KRI Alugoro 405 di PT PAL [satselhiukencana] ★
Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan menyatakan, menjaga kawasan laut menjadi hal yang sangat penting mengingat Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar. Oleh sebab itu, peningkatan pertahanan pun harus dilakukan.
“Kita tidak ingin lagi seperti waktu Pulau Sipadan kalah,” katanya dia dalam sebuah diskusi tentang kemaritiman di Kantor CSIS, Jakarta, Jumat (22/ 2/ 2019).
Luhut menyatakan, dalam peningkatan strategi pertahanan maka pembelian alat utama sistem persenjataan (alutsista) yang berkualitas diperlukan. Kata dia, Indonesia tidak akan membeli lagi alutsista bekas pakai, bahkan akan berusaha membuat sendiri.
“Perlu peningkatan kuantitas dan kualitas alutsista enggak mau bekas, maunya baru dan bahkan kalau bisa dibuat di dalam negeri cukup dari dalam negeri saja,” jelas dia.
Menurutnya, untuk pesawat berteknologi tinggi, Indonesia memang masih perlu bekerjasama dengan negara lain. Saat ini, pemerintah memang sedang bekerjasama dengan Korea Selatan, diharapkan ke depan Indonesia dapat memproduksi sendiri.
“Pesawat Jet itu sedang kerjasama dengan Korea Selatan, itu sedang dikembangkan sehingga nanti ke depan kita bisa bikin sendiri. Kalau kapal laut, saya kira kita sudah bisa buat, waktu itu saya lihat di Surabaya ada yang buat,” katanya.
Selain peningkatan kualitas alutsista, Luhut menyatakan, kualitas sumber daya manusia juga terus ditingkatkan. Sehingga bonus demografi yang ada dapat berdampak baik pada penguatan pertahanan dan perekonomian Indonesia.
“Kualitas sumber daya manusia itu juga jadi hal yang sangat penting,” pungkasnya.
Kunjungan Pangab Australia di Jakarta [Kemhan] ★
Menteri Pertahanan Republik Indonesia Ryamizard Ryacudu menerima kunjungan kehormatan Australian Chief of Defence Force (Panglima Angkatan Bersenjata Australia), General Angus Campbell, AO, DSC., Rabu (20/2) di kantor Kementerian Petahanan, Jakarta.
Dalam kunjungan ini, Pangab Australia menyampaikan komitmennya akan terus berupaya meningkatkan hubungan kerja sama di bidang pertahanan dengan Indonesia, khususnya kerja sama antar Angkatan Bersenjata.
Selain itu, Pangab Australia juga menegaskan bagaimana komitmen dan pandangan Australia terkait Papua sebagai bagian penting yang tak terpisahkan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
“Jadi perlu kami tekankan kembali, komitmen kami sebagai Pangab Australia, Militer Australia dan Pemerintah Australia dimanapun, komitmen kami bahwa Papua adalah bagian yang sangat penting dan tak terpisahkan dari Indonesia”, tandas Pangab Australia saat diterima Menhan RI.
Lebih lanjut disampaikannya, komitmen Australia tersebut juga telah disampaikannya saat bertemu dengan Panglima TNI. Sikap dan pandangan Australia tersebut tidak akan berubah dan akan tetap sama sampai kapanpun. Dan Australia juga tidak akan ikut campur dalam masalah tersebut.
Australia memandang penting dan akan terus menjaga hubungan persahabatan yang telah terjalin baik dengan Indonesia. Terkait kerjasama di bidang pertahanan, dikatakannya pihaknya bersama Panglima TNI telah berkomitmen untuk terus membangun hubungan yang lebih lengkap, lebih kompleks dan lebih bernilai, khusunya antara kedua institusi pertahanan dan kedua Angkatan Bersenjata.
Konsep ke depan, Angkatan Bersenjata Australia dan TNI akan berupaya bersama-sama membangun pemimpin – pemimpin masa depan yang memiliki komitmen kuat membangun hubungan kerjasama kedua negara.
Hubungan akan dibangun dari tiga lavel yakni hubungan antar senior para purnawirawan, pemimpin masa kini dan masa depan. Dengan hubungan yang baik ini, diharapkan akan tercipta komitmen yang kuat dari militer kedua negara agar hubungan tersebut terus terjalin kuat sepanjang masa.
Untuk Tingkatkan Produksi Pesawat N219
N219 produk PT DI [PT DI] ★
PT Dirgantara Indonesia (PT DI) tengah mengkaji alternatif pendanaan eksternal yang mengedepankan ekuitas. Berdasarkan rencana tersebut, produsen pesawat milik negara ini sedang meninjau peluang penerbitkan surat berharga perpetual (perpetual bond) ataupun menggalang dana dari kontrak investasi kolektif-dana investasi real estate (KIK-DIRE).
Direktur Utama Dirgantara Indonesia Elfien Goentoro mengatakan tengah mengkaji dan berdiskusi mengenai pendanaan alternatif dengan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), karena perseroan tengah membutuhkan dana sebesar US$ 119 juta untuk mendukung ekspansi fasilitas produksi pesawat terbang N219.
"KIK-DIRE maupun perpetual bond merupakan beberapa instrumen atau sumber dana yang sedang dijajaki perusahaan. Namun demikian, perseroan belum menentukan pilihan," ujar Elfien di Jakarta, Selasa (12/2).
PT DI masih akan mendiskusikan rencana pendanaan eksternal terkait ekuitas dengan pihak Bappenas lebih lanjut dalam waktu dekat. "Dua minggu lagi, kami akan kembali berdiskusi," ungkap dia.
Pendanaan eksternal ini diharapkan dapat segera difinalisasi karena perseroan memang perlu untuk memingkatkan kapasitas produksi pesawat terbang N219 yang tingkat permintaannya tengah meningkat.
"Permintaan tengah naik, misalnya itu dari Singapura, Uni Emirat Arab, Afrika, Amerika Latin," papar Elfien.
Sebelumnya, Chief Executive Officer (CEO) Pembiayaan Investasi Non-Anggaran Pemerintah (PINA) Bappenas Ekoputro Adijayanto mengatakan pihaknya turut mendorong penerbitan instrumen investasi alternatif untuk mendorong proyek badan usaha milik negara (BUMN) atau swasta. Karena itu pihaknya juga berkoordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengenai hal tersebut.
Salah satu BUMN yang berniat mendanai ekspansi melalui instrumen alternatif investasi, yakni DIRE adalah Dirgantara Indonesia.
“Dirgantara Indonesia berniat mencari pendanaan dari DIRE, yang aset dasarnya merupakan kepemilikan atas pabrik,” jelas dia.
Lebih lanjut dia memaparkan proyek perluasan pabrik yang direncanakan Dirgantara Indonesia termasuk salah satu proyek yang ada di pipeline PINA per Januari 2019. Sejalan dengan hal itu, menurut dia, sejauh ini Dirgantara Indonesia bersama tim PINA masih mengkaji potensi dana yang dapat diraih melalui DIRE.
Kajian tersebut juga terkait dengan aset dasar yang akan digunakan.
”Pastinya kami ingin menegaskan, instrumen DIRE tidak hanya terbatas untuk aset berupa perumahan. Sebaliknya, di luar negeri, setiap aset berada di atas lahan dapat dijadikan aset dasar dari DIRE,” ungkap Ekoputro.
Rencana penggalangan dana melalui instrumen DIRE, papar dia, merupakan bagian strategi dari Dirgantara Indonesia untuk mendanai ekspansi pabrik. Perusahaan pelat merah tersebut ingin meningkatkan kapasitas produksi, terutama untuk pesawat terbang N219.
“Permintaan pesawat terbang N219 cukup tinggi, tapi kapasitas belum memadai sehingga Dirgantara Indonesia perlu ekspansi. Nah, mengenai hal itu, pemerintah juga berinisiatif untuk mendorong peningkatan kapasitasnya,” tegas dia.
Meski target dana melalui DIRE belum ditetapkan, tetapi menilik data pipeline PINA per Januari 2019, kebutuhan investasi Dirgantara Indonesia mencapai Rp 5,9 triliun. Dana tersebut dibutuhkan untuk pengembangan pesawat terbang N219.
Two of four submarines of Indonesian Navy [Hiu Kencana] ★
Korean shipbuilder Daewoo Shipbuilding and Marine Engineering (DSME) is in the final stages of negotiations for a massive deal to export submarines to Indonesia, company sources told the JoongAng Ilbo on Wednesday.
According to the sources, the Indonesian Navy is planning to purchase three new submarines from DSME for $ 1.2 billion. Jane’s 360, an online defense media channel, also reported last week that Indonesia and DSME are close to signing an order for the three 1,400-ton submarines, a modified version of the South Korean Navy’s Chang Bogo-class diesel-electric attack submarines.
If the contract is awarded to DSME, the shipbuilder will have won two consecutive submarine deals with Indonesia. In 2011, Korea won a $ 1.1 billion contract for three 1,400-ton submarines as part of Indonesia’s 2024 Defense Strategic Plan.
The three new submarines are to be built by DSME in cooperation with the Indonesian state-owned shipbuilder PT PAL.
“During the final negotiation stage, discussions will take place on how to split the work,” said a defense industry source. “Component production and final assembly will be done at the Okpo Shipyard in Korea and a shipyard in Surabaya, Indonesia.”
According to the sources, the contract is expected to be signed next month as the two sides have no major disagreements. The contract was supposed to be signed last year, but Indonesia requested more time for review and the deadline was postponed to March this year.
DSME opened a technology cooperation center at the PT PAL Shipyard in October last year as part of its efforts to secure the contract. One month later, it signed an agreement with the shipyard to form a consortium.
Sources said DSME also had an advantage because Indonesia is already operating Korean-built submarines. DSME’s deal with Indonesia in 2011 was Korea’s largest defense export project at that time. With the contract, Korea became the fifth submarine exporter in the world. Of the three submarines purchased by Indonesia, two were built in Korea and delivered later, and the last one is currently being built at the PT PAL Shipyard.
If DSME secures the follow-on order, Korea will supply six out of the 12 new submarines that the Indonesian Navy plans to introduce.
✈️ Pesawat TNI AU [TNI AU]
Indonesia dan Rusia sepakat untuk penjadwalan ulang jangka waktu pembelian Pesawat Sukhoi SU-35.
Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Wiranto mengatakan kesepakatan disetujui kedua pihak saat dirinya melakukan kunjungan kerja dan bertemu dengan perwakilan Pemerintah Rusia.
"Disinggung sedikit mengenai masalah pembelian Sukhoi dengan suatu penjadwalan ulang tentang jangka waktunya," ujar Wiranto di kantornya pada Selasa.
Namun, Wiranto tidak menjelaskan secara rinci mengenai kepastian waktunya.
"Tentang sistem pembayaran juga yang tadinya kita cash, kita ajukan adanya imbal dagang, sebagian," kata dia.
Menurut dia, proses pembelian pesawat tempur itu akan rampung dan hanya menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan hal teknis.
Sejak 2017 lalu, Indonesia sepakat membeli 11 unit Sukhoi SU-35 senilai USD 1,14 miliar dolar AS atau sekitar Rp 16 triliun.
Dengan pembelian ini, Indonesia mewajibkan Rusia membeli produk-produk dari Indonesia senilai USD 570 juta atau sekitar Rp 8 triliun.
Selain itu, Rusia juga akan membangun fasilitas Maintenance, Repair, and Operating Supplies (MRO) di Indonesia senilai 35 persen dari transaksi.
BUMN Rusia, Rostec dan PT Perusahaan Perdagangan Indonesia telah menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) kerja sama tersebut saat Menteri Perdagangan RI Enggartiasto Lukita berkunjung ke Moskow, Agustus 2017.
Rencananya dua pesawat Sukhoi tersebut akan tiba di Indonesia pada tahun ini.