Sabtu, 07 Maret 2015

[World] Sistem Pertahanan Udara S-300V4 Dilengkapi Rudal Jarak Jauh

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/6/66/Tor-M1_and_S-300V_SAM,_2008.jpg/640px-Tor-M1_and_S-300V_SAM,_2008.jpgS-300V4 [wikipedia]

Sistem pertahanan udara S-300V4 untuk militer Rusia telah dilengkapi dengan rudal jarak jauh terbaru, demikian disampaikan oleh Kementerian Pertahanan Rusia pada TASS, Kamis (5/3). "Jangkauan misil ini mencapai 400 kilometer,"terang sumber dari kementerian tesebut.

Misil baru ini telah berhasil melalui tahap uji coba negara tahun lalu. Sistem S-300V4 milik Distrik Militer Barat akan menjadi yang pertama mendapatkan misil ini.

Sistem S-300V4 masuk dalam perbendaharaan senjata Angkatan Darat Rusia pada 2014. Mereka menerima dua set sistem canggih tersebut, yang 2,5 kali lebih efisien dibanding sistem sebelumnya.

Akhir tahun lalu, produsen sistem pertahan udara Almaz Antey menyampaikan pada TASS bahwa misil jarak jauh terbaru untuk S300V4 tengah dikembangkan, tanpa memberi detil lebih lanjut.

  RBTH  

Kisah Supersemar dan Soekarno ngamuk di Istana Bogor

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjUzh62fJ-IyRXU7MlAxIa9fXkagzsRnN3WQlx7Gs7KNnIYng345JSfujFfgVIt0KNLnElsb263jrQYCq4HKFG6HYqtGVBBvgpoDR5Zn-ek557Ui0sv2pzIw01mS8Yc3fHiayC9Rh3qnu0/s280/kisah-supersemar-dan-soekarno-ngamuk-di-istana-bogor-lipsus-istana-bogor-3.jpgDi balik kemegahannya, Istana Bogor menyimpan sejarah yang dramatis tentang sebuah perpindahan kekuasaan. Turunnya Surat Perintah 11 Maret atau yang dikenal dengan Supersemar menjadi titik balik berkuasanya Soeharto menggantikan Soekarno.

Ada tiga jenderal yang ikut berperan mendalangi turunnya Supersemar. Siapa saja tiga jenderal tersebut? Bagaimana kisah dramatis yang terjadi di Istana Bogor waktu itu?

Hari itu, Jumat tanggal 11 Maret 1966, waktu menunjukkan pukul 13.00 di Istana Bogor. Terdengar deru helikopter mendarat di lapangan istana. Ternyata tiga orang jenderal angkatan darat (AD) datang untuk menemui Soekarno.

Ada yang mengatakan mereka datang mengendarai jeep yang dikemudikan oleh Brigjen Muhammad Jusuf yang waktu itu menjabat sebagai Menteri Perindustrian. Dua jenderal lainnya, yaitu Mayjen Basuki Rachmat (Menteri Veteran dan Demobilisasi) dan Brigjen Amir Mahmud (Panglima Kodam Jaya).

Soekarno sedang istirahat saat trio jenderal datang. Hari itu memang bukan hari yang menggembirakan bagi Soekarno. Tidak seperti biasanya, dia datang ke Istana Bogor lebih awal. Soekarno pergi meninggalkan rapat kabinet di Jakarta menuju Bogor dengan tergesa-gesa.

Brigjen Saboer, pengawal dan ajudan kepercayaan Soekarno, melaporkan adanya kericuhan dan pasukan liar mendekati istana. Padahal sebelumnya, Amir Mahmud yang dipercaya untuk mengamankan rapat, melaporkan situasi dalam kondisi aman.

Kejadian tersebut yang memunculkan inisiatif dari Basuki Rachmat dan Jusuf untuk menemui Soekarno di Bogor. Meskipun kedua menteri ini hadir dalam rapat kabinet di Istana Merdeka, tapi mereka tidak tahu menahu mengenai laporan berbeda hingga memunculkan ketegangan antara Saboer dan Amir Mahmud.

Sebelum berangkat ke Bogor, trio jenderal sempat menemui Soeharto di Jalan Haji Agus Salim. Waktu itu Soeharto yang telah diangkat Soekarno sebagai Panglima Pemulihan Keamanan dan Ketertiban, sedang dalam kondisi sakit.

Soeharto kemudian mengizinkan ketiganya untuk menemui Soekarno dan menitipkan pesan, Saya bersedia memikul tanggungjawab apabila kewenangan untuk itu diberikan kepada saya untuk melaksanakan stabilitas keamanan dan politik berdasarkan Tritura.

Di balik kedatangan tiga jenderal itu ternyata ada maksud lain. Mereka meminta Soekarno agar memberikan kewenangan penuh kepada Soeharto untuk mengamankan kondisi negara. Berdasarkan pengakuan Lettu Sukardjo, pengawal presiden yang berjaga waktu itu, suasana nampak tegang.

Antara tiga jenderal dan Soekarno terlibat adu argumen tentang isi surat kewenangan yang akan diberikan kepada Soeharto. Bahkan Sukardjo mengatakan sempat terjadi todong-todongan senjata antara dirinya dan trio jenderal.

Karena berbagai desakan yang muncul, akhirnya Soekarno menandatangani surat kewenangan untuk Soeharto. Surat itu yang kemudian dikenal dengan nama Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) 1966. Berbekal SP 11 Maret, Soeharto setapak melangkah lebih depan menuju kekuasaan.

Dia tampil sebagai pahlawan kesaktian Pancasila yang telah membasmi bahaya komunis dari Tanah Air. Maka setahun pasca keluarnya Supersemar, Soeharto mengubah Indonesia dari era Orde Lama menuju era Orde Baru. Tepat pada tanggal 22 Februari 1967, Soekarno menyerahkan nakhoda pemerintahan Indonesia kepada Soeharto.

Setelah runtuhnya kekuasaan Soeharto, banyak yang mengungkap mengenai kisah di balik munculnya Supersemar. Butir-butir di dalam Supersemar ternyata disalahtafsirkan Soeharto sebagai penyerahan wewenang pimpinan pemerintahan. Ada pula yang meragukan mengenai keaslian dari Supersemar yang dipegang Soeharto dengan yang diberikan oleh Soekarno.

Salah satu dari trio jenderal itu diduga menyimpan naskah asli Supersemar. Sayangnya, ketiga jenderal tersebut sudah mangkat dan Supersemar yang asli masih menjadi misteri.

Di balik itu semua, Istana Bogor telah menjadi saksi berbagai sejarah yang akan terekam di dinding-dinding bangunan megah itu sepanjang masa.

Istana yang seharusnya menjadi pengingat bagi setiap orang yang singgah atau sekadar melihat rusa-rusa cantik di sana. Istana yang dibangun bukan hanya sebagai penghias kota Bogor.

Tapi ia sebuah bangunan yang harusnya menyadarkan kita agar jangan pernah melupakan sejarah. Istana Bogor, sebuah istana yang kini dipilih oleh Presiden Jokowi sebagai tempat utama untuk mengatur pemerintahan Indonesia.

  Merdeka  

[World] Perselisihan AS dan Rusia Hanya Menguntungkan Teroris

Direktur Federal Security Service Rusia (FSB) telah mengungkapkan kesediaannya untuk bekerja sama dengan Amerika dalam memerangi ISIS. Para pakar menyebutkan memburuknya hubungan Rusia dan AS akibat konflik di Ukraina hanya menguntungkan para teroris di Timur Tengah. imagePakar: Kita harus sadar kita perlu bekerja sama, di luar masalah politik yang sedang kita hadapi. Kredit: Reuters★

"Rusia dan AS telah berulang kali mendiskusikan rencana kerja sama dan berkesimpulan bahwa hal ini tak boleh dipolitisasi," demikian diungkapkan oleh Direktur FSB Aleksander Bortnikov, mengomentari hasil konferensi internasional mengenai pemberantasan ekstremisme yang berlangsung di Washington, 17-19 Februari lalu.

"Kita harus sadar kita perlu bekerja sama, di luar masalah politik yang sedang kita hadapi," kata Bortnikov.

Bortnikov mengungkapkan kesediaan Rusia untuk bekerja sama melawan ISIS, yang kini telah menguasai beberapa wilayah Suriah dan Irak. "Ini benar-benar masalah serius dan kita harus bersatu menghadapinya," ujarnya.

Para pakar menyebutkan, kerja sama dalam memerangi terorisme dewasa ini tengah mengalami kemunduran serius. Kerja sama Rusia dan AS semakin minim, padahal pemimpin kedua negara sama-sama khawatir mengenai penyebaran pengaruh ISIS yang berlangsung pesat.

 Ancaman ISIS bagi Rusia 

Jika dilihat sekilas, ISIS memang tidak memberi ancaman langsung bagi Rusia. "Bagi ISIS, lebih penting untuk menyebarkan pengaruh di Timur Tengah, dengan tidak ada atau tidak stabilnya rezim politik di sana," kata Leonid Isayev, seorang pengamat Asia dan dosen senior di Higher School of Economics' Department of Political Science.

Namun, pernyataan ISIS tahun lalu mengenai rencana mereka untuk merebut Chechnya, menurut Isayev merupakan salah satu upaya untuk meneror Rusia.

ISIS, bagaimanapun, merupakan ancaman serius bagi Rusia, karerna ribuan pejihad dari wilayah bekas Uni Soviet seperti Rusia, Asia Tengah, dan Kaukasus Selatan, telah bergabung dengan kelompok teroris tersebut.

"Para muslim yang telah terpengaruh ideologi radikal dan memiliki pengalaman tempur itu kemudian kembali ke kampung halaman," kata Dmitry Suslov, Wakil Direktur Higher School of Economics' Complex and International Studies Center.

 Enggan Bekerja Sama? 

Masalahnya, saat ini Moskow dan Washington sama-sama kesulitan untuk sepakat bekerja sama, bahkan dalam memerangi ancaman bersama sekelas ISIS. Terdapat beberapa alasan yang melatarbelakangi hal tersebut.

Alasan pertama adalah perbedaan strategi. "Kebijakan Amerika di Timur Tengah tak memiliki pendekatan yang sistematis. Belum selesai membasmi al-Qaeda di Irak, AS beralih ke Libya, kemudian setelah itu melakukan intervensi konflik Suriah," kata Isayev.

Amerika malah berusaha mengintervensi urusan internal negara-negara tersebut dan mencampuri proses demokrasi di sana. Sementara, strategi Rusia untuk memerangi terorisme berbasis pada dukungan untuk rezim yang sedang berkuasa, tanpa memandang aspek demokrasi dan hak asasi manusia di negara-negara tersebut.

Alasan kedua yang mempersulit terciptanya kerja sama untuk membebaskan Timur Tengah dari teroris adalah keengganan Washington untuk menjadikan Moskow sebagai mitra.

"Logika konfrontasi membuat mereka enggan bekerja sama dan perlu menimbang-nimbang dengan seksama apakah hal tersebut benar-benar perlu," kata Suslov.

"Selain itu, kedua pihak memiliki penilaian yang berbeda mengenai penyebab munculnya ancaman terorisme ini. Rusia menganggap pihak yang paling bersalah atas kemunculan ISIS adalah AS. Kebijakan AS yang diterapkan pada Suriah dilihat sebagai pengulangan dari situasi pada tahun 1980-an, ketika Amerika mendukung muhajidin Afganistan untuk melawan Uni Soviet."

Kemunculan kembali tren untuk mengotak-kotakan wilayah juga mempersulit persatuan untuk melawan terorisme. "Kompetisi membuat kita sulit untuk bekerja sama, alih-alih kita jadi mudah dipermainkan oleh kelompok radikal," kata Isayev.

 Masih Ada Harapan 

Menurut Suslov, pernyataan Bortnikov mengenai kemungkinan kerja sama tersebut mengindikasikan bahwa perselisihan Moskow dan Washington hanya menguntungkan para teroris.

"Ini menandai kita tengah memasuki fase 'konfrontasi dewasa', ketika perbedaan pendapat mengenai beberapa isu (Ukraina) tidak menghalangi kita untuk melakukan dialog mengenai isu lain, bahkan mungkin malah bekerja sama," kata Suslov.

  RBTH  

Jumat, 06 Maret 2015

Pembentukan Armatim di Sorong

Marinir Kerahkan 8.000 Prajurit untuk Armada Timur di Papua imageIlustrasi Pendaratan Yontank Korps Marinir★

TNI AL akan menambah 1 Komando Armada yang sejalan dengan pembentukan Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan). Untuk memperkuat Komando Armada yang baru, Marinir juga akan menambah 1 Pasukan Marinir (Pasmar) yang merupakan Komando Pelaksana Utama Korps baret ungu tersebut.

Saat ini TNI AL memiliki 2 Komando Armada, yaitu Komando Armada Barat (Koarmabar) yang berada di Jakarta dan Komando Armada Timur (Koarmatim) yang berada di Surabaya, Jawa Timur. Nantinya TNI AL akan menambah dengan pembentukan Komando Armada Tengah di Makassar, Sulsel, dan Koarmatim akan dipindahkan ke Sorong, Papua. Sedangkan Koarmabar tetap berada di Jakarta. Sementara untuk yang di Surabaya akan dijadikan Komando Armada RI sebagai pusat.

Komandan Korps Marinir Mayjen Faridz Washington mengatakan jajarannya siap dengan rencana penambahan kekuatan itu. Pembentukan 1 Pasmar baru itu rencananya akan ditempatkan untuk mendukung Koarmatim di Sorong.

"Kami sudah siap. Nanti nambah 1 di Sorong, satu lokasi dengan Koarmatim. Kalau yang di Jakarta dan Surabaya tetap," ujar Faridz saat dikonfirmasi di Mako Marinir, Kwitang, Jakpus, usai mendapat kunjungan dari jajaran Trans Media, Jumat (6/3/2015). Turut hadir dalam acara tersebut Komisaris Trans Media Ishadi SK.

Marinir akan menambah 8.000 personel untuk kekuatan di Pasmar Sorong itu. Bahkan satu batalyon tank saat ini sudah siap meski Pasmar ketiga tersebut belum terbentuk.

"Personel tambah, sekitar 8.000-an. Kalau (penambahan) Alutsista bertahap sampai renstra (rencana strategi) ke 2024. Kalau sekarang yang sudah siap 1 batalyon tank," kata Jenderal Bintang 2 itu.

Faridz pun mengaku siap mengerahkan pasukan dan komando kapanpun diperintahkan. Menurutnya pembentukan Koarmatim menyusul Parmar di Sorong hanya tinggal menunggu Keputusan Presiden.

"Kalau kita sih siap kapan aja, tinggal nunggu waktu, tunggu perintah dari Panglima, tunggu Keppres.," tutur Faridz.

Lalu sudah ada nama-nama yang disiapkan untuk menjadi Komandan Pasmar di Sorong?

"Belum lah kalau itu," pungkasnya.(ear/trq)

  detik  

NBell-412 HU-417 Masuk Wing Udara 2 Puspenerbal

Komandan Berserta Seluruh Anggota Wing Udara 2 Menyambut Kedatangan Helikopter Angkut NBell-412imageHari Kamis, tanggal 05 Maret 2015 pukul 14.47 WIB. bertempat di Shelter Lanudal Tanjungpinang, Komandan Wing Udara 2 Kolonel Laut (P) Dwika Tjahja S. beserta seluruh anggota Wing Udara 2 menyambut kedatangan Helikopter Angkut jenis Nbell-412 dengan nomor lambung HU-417 yang diawaki oleh pilot Mayor Laut (P) Dani Achnisundani dan copilot Kapten Laut (P) Hariyanto Tahir. Kedatangan Helikopter tersebut adalah untuk memperkuat unsur pesawat udara di Wing Udara 2 yang sudah ada, diharapkan nantinya akan mampu mendukung tercapainya tugas pokok Wing Udara 2.

Dalam kesempatan tersebut Komandan Wing Udara 2 berpesan bahwa dengan bertambahnya alutsista di Wing Udara 2 maka bertambah pula tugas dan tanggung jawab yang diemban, oleh sebab itu diharapkan kepada seluruh anggota Wing Udara 2 untuk lebih memantapkan dan meningkatkan kemampuan seluruh awak pesawat udara sehingga dapat mengoptimalkan unsur pesawat yang ada dalam mendukung tugas pokok Wing Udara 2.

Helikopter Angkut Nbell-412 HU-417 memiliki dimensi dengan panjang 56 feet 2 inch, lebar main rotor 46 feet dan tail rotor 8 feet 7 inch, tinggi 11 feet 5 inch, berat kosong 7.500 lbs, berat maksimal 11.900 lbs, memiliki double engine dengan merk pratt and whitney-Canada dengan performance kecepatan jelajah 127 knot kecepatan penuh 140 knot serta jarak jelajah 280 nm laut, waktu jelajah terbang maksimum 2 jam 30 menit. Helikopter yang memiliki nomor lambung HU-417 adalah helikopter yang dialih binakan dari Wing Udara 1 ke Wing Udara 2 tepatnya pada bulan November tahun 2014, namun karena faktor teknis baru bisa didatangkan ke Wing Udara 2 saat ini.

  Ramalan Intelijen  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...