Rabu, 18 April 2018

Indonesia considers pulling out of KFX/IFX project

Indonesia is considering withdrawing from the KFX/IFX development programme with South Korea. The reasons for the potential withdrawal include financing, technology sharing, and geopolitical factors. https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgrMvsE0ptGBcgngAK_H4TJPV_6DC9HPfWT53wIt06ji9L6iIa9uqCD7ZOaEeZwQX0d7M65AESheadCqDciowZtG0UvmjkxNT0sPmLSKuJP_eCqYHT2jwIJRwdb7I4fx0iG2Q3fpQ7VGiGt/s1600/1496980790%25282%2529.jpgKFX [sheldon] 

The Indonesian government is contemplating withdrawing from the programme with South Korea to develop the next-generation Korean Fighter Xperiment/Indonesia Fighter Xperiment (KFX/IFX) aircraft, Jane’s has learnt.

Speaking at the Defence Services Asia (DSA) 2018 exhibition in Kuala Lumpur Indonesian officials said that while the country’s involvement is currently continuing, several key issues are causing debate over whether participation should be terminated.

These issues include finances, the degree to which Indonesia is gaining “strategic technical benefits”, and what officials described as 'geopolitical factors'. Officials also indicated that Indonesia’s future participation in the programme is likely to be determined by its senior leadership, including President Joko Widodo.

One Indonesian industry source said, “Actually, money is not the main issue even though there have been some issues with this. The main factors in this decision are the technical advantages that Indonesia can get through the programme and some geopolitical factors that the Indonesian government must consider.”

In reference to these geopolitical factors, the industry source mentioned “Russia, the USA, South Korea”. He did not elaborate but it is understood by Jane’s that Indonesia’s involvement in the project has been a source of concern in the US, a key supplier of KFX/IFX technologies, which is wary about the country’s long-standing military-technical ties with Russia.

In January 2018 Indonesian defence officials stated in comments to local media that there is currently a shortfall of about IDR1.85 trillion (USD140 million) that needs to be paid to South Korea in return for its involvement in the KFX/IFX programme as per finance agreements signed in 2015. Jane’s understands that Indonesia’s repayments on the programme are behind by about 40% of its agreed financial commitment.

  ✈ Janes  

70% Bahan Baku Alutsista Indonesia Masih Impor

MMWT Harimau Hitam7 [def.pk] ★

PT
Pindad memproduksi beberapa alat utama sistem persenjataan (alutsista) untuk kebutuhan pertahanan dan keamanan. Meskipun diproduksi di dalam negeri, ternyata bahan baku alutsista masih didominasi produk impor.

Direktur Teknologi dan Pengembangan PT Pindad Ade Bagdja mengatakan produsen alutsista di Indonesia masih kategori industri hilir. Perusahaan produsen alutsista seperti Pindad dan PAL memproduksi alat siap pakai, sedangkan industri hulunya masih jauh tertinggal.

“Kalau ngomong bahan baku kita harus mengakui bahwa masih di atas 70% sangat bergantung ke luar negeri,” kata Ade di Bandung, Jawa Barat, Selasa (16/4).

Permasalahan ini menurut Ade terletak pada jumlah minimal yang harus dipenuhi. Menurut dia, kebutuhan alutsista Indonesia tidak cukup besar untuk menutup skala ekonomi.

Sementara itu, Direktur Keuangan PT Pindad Wildan Arief menyatakan ada beberapa bahan baku dengan spesifikasi khusus yang dibutuhkan seperti bahan baku baja. Sedangkan produsen dalam negeri seperti Krakatau Steel belum mampu memenuhi kebutuhan tersebut.

“Karena mungkin penggunanya hanya BUMN sehingga cost dari KS untuk produksi ini masih tinggi. Sehingga mau tidak mau kami sekarang harus impor,” ujar Wildan.

Padahal jika bahan baku bisa diproduksi dalam negeri, biaya produksi alutsista bisa lebih ditekan. Wildan berharap ke depan bahan baku bisa juga dihasilkan di dalam negeri.

“Walaupun sekarang pemerintah sudah membantu dengan tidak menetapkan bea masuk untuk bahan baku impor. Tapi ke depan harapannya bisa dihasilkan dari dalam negeri,” katanya.

  ♞ Kumparan  

Selasa, 17 April 2018

Medium Tank Buatan Pindad Sudah Jadi Incaran Negara Lain

10 negara yang sudah menyampaikan minatnyaUjicoba MMWT Harimau Hitam [hadimaulana] ★

S
ejak diperkenalkan perdana pada perayaan HUT TNI ke-72 pada 5 Oktober 2017 di Dermaga Kiat Indah, Cilegon, tank medium besutan PT Pindad yang berkolaborasi dengan FNSS Turki mampu menarik perhatian mancanegara. Sejumlah negara menyatakan minatnya untuk membeli tank yang berfungsi sebagai kendaraan tempur itu.

"Beberapa negara sudah menunjukkan minatnya. Negara ASEAN ada, negara non-ASEAN juga ada. Mereka sudah mulai mengincar, bahkan mengundang kita (untuk presentasi)," kata Direktur Teknologi dan Pengembangan PT Pindad Ade Bagdja dalam Press Gathering di Bandung, seperti dikutip Senin (16/4/2018).

Ade menolak menyebutkan negara yang dimaksud dengan alasan belum saatnya. Apalagi, kendaraan tempur itu belum melalui uji sertifikasi. Namun, ia menyebut kurang dari 10 negara yang sudah menyampaikan minatnya pada tank buatan dalam negeri itu.

Ade mengungkapkan uji sertifikasi tank medium direncanakan bakal dikerjakan pada pertengahan tahun ini. Uji itu di antaranya meliputi uji antiranjau untuk mengetahui ketahanan atas ledakan dan uji jangkauan.

Pengujian tersebut dilakukan secara internal yang bekerja sama dengan Kementerian Pertahanan dan diperkirakan memakan waktu antara 6 bulan hingga 1 tahun.

"User kita, TNI, juga baru akan menerima produk kita bila sudah ada sertifikasinya. Rencananya batch pertama (produksi) itu pada 2019-2020," tutur Ade.

Pada tahun lalu, Kementerian Pertahanan menyampaikan akan memesan 100 unit medium tank dari PT Pindad. Bila proses sertifikasi berjalan lancar, TNI selalu pengguna berarti bisa menggunakan tank tersebut paling cepat pada 2020.

Ade juga mengatakan produk medium tank PT Pindad juga akan bersaing dalam tender produk pertahanan internasional di kawasan.

Meski belum disertifikasi resmi, spesifikasi medium tank yang dimiliki, dinilai memenuhi standar para pengguna dan dinilai bisa bersaing dengan produk buatan Eropa Barat dan Korea Selatan.

"Kita kan sudah menunjukkan performance-nya di parade di Cilegon kemarin. Hanya memang, detail spesifikasinya akan disampaikan dalam sertifikasi," kata Ade.

  ♞ Liputan 6  

[Video] Satuan Kapal Eskorta Armada RI Kawasan Barat

Liputan Garuda NET


  ♞ Youtube  

Mabes TNI AL Perkuat Keamanan di Kepri

Lanudal Tanjugpinang akan Naik Menjadi Kelas ALanudal Tanjugpinang [kabarbatam] ★

K
emungkinan adanya ancaman pelanggaran batas wilayah utara Provinsi Kepulauan Riau di Laut Natuna mendapat perhatian dari Markas Besar TNI-AL. Komandan Pangkalan Udara Angkatan Laut (Lanudal) Tanjungpinang, Letkol Laut (P) Henoch Nasarius Virzawan, mengatakan eskalasi ancaman di sana meningkat.

“Untuk itulah pimpinan TNI sendiri ingin merencanakan dalam membangun kekuatan dan menambah serta meningkatkan kekuatan juga keamanan di Anambas, Natuna terutama pada Batam dan Kota Tanjungpinang sendiri sebagai penyanggah bahaya yang akan masuk,” terangnya, Sabtu (14/4) lalu.

Dari sekian upaya peningkatan kekuatan pertahanan dan keamanan itu adalah pembangunan landasan gelinding (taxi way) di Tanjungpinang. Landasan ini adalah adalah jalan penghubung antara landasan pacu dengan pelataran pesawat (apron), kandang pesawat (hangar), terminal, atau fasilitas lainnya di sebuah bandar udara. Karena itu akan mempermudah operasi pesawat-pesawat di Tanjungpinang untuk beroperasi di wilayah udara Kepulauan Riau.

Apalagi, sambung Letkol Henoch, dalam waktu dekat ini status Lanudal Tanjungpinang akan naik menjadi kelas A.

“Pembangunan akses pesawat ini sangat penting karena kita akan mendapat penambahan dalam waktu dekat. TNI AL juga akan menambah alutsita, setelah jadi dalam waktu dekat juga pesawat akan berdatangan,” ujarnya.

Agar rencana pembangunan fasilitas ini berjalan lancar, Letkol Henoch meminta dukungan dari masyarakat sekitar. Ia berjanji pembangunan ini tidak akan menggangu masyarakat dengan perencanaan yang matang dan baik. Pihaknya juga akan menyiapkan jalan sementara dan setelah jadi bisa dapat digunakan kembali dengan jalan yang sudah diaspal dengan sistem buka tutup.

“Jangan khawatir setelah dibangun meski dalam pengawasan tidak ada batasan bagi masyarakat dalam mepergunakan jalan tersebut,” tegasnya.

Sekretaris Daerah Kota Tanjungpinang Riono menyambut baik rencana tersebut. Riono menjelaskan jika yang berhubungan dengan pembangunan jalan tentunya berkaitan dengan kelancaran aksesbilitas.

“Dengan adanya hal demikian, kami ingin mengupayakan kelancaran akses ekonomi dan mempermudah akses orang dan barang. Akan tetapi jika itu kita buang karena faktor lain maka yang kita perhatikan adalah kemanan dan kenyamanan bagi penguna jalan tersebut,” paparnya.

  ♞ Batampos  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...