Senin, 19 Februari 2018

Wiranto Pastikan RI-Rusia Sepakat Barter Sukhoi dengan Komoditas

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjZ37oJsAMG-YeGvqnoHodXhIQskyIyE39QzKQq4xIWmQlSLppTJiT9NeehMapWDRIeJhlfx_jVCvcH6-kH7vLI8tUhch2iva7PHmHxA-NQF5Jx_VrXyE_6lATh2sej11n43NdDgglkzjUC/s400/1004809.jpgSU35 Russia [Maxim Khusainov] ☆

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto memastikan bahwa RI telah sepakat dengan Rusia terkait imbal beli atau barter pesawat tempur Sukhoi dengan komoditas Indonesia.

"Sudah (sepakat dan sudah ditandatangani)," ujar Wiranto di Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Senin (19/2/2018).

Harga pembelian 11 Sukhoi Su-35 dari Rusia mencapai 1,14 milar dollar AS atau Rp 15,3 triliun dengan kurs 1 dollar AS sama dengan Rp 13.500.

Nantinya, setengah harga pembelian pesawat tempur Sukhoi itu akan dilakukan dengan skema imbal beli komoditas Indonesia.

Kementerian Perdagangan menyatakan, Indonesia sudah menyiapkan komoditas ke Rusia senilai 570 juta dollar AS atau Rp 7,69 triliun.

Meski sudah disetujui Rusia, Wiranto mengatakan bahwa Kemenko Polhukam tidak membahas lebih rinci terkiat dengan kesepakatan imbal beli Sukhoi dengan komoditas asal Indonesia itu.

"Nanti itu kan urusan KKIP (Komite Kebijakan Industri Pertahanan)," kata Wiranto.

Saat ditanya soal ancaman embargo oleh Amerika Serikat (AS) kepada Indonesia karena pembelian Sukhoi, Wiranto tidak mau membahasnya.

"Sudah tanda tangan kok ditanyakan lagi," kata dia, sebelum masuk ke mobil dinasnya dan pergi meninggalkan awak media.

  ★ Kompas  

TNI AU Siapkan Bom Pintar

Persenjatai Jet Tempur F-16 C/D dari AS http://cdn2.tstatic.net/bangka/foto/bank/images/bom-pintar-buatan-tni-au_20180218_123656.jpgSebanyak 24 unit jet tempur F-16 C/D 52ID dari Amerika Serikat akhirnya sudah tiba semua di awal tahun 2018 ini.

Datangnya F-16 C/D yang bisa untuk membentuk 2 skadron itu langsung membuat sibuk Dinas Penelitian dan Pengembangan TNI AU (Dislitbangau).

Bagaimanapun juga, Dislitbangau harus memproduksi banyak bom untuk mempersenjatainya.

Sejumlah bom hasil penelitian dan pengembangan Dislitbangau seperti BTN-100 dan BT-500 memang telah sukses diuji coba dan mendapat sertifikasi serta siap digunakan oleh F-16 C/D.

Pada Juni 2014, sejumlah persenjataan berupa Bom Tajam (BTN)-100, BT-200 dan BT-500, sukses diuji coba di kawasan Lanud Iswahyudi, Madiun, dan Air Shooting Range (ASR) di Pandanwangi, Lumajang, Jawa Timur.

Uji bom berlangsung dua tahap yaitu pengujian statis dan pelepasan bom.

Uji coba secara statis baru bisa dikatakan berhasil jika bom yang dipasang di sayap pesawat stabil dan bisa dijatuhkan dengan landasan yang diberi bantalan berupa kasur berlangsung stabil dan aman.

Sedangkan uji coba pelepasan bom menggunakan pesawat Sukhoi Su-27/30 dan F-16 itu dapat berjalan secara sempurna karena bisa menyasar ke parameter yang telah ditentukan.

Alat-alat penguji ledakan bom yang digunakan untuk menganalisis berbagai kemampuan bom juga berfungsi secara maksimal.

Salah satu yang menjadi parameter pengujian adalah kecepatan bom, akurasi bom terhadap sasaran, daya dan jangkauan ledakan, bentuk serpihan bom, dan sebagainya.

Untuk memasuki proses produksi bom secara massal, perusahaan terkait ditunjuk oleh Kementerian Pertahanan (Kemhan) dan jumlah bom yang harus diproduksi juga harus sesuai permintaan Kemhan.

Setelah sukses mengembangkan bom BT-500 hingga memasuki tahap produksi secara massal, saat ini Dislitbangau juga masih berusaha keras menciptakan bom pintar (smart bomb).

Jenis bom berdaya ledak besar yang dalam proses kerjanya setelah dijatuhkan dari pesawat bisa menghantam sasaran secara akurat berkat alat pemandu.

Sesuai dengan proses penelitian dan pengembangan smart bomb, Dislitbangau sebenarnya sudah harus memasuki tahap uji coba baik secara statis maupun pelepasan (release).

Dalam berbagai pameran persenjataan dalam negeri, smart bomb Dislitbangau bahkan sudah sering dipamerkan dan menjadi perhatian khusus para pengunjung dari kalangan militer.

Dislitbangau memang masih menghadapi kendala untuk menguji smart bomb karena belum memiliki perangkat untuk mengujinya.

Jika sudah ada Dislitbangau siap melakukan uji coba hingga smart bomb segera siap operasional.

  ★ Tribunnews  

Satrol Lantamal IV Miliki 4 KRI

Pengamanan Laut Natuna https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhha9U-CB1lv0dOMBmhrH7z2QaOm4_CSRtAmW15DC6GDXP1kADx1wPl9ws0T97JQyvs4D8gmwgC5ue09WZQEZ9svpLHR3qFILbnlydBB-vihItSsLCvxflo9bnorgfpSS8sbRSnsk_RgURD/s400/KRI+861+Lepu.jpgKRI Lepu 861 [defence.pk] ☆

Pangakalan Utama TNI AL (Lantamal) IV Tanjungpinang saat ini memiliki empat Kapal Negara Indonesia (KRI) untuk meningkatkan pengawasan dan keamanan laut. Keempat KRI adalah KRI Krait-827, KRI Silea-858, KRI Lepu-861, dan KRI Sigurot-864. KRI akan dimaksimalkan dalam menekan segala aksi kejahatan laut dan aksi penyelundupan di wilayah kerja Lantamal IV.

"Satuan Kapal Patroli (Satrol) Lantamal IV saat ini memiliki empat KRI. Empat KRI ini baru dilimpahkan ke Lantamal IV. Nanti pola operasi KRI akan saya dispersikan ke pangkalan-pangkalan jajaran Lantamal IV," kata Komandan Lantamal IV Tanjungpinang Laksamana Pertama TNI R Eko Suyatno di Tanjungpinang, Jumat (16/2/2018).

Lanjut, kata Eko, pengoperasian KRI akan dilaksanakan dengan pola penyebaran ke pangkalan lingkungan Lantamal IV, khususnya Lanal Ranai, Kabupaten Natuna. Menurut dia, Lanal Ranai mempunyai tugas pokok untuk menyelenggarakan dukungan logistik serta administrasi bagi unsur-unsur TNI AL yang melaksanakan patroli di perairan yang menjadi tanggung jawabnya serta melaksanakan tugas-tugas lain berdasarkan kebijakan Pangarmabar dan Kepala Staf TNI AL.

"Karena di sana (Laut Natuna) cukup rawan, di samping itu lautnya cukup menantang terutama pada saat musim utara," jelas dia.

Selanjutnya Eko menyampaikan wilayah operasi Lanal Ranai memiliki tingkat kerawanan yang cukup tinggi, karena terdapat jalur pelayaran internasional yaitu Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) 1 yang berbatasan langsung dengan negara tetangga, Malaysia dan Vietnam.

"Untuk itu, Lanal Ranai diharapkan mampu melaksanakan apa yang menjadi tugas pokok dan tanggung jawabnya dengan sebaik-baiknya," kata dia.

Menurut dia, penguatan Lanal Ranai harus dimaksimalkan penginderaan dan fungsi pangkalan dan pos labu. Di Natuna telah dibangun Pusat Komando TNI AL (Puskodal) yang dapat memantau situasi ke depan atau situasi Laut Natuna Utara. Dia menyampaikan, TNI sudah membangun pangkalan di sana mulai dari TNI AD dan Marinir.

"Fungsi pangkalan dimaksimalkan. Kita mengikuti kebijakan pimpinan TNI dan pimpinan TNI AL," ucap dia.

Dia menjelaskan, sejak tanggal 22 Januari 2018 TNI AL telah melakukan likuidasi Satrol Koarmabar dan Satuan Keamanan Laut (Satkamla) Lantamal dan membentuk Satrol Lantamal IV. Lantamal yang sebelumnya hanya memiliki Kapal Angkatan Laut (KAL) dan Patroli Keamanan Laut (Patkamla), dengan adanya Satrol akan diperkuat kapal-kapal patroli yang canggih.

Kehadiran Satrol Lantamal IV mampu memproyeksikan unsur-unsur kekuatannya dalam rangka mengamankan wilayah perairan sekaligus merespon berbagai kerawanan yang terjadi. "Sekarang Lantamal telah diperkuat kapal-kapal patroli dengan kemampuan manuver unggul, sebagai upaya meningkatkan efektivitas dan efisiensi serta untuk menjaga kesiapan operasi unsur-unsur dalam penanganan reaksi cepat di wilayah yuridiksi nasional Indonesia," tutup dia.

Eko menambahkan, Lantamal IV juga terus berupaya menekan adanya penyelundupan barang-barang ilegal ke Indonesia, khususnya Kepri. Tidak hanya itu, Lantamal IV terus memerangi peredaran narkoba terutama penyelundupan narkoba dari luar negeri. Lantamal akan terus bersinergi dengan instansi lain.

"Peran kita sekarang meningkatkan penginderaan dan intelegensi. Pola yang dilaksanakan sekarang dengan efektif dan efesien. Kalau ada informasi pasti baru kita operasi dengan diterjunkan tim khusus," ucap Eko.

  ★ sindonews  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...