negosiasi tak menggubris, kita lakukan tindakan sesuai dengan apa yang direncanakan," tambah dia.
Pada prinsipnya, tambah Bambang Hendarso, polisi melakukan operasi penegakan hukum. "Kalau memang diperlukan bantuan hukum dari TNI, akan kita lakukan ," tambah dia.
Sebelumnya, Kepala Polisi Daerah Papua, Inspektur Jenderal Bagus Ekodanto mengatakan hari ini merupakan batas waktu negosiasi antara aparat keamanan dan kelompok bersenjata yang mengambil alih lapangan terbang Kapeso.
"Jika dalam negosiasi tidak menemui jalan penyelesaian, akan dilakukan tindakan hukum berupa merebut lapangan terbang itu," kata dia ketika menghadiri HUT Kodam 17 Cenderawasih, Jayapura.
Kelompok bersenjata pimpinan Decky Embiri, Cosmos Makamuri, dan Alex Makamuri, menduduki lapangan terbang sejak beberapa pekan terakhir. Bendera bintang kejora dikibarkan di sana.
Kelompok itu tidak mengungkapkan tuntutan apapun. Tapi, aparat keamanan menduga alasan pendudukan lapangan terbang itu untuk menyampaikan kekecewaan kepada pemerintah daerah Mamberamo yang mereka anggap tidak memperhatikan kehidupannya.
VIVAnews - Laporan: Banjir Ambarita l Papua
Tiga Tewas Dan Empat Luka cukup serius
Jayapura (ANTARA News) - Kepala Kepolisian
Daerah (Kapolda) Papua, Irjen Pol FX Bagus Ekodanto, mengatakan
penyergapan oleh pasukan Brigade Mobil (Brimob) Polda Papua ke markas
kelompok bersenjata yang menguasai bandar udara Kapeso telah
mengakibatkan jatuhnya korban.
Dua orang dari kelompok bersenjata tewas dan empat anggoa Brimob
terkena anak panah. "Selain itu ada juga korban tewas dari warga sipil
yang merupakan utusan Bupati setempat, sehingga total korban tewas
berjumlah tiga orang," kata Kapolda di Jayapura, Sabtu.
Empat anggota Brimob menderita luka cukup serius akibat terkena panah dari kelompok bersenjata itu.
Kapolda menjelaskan penyergapan terjadi sekitar Sabtu (6/6) pukul 01.30
WIT ketika kelompok bersenjata menguasai Gereja Klasis GKI, sekitar
300 meter dari lapangan terbang Kasepo.
"Saat ini markasnya sudah berhasil kita kuasai," kata Kapolda.
Kapolda menambahkan hingga saat ini identitas para korban yang
meninggal belum diketahui secara pasti, termasuk korban tewas yang
merupakan utusan bupati Mamberamo raya itu.
"Yang bersangkutan merupakan tim perunding antara petugas berwenang
dengan kelompok bersenjata yang menguasai lapangan terbang Kasepo, dan
ia juga menjadi salah satu korban," ujarnya.
Kapolda menceritakan, tertembaknya utusan bupati itu bermula saat
Brimob berhasil memukul mundur kelompok bersenjata dari markasnya di
Gereja Klasis.
Saat kelompok bersenjata itu mundur meninggalkan markas, mereka bertemu
utusan bupati dan langsung menembakinya hingga tewas. Saat ini polisi
sudah mengamankan barang bukti dari markas kelompok bersenjata itu.
Barang bukti yang disita antara lain, satu senjata api rakitan, puluhan
anak panah dan busurnya, serta dokumen foto latihan para kelompok
bersenjata.
Dalam penyergapan tersebut, lanjut Kapolda, pihaknya juga menahan
seorang perempuan bernama Nela yang diduga anggota kelompok bersenjata
dan seorang anak yang masih berumur 14 tahun.
"Saat ini mereka sedang diperiksa di kampung Bagusa," tambah Kapolda.
Bandara Kapeso yang terletak di Kabupaten Mamberamo Raya, Provinsi
Papua, sejak dua pekan terakhir dikuasai oleh kelompok bersenjata.
Sebelum melakukan penyergapan Sabtu dini hari tadi, Polda Papua selalu
melakukan pendekatan kepada kelompok bersenjata itu melalui tokoh adat
maupun agama.(*)
Pimpinan Pembajak Bandara Kaisepao Diduga Mantan TNI
Bagus Ekodanto mengatakan Decky Imbiri, pemimpin kelompok bersenjata yang menduduki Lapangan terbang Kapeso, di Kabupaten Mamberamo Raya, Provinsi Papua, diduga adalah seorang mantan anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI). “Mereka diduga mantan TNI, namun dari kesatuan mana belum diketahui secara pasti, dan saat ini kami terus mengecek data tentang yang bersangkutan,” kata Kapolda.
Kapolda menjelaskan, informasi tersebut dari keterangan seorang perempuan yang ditangkap aparat. FX Bagus mengemukakan, Decky Embiri adalah seseorang yang tergolong ahli dalam strategi militer. “Decky ini desersi dari TNI dan melarikan diri hutan, namun kapan hal itu terjadi dan apa pangkat terakhirnya masih belum diketahui secara jelas dan masih tetap diselidiki,” kata Kapolda.
Decki Imbiri berhasil merekrut sedikit-dikitnya 150 orang pemuda kampung Kapeso untuk dilatih ala militer. “Kabarnya dia juga memiliki seorang ahli spiritual yang akan mengajarkan setiap anggota baru yang direkrut dengan pengaruh secara keagamaan,” paparnya. *
Lapangan Terbang Kapeso Dikuasai Polisi
Liputan6.com, 13/06/2009 06:32 Membramo: Setelah hampir satu bulan berjuang, jajaran Kepolisian Daerah Papua berhasil merebut kembali lapangan terbang Kapeso yang dikuasai Organisasi Papua Merdeka. Selain menurunkan bendera Bintang Kejora, polisi menemukan sejumlah barang bukti persenjataan milik kelompok yang dipimpin Decky Embiri itu.
Tak ada perlawanan berarti ketika polisi merebut kembali bandara Kapeso. Diduga kelompok OPM itu telah melarikan diri sejak kontak senjata terakhir pada 3 Juni lalu. Kini polisi menyiagakan dua pleton pasukannya di Kampung Kapeso yang dibagi dalam dua posko. Pasukan akan bertahan hingga pilpres 8 Juni mendatang.(JUM)
Bagi Anda yang pernah menonton film
“Penghianatan G 30S/PKI” tentu masih ingat akan sosok panser pengangkut
personel Saracen. Panser dengan enam roda ini begitu kental sebagai ikon
di film tersebut, dan memang pada faktanya panser Saracen buatan Alvis
ini punya peran besar dalam masa revolusi tahun 1965.
Saracen dikala itu
masuk dalam unit Batalyon Kavaleri 7 yang berada dibawah Komando Kodam V
(sekarang Kodam Jayakarta), dimana tugasnya yakni melindungi keamanan
Ibu Kota.
Dari tugas yang diemban
tersebut, maka Saracen aktif berperan dalam beberapa operasi militer
menumpas PKI. Salah satunya digunakan saat pengepungan Lanud Halim
Perdanakusumah. Tapi harus diakui yang sangat monumental yakni saat
Saracen digunakan sebagai kendaraan pengangkut tujuh peti jenazah
pahlawan revolusi pada 5 Oktober 1965 menuju Taman Makam Pahlawan
Kalibata. Bisa dibilang ikon Saracen sebagai kendaraan pengangkut
jenazah pahlawan revolusi sangat mengena hingga saat ini. Walau banyak
yang tak kenal nama sosok panser ini, tapi desain Saracen amat dikenali
oleh khalayak di Tanah Air.
Saracen sendiri didatangkan pada
era 60-an untuk membangun satuan kavaleri TNI-AD. Saracen dibeli dari
Inggris dan mulai diproduksi oleh Alvis mulai tahun 1952. Dari segi
usia, Saracen sudah termasuk sepuh, rentang usia panser ini di Indonesia
sudah lebih dari 44 tahun. Tapi biar sepuh, unit kavaleri TNI-AD,
khususnya di Kostrad masih menjagokan Saracen sampai saat ini. Tentu ada
banyak modifikasi agar Saracen tetap bertahan sesuai tuntutan zaman.
Diantaranya seperti mengganti dari mesin bensin ke mesin diesel, tiap
roda dibekali peredam kejut, kelengkapan sistem pendingin kabin dan
pastinya rodanya berkemampuan all whell drive. Bahkan saat melihat Saracen
di HUT ABRI tahun 1995, terlihat panser ini sudah dilengkapi
winch untuk menarik kendaraan di medan off road.
TNI-AD diperkirakan memiliki
sekitar 60 unit Saracen, satu diantaranya bisa Anda lihat sebagai
etalase di museum Lubang Buaya, Jakarta. Sesuai rancangannnya sebagai
panser ringan, Saracen hanya dibekali senjata ringan. Satu pada kubah
aktif bagian depan dan sebuah lagi di belakang (ring mount). Pilihan
senjata mulai dari FN MAG GPMG (General Purpose Machine Gun) atau
browning, yang jelas semuanya berkaliber 7,62 mm. Untuk sistem
komunikasi, dilengkapi satu unit radio PRC-64 multi frekuensi.
Selain digunakan Kostrad,
beberapa unit Saracen juga disebar untuk memperkuat satuan kavaleri di
tingkat Kodam. Dengan rentang pengabdian yang demikian panjang, wajar
bila Saracen punya banyak tanda jasa untuk operasi militer. Terakhir
Saracen digunakan dalam operasi militer penumpasan Gerakan Aceh Merdeka
(GAM) beberapa tahun lalu.
Di negeri asalnya, Inggris.
Saracen sampai tahun 80-an masih digunakan dalam operasi keamanan di
kawasan Irlandia utara. Polisi Amerika Serikat pun nyatanya sampai saat
ini juga masih kesemsem dengan Saracen, buktinya panser ini digunakan
tim elit SWAT sebagai kendaraan penyerbu. Saking populernya, Saracen
juga sempat ditampilkan dalam film Judge Dredd di tahun 1995. Saracen
mempunya banyak varian, tapi utamanya terdiri dari tiga tipe, yakni
Armoured Command Vehicle (ACV) yang dilengkapi ekstra radio dan roof
mount. Kemudian ada Amoured Command Post (ACP) yang dilengkapi awning
kanvas dan generator mini. Dan terakhir, versi Armoured Ambulance.
Kedepan rencana penggantian armada panser Saracen mulai di gantikan dengan ranpur Anoa buatan dalam negeri. KSAD menyatakan mendukung dan akan berkomitmen
untuk menggunakan produk dalam negeri untuk alutsista (Alat Utama Sistem
Pertahanan) sesuai arahan dan instruksi Presiden RI.
☆ Spesifikasi Alvis FV-603 Saracen
⌦ Berat : 11 Ton
⌦ Panjang : 4.8 meter
⌦ Lebar : 2.54 meter
⌦ Tinggi : 2.46 meter
⌦ Crew : 2 + 9
⌦ Senjata Utama : 2 x machine gun
⌦ Mesin : Rolls-Royce B80 Mk.6A, 8 silinder petrol 119 kW
Pada tahun 1980-an lalu, Bakin berhasil membuat prestasi dengan penangkapan agen intelijen Rusia yang melakukan kegiatan di Indonesia. Agen Rusia bernama Alexander Pavlovich Finenko (36 tahun) yang bertugas sebagai manajer perwakilan perusahaan penerbangan Aeroflot yang beroperasi di Indonesia. Dalam menjalankan aksi spionase-nya, agen ini mengerahkan para pejabat diplomatik maupun petugas maskapai Aeroflot yang bekerja di luar negeri. Pada era perang dingin itu, Indonesia yang dikenal anti komunis, menjadi sasaran utama para agen KGB. Sebaliknya orang-orang Rusia pun menjadi perhatian khusus dari Bakin, yang kala itu dipimpin oleh Jenderal LB Moerdani.
Bakin selalu monitor secara ketat pergerakan agen Rusia, Finenko dengan melakukan penyadapan telepon saat melakukan kontak dengan sumbernya, Letkol AL Susdaryanto. Sebagai perwira Angkatan Laut yang bertugas pada Dinas Pemetaan Angkatan Laut, data-data kelautan yang bisa di akses Susdaryanto menjadi target yang penting bagi KGB.
Letkol Susdaryanto yang merupakan perwira yang cerdas dan pernah sekolah di AS, berhasil di rekrut KGB karena beberapa hal yaitu, faktor uang dan masalah karier. Karena bertugas di Departemen Pemetaan membuat karier Susdaryanto mentok dan ketidak puasan itu menimbulkan rasa keinginan balas dendam. Kondisi ini ternyata sudah diketahui Finenko dan dengan mudahnya merekrutnya tanpa waktu yang lama.
Para petugas Bakin kemudian mulai bergerak setelah mendapat informasi dari penyadapan telepon di rumah Susdaryanto di Tanjung Priok, Jakarta. Informasi itu menerangkan bahwa Susdaryanto akan memberikan data penting kepada Finenko. Data tersebut berupa dua rol film dan akan diberikan kepada Agen Rusia, yang akan menunggu di sebuah restoran di kawasan Jakarta Timur. Dan Intel Bakin pun mendapatkan informasi bahwa Agen Rusia, Finenko akan pulang ke Rusia untuk liburan, maka penangkapan terhadap Finenko menjadi prioritas utama. Sebagai Manajer Aeroflot yang tidak mempunyai kekebalan diplomatik sehingga bisa di tahan di Indonesia.
Untuk melakukan penangkapan terhadap Finenko, Bakin menggunakan Susdaryanto sebagai umpan, sehingga Finenko mudah di ringkus. Langkah awal Bakin menangkap Susdaryanto dalam perjalanan menuju Jakarta Timur. Susdaryanto yang tak menduga itu dapat ditangkap dengan mudah. Dalam penahanan singkat itu, Susdaryanto mengakui kegiatan mata-matanya dan siap membantu penangkapan Finenko di sebuah restoran di Jakarta Timur.
Bakin kemudian menempatkan anggotanya di sejumlah titik strategis, ada yang berperan sebagai tamu restoran dan sebagian berada di sekelilingnya. Pimpinan Operasi Mayor Sutardi bersama istri dan berserta ketiga anaknya pun masuk ke restoran dan memesan makanan. Keluarganya sama sekali tidak mengetahui operasi penyamaran itu sehingga bersikap wajar seperti tamu restoran umumnya. Mayor Sutardi yang yakin tidak akan terjadi kontak tembak, memberanikan membawa keluarganya.
Para petugas mulai waspada ketika Susdaryanto yang menjadi umpan memasuki restoran sambil membawa barang bukti dua rol film yang dikemas dalam kardus pasta gigi pepsodent. Namun ketika melihat orang yang menunggunya, Susdaryanto sempat terperanjat karena orang tersebut bukan Finenko, melainkan Asisten Atase Pertahanan (Athan) Rusia di indonesia, Letkol Sergei Egorov. Susdaryanto pun khawatir bila Egorov bersenjata dan akan melakukan perlawanan bila akan ditangkap.
Kemudian Susdarayanto mengajak ngobrol sambil menyerahkan barang berupa kotak pepsodent kepada Egorov. Melihat barang yang bisa menjadi bukti diserahkan, perintah penangkapan pun dilaksanakan. Beruntung Egorov tidak melakukan perlawanan, sehingga penangkapan bisa dilakukan dengan aman terkendali. Langsung Egorov dimasukan ke mobil tahanan. Karena memiliki kekebalan diplomatik, maka Athan tersebut dibawa ke Kedutaan Rusia dengan surat pengusiran, persona non grata dari Pemerintah Indonesia.
Penangkapan Egorov dan Susdaryanto membuat Finenko bereaksi. Ia bersama Egorov berencana akan pulang ke Rusia pada pagi hari taggal 6 Februari 1980. Sebelum pesawat berangkat, Petugas Bakin melakukan penangkapan terhadap Finenko. Finenko yang dikawal dengan protokol dari Kedutaan Rusia sempat terjadi insiden, namun berhasil di tangkap dan di interograsi Bakin. Statusnya yang non diplomat dan berdasarkan barang bukti penyadapan di rumah Susdaryanto, memungkinkan Pengadilan RI menjatuhkan hukuman mati kepadanya.
Karena pengaruh tekanan diplomatik yang kuat, Finenko kemudian dilepaskan dalam beberapa hari dan di pulangkan ke Rusia. Bersamaan dengan itu, perusahaan perwakilan maskapai Aeroflot di tutup di Indonesia. Setelah itu Bakin lebih ketat mengawasi semua orang Rusia di Indonesia, mengingat aksi Finenko bukan merupakan aksi spionase terakhir yang dilakukan para Agen KGB di Indonesia.