Kamis, 25 Juli 2013

Indonesia - Singapura Gelar Latihan Joint Minex-16/2013

Surabaya • Indonesia sebagai negara kepulauan yang banyak berbatasan dengan negara tetangga, perlu menjalin kerjasama bilateral maupun multilateral khususnya dalam bidang militer agar keamanan kawasan tetap terjaga. Hal ini disebabkan wilayah perairan Indonesia memiliki potensi kerawanan terhadap berbagai bentuk dan jenis ancaman melalui laut. Salah satu ancaman yang paling berbahaya di laut adalah bahaya ranjau, terutama jika terjadi pada jalur-jalur strategis yang berhubungan dengan Alur Pelayaran Internasional.

Salah satu kerja sama bilateral tersebut adalah latihan tentang bahaya ranjau yang digelar antara TNI AL dan Republic of Singapura Navy (RSN) pada tanggal 1 hingga 8 Juli 2013 di Changi Naval Base dan Perairan timur Pulau Bintan dengan sandi Joint Minex 16/2013. Satuan Kapal Ranjau (Satran) Koarmatim yang mempunyai kemampuan dalam menyelenggarakan peperangan ranjau turut serta dan berperan aktif dalam Latma bilateral Joint Minex 16/2013 ini.

Latihan dibuka oleh Commander Maritime Security Task Force (MSTF) Rear Admiral (RADM) Harris Chan dan dihadiri oleh delegasi angkatan laut Indonesia dan Singapura di Changi Naval Base (CNB).

Latihan Joint Minex 16/2013 ini melibatkan 3 KRI dari TNI AL yaitu KRI Pulau Rengat-711, KRI Pulau Rupat-712 dari Satran Koarmatim dan KRI Pulau Rangsang-727 dari Koarmabar. Sedangkan dari pihak AL Singapura melibatkan 2 kapal perangnya yaitu RSS Bedok (M-105) dan RSS Punggol (M-108).

Joint Minex 16/2013 ini bertujuan untuk memperkuat hubungan dan meningkatkan kerja sama, interoperabilitas serta pemahaman antara TNI AL dan RSN khususnya mengenai peperangan ranjau serta pertukaran informasi tentang kemampuan dan perkembangan teknologi dari masing-masing negara sekaligus sebagai wadah untuk menguji doktrin Taktik Peperangan Ranjau (TPR) dan peranjauan serta kemampuan alat utama (Alut), peralatan dan personel Satran Koarmatim dan Koarmabar secara terintegrasi untuk mendapatkan kemampuan peperangan ranjau yang optimal.

.Dalam latihan ini peserta latihan mendapatkan cakrawala baru tentang kemampuan dan peralatan peperangan ranjau yang dimiliki oleh masing-masing negara serta kesempatan praktek melaksanakan kerjasama taktis perlawanan ranjau yang meliputi kegiatan : Exploratory Hunting, Clearance Hunting, Mineshape Recovery (Diving ops) , MDC Firing antar dua negara melalui manuver lapangan.

  ● Koarmatim  

Perusahaan Komponen Pesawat Terbang AS Ingin Tambah Investasi di RI

https://encrypted-tbn2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSfW840xlIZuEuvt0Vek3cRvJc3iCs8pvw63Zdm2awV6fyP9uERPerusahaan komponen pesawat terbang asal Amerika Serikat, UTC Aerospace Systems ingin mengembangkan bisnisnya di Indonesia. Rencananya, investasi kedua akan ditanamkan senilai US$ 40 juta, atau kurang lebih Rp 400 miliar.

Dirjen Kerjasama Industri Internasional Kementerian Perindustrian Agus Tjahajana mengatakan, saat ini UTC memiliki perusahaan joint venture dengan BUMN PT Pindad, dan memiliki pabrik pembuatan komponen pesawat seperti landing gear, aerostructure di Bandung. Dengan pertimbangan pasar yang terus berkembang di Indonesia, maka UTC menanamkan investasi yang kedua.

"Dengan Bandung sudah dibentuk tahun 1997, sudah joint venture, dan dia ingin memperbesar, mau expand. Dia nanya insentif," kata Agus setelah menerima delegasi dari UTC di kantor Kementerian Perindustrian, Jalan Jenderal Gatot Subroto, Rabu (24/7/2013).

Dalam investasi keduanya kali ini, UTC mengharapkan insentif dari pemerintah Indonesia, sebagaimana yang dia dapatkan di beberapa negara lain tempat mereka menanamkan investasi. "Kita tawarkan tax holiday, sama tax allowance," tambahnya.

Dengan investasi tersebut, UTC mengharapkan bisnisnya akan berkembang dan menjanjikan akan menyerap tenaga kerja lokal sebanyak 400 orang. "Nanti dia akan rapat dengan Pindad," katanya.

Agus mengungkapkan, produk-produk yang dihasilan UTC tersebut untuk memasok kebutuhan maskapai penerbangan. Agus menyebutkan Garuda Indonesia sebagai contohnya. "Karena dia buka juga di Dubai, dan dia melayani Qatar Airways," katanya.(zul/hen)

  ● detik  

Disegel "Milik Republik Indonesia"

Setelah proklamasi kemerdekaan dan nasionalisasi besar-besaran, orang-orang Indonesia mengambil-alih berbagai aset milik orang asing, terutama Belanda.

OLEH: HENDRI F. ISNAENI

SUKARNO tak terima dengan keputusan Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 29 November 1957 bahwa Irian Barat berada di bawah kekuasaan Belanda. Pemulangan orang-orang Belanda ditetapkan dalam sidang kabinet.

“Sesuai dengan putusan sidang Kabinet tanggal 5 Desember terhadap 9.000 orang warga negara Belanda yang umumnya pada waktu itu tidak mempunyai pekerjaan tetap, akan didahulukan pemulangannya,” tulis Merdeka, 10 Desember 1957.

Ini mendorong pengambil-alihan properti milik orang-orang Belanda. Misalnya, NV Jacobson van den Berg, perusahaan bidang asuransi dan industri, salah satu The Big Five (lima perusahaan besar milik Belanda), diambil-alih Serikat Buruh Jacoberg. “Karyawan serta-merta mengibarkan bendera merah putih. Mereka juga memasang spanduk besar pada tembok depan bangunan bertuliskan kata-kata ‘Milik Republik Indonesia’,” tulis Thomas B. Ataladjar dalam Toko Merah.

Pengambil-alihan properti tersebut merupakan jilid kedua. Sebelumnya, pascaproklamasi kemerdekaan, hal yang sama terjadi. Dari percetakan hingga hotel. Beberapa di antaranya bersalin rupa.

Harian Merdeka, misalnya, terbit setelah beberapa mantan wartawan Asia Raya mengambil-alih percetakan Belanda De Uni, tempat harian Asia Raya dicetak. Di Surabaya, perusahaan Soerabaja Sekken Kozyo, yang dijalankan kembali dengan nama baru “paberik Saboen dan Minjak Wangi Ardjoena”, diiklankan di Soeara Rakjat, 25 Oktober 1945.

Pengambil-alihan berbagai perusahaan milik Belanda, jelas kerugian bagi perekonomian Belanda. Karena itu, Belanda tidak mengakui kemerdekaan Indonesia dan datang untuk merebut kembali berbagai potensi ekonomi yang semula dikelolanya. Sehingga, agresi militer Belanda pertama pada Juli 1947 dinamakan Operation Product.

Selama operasi, Belanda berhasil menguasai seluruh pelabuhan perairan dalam di Jawa. Di Sumatra, perkebunan-perkebunan, instalasi minyak, dan batubara juga dikuasai. “Karena serangan itu sangat mendadak dan berjalan cepat, sebagian besar infrastruktur dan perkebunan komoditas ekspor dikuasai tanpa kerusakan walaupun beberapa kekuatan republik ketika mundur berusaha menghancurkan apa pun yang mereka bisa,” tulis Jan Luiten van Zanden dan Daan Marks dalam Ekonomi Indonesia 1800-2010. Indonesia dapat kembali mengambil-alih berbagai perusahaan Belanda sebagai “Milik Republik Indonesia” pada Desember 1957, ketika terjadi nasionalisasi dan pengusiran orang-orang Belanda secara besar-besaran.

  ● Historia  

☆ Rita, Di Antara Panser

Di jajaran direksi PT Pindad, Rita mendapat gelar ”si ragil” alias anak bungsu. Selain satu-satunya direktur perempuan, ia juga direktur termuda. Di sana, ia juga membawahi deputi-deputi yang sudah puluhan tahun bekerja. ”Tiba-tiba datang perempuan umur 35 tahun, tetapi mereka bisa menerima perbedaan dengan sangat baik. Buatku, itu blessing luar biasa.”

Rita dipilih menjadi salah satu direktur di badan usaha milik negara itu melalui proses uji kelayakan dan kepatutan. Sebelumnya, selama delapan tahun ia jadi ”dokter” untuk BUMN yang bermasalah di Perusahaan Pengelola Aset (PPA).

”Kayak dokter beneran! Kalau dokter yang diperiksa manusia, ini periksa perusahaan,” kata Rita.

”Sakitnya di mana saja, diidentifikasi, lalu buat solusi untuk masing-masing masalah,” katanya melanjutkan.

Rita lalu akan mempresentasikan opsi solusi itu kepada pemegang saham, Kementerian BUMN. Konsultan lain tugasnya selesai pada memberikan resep, sedangkan PPA juga mengimplementasikan dan monitoring.

Rita berbicara dengan tempo cepat dan penuh semangat ketika bercerita tentang proses restrukturisasi dan revitalisasi BUMN. ”Untuk melakukan tugas itu, dasar keuangan dan audit penting, tetapi saya juga harus belajar operasional perusahaan. Kalau itu perusahaan manufaktur, harus ngerti bagaimana proses manufaktur itu secara teori dan praktiknya.”

Pengalaman kerja di PPA dan sebelumnya di Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) membekali Rita dengan kompetensi yang dibutuhkan untuk posisi barunya saat ini di Pindad. ”Tetapi Pindad ini perusahaan sehat yang tidak pernah jadi pasien PPA lho.”

Apa pun topik yang dibicarakan, berbincang dengan Rita terasa menyenangkan. Ia bertutur seperti kawan lama, diselingi tawa tergelak di sana-sini. Logat Jawa tersisa pada gaya bicara perempuan kelahiran Trenggalek, Jawa Timur, ini.

”Aku ke Jakarta pertama kali bersama bapakku ya pas masuk STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara) tahun 1995. Waktu itu kami enggak kebayang kalau di Jakarta terminal bus itu banyak. Jadi, kami turun di Pulogadung, nyasar-nyasar. Masuk Jakarta pagi, sampai kampus STAN sore.”

Menilik masa lalu, Rita bercerita, sejak kecil ia sebenarnya bercita-cita jadi dokter. Ketika tamat SMA pun ia lulus diterima studi kedokteran di salah satu universitas di Surabaya. Namun, pada saat yang sama diumumkan pula bahwa ia diterima studi dengan beasiswa dan ikatan dinas di STAN.

Rita pun berputar haluan. ”Saya mikir biaya kuliah kedokteran mahal. Enggak ingin nyusahin orangtua,” katanya. Kerja dan salon

Karena prestasi akademik, Rita bisa langsung melanjutkan pendidikan program Diploma III ke S-1 di STAN. Sejak tahun pertama kuliah ia sudah jadi calon pegawai negeri sipil di Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). ”Jadi kuliah dapat gaji. Belum seberapa, tetapi bisa menghidupi diri sendiri. Tambah kasih les matematika anak-anak kompleks sekitar kampus, sudah bisa kirim duit ke orangtua.”

Sambil menggarap skripsi, Rita juga bekerja di kantor akuntan. Begitu tamat kuliah pada usia 21 tahun, ia menuntaskan kewajiban ikatan dinas di BPK dan memilih berkarier di BPPN. Dari situ bentang karier ia jalani. Mulai dari akuntan murni, jadi konsultan, pindah ke PPA, hingga akhirnya bergabung di Pindad sebagai direktur keuangan.

”Kalau melihat karakterku mungkin orang tak mengira kalau latarku akuntansi yang harusnya supporting di meja. Aku lebih senang ketemu orang, mempresentasikan ide ke orang lain, dan puas kalau ideku bisa diterima.”

Bagi Rita, satu-satunya ”kerugian” bekerja di Pindad adalah jauh dari salon. Dulu tiap pagi sebelum ngantor, ia cuci rambut dan blow dulu di salon. Sekarang di Pindad, ia memotong rambut pendek saja supaya bisa cuci dan blow sendiri. Acara ke salon pun terpaksa hanya dilakukan Rita saat tak ada agenda penting di akhir pekan. Beruntung, dua putrinya, Kania Naffarindra K (13) dan Diva Narindra K (10), suka menemani Rita ke salon. ”Tetapi mereka betahnya paling tiga jam.”

Lho, jadi bisa berapa lama Rita di salon? ”Aku bisa lho dari pagi sampai malam di salon. Pijat lulur, ratus, body bleaching, masker, creambath, manicure, pedicure, waxing.”

Wow, Rita pasti bagaikan kembang. Harum sekali....

 Profil Dirku PT Pindad (Persero) 

Fokus dan Tulus

BRAIN, beauty, and behaviour. Tiga kata itulah yang pantas menerjemahkan sosok Rita Widayati (35). Perempuan pintar dan cantik ini melesat dalam berkarier tetapi selalu ­menganggapnya sebagai keberuntungan. Baru sepekan menjabat ­posisi Direktur ­Administrasi dan Keuangan PT Pindad (Persero), tetapi sudah berhasil membuat maping untuk BUMN strategis ini. Bagaimana sisi lain dari Rita? Ini yang menarik...

BERASAL dari kota kecil Trenggalek, beasiswa Sekolah Tinggi Administrasi Negara (STAN) menjadi awal keberangkatan Rita ke ibukota. Hidup mandiri tanpa saudara dan sanak keluarga, membentuk Rita jadi sosok pantang me­nyerah. Ia juga tidak pernah takut mencoba hal baru.

"Kebayang saja, lulusan SMA tanpa ada sanak famili di Jakarta seperti apa. Tapi mau tidak mau harus dijalani," ujar Rita memulai kisahnya.

Saat bertemu "PR", Rita akan menuju Turen, Malang, Jawa Timur. Semua jajaran Direksi PT Pindad akan menghadiri acara penetapan sebuah paten produk perusahaan tersebut. "Tapi tidak apa-apa, tenang saja, masih ada jeda waktu koq," ujarnya sambil menyiapkan beberapa barangnya.

Termuda

Kalau melihat data statistik, Rita termasuk direktur BUMN paling muda. "Ah mengalir saja," tutur Rita tentang posisinya.

Rita memang selalu punya target tertentu, bahwa suatu ketika, dia harus berada di posisi tertentu. Tetapi justru posisi yang ditargetkan itu lebih cepat diraih dari yang telah direncanakannya.

Hal itu diraihnya sejak lulus D3. Dengan nilai terbaik, Rita tidak harus menunggu bekerja terlebih dahulu sebelum melanjutkan pendidikannya ke D4 (S1). Ia langsung melanjutkan dan dengan cepat pula menyelesaikan pendidikannya di tingkat sarjana. "Ini sebetulnya keberuntungan buat saya. Karena nilainya baik, enggak harus kerja dulu tapi langsung lanjut," ujarnya.

Rita satu-satunya direksi non karier di perusahannya. Empat dari lima direksi baru semua berasal dari internal perusahaan, sedangkan Rita dari luar perusahaan. Ia sebelumnya menjabat sebagai Kepala Group (Asistent Vice Presdient) Divisi Rekstrukturisasi dan Revitalisasi (RR) PT Perusahaan Pe­ngelola Aset (PPA Persero) di Jakarta.

Menyehatkan

Kompetensi Rita di bidang pengelolaan perusahan-perusaan yang memerlukan penanganan khusus, pengelolaan aset, restruktur BUMN, konsultan korporasi, urusan legal, dll yang semua dasar ilmunya adalah akuntansi. "Hanya di Bandung ini saja pekerjaannya lebih pada keuangan. Sebelumnya lebih banyak pada upaya-upaya penyehatan aset, dll," terangnya.

Posisi yang pernah ditempati Rita adalah Auditor Jogasara Public Accountant Firm, Jakarta; Auditor Badan Pemeriksa Keuangan (Bapeka), Jakarta; Accounting Supervisor Soe­yatna, Mulyana, & Rekan Public Accountant Firm, Jakarta; Kepala Unit Akuntansi (Manajer) Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), Jakarta; Kepala Unit Keuangan dan Akuntansi (Senior Manager) PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA Persero), Jakarta; dan posisi terakhir yang ditinggalkannya adalah Kepala Group (Asistent Vice President) Divisi Restrukturisasi dan Revitalisasi (RR) PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA Persero) Indonesia. Sampai akhirnya ia menjabat sebagai Direktur Administrasi dan Keuangan PT Pindad.

Selain pernah menempati berbagai posisi penting, Rita tidak berhenti pada posisi itu. Ia terus belajar untuk lebih meningkatan kompetensinya, terutama belajar kepada senior-senior di PPA.

Bukan hanya belajar tentang cashflow keuangan, tetapi juga belajar tentang strategi manufaktur, hubungan dengan stakeholder, hubungan de­ngan perbankan, supplier, dll yang semuanya dianggap sebagai partner oleh Rita.

Rita juga pernah menangani penyehatan perusahaan Botlling Gresik, perusahaan Kertas Craft Aceh, Industri Sandang Nusantara, dan masih banyak lagi.

"Intinya, saya secara strategi memberi gambaran kepada Menteri BUMN bagaimana perusahaan yang telah saya periksa. Apakah perusahaan itu masih memungkinkan atau harus dilakukan upaya restrukturisasi," kata Rita tentang pekerjaannya.

Bertahap

Menempati posisi penting di perusahaan industri strategi, tentu bukan serta merta. Tetapi bertahap mulai dari auditor yunior sampai kini menempati posisi direksi administrasi dan keuangan.

Rita mengaku, semua itu ia peroleh karena fokus. Bila sedang mengerjakan satu hal, Rita sangat berpegang pada metodologi. "Dengan metodologi, kita dapat mengetahui dengan apa dan arah mana yang dituju. Evaluasi dan rekomendasinya nanti jadi jelas," ujarnya.

Agar tidak terpaku pada metodologi, Rita senantiasa menguatkan kompetensinya dengan berbagai cara. Antara lain dengan belajar secara praktik. Direktur-direktur BUMN tidak hanya menjadi partner-nya tetapi sekaligus menjadi narasumber Rita mendalami kompetensinya.

"Jadinya menyenangkan. Setiap saya terlibat dalam suatu pekerjaan di BUMN tertentu, saya belajar banyak dari keterlibatan tersebut," ujarnya.

Yang menarik, meskipun cara kerja Rita profesional, ia justru mendapat­kan keseimbangan dari profesionalitasnya itu dengan tulus. Beberapa kali terlibat dengan perusahaan yang hampir kolaps, memosisikan Rita tidak hanya harus profesional tetapi juga bekerja menggunakan hati.

Dia membangun kepercayaan SDM untuk kembali bangkit. "Sampai-sampai saya sempat menjual listrik untuk menyelamatkan perusahaan tersebut," ujarnya.

Perusahaan itu nyaris kolaps, dari beberapa aset yang dimiliki ternyata mampu memproduksi listrik. Dengan izin dan kerjasama berbagai pihak, akhirnya perusahaan itu dapat memperbaiki kondisi keuangannya.

"Inti kuncinya adalah tulus. Saya mencoba me-maintance BUMN di mana saya berada di dalamnya, de­ngan cara mengelola hati. Seberat apapun kalau ada sinergi baik antarkaryawan, karyawan dengan perusahaan, dan perusahaan dengan saya selaku konsultan, pastinya akan ada harmoni," ujarnya panjang lebar.

Di perusahaan itu, Rita menempatkan kaki dan hatinya. Bahwa perusahaan harus baik kembali, harus berjalan kembali. Dari beberapa perusahaan yang secara profesional dibantu disehatkan oleh Rita, sampai sekarang masih terus berhubungan baik. "Inilah nikmatnya tulus, kebaikan itu pasti akan berumur panjang," tutur Rita menutup kisah kariernya.

Membaca Buku Biografi

RITA mengaku tidak branded untuk semua baju, sepatu, dan lainnya. Ia juga bukan seorang yang "gadget banget". "Malah aku cenderung gaptek," ujarnya.

Mengomentari program kerja di perusahaannya yang baru, Rita mengatakan, tinggal mengikuti saja. Sebab setiap perusahaan memiliki cara dan budayanya sendiri. Pun demikian dengan sistem perusahaan yang mungkin agak birokratis, Rita menanggapi dengan santai.

"Protokoler itu tidak selama jelek. Tetapi saya selau ingin bilang, pekerjaan kita sudah berat. Yuk kita hadapi dengan fun, jangan membuat jarak," anjurnya.

Pindad, kata Rita, tidak sedang dalam kondisi likuiditas. Kalaupun ada perbaikan di manufacturing, bisnis improvement, perannya adalah menjaga managemen keuangan, strategi pembiayaan yang didukung produksi pembiayaan dll.

Namun demikian, meski baru seminggu menjadi Dirkeu, ia sudah dapat membaca peta perusahaan tersebut. Dan ia sedang menyiapkan solusi dari maping selama seminggu itu.

Pasalnya, kata dia, perusahaan sebentar lagi menghadapi semesteran. Itu artinya, target-target pencapaian yang ditetapkan perusahaan itu sebelumnya dirinya, harus disinkronisasikan. "Bismillah saja, kalau perusahaan ini kan jauh lebih baik dari perusahaan-perusahaan yang dulu saya ta­ngani dan harus disehatkan," ujarnya lagi.

Untuk mengisi waktu senggangnya, Rita punya hobi membaca biografi orang-orang besar. Dengan begitu, kata dia, ia dapat belajar mencari dan memahami solusi yang digunakan orang-orang besar saat mengalami kejadian kehidupannya.

"Pokoknya biorgrafi itu asyik buat saya. Saya dapat membaca sepak terjang orang-orang besar dalam melerai hambatan menuju sukses," ujar pengagum Dahlan Iskan ini.

Rita termasuk orang yang selalu mengingat jasa terbaik para guru. Guru yang paling berpengaruh dalam kariernya adalah Saeful Hakman. "Beliau mengajarkan saya untuk belajar. Belajar membangun tim, membesarkan tim itu de­ngan arahan, contoh, dll," imbuhnya. (Eriyanti/"PR")**

Sumber : Rubrik Geulis Harian Umum Pikiran Rakyat Minggu, 16 Juni 2013

  ● Kompas | Pindad  

Hingga Juni 2013 kejahatan maritim Asia capai 57 kasus

http://www.bisnis-kti.com/show_image_NpAdvMainFea.php?filename=/2013/07/kejahatan-maritim.jpg&cat=1&pid=152005&cache=falsePusat informasi Regional Cooperation Agreement on Combating Piracy and Armed Robbery Against Ships in Asia (ReCAAP) menyatakan, selama periode Januari-Juni 2013 terjadi 57 kejahatan maritim di perairan Asia.

"Dari jumlah itu 54 merupakan kejadian aktual dan sisanya merupakan sebatas upaya kejahatan," ungkap Kepala Pusat Informasi Keamanan Maritim Indonesia (Pikmi) Moh Yasin dalam rilisnya di Jakarta, Rabu (24/7/2013).

Ditambahkannya, figur tersebut jauh di bawah statistik kejahatan maritim pada periode yang sama tahun lalu, yakni 64 kejadian.

Lembaga tersebut adalah sebuah unit di bawah The National Maritime Institute/Namarin yang khusus membidangi informasi aksi kejahatan terhadap kapal. Pikmi merupakan mitra ReCAAP di Indonesia.

Lebih lanjut diungkap Yasin, aksi kejahatan maritim tahun ini juga menunjukkan penurunan tingkat kekerasan (severity) yang dilakukan oleh pelaku. Dari 57 insiden, 13 digolongkan kejahatan maritim Kategori 2 (cukup signifikan), 20 Kategori 3 (kurang signifikan), 21 hanya pencurian ringan (petty theft). Tidak ada kejahatan yang dapat digolongkan Kategori 1.

"Kejahatan Kategori 2 tahun ini merupakan yang terendah dalam kurun lima tahun pencatatan kejahatan maritim oleh ReCAAP. Tapi, untuk kategori 3, terjadi peningkatan," ujar Yasin.

Sebuah kejahatan maritim dikelompokan ke dalam Kategori 2 karena dia dinilai cukup signifikan (moderately significant) yang ditandai dengan penggunaan senjata tajam, biasanya berupa pisau atau parang, oleh para pelaku saat menyerang kapal.

Sedangkan sebuah perampokan laut dimasukan ke dalam Kategori 3 karena dinilai kurang signifikan (less significant); pelakunya menaiki kapal secara diam-diam layaknya pencuri dan kabur setelah mendapatkan apapun barang berharga yang dijumpai di atas kapal. Istilah lain untuk tipe ini adalah petty theft atau pencurian ringan.

Kategori terberat dalam kejahatan maritim adalah Kategori 1 karena ia menimbulkan dampak yang sangat signifikan (very significant) terhadap korban dan yang digolong ke dalam kelompok ini adalah perompakan atau piracy.

Penurunan tingkat kejahatan maritim, urai Yasin, terjadi di Bangladesh, India dan Selat Malaka dan Selat Singapura. "Namun, terjadi tren peningkatan kejadian berkategori 3 di area pelabuhan dan tambatan (anchorage) di Indonesia."

Ditambahkan Yasin, rata-rata kejahatan maritim yang terjadi melibatkan kelompok pelaku yang terdiri dari 1-3 orang bersenjatakan parang atau pisau. Dan, barang yang digondol adalah suku cadang kapal serta benda berharga milik ABK.

  ● Sindo  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...