Kamis, 27 April 2017

TNI AL Perlu Menambah Jangkauan Patroli Udara Maritim

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiOMJl68D6P0LZxUVAQylPQy0LOJ-aCeg5yorEqBpj9xW2STBVkLltUAXFYHFusLBVX3ChG-bhgbThHthmTsH6RvADh4yrzXS6lYSI10yikYWcS6oUer3Lhcka8Hmrnaii2bGvEc23HLgc/s1600/maxresdefault.jpgR350 persembahan PT Bhineka Dwi Persada ✮

TNI Angkatan Laut, khususnya Komando Armada RI Kawasan Barat (Koarmabar) perlu menambah jangkauan patroli udara maritim. Salah satunya dengan menggunakan drone yang dapat dikendalikan dari kapal-kapal perang.

Pandangan itu disampaikan pengamat intelijen dan pertahanan Susaningtyas NH Kertopati atau yang akrab disapa Nuning di sela-sela acara Latihan Siaga Tempur Laut Koarmabar yang digelar di Jakarta, Kamis (27/4). “Koarmabar juga harus membangun kemampuan prosedur komunikasi para awak kapal-kapal dengan pesawat-pesawat tempur TNI AU,” ujarnya.

Nuning yang menjadi pembicara pada acara itu mengatakan, salah satu parameter yang menentukan kekuatan pertahanan maritim adalah kemampuan pendeteksian serta memberikan reaksi terhadap ancaman secara efektif dan efisien. Artinya, intelijen maritim sebagai first line of defense.

Dia juga mengingatkan pentingnya Network Centric Warfare (NCW) sebagai sistem komando dan pengendalian yang fokus pada penggunaan teknologi informasi mutakhir dan berbasis komputer pada kapal, pesawat, pangkalan, dan satuan lainnya. Sistem itu terintegrasi dalam satu sistem komputer atau digital.

“NCW merupakan perwujudan single agency-multi task yang terintegrasi, efisien, dan terpadu untuk memudahkan koordinasi dalam pengumpulan data dan memudahkan respon terhadap ancaman. Dengan demikian, bisa menghindari adanya ego sektoral,” katanya.

Menurut Nuning, perlu pula ada transformasi intelijen angkatan laut (naval intelligence) yang terbatas pada dimensi pengamanan dan sektoral menjadi intelijen maritim yang mampu menyediakan informasi menyeluruh kepada pemangku kepentingan maritim nasional. Untuk itu, diperlukan kerja sama taktis Koarmabar dan pesawat tempur Komando Operasi TNI AU I pada patroli di perairan Natuna hingga zona ekonomi eksklusif (ZEE).

“Koarmabar perlu memperkuat deteksi dini dengan pesawat udara TNI AU dan drone serta penambahan radar-radar early warning dan radar-radar surveillance untuk mendeteksi kehadiran pesawat tempur Tiongkok dan kapal-kapal coast guard mereka di kawasan itu,” ujarnya.

Koarmabar juga perlu memperkuat peralatan sonar portabel di beberapa celah sempit di perairan Anambas hingga Bangka-Belitung. Hal itu untuk mendeteksi penyusupan kapal-kapal selam Tiongkok. Kemampuan deteksi sonar tersebut seiring dengan peralatan sonar di atas kapal-kapal perang Koarmabar yang juga harus dilengkapi dengan torpedo, ranjau, dan bom laut.

“Jika upaya-upaya itu tidak dilakukan, maka manajemen risiko yang akan dihadapi Koarmabar sangat berat. Sebagai contoh, jika pesawat-pesawat tempur TNI AU dan sistem pertahanan udara kapal-kapal Koarmabar tidak disiapkan dengan baik, maka serangan udara Tiongkok tidak dapat dicegah,” ujarnya.

Untuk itu, kata Nuning, dipandang penting adanya berbagai peralatan baru untuk mengantisipasi dinamika dan potensi meletusnya konflik di Laut Cina Selatan (LCS). Dengan memanfaatkan ASEAN, Koarmbar juga bisa menjalin kerja sama dengan angkatan laut negara-negara tetangga yang berkonflik dengan Tiongkok di LCS.

“Minimal, angkatan laut negara-negara tersebut dapat memberikan data intelijen pergerakan kekuatan Tiongkok, sehingga Koarmabar memiliki waktu yang memadai untuk persiapan aksi-aksi pelibatan. Untuk itu, perlu dilatih kerja sama taktis pertukaran data intelijen antara Koarmabar dengan angkatan laut negara-negara tersebut,” katanya.

  ⚓ Berita Satu  

TNI AL Latihan Tempur di Perairan Natuna

http://images.cnnindonesia.com/visual/2015/09/20/86f1a3be-944c-43f2-a2a0-ad1b5cbdd892_169.jpg?w=650Ilustrasi KRI TNI AL [CNN] ✮

Komando Armada Republik Indonesia Kawasan Barat (Koarmabar) TNI Angkatan Laut menggelar latihan ‎perang di perairan Natuna, Kepulauan Riau (Kepri). Latihan tempur itu akan digelar selama lima hari, Selasa-Minggu, 25-30 April 2017.

Panglima Koarmabar Laksda TNI Aan Kurnia menjelaskan, latihan perang yang diberi sandi “Latihan Siaga Tempur Koarmabar 2017” itu untuk menguji kemampuan tempur sistem senjata jajaran Koarmabar dan Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil).

Khusus untuk Lantamal IV pada harbour phase kembali menguji kemampuan, antara lain: dasar-dasar peperangan elektronika (Pernika), Sunrise Sunset Navigasi, Hukum Internasional, Raid Report Surface and Sab Surface, dan Raid Report Air yang diikuti oleh personel dari Satuan Kapal Ranjau (Satran), Satuan Kapal Cepat (Satkat), Fasharkan Tanjunguban dan Satkamla Lantamal IV.

Latihan ini, ungkap Aan Kurnia, bertujuan untuk meningkatkan profesionalisme prajurit Koarmabar, baik yang berada di kapal perang (KRI), pangkalan Angkatan Laut (Lanal), maupun pangkalan Utama Angkatan Laut (Lantamal).

“Dengan latihan ini para prajurit dapat melaksanakan tugas utamanya serta dapat meningkatkan kerja sama taktis antar unsur-unsur Koarmabar dalam melaksanakan aksi tempur laut,” ungkap Aan Kurnia, Kamis, 27 April 2017.

Aan memaparkan, latihan ini merupakan yang terbesar karena melibatkan sejumlah kapal perang berbagai jenis, seperti; perusak kawal rudal (PKR), delapan kapal perang jenis kapal cepat rudal (KCR), dua kapal perang jenis penyapu ranjau (PR), sembilan kapal perang jenis patrol combat (PC).

Selain itu, kapal parang jenis angkut tank type frosch (ATF), kapal perang jenis landing platform dock (LPD), kemudian kapal tunda (TD) serta pesawat udara jenis Cassa, KRI Banda Aceh-593, KRI Teluk Sibolga-536, KRI Diponegoro-365, KRI Kapitan Pattimura-371, KRI Sutedi Senoputra-378.

“Laut Natuna sangat strategis sebagai lokasi latihan karena melibatkan unsur 20 kapal perang (KRI), 4 pesawat udara, dan 1.000 personel dilibatkan dalam latihan ini, termasuk alutsista tercanggih yang kita miliki saat ini,” paparnya.

Kepala Dinas Penerangan Lantamal IV Mayor Laut (KH) Josdy Damopolii menambahkan, latihan ini melibatkan prajurit yang ada di Lantamal I, II, III, IV, dan XII di bawah jajaran Koarmabar, termasuk Satkat, Satran, Fasharkan, Satkamla Lantamal IV.

“Latihan perang ini untuk menjaga dan meningkatkan kemampuan prajurit yang ada di kapal, pesawat dan pangkalan-pangkalan,” ujarnya.

Josdy menambahkan, latihan perang ini sekaligus bertujuan untuk mengasah kemampuan taktis dan kerja sama prajurit yang sebelumnya dilaksanakan perencanaan latihan hingga tactical floor game dan manuver lapangan.

  ⚓ Metrotv  

Dedikasi Prajurit TNI Wujud Komitmen Indonesia terhadap Misi Perdamaian PBB

✬ Kedatangan Prajurit Konga XXXV-B/Unamid Panglima TNI : Dedikasi Prajurit TNI Wujud Komitmen Indonesia terhadap Misi Perdamaian PBBSSV PAL Indonesia [PAL] ✮

Dedikasi prajurit yang telah tunjukan adalah wujud komitmen Indonesia terhadap misi perdamaian dan kesejahteraan dunia yang secara langsung dapat meningkatkan kredibilitas Indonesia dan TNI di forum internasional serta memperbesar kemampuan lobi dan posisi tawar Indonesia dalam percaturan politik dunia.

Hal tersebut disampaikan Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo saat menerima kedatangan 800 prajurit TNI Kontingen Garuda XXXV-B/Unamid dibawah pimpinan Letkol Inf Singgih Pambudi Arinto sebagai Komandan Satgas, dalam suatu upacara militer di Plaza Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Rabu (26/4/2017).

"Saya merasa bangga, kalian kembali dengan selamat dan membawa harum nama bangsa Indonesia, setelah setahun kalian melaksanakan tugas negara dan semoga rasa bangga saya ini juga menjadi kebanggaan kalian semua," tegas Jenderal TNI Gatot Nurmantyo.

Lebih lanjut Panglima TNI mengatakan bahwa secara umum, dinilai berhasil dalam mengemban tugas negara yang dipercayakan dunia untuk melaksanakan misi perdamaian dunia di Darfur, Sudan, Afrika. "Kehadiran pasukan TNI dalam misi perdamaian dunia senantiasa di nanti-nantikan oleh PBB," ujarnya.

Pada kesempatan tersebut, Panglima TNI menyampaikan bahwasanya Komandan Sektor Barat, langsung menyambut dan memberi apresiasi dengan menyatakan rasa bangganya bisa bertemu dengan pasukan Kontingen Garuda dari Indonesia. "Komandan Sektor Barat memberikan pujian karena Kontingen Garuda memiliki semangat luar biasa, yang menunjukan betapa tingginya semangat juang dan militansi pasukan Indonesia untuk melaksanakan tugas terbaiknya dalam misi perdamaian PBB, termasuk di Darfur," katanya.

Tidak hanya itu, Jenderal TNI Gatot Nurmantyo juga sudah mengetahui apa yang disampaikan oleh Force Commander UNAMID, yang sangat terkesan dengan performa pasukan Indonesia sejak bergabung di UNAMID, yang menilai betapa tingginya profesionalisme pasukan Indonesia. "Ini merupakan bentuk pengakuan, betapa kontribusi TNI pada misi Pasukan Perdamaian Dunia begitu besar, sekaligus menegaskan kepada kita bahwa kalian memiliki peran besar sebagai duta bangsa di dunia internasional. Oleh karena itu, kita harus senantiasa mampu menunjukan, bahwa pasukan TNI memang pasukan berkelas dunia," ucapnya.

Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo mengucapkan terimakasih kepada Konga XXXV-B/Unamid, beberapa waktu lalu ditemukan Kontingen Pasukan PBB yang berasal dari Indonesia terindikasi terlibat dalam upaya penyelundupan senjata. Namun demikian setelah diteliti semua data dan fakta, tidak ada satupun pasukan TNI yang terlibat didalamnya. "Kalian sunguh mampu menjaga disiplin maupun kehormatan TNI, bangsa dan negara Indonesia, saya bangga dengan kalian semua," imbuhnya.

"Begitu pula dengan penguatan kapasitas dan kapabilitas misi perdamaian TNI merupakan penguatan peran dan profil internasional TNI, sekaligus sebagai bagian penguatan dalam konteks pelaksanaan peran dan tugas TNI," tandas Jenderal TNI Gatot Nurmantyo.

Turut hadir dalam acara tersebut antara lain, Wakasad Letjen TNI M. Erwin Syafitri, Kasum TNI Laksdya TNI Dr. Didit Herdiawan, M.P.A., M.B.A., Irjen TNI Letjen TNI M. Setyo Sularso, Danjen Akademi TNI Letjen TNI Bayu Purwiyono, Danjen Kopassus Mayjen TNI Madsuni, Dankormar Mayjen TNI (Mar) Bambang Suswantono, para Asisten Panglima TNI dan Angkatan, Kapuspen TNI Mayjen TNI Wuryanto, dan para Kabalakpus Mabes TNI.

  ⚓ TNI  

DPR Ajak Semua Pihak Kembangkan Industri Pertahanan

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhlbS_VRH1hUo9uBwL12fMtBmnFFHIV-r3LZlkx-IvTWJl_coEDQ78hx4o0pzczekALaRE4ex61RXLyp4S8TLTqyIwCAdl1L3Q09rJZKhzwtmeFN0fnZD5D0D7wuuvzbUttsdUdCTtj52k/s1600/20161030_05.jpgKesibukan hanggar helikopter PT DI [def.pk] ✮

Wakil Ketua Komisi I DPR TB Hasanuddin mengajak semua pihak ikut mendukung dan mengembangkan industri strategis pertahanan dalam negeri, khususnya mendukung langkah PT Dirgantara Indonesia (DI) mengombinasikan kemampuan yang ada.

"Di PT Dirgantara Indonesia tidak hanya bicara industri strategis pertahanan saja namun industri lain seperti angkutan udara," kata TB. Hasanuddin dalam diskusi "Penguatan Alutsista Melalui Transfer Teknologi" di Presroom DPR, Jakarta, Rabu.

Dia menjelaskan selama ini PT DI sudah melakukan kerja sama dengan berbagai pihak dalam pengembangan produk-produk Alutsista.

TB Hasanuddin mengatakan selama ini PT DI sudah menjalin kerja sama dengan beberapa negara seperti Spanyol dan Boeing serta Heli dengan negara Eropa.

"Jadi begini awasi saja, kalau ada kekurangan kecurangan yang dilakukan partner kita tegakkan secara hukum tapi tidak perlu dibunuh pelan-pelan," ujarnya.

Politikus PDI Perjuangan itu menilai "core" bisnis PT. DI bukan hanya industri pertahanan, namun alat angkut nasional, alat angkut udara seperti heli angkut.

Mantan Menteri Riset dan Teknologi AS Hikam dalam diskusi itu menjelaskan kebijakan politik dan pertahanan Indonesia masih belum didasari ancaman yang dihadapi sekarang dan di masa depan.

Menurut dia pradigma yang dianut masih melihat kedalam sehingga mempengaruhi pembelian Alutsista.

"Perkembangan Iptek dan industri strategis harus didasari paradigma yang berubah," katanya.

Dia menilai harus kembalikan industri pertahanan yang lengkap seperti penelitian dan pengembangan industri pertahanan dengan libatkan DPR.

Hal itu menurut dia, kalau tidak maka industri pertahanan Indonesia akan tergantung misalnya kriteria senjata apa yang cocok untuk Indonesia.

  ⚓ antara  

Koarmabar Menangkap Kapal Buronan Malaysia

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiIeoin-PoSjf89ADY6qoBALh05gaFypR4Z5akH70lpIX6PLeM6374wdl3DtX-mQQqCK8mZz8DzNMLLghOPPLJcoTcQcnqN2VXDu6NxWtGGuANy5y-8GeA9a3X0odY997P9xyEtQNAWwek/s1600/25042017+Koarmabar+Tangkap+MT.+Brahma+Ocean+Dan+MT.+Orca.jpegTim WFQR-4 menangkap dan mengamankan MT. Brama Ocean Berbendera Malabo 314 GT dan MT. Orca Berbendera Fiji 127 GT ✮

Komando Armada RI Kawasan Barat (Koarmabar) melalui tim Western Fleet Quick Response (WFQR-4) Lantamal IV Tanjungpinang berhasil menangkap dan mengamankan MT. Brama Ocean Berbendera Malabo 314 GT dan MT. Orca Berbendera Fiji 127 GT yang merupakan buronan Agency Penguatan Maritim Malaysia (APMM), di perairan Tanjung Uma, Batam, Kepulauan Riau (Kepri), Minggu (23/4).

Kronologis berawal APMM Malaysia mengirimkan berita kepada Komandan Lantamal IV Tanjungpinang Kolonel Laut (P) Ribut Eko Suyatno, S.E., M.M., bahwa kapal tangkapan APMM Malaysia MT. Brama Ocean dan MT. Orca telah hilang/dilarikan, kemudian Danlantamal IV memerintahkan Asintel Danlantamal IV untuk melaksankan pengumpulan data terhadap adanya kemungkinan MT. Brama Ocean dan MT. Orca berlayar masuk menuju perairan Batam, Bintan dan Tanjung Balaikarimun, serta memerintahkan Asops Danlantamal IV untuk menyiapkan unsur patroli dan membuat sektor penyekatan oleh unsur–unsur patroli diwilayah perairan Batam, Bintan dan Tanjung Balaikarimun.

Asops (Asisten Operasi) Kolonel Laut (P) May Franky Sihombing dan Asintel (Asisten Intelijen) Kolonel Laut (E) Iwan S. bergerak cepat mengumpulkan staf untuk selanjutnya dilaksanakan briefing kepada Perwira Staf Operasi dan intel serta tim penindak WFQR-4 Unit 1 Jatanrasla untuk membuat perencanaan Operasi dan intelijen dalam pencarian terhadap MT. Brama Ocean dan MT. Orca di perairan Batam, Bintan dan Tanjung Balaikarimun.

Selanjutnya unsur – unsur patroli yang terdiri dari KAL Anakonda, KAL Mapor, Sea Rider dan 3 unsur Patkamla Satkamla Lantamal IV, setelah mendapatkan perintah penyekatan sesuai sektor penyekatan yang telah ditentukan langsung melaksankan aksi penyekatan diwilayah perairan Selat Riau, Utara Batam dan Selat Durian yang diperkirakan kedua kapal akan melewati daerah tersebut.

Tidak mau kehilangan buruannya seluruh unsur patroli dan jaringan intelijen yang tergelar di laut melaksanakan tugas di sektor masing-masing untuk melakukan perburuan sang target operasi dan akhirnya Tim WFQR-4 berhasil menemukan titik terang keberadaan MT. Brama Ocean dan MT. Orca. Kemudian Tim WFQR-4/Unit 1 Jatanrasla bergerak cepat dengan menggunakan Sea Rider yang dipimpin langsung Asintel Danlantamal IV turun langsung dan onboard melaksanakan penyisiran di sekitar Tanjung Uma Batam.

Dari kejauhan Sea Rider Unit 1 Jatanrasla melihat siluet kapal mini tanker mencurigakan berada di perairan Tanjung Uma Batam, selanjutnya Sea Rider Unit 1 Jatanrasla melaksanakan pendekatan menuju kapal mini tanker tersebut untuk melaksankan pemeriksaan. Berbekal data-data kapal yang dikirimkan APMM Malaysia mempunyai kesesuaian dan kecocokan.

Dari ciri-ciri kapal tanker tersebut mirip dengan informasi yang diperoleh dari APMM Malaysia namun beberapa bagian telah dicat untuk menghilangkan identitas kapal dan akhirnya dilaksanakan pemeriksaan kapal MT. Orca, saat dilaksanakan pemeriksaan posisi kapal sedang lego jangkar di perairan Tanjung Uma Batam dan diatas kapal terdapat 1 orang yang berinisial “M”, tim berhasil mengorek keterangan yang bersangkutan bahwa seluruh ABK berjumlah 6 orang namun yang 5 orang sedang turun ke darat. Yang bersangkutan mengakui sudah 1 bulan berada di MT. Orca pada saat masih berada diperairan Malaysia.

Pada saat dilaksanakan pemeriksaan ternyata MT. Brama Ocean, sedang sandar pada MT. Orca yang sedang lego jangkar, diatas kapal terdapat 4 orang yang terdiri dari 1 orang Nahkoda dan 3 orang lainya adalah ABK dengan keterangan yang berinisial A jabatan Nahkoda MT. Brama Ocean, Jabatan Second Enginner yang berinisial “S”, Chief Officer MT. Brama Ocean sedangkan dari hasil interogasi sementara terhadap 5 ABK MT. Orca.

Pengakuan kelima kelima orang tersebut merupakan nahkoda dan ABK kapal lama yang mengetahui permasalahan di kapal tersebut, terkait penahanan kapal oleh APMM Malaysia lalu melarikan diri dengan menggunakan kedua kapal tersebut atas perintah “A” umur 30 th merupakan WNI suku Jawa.

Modus membawa kedua kapal yaitu MT. Orca dan MT. Brama Ocean tiba di perairan Tanjung Uma Batam pada hari Sabtu 22 April 07.00 WIB dengan cara MT. Orca menggandeng MT. Brama Ocean dari perairan Malaysia menuju perairan Tanjung Uma Batam.

Hasil pengecekan fisik MT. Orca dan MT. Brama Ocean untuk nama kapal pada lambung kanan dan kiri haluan kapal telah dihilangkan dengan cara di cat warna hitam dan kelima orang yang masih diatas kapal menyaksikan pengecetan tersebut setibanya di perairan Tanjung Uma Batam.

Hingga saat ini kedua kapal MT. Orca dan MT. Brama Ocean telah diamankan di Dermaga Yos Sudarso Mako Lantamal IV Tanjungpinang guna proses lebih lanjut. (Dispenarmabar)

  ⚓ TNI AL  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...