Rabu, 25 April 2018

KRI Ardadedali-404 Segera Tiba di Koarmatim

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg6gwFA_Pck5VjInyhyQTPYifeH8XzWjMGGpGSgoDjrGaZUZ9fEZPPuvYyWQU99fLKj_CKOx8ogV_mBhtIK7Cm223HW4JSNN8QJNLcMVqMU8KnoI6_53DYCtKHzhekMT8B7iiJblDrSWpA/s400/404.jpgUpacara serah terima kapal selam KRI Ardadedali 404 [Antara]

Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengatakan adanya kapal selam Ardadedali-404 meningkatkan kemampuan pertahanan nasional dan menambah daya gentar Indonesia di kawasan.

"Diresmikannya KRI Ardadedali-404, maka kekuatan TNI Angkatan Laut akan semakin bertambah serta memberikan efek gentar," ujar Menhan dalam acara penamaan kapal dan penyerahan KRI Ardadedali-404 di galangan kapal Daewoo Shipbuilding and Marine Engineering (DSME), Okpo, Korea Selatan, Rabu.

Meningkatnya kemampuan pertahanan nasional tersebut, tutur Menhan, akan menjadi momentum penting pembangunan kekuatan pertahanan negara di laut ke depan.

Selain itu, Ryamizard Ryacudu menuturkan bertambahnya kapal selam meningkatkan optimisme pada kemampuan dan kekuatan pertahanan negara di laut menuju pertahanan dasar minimum.

"Pada prinsipnya tidak akan pernah terjadi sebuah pertahanan negara yang kuat tanpa ditopang oleh alutsista yang kuat pula," ucap Menhan.

Dalam kesempatan tersebut, ibu kandung kapal selam kedua dari kerja sama dengan Korea Selatan, Nora Ryamizard Ryacudu meresmikan penamaan kapal selam KRI Ardadedali-404.

Komandan kapal selam KRI Ardadedali-404 Letkol Laut (P) Widya Poerwandanu beserta awak kapal sejumlah sembilan perwira, 16 bintara, dan 15 tamtama juga dikukuhkan.

Kapal selam KRI Ardadedali-404 diperkirakan akan sampai di Pangkalan Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim) Surabaya kurang dari 20 hari sejak diberangkatkan hari ini.

Tahun lalu, kapal selam pertama, hasil kerja sama RI dan Korsel, yang diberi nama KRI Nagapasa 403 dan dikomandani oleh Letkol Laut (P) Harry Setyawan, tiba di Pangkalan Koarmatim Surabaya, pada 28 Agustus 2017 setelah berlayar selama 16 hari dari DSME
.

  ✈ antara  

Singapore and Indonesian Navies Conduct Bilateral Exercise Eagle Indopura

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh_zrakKszbfylW0W0H4vchu-IQkJTtJnQxf_sNtR2Wp0xjZwGpQpwSRrqYpWxeh-U4k-Z3BgBUe3eMY7H47IZs84oThaRluLrkIyrZihW3L5eIMWXrt8eKWLNUgAA2ghBd0xmg_BRY_yE/s400/23apr18_nr.jpggRSN's Littoral Mission Vessel RSS Independence (foreground) with two GUSKAMLABAR Quick Reaction Force fast boats intercepting the "terrorist" at the new counter-terrorist exercise serial supported by TNI AL's KRI Sultan Iskandar Muda (background) at Ex Eagle Indopura. [Sing Mindef, RSN]

The Republic of Singapore Navy (RSN) and Indonesian Navy (TNI AL) are conducting Exercise Eagle Indopura, from 19 to 27 April in Singapore and Surabaya, Indonesia. RSN Fleet Commander Colonel Edwin Leong officiated the opening ceremony at RSS Singapura - Changi Naval Base on 19 April with TNI AL's Commander Sea Combat Task Force, Eastern Fleet Command First Admiral Rachmad Jayadi in attendance. The bilateral exercise aims to enhance the interoperability and professionalism of both navies through anti-surface and anti-air warfare serials, as well as maritime security serials.

For the first time since inception, this year's exercise will feature a counter-terrorism serial in the maritime environment between the RSN’s Maritime Security Task Force (MSTF) and the TNI AL's Western Fleet Sea Security Group, GUSKAMLABAR (GKBA). Both navies exercised information sharing and sense-making to enhance maritime awareness, and joint operational planning to provide effective responses for regional maritime security contingencies. During the serial, both headquarters collaborated effectively to deploy naval assets to disrupt a simulated terror attack threatening commercial shipping transiting through the Singapore Strait.

This year, the RSN participated with a Formidable-class Frigate RSS Formidable, a Victory-class Missile Corvette RSS Valour, and for the first time, an Independence-class Littoral Mission Vessel RSS Independence. The TNI AL participated with two Diponegoro-class Frigates KRI Diponegoro (embarked with BO-105 helicopter) and KRI Sultan Iskandar Muda, a Kondor-class Patrol Craft KRI Pulau Rusa and Quick Reaction Force teams from GKBA, and a CN-235 Maritime Patrol Aircraft.

Held since 1974, Exercise Eagle Indopura is the Singapore Armed Forces' longest-running bilateral exercise with a foreign military. The exercise underscores the close and long-standing defence relationship between Singapore and Indonesia. The RSN and TNI AL conduct regular professional exchanges, exercises and port calls, and also collaborate through the multilateral Malacca Straits Patrol and other activities such as socio-civic programmes. These regular interactions have enhanced the close ties and mutual understanding between the personnel of both navies
.

  ✈ Mindef  

Selasa, 24 April 2018

TNI Akan Geser Pasukan ke Wilayah Natuna

Ilustrasi [TNI] ✮

Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto akan menggeser sekitar dua ribuan pasukan dari pulau Jawa ke wilayah Natuna, Kepulauan Riau, untuk mengisi tempat-tempat yang tengah dibangun fasilitas militernya.

"Penempatan personel atau pasukan tempur di sini adalah sifatnya alih kodal," kata Panglima TNI usai kunjungan kerja ke pulau Pulau Sekatung dan berbagai fasilitas militer yang tengah dibangun di Kepulauan Natuna, Senin.

Pasukan yang akan ditempatkan di Natuna di antaranya adalah marinir hingga tingkat batalyon.

Peninjauan beberapa fasilitas di Kepulauan Natuna bertujuan mengintegrasikan tiga angkatan, yakni laut, udara dan darat.

"Di mulai Baterai Armed, Satuan Radar, hingga Marinir," kata Hadi.

Dalam kunjungannya, Hadi juga memeriksa Baterai Armed di Teluk Buton. Pada Satuan Artileri Medan itu telah berdiri bangunan markas dan beberapa fasilitas dan prasarana yang menyertainya, seperti tempat tinggal.

Ia pun meminta agar satuan segera menentukan tempat latihan agar ketika nanti ada prajurit yang dikirimkan untuk bertugas di sana telah ada tempat dan jadwal latihan yang efektif.

Hadi juga mengunjungi pembangunan dermaga di Selat Lampa. Ia merasa senang karena dermaga labuh untuk kapal-kapal TNI AL ini telah memiliki fasilitas untuk menyediakan air tawar dan bahan bakar.

"Jadi, untuk pengisian bahan bakar tidak perlu lagi ke Batam," ujarnya.

Mantan Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) ini berharap fasilitas militer yang tengah di bangun tersebut, baik hanggar untuk tiga heli dari tiga matra, pelabuhan di Selat Lampa dan rumah sakit bisa diselesaikan dalam waktu dekat ini.

"Mudah-mudahan pertengahan Mei 2018 sudah bisa diresmikan sehingga secara bertahap pasukan maupun peralatannya bisa disiapkan di wilayah Natuna," katanya.

Di tempat yang sama, Ketua DPR RI Bambang Soesatyo menegaskan pembangunan pangkalan militer dan pertahanan di wilayah Natuna, Kepulauan Riau patut diperkuat dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari campur tangan pihak asing.

"Kunjungan kerja yang dilakukan Panglima TNI di wilayah perbatasan seperti Natuna ini fokus pada pertahanan dan keamanan negara dari kemungkinan intervensi asing," kata Bambang yang ikut bersama Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto.

Hadir dalam kunjungan itu, Ketua DPD RI Oesman Sapta Odang, Pangkostrad Letjen TNI Agus Kriswanto, Danjen Kopassus Mayjen TNI Eko Margiono, Dankormar Mayjen TNI (Mar) Bambang Suswantono, Dankorpaskhas Marsda TNI Seto Purnomo, Anggota Komisi III DPR Ahmad Sahroni dan para Asisten Panglima TNI serta Asisten Mabes Angkatan.

Menurut Bambang, wilayah Natuna yang berada dekat dengan Laut China Selatan (LCS) menjadi incaran Amerika dan China yang ingin menguasai LCS tersebut sehingga diperlukan penguatan pertahanan negara di wilayah Natuna.

Oleh karena itu, pria yang akrab disapa Bamsoet ini mendorong Komisi I DPR untuk membahas peningkatan anggaran pertahanan, khususnya daerah perbatasan di Natuna.

  ⚓ antara  

KRI Banda Aceh 593 Dukung Penyiapan Armada III Sorong

✬ Merupakan tim aju Komando Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil) memberangkatkan salah satu unsur kapal perangnya KRI Banda Aceh 593 untuk mendukung penyiapan pembentukan Komando Armada III di Sorong. KRI Banda Aceh yang dikomandani Letkol Laut (P) Whisnu Kusardianto, S.E., M.H. akan berangkat membawa para personel dan material yang akan menyiapkan dan menjadi tim aju Komando Armada III dari Dermaga Kolinlamil, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Senin (23/4).

Dalam kesempatan tersebut, Panglima Kolinlamil Laksda TNI R. Achmad Rivai, S.E., M.M. yang diwakili Kaskolinlamil meninjau langsung persiapan keberangkatan kapal jenis Landing Platform Dock(LPD) buatan dalam negeri ini.

Panglima Kolinlamil mengatakan bahwa unsur-unsurnya siap mendukung penyiapan pembentukan Komando Armada III yang merupakan tindak lanjut dari pimpinan TNI AL.

“Kolinlamil siap mendukung penyiapan Komando Armada III” kata mantan Komandan Lantamal II Padang ini diruang kerjanya, Senin (23/4).

KRI Banda Aceh-593 merupakan kapal kelas Loyd Register + 100A1 adalah buatan PT PAL yang diluncurkan pada tahun 2010. Kapal tersebut diproduksi untuk memperkuat jajaran TNI AL dalam mendukung Indonesia sebagai poros maritim dunia.

Kapal perang ini dibangun dengan menggunakan konstruksi lambung ganda (double bottom), Untuk memudahkan manuver, dan dilengkapi bow thruster.

KRI Banda Aceh 593 digunakan untuk menunjang tugas dan operasi Komando Lintas Laut Militer di antaranya untuk Landing Craft Carrier, pendaratan pasukan, operasi amfibi, tank carrier, combat vehicle 22 unit, tactical vehicle 13 unit, total embarkasi 507 personel. Selain itu, operasi kemanusiaan dan penanggulangan bencana, serta mampu berlayar selama 30 hari secara terus-menerus.

KRI Banda Aceh 593 telah teruji, mulai dari kecepatan kapal, stabilitas kapal dan kemampuan berlayar. Hasil uji coba cukup memuaskan. Pada saat uji coba dilakukan kecepatan kapal mencapai 15,2 knots, padahal dalam kontak ditetapkan 15,0 knots.

Urgensi Armada ketiga merupakan salah satu fokus pembahasan dari perencanaan strategis TNI AL. Hal ini disampaikan Kasal Laksamana TNI Ade Supandi, S.E., M.AP. kepada Media massa saat Rapat Pimpinan TNI AL di Mabesal Cilangkap Jakarta (26/1) tentang implementasi rencana pembinaan kekuatan dan kesiapan operasional TNI AL tahun 2018.

Hal itu disampaikan mengingat kebutuhan mendasar TNI AL saat ini di tengah semakin dinamisnya ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan di perairan yurisdiksi nasional. Selain itu juga untuk efisiensi dan efektifitas operasi pengamanan laut.

Kebutuhan suatu armada itu sangat kompleks, wilayahnya harus bisa memenuhi semua aspek termasuk dermaga, pangkalan dan sarana perbaikan kapal.

Saat ini Sorong yang tadinya sebuah Pangkalan TNI AL (Lanal) naik status menjadi Pangkalan Utama TNI AL (Lantamal). Hal itu untuk mendorong percepatan terbentuknya armada baru di wilayah timur Indonesia.

Tentunya, pembangunan armada yang ideal akan dikerjakan secara bertahap mulai tahun 2017 lalu. Proyeksi ini juga mengikuti kebijakan pemerintah dan anggaran.

Proyeksi armada ketiga di Sorong sudah dikaji sejak tahun 2004. Kajian itu didasarkan dari pengamanan 3 Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI), di mana wilayah timur terdapat ALKI III A, B dan C. (AD)

  ⚓ TNI AL  

[Dunia] Rudal FSA Buatan AS dan Israel Diserahkan ke Rezim Suriah

Berbagai senjata kelompok pemberontak FSA (Free Syrian Army) diserahkan ke pasukan rezim Suriah. [Foto/SANA] ●

Pasukan Pembebasan Suriah (FSA) menyerahkan puluhan rudal, kendaraan lapis baja, senjata anti-tank dan berbagai senjata kecil kepada pasukan rezim Suriah sesuai kesepakatan. Berbagai senjata itu diketahui buatan Amerika Serikat (AS) dan Israel.

Kantor berita negara Suriah, SANA pada 22 April 2018 merilis rekaman video dan foto yang memperlihatkan para militan FSA (Free Syrian Army) menyerahkan sejumlah besar senjatanya kepada pasukan pemerintah di Qalamun Timur, timur laut Damaskus.

Ini bukan pertama kalinya media Suriah merilis video senjata yang disita dari kelompok militan yang beberapa di antaranya buatan negara-negara NATO dan Israel.

Baru-baru ini, Pusat Rekonsiliasi Rusia untuk Suriah melaporkan bahwa lebih dari 1.100 militan dan anggota keluarga mereka telah meninggalkan distrik Qalamun Timur melalui koridor kemanusiaan Ruheiba.

Menurut Pusat Rekonsiliasi, selama evakuasi para militan menyerahkan sembilan senjata, 8,500 amunisi, 212 granat tangan, dan sabuk bom bunuh diri.

Kesepakatan untuk menyerahkan senjata itu ditandatangani pihak FSA dan pasukan rezim Suriah pada 19 April 2018. Dalam kesepakatan itu, kelompok FSA dan kelurganya akan difasilitasi untuk evakuasi dari Qalamun Timur yang telah terkepung ke Suriah utara dengan syarat senjata-senjata mereka diserahkan.

Beberapa senjata yang diserahkan itu di antaranya, anti-tank guided missile (ATGM) buatan AS dengan rudal TOW. Kemudian, ATGM MILAN buatan Prancis.

Tentara Suriah juga menyita beberapa kendaraan dan truk yang dipersenjatai dengan senjata 12,714,52357 dan satu kendaraan lapis baja BRDM-2. Sistem komunikasi portabel buatan Prancis dan amunisi pasokan dari AS juga disita tentara Suriah dari militan FSA.


  ★ sindonews  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...