Rabu, 16 Agustus 2017

Pemerintah Targetkan Ekspor Alutsista pada 2019

✈ Medium tank hasil kerjasama FNSS dan Pindad [FNSS]

Pemerintah melalui Kementerian Pertahanan RI (Kemenhan) menargetkan ekspor alat utama sistem pertahanan (alutsista) pada 2019. Untuk itu, PT Pindad sebagai BUMN yang memproduksi alutsista agar mampu menghasilkan inovasi produk yang dibutuhkan oleh Indonesia maupun negara lain.

Sekertaris Jenderal Kemenhan RI, Widodo menerangkan selama ini produk Pindad sudah digunakan oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI) bahkan sudah mulai mengekspor alutsista ke manca negara.

"Pertama target kita memenuhi kebutuhan TNI dan kementerian kemudian pesanan dari negara-negara di Asia Tenggara bahkan negara lain di dunia," katanya kepada wartawan di kantor Pindad, Bandung, Selasa (15/8/2017).

Widodo menilai banyaknya pesanan produksi buatan Pindad oleh manca negara merupakan sebuah tantangan tersendiri bagi BUMN yang belokasi di Bandung tersebut.

"Ini tantangan bagi Pindad untuk lebih mandiri mulai dari pembuatan bahan, pengemasan dan pemasaran produk alutsista ke manca negara," ungkapnya.

Widodo mengaku PT Pindad sekarang tengah menggarap pesanan dari Uni Emirat Arab berupa 100 juta amunisi kaliber kecil. Namun, belum bisa terpenuhi karena Pindad harus membeli beberapa mesin produksi lagi agar bisa memenuhi pesanan tersebut.

"PT Pindad harus membeli alat produksi lagi agar bisa memenuhi pesanan UEA," tegasnya.

Ada beberapa pesanan alutsista lain seperti medium tank yang telah dipesan oleh beberapa negara terutama dari negara Timur Tengah.

Perakitan medium tank ini merupakan kerja sama antara PT Pindad dan Turki. Direncanakan pertengahan September 2017 Prototypenya akan didatangkan ke Indonesia dan diharapkan bisa ditampilkan pada 5 Oktober bertepatan dengan hari jadi TNI.

"Ini tantangan dari PT Pindad terutama produk buatan Indonesia ini harus dicintai oleh bangsa sendiri, sehingga nanti kalau sudah nyaman jika diekspor keluar juga akan lebih mudah," tuturnya.

Selain itu, Dikatakan Widodo produksi medium tank ini diperuntukan bagi TNI yang disesuaikan dengan kontur wilayah Indonesia. Hingga kini Kemenhan masih mengkoordinasikan kebutuhan medium tank untuk TNI.

"Hingga saat ini kebutuhan medium tank untuk TNI masih kita diskusikan," pungkasnya.

  ✈ Warta Ekonomi  

Pangkalan Armabar Mulai Dibangun

Lampung Akan Menyaingi Jakarta Suasana pembangunan pangkalan Armabar di Pantai Caligi, Pesawaran, Selasa (15/08/2017). Pembangunan sudah dilakukan sejak 3 minggu yang lalu. [Tampan/Kupastuntas.co]

Pangkalan Armada Barat (Armabar) TNI AL di Lampung mulai dibangun di Pantai Caligi, Pesawaran.

Komandan Lanal Lampung, Kolonel (P) Kelik Haryadi, mengatakan pembangunan sudah dilakukan sejak 3 minggu lalu, dimulai dengan pembuatan dermaga, yang ditargetkan selesai 2017.

Setelah itu, pembangunan dilanjutkan 2018 dengan penambahan fasilitas, seperti gedung dan fasilitas pendukung lainnya.

“Targetnya 2019 sudah bisa digunakan, dan akan diresmikan oleh Presiden. Karena, salah satu nawacita Presiden adalah membangun pertahanan maritim,” ujar Kelik di ruang kerjanya, Selasa (15/08/2017).

Danlanal menjelaskan, nantinya di Teluk Ratai akan dibangun armada terpadu berbasis SSAT (Sistem Senjata Armada Terpadu), yang terdiri dari Pangkalan, KRI, Penerbangan, dan pasukan Marinir. Personel TNI AL di Lampung juga akan bertambah hingga di atas 10 ribu prajurit.

“Jika suatu saat dibutuhkan dalam perang, kita bisa cepat mengumpulkan kekuatan di satu wilayah. Kalau saat ini kan terpisah, Pasukan Marinir 2 di Cilandak, KRI di Tanjung Priok, memerlukan waktu dan kurang efektif dalam pertempuran,” jelasnya.

Di Teluk Ratai Lampung, nantinya akan dipadukan berbagai unsur, Armabar, Kolinlamil, Pusidros, Pusperbal, dan Marinir. Maka dipastikan di 2019 akan ada pergeseran personel dari daerah lain menuju Lampung.

“Jumlahnya di atas 10 ribu personel. Karena untuk KRI saja kita hitung personelnya untuk kapal kecil diawaki 50 orang, kapal besar bisa di atas 200 orang. Nanti di Lampung akan banyak KRI,” kata Kelik lagi.

Menurutnya, pembangunan Armabar akan berdampak positif bagi Provinsi Lampung. Ekonomi juga akan membaik dan stabilitas keamanan juga demikian. Selain itu, pembangunan rumah untuk para personel TNI AL di Armabar ini juga akan mendukung property di Lampung.

“Yang jelas keamanan akan terjamin, investor tidak akan ragu berinvestasi di sini. Pokoknya Lampung bisa jadi saingannya Jakarta,” tuntasnya.

Sementara, Komandan Brigade Infanteri-3 Marinir, Kolonel (Mar) Umar Farouq, mengatakan dengan pembangunan Armada terpadu ini Brigif-3 Marinir akan bertransformasi menjadi Pasukan Marinir (Pasmar). Ia mengatakan saat ini baru ada dua Pasmar, yakni Pasmar 1 di Surabaya dan Pasmar 2 di Jakarta.

“Brigif 3 jadi cikal bakal Pasmar. Nanti Indonesia akan memiliki 3 Pasmar. Konsepnya, Pasmar 1 di Lampung membawahi ujung Sumatera sampai Kalimantan bagian barat dan Jakarta. Pasmar 2 di Surabaya membawahi Kaltim dan Sulawesi, dan Pasmar 3 di Sorong membawahi wilayah timur Indonesia,” bebernya, kemarin.

Disversi kekutan ini, sambung dia, untuk mendukung komando armada TNI AL yang juga akan dibangun jadi 3, yakni Armada Timur, Armada Tengah dan Armada Barat.

Tak hanya AL, penambahan serupa juga dilakukan TNI AD dan AU. Dimana nantinya Divisi Kostrad juga akan menjadi tiga (saat ini masih 2) dan AU juga demikian.

“Dalam menghadapi ancaman dari luar. Kita mempersiapkan diri dengan tindakan preventif untuk menjaga kedaulatan negara. Secara otomatis personel Marinir di Lampung juga akan bertambah untuk mengembangkan kekuatan material,” jelas Danbrigif.

Terkait tahapan yang sudah berjalan, ia mengatakan saat ini sudah dibangun dermaga untuk digunakan tempat memasok logistik menuju Lampung. di Teluk Ratai akan dibangun Pangkalan TNI AL, sehingga status Lanal nantinya akan bertransformasi jadi Lantamal.

“Pemilihan Lampung tidak serta-merta, banyak pertimbangan seperti kondisi alam maupun jalur taktisnya. Itu semua sudah dikaji oleh dewan strategis para petinggi TNI AL,” pungkasnya. (Tampan)

  ✈ Kupas Tuntas  

[Video] Uji Terbang Perdana N219

✈ Karya Anak Bangsa Pesawat rancangan anak bangsa ini N219 take off dari Bandara Husein Sastranegara, Jalan Pajajaran, Kota Bandung, Rabu (16/8/2017) dari pukul 09.00-10.00. Penerbangan perdana N219 ini berlangsung sukses.

 Berikut video liputan CNN dari Youtube : 


  ✈ CNN  

N219 Terbang Perdana

✈ Dengan Pilot Esther Gayatri Saleh ✈ Pesawat N219 yang diterbangkan Captain Esther Gayatri Saleh melakukan Uji Terbang Perdana di Landasan Pacu Bandara Husein Sastranegara, Bandung, Jawa Barat, Rabu (16/8/2017). Purwarupa pesawat pertama N219 hasil karya anak bangsa ini terbang perdana setelah mendapatkan Certificate of Airworthiness dari Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKUPPU) Kementerian Perhubungan. N219 merupakan pesawat penumpang kapasitas 19 penumpang, berteknologi Avionik, untuk dioperasikan memenuhi kebutuhan masyarakat di wilayah terpencil. [ANTARA FOTO/Fahrul Jayadiputra]

Hari ini, Rabu (16/8/2017), menjadi hari bersejarah bagi Indonesia. Sekitar pukul 09.10 WIB, pesawat N219 hasil kerja sama LAPAN dan PTDI sukses melakukan uji terbang perdana.

Penerbangan perdana N219 dilakukan di bandara Husein Sastranegara, Bandung. N219 dengan nomor registrasi PK-XDT terbang dengan mulus, dan sukses melakukan serangkaian uji coba terbang, seperti kontrol kemudi dan navigasi.

Kapten penerbang Captain Esther Gayatri Saleh menjadi pilot utama dalam uji terbang tersebut didampingi kopilot Kapten penerbang Adi Budi Atmoko.

Pesawat N219 hasil pengembangan riset PT Dirgantara Indonesia (DI) dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) menjalani uji terbang dengan mulus, Rabu (16/8/2017).

Disiagakan pula dua orang flight test engineer yang bertugas memastikan setiap tahapan pengujian terbang dilaksanakan dengan baik dan terjamin keselamatannya.

Dalam uji terbang tersebut, pesawat melintas dan berputar-putar di sekitar kawasan Batujajar dan Cililin. Pesawat dipastikan terbang dalam rute aman dan tidak melintasi permukiman padat penduduk.

Dalam uji terbang perdana ini, pesawat N219 juga secara khusus dipasangi empat kamera pada bagian ekor, sayap, dan perut pesawat yang terhubung langsung ke ruang kontrol di PT DI.

Pesawat N219 yang diterbangkan Captain Esther Gayatri Saleh mendarat seusai melakukan Uji Terbang Perdana di Landasan Pacu Bandara Husein Sastranegara, Bandung, Jawa Barat, Rabu (16/8/2017). Purwarupa pesawat pertama N219 hasil karya anak bangsa ini terbang perdana setelah mendapatkan Certificate of Airworthiness dari Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKUPPU) Kementerian Perhubungan. N219 merupakan pesawat penumpang kapasitas 19 penumpang, berteknologi Avionik, untuk dioperasikan memenuhi kebutuhan masyarakat di wilayah terpencil.

Selain itu, juga dipasang 150 sensor untuk merekam semua parameter penerbangan N219, mulai dari sensor temperatur hingga sensor stress.

Purwarupa pesawat pertama N219 hasil karya anak bangsa ini terbang perdana setelah mendapatkan Certificate of Airworthiness dari Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKUPPU) Kementerian Perhubungan.

Captain Esther Gayatri Saleh berpose di samping pesawat N219 di Hanggar PT Dirgantara Indonesia (PTDI), usai melakukan Uji Terbang Perdana di Landasan Pacu Bandara Husein Sastranegara, Bandung, Jawa Barat, Rabu (16/8/2017). Purwarupa pesawat pertama N219 hasil karya anak bangsa ini terbang perdana setelah mendapatkan Certificate of Airworthiness dari Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKUPPU) Kementerian Perhubungan. N219 merupakan pesawat penumpang kapasitas 19 penumpang, berteknologi Avionik, untuk dioperasikan memenuhi kebutuhan masyarakat di wilayah terpencil. Captain Esther Gayatri Saleh berpose di samping pesawat N219 di Hanggar PT Dirgantara Indonesia (PTDI), usai melakukan Uji Terbang Perdana di Landasan Pacu Bandara Husein Sastranegara, Bandung, Jawa Barat, Rabu (16/8/2017). [ANTARA FOTO/Fahrul Jayadiputra]

N219 merupakan pesawat penumpang kapasitas 19 penumpang, berteknologi avionik, untuk dioperasikan memenuhi kebutuhan masyarakat di wilayah terpencil.

Captain Esther Gayatri Saleh tampak riang berpose disamping pesawat N219 di Hanggar PT Dirgantara Indonesia (PTDI), usai melakukan Uji Terbang Perdana di Landasan Pacu Bandara Husein Sastranegara, Bandung, Jawa Barat, Rabu (16/8). (Reska K Nistanto dan Putra Prima Perdana)

 Pesawat N219 Terbang Mulus 
Pesawat N-219 hasil pengembangan riset PT Dirgantara Indonesia (DI) dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) menjalani uji terbang dengan mulus, Rabu (16/8/2017).Pesawat N-219 hasil pengembangan riset PT Dirgantara Indonesia (DI) dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) menjalani uji terbang dengan mulus, Rabu (16/8/2017). [KOMPAS.com/Putra Prima Perdana]

Pesawat N219 hasil pengembangan riset PT Dirgantara Indonesia (DI) dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) menjalani uji terbang dengan mulus, Rabu (16/8/2017).

Pesawat karya anak bangsa tersebut lepas landas dari Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung, sekira pukul 09.15 WIB dan berputar-putar di langit Bandung dan mendarat sekitar pukul 10.00 WIB.

Kapten penerbang Esther Gayatri Saleh menjadi pilot utama dalam uji terbang tersebut didampingi kopilot Kapten penerbang Adi Budi Atmoko.

Disiagakan pula dua orang flight test engineer yang bertugas memastikan setiap tahapan pengujian terbang dilaksanakan dengan baik dan terjamin keselamatannya.

"Tes flight ini dilakukan setelah kita melakukan berbagai tes dan persiapan," kata Asisten Khusus Pengembangan Pesawat Terbang PT D Andi Alisjahbana di sela uji terbang, Rabu siang.

Andi menambahkan, dalam uji terbang tersebut, pesawat akan melintasi dan berputar-putar di sekitar kawasan Batujajar dan Cililin. Dia memastikan pesawat terbang dalam rute aman dan tidak melintasi permukiman padat penduduk.

"Pesawat terbang sekira 40 menit dengan rute ke arah barat dan berputar di sekitar Batujajar," ungkapnya.

Sebagai langkah antisipasi, orang-orang yang berada di dalam pesawat telah diberikan bekal untuk meminimalisasi kemungkinan terburuk terjadi dalam uji terbang.

"Salah satunya kita persiapkan peralatan keselamatan, pilot memakai parasut," ungkapnya.

Selain itu, pesawat N219 juga secara khusus dipasangi empat kamera pada bagian ekor, sayap, dan perut pesawat yang terhubung langsung ke ruang kontrol di PT DI.

"Dari situ bisa kelihatan apakah pesawatnya goyang atau tidak. Ada juga dipasang sensor temperatur, sensor stress, kalau tidak salah semuanya ada sekira 150-an sensor dan semuanya direkam," tuturnya.

  ✈ Kompas  

Patroli Tapal Batas Indonesia-Malaysia

Patroli Tapal Batas Indonesia-Malaysia (Rachman Haryanto/detikcom)

Mudah sekali menemukan caci-maki warganet Indonesia dan Malaysia di kolom-kolom dunia maya, seolah-olah dua negara ini gemar berseteru tentang batas negara, kawasan yang dijaga oleh serdadu masing-masing pihak. Namun bagaimana jadinya bila serdadu dua negara benar-benar bergerak bersama di tapal batas?

Pada Senin (17/7/2017) pagi, detikcom melihat pria-pria berseragam loreng di Pos Komando Taktis di Entikong, Sanggau, Kalimantan Barat, tak jauh dari batas negara Indonesia-Malaysia. Mereka tengah bersiap-siap untuk berpatroli ke patok perbatasan.

Namun, di antara mereka, ada beberapa personel yang seragam lorengnya agak berbeda. Warna seragamnya agak lebih cerah. Ternyata mereka adalah tentara Malaysia. Benar, 10 personel Batalion Ranger Tentara Diraja Malaysia ini memang ada di markas tentara Indonesia.

Tuan rumah, yakni Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) RI dari Batalion Infanteri 131/Braja Sakti, terlihat santai saja dengan kehadiran para Ranger Malaysia itu. Memang ini merupakan hal yang lumrah karena pos ini merupakan Pos Gabungan Bersama kedua negara. Kini mereka sama-sama mempersiapkan peralatan untuk melakukan patroli patok bersama.

Peralatan yang dibawa Satgas Pamtas RI-Malaysia adalah peta, pelacak GPS, radio handy talkie, sangkur, helm, dan rompi antipeluru. Tentu saja mereka membawa senjata, yakni senapan Serbu 1 buatan Pindad Indonesia. Bila TNI menggendong SS1, Ranger Malaysia membawa senapan M4A1 Carbine, senjata asal Amerika Serikat yang juga diproduksi SME Ordnance Sdn Bhd Malaysia.

Tentara Indonesia dan Malaysia Sama-sama Bergerak, Ini yang TerjadiPatroli Tapal Batas Indonesia-Malaysia (Rachman Haryanto/detikcom)

Apel pagi digelar di depan bendera Indonesia dan bendera Malaysia yang dikerek sama tinggi. Komandan Satgas Pamtas Letkol Inf Denny memimpin apel, 33 personel di depannya, termasuk enam orang dari Ranger Malaysia. Denny berpesan agar semua personel menjaga senjatanya agar tetap dalam keadaan terkunci. Ini adalah wilayah aman, tak perlu membuka kunci senjata dan membawa serentengan amunisi di bahu.

"Dicek betul, jangan sampai tangan kita gatal, kunci terbuka, dan nembak teman sendiri," kata Denny kepada para personel gabungan ini.

Saling menjaga antarpersonel adalah hal yang penting, tak terkecuali saling menjaga antarpersonel TNI dan Tentara Diraja Malaysia. Apel selesai.

Satu per satu mereka naik ke truk militer yang akan mengantarkan mereka ke perbatasan. Tangan tentara Indonesia membantu tentara Malaysia yang akan naik ke bak truk, begitu juga sebaliknya. Akrab sekali. Maka berangkatlah semua personel ke batas negara Indonesia-Malaysia, dipimpin oleh Perwira Topografi Satgas Pamtas Yonif 131/Brs, Kapten Sumaryono.

"Ini first time nih. Saya baru satu bulan di sini," kata personel Ranger Malaysia, Prebet Rajali, dengan logat yang khas.

Perjalanan tak lama, sampai juga di titik yang dituju, tak jauh dari PLBN Entikong. Para serdadu ini berjalan menanjak menaiki bukit tanah berumput. Dari sini terlihat jelas PLBN Entikong.

Tentara Indonesia dan Malaysia Sama-sama Bergerak, Ini Yang TerjadiPatroli Tapal Batas Indonesia-Malaysia (Rachman Haryanto/detikcom)

Jalan pertama berupa kerikil bercampur tanah yang menanjak. Ini adalah bagian Jalan Inspeksi Patroli Perbatasan (JIPP) yang mengarah ke Dusun Balai Karangan yang belum selesai dikerjakan. Namun semakin jauh berjalan, suasana berganti, pepohonan dan akar banyak melintang, menambah sulit perjalanan naik-turun bukit.

Bendera Indonesia dan bendera Malaysia berkibar di balik masing-masing punggung dua personel. Bila tanjakan terlalu sulit, mereka bakal saling mengulurkan tangan untuk mempermudah naik ke atas.

Matahari terus meninggi. Keringat bercucuran. Setelah cukup bersusah payah melangkahi celah pepohonan, akhirnya sampai juga di patok perbatasan pertama, namanya adalah G 128. Bentuknya sederhana saja, yakni balok beton setinggi tengah betis.

Patok ini terletak di dekat pagar kawat sebagai batas teritorial Indonesia-Malaysia. Di seberang patok, apalagi seberang pagar itu, adalah teritorial Malaysia. Alat pelacak GPS dihidupkan memeriksa koordinat patok ini. Tak ada masalah yang berarti, patok dipastikan tak bergeser. Pasukan gabungan melanjutkan perjalanan, menuruni tebing tanah yang agaknya juga tak terlalu stabil untuk diinjak.

"Ini rawan longsor sebenarnya," kata Kapten Sumaryono kepada saya.

Tentara Indonesia dan Malaysia Sama-sama Bergerak, Ini Yang TerjadiPatok G 128 (Rachman Haryanto/detikcom)

Patok selanjutnya, berjarak sekitar 600 meter, yakni G 129. Letaknya ada di antara pepohonan di atas bukit. Butuh kehati-hatian untuk mencapainya. Patok ini dinaungi prisma besi yang menjulang empat meter. Personel TNI dan Tentara Diraja Malaysia berkumpul, memastikan bersama bahwa patok tidak bergeser. Aman!

Setelah memeriksa keadaan patok G 131, para personel gabungan ini naik kembali ke truk. Mereka hendak menuju kawasan perbatasan lain. Truk terasa terhuyung-huyung, menengok ke luar, ternyata truk melintasi turunan. Para prajurit turun. "Prok! Prok! Prok!" sepatu mereka beradu dengan permukaan tanah berbatu.

Di depan adalah aliran sungai yang melintasi Dusun Serangkang. Setelah berpatroli menyusuri sebagian titik dekat sungai, dipastikan kondisi masih tergolong aman-aman saja. Matahari semakin menyengat, cukup melelahkan bagi orang biasa.

Tentara Indonesia dan Malaysia Sama-sama Bergerak, Ini Yang TerjadiPatroli Tapal Batas Indonesia-Malaysia (Rachman Haryanto/detikcom)

Namun para serdadu ini tampak masih bisa tersenyum, bahkan bercengkerama satu dengan yang lainnya. Mereka terlihat lebih santai. Tampaknya tak ada rasa perasaan berseteru antara tentara Indonesia dan Malaysia.

Sambil duduk di atas pohon tumbang, terlihat salah seorang personel mengeluarkan ponsel dari kantong, fitur kamera diaktifkan. Di atas sungai ini, mereka melakukan swafoto alias selfie bersama, tanpa ragu-ragu, sambil tersenyum.

Karena keakraban mulai mencair seperti aliran sungai di Serangkang ini, personel yang lain juga tak mau ketinggalan berfoto. Mereka ramai-ramai duduk di atas batu tengah sungai, sepatu basah terendam air. Bendera Indonesia dan Malaysia dibentangkan. "Cekrek! Cekrek! Cekrek!" berkali-kali potret diambil.

Tentara Indonesia dan Malaysia Sama-sama Bergerak, Ini Yang TerjadiPatroli Tapal Batas Indonesia-Malaysia (Danu Damarjati/detikcom)

Sebanyak 12 personel, lima di antaranya dari Malaysia, kemudian berkumpul membentuk lingkaran. Mereka mendengarkan Kapten Sumaryono menutup patroli hari ini. Sumaryono memastikan tidak ada yang cedera, mengecek kelengkapan peralatan, dan menyampaikan terima kasih kepada semua personel.

"Kita sudah laksanakan patroli patok. Semua berjalan dengan lancar dan aman," kata Sumaryono. Mereka kemudian merapat dan meneriakkan yel-yel, "Braja! Sakti!"

Yang terjadi bila tentara Indonesia dan Malaysia bergerak maju ke patok perbatasan negara, dalam waktu yang bersamaan, tentu saja adalah keakraban. Menjaga patok bersama berarti menjaga keamanan dengan cara damai. Rasa saling pengertian satu sama lain bakal terbentuk.

Tentara Indonesia dan Malaysia Sama-sama Bergerak, Ini Yang TerjadiSatgas Pamtas TNI dan Ranger Tentara Diraja Malaysia, tos! (Rachman Haryanto/detikcom)

Prebet Rajali mengakui dirinya kadang-kadang 'sukar memahami' bahasa Indonesia dalam kosakata-kosakata tertentu. Namun, karena dia ditempatkan di sini, dia mencoba untuk mengerti . "Terpaksa belajar, sedikit-sedikitlah," ujarnya sambil tersenyum.

Staf Resimen Ranger Diraja Malaysia, Sersan Winson, menyatakan 10 personel negeri jiran tersebut sudah berada di sini sejak dua pekan terakhir. Selain patroli, mereka sering melakukan kegiatan lain bersama personel Satgas Pamtas TNI di barak.

"Kita main voli bareng, biliar bareng," kata Sersan Winson.

Tentara Indonesia dan Malaysia Sama-sama Bergerak, Ini Yang TerjadiSersan Wilson, tentara Malaysia (Danu Damarjati/detikcom)

Tiap sore di halaman markas, para personel memang sering berolahraga voli. Ada pula meja biliar di salah satu sudut bagian dalam Pos Komando Taktis ini. Di bagian lainnya, ada barak khusus untuk 10 personel Malaysia. Di seberang perbatasan sana, di markas penjaga perbatasan milik Malaysia, ada pula 10 personel TNI yang ditempatkan di Pos Gabungan Bersama di teritorial Malaysia sana. Kesan yang baik akan menciptakan suasana yang baik juga.

"Bersahabat," ucap Sersan Winson saat ditanyai kesannya tentang para personel TNI. (dnu/dnu)
 

  ☆ detik  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...