Selasa, 28 Desember 2021

TNI AU Siapkan 3 Skuadron Khusus Jet Tempur Generasi 4,5

Rafale dan F-15EX F15 EX [Boeing Defence] ☆

TNI Angkatan Udara mulai memikirkan penambahan skuadron udara menyusul segera terealisasinya pembelian jet tempur Dassault Rafale asal Perancis dan F-15EX dari Amerika Serikat.

"Antara kalau pesawat mungkin 2 sampai 3 skuadron," ujar Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal Fadjar Prasetyo di Halim Perdanakusuma, Jakarta, Rabu (22/12/2021).

Penambahan dua hingga tiga skuadron udara itu bisa terjadi apabila Indonesia pada akhirnya bisa mendatangkan di atas 30 unit jet tempur generasi 4,5.

"Insya Allah segera (di atas 30 unit)," kata mantan Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan II (Pangkogabwilhan II) tersebut.

Fadjar mengatakan, TNI AU akan memanfaatkan skuadron yang ada untuk penempatan jet tempur Rafale dan F-15EX.

Indonesia menginginkan jet tempur yang masuk kategori generasi 4,5, baik yang kelas heavy atau pun medium ke atas.

Oleh karena itu, pilihan untuk menambah kekuatan alat utama sistem persenjataan (alutsista) kini mengarah pada dua jet tempur tersebut.

Mengenai isu pembelian Sukhoi Su-35, Fadjar menyebutkan bahwa kini Indonesia dengan "berat hari" harus meninggalkan rencana pembelian jet tempur asal Rusia itu.

Fadjar mengungkapkan, alasan Indonesia menanggalkan rencana pembelian Su-35 karena berkaitan dengan anggaran.

"Karena kan kembali lagi dari awal kita sebutkan bahwa pembangunan kekuatan udara sangat bergantung dari anggaran, kalau yang bayar tidak mau ke sana, kita kan enggak bisa nyebut-nyebut terus, jadi arahnya ke Rafale," ungkap Fadjar.

Indonesia sebelumnya berencana memboyong 36 jet Rafale dan 8 unit F-15 EX. Isu rencana pembelian pesawat tempur ini sudah menghangat sejak setahun terakhir ini.

  Spesifikasi Jet Tempur Dassault Rafale 
Indonesia diyakini tak butuh waktu lama untuk dapat merealisasikan pembelian dua jet tempur Dassault Rafale asal Perancis dan F-15 EX asal Amerika Serikat.

"Ini sudah mengerucut tetapi memang belum diputuskan. Tetapi pilihan dua, mengercut. Pertama adalah kita dapat Rafale, kedua adalah F-15 EX," ujar Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal Fadjar Prasetyo di Halim Perdanakusuma, Jakarta, Rabu (22/12/2021).

Fadjar mengatakan bahwa kini banyak negara yang menyukai Rafale.

Hal itu tercermin dengan adanya pembelian besar-besaran terhadap Rafale. Salah satunya adalah Uni Emirat Arab (UEA) yang membeli 80 unit Rafale beberapa waktu lalu.

"Kalau kita ikuti berita internasional, semakin banyak yang suka dengan Rafale, dan mereka mohon maaf mungkin resources-nya kuat sekali mungkin bisa kuat langsung bayar dan sebagainya," kata Fadjar.

Rafale yang merupakan jet tempur buatan Dassault Aviation ini mampu melakukan serangan darat dan laut, pengintaian, serangan akurasi tinggi, serta pencegahan serangan nuklir.

Melansir Air Force Technology, Rafale memiliki kokpit yang dilengkapi dengan hands-on throttle and stick control (HOTAS).

  Ukuran dan harga pesawat Rafale 
Rafale memiliki rentang sayap selebar 10,90 meter dan panjang pesawat 15,30 meter, dan tinggi 5,30 meter.

Rafale mampu melaju dengan kecepatan maksimal 1,8 march atau 750 knot. Ketinggian maksimal hingga 15, 24 kilometer.

Sementara radius tempurnya 1.850 km dan daya jelajahnya 3.700 km.

Dengan bobot lepas landas mencapai 24, 5 ton, Rafale mampu memuat bahan bakar sebanyak 4,7 ton internal dan 6,7 ton eksternal.

Selain itu, ongkos terbang Rafale per jam sekitar 16.500 dollar AS atau sekitar Rp 234,3 juta. Sedangkan harga Rafale per unitnya 115 juta dollar AS atau sekitar Rp 1,63 triliun.

  Kapasitas muatan dan senjata 

Pesawat tempur ini dapat membawa muatan lebih dari 9 ton pada 14 penyimpanan senjata untuk versi angkatan udara dan 13 untuk versi angkatan laut.

Rafale juga dilengkapi sejumlah persenjataan antara lain, MICA, Sidewinder, rudal udara ASRAAM and AMRAAM, rudal darat Apache, AS30L, ALARM, HARM, Maverick, serta rudal anti kapal Exocet/AM39, Penguin 3 dan Harpoon.

Pesawat ini juga dilengkapi dengan SCALP, rudal jelajah udara-ke-darat dengan jangkauan lebih dari 300 km. Ini adalah rudal serangan jarak jauh yang dalam.

  ★
Kompas  

[Video] Kapal Bantu Rumah Sakit (BRS) dr. Wahidin Sudirohusodo Sukses Laksanakan Sea Acceptance Test (SAT)

Diposkan PT PAL Indonesia Kapal Bantu Rumah Sakit (BRS) dr. Wahidin Sudirohusodo 991 [PAL]

H
alo #SobatPAL Kapal Bantu Rumah Sakit (BRS) dr. Wahidin Sudirohusodo telah sukses melaksanakan Sea Acceptance Test (SAT). Kegiatan tersebut dilakukan oleh Tim Produksi Kapal BRS PT PAL Indonesia (Persero), Tim Kelaikan Material (TKM) dari TNI AL Class LR serta Tim Satgas.

Kapal BRS dr. Wahidin Sudirohusodo lulus uji kecepatan dengan maksimum 19.4 knots melebihi kecepatan yang diamanatkan pada kontrak yaitu 18 knots. BRS dr. Wahidin Sudirohusodo sukses lakukan rangkaian uji performa, yakni turning circle test, Z manouvering test, Crash stop astern test. Sehingga keseluruhan rangkaian SAT telah dilaksanakan dan telah dinyatakan lulus oleh Tim TKM dan Class LR.

Setelah sukses melaksanakan kegiatan SAT, kapal BRS akan dipersiapkan untuk pelaksanaan commodore inspection dan selanjutnya akan diserah terimakan kepada TNI-AL.


  ★ Youtube  

Offset A400M dan Penjualan Pesawat Terbang Indonesia

Opini Alman Helvas Ali https://awsimages.detik.net.id/visual/2021/10/10/pesawat-angkut-militer-airbus-a400m-6_169.jpeg?w=715&q=90Pesawat angkut militer Airbus A400M [Hauke-Christian Dittrich/dpa via AP] 🛩
K
ementerian Pertahanan dan Airbus Defence and Space (ADS) telah menandatangani kontrak akuisisi dua A400M dan opsi empat pesawat pada 10 Oktober 2021 di Jakarta dan dilanjutkan kegiatan seremonial serupa saat Dubai Airshow 2021 pada 18 November 2021. Kontrak dua A400M memanfaatkan slot Pinjaman Luar Negeri (PLN) senilai US$ 700 juta dalam Penetapan Sumber Pembiayaan (PSP) sebesar US$ 5,8 miliar yang ditandatangani oleh Menteri Keuangan pada 26 April 2021. Indonesia bersedia menyisihkan dana sebesar €484 juta kepada ADS untuk mendapatkan dua pesawat angkut yang material airframe-nya menggunakan aluminium alloy, titanium alloy dan carbon fiber ini.

Tercakup pula dalam kontrak, yaitu paket offset yang ditujukan kepada PT GMF AeroAsia Tbk dan PT Dirgantara Indonesia. Dibandingkan dengan kontrak akuisisi 36 Rafale dari Dassault Aviation Prancis dan 6 fregat FREMM dari Fincanteri Italia, sasaran offset A400M lebih bagus karena semua firma penerima offset adalah perusahaan yang bonafit, dapat diandalkan dan memiliki rekam jejak yang jelas dalam bisnis dirgantara maupun pertahanan. Lalu bagaimana detail offset yang didapatkan oleh Indonesia dari ADS sehingga negeri ini akan tercatat sebagai operator ke-10 A400M di dunia?

Pabrikan pesawat terbang Pan-Eropa sepakat memberikan direct offset kepada PT GMF AeroAsia Tbk terkait dengan kemampuan maintenance, repair and overhaul (MRO) A400M, termasuk dokumen-dokumen technical publication dan peralatan ground support equipment. Hal ini selaras dengan kepentingan anak usaha PT Garuda Indonesia Tbk (Persero) untuk memperluas lini bisnis ke sektor pertahanan melalui GMF Defense yang kini sedang melaksanakan program penggantian center wing box (CWB) sejumlah pesawat C-130 TNI Angkatan Udara. Kemampuan MRO yang diberikan oleh ADS kepada PT GMF AeroAsia Tbk terbatas pada airframe dan tidak mencakup mesin dan avionik.

Paket indirect offset ditujukan kepada PT Dirgantara Indonesia dan terkait dengan CN235 dan NC212i. Apabila kontrak pengadaan dua A400M telah efektif, BUMN industri dirgantara ini akan mendapatkan autonomous right CN235, sehingga semua komponen pesawat terbang yang memiliki endurance delapan jam itu dapat diproduksi sepenuhnya di Bandung. Cakupan autonomous right CN235 di antaranya produksi CWB dan engine mounting, cowling dan eductor. ADS akan memberikan pula jig dan fixture CWB CN235 yang diambil dari fasilitas di Spanyol untuk mendukung produksi CWB dan komponen terkait di Bandung.

ADS setuju memberikan design and sales authorization kepada PT Dirgantara Indonesia untuk NC212i. Pabrikan pesawat terbang Indonesia diperbolehkan untuk memasarkan NC212i ke seluruh pasar dunia, termasuk negara-negara yang tidak tercakup dalam perjanjian yang ada saat ini dengan ADS. Sebelumnya, BUMN ini harus mendapatkan izin dari ADS untuk memasarkan NC212i di luar kawasan Asia Tenggara. Selain itu, ADS akan menghapus pembagian keuntungan yang disepakati secara kontraktual untuk setiap NC212i yang dijual oleh firma yang didirikan pada 23 Agustus 1976 ini.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhUo5xHisIQRKMEAE4CQ8qE9AQ9qhdLMl0GzuMq75i_8i_O4Lq6C0KvWPXcfWViR5k__U9M1K3HtZYpwSyg26JTb-EW8D8X9xlHhp_EBmt-5OtCzQqmMNSwf_cw-G5UwTmtBXy1D9-DPz5j/s280/Prime+Kurniawan.jpgPT Dirgantara Indonesia akan pula menerima current design data package NC212i dari ADS, selain transfer teknologi untuk kustomisasi yakni standar konfigurasi EE92 yang sudah mendapatkan sertifikasi EASA. Standar konfigurasi EE92 merupakan kode untuk NC212 yang di antaranya mencakup kalkulasi tentang stress dan strain dan sebarannya, suatu hal yang sangat penting dalam desain, produksi maupun modifikasi pesawat terbang. Semua paket terkait NC212i diperlukan karena produksi pesawat yang ditenagai oleh mesin TPE-331-12JR-701C buatan Honeywell hanya dilakukan di Bandung saja.

Autonomous right
CN235 dapat mempercepat penyerahan pesanan ke konsumen firma ini karena CWB dan komponen lainnya akan diproduksi di Bandung. Namun 2017 merupakan tahun terakhir BUMN yang pernah dipailitkan oleh Pengadilan Niaga Jakarta Pusat mendapatkan pesanan CN235 dari konsumen. Dalam kurun waktu 2018-2021, PT Dirgantara Indonesia gagal mendapatkan pesanan CN235 lagi konsumen, sehingga penyerahan CN235-220 MPA N70 untuk TNI Angkatan Laut pada tiga bulan pertama 2022 akan menjadi penyerahan backlog order terakhir. Secara otomatis, lini produksi CN235 di Bandung akan tutup sementara sampai mendapatkan pesanan baru dari konsumen.

Mengapa tidak ada pesanan baru untuk CN235 kepada BUMN ini selama empat tahun berturut-turut? Apakah masalah kemampuan pemasaran? Apakah ada persaingan antara ADS dan PT Dirgantara Indonesia pada ceruk pasar yang hampir sama, yaitu antara C295 versus CN235? Ataukah perpaduan antara kedua faktor tersebut?

Untuk NC212i, backlog order kini terdiri atas tujuh unit pesanan Kemhan berdasarkan kontrak 2017 dan dua buah pesanan Ministry of Agriculture and Cooperative Thailand yang ditandatangani pada 2020. Sementara pada 2021 tidak ada pesanan NC212i dari konsumen. Meskipun offset dari ADS cukup menguntungkan bagi PT Dirgantara Indonesia, tetapi kemampuan manajemen PT Dirgantara Indonesia untuk menjual CN235 dan NC212i perlu dibenahi. Rekor empat tahun berturut-turut tanpa ada pesanan CN235 jelas akan mempengaruhi cash flow perseroan antara tiga tahun hingga lima tahun mendatang. (miq/miq)

  ✈ CNBC 

Pindad Akan Produksi MRAP Ringan Kozak-2M2

Kozak 2M facelift oleh Pindad [Medef]

K
epala Departemen Pengembangan perusahaan Practika, Serhiy Vilkov, telah mengumumkan bahwa kendaraan tempur (ranpur) ringan Kozak-2M2 4X4 dapat diproduksi di Indonesia. Demikian seperti diwartakan Army Recognition.

Diketahui pada 2020 PT Pindad dari Indonesia dan Practika dari Ukraina telah menandatangani Nota Kerjasama (MoU) antara perusahaan untuk mengembangkan dan memproduksi kendaraan militer secara bersama.

Selanjutnya tahun 2021, Indonesia telah menerima dua unit Kozak-2M2 dari Practika untuk digunakan sebagai bahan penelitian dan pengembangan secara lokal.

Ditengok dari sejarahnya, versi pertama Kozak mulai ditampilkan pada 24 Agustus 2009 saat mengikuti parade militer di Kiev untuk memperingati Hari Kemerdekaan Ukraina.

Versi pertama Kozak didasarkan pada sasis truk EuroCargo 4X4 yang dikembangkan oleh perusahaan Italia Iveco Defense Vehicle.

Sementara versi Kozak-2M2 telah mengadopsi desain monokok yang menjadikannya lebih kokoh dan berbobot lebih ringan.

Untuk spesifikasinya, Kozak-2M2 memiliki bobot tempur 15.000 kg. Ranpur ini berdimensi panjang 6,23 m, lebar 2,3 m, dan tinggi 2,3 m.

Kozak-2M2 didukung oleh mesin diesel Iveco berkapasitas 7.800 cc yang menghasilkan daya 352 hp. Mesin ini dikombinasikan dengan transmisi manual ZF dengan enam gigi maju dan satu gigi mundur.

Kendaraan diawaki oleh tiga orang, terdiri dari pengemudi, komandan, dan juru senjata. Kozak dapat menampung delapan prajurit infanteri yang duduk di kursi khusus anti ranjau.

Sebagai ranpur jenis MRAP (Mine Resistant Ambush Protected), tingkat perlindungan terhadap ranjau dan IED-nya berada pada Level 2 STANAG 4569 yang sanggup menghadapi ledakan setara 6 kg TNT.

Tingkat perlindungan balistik Kozak-2M2 ada pada Level 2 STANAG 4569, artinya sanggup bertahan dari tembakan peluru senapan serbu kaliber 5,56 mm dan 7,62 mm.

Sebagai senjata beladiri dan bertempur, di atas atap Kozak-2M2 dapat dilengkapi dengan stasiun senjata yang dioperasikan dari jarak jauh (RCWS).

Stasiun senjata ini dipersenjatai dengan senapan mesin kaliber 12,7 mm. -RBS-

  ★ Airspace Review  

Senin, 27 Desember 2021

TNI AL dan Len Uji Tembak KRI Ajak

⚓ Selesai Upgrade CMS Mandhala✈ KRI AJAK 653 [TNI AL] ⚓

KRI Ajak (653) baru saja rampung dari pemeliharaan depo (hardepo) atau pemeliharaan perbaikan kapal secara menyeluruh pada bulan Desember 2021 ini. PT Len Industri (Persero) dipercaya TNI AL untuk meng-upgrade hardware dan software Combat Management System (CMS) Mandhala, serta mengintegrasikannya dengan sistem senjata, radar dan juga sensor-sensor kapal perang.

Uji penembakan KRI Ajak menggunakan meriam 57mm dan 40mm secara remote dengan CMS Mandhala berjalan dengan baik di Perairan Masalembo, Jawa Timur pada awal Desember 2021.

KRI Ajak kini sudah dilengkapi dengan combat system buatan Len yang terintegrasi dengan senjata meriam 57mm dan 40mm, radar navigasi, radar surveillance, sensor (electro-optical targeting system) EOTS, gyro vertical, speedlog, hingga sensor arah angin.

Direktur Bisnis & Kerjasama Len, Wahyu Sofiadi mengatakan, “Terimakasih atas kepercayaan dari TNI AL. Uji penambakan di Perairan Masalembo pada awal Desember kemarin berjalan dengan baik. Di bidang pertahanan ini memang membutuhkan kemandirian teknologi yang mumpuni agar tidak bergantung dengan asing, dan PT Len Industri selalu siap dalam mendukung hal ini.”

CMS merupakan brainware yang berfungsi melakukan pengolahan data dari berbagai sensor menjadi informasi navigasi, potensi ancaman, serta reaksi yang dapat dilakukan untuk melumpuhkan ancaman tersebut. CMS juga dapat memberikan visualisasi menyeluruh terhadap situasi taktis pertempuran, menyediakan sarana untuk melakukan reaksi secara efektif dan efisien melalui sistem persenjataan yang dimiliki.

“CMS Mandhala pertama kali digelar di KRI Ajak pada tahun 2014. Sekarang, selain upgrade CMS dan integrasinya dengan sensor dan sistem senjata, Len juga melakukan perbaikan senjata meriam 57mm, 40mm, 20mm, perbaikan radar surveillance, perbaikan dome sonar, dan integrasi pengadaan EOTS,” imbuh Wahyu.

  Tentang KRI Ajak (653) 
KRI Ajak (653) merupakan jenis Kapal Cepat Torpedo (KCT) yang bertugas sebagai elemen pemukul musuh, baik di permukaan maupun di bawah permukaan (anti submarine warfare), termasuk sebagai kapal pendeteksi anti-kapal selam.

KRI Ajak adalah kapal perang jenis patroli Kelas Andau milik TNI AL selain KRI Singa (651). Pada tahun 1989, KRI yang sebagian lambung kapal dan peralatannya dibuat di Lurssen Jerman ini masuk sebagai bagian dari Satuan Kapal Cepat Armada Timur TNI-AL, Surabaya, dan dipasang di PT PAL.

KRI Ajak memiliki panjang 58,1 meter, lebar 7,6 meter, draught 2,95 meter, memiliki bobot 445 ton pada beban penuh serta memiliki kecepatan maksimal 27 knot dengan daya jelajah 2.200 mil. (***)
 

  🔅 LEN  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...