Empat pesawat tempur canggih Sukhoi 30 MKI milik Angkatan Udara India (Indian Air Force/IAF) mendarat di Lanud El Tari Kupang, Jumat (20/7/2018) sore.
Pesawat tempur pertama Sukhoi 30MKI dengan nomor penerbangan SB 307 tiba dahulu pada pukul 15.00 Wita.
Kemudian berturut turut Sukhoi SB 323, Sukhoi SB 048 dan terakhir Sukhoi SB 184 tiba pada 15.30 Wita.
Setelah mendarat, pesawat-pesawat tempur canggih tersebut diarahkan sendiri oleh Marshal Ground (petugas parkir pesawat) dari tim penerbang Indian Air Force di Hanggar yang berada di sisi Timur Apron Lanud El Tari Kupang.
Pantauan POS-KUPANG.COM di Apron Lanud El Tari pada Jumad (20/7/2018) sore, setiap pesawat tempur dioperasikan oleh satu orang pilot peberbang dan co-pilot penerbang yang berseragam orange.
Danlanud El Tari Kupang Kolonel Pnb Arif Hartono SH kepada wartawan saat menjemput rombongan penerbang Indian Air Force (IAF) di Apron El Tari pada Jumad (20/7/2018), mengatakan, kedatangan tim penerbang IAF ke Lanud El Tari Kupang dalam rangka kerjasama dengan TNI Angkatan Udara untuk diskusi dan sharing bersama penerbang TNI AU.
"Kegiatan ini merupakan kegiatan SMII untuk meningkatkan profesianalisme penerbang TNI AU melalui sharing dan diskusi, soal bagaimana keselamatan, manufer dan bagaimana melakukan penerbagan," ungkapnya.
Para penerbang dari Indian Air Force yang ikut dalam rombongan sebanyak 130 personil, yang terdiri dari airman dan tim suport. (*)
Apache TNI AD [def.pk] ★
Dalam memenuhi Minimum Essensial Force (MEF) Renstra II (2015-2019), Indonesia mendatangkan delapan unit helikopter Apache dari Amerika Serikat.
Kedatangan helikopter canggih tersebut menambah keketatan militer Indonesia yang memiliki daya getar di kawasan.
Komandan Skuadron-11/Serbu Letkol Cpn Cahyo Permono menyatakan kedatangan Apache ini merupakan suatu lompatan teknologi yang besar bagi perkembangan alutsista Indonesia.
"Kalau kami berfikir bisa lebih dari delapan menjadikan daya tempur kita lebih signifikan," kata Cahyo saat ditemui di Skuadron-11/Serbu, Semarang, Jumat (20/7).
Skuadron-11/Serbu merupakan tempat di mana 8 unit Apache ditempatkan bersama heli serang jenis lainnya.
Menurut Cahyo, jumlah Apache bergantung pada eskalasi ancaman yang terus meningkat di era saat ini. Sehingga unit Apache yang berteknologi canggih itu perlu ditambah.
"Itu tergantung dari segala ancaman dan persepsi kita kepada ancaman dan bagaimana kita membangun kekuatan. Kami berfikir 1 skuadron, 1 skuadron berisi 32 unit," terangnya.
Kendati demikian, dia mengembalikan lagi pada kemampuan negara dalam mengalokasikan anggaran berdasarkan prioritas.
"Berdasarkan pemikiran saya, masih memerlukan lebih tapi kita kembali lagi kepada nrgara," pungkasnya. [nes]
TNI AD Akan Tambah Lagi
Apache TNI AD [Wayan Agus] ★
TNI Angkatan Darat (AD) sudah memiliki sepuluh pilot untuk menerbangkan delapan helikopter Apache AH 64E yang baru dibeli dari Amerika Serikat. Rencananya jumlahnya akan ditambah menjadi 20 pilot.
"Sekarang sudah 10 orang yang sudah menyelesaikan pendidikan," kata Komandan Skuadron 11/Serbu, Letnan Kolonel Cpn Cahyo Permono di markasnya di Pangkalan Udara TNI AD Ahmad Yani Semarang, Jawa Tengah, Jumat, 20 Juli 2018.
Sebelumnya, sebanyak delapan helikopter Apache resmi diserahterimakan dari Kementerian Pertahanan kepada Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto di Pangkalan Udara TNI Ahmad Yani Semarang, 16 Mei 2018. Pemerintah membeli Apache dari Amerika Serikat dengan harga sekitar Rp 500 miliar per unit. Helikopter ini diklaim menjadi helikopter paling canggih yang dimiliki TNI AD.
Pengadaan helikopter Apache merupakan hasil kerja sama dengan pemerintah AS melalui Program Manegement Office (PMO) menggunakan skema Government to Government. Pengadaan helikopter ini menjadi bagian dari program modernisasi Alutsista TNI sesuai Rencana Strategis Pertahanan Negara dan program Minimum Essential Force (MEF).
Helikopter Apache AH-64E punya teknologi canggih yang bisa dioperasikan dalam berbagai kondisi medan dan cuaca. Helikopter Apache menggunakan teknologi Avionics, seperti Radar Longbow dan Multi Target Acquisition and Designation System (MTADS).
Radar Longbow adalah sistem radar yang ada di baling-baling Apache. Sistem radar ini memiliki radar kendali tembak dan radar indentifikasi frekuensi. persenjataan yang digunakan adalah peluru kendali AGM-114 Hellfire, Roket Hydra 70, AIM-92 Stinger, Aim-9 Sidewinder, dan Kanon M 230.
Helikopter Apache juga memiliki perangkat yang dapat melihat dan mengetahui informasi objek dalam kondisi gelap. Helm pilot juga dapat mengatur arah senjata M 230 tanpa mengubah arah helikopter.
Cahyo mengatakan para pilotnya menghadapi tantangan mengendarai Apache. Dia bilang helikopter sebelumnya mempunyai sistem analog, sedangkan sistem heli Apache full digital. "Interface antara pilot dengan helikopter tadi yang perlu dilatih," kata dia.
Cahyo mengatakan pilot helikopter Apache dipilih dari pilot reguler yang sudah punya jam terbang tinggi. Mereka kemudian dikirim ke Amerika untuk mempelajari mengemudikan helikopter ini selama 8 - 10 bulan. Di Indonesia para pilot mesti berlatih lagi paling kurang 1-1,5 jam setiap hari. "Sepuluh pilot tadi kami adakan penambahan jam terbang agar lebih akrab dengan helikopter ini," kata dia.
Penerbang TNI AD Punya Kualifikasi Terbangkan Helikopter Apache
Penerbang TNI Angkatan Darat yang telah menjalani pelatihan di US Army Flank School selama delapan sampai 10 bulan sudah memiliki kualifikasi atau kemampuan untuk menerbangkan Helikopter Apache AH 64E.
"Kalau kita lihat kemampuan pilot, kemampuannya sudah standar sesuai dengan kemampuan yang distandarkan dari Amerika," kata Komandan Skuadron-11/Serbu Puspenerbad Letkol Cpn Cahyo Permono, di Hangar Helikopter Apache Skuadron-11/Serbu Puspenerbad, Semarang, Jawa Tengah, Jumat.
Menurut dia, ada 20 pilot reguler yang ikut pelatihan di US Army Flank School selama delapan sampai 10 bulan. Hanya saja, saat ini baru 10 pilot yang kembali ke Tanah Air dan mengoperasikan delapan Apache setiap harinya.
"Karena merupakan jenis helikopter baru maka Apache harus sering diuji coba agar pilot bisa mengawaki dengan baik dan paham seluk-beluknya," katanya.
Sehingga, lanjut Cahyo, para penerbang semakin paham karakter Apache sekaligus menambah pengalaman dalam menerbangkan helikopter di segala medan.
"Yang kita kerjakan setiap hari adalah menambah jam terbang, ini pesawat baru buat kita dan perlu familiar, tergantung kebutuhan bisa dua sampai tiga jam. Dalam sehari, setidaknya terbang satu sampai satu setengah jam," kata alumnus Akmil 1998 itu.
Kemampuan pilot sendiri sudah beradaptasi dengan sistem digital yang ada di Apache, termasuk penggunaan taktik, karena semua tergantung user-nya.
Di Pusdik Penerbad sendiri silabus untuk menerbangkan Apache sudah diadopsi untuk menjadi materi pelatihan khusus bagi penerbang TNI AD.
"Kita juga sudah punya silabus, di mana pendidikan pilot itu tidak berbeda jauh, tinggal menyesuaikan dengan tugas dan ancaman yang dihadapi," ujarnya.
Saat ini, delapan unit helikopter AH-64E Apache sudah resmi menjadi bagian keluarga besar Pusat Penerbad. Alat utama sistem senjata (alutsista) buatan negeri Paman Sam ini menjadi helikopter termodern yang dimiliki TNI AD.
Nilai kontrak delapan unit Apache seri terbaru lengkap dengan persenjataan ini mencapai 295 miliar dolar AS atau sekitar Rp 4,27 triliun dengan kurs saat ini, sebelumnya, Skadron 11/Serbu hanya diperkuat heli Bell 412 EP.
Cahyo menjelaskan, Apache yang datang pada awal tahun ini, merupakan proyek alat utama sistem senjata (alutsista) yang diteken pada 2013. Apache bertugas menggantikan helikopter Bolcow yang dikandangkan karena sudah uzur.
Menurut Cahyo, Apache merupakan helikopter tercanggih yang dimiliki TNI AD. Berbeda dengan semua jenis helikopter milik Pusat Penerbad yang digerakkan secara manual, khusus Apache semua operasinya dikerjakan oleh komputer.
"Ini menjadi helikopter digital pertama yang kita miliki, artinya bukan hanya displai saja melainkan juga semua proses untuk menggunakan senjata dan pengenaan target, semua diatur komputer," katanya.
Ia menambahkan, dengan adanya fasilitas gabungan optik dan elektronik yang menjadi satu kemampuan, maka Apache sangat siap digunakan untuk tugas operasi sepanjang hari, sehingga kalau ada misi rahasia, maka Helikopter Apache memiliki keunggulan bisa bertempur pada malam hari.
Hal itu juga ditunjang dengan senjata automatic gun dan roket yang menunjang untuk menghancurkan musuh.
"Kita membeli (senjata), artinya yang kita beli 'basic US army', persis sama. Apache yang kita miliki tipe echo terakhir yang itu juga diproduksi oleh Boeing. Jadi sistem persenjataannya tidak berbeda jauh dengan standarnya Amerika," kata Cahyo.
Mengintip Kandang 8 Helikopter Apache TNI AD di Semarang
Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat atau TNI AD mengandangkan delapan Helikopter Apache AH-64E terbarunya di Skuadron 11/Serbu, Pangkalan Udara TNI AD Ahmad Yani Semarang, Jawa Tengah. Tempo berkesempatan menengok hanggar tempat delapan helikopter asal pabrikan Amerika Serikat itu pada Jumat, 20 Juli 2018.
Pangkalan Skuadron 11 berada bersebelahan dengan Bandara Ahmad Yani yang baru. Lokasinya persis ada di seberang landasan pacu bandara di bibir Laut Jawa itu. Komandan Skuadron 11 Letnan Kolonel Cahyo Permono mengatakan markasnya menempati lahan seluas 10 hektar. Lahan itu terbagi menjadi 3 hanggar dan apron tempat helikopter diparkir dan meluncur.
Cahyo menuturkan Skuadron 11 memiliki 32 helikopter dari jenis NBO 105, Nbell 412, Bell 412 dan Bell 205. Yang terbaru satuan yang berada di bawah Pusat Penerbang TNI Angkatan Darat ini kedatangan delapan helikopter Apache.
Helikopter Apache tiba di Indonesia pada 16 Mei 2018. Pemerintah membeli Apache dari Amerika Serikat dengan harga sekitar Rp 500 miliar per unit. Helikopter ini diklaim menjadi helikopter paling canggih yang dimiliki TNI AD.
Pengadaan helikopter Apache merupakan hasil kerja sama dengan pemerintah AS melalui Program Manegement Office (PMO) menggunakan skema Government to Government. Pengadaan helikopter ini menjadi bagian dari program modernisasi alat utama sistem persenjataan atau Alutsista TNI sesuai Rencana Strategis Pertahanan Negara dan program Minimum Essential Force (MEF).
Cahyo berujar khusus untuk helikopter ini TNI AD membangun hanggar khusus yang sesuai kebutuhan perawatan helikopter super mahal itu. Hanggar dibangun bersebelahan dengan dua hanggar lama. Hanggar Apache luasnya sekitar dua lapangan sepak bola.
Hanggar, kata dia, dibangun terintegrasi dengan bengkel dan gudang suku cadang. Hanggar juga dilengkapi peralatan untuk mengangkat beban berat. "Dengan fasilitas ini sudah cukup untuk kami memelihara sampai dengan tingkat berat," kata dia.
Cahyo menuturkan di hanggar itu Helikopter Apache dipelihara tiap hari. Pemeliharaan meliputi pengecekan sebelum terbang dan pembersihan mesin selesai latihan terbang. Karena pangkalan Ahmad Yani dekat laut, perawatan juga meliputi pencegahan korosi. "Itu perlu kami lakukan setiap hari supaya heli bisa dipakai untuk jangka panjang," kata dia.
Pesawat T-50i TNI AU [Ismail Hasan] ☆
Lima pesawat T-50i Golden Eagle dari Skadron Udara 15 Lanud Iswahjudi Madiun, diberangkatkan ke Ambalat, untuk melaksanakan operasi Garda Nusa dan operasi Lintas Kaswari.
Pesawat-pesawat tempur ini, juga akan menjalankan misi terbang jelajah dan mendukung kegiatan karya bakti ke-71 TNI AU. Dalam menjalankan misinya selama 14 hari, pesawat tempur ini akan berada di Lanud Anang Bursa, Tarakan, Kalimantan Utara.
Kepala Penerangan Lanud Iswahjudi Madiun, Mayor Sus Hamdi Londong Alo menyebutkan, kelima pesawat tempur ini lepas landas dari Lanud Iswahjudi, Kamis (19/7/2018). "Rombongan pesawat, singgah terlebih dahulu di Lanud Balikpapan, Kalimantan Timur, untuk mengisi bahan bakar," ujarnya.
Dalam menjalankan misi operasi ini, ada sebanyak 44 personel yang terlibat. Selain penerbang tempur, misi ini juga melibatkan para teknisi pesawat T-50i Golden Eagle yang diangkut menggunakan pesawat C-130 Hercules dari Skadron Udara 32, Lanud Abdulrachman Saleh Malang.
Komandan Skadron Udara 15 Lanud Iswahjudi Madiun, Letkol Pnb Hendra Supriadi mengatakan, operasi ini dilaksanakan lima pesawat yang terbagi dua penerbangan. Dua pesawat dengan flight leader Letkol Pnb IG Widi Nugroho; dan tiga pesawat dengan flight leader Mayor Pnb Gultom.
"Misi operasi ini dilaksanakan selama 14 hari. Kelima pesawat, melaksanakan patroli di sekitar Ambalat, untuk menjaga keamanan udara di wilayah perbatasan Indonesia," ujarnya.
Kokpit pesawat N219 Nurtanio [Bambang Haryanta] ☆
Sejak kehadirannya di aswal 19i70-an, kiprah perusahaan teknologi perangkat keras dan lunak Honeywell merambah berbagai sektor usaha di Indonesia.
Selain di industri pertambangan oil and gas, bisnis teknologi Honeywell juga merambah berbagai sektor lainnya seperti industri dirgantara sampai industri manufaktur dan hunian dan apartemen.
Di industri dirgantara, Honeywell sejak lama menjalin kerjasama dengan PT Dirgantara Indonesia (PT DI), Bandung, untuk memasok berbagai kebutuhan perangkat keras dan lunak untuk pesawat ringan bermesin propeller N219 yang diproduksi PT DI.
"Dengan PT Dirgantara Indonesia kita bekerja sama untuk pembuatan pesawat N219. Honeywell memasok kebutuhan perangkat avionik," ungkap Roy Kosasih, Presiden Honeywell Indonesia dalam paparan di sela ajang Honeywell Indonesia Technology Summit 2018 di Hotel Fairmont, Jakarta, Kamis (19/7/2018).
Roy menjelaskan, Honeywell memiliki peran sangat besar di industri kedirgantaraan dunia, karena perusahaaan yang berbasis di Morris Plains, New Jersey, Amerika Serikat, ini menjadi mitra utama bagi sejumlah pabrikan pesawat ternama dunia seperti Boeing dan Airbus.
"(Di atas langit) setiap detik ada 2.200 pesawat yang sedang mengudara, dan hampir 90 persen teknologi di dalam kokpit dan kabin pesawat tersebut dipasok oleh Honeywell," ungkapnya.
Honeywell memasok sistem navigasi dan sensor, propulsi dan power system, teknologi flight data recorder, satellite wifi di kabin pesawat, teknologi turbo charger, air dan therma management, cockpit and flight management system, komponen mekanikal, dan lain-lain.
"Perusahaan produsen pesawat seperti Boeing dan Airbus setiap kali akan meluncurkan produk baru, untuk pengembangan sistem dan komponennya pasti berbeda," ungkapnya. Di sanalah, Honeywell berperan masuk.
Masih di industri kedirgantaraan, Roy menyatakan, Honeywell juga memiliki teknologi Connected Enterprise, yang salah satunya mengkoneksikan aktivitas pesawat terbang dengan Internet of Things (IoT).
"Saat pesawat diketahui mengalami gangguan atau ada komponen yang bermasalah saat mengudara, informasi ini langsung terhubung dengan bandara dan petugas di darat, dan bisa langsung diantisipasi sebelum pesawat mendarat," dia mencontohkan.
Honeywell sudah menjalankan bisnisnya di Indonesia sejak tahun 1970-an, dengan memasok teknologi pengeboran minyak dan gas untuk Pertamina. Teknologi ini kini juga dipasok Honeywell ke sejumlah perusahaan kontraktor kerjasama migas lainnya di Indonesia seperti Chevron.
"D bidang teknologi pengambilan (lifting) minyak dan gas bumi dari bawah tanah. Kami sejak lama bekerja sama dengan Pertamina, Chevron, dan lain lain," ungkapnya.
Di bidang advance material, Honeywell juga memasok freon dan refrigerant untuk kebutuhan pendinginan dan industri kosmetik.
"Kami juga memproduksi jaket anti-peluru, dan saat ini sedang menjajaki kerjasama dengan TNI," sebut Roy Kosasih.
Sebuah gedung tertinggi di Indonesia yang sedang dibangun di Jakarta, lanjut Roy, akan mengaplikasikan teknologi face recognition dengan teknologi yang sepenuhnya dipasok oleh Honeywell dari divisi bisnis Home and Building Technologies, untuk kontrol akses masuk karyawan dan pengunjung.
"Tapi saya belum bisa sebutkan sekarang nama gedungnya karena alasan etis," ungkapnya.
Dengan cakupan bisnis yang begitu luas dirambah di Indonesia, termasuk ke industri manufaktur, ritel dan warehouse dan logistik, bisnis Honeywell di Indonesia memberi kontribusi terbesar terhadap pendapatan bisnis Honeywell jika dibandingkan pendapatan bisnis yang diraih Honeywell dari negara-negara lainnya di kawasan regional ASEAN.